Category: History

Београд

Hari pertama tahun 2026 ini aku buka di Beograd.

Di bandara Nikola Tesla, baru berapa puluh langkah keluar dari Air Serbia, tiga orang berseragam gelap dengan identitas kepolisian sangat tegap menghalangi jalan. Petugas di tengah meminta passport, lalu bertanya «Why coming to Serbia?» sambil membalik setiap halaman di password dan memeriksanya menerawang cahaya untuk memastikan keaslian setiap halaman. Ini sebelum masuk ke antrian imigrasi. Di loket imigrasi, petugas dengan seragam biru muda dengan identitas kepolisian dan muka kaku yang sama menanyakan hal yang sama «Why visiting Serbia?» sambil menatap tajam. Kutatap tajam balik seperti warga dari dua negara bersahabat yang saling teliti. Setelah membolak balik setiap halaman passport (tanpa diterawang ke cahaya), petugas ini menanyakan satu hal lagi, «Visa?» dan aku jawab tegas «Visa is not required» Ia mengangguk dan memberi cap «Сурчин Београд» dan mempersilakan keluar.

Di luar bandara, suhu serendah -1ºC. Bis merah A1 sudah menunggu. Driver berteriak menyuruh penumpang menaruh sendiri koper di bagasi belakang, baru membayar cash 400 dinar per penumpang. Pintu dibanting, dan minibus yang padat sesak mengantar ke pusat kota Beograd. Aku turun di Stasiun Novi Beograd, dan melanjutkan ke hotelku di kawasan pedestrian Knez Mihailova. Di hotel ini, resepsionis bernama Marija menyambut sangat ramah, hangat, dan memberikan tips bagaimana bertransportasi di Beograd dan Serbia pada umumnya. Ruangannya juga hangat nyaman (tidak panas). Perfect. Kontras sekali keramahan di tengah kota Beograd ini dengan imigrasi dan transportasinya.

Serbia lahir dari sejarah yang tidak pernah linear. Bukan bangsa yang tumbuh dalam satu arah peradaban, melainkan dibentuk di persimpangan Bizantium, Utsmani, dan Eropa Tengah. Prakarsanya dalam membentuk Yugoslavia sebagai upaya penyatuan bangsa-bangsa Slav selatan di abad lalu telah memperbesar paradoks itu. Penyatuan bangsa serumpun yang berbeda agama (di Eropa masa lalu, agama adalah identitas politik), aksara (=komunikasi dan budaya), dan sejarah (=budaya) itu terbukti gagal, memecah Yugoslavia, namun tidak meruntuhkan Serbia. Serbia kembali pada komitmennya menjadi pusat budaya yang mandiri di Eropa Tenggara, tanpa terobsesi menjadi bagian dari Eropa yang sangat berorientasi Barat. Integrasi Eropa diupayakan, namun bersifat pragmatis, tanpa menggantungkan harga diri pada validasi Eropa. Sikap ini lahir dari panjangnya pengalaman hidup di bawah pendudukan Utsmany, pendudukan Axis pada PD I & II, komunisme nasional dan penyatuan Yugoslavia, sanksi internasional akibat kekejaman di Bosnia, dan keterasingan ekonomi.

Kepribadian itu jelas terbaca di Beograd. Kota ini mungkin tidak secantik Praha, Bratislava, Budapest, atau berbagai kota di Eropa Tengah. Kota ini brutal dan kontras. Benteng Romawi berdampingan dengan jejak Utsmany, bangunan Habsburg, blok-blok sosialis beton, dan improvisasi urban pasca-Yugoslavia yang semuanya disusun bertumpuk tanpa disembunyikan. Huruf-huruf sirilik berdampingan dengan huruf-huruf latin dalam bahasa Slav selatan, dan keduanya memiliki keunikan: huruf sirilik yang berbeda dengan Russia, dan huruf latin dengan tambahan diakritik yang unik. Luka sejarah tidak dihapus di sini. Brutalisme bukan menjadi kegagalan estetika, tapi justru menunjukkan kejujuran fungsi dan kekuasaan, dilengkapi dengan vitalitas sosial yang tidak pretensius.

Baik di Beograd dan Novi Sad (kota budaya yang aku kunjungi berikutnya), kita menemui paduan manusia yang sangat ramah dan sangat kaku. Brutal membanting pintu mobil, tapi ramah memberikan informasi apa pun. Sopir taxi di Petrovaradin tanpa ditanya memberi tahu alur kembali dari Novi Sad ke Petrovaradin dengan bis agar lebih murah. Toko buku sangat banyak di pusat kota Beograd dan Novi Sad. Ciri-ciri negeri dengan banyak orang cerdas. Tentu sebagian besar buku dalam bahasa Serbia, bagian Shtokavia dari bahasa Slav Selatan, dan banyak dijual dalam edisi sirilik maupun latin. Uniknya, toko buku pertama yang aku masuki memiliki kasir yang berasal dari Banjaluka, Bosnia.

Selain museum, perpustakaan, taman, dan benteng, pusat-pusat kota juga merupakan pusat kunjungan yang menunjukkan budaya unik Serbia. Negeri ini tetap penting di Eropa Tenggara. Ia memilih menjadi simpul, dan bukan panggung. Keunikan Serbia terletak pada kemampuan hidup dengan kontradiksi: ortodoks tetapi sosial, nasional tetapi tidak romantik, persimpangan timur dan barat tanpa inferioritas, serta dua aksara yang hadir setara tanpa krisis identitas. Warisan Utsmany membentuk ritme sosial dan kecerdikan bertahan, warisan Eropa memberi nilai rasionalitas, dan pengalaman Yugoslavia mengajarkan skeptisisme terhadap proyek besar. Hasilnya adalah negara dan kota yang mungkin tidak akan masuk rank dalam keindahan, tetapi tetap menunjukkan energi yang nyata, kekuatan inspirasi, dan kepribadiannya utuh. Serbia hanya mencoba berpoles sendikit, sambil memilih hadir apa adanya.

Hari terakhir di Beograd, aku kembali ke bandara Nikola Tesla. Tanda penunjuk membawaku langsung ke gerbang imigrasi (sebelum sempat checkin dan baggage drop-in). Kali ini petugasnya seorang perempuan muda dengan wajah agak melankolis. Ia menyambut dengan senyum lucu dan sangat bersahabat. «I am tired,» katanya. «Because of the New Year’s party?» «No, I was working during New Year’s eve,» katanya sambil melihat isi passportku, lalu memberikan cap. «Well, happy New Year and more success for you!» kataku. Ia membalas, «You too.» Bahkan imigrasipun kontras antara pintu masuk dan pintu keluar. Sukses selalu untuk negeri Serbia yang selalu kontroversial.

City of London

Ini kunjungan entah yang keberapa ke London. Tapi kali ini aku stay di sisi lain di kota London, yaitu Hilton London Angel Islington. Tujuannya, biar punya waktu lebih lama menjelajahi kawasan City of London. City of London ini menarik. Luasnya 2,9km², tapi jadi ibukota keuangan dunia. Dan semua diakibatkan serentetan sejarah2 kecil yang menarik.

Waktu orang Romawi menduduki Britannia, mereka mencari titik operasi yang optimal, yaitu punya akses ke laut, atau di sebelah sungai yang masih cukup dalam untuk dilewati kapal; tapi kalau di sungai juga jangan terlalu lebar sehingga bisa dibuatkan jembatan atau penyeberangan lain. Dari kebutuhan logistik ini, dipilihlah titik yang dinamai Londinium, ±50CE. Lokasi ini dipasangi tembok batas, yang sampai hari ini menjadi batas City of London. Sempat kosong setelah Romawi kabur, kota ini dihidupkan Alfred the Great tahun 886, dan jadi titik logistik yang optimal dan terus membesar untuk perdagangan antara Inggris dan negeri-negeri lain melalui lautan.

Saat William the Conqueror menduduki Inggris (1066), alih-alih menindas kota dagang ini, ia justru menerbitkan piagam yang menjamin hukum dan tatacara London tetap berlaku. Ini logis: Raja perlu uang dan dukungan logistik; dan saudagar London punya keduanya. Pola berulang sepanjang sejarah Inggris: setiap kali penguasa perlu sesuatu yang mahal, para saudagar City siap bernegosiasi. Tahun 1189 kota ini punya Lord Mayor sendiri, memerintah dirinya sendiri lewat Aldermen dan Common Council yang dipilih, bukan cuma oleh penduduk, tapi juga oleh badan-badan usaha. Ini cikal bakal keunikan pemerintahan City yang berlaku hingga saat ini. Kita tentu pernah dengan Magna Carta (1215). Kita simak, bahwa pada piagam ini, terdapat klausul khusus yang menjamin utuhnya kebebasan City. Para baron yang menantang monarki absolut Raja John pun perlu dukungan finansial London, dan London memanfaatkan momen itu untuk mengukir hak istimewanya dalam dokumen paling sakral dalam sejarah konstitusi Inggris. Ini lobby bisnis paling sukses dalam sejarah: saudagar London berhasil menyelipkan kepentingan bisnis mereka ke dalam piagam kebebasan yang dirayakan dunia hingga delapan abad kemudian.

Hubungan antara saudagar dan kerajaan ini terutama dibutuhkan saat perang. Perang mahal, pajak saja tidak cukup, jadi dulu raja meminjam ke para bangsawan, baik di dalam maupun luar negeri. Ini bermasalah. Kalau kalah, uang hilang; kalau menang, raja jumawa, susah ditagih, wkwk. Raja Edward III pernah meminjam dari bankir Italia abad ke-14, lalu gagal bayar, dan yang hancur justru dua rumah bankir Florence terbesar saat itu. Nah, di sinilah inovasi London. Sebelum 1688, kredibilitas utang negara memang bergantung pada kata-kata satu orang: raja. Setelah 1688, Parlemen yang mewakili rakyat (yaitu tentu saja para bangsawan dan para saudagar) mengambil alih pengendalian, penerimaan, serta tentu saja perkiraan pajak, bea cukai, dan pendapatan negara lainnya. Mereka mulai mengunci sebagian penerimaan itu secara khusus untuk membayar bunga dan pokok utang. Artinya, kalau pemerintah Inggris berhutang, jaminannya bukan lagi janji lisan raja yang terkenal tak bisa dipegang, tapi aliran pendapatan negara yang bisa dihitung, diaudit, dan dijamin lembaga kolektif yang jauh lebih sulit diingkari sepihak. Inilah yang menjadi komitmen keuangan kredibel, dan inilah sesungguhnya awal keunggulan kompetitif industri keuangan Inggris dibanding rival-rivalnya di benua Eropa yang masih diperintah monarki absolut: Utang Inggris jadi lebih murah dan lebih aman dipinjamkan. Bukan karena Inggris lebih kaya, tapi karena janjinya lebih sulit diingkari.

Dari dasar ini, lahirlah Financial Revolution. Obligasi pemerintah pertama diterbitkan 1693, lalu setahun kemudian saudagar City mendirikan Bank of England, meminjamkan 1.2jt pound ke pemerintah dengan bunga 8%, dan sebagai imbalannya diberi hak menerbitkan uang kertas serta mengelola utang negara. Ini adalah uang kertas pertama yang memiliki jaminan sistem keuangan yang andal. (Swedia pernah menerbitkan uang kertas, tapi keburu bangkrut gara-gara sistemnya tidak andal). Model uang kertas dari Bank of England itulah yang akhirnya jadi template diikuti bank sentral di seluruh dunia.

Obligasi pemerintah Inggris ini kemudian dikenal sebagai gilts, dan ini lahir dari City. Sertifikat obligasi yang diterbitkan Bank of England sejak 1694 ini dicetak di kertas dengan tepi berlapis emas, jadi disebut gilt-edged, meski istilah gilts baru benar-benar digunakan abad ke-19. Dari sinilah lahir tradisi consol, obligasi abadi tanpa jatuh tempo yang sebagian baru benar-benar dilunasi pemerintah Inggris tahun 2015, dua abad kemudian, sampai pasar gilts modern yang dikelola UK Debt Management Office hari ini. Semua bermuara ke satu inovasi konstitusional sederhana: bikin janji negara sulit diingkari, dan orang akan berbondong-bondong meminjamkan uang dengan bunga murah. Biarpun sempat dibikin kacau Liz Truss tahun lalu, hahaha.

Union antara England dan Scotland tahun 1707 juga punya jejak finansial. Scotland saat itu baru saja bangkrut gara-gara Skema Darien, usaha kolonisasi mereka di Panama yang berakhir bencana. Sebagai bagian dari kesepakatan Union, England membayar kompensasi, dikenal sebagai The Equivalent, untuk menutup kerugian investor Scotland itu. Jadi Kerajaan Inggris Raya lahir bukan hanya soal politik, tapi juga sebagai penyelesaian utang yang pragmatis, melalui mesin finansial yang sama yang baru saja dibangun London.

Jadi kemudian setiap perang besar Inggris, mis Perang Napoleon, dibiayai via obligasi yang dijual City dan dikelola Bank of England. Di seberang jalan, sekumpulan saudagar lain yang asik berbincang di kedai kopi Edward Lloyd sejak akhir abad ke-17 juga membangun bisnis lain: menanggung risiko pelayaran. Mereka menuliskan nama pelayaran dan risikonya. Saudagar yang mau ikut menjamin, menuliskan namanya di bawahnya, dan disebut underwriter. Ini istilah yang sekarang dipakai di seluruh industri finansial dunia, jauh melampaui asuransi. Beberapa blok lagi dari kedai Lloyd, ada kedai kopi lain bernama Jonathan’s, tempat para pialang saham yang diusir dari Royal Exchange karena dianggap terlalu berisik akhirnya nongkrong dan berdagang saham secara informal sejak 1680an. Mereka menempel daftar harga saham di dinding. Dari perilaku ini, tahun cikal bakal London Stock Exchange lahir tahun 1698. Jadi, di City of London, ngobrol di kedai kopi saja sudah bisa menghasilkan berbagai institusi yang mengatur arsitektur finansial dunia.

Abad ke-19 adalah puncak keunggulan City of London. Mereka jadi satu-satunya pusat modal global. Sterling jadi mata uang cadangan dunia, terkunci keandalannya oleh cadangan emas. Tapi kemudian dua Perang Dunia mengubah segalanya. Perang memaksa negara turun tangan menanggung risiko yang terlalu besar untuk pasar swasta. Asuransi risiko perang untuk kapal jadi urusan negara. Begitu juga kerusakan properti domestik akibat Blitz di Perang Dunia II. Dan yang lebih penting, Inggris pelan-pelan berubah dari kreditor dunia jadi debitor, bergantung pada program Lend-Lease dari Amerika untuk bertahan. Inilah titik balik sesungguhnya: kekuatan finansial global mulai bergeser dari London ke New York, sebuah proses yang baru benar-benar tuntas setelah 1945.

Tapi City of London punya bakat aneh untuk reinventing. Tahun 1950-60an, saat kekaisaran melenyap dan Sterling kehilangan wibawanya, London justru menemukan panggung baru: pasar Eurodollar, dolar Amerika yang diperdagangkan di luar yurisdiksi Amerika. Ini sebagian gara-gara Uni Soviet takut deposit dolarnya disita kalau disimpan di bank Amerika sendiri, jadi mereka parkir di London. Bank of England yang saat itu cenderung permisif soal urusan bukan-sterling ini, tanpa sengaja membuka jalan bagi London jadi pusat keuangan internasional yang lebih besar dari kekuatan ekonomi domestik Inggris sendiri. Di masa Thatcher (1986) datang Big Bang, yaitu deregulasi besar-besaran pasar modal London, yang makin memperkuat posisi ini.

Hingga kini, paradoks ini masih menarik. Mereka memiliki City of London Corporation, yaitu pemerintah lokal satu-satunya di UK yang punya hak pilih korporasi, punya polisi sendiri (termasuk polisi keuangan), dan punya Lord atau Lady Mayor sebagai walikota yang perannya lebih mirip duta promosi bisnis. Bank of England sudah lama jadi milik negara (UK), diberi independensi kebijakan moneter sejak 1997, diawasi Parlemen tapi bebas dari campur tangan partai politik harian. Lloyd’s masih berdiri, sudah direformasi dari sistem tanggung jawab tak terbatas yang nyaris menghancurkannya di tahun 1990an, jadi pasar asuransi risiko spesialis paling dihormati dunia.

Di City of London, ritual lama tetap dipelihara sampai sekarang: setiap kali Ratu atau Raja Inggris mengunjungi City, ia harus dihentikan di titik yang dulu bernama Temple Bar, batas tradisional antara Westminster dan City. Lord atau Lady Mayor menyambut, menyodorkan gagang Pearl Sword, untuk disentuh sang Raja sebagai simbol penghormatan timbal balik. Seolah-olah Raja Inggris pun perlu izin untuk masuk kota ini. Khas Inggris sekali: mempertahankan teater kekuasaan lama, tapi tetap dijaga rapi. Biar lucu aja.

Dan London sendiri, dalam pemeringkatan pusat finansial global terbaru, masih bertengger di posisi dua dunia, hanya terpaut satu-dua poin dari New York, bukan lagi hegemon tunggal seperti abad ke-19, tapi tetap salah satu dari segelintir kota yang benar-benar layak disebut pusat finansial global sungguhan, bukan sekadar regional. Yang membuatnya bertahan bukan satu faktor tunggal, tapi kombinasi yang sulit ditiru: hukum common law Inggris jadi pilihan default untuk kontrak bisnis internasional di seluruh dunia, zona waktu tepat di antara jam bursa Asia dan Amerika, bahasa Inggris yang telanjur jadi lingua franca keuangan global, dan kesinambungan institusional yang panjang itu.

City of London hidup dalam kota yang temboknya dibangun orang Romawi, piagamnya ditandatangani penakluk Norman, dan mesin finansialnya dirancang saudagar yang dulunya cuma numpang ngobrol di kedai kopi sambil menunggu kapal pulang. Itu keunggulan kompetitif yang tidak bisa dibangun ulang oleh siapa pun dalam semalam, bahkan dengan modal berapa pun besarnya, dan mungkin itulah alasan sesungguhnya kenapa, di tengah dunia yang berubah begitu cepat, tempat setua ini masih keras kepala menolak untuk menjadi tidak relevan.

Chechnya (Нохчийчоь)

Masa SMA, aku pernah dipanggil Wakil Kepala Sekolah, gara-gara menggambar logo ideologi tabu di kertas buram. Itu masa perang dingin, dan anak-anak seusia aku suka cari informasi dari berbagai sumber terbatas. Belum ada Internet, tapi majalah asing cukup banyak. Aku buat peta perimbangan politik Eropa, sebagai titik perimbangan konflik masa itu, dengan logo bintang segiempat NATO di kiri dan serpimolot USSR di kanan. Pakai huruf cyrillic segala. Petugas sekolah mana tahu logo NATO. Yang tahu logo partai terlarang doank, haha. Tapi syukur pimpinan sekolah paham. Tapi situasi saat itu, di tengah revolusi dunia yang berakhir dengan pecahnya USSR dan bubarnya komunisme, membuat generasi kami mempelajari banyak hal tentang sejarah dan progres politik dunia, khususnya kawasan Eropa. Perpecahan USSR membawa banyak dampak lain, dan menguak banyak entitas politik baru. Salah satunya: Chechnya (Нохчийчоь).

Saat revolusi Bolshevik, negara-negara di bawah kekuasaan Kekaisaran Russia direformasi. Beberapa kawasan mendapatkan status SSR (Republik) yang merupakan entitas pembentuk USSR. Republik semacam ini banyak yang memproklamasikan kedaulatan saat USSR bubar, termasuk Ukraina, Kazakhstan, Uzbekistan, Armenia. Namun banyak republik hanya mendapatkan status ASSR (Republik Autonomi) di bawah republik lain, termasuk Karakalpakstan di bawah Uzbekistan; dan puluhan republik di bawah Russia, termasuk Chechnya, Tatarstan, Baskhortostan, dll. Banyak yang berusaha melepaskan diri dari Russia; namun Russia berkeras mempertahankan kedulatannya sebagai Federasi Russia yang kian lama kian berpusat pada kerussiaan (alih-alih kefederasian). Perang Chechnya 1 dan 2 menjadi perang yang cukup besar; terjadi di waktu yang sama dengan perubahan besar di Indonesia (tumbangnya kediktatoran Soeharto, lepasnya Timor Timur, meningkatnya otonomi daerah) — yang artinya menjadi perhatian besar juga saat bangsa Indonesia sedang sangat sadar politik.

Sejarah Russia panjang, melibatkan bangsa-bangsa Slavik, Turkik, Mongolik, bahkan Uralik. Nanti kita cicil di sini, haha. Bisa tampak artifaknya misalnya di web PANGERANKECIL.COM yang koleksinya meliputi banyak bahasa etnik di kawasan Russia dan sekitarnya. Tapi kawasan Kaukasus lebih unik dari itu. Banyak spekulasi bahwa budaya dan bahasa umat manusia berasal dari kawasan itu. Bahasa-bahasa Kartvelia, Pontik / Sirkasia, dan Nakh yang ada di kawasan itu, sulit dicari induk bahasanya. Bahasa Indo-Eropa yang kawasannya sangat luas pun, dispekulasikan berasal dari sekitar kawasan ini (Kaspia), yang meluas baik ke barat (hampir seluruh Eropa) maupun ke selatan (Iran dan India). Chechen adalah salah satu cabang dari Nakh — jadi bukan Slavik, Turkik, Mongolik, atau Uralik.

Bangsa Chechen tinggal di ketinggian lereng utara pegunungan Kaukasus (atau orang Russia bilang Ciscaucasia = Kaukasus sebelah sini). Berabad mencoba memperluas kawasan ke daerah yang lebih memudahkan pertanian dan peternakan di kawasan yang lebih rendah. Pertikaian panjang bangsa Slav (termasuk Kossak) dan Mongol kadang memberikan mereka ruang untuk ekspansi. Islam masuk kawasan Chechnya dari Dagestan (yang sudah jadi kawasan Islam sejak millennium pertama). Tapi kekaisaran Russia pun berekspansi, dan akhirnya menduduki Chechnya. Daerah ini dianggap daerah sulit oleh pemerintahan Russia, karena sifat masyarakatnya yang tidak hierarchical — tidak mengakui peran para bangsawan, sehingga tidak mudah diatur seperti kawasan lain. Pengusiran massal pada orang Chechen telah terjadi pada masa ini, sehingga hingga kini dapat ditemui kelompok diaspora Chechen yang cukup besar di Yordania.

Saat Revolusi Bolshevik, orang-orang Kossak banyak yang mendukung Tsar dan kemudian Rus Putih. Mereka membantu Rus Putih mengepung Rus Merah. Orang-orang Chechen banyak yang membantu Rus Merah (lihat film The Reds untuk memahami bahwa Revolusi Bolshevik dianggap sebagai revolusi Jihad di Kaukasus, untuk melawan Tsar dan orang Kossak). Rus Putih dan Kossak harus mengurangi kekuatan penyerangan ke Utara untuk melawan ekspansi Chechen, sehingga akhirnya justru dikalahkan Rus Merah.

Saat Perang Dunia II, paranoia Stalin membuatnya melakukan kekejaman dalam bentuk pemindahan massal berbagai etnik minor. Seluruh bangsa Chechen dipaksa pindah ke Kazakhstan hingga Kyrgyzstan dalam operasi Chechevitsa, dengan korban meninggal hingga 30% dari seluruh populasi pada saat pemindahan dan pada tahun-tahun pertama di wilayah baru. Tanah mereka dirampas orang-orang Russia. Baru di masa Khrushchev, orang-orang Chechen boleh kembali ke negeri mereka. Namun struktur sosial telanjur rusak. Tidak ada budaya tradisional yang melekat lagi di bangsa Chechen. Tanah mereka pun sudah banyak dikuasai pendatang Russia. Ini justru mempercepat modernisasi Chechnya. Warganya bekerja di sektor modern: pertanian, engineering, pemerintahan, dan terutama militer. Banyak warga Chechnya menjadi perwira dan prajurit Uni Soviet. Dua diantaranya tentu Jendral Dzhokhar Dudayev di Estonia, dan Kolonel Aslan Maskhadov di Lithuania — yang kemudian mendirikan Republik Chechnya saat Uni Soviet bubar.

Dzhokhar Dudayev

Merdekanya Republik Chechen memicu perang dengan Russia. Tentara Russia dapat membunuh Dudayev, namun tak dapat memperoleh kemenangan mutlak. Akhirnya Russia di bawah Boris Yeltsin memutuskan gencatan senjata dan kemerdekaan de fakto Republik Chechnya.

Sayangnya kemudian Chechnya tidak stabil. Islamis ekstrim makin kuat dan berekspansi ke kawasan lain, seperti Dagestan. Mufti Chechnya, Akhmad Kadyrov-pun merasa terancam oleh aliran Islam yang semacam ini. Russia yang kini di bawah Vladimir Putin memutuskan menumpas habis militer Chechnya. Chechnya kembali menjadi Republik Autonomi di bawah Federasi Russia. Untuk memastikan stabilitas, Akhmad Kadyrov dijadikan presiden Chechnya. Bagi Kadyrov, ini pilihan terbaik untuk menjaga Chechnya tidak lebih hancur, sekaligus menahan penguatan para Islamis ekstrim. Sebagai pembalasan, para gerilyawan membom Akhmad Kadyrov. Ia wafat dan digantikan putranya, Ramzan Kadyrov.

Masjid Kadyrov yang dibangun pasca perang

Ramzan berada di situasi yang genting. Untuk mengamankan keseimbangan, ia memilih kesetiaan dan perlindungan penuh bersama Vladimir Putin. Ia dapat membentuk pasukan Chechnya yang relatif berdaulat, terpisah dari pasukan lain di Federasi Russia. Dan tentu ini jadi pasukan yang setia pada Putin melalui Kadyrov. Dalam model Russia versi Putin, tentu banyak soal-soal HAM yang juga dituduhkan pada Kadyrov.

Jadi, ini menjelaskan, mengapa Putin mengerahkan pasukan Kadyrov dari Chechnya ini dalam upaya menduduki dan mengalahkan Ukraina saat ini.

Sergei Vinogradov

Pembatasan sosial di masa krisis COVID-19 ini memaksa kita bekerja di rumah, plus mengurusi pekerjaan rumah. Asisten rumah tangga dll tidak disarankan ada di sekitar wilayah rumah. Kadang vicon urusan kepentingan negara pun dilakukan sambil cuci piring atau seterika. Namun, beberapa malam ini, setelah PADI UMKM sukses diluncurkan, dan vicon malam berkurang, pekerjaan menyeterika terpaksa dilakukan sambil cari aktivitas lain. Aku kurang suka menonton film. Tapi, daripada menonton baju, akhirnya film-film lama di iPad TV ditayang ulang. Sambil mensuasanai 75 tahun berakhirnya Perang Dunia II, beberapa hari ini filmnya tentang Perang Dunia II, e.g. Perang Stalingrad dan Perang Sevastopol.

Namun film Stalingrad membuat teringat pada tokoh Sergei Alexandrovich Vinogradov. Vinogradov ini perwakilan di Kedutaan Uni Soviet di Turki, dan pada usia 33 tahun dipromosikan menjadi Duta Besar. Turki berbatasan dengan wilayah yang sudah jatuh ke Jerman dan sekutunya; namun juga berbatasan dengan beberapa wilayah Uni Soviet di Kaukasus. Turki juga memiliki hubungan diplomatik yang tak terputus, baik dengan pihak Sekutu maupun pihak Jerman. Keberpihakan Turki sangat penting pada semua pihak. Namun sejauh itu Turki merasa tidak berkepentingan pada Perang Dunia II. Tak urung, Stalin mengerahkan pasukan dalam jumlah besar untuk menjaga perbatasan dengan Turki.

Passport Vinogradov sebagai Duta Besar Uni Soviet di Turki

Saat itu pasukan Jerman telah menghancurkan tentara dan rakyat Uni Soviet, merangsek ke selatan hingga sungai Volga, siap mengepung Moskow. Pasukan Hitler juga telah dikirim ke arah Azerbaijan, mencari akses ke sumber minyak dan pertanian di Asia. Hanya tersisa celah tipis wilayah Uni Soviet antara wilayah yang mulai diduduki Jerman, dan negara Turki. Uni Soviet tak bersedia menyerah, dan terjadi perang paling mematikan sepanjang Perang Dunia II di Stalingrad.

Dalam situasi semacam ini, mendadak Vinogradov diminta kembali ke Moskow. Tanpa konsideran. Diminta segera kembali.

Vinogradov mencari penerbangan yang masih memungkinkan, menyeberangi wilayah perang, dan sampai di Moskow. Tidak ada perintah apa-apa lagi. Semua orang menyuruh menunggu saja. Dia diinapkan di sebuah hotel.

Di tengah malam, ia dijemput ke sebuah markas di wilayah Kuntsevo. Di sana, ia menjumpai tak lain dari Stalin sendiri, di meja makan, dikelilingi beberapa anggota Politbiro.

Vinogradov memberi salam kepada semuanya. Stalin mempersilakannya bergabung.
“Berikan vodka dulu untuk Pak Dubes,” pinta Stalin.
Vinogradov melakukan toast demi kesehatan Stalin, lalu minum.
“Sekarang katakan, Pak Dubes, Turki akan memerangi kita atau tidak?” tanya Stalin.
“Tidak, Kamerad Stalin,” jawab Vinogradov, singkat.
“Berikan vodka lagi untuk Dubes Vinogradov,” ujar Stalin.
Vinogradov minum lagi.
“Jadi, Turki akan memerangi kita atau tidak?” tanya Stalin sekali lagi.
“Tidak, Kamerad Stalin,” jawab Vinogradov.
Lalu Stalin menutup, “Baik. Kembali ke Turki. Dan ingat selalu jawabanmu.”

Dengan jawaban Vinogradov itu, Stalin menarik mundur semua pasukan Uni Soviet di perbatasannya dengan Turki, dan mengirimkannya untuk memperkuat Stalingrad.

Sejarah mencatat bahwa perang Stalingrad menjadi titik balik Perang Dunia II. Jerman dapat dikalahkan, dipaksa mundur Tentara Merah Russia, terus mundur hingga kembali ke Eropa Timur, Eropa Tengah, lalu dipaksa menyerah dengan kota Berlin berhasil diduduki Uni Soviet.

Setelah perang, pernah Vinogradov ditanyai sejawatnya: dari mana ia tahu bahwa Turki tidak akan memerangi Russia. Vinogradov menjawab: tidak ada informasi dari petinggi Turki yang mana pun. Andaipun ada informasi, maka informasi mudah berubah dalam ketidakpastian dalam krisis dan perang luar biasa itu. Yang ia lakukan hanya memahami situasi dan kondisi moral yang ada pada para pemegang kekuasaan di Turki, diperoleh dari komunikasi dan pergaulan terus menerus.

Vinogradov pun memiliki jasa besar bagi kemenangan Sekutu di front Eropa Barat. Pemerintahan pelarian Jendral Charles de Gaulle memiliki peran aktif dalam kemenangan di front barat. Namun sebelum penyerangan, ia merasa perlu menanyakan apakah Pemerintah Uni Soviet dapat memberikan pengakuan pada pemerintahan de Gaulle sebagai perwakilan Perancis yang sah. Mereka minta bantuan melalui Vinogradov, dan Vinogradov memberikan rekomendasi kepada pemerintah pusat di Moskow untuk memberikan pengakuan yang diminta de Gaulle.

De Gaulle dan Vinogradov (saat telah menjadi Duta Besar Uni Soviet di Perancis)

Di tahun ini, dan tahun-tahun sebelumnya, aku bekerja di Departemen Sinergi di tempat aku kerja sekarang. Ada unsur diplomasi di sana, ada unsur business intelligence, ada upaya kolaborasi kompetensi, ada penyusunan strategi bersama. Dan salah satu kunci dalam pekerjaan ini adalah terus menerus memahami suasana dan kondisi pemerintah pusat, kementerian, dunia bisnis, dunia industri. Tidak hanya dengan memperoleh informasi, apalagi informasi formal, namun dengan memahami konteks, serta membentuk konteks. Ketepatan pengolahan konteks ini yang menentukan apakah sebuah misi akan berhasil.

Romania

Dua puluh tahun setelah domain KUN.CO.RO (diregistrasikan di Coventry, 3 Februari 2001), akhirnya aku bisa mengunjungi tanah air [domain]-ku: Romania, 27 Juni 2019. Romania bukanlah bagian dari kawasan Schengen. Namun Romania menerima kunjungan bebas visa dari siapa pun yang telah berada di Eropa. Maka aku masuk Romania melalui bandara Bologna di Italia, langsung ke Bucharest.

Benteng Peles dekat Sinaia di Prahova

Romania termasuk salah satu tanah airku. Jadi aku cukup hafal sejarah bangsa ini, termasuk sejak principalities Romaneasca, Bessarabia, dan akhirnya Transilvania dipersatukan menjadi Kerajaan Romania. Namun waktu kunjungan yang sangat singkat tidak memungkinkan menjelajahi berbagai tempat bersejarah. Aku luangkan waktu saja untuk mencoba mengakrabi ibukota Bucharest (Bucuresti) dan kota Brasov di Transilvania.

Koen dalam pakaian tradisional hitam berbordir merah.

Bucharest mencitrakan kota modern yang merupakan paduan suasana klasik awal abad ke-20 dan modernisasi ala negara komunis tahun 1970-an. Budaya romance yang menjadi keunikan Romania di tengah negara-negara komunis berbudaya Slavik, Uralik, dan Germanik ini di paruh akhir abad ke-20 ini diangkat dengan menjadikan Bucharest sebagai The Little Paris, lengkap dengan Arc de Triomphe-nya. Kota ini tidak terlalu ramai, dan tidak terlalu mengundang pengunjung. Cukup terasa adanya paduan gamang antara keramahan penduduk dengan keterpeliharaan atau mungkin penghormatan privacy.

Dua jam ke arah utara, melintasi Pegunungan Karpatia (Carpathian Mountains) Selatan, di dekat perbatasan dengan Pegunungan Karpatia Timur, terdapatlah kota Brasov di Transilvania. Posisi Romania yang sempat terkepung Kekaisaran Utsmani, Austro-Hungaria, dan Russia menjadikan kawasan pegunungan ini menjadi benteng pertahanan alami, dan juga tempat yang ideal untuk membangun benteng, termasuk Benteng Peles yang dibangun oleh Raja Carol I di dekat Sinaia akhir abad ke-19; dan Benteng Bran di batas Romaneasca dan Transilvania yang usianya lebih panjang (abad ke-13) dan sempat menyaksikan pertahanan melawan pasukan Mongol dan Utsmani. Ada yang menyebut Benteng Bran sebagai Benteng Drakula. Namun kemungkinan besar, Vlad III yang sering disebut sebagai Vlad Dracula ini justru belum pernah mendiami Benteng Bran.

Pusat Kota Brasov

Brasov sendiri merupakan kota mungil yang masih mempertahankan bentuk tradisionalnya. Kunjungan ke kota ini dinyatakan wajib bagi yang ingin melihat wajah Romania yang sesungguhnya. Walaupun suasana dingin pegunungan sangat terasa, penduduk Brasov relatif lebih hangat dan akrab.

Narasi dan Storytelling

Penceritaan, narasi, atau storytelling merupakan cara yang sangat alami untuk memahami dan menjelaskan berbagai konsep. Sebagai model acuan mental, cerita menstrukturkan cara manusia menyusun, mengaitkan, dan mengingat informasi. Cerita mengandung alur, tokoh, dan konteks dalam kerangkat terstruktur, memungkinkan manusia mengolah informasi kompleks menjadi pola yang lebih mudah dipahami. Cerita dapat mentransformasikan ide-ide abstrak menjadi sesuatu yang konkret, menciptakan hubungan emosional dan kognitif antara pendengar atau pembaca dengan gagasan yang disampaikan.

Di tingkat personal, cerita memiliki hubungan langsung dengan model mental seseorang. Keterkaitan logis dan emosional dalam cerita memungkinkan kita memproses kondisi rumit dengan lebih baik. Unsur dalam cerita yang dipadukan dengan emosi, gambaran mental, dan konteks yang relevan, akan membantu membentuk konsep yang lebih kokoh dalam memori jangka panjang.

Di masyarakat, cerita merupakan media untuk menyampaikan wawasan budaya, tradisi, dan nilai-nilai. Cerita juga membantu menjaga kesinambungan identitas budaya, mengajarkan norma sosial, dan memperkuat rasa kebersamaan. Wawasan budaya yang tersampaikan melalui cerita juga memperkuat ikatan dalam komunitas serta menciptakan kesadaran kolektif yang lebih mendalam.

Cerita dimanfaatkan secara luas dalam berbagai bidang. Di komunitas, cerita digunakan untuk menyebarkan pengetahuan secara efektif, baik dalam bentuk tradisional seperti folklore maupun melalui media modern. Di ranah intelektual, cerita menjadi alat untuk menghimpun dan melembagakan pengetahuan sebagai bagian dari intellectual capital. Dengan menstrukturkan pengetahuan dalam bentuk narasi, cerita membantu organisasi atau komunitas menciptakan aset pengetahuan yang dapat diwariskan dan diakses lintas generasi. Dalam pendidikan, cerita memainkan peran penting dalam meningkatkan efektivitas pembelajaran: siswa dapat lebih mudah memahami materi pelajaran, mengaitkannya dengan pengalaman pribadi, dan membangun pemahaman yang lebih mendalam.

Menariknya, cerita tidak selalu harus diingat secara rinci. Dalam banyak kasus, elemen kunci dari cerita, yang terekam sebagai priming memory, dapat memicu akses ke memori sadar di saat-saat tertentu. Misalnya, sebuah cerita tentang keberanian dapat memunculkan pola pemikiran atau tindakan tertentu saat seseorang menghadapi situasi sulit. Dengan demikian, cerita tidak hanya berfungsi sebagai media pengajaran tetapi juga sebagai pemandu bawah sadar yang membentuk cara seseorang bertindak dan bereaksi dalam kehidupan sehari-hari.

Di atas ini beberapa buku yang menggunakan pendekatan storytelling untuk menyampaikan gagasan atau wawasan secara menarik. Sebagai contoh tambahan, kitab suci pun tidak disusun dalam bentuk pasal-pasal, melainkan melalui rangkaian cerita yang sarat makna, yang mampu memotivasi dan membimbing manusia. Perubahan dalam masyarakat lebih mungkin terjadi melalui wacana yang disampaikan dalam bentuk cerita, narasi historis, dan simbol-simbol, daripada melalui proposisi logis semata.

Никола Тесла

Tahun ini negara Croatia merayakan 150 tahun Tesla. Nikola Tesla memang lahir di negara itu, di desa Smiljan, tahun 1856, dari keturunan bangsa Serbia. Dari kecil ia sering mendapatkan ilusi visual, sehingga ia sering tidak memerlukan kertas atau apa pun untuk merancang sesuatu. Semuanya dilakukan dalam pikiran saja. Ia mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Universitas Praha. Konon di kota inilah ia memperoleh ide tentang motor induksi arus bolak-balik (AC). Namun di sini juga, ia mempelajari 12 bahasa. Yang terakhir ini tidak terlalu susah sih untuk orang Eropa ;).

Ia juga mendiskusikan Chaucer, mahir memecahkan kalkulus, dan tentu juga memecahkan masalah2 kelistrikan. Tapi ajaibnya, ia juga misanthropic. Banyak sih mahasiswa elektro atau komputer yang gayanya misantrophic. Tapi buat Tesla, ini berlaku seumur hidup. Dia tidak pernah punya kedekatan personal dengan siapa pun seumur hidup. Hidup memang tidak sempurna.

Tesla memulai bekerja di Budapest. Setahun kemudian, ia pindah ke Paris, bekerja untuk sebuah sayap perusahaan Edison. Prestasi2 Tesla dihargai, tapi tidak dalam bentuk uang :). Idenya tentang generator AC didengarkan pihak direksi, dan kemudian ia dikirim ke New York, menemui Thomas Alva Edison sendiri. Pengantar dari direksi di Paris berbunyi seperti ini: “Ada dua orang hebat yang kami tahu. Pertama adalah Anda sendiri. Dan yang kedua adalah anak muda ini.”

Lain kali aja aku cerita lebih detik tentang Edison yang betul2 menerapkan “1% ide dan 99% kerja.” Edison bukan penggemar matematika, dan lebih suka melakukan ribuan percobaan, mengerahkan ribuan karyawan, untuk mendapatkan hasil yang tepat untuk produk2nya. Menurut Tesla, 90% kerja berat itu bisa dikurangi kalau Edison sedikit saja menerapkan sains dan kalkulasi. Edison sendiri menganggap Tesla penting. Dia punya masalah. Dia sudah berhasil menciptakan lampu listrik dan phonograph serta mengadaptasi telepon Bell. Tetapi dia belum bisa mendistribusikan listrik. Dia masih pakai generator DC. Jarak jangkaunya pendek sekali. Setiap kompleks atau bahkan setiap gedung akan harus punya pembangkit sendiri. Betul2 tidak aplikatif. Edison mendapat nasihat dari mantan atasan Tesla untuk memanfaatkan Tesla yang naif, tanpa benar2 harus memberi imbalan.

Tesla ditugasi memecahkan masalah sinkronisasi generator, dan seperti biasa ia berhasil. Tapi tanpa imbalan seperti yang dijanjikan. “American humor,” begitu ungkap Edison. Tesla berpisah dengan Edison. Dimulailah yang kemudian disebut sebagai “Battle of Currents.”

Kisah selanjutnya bukan di buku sejarah, tapi di buku fisika dan elektro. Tidak ada generator DC yang betul2 diaplikasikan secara massal. Yang terus ada dan dibangun adalah generator AC ciptaan Tesla. Masalah2 distribusi terpecahkan dengan benda2 yang hanya berfungsi dengan arus AC, seperti trafo. Untuk info lebih lanjut, hubungi mahasiswa elektro terdekat :). Tapi jangan tanya ke Edison sendiri. Sebagai mantan inventor, ia hanya tinggal sebagai penjaga status quo, dan hanya menghabis2kan uang untuk kampanye menentang penggunaan arus AC. Khas Amerika (sampai sekarang), media dipenuhi oleh berita2 bias tentang keunggulan dan bahaya arus AC. Tapi ekonomi kapitalis yang juga khas Amerika akhirnya menunjukkan siapa yang unggul. Tahun 1896, PLTA dibangun di Air Terjun Niagara, tentu menggunakan mesin Tesla. Kemudian kemenangan Tesla atas Edison tak dapat dibendung lagi.

Apakah Tesla bahagia? Seperti Sisyphus, kita akan mengasumsikan Tesla bahagia :). Tapi tentu ia masih naif sampai tua. Dan tidak pernah benar2 menikmati paten yang seharusnya dinikmatinya. Seandainya ia pintar mengatur haknya, ia bisa jadi sempat jadi orang terkaya di dunia, mengambil paten dari setiap watt listrik AC yang mengalir di semua rumah dan gedung di seluruh dunia. Tapi tidak. Ia hanya mengambil uang sedikit. Lalu menghabiskannya untuk eksperimen demi eksperimen lagi. Dan ide2nya mengatasi zamannya: hidup di planet lain, perjalanan ke Mars, komunikasi global, perangkat2 militer yang aneh2.

Edison terus dipromosikan media sebagai ilmuwan terkenal. Ia kemudian menciptakan proyektor film, dan membuat film yang pertama. Sempat terjebak dalam dunia gaib ;), ia tetap dikenang hingga kini sebagai ilmuwan empirik Amerika yang terbesar. Tesla, kalaupun ada yang ingat nama ini, malah sering dikaitkan dengan pseudoscience, karena sikap misteriusnya (masih misantrophic), padahal hal2 seperti itu justru tidak disukainya waktu hidup. Tapi hidup memang tidak sempurna, pun bagi yang telah mencapai prestasi puncak.

Dan untuk mengenang keindahan hidup yang tidak sempurna ini, kita ikut memperingati 150 tahun Tesla.

Tambahan dari Wikipedia:
Tesla diangkat menjadi fellow IEEE dan mendapatkan medali tertinggi: Medali Edison (ironik kan?). Tahun 1975, IEEE mulai menganugerahkan penghargaan yang disebut Tesla Award bagi inovasi terpenting di bidang power engineering. SI juga mengambil nama tesla (T) sebagai satuan kuat medan magnet (kg·s–2·A–1).

Pengantin dan Teroris Herzl


Tahun 1897, atas perintah presiden Kongres Zionis Pertama, Theodor Herzl, dua rabbi Austria datang ke Palestina menjajagi kemungkinan membuat negara di sana.

“Pengantinnya cantik,” demikian telegram yang dikirim ke Herzl, “tetapi sudah menikah dengan orang lain.”

Si orang lain adalah bangsa Arab Palestina yang sudah tinggal di kawasan itu. Tak bergeming, Herzl memaksakan program emigrasi Yahudi ke Palestina.

Buku di sebelah ini ditulis bukan ditulis oleh “teroris Arab” atau “pemikir tipikal Islam Indonesia”, tetapi oleh orang Yahudi sendiri, tentang sejarah Israel yang lebih adil. Aku nggak berkomentar lebih jauh. Ntar katanya tipikal pula.

© 2026 Kuncoro++

Theme by Anders NorenUp ↑