Pada masa awal blog ini, cukup banyak tulisan tentang Faust dari Goethe [URL], khususnya tentang kehendak dan perjuangan manusia melawan kejumudan walaupun harus mempertaruhkan banyak hal yang di luar kuasanya. Kita kenang lagi, bagian awal tulisan Goethe ini tentang Faust.
MEPHISTOPHELES Tuhan … datang lagi aku menyapa. Engkau pun sudi melihat hamba hina. Namun maaf, hamba tiada bahasa Setinggi para pemuja cahaya.
Mereka bicara soal dunia dan bintang; Aku hanya tahu manusia malang. Si kerdil yang sok jadi dewa berakal, Tapi justru lebih buas dari binatang.
Dengan nalar anugerahmu ia pongah, Lalu memuja hasratnya yang rapuh. Buatku, ia cuma belalang panjang, Lompat-lompat, lalu jatuh ke kotoran.
TUHAN Dan hanya itu yang kau bawa lagi? Tak pernahkah kau lihat kebaikan di bumi?
MEPHISTOPHELES Tidak, Tuhan. Dunia masih menyedihkan. Aku bahkan nyaris kasihan.
TUHAN Kau kenal Faust?
MEPHISTOPHELES Si Doktor?
TUHAN Hambaku, tentu.
MEPHISTOPHELES Ia berbakti dengan cara aneh. Tak makan minum, hanya resah. Mendamba bintang dan kemuliaan, Namun hatinya tak pernah tenang.
TUHAN Meski ia tersesat dan kabur, Akan Kuantar ia pada fajar yang jernih. Seperti tukang kebun memandang tunas, Kujaga benih yang kelak berbunga.
MEPHISTOPHELES Tak ada buktinya. Biar kucoba raihnya. Asal kauserahkan ia padaku, Kan kubawa dia lewat jalanku.
TUHAN Sepanjang ia hidup di dunia, Kubiarkan kau mencobanya. Selama manusia ingin dan rindu, Ia tak luput dari kesalahan itu.
MEPHISTOPHELES Terima kasih! Tubuh fana bukan urusanku. Darah segar jauh lebih menyenangkan. Saat orang mati mendekat pintuku, Seperti kucing, kututup rapat kandang.
Faust dan Mephistopeles
TUHAN Jebaklah sesukamu. Tarik menjauh dari nuraninya. Namun bersiaplah menjadi saksi, Manusia tetap setia pada jalan sejati Meski sering tersembunyi arahnya.
MEPHISTOPHELES Sepakat! Ini perjanjiannya: Kalau aku menang, biar kubanggakan: Ia akan makan debu dengan girang, Seperti ular tua, kerabatku yang sopan.
TUHAN Pergilah—aku tak benci tantangan. Iblis sepertimu tak banyak mengganggu. Jiwa manusia lekas jenuh dan bosan, Maka kuberi ia penggoda sepertimu. Kau paksa ia bergerak, berpikir, mencipta, Dan justru karena itu, ia akan berkembang.
Namun para putra cahaya, Nikmatilah keindahan yang tak binasa. Kekuatan cipta yang abadi menari Merangkul kalian dalam cinta sejati. Apa pun yang samar dan ragu di dunia Tetap kalian abadikan dalam makna.
« L’homme ne vit pas de liberté, mais de la signification de la liberté. » — Hal yang terpenting dari kebebasan, seberapapun terbatasnya, adalah makna besar yang dapat kita ciptakan dan kerjakan dengan dengan kebebasan itu.
Dengan teks itu, Antoine de Saint-Exupéry menghantam jantung ilusi zaman modern tentang kebebasan yang diperoleh seolah hanya sebagai kebesaran. Kebebasan justru menguakkan ruang kosong yang menuntut pengisian dengan nilai, pengorbanan, dan keberanian untuk hidup demi sesuatu yang lebih tinggi dari diri sendiri. Dan ruang ini, Citadelle dituliskan — bukan sebagai manifesto politik atau risalah filsafat, melainkan refleksi manusia yang berusaha mendirikan makna.
Risalah ini ditulis dalam bentuk catatan-catatan pribadi yang berserak. Citadelle adalah teks yang belum selesai, namun justru karenanya ia menjadi refleksi yang hidup dan bergerak — belum dibekukan oleh kerangka dan metode. Setelah Saint-Exupéry gugur dalam misi pengintaian pada 31 Juli 1944, fragmen-fragmen ini disusun dan diterbitkan secara anumerta pada 1948. Dalam bahasa Inggris, buku ini diterjemahkan dengan judul The Wisdom of the Sands.
Buku ini disuarakan dari seorang pangeran tua yang merenungi tugas, iman, penderitaan, dan martabat manusia, berbicara kepada generasi yang haus arah tetapi kehilangan sandaran. Pangeran, memandang kepemimpinan bukan sebagai penatakelolaan masyarakat. Kepemimpinan adalah soal mendirikan peradaban. Peradaban dibentuk melalui penanaman makna dalam kehidupan bersama. Masyarakat dibentuk melalui keteladanan dan ruang narasi.
Mengapa ruang narasi? Tanpa makna kolektif, masyarakat hanyut dalam kehampaan. Narasi, simbol, artefaks, bukanlah sekedar lambang dan warisan, melainkan menjadi struktur spiritual yang menyatukan manusia, dan menjadi nilai bersama yang mengikat bahkan antar generasi.
Namun proses spiritual sebagai pewujudan nilai justru dilakukan dalam bentuk kerja keras, kerja yang berat, serta dan disiplin, karena dengan itu setiap manusia, setiap individu, dapat menemukan dirinya sendiri. Melalui rasa sakit yang bersifat personal, nilai dan martabat manusia dibentuk, ditegakkan, dan dinilai oleh dirinya sendiri.
Kebebasan, baik secara sistem, kolektif, maupun individual, adalah nilai yang sanagt berharga, sehingga tidak mungkin dihancurkan nilainya dengan kesiasiaan. Kebebasan adalah kemampuan untuk mewujudkan nilai yang lebih tinggi, dan terus menerus diwujudkan dalam bentuk nilai yang lebih tinggi lagi. Maka puncak dari semua ini adalah panggilan untuk mendirikan makna. Dunia tidak hadir begitu saja — ia dibentuk oleh tindakan yang penuh keyakinan dan pengorbanan.
Benteng sejati (citadelle) tidak dibentuk dari batu atau senjata, atau gedung megah dan struktur organisasi yang kuat, tetapi dunia makna yang diciptakan dan ditegakkan didirikan di tengah kekosongan dan keterbatasan.
Lalu, soalan gurun pasir ini mengingatkan kita pada karya lain Saint-Exupéry. Tentu saja Si Pangeran Kecil, yang di tengah gurun, tanpa berputus asa, mendadak berujar: «Ce qui embellit le désert, c’est qu’il cache un puits quelque part.» — Yang menarik dari gurun yang luas ini adalah karena ia menyembunyikan sumur di suatu tempat. Di dunia yang keras, gersang, tak berarah, selalu ada sumur makna yang tersembunyi, menanti digali dengan komitmen, kerja keras, pengorbanan, dan kepemimpinan yang sejati.
Paradigma kompleksitas mengubah sudut pandang kita dari perspektif lama tentang dunia yang teratur, linier, dan dapat diprediksi, menuju perspektif akan dunia yang kompleks: terbuka, dinamis, dan penuh ketidakpastian. Paradigma kompleksitas lahir dari kegagalan cara berpikir reduksionis dalam memahami realitas yang penuh interaksi nonlinier dan spontan. Empat pilar utama paradigma ini: evolusi dan adaptasi, entropi dan termodinamika, dinamika sistem, serta komputasi dan logika; semua menjadi kerangka konseptual baru yang mampu menjelaskan kehidupan, pikiran, dan masyarakat modern secara lebih utuh. Walau belum banyak dipahami kalangan akademis, bisnis, dan pengambil keputusan publik, kompleksitas telah menjadi ilmu lintas bidang yang menginspirasi pendekatan baru terhadap masalah dunia nyata.
Sistem kompleks, inti dari paradigma ini, adalah jejaring interaksi yang membentuk keteraturan emergence, yaitu keteraturan yang tidak dirancang, tetapi terbentuk dari dinamika antar elemen. Emergence menjadi konsep sentral: dari neuron-neuron muncul kesadaran, dari interaksi manusia muncul budaya, dari hubungan antar spesies lahir ekosistem yang harmonis dan tangguh. Ekosistem sendiri menjadi contoh nyata sistem kompleks yang memiliki sifat resiliensi dan adaptasi luar biasa. Ekosistem bukan sekadar kumpulan organisme, melainkan jejaring hidup yang terus berkembang dalam dialog dinamis dengan lingkungannya, menciptakan stabilitas melalui keragaman dan keterhubungan.
Dalam paradigma kompleksitas, kita memandang informasi bukan sebagai pemaknaan data, melainkan sebagai inti strategis dari sistem. Informasi adalah perbedaan bermakna yang digunakan organisme untuk memahami, beradaptasi, dan berkembang dalam dunia yang berubah cepat. Perspektif kompleksitas menegaskan bahwa kehidupan adalah proses pengorganisasian informasi di tengah turbulensi entropi, di mana makhluk hidup dan sistem sosial secara konstan menegosiasikan masa depan melalui pilihan adaptif berbasis informasi yang tersedia. Visi ini memandang kehidupan sebagai realitas terbuka, yang terus menulis ulang aturan mainnya sendiri dan karenanya membentuk keberlangsungan.
Ketika diterapkan dalam ilmu strategi, paradigma kompleksitas memberikan cara pandang baru yang cerdas sekaligus realistis: strategi bukan lagi keputusan yang disusun melalui rapat panjang, melainkan proses yang adaptif dan (r)evolusioner. Dalam dunia yang berubah cepat, strategi adalah cara menciptakan pilihan, bereksperimen, belajar dari hasil nyata, dan berevolusi terus-menerus. Perspektif ini memandang organisasi bukan sebagai mesin yang dikontrol secara top-down, tetapi sebagai sistem adaptif kompleks yang mampu belajar, beradaptasi, dan menghasilkan inovasi secara mandiri melalui interaksi internal dan sekaligus eksternal.
Dalam strategi organisasi, bisnis, negara, maupun pendidikan, paradigma kompleksitas menuntut perubahan radikal, bukan sekadar adaptasi kosmetik atau revisi metode strategi lama. Organisasi harus meninggalkan obsesi kontrol dan struktur hierarkis, beralih kepada model jejaring otonom yang menggerakkan inovasi dari bawah, menghargai eksperimen, dan mampu bertahan dalam situasi krisis dengan lincah. Dunia bisnis yang masih terpaku pada rencana yang kaku akan tertinggal dalam dinamika baru yang menuntut ketangkasan, iterasi cepat, serta pengambilan keputusan yang didukung oleh aliran informasi real-time dan transparan. Negara tidak lagi bisa mengandalkan birokrasi yang lamban dan sentralistik. Pendekatan prototipe kebijakan berbasis eksperimen harus menggantikan paradigma regulasi kaku yang sudah ketinggalan zaman. Dunia pendidikan harus mengalami revolusi total, meninggalkan kurikulum berbasis standarisasi, menuju pendidikan yang menghargai keberagaman pola pikir, memupuk kemampuan berpikir sistemik, kreativitas, serta kolaborasi lintas disiplin yang menyiapkan manusia bukan sebagai penumpang pasif, melainkan penggerak aktif dalam dunia kompleks yang selalu berubah. Ini bukan saatnya bertahan dalam kenyamanan, melainkan era untuk berpikir ulang secara radikal, bergerak berani. Ketidakpastian bukan untuk dicegah atau diatasi, melainkan untuk dirangkul, dimanfaatkan, dan seringkali perlu diciptakan untuk menjadi sumber berbagai peluang, kreativitas, dan kebaruan.
Abad lalu, AS adalah puncak kekuatan industri. Dengan kapasitas industri dan inovasi terdepan, AS berproduksi dalam skala besar sambil menciptakan kelas menengah yang luas. Namun, sejak akhir abad ke-20, dominasi ini terkikis. Perusahaan Amerika seperti Apple dan Microsoft sukses secara global, tapi industri AS mulai melamah. Ini sebuah paradoks menarik: strateginya menang, tetapi negara kalah.
AS memimpin liberalisasi dan globalisasi, dengan memaksakan perdagangan bebas, deregulasi, dan offshoring sebagai strategi pertumbuhan ekonomi dan keunggulan kompetitif. Hal ini diperkuat masa Reagan-Thatcher dan dilembagakan dalam bentuk NAFTA dan dukungan atas keanggotaan RRC di WTO. Manufaktur padat karya dialihkan ke negara berbiaya rendah, sementara AS berfokus ke layanan bernilai tinggi dan inovatif, sambil menikmati manfaat efisiensi global.
Di level perusahaan, cara kerja ini efektif. Apple membangun salah satu ekosistem paling bernilai di dunia, dengan integrasi erat antara desain, software, layanan, dan hardware. Hampir semua hardware diproduksi dan dirakit di luar negeri, terutama RRC. Microsoft mendominasi perangkat lunak dan layanan enterprise, tetapi ekosistem globalnya—cloud, pengembangan sistem, dan rantai pasok—makin bergantung pada infrastruktur dan stabilitas politik internasional.
Makin jelas bahwa strategi berbasis ekosistem ini—meskipun brilian dalam skalabilitas, penguasaan pasar, dan profitabilitas—pada dasarnya rapuh. Strategi ini dibangun atas asumsi lingkungan global yang stabil, arus tenaga kerja lintas batas, modal, dan data yang tak terganggu, serta konsensus geopolitik yang kini mulai runtuh. Pandemi COVID-19, perang teknologi AS–China, dan meningkatnya kebijakan proteksionis di seluruh dunia menunjukkan rapuhnya mata rantai pasok dan ketergantungan atas platform tersebut.
Model kapitalisme AS juga dangkal dan berorientasi jangka pendek. Perusahaan didorong memaksimalkan laba triwulanan dan nilai return, dan jarang berfokus pada berinvestasi pengembangan kapabilitas secara domestik. Serikat pekerja melemah, dan infrastruktur politik dan sosial yang didukung kelas pekerja ikut runtuh. Pergeseran budaya menuju “knowledge economy” diikuti gagasan bahwa produksi fisik kurang berharga daripada platform digital, kekayaan intelektual, dan rekayasa keuangan.
Inti kelemahan terletak pada optimisasi efisiensi secara berlebihan dengan mengorbankan resiliansi. Dengan mengalihkan manufaktur penting ke luar negeri, AS kehilangan pekerjaan, juga pengetahuan industri, infrastruktur logistik, dan kemampuan merekonfigurasi produksi domestik secara cepat saat krisis melanda. Hal ini tampak pada krisis semikonduktor, APD, dan kebutuhan pokok lainnya selama pandemi awal dekade ini.
Ideologi dangkal ini juga diperluas ke Inggris, yang setia mengikuti strategi liberalisasi ekonomi AS. Di bawah kepemimpinan buruk Thatcher tahun 1980-an, Inggris melakukan swastanisasi industri besar, deregulasi sektor keuangan, pelemahan serikat buruh, dan self-positioning sebagai pusat global untuk layanan—terutama layanan keuangan. Seperti AS, Inggris membiarkan basis manufakturnya menyusut demi layanan bernilai tinggi yang terkonsentrasi di Tenggara, terutama London.
Tidak seperti AS, Inggris masih kurang di sisi skalabilitas, keragaman sumber daya, dan dominasi teknologi global. Inggris jadi mudah runtuh akibat ketimpangan regional yang mencolok, produktivitas yang menurun, dan kekurangan investasi kronis dalam infrastruktur dan pendidikan. Brexit, dalam banyak hal, merupakan ekspresi politik dari keterasingan ekonomi ini—pemberontakan terhadap globalisasi, sentralisasi, dan persepsi bahwa rakyat telah ditinggalkan oleh pengambil keputusan.
Di kedua negara, kita melihat kontradiksi inti: perusahaan menang secara global, namun ekonomi nasional menderita karena kerapuhan, ketimpangan, dan hilangnya kedaulatan di sektor-sektor strategis utama. Strategi berbasis ekosistem dari perusahaan seperti Apple dan Microsoft terus menghasilkan nilai yang besar, tetapi dikembangkan di atas geopolitik yang rapuh, tenaga kerja berbiaya rendah di luar negeri, dan jaringan logistik kompleks yang semakin rentan terhadap gangguan.
Ekosistem bisnis konon merupakan metafora dari ekosistem alam, yang berkembang melalui keragaman, redundansi, dan dukungan timbal balik. Tapi ekosistem bisnis yang dibangun oleh raksasa teknologi kadang justru kehilangan aspek semacam ini. Mereka cenderung bergerak ke sentralisasi, dominasi, dan efisiensi, membuatnya lebih menyerupai monokultur industri daripada ekosistem sejati. Ketika tekanan datang—dalam bentuk sanksi, pandemi, atau perang dagang—sistem-sistem ini tidak bergerak adaptif dan elastis, tapi justru patah.
Bukan berarti model ekosistem ini cacat secara mendasar. Model ini tetap menjadi salah satu kerangka kerja paling kuat untuk penciptaan nilai dalam ekonomi jaringan. Namun perlu ada (r)evolusi. Perusahaan harus membangun ekosistem yang efisien, namun sekaligus tetapi juga tangguh dan adaptif di level ekosistem (bukan di level perusahaan). Perlu dilakukan diversifikasi rantai pasok, investasi dalam kapabilitas lokal, dukungan atas kesehatan ekosistem, serta mitigasi atas risiko politik dan lingkungan.
Negara juga harus meninjau ulang cara kerjanya. Kembali ke proteksionisme bukanlah jawabannya, tetapi kembali ke liberalisme pasar juga salah. Sektor-sektor strategis harus dibangun kembali atau didukung secara domestik tidak hanya demi daya saing ekonomi, tetapi juga untuk ketahanan nasional. Kebijakan harus mendorong investasi jangka panjang, regenerasi regional, dan kebijakan industri yang selaras dengan inovasi.
Penerapan strategi berbasis ekosistem tidak boleh terlalu sempit dan dangkal. Perlu pandangan jauh ke depan, dan perlu perhatian besar terhadap kesehatan ekosistem ini sendiri. AS dan Inggris memberikan pelajaran bagi negara mana pun, bahwa ketahanan, kedaulatan ekonomi, dan kemakmuran inklusif akan sama pentingnya dengan efisiensi dan inovasi.
Tahun 1865, ekonom Inggris William Stanley Jevons mengamati sebuah ironi dalam revolusi industri: semakin efisien mesin-mesin uap dalam menggunakan batu bara, semakin banyak batu bara yang dikonsumsi. Efisiensi, yang semula dipandang sebagai jalan menuju penghematan, justru meningkatkan peran (dan dengan demikian: volume) batu bara dalam aktivitas ekonomi. Paradoks ini kemudian dikenal sebagai Jevons’ Paradox, yaitu bahwa peningkatan efisiensi dalam penggunaan suatu sumber daya justru cenderung memicu lonjakan konsumsi terhadap sumber daya tersebut.
Jevons, observing the coal-based industry proliferation
Hampir dua abad kemudian, kita hidup dalam lanskap teknologi yang jauh lebih kompleks, dengan kehidupan digital yang diperkuat mikroprosesor dengan kemampuan proses miliaran butir data per detik, menghasilkan informasi dan pengetahuan yang luar biasa luas dan cepat. Menarik bahwa dengan dukungan kuat pada rasionalitas semacam ini, paradoks Jevons tidak menguap bersama asap batu bara. Ia bertahan dalam bentuk yang lebih subtil dan mungkin lebih dalam. Ketika perangkat digital menjadi lebih hemat daya, aplikasi menjadi lebih ringan, dan AI menjadi lebih efisien dalam inferensi, yang terjadi bukanlah penghematan kolektif, melainkan pelebaran permukaan konsumsi: lebih banyak data, lebih banyak sensor, lebih banyak pengolahan informasi, lebih banyak aplikasi, lebih banyak layar, lebih banyak keputusan yang diserahkan ke mesin. lebih banyak algoritma yang mengatur pilihan hidup, dan lebih banyak komputasi awan yang lebih mirip mendung asap tanpa berbatas.
Mobil listrik adalah studi kasus yang sempurna. Dipuja sebagai penyelamat lingkungan, teknologi ini diusung oleh pemerintah berbagai negara dan disambut kalangan industri sebagai simbol kemajuan hijau. Namun di balik citra bersih itu, muncul pola lama: teknologi digunakan untuk mendorong pembelian, meningkatkan produksi baterai yang boros sumber daya, dan membentuk kelas baru konsumen yang merasa berhak mengonsumsi lebih karena telah berbuat baik kepada lingkungan, plus pemerintahan yang mendorong konsumsi ini agar tampak memiliki kebijakan ramah lingkungan. Contoh lain adalah cloud computing yang dirancang untuk efisiensi infrastruktur digital, namun justru mendorong arsitektur digital yang masif, haus energi, dan bergantung pada pusat data yang semakin besar dan kompleks. AI, sedang kita kembangkan bersama, dalam bentuk model-model yang akan menghemat sumberdaya manusia dan mesin komputasi, namun dengan penggunaan yang meluas menjadi kebutuhan primer, dan akan memerlukan sumberdaya yang besar di semua titik.
The slaves of capitalism
Paradoks Jevon berusia nyaris dua abad, dan tentunya dilakukan koreksi, baik pada paradoks ini, maupun pada fenomena yang seharusnya dapat dikendalikan dengan memahami paradoks ini. Misalnya, regulasi dan kebijakan publik dirumuskan untuk menyeimbangkan pola konsumsi, dan membuat masyarakat dan teknologi lebih memihak lingkungan. Namun iklim politik ekonomi kontemporer yang ekstra-kapitalistik justru menjadikan kebijakan politik sebagai instrumen peningkatan konsumsi, bukan pembatasnya. Dorongan etis seperti budaya hidup secukupnya, kesadaran digital, keseimbangan hidup, dll juga tidak lebih baik. Politik dilemahkan para pebisnis; namun etika dilemahkan seluruh masyarakat yang memiliki kecenderungan untuk mencari value yang absurd dengan konsumerisme yang makin berlebihan — plus diperkuat dengan algoritma yang lebih memudahkan konsumsi daripada mengangkat kemandirian rasionalitas pikiran manusia, wkwk.
Jika rasionalitas tidak mungkin dibangkitkan melalui kebijakan dan etika, mungkinkan dibangkitkan oleh rasionalitas lain? Misalnya melalui daya inovasi yang memberi nilai pada efisiensi dan sustainabilitas? Seharusnya, tapi saat ini belum cukup kuat. Kebutuhan yang dapat dibatasi saja, akan menemukan peluang kebutuhan baru. LED lebih hemat dari lampu, dan kebutuhan manusia akan lampu tentunya terbatas. Tapi LED kemudian dimanfaatkan untuk menyulap kota menjadi panggung iklan raksasa di semua titiknya. Efisiensi bekerja dalam sistem yang tidak bertanya “untuk apa?” tetapi “seberapa banyak lagi yang bisa dijual?”
Paradoks Jevons bukan sebuah hukum seperti hukum fisika yang tak bisa dilawan (**syarat dan ketentuan berlaku). Namun paradoks ini adalah cermin ideologis dari sistem ekonomi yang menjadikan efisiensi sebagai efisiensi peningkatan konsumsi. Kita tidak sedang melawan paradoks itu dengan inovasi, kebijakan, atau etika, melainkan memastikannya terus terjadi. Paradoks ini tetap hidup bukan karena ia benar secara mutlak, tetapi karena secara rasional, ia menjadi selalu teramati pada masyarakat yang serakah dan tidak mengenal kata cukup.
Ternyata aku pernah mèjèng di Instagram @TelkomIndonesia yang terkenal itu. Bagian kecil dari banyak kisah keberhasilan Padi UMKM di diprakarsai Telkom Indonesia dan ditumbuhkan para BUMN di bawah kepemimpinan Kementerian BUMN.
Cuplikan pada gambar di IG itu diambil dari sambutanku pada Padi Business Matching beberapa waktu lalu, yang juga sekaligus melaporkan interim report dari pencapaian total peran Padi UMKM memberikan transaksi sebesar 6 triliun rupiah selama 2024. Kutipan lengkapnya lebih jail dari yang tertulis: “Inovasi penciptaan platform itu soal kecil. Serahkan saja pada Telkom, pasti beres. Inovasi yang betul-betul hebat adalah inovasi penciptaan market, yang sudah dilaksanakan para BUMN dengan mengubah operasi procurement jadi kapabilitas penciptaan market, dan diakui sebagai inovasi yang berhasil.”
Fotonya sendiri diculik team Corcom dari foto bersama the Coventry Gang di TEMSCON ASPAC 2024 di Sanur.
Sambutan dalam kegiatan itu agak impromptu, disiapkan hanya beberapa menit sebelum naik, karena ternyata opening speech kegiatan ini dilakukan Telkom, bukan dari Kementerian BUMN. Jadi di dalamnya malah masuk teori kompleksitas, teori ekosistem, dan tentu inspirasi Clayton Christensen tentang inovasi.
Dalam bukunya yang terakhir sebelum beliau wafat, yaitu The Prosperity Paradox, Clayton Christensen menjelaskan bahwa inovasi penciptaan pasar (market-creating innovation) adalah jenis inovasi yang tidak hanya meningkatkan efisiensi atau mengoptimalkan pasar yang sudah ada, tetapi menciptakan pasar baru yang sebelumnya tidak ada. Inovasi ini berfokus pada penciptaan bisnis yang mengubah non-konsumen menjadi konsumen dengan membuka akses baru dan memberikan nilai bagi masyarakat. Konsep ini berbeda dengan inovasi efisiensi atau inovasi yang berorientasi pada pertumbuhan jangka pendek. Dalam konteks BUMN seperti di atas, mengubah operasi procurement menjadi kapabilitas penciptaan market sejalan dengan bagaimana perusahaan dapat menyusun inovasi lebih dari strategi pertumbuhan yang dangkal seperti follow the money dan low hanging fruit, atau hanya pada efisiensi biaya; tetapi justru dengan menggiring atau bahkan menciptakan pasar baru yang mendorong pertumbuhan ekonomi dan inklusi.
Padi UMKM diluncurkan sebagai bagian dari Gernas BBI di tahun 2020, pada saat negara sedang mendorong berbagai pihak menciptakan program untuk menghidupkan kembali ekonomi rakyat yang tenggelam akibat krisis Covid. Tahun itu, kami sempat dipanggil KSP. Di sana, disampaikan bahwa dari sekian proposal program pengembangan ekonomi berbagai K/L pada tahun krisis 2020 itu, hanya Padi UMKM (Telkom / Kementerian BUMN) yang betul-betul jalan dan memberikan nilai yang cukup besar. Banyak yang lain masih terhambat berbagai faktor. Program Bela Pengadaan di jalan, tapi valuenya kecil. Sepanjang 2021, kami kampanyekan Padi UMKM dalam arus utama program pemulihan ekonomi nasional melalui Gernas BBI. Dan pada tahun 2022, sebagai ekspansi program ini, negara memberikan kepercayaan kepada Telkom untuk menyiapkan platform pengadaan publik baru yang dikelola LKPP.
Buku unik dari John Holland, Signals & Boundaries, memberikan perspektif yang lebih intuitif pada CAS (sistem adaptif kompleks), yaitu dengan menunjukkan bagaimana emergence justru dihasilkan dari interaksi yang bersifat lokal. Menurut Holland, sinyal (yang membawa informasi) dan batas (yang mendefinisikan dan melindungi elemen di dalam sistem) memiliki peran utama dalam pembentukan dan perubahan complex sistem (sistem kompleks). Perspektif ini dapat memudahkan kita memahami bagaimana interaksi lokal yang sederhana dapat menghasilkan pola global yang kompleks.
Pengaruh pandangan ini cukup luas pada komunitas complexity theory, termasuk para akademisi di SFI. Mereka memadukan gagasan Holland ke dalam kerangka yang lebih luas tentang teori jaringan dan modularitas, serta menjembatani model adaptasi yang ada sebelumnya dengan pendekatan komputasional yang lebih modern. Dengan menekankan peran komunikasi melalui sinyal dan pembentukan struktur melalui batas, Holland memberikan konsep praktis untuk analisis dinamika ekosistem, platform teknologi, dan jaringan sosial.
Kekuatan Holland terletak pada ketegasannya menggambarkan bagaimana interaksi lokal dapat menghasilkan emergence pada complex system. Elemen dalam sistem yang berinteraksi akan saling bertukar sinyal, yang berfungsi sebagai feedback loop, yang kemudian akan mendorong adaptasi perilaku serta mempengaruhi elemen di sekitarnya. Batas (boundary) memastikan struktur tetap terjaga dengan isolasi interaksi tertentu dari derau eksternal, sehingga memungkinkan subsistem berkembang secara independen namun tetap terhubung. Keseimbangan antara isolasi dan keterhubungan inilah yang mendorong munculnya pola-pola baru dan adaptasi dalam sistem kompleks, yang mewujud dalam emergence.
Tentunya terdapat kritik juga atas gagasan bahwa kompleksitas secara umum dihasilkan dari interaksi lokal. Fokus eksklusif pada proses bottom-up semacam ini dikhawatirkan dapat mengabaikan peran pengaruh global dan kausalitas top-down. Dalam banyak sistem, batasan yang bersifat menyeluruh, faktor lingkungan, dan dinamika kolektif dapat membentuk pola dan perilaku yang tidak bisa dijelaskan hanya melalui interaksi lokal. Fenomena emergence dinilai dapat juga dipengaruhi kekuatan global.
Lebih ekstrim dari ini, terdapat sudut pandang “strong emergence” yang berpendapat bahwa ada sifat-sifat sistem yang muncul di tingkat makro yang secara mendasar tidak dapat direduksi atau diprediksi dari interaksi komponen dasarnya. Dalam perspektif ini, interaksi lokal belum dianggap dapat menjelaskan fenomena kompleks yang muncul, sehingga ada karakteristik menyeluruh yang memerlukan pendekatan konseptual tersendiri.
Menarik andai dapat dikembangkan model yang menggabungkan interaksi tingkat mikro dengan struktur tingkat makro. Terdapat konsensus di antara peneliti bahwa pendekatan ganda — integrasi perspektif lokal dan global — dapat menjadi kunci memahami kompleksitas secara menyeluruh. Teori network dan dinamika sistem misalnya, menyoroti pentingnya korelasi jarak jauh dan global feedback loop yang melengkapi interaksi lokal. Pendekatan terpadu ini mengakui bahwa meskipun sinyal dan batas sangat penting, interaksi sistemik yang lebih luas juga berperan penting dalam memicu adaptasi dan self-organisation.
Perspektif atas sinyal dan batas dari Holland tentunya tetap merupakan kontribusi yang sangat berpengaruh dalam complexity science, termasuk peluangnya untuk mengenali dan mengembangkan penerapan CAS di berbagai bidang, melalui interaksi terdesentralisasi di tingkat lokal untuk menghasilkan emergence. Namun penting juga untuk menselaraskannya dengan perspektif yang berbeda, termasuk strong emergence dan pengaruh global, agar kita dapat memahami kompleksitas dari kompleksitas (hahaha) secara lebih utuh, termsauk dengan mendorong inovasi dalam cara memodelkan dan mengelola complex system di dunia nyata.
IEEE TEMS (Technology and Engineering Management Society) adalah society dari IEEE yang berfokus pada bidang manajemen teknologi dan engineering. TEMS melayani para profesional yang lingkup kerjanya meliputi bidang teknologi dan menajemen, termasuk aspek inovasi, kepemimpinan, dan strategi dalam bisnis berbasis teknologi.
Pertama kali dalam sejarah, IEEE TEMS mengadakan flagship conference di Indonesia. IEEE TEMS Conference Asia-Pacific (TEMSCON ASPAC) diselenggarakan di Bali dari tanggal 25 hingga 26 September, bertempat di Prama Sanur Beach Hotel. Tema konferensi ini, “Achieving Competitiveness in the Age of AI,” mengupas peran transformasional AI dalam bisnis modern dan manajemen rekayasa. Para pemimpin IEEE TEMS, plus akademisi, pemimpin industri, dan peneliti dari seluruh dunia (bukan hanya kawasan Asia-Pasifik saja), berhimpun mengkaji inovasi terbaru terkait daya saing, manajemen rantai pasok yang berkelanjutan, kebijakan keamanan siber, inovasi kesehatan digital, dan kewirausahaan dalam ekosistem digital.
Pembukaan IEEE TEMSCON ASPAC 2024
Konferensi dibuka dengan sambutan dari Conference Chair, Prof. Andy Chen (Former Presiden IEEE TEMS dan President-Elect IEEE Systems Council). Sesi pembukaan ini juga diisi dengan kata pengantar dari Prof. Andrea Balz (Presiden IEEE TEMS saat ini) dan Prof. Imam Baihaqi (Wakil Rektor ITS Surabaya).
Bersama Prof Benny Tjahjono dan Tim dari Coventry University di Upacara Pembukaan TEMSCON
Keynote speech dibawakan oleh para akademisi: Prof. Richard Dashwood (Vice-Provost for Research and Enterprise dan Deputy Vice-Chancellor for Research di Coventry University), Prof. Alexander Brem (Professor dan Vice Rector di University of Stuttgart), serta Prof. Anna Tyshetskaya (Vice Rector di Sankt Petersburg University, Rusia). Setelah pembukaan, konferensi dilanjutkan dengan sesi pemaparan paper-paper hasil riset.
Hari kedua konferensi diadakan berupa Industry Forum, yang menghadirkan para ahli untuk membahas tantangan dan peluang AI bagi daya saing global. Keynote speakers dalam forum ini, selain Dr. Ravikiran Annaswamy (Past President of IEEE TEMS) dan Dr. Sudeendra Koushik (President-Elect of IEEE TEMS), juga aku sendiri. Kehormatan tersendiri. Judul presentasiku adalah “Towards Complexity-Based Strategic Management.”
My Keynote Speech
Setelah jeda siang, forum dilanjutkan dengan sesi panel bertajuk “Accelerating Innovation for a Sustainable Future.” Prof. Marc Schlichtner (Principal Key Expert of Siemens) menjadi pembicara utama, dengan Prof. Robert Bierwolf (anggota TEMS Board of Governors) sebagai moderator. Panel ini juga dihadiri para pemimpin ternama di bidang manajemen teknologi dan rekayasa: Prof. Alexander Brem (Professor dan Vice Rector di University of Stuttgart), Prof. Anna Tyshetskaya (Vice Rector di Sankt Petersburg University, Rusia), serta aku sendiri. Keren bisa satu panggung dengan tokoh-tokoh terkemuka ini.
Panel Diskusi
Konferensi ini ditutup dengan gala dinner yang diisi dengan sesi networking yang hangat dan penuh keakraban bagi seluruh peserta, termasuk anggota TEMS Executive Committee, Board of Governors, dan para pemimpin universitas. Acara ini memperkuat koneksi dan kebersamaan di antara komunitas akademik dan profesional yang hadir.
Ini kunjungan entah yang keberapa ke London. Tapi kali ini aku stay di sisi lain di kota London, yaitu Hilton London Angel Islington. Tujuannya, biar punya waktu lebih lama menjelajahi kawasan City of London. City of London ini menarik. Luasnya 2,9km², tapi jadi ibukota keuangan dunia. Dan semua diakibatkan serentetan sejarah2 kecil yang menarik.
Waktu orang Romawi menduduki Britannia, mereka mencari titik operasi yang optimal, yaitu punya akses ke laut, atau di sebelah sungai yang masih cukup dalam untuk dilewati kapal; tapi kalau di sungai juga jangan terlalu lebar sehingga bisa dibuatkan jembatan atau penyeberangan lain. Dari kebutuhan logistik ini, dipilihlah titik yang dinamai Londinium, ±50CE. Lokasi ini dipasangi tembok batas, yang sampai hari ini menjadi batas City of London. Sempat kosong setelah Romawi kabur, kota ini dihidupkan Alfred the Great tahun 886, dan jadi titik logistik yang optimal dan terus membesar untuk perdagangan antara Inggris dan negeri-negeri lain melalui lautan.
Saat William the Conqueror menduduki Inggris (1066), alih-alih menindas kota dagang ini, ia justru menerbitkan piagam yang menjamin hukum dan tatacara London tetap berlaku. Ini logis: Raja perlu uang dan dukungan logistik; dan saudagar London punya keduanya. Pola berulang sepanjang sejarah Inggris: setiap kali penguasa perlu sesuatu yang mahal, para saudagar City siap bernegosiasi. Tahun 1189 kota ini punya Lord Mayor sendiri, memerintah dirinya sendiri lewat Aldermen dan Common Council yang dipilih, bukan cuma oleh penduduk, tapi juga oleh badan-badan usaha. Ini cikal bakal keunikan pemerintahan City yang berlaku hingga saat ini. Kita tentu pernah dengan Magna Carta (1215). Kita simak, bahwa pada piagam ini, terdapat klausul khusus yang menjamin utuhnya kebebasan City. Para baron yang menantang monarki absolut Raja John pun perlu dukungan finansial London, dan London memanfaatkan momen itu untuk mengukir hak istimewanya dalam dokumen paling sakral dalam sejarah konstitusi Inggris. Ini lobby bisnis paling sukses dalam sejarah: saudagar London berhasil menyelipkan kepentingan bisnis mereka ke dalam piagam kebebasan yang dirayakan dunia hingga delapan abad kemudian.
Hubungan antara saudagar dan kerajaan ini terutama dibutuhkan saat perang. Perang mahal, pajak saja tidak cukup, jadi dulu raja meminjam ke para bangsawan, baik di dalam maupun luar negeri. Ini bermasalah. Kalau kalah, uang hilang; kalau menang, raja jumawa, susah ditagih, wkwk. Raja Edward III pernah meminjam dari bankir Italia abad ke-14, lalu gagal bayar, dan yang hancur justru dua rumah bankir Florence terbesar saat itu. Nah, di sinilah inovasi London. Sebelum 1688, kredibilitas utang negara memang bergantung pada kata-kata satu orang: raja. Setelah 1688, Parlemen yang mewakili rakyat (yaitu tentu saja para bangsawan dan para saudagar) mengambil alih pengendalian, penerimaan, serta tentu saja perkiraan pajak, bea cukai, dan pendapatan negara lainnya. Mereka mulai mengunci sebagian penerimaan itu secara khusus untuk membayar bunga dan pokok utang. Artinya, kalau pemerintah Inggris berhutang, jaminannya bukan lagi janji lisan raja yang terkenal tak bisa dipegang, tapi aliran pendapatan negara yang bisa dihitung, diaudit, dan dijamin lembaga kolektif yang jauh lebih sulit diingkari sepihak. Inilah yang menjadi komitmen keuangan kredibel, dan inilah sesungguhnya awal keunggulan kompetitif industri keuangan Inggris dibanding rival-rivalnya di benua Eropa yang masih diperintah monarki absolut: Utang Inggris jadi lebih murah dan lebih aman dipinjamkan. Bukan karena Inggris lebih kaya, tapi karena janjinya lebih sulit diingkari.
Dari dasar ini, lahirlah Financial Revolution. Obligasi pemerintah pertama diterbitkan 1693, lalu setahun kemudian saudagar City mendirikan Bank of England, meminjamkan 1.2jt pound ke pemerintah dengan bunga 8%, dan sebagai imbalannya diberi hak menerbitkan uang kertas serta mengelola utang negara. Ini adalah uang kertas pertama yang memiliki jaminan sistem keuangan yang andal. (Swedia pernah menerbitkan uang kertas, tapi keburu bangkrut gara-gara sistemnya tidak andal). Model uang kertas dari Bank of England itulah yang akhirnya jadi template diikuti bank sentral di seluruh dunia.
Obligasi pemerintah Inggris ini kemudian dikenal sebagai gilts, dan ini lahir dari City. Sertifikat obligasi yang diterbitkan Bank of England sejak 1694 ini dicetak di kertas dengan tepi berlapis emas, jadi disebut gilt-edged, meski istilah gilts baru benar-benar digunakan abad ke-19. Dari sinilah lahir tradisi consol, obligasi abadi tanpa jatuh tempo yang sebagian baru benar-benar dilunasi pemerintah Inggris tahun 2015, dua abad kemudian, sampai pasar gilts modern yang dikelola UK Debt Management Office hari ini. Semua bermuara ke satu inovasi konstitusional sederhana: bikin janji negara sulit diingkari, dan orang akan berbondong-bondong meminjamkan uang dengan bunga murah. Biarpun sempat dibikin kacau Liz Truss tahun lalu, hahaha.
Union antara England dan Scotland tahun 1707 juga punya jejak finansial. Scotland saat itu baru saja bangkrut gara-gara Skema Darien, usaha kolonisasi mereka di Panama yang berakhir bencana. Sebagai bagian dari kesepakatan Union, England membayar kompensasi, dikenal sebagai The Equivalent, untuk menutup kerugian investor Scotland itu. Jadi Kerajaan Inggris Raya lahir bukan hanya soal politik, tapi juga sebagai penyelesaian utang yang pragmatis, melalui mesin finansial yang sama yang baru saja dibangun London.
Jadi kemudian setiap perang besar Inggris, mis Perang Napoleon, dibiayai via obligasi yang dijual City dan dikelola Bank of England. Di seberang jalan, sekumpulan saudagar lain yang asik berbincang di kedai kopi Edward Lloyd sejak akhir abad ke-17 juga membangun bisnis lain: menanggung risiko pelayaran. Mereka menuliskan nama pelayaran dan risikonya. Saudagar yang mau ikut menjamin, menuliskan namanya di bawahnya, dan disebut underwriter. Ini istilah yang sekarang dipakai di seluruh industri finansial dunia, jauh melampaui asuransi. Beberapa blok lagi dari kedai Lloyd, ada kedai kopi lain bernama Jonathan’s, tempat para pialang saham yang diusir dari Royal Exchange karena dianggap terlalu berisik akhirnya nongkrong dan berdagang saham secara informal sejak 1680an. Mereka menempel daftar harga saham di dinding. Dari perilaku ini, tahun cikal bakal London Stock Exchange lahir tahun 1698. Jadi, di City of London, ngobrol di kedai kopi saja sudah bisa menghasilkan berbagai institusi yang mengatur arsitektur finansial dunia.
Abad ke-19 adalah puncak keunggulan City of London. Mereka jadi satu-satunya pusat modal global. Sterling jadi mata uang cadangan dunia, terkunci keandalannya oleh cadangan emas. Tapi kemudian dua Perang Dunia mengubah segalanya. Perang memaksa negara turun tangan menanggung risiko yang terlalu besar untuk pasar swasta. Asuransi risiko perang untuk kapal jadi urusan negara. Begitu juga kerusakan properti domestik akibat Blitz di Perang Dunia II. Dan yang lebih penting, Inggris pelan-pelan berubah dari kreditor dunia jadi debitor, bergantung pada program Lend-Lease dari Amerika untuk bertahan. Inilah titik balik sesungguhnya: kekuatan finansial global mulai bergeser dari London ke New York, sebuah proses yang baru benar-benar tuntas setelah 1945.
Tapi City of London punya bakat aneh untuk reinventing. Tahun 1950-60an, saat kekaisaran melenyap dan Sterling kehilangan wibawanya, London justru menemukan panggung baru: pasar Eurodollar, dolar Amerika yang diperdagangkan di luar yurisdiksi Amerika. Ini sebagian gara-gara Uni Soviet takut deposit dolarnya disita kalau disimpan di bank Amerika sendiri, jadi mereka parkir di London. Bank of England yang saat itu cenderung permisif soal urusan bukan-sterling ini, tanpa sengaja membuka jalan bagi London jadi pusat keuangan internasional yang lebih besar dari kekuatan ekonomi domestik Inggris sendiri. Di masa Thatcher (1986) datang Big Bang, yaitu deregulasi besar-besaran pasar modal London, yang makin memperkuat posisi ini.
Hingga kini, paradoks ini masih menarik. Mereka memiliki City of London Corporation, yaitu pemerintah lokal satu-satunya di UK yang punya hak pilih korporasi, punya polisi sendiri (termasuk polisi keuangan), dan punya Lord atau Lady Mayor sebagai walikota yang perannya lebih mirip duta promosi bisnis. Bank of England sudah lama jadi milik negara (UK), diberi independensi kebijakan moneter sejak 1997, diawasi Parlemen tapi bebas dari campur tangan partai politik harian. Lloyd’s masih berdiri, sudah direformasi dari sistem tanggung jawab tak terbatas yang nyaris menghancurkannya di tahun 1990an, jadi pasar asuransi risiko spesialis paling dihormati dunia.
Di City of London, ritual lama tetap dipelihara sampai sekarang: setiap kali Ratu atau Raja Inggris mengunjungi City, ia harus dihentikan di titik yang dulu bernama Temple Bar, batas tradisional antara Westminster dan City. Lord atau Lady Mayor menyambut, menyodorkan gagang Pearl Sword, untuk disentuh sang Raja sebagai simbol penghormatan timbal balik. Seolah-olah Raja Inggris pun perlu izin untuk masuk kota ini. Khas Inggris sekali: mempertahankan teater kekuasaan lama, tapi tetap dijaga rapi. Biar lucu aja.
Dan London sendiri, dalam pemeringkatan pusat finansial global terbaru, masih bertengger di posisi dua dunia, hanya terpaut satu-dua poin dari New York, bukan lagi hegemon tunggal seperti abad ke-19, tapi tetap salah satu dari segelintir kota yang benar-benar layak disebut pusat finansial global sungguhan, bukan sekadar regional. Yang membuatnya bertahan bukan satu faktor tunggal, tapi kombinasi yang sulit ditiru: hukum common law Inggris jadi pilihan default untuk kontrak bisnis internasional di seluruh dunia, zona waktu tepat di antara jam bursa Asia dan Amerika, bahasa Inggris yang telanjur jadi lingua franca keuangan global, dan kesinambungan institusional yang panjang itu.
City of London hidup dalam kota yang temboknya dibangun orang Romawi, piagamnya ditandatangani penakluk Norman, dan mesin finansialnya dirancang saudagar yang dulunya cuma numpang ngobrol di kedai kopi sambil menunggu kapal pulang. Itu keunggulan kompetitif yang tidak bisa dibangun ulang oleh siapa pun dalam semalam, bahkan dengan modal berapa pun besarnya, dan mungkin itulah alasan sesungguhnya kenapa, di tengah dunia yang berubah begitu cepat, tempat setua ini masih keras kepala menolak untuk menjadi tidak relevan.
Peran utama IEEE dalam memajukan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi global tidak dapat disangkal. Namun, di luar kalangan ilmuwan dan insinyur, peran IEEE ini belum banyak dipahami masyarakat. Asyiknya, sejak kepemimpinan Prof. Gamantyo Hendrantoro dan Dr. Agnes Irwanti di IEEE Indonesia Section, publikasi atas diskursus IEEE telah lebih banyak disebarluaskan ke masyarakat umum. Selama dua tahun berturut-turut, IEEE Indonesia telah menghadirkan Presiden IEEE ke Indonesia, menampilkan diskusi yang disiarkan di televisi untuk meningkatkan minat masyarakat Indonesia.
IEEE President 2024, Dr. Tom Coughlin, mengunjungi Jakarta minggu ini, didampingi oleh IEEE R10 Director Prof. Lance Fung, IEEE R10 Director-Elect Prof. Takako Hashimoto, IEEE R10 Women-in-Engineering Committee Chair Dr. Agnes Irwanti, IEEE Malaysia Section Chair Dr. Bernard Lim, dan IEEE Indonesia Section Chair Prof. Gamantyo Hendrantoro. Sebagai bagian dari kegiatan ini, pada tanggal 14 Mei diselenggarakan IEEE briefing, diikuti dengan talkshow yang disiarkan oleh TVRI.
Tema talkshow adalah “Membentuk Masa Depan: Peran Wanita dalam Industri” — menampilkan para pemimpin terkemuka dari industri, universitas, pemerintah, dan organisasi IEEE di kawasan ini. Salah satunya sohib lamaku, Elysabeth Damayanti, OVP Cybersecurity Telkom Indonesia. Talkshow dimulai dengan pembukaan oleh Dr. Agnes, dan beberapa key speeches dari Bu Mira Tayyiba sebagai Sekjen Kementerian Komunikasi dan Informatika, dan Dr. Laksana Tri Handoko sebagai Kepala BRIN.
Sebagai salah satu pembicara, aku mulai dengan menyebutkan implikasi Complexity Science: bahwa kita selalu mengakui keragaman pada sistem yang kita rancang, dengan bidang ilmu, agen, pemeran, dll yang sangat berbeda namun saling terhubung, dan menghasilkan emergence: hal baru, nilai baru, keunggulan baru, serta hal-hal yang tak teramalkan. Inilah cara Internet dan dunia digital kita berkembang, dan inilah cara ekosistem alam dan ekosistem bisnis bekerja. Perspektif ini mendorong inklusivitas, karena peran yang berbeda dari berbagai kelompok demografis dianggap penting untuk kelangsungan hidup dan inovasi semua sistem yang kita jalani, termasuk peran wanita. Ini adalah alasan utama untuk menurunkan kesenjangan gender.
WEF menebitkan Laporan Kesenjangan Gender Global 2023, yang menempatkan Indonesia di peringkat ke-87 dari 146 negara dalam hal kesenjangan gender. Cukup rendah, tetapi masih di depan beberapa negara maju di Asia, termasuk Jepang, Cina, dan Korea Selatan. Skor Indonesia sekitar 68% dalam hal pengurangan kesenjangan gender — termasuk kesenjangan yang cukup rendah dalam kualitas kesehatan, kesenjangan sedang dalam partisipasi ekonomi, dan kesenjangan tinggi dalam pemberdayaan politik.
Kita yakin bahwa transformasi digital — yang sedang kita kembangkan bersama — dapat digunakan menurunkan kesenjangan tersebut. Saat ini kita mengembangkan transformasi digital di tingkat strategis & bisnis untuk meningkatkan ekonomi masyarakat dari bagian timur hingga barat Indonesia; dengan mengembangkan platform, mengimplementasikan percontohan dengan pemerintah, industri nasional, dan kemudian mengembangkannya. Kita bekerja untuk meningkatkan bisnis UMKM, pertanian, industri, pendidikan, dll, bahkan ke pulau-pulau terpencil di Indonesia. Terbukti, bahwa platform digital telah memberikan akses yang lebih luas kepada semua jenis kelamin secara cukup setara terhadap informasi dan pengetahuan, layanan, peluang pasar & bisnis. Namun, transformasi harus direncanakan dan dilaksanakan dengan hati-hati, disertai upaya pendidikan yang memadai.
Digitalisasi dalam proses kerja memungkinkan kita memberikan pemberdayaan yang lebih baik bagi perempuan. Ini dapat melewati banyak tantangan sosial, mendorong perempuan untuk mengurangi dampak penilaian negatif yang masih ada dari norma-norma tradisional. Transformasi bisnis memungkinkan inklusi yang lebih baik di tempat kerja dan bisnis pada umumnya. Ini juga merupakan peluang bagi perempuan untuk menggabungkan komitmen, kemampuan, dan peluang mereka. Gunakan layanan digital untuk memaksimalkan kolaborasi, bekerja dalam kemitraan, berani memimpin komunitas, memimpin perubahan, dan saling mendukung baik pada tingkat pribadi, tingkat organisasi, maupun ekosistem lintas industri.
Itulah salah satu kuncinya. Kunci lainnya adalah keragaman & keunikan. Perempuan harus menjaga identitas, kepribadian, dan pola pikir mereka sendiri, untuk mempertahankan perspektif & nilai yang berbeda; sambil membuka pikiran mereka terhadap budaya baru, cara berpikir yang berbeda.
Masih banyak waktu kemudian untuk mendengarkan para pembicara super-keren dalam acara ini. Ini salah satu hari paling berhargaku tahun ini: belajar banyak kebijaksanaan. Mudah-mudahan IEEE Indonesia Section terus melanjutkan kegiatan berharga ini lebih banyak lagi di masa depan.