Apa itu AI?

Konsep AI bahkan sudah dikaji jauh sebelum aku lahir. Masa kuliah, kami membayangkan, seperti apa nanti AI dibentuk. Ada expert system dan lain-lain. Kalau kita lihat tulisan lama di blog ini (dan tulisanku yang berserakan di mana-mana), tentu kita lihat bahwa gagasanku tentang AI sangat berbeda dengan apa yang kini mewujud. Dulu aku bayangkan, AI mungkin dibentuk dari:

  • Strange loop. Ini belajar dari Hofstadter bahwa “aku” adalah referensi diri yang terbentuk saat sistem menjadi sangat kompleks sehingga mampu memuat model tentang dirinya sendiri. Dari sini kesadaran muncul.
  • Complexity dan emergence-nya. Kesadaran kubayangkan sebagai properti sistem yang terorganisasi jauh dari ekuilibrium. Per Bak menunjukkan bahwa sistem semacam ini akan menyetel dirinya sendiri ke titik kritis tanpa ada yang menyetelnya. Konsep Edge of Chaos dalam teori ini menunjukkan bahwa komputasi yang paling kaya justru terjadi di batas tipis antara keteraturan beku dan kekacauan penuh. Aku pikir, di sana intelijensi seharusnya dicari.
  • Cellular automata. Inovasi Wolfram dll yang sempat menunjukkan hasil yang menarik. Aturan lokal yang sangat sederhana, diulang terus-menerus, melahirkan komputasi universal dan kompleksitas yang tak terduga tanpa perancang, tanpa tujuan, tanpa pusat kendali.

Tapi ternyata AI lahir dalam bentuk ML, DL, ANN, Transformer, foundation model, dst. AI meraksasa, mencapai skala ekonomi, jadi murah, dan ada di mana-mana, terutama dalam bentuk LLM. Kalau orang awam bilang AI, pasti maksudnya LLM ini. Jadi AI diturunkan bukan dari pendekatan sains, tapi engineering yang pragmatik. Ini berawal dari Alan Turing tahun 1950.

Turing menulis pertanyaan “Dapatkah mesin berpikir?” tetapi ia menyatakan bahwa kita belum punya definisi yang disepakati, baik untuk “mesin” maupun “berpikir”. Alih-alih, ia mengajukan Imitation Game: perubahan dari pertanyaan ontologis menjadi operasional. Jadi bukan apakah mesin berpikir, tetapi dapatkah mesin menghasilkan hal yang sama dengan yang dilakukan dengan berpikir. Hahh, cerdas tapi menyebalkan. Cerdas karena membuat kemajuan tanpa harus sibuk urusan filsafat selesai. Menyebalkan, karena ia menggeser makna AI, bukan lagi pada kecerdasan, melainkan pada koleksi kemampuan yang berhasil ditiru.

Hingga kini, setiap kali sebuah kemampuan berhasil dikomputerisasi, kemampuan ini tak lagi dianggap kecerdasan, melainkan hasil komputasi. Misalnya: catur, penerjemahan, dan lama-lama makin banyak aktivitas manusia masuk perangkap ini. Tahukah: saat ini kecerdasan didefinisikan sebagai hal yang belum berhasil kita tiru melalui komputasi.

Kembali ke ML, DL, ANN, dst itu. Pedro Domingos dalam The Master Algorithm (2015) menyusun anatomi untuk semua macam teknologi ini. Setiap algoritma pembelajaran, katanya, tersusun atas tiga lapis:

  • Representation: dalam bentuk apa pengetahuan disimpan. Aturan logis, jaringan probabilistik, bobot antar neuron, program, atau sekumpulan contoh.
  • Evaluation: bagaimana menilai satu hipotesis lebih baik dari yang lain. Caranya: akurasi, probabilitas posterior, kuadrat kesalahan, fitness, atau lebar margin.
  • Optimisation: bagaimana mencari hipotesis terbaik di ruang yang biasanya jauh terlalu besar untuk disisir satu per satu.

Dari tiga lapis ini, ia menurukan lima mazhab teknologi AI:

MazhabRepresentasiEvaluasiOptimasiContoh algoritma
SymbolistLogika dan aturanAccuracyInverse deductionDecision tree, rule-based system, ILP
BayesianGraphical modelPosterior probabilityProbabilistic inferenceNaive Bayes, Hidden Markov Model, Bayesian network
ConnectionistNeural networkSquared error, cross-entropyGradient descentPerceptron, JST/MLP, CNN, RNN, Transformer
EvolutionaryGenetic programFitnessGenetic searchGenetic algorithm, genetic programming
AnalogiserSupport vector, instanceMarginConstrained optimisationkNN, SVM, kernel method

Akar filosofisnya berbeda-beda. Symbolist berasal dari logika dan linguistik: pengetahuan dianggap dapat direduksi menjadi manipulasi simbol. Bayesian dari statistik: semua pengetahuan tidak pasti sehingga harus dihitung secara probabilistik. Connectionist berasal dari neurosains: kecerdasan dianggap muncul dari kekuatan sambungan antar unit sederhana. Evolutionary berasal dari biologi: kalau seleksi alam sanggup menghasilkan otak, mekanisme yang sama sanggup menghasilkan program. Analogiser berasal dari psikologi penalaran: kunci belajar adalah mengenali kemiripan.

LLM? Rangkanya Connectionist, karena masih dilatih dengan gradient descent. Mekanisme attention di dalamnya adalah operasi Analogizer yang dibuat dapat diturunkan: setiap token menghitung skor kemiripan terhadap token lain, lalu mengagregasi berdasarkan skor itu. Logikanya persis kNN, hanya saja dilatih lewat backpropagation. RLHF membawa cita rasa Bayesian. Chain-of-thought adalah usaha menempelkan Symbolist di atasnya. Ini tempelan rekayasa yang oportunistik.

Tetaplah, si aku ini merasa kelima mazhab itu hanya pendekatan pragmatis atas model berpikir empiris: amati dari luar bagaimana pikiran tampak mengenali pola dan mengambil keputusan, lalu bangun fungsi yang menghasilkan keluaran serupa, dengan cara apa pun yang terbukti bekerja. Itu memang strategi mereka. Mereka tidak perlu tahu seperti apa sih proses berpikir itu.

Ini sebabnya eksplorasi masa laluku tidak masuk hitungan. Ketiganya tidak punya gradien. Misalnya kita punya cellular automaton dengan aturan acak. Bagaimana kita memperbaikinya sedikit demi sedikit? Tidak ada arah “sedikit lebih baik” yang bisa dihitung, karena ruang aturannya diskret dan perubahan kecil menghasilkan perilaku yang sama sekali lain. Idem dengan strange loop. Tidak ada permukaan kesalahan yang bisa dituruni dari sistem tanpa model diri menuju sistem yang punya. Karena itu, komputasi AI jadi sangat sulit untuk pendekatan semacam ini.

Otak kita dikembangkan via evolusi biologis yang bisa memecahkan masalah ini, tapi dengan waktu evolusi miliaran tahun dan paralelisme seukuran planet. Richard Sutton merangkumnya sebagai bitter lesson, bahwa yang menang dalam jangka panjang selalu metode yang paling banyak menyerap komputasi, bukan yang paling banyak menyerap wawasan manusia tentang cara kerja pikiran.

Yang menarik (buat aku), gagasan-gagasan sains ini sebenarnya belum mati. Mereka sebenarna masih menggali jalan kembali, wkwk.

Contohnya, konsep jaringan Hopfield, yang merupakan pemikiran sistem dinamis murni. Dalam konsep ini, ingatan disimpan dalam bentuk energi minimum. Proses mengingat adakan proses membiarkan sistem meluncur ke attractor terdekat. Pada 2020, Ramsauer dan rekan-rekannya menerbitkan makalah berjudul Hopfield Networks is All You Need, yang menunjukkan bahwa aturan pembaruan jaringan Hopfield modern dengan sifat kontinu ternyata setara dengan dengan mekanisme attention di algoritma transformer. Jadi transformer yang terkenal saat ini, dilihat dari sisi lain, ternyata adalah jaringan attractor dinamis!

Tahun 2020 itu juga, Mordvintsev dan Levin menerbitkan Growing Neural Cellular Automata, dengan mengganti aturan lokal CA yang ditulis tangan dengan jaringan saraf kecil yang dilatih backpropagation. Hasilnya CA yang dapat diturunkan, yang tumbuh dari satu sel, dan yang meregenerasi dirinya sendiri ketika dirusak. Jadi, persoalan “CA tidak punya gradien” ternyata dapat mulai diatasi. Jadi, polanya: jalur engineering sebenarya menemukan kembali objek jalur sains, tetapi tentu hanya dalam bentuk yang dapat diturunkan saat itu, incl melalui gradien sebagai gerbang tol.

Tapi ternyata tetap ada yang menggangguku. Sejak awal aku menganggap pikiran itu proses alami, yang harus dikenali via sains, atau diimitasi via engineering. Tapi, yang menggangguku: sebenarnya apa sih beda antara pikiran dan mesin? Pikiran, apakah dalam bentuk emergence atau strange loop dll, toh harus tersusun dari materi. Kan? Kan? Kan? Pikiran juga material, mekanistis. Dan kita belum yakin kita tahu apa itu pikiran. Dan sialnya, di level materinya pun, kita juga tidak tahu materi itu emergent dari apa. Masa complexity berakhir di satu titik kuantum?

Bayangkan dulu. Gravitasi saja konon bukan gaya fundamental, melainkan emergent dari konstruksi ruang/waktu. Ruang/waktu/materi sendiri belum tentu merupakan dasar dari semua ini. Jadi kekeuh di sains, kita tetap belum menemukan dasar juga. Barangkali pendekatan yang tersisa memang tetap pendekatan engineering.

Wait, ini bukan cuma lamunan. Daftar diskusinya panjang.

  • Anderson (1972) lewat paper More Is Different, yang mendasari soalan complexity dan emergence. Argumennya bertahan sampai sekarang: reduksionisme itu benar tetapi tidak berguna, karena pada setiap tingkat kompleksitas muncul keteraturan baru dengan hukumnya sendiri yang secara praktis tidak dapat diturunkan dari tingkat di bawahnya. (Yang rajin lihat presentasiku di IEEE, pasti bosan kucekoki contoh-contoh dari argumen ini).
  • Jacobson (1995) dalam paper Thermodynamics of Spacetime, memulai dari relasi Clausius yang biasa, yaitu panas sama dengan suhu dikali perubahan entropi, lalu menerapkannya pada horizon Rindler lokal, yakni cakrawala kausal yang dilihat pengamat berakselerasi di setiap titik ruang-waktu. Hasilnya adalah persamaan medan Einstein. Jadi persamaan medan Einstein itu emergent dari termodinamika saja, bukan fundamental.
  • Verlinde (2011) melanjutkannya dengan entropic gravity, yang mengusulkan gravitasi sebagai gaya entropik yang muncul dari perubahan informasi.
  • ‘t Hooft (1993) dan Susskind (1995) merumuskan holographic principle: segala yang terjadi di dalam suatu volume dapat direpresentasikan oleh derajat kebebasan di permukaan yang membatasinya. Maldacena (1997) memberinya realisasi konkret lewat korespondensi AdS/CFT. Ruang tiga dimensi, termasuk gravitasi di dalamnya, ternyata adalah emergent dari kondisi dua dimensi.
  • Van Raamsdonk (2010) dalam paper Building up spacetime with quantum entanglement, menunjukkan bahwa geometri ruang-waktu muncul dari korelasi informasional. Jika keterjeratan berkurang, maka jarak merentang. Ryu dan Takayanagi (2006) memberi rumus yang menghubungkan entropi keterjeratan dengan luas permukaan geometris.
  • Wheeler (1990) merangkumnya dalam slogan it from bit. Setiap “it”, setiap partikel dan medan dan ruang-waktu itu sendiri, pada akhirnya berasal dari jawaban “ya atau tidak” terhadap pertanyaan yang diajukan lewat pengukuran.
  • Zurek melengkapinya dengan quantum Darwinism. Dunia yang stabil dan objektif dianggap bukan realitas, melainkan hasil seleksi: hanya keadaan yang tahan terhadap interaksi dengan lingkungan yang bertahan, dan yang bertahan itu menyebarkan salinan informasi tentang dirinya secara berlebihan sehingga banyak pengamat bisa mengaksesnya secara terpisah. Itulah yang kita sebut objektivitas. Wkwk.
  • Landauer (1961) menulis dari dari sisi sebaliknya: menghapus satu bit informasi akan melepaskan panas minimal sebesar kT ln 2. Information is physical.

Landauer bilang informasi itu fisik. Jacobson, Wheeler, Van Raamsdonk, dan Zurek bilang fisika itu informasional. Itu bukan kontradiksi, tetapi juga bukan garis lurus. Itu lingkaran, dan lingkaran itu muncul di lapisan ontologi. Jadi, apa itu materi? Ladyman dan French menyebutnya ontic structural realism: yang fundamental bukanlah benda, melainkan struktur dan relasi. Ini tetap fisikalisme sepenuhnya, hanya saja fisikalisme yang lebih dalam dan lebih aneh daripada versi abad kesembilan belas yang diajarkan di sekolah.

Kayaknya mulai kacau nih, mendalami materi dan bukannya informasi, walaupun ternyata materi itu juga informasi. Hahhh. Yuk kita berpikir lagi. Berpikir tentang berpikir.

Berpikir. Rumusan yang kuat datang dari teori informasi algoritmik Solomonoff dan Kolmogorov. Kompleksitas Kolmogorov sebuah objek adalah panjang program terpendek yang bisa menghasilkannya. Jadi berpikir adalah proses mencari kompresi atas pengalaman. Memahami sesuatu berarti menemukan aturan yang lebih pendek daripada daftar kejadiannya. Hukum Newton lebih pendek daripada katalog semua gerak benda yang pernah diamati, kan? Ini namanya pemahaman dan bukan sekadar catatan. Dan ini berlaku sama untuk otak karbon maupun otak silikon, dan menjelaskan kenapa prediksi token berikutnya yang kelihatannya sepele ternyata menghasilkan kemampuan yang luas. Prediksi yang baik menuntut kompresi yang baik, dan kompresi yang baik memaksa penemuan struktur.

Tetapi rumusan itu langsung menabrak tiga dinding.

  • Tidak ada pemikir yang optimal. Induksi Solomonoff tidak dapat dihitung. Kita punya definisi matematis yang tepat tentang penalaran ideal, dan definisi itu memberitahu bahwa penalaran ideal tidak bisa dijalankan oleh apa pun di dunia fisik. Setiap pemikir nyata, otak maupun model, adalah aproksimasi kasar yang wajib menebak.
  • Tidak ada pemikir yang universal. Teorema No Free Lunch dari Wolpert dan Macready menyatakan bahwa dirata-ratakan atas semua masalah yang mungkin, semua algoritma pembelajaran berkinerja sama. Keunggulan sebuah learner tidak pernah datang dari dirinya sendiri, melainkan dari kecocokan antara asumsi bawaannya dengan struktur dunia tempat ia dijalankan. Artinya kecerdasan bukan properti skalar sebuah sistem, melainkan relasi antara sistem dan lingkungannya. Ashby sudah merumuskan bentuk kuantitatifnya pada 1956 lewat law of requisite variety: hanya variasi yang dapat menyerap variasi. Ini menjelaskan lima mazhab di atas. Kalau tidak ada learner yang unggul universal, maka lima mazhab itu perlu ada sebagai taruhan mengenai pandangan atas struktur dunia, bukan lima tingkat kecanggihan.
  • Berpikir memerlukan biaya. Landauer lagi. Tidak ada cara menjadi pemikir tanpa membayar ongkos termodinamika. Otak manusia membayarnya sekitar dua puluh watt. Sistem AI modern membayarnya dengan besaran beberapa orde lebih besar.

Kecerdasan. Dari sini definisi Chollet dalam On the Measure of Intelligence (2019) menjadi masuk akal. Kecerdasan bukan keterampilan yang dimiliki, melainkan efisiensi memperoleh keterampilan baru, dihitung relatif terhadap pengalaman yang dikonsumsi dan pengetahuan awal yang dibawa. Sistem yang menguasai sejuta tugas setelah menelan seluruh internet mungkin sangat terampil, tetapi menurut definisi ini justru sedang menunjukkan kecerdasan yang rendah.

AI, dengan demikian, adalah usaha merealisasikan proses itu pada substrat non-biologis.

IstilahRumusan
BerpikirProses fisik pencarian kompresi atas pengalaman, di bawah kendala energi yang nyata, yang secara prinsip tidak pernah bisa optimal
KecerdasanEfisiensi proses itu, relatif terhadap pengalaman dan pengetahuan awal, dan selalu bermakna hanya relatif terhadap lingkungan tertentu
AIUsaha merealisasikan proses itu pada substrat non-biologis

Demikianlah perjalanan panjang ini, mencari definisi AI, dan malah harus mendefinisikan pikiran dan kecerdasan. Informasi itu fisik, dan fisika itu informasional. Pikiran mengompresi dunia, dan dunia mungkin sudah berupa kompresi. Ini bukan penyelesaian. Ini lingkaran. Loop. Mengingatkan kembali ke Hofstadter. Loop ini adalah bentuk yang seharusnya muncul ketika sebuah sistem berusaha memodelkan hal yang menyusun dirinya sendiri.

Mari terus berpikir. Berpikir selalu menyenangkan. Termasuk berpikir tentang berpikir. Haha. Wkwk. Hush.

Buku Informatika SMA

Pendidikan diakui sebagai hal paling fundamental dalam penyusunan masa depan, termasuk pendidikan IT dan seluruh turunannya. Tentu pendidikan terbaik adalah lifetime learning: proses belajar sepanjang hayat yang selalu relate dengan kehidupan kemanusiaan sehari-hari, dilakukan lewat interaksi yang kaya konteks. Namun, pada titik tertentu, kita tetap harus merumuskan secara formal apa saja yang harus disampaikan untuk bidang fokus kita, lengkap dengan strategi penyampaian yang paling efektif.

Melihat aktivitasku yang gemar menulis, memberikan pelatihan, serta sharing di berbagai forum lintas level; termasuk forum IEEE, CIMA, ruang kuliah di kampus beberapa negara, interaksi dengan sekolah berbagai pulau, plus diskusi taktis di lembaga riset dan institusi pemerintahan, tempat aku sering memadukan aspek filosofis dan praktis seputar informatika dan transformasi digital; penerbit Erlangga memintaku untuk menyusun buku teks informatika yang dikhususkan untuk segmen SMA.

Dengan tawaran semacam itu, memoriku malah melayang ke Jean-Paul Sartre dan Jacques Derrida, para filsuf pujaan Gen-X yang mengawali karier akademis dan filsafat mereka bukan di kampus tetapi justru sebagai guru di lycée (SMA). Justru di sana mereka bisa menyusun pola komunikasi yang paling efektif langsung ke jiwa-jiwa yang sedang berada di fase paling terbuka, paling filosofis, sekaligus paling dinamis. Dengan pikiran lucu semacam itu, aku menerima privilege ini dengan antusias. Etapi kapan sih aku pernah gak antusias?

Yang dibuat ini adalah serial buku informatika, dirancang exactly untuk usia remaja yang sedang haus-hausnya akan bacaan yang bersifat filosofis, strategis, sekaligus teknis. Buku ini bukan untuk mahasiswa yang sudah harus sangat serius mendalami satu bidang pilihan spesifik, bukan untuk profesional yang dituntut bergerak cepat di tataran taktis industri, dan bukan untuk orang awam yang sekadar mengisi waktu luang demi menambah kemahiran tanpa target waktu. Buku ini berada di ruang transisi yang sangat krusial. Penulisannya memanfaatkan waktu libur yang tahun-tahun ini rasanya banyak sekali, memanfaatkan tumpukan bahan yang sudah cukup lama aku dalami di bidang ini, plus diperkaya dengan berbagai diskusi. Prosesnya ternyata lama :). Namun akhirnya, rangkaian buku Informatika untuk Kelas X, XI, dan XII ini resmi terbit bulan ini.

Isinya? Ya, bisa ditebak, khas gaya aku. Pembahasan dimulai dari akar sejarah dan filosofi informatika, lalu masuk ke pemahaman tentang komputer beserta cara kerjanya. Dari sana, kita belajar berbincang dengan komputer melalui bahasa pemrograman, serta memahami bagaimana memecahkan masalah besar lewat sistematika berpikir (computational thinking) demi meningkatkan efektivitas solusi.

Kita juga membedah cara pengolahan data secara substansial tanpa harus ketergantungan pada tools tertentu. Kita akan melihat bagaimana algoritma disusun oleh manusia (programming), hingga bagaimana kita bisa menyuruh komputer untuk belajar membuat algoritmanya sendiri, mulai dari yang sederhana (machine learning) sampai ke tahap yang membuat kita sendiri pusing memikirkannya (deep learning), sehingga menuntut pemanfaatan berbagai model yang dikembangkan secara kolaboratif (AI). Aspek logika, etika, cybersecurity, hingga pemahaman atas konteks dan kesisteman terus didetailkan secara bertahap dari kelas X hingga XII. Jadi, buku ini sebenarnya mirip sebuah model mentoring untuk menjadi profesional di dunia digital; sebuah karya yang disusun oleh profesional untuk membentuk generasi profesional berikutnya

Serial buku ini memiliki keunikan kontras yang sengaja aku injeksikan ke dalam materi Kelas X hingga XII, yang kemudian disempurnakan secara luar biasa oleh tim Erlangga.

Filosofi Materi

  • Informatika sebagai Struktur Berpikir (Computational Thinking): Di era saat AI bisa menulis kode dalam hitungan detik, kemampuan teknis murni yang sifatnya hafalan akan sangat cepat usang. Buku ini menekankan Computational Thinking sebagai fondasi utamanya. Siswa diajak memahami mengapa sebuah struktur data dipilih, bagaimana mendekomposisi masalah yang kompleks menjadi bagian-bagian kecil, dan bagaimana mengenali pola di tengah kekacauan informasi. Ini adalah latihan logika dan ketajaman mental.
  • Menjinakkan Kompleksitas lewat Kacamata CAS (Complex Adaptive Systems): Kita tidak bisa lagi mengajarkan IT secara linear dan kaku. Dunia digital saat ini digerakkan oleh sistem yang saling terhubung, dinamis, dan adaptif. Oleh karena itu, perspektif kesisteman dan CAS diperkenalkan secara elegan. Dari logika dasar, kita melompat ke pemahaman bagaimana data besar dikelola, hingga puncaknya di Kelas XII di mana siswa diajak memahami bagaimana machine learning dan deep learning bekerja. Kita membedah peralihan radikal dari algoritma yang dibuat manusia beralih ke bagaimana manusia “melatih” komputer agar bisa melahirkan algoritmanya sendiri secara kolaboratif.
  • Sentuhan Filosofis dan Etis: Teknologi tanpa arah filosofis dan etika adalah hal yang berbahaya. Di setiap akhir pembahasan besar, siswa selalu diajak merefleksikan aspek sosial, hukum, dan etika dari teknologi yang mereka pelajari. Bagaimana dampak privasi di era Big Data? Apa tanggung jawab moral seorang programmer saat merancang algoritma AI? Buku ini menantang kedewasaan berpikir kita untuk melihat teknologi dari kacamata kemanusiaan.

Sentuhan Edisi Spesial Erlangga

  • Tata Letak Kaya Warna & Ilustrasi Estetis: Kita tidak akan menemukan halaman penuh teks monokrom yang membosankan. Buku ini didesain penuh warna (full color) dengan infografis modern dan ilustrasi fungsional. Setiap visual dirancang untuk menjelaskan konsep abstrak, seperti aliran data jaringan, arsitektur komputer, atau cara kerja model pembelajaran mesin, dengan cafa yang intuitif dan hidup.
  • Model Evaluasi dan Pengembangan Komprehensif: Tim pengembang Erlangga menyuntikkan standar evaluasi kurikulum terbaru yang sangat matang. Model asesmen di dalam buku ini tidak sekadar menguji hafalan, melainkan menantang kemampuan analisis tingkat tinggi siswa melalui studi kasus nyata, proyek kolaboratif, dan pemecahan masalah sistemik untuk melatih mereka berpikir sebagai praktisi sejak dini.

Siapa Yang Bisa Baca

Walau sasaran utamanya adalah siswa SMA/MA, buku ini dirancang dengan fleksibilitas narasi yang membuatnya sangat layak dinikmati oleh segmen yang lebih luas, termasuk:

  • Para Pengajar, Guru, dan Dosen Muda: Bagi kita yang mencari perspektif baru tentang bagaimana cara menyampaikan materi informatika yang tidak membosankan, kaya konteks, dan mampu memantik diskusi kritis di kelas.
  • Mahasiswa Tingkat Awal (IT maupun Non-IT): Mahasiswa non-IT yang ingin mendapatkan pemahaman komprehensif tentang teknologi tanpa tersesat dalam jargon teknis yang rumit, serta mahasiswa IT tingkat awal yang membutuhkan big picture atau peta jalan filosofis sebelum mereka menyelami dunia coding yang super intens.
  • Orang Tua yang Ingin Menjadi Teman Diskusi Anaknya: Para orang tahu yang ingin memahami dunia digital tempat anak-anak kita tumbuh, sehingga mampu memberikan arahan strategis dan menjadi rekan diskusi yang sepadan di rumah mengenai masa depan teknologi.
  • Peminat Literasi Digital yang Serius tapi Santai: Siapa saja di antara kita yang memiliki rasa ingin tahu tinggi terhadap teknologi, AI, sistem kompleks, dan masa depan digital, yang menyukai bacaan berbobot namun disajikan dengan mengalir, reflektif, dan tidak intimidatif.

Tujuannya memang untuk siswa SMA. Tapi untuk kita yang suka membaca bacaan informatika secara serius tapi santai, kita sangat diundang untuk ikut membaca buku ini. Yuk kita siapkan generasi profesional berikutnya dengan fondasi yang kokoh, adaptif, dan tetap memanusia.

More info: Informatika.AI

Strategi Pengembangan Ekosistem

Pour ce qui est de l’avenir, il ne s’agit pas de le prévoir, mais de le rendre possible.

Tulisan di Complexity Center tentang Padi UMKM sebagai case sebuah strategi bisnis berbasis complexity mengundang beberapa rekan mengajukan pertanyaan menarik, khususnya dalam bridging dari perspektif tentang complexity yang dianggap sangat teoretis dan rumit ke implementasi real di dunia bisnis dan teknis. Kebetulan aku sedang tulis paper berkait hal itu, yang fokusnya bukan ke produknya, tetapi ke strategi perusahan dalam mengembangkan ekosistem: bagaimana ekosistem ini dikawal, oleh siapa, dan dengan modal apa.

Saat pengembangan awal Padi UMKM di tahun 2020 (masa awal pandemi Covid-19), pengembangan ekosistem bisnis di Telkom Group dipimpin oleh Subdit Sinergi, bagian dari Dit Strategic Portfolio (DitSP). Platform dan bisnis Padi UMKM sendiri dipegang oleh Divisi Digital Business & Technology (DBT), bagian dari Dit Digital Business (DitDB). Ini bukan redundancy atau kesalahan rencana koordinasi, melainkan desain yang dibuat saat DitDSP dipecah jadi DitSP dan DitDB. Dalam case Padi UMKM, Div DBT berfokus pada platform, produk, dan bisnis; termasuk pembangunan, pemeliharaan, pengembangan, dan ekspansi. Kualitas, kapasitas, experience, inovasi, dll dll. Subdit Sinergi bekerja di lapisan lain: membentuk dan menumbuhkan ekosistem.

Sepenting apa strategi ekosistem? Padi UMKM bukan marketplace. Telkom baru membunuh marketplace Blanja.com saat Padi UMKM dirancang. Platform baru ini dirancang sebagai arsitektur koordinasi, tempat BUMN yang memiliki operasi pengadaan, UMKM di berbagai tingkatan dan sektor, lembaga keuangan, komunitas pembina UMKM, kementerian, dan lembaga regulasi dapat berinteraksi di level policy, strategi, bisnis, dan teknis. Setiap agent yang berbeda ini tentu memiliki concern yang sangat berbeda. Perspektif Complexity Economics dari WB Arthur menunjukkan bahwa dalam sistem seperti ini para agen beroperasi dalam ketidakpastian fundamental: mereka tidak memiliki rasionalitas seperti yang dibayangkan dalam perspektif ekonomi klasik; melainkan bersifat adaptif dan tunduk pada irasionalitas kolektif, volatilitas, dan disrupsi yang tidak dapat diprediksi dari perilaku setiap agent. Nilai keseluruhan sistem (synergy value) merupakan emergence yang muncul dari interaksi dinamis antar agent, bukan dari value setiap agent, termasuk agent kunci seperti pemilik platform. Para BUMN yang dikoordinasikan oleh Kementerian BUMN secara kolektif diposisikan sebagai pemilik simbolik ekosistem ini. Platform dimiliki Telkom, tetapi ekosistemnya dimiliki bersama. Apa inovasi yang diciptakan dari kebersamaan ini? Saat pandemi Covid-19 baru melanda, aku baca buku Christensen tentang Prosperity Paradox: pertumbuhan bisnis yang sesungguhnya, yaitu market-creating innovation, bukanlah soal mendatangi dan mengembangkan pasar yang ada, melainkan justru dari menciptakan pasar baru dari nonconsumption, dalam hal ini dari jutaan UMKM yang sebelumnya aksesnya sangat lemah ke industri nasional termasuk BUMN. Dalam bahasa HBR: strategi follow the money itu kuno dan bodoh, dan harus digantikan oleh follow where the money goes, atau create the environment where the money will have to go. Kembali ke Christensen, ini yang disebutnya paradoks kemakmuran: keberpihakan pada ekonomi rakyat adalah strategi bisnis yang paling efektif.

Di Telkom, Subdit Sinergi menjalankan tugas ini nyaris tanpa otoritas pada unit produksi dan unit bisnis, tanpa team dan anggaran yang besar, dan tanpa kendali internal atau eksternal. Modalnya adalah tuntutan visi dan strategi perusahaan, kepemimpinan yang suportif, keterlibatan yang dalam dan detail dalam lanskap kelembagaan, dan kemampuan membangun jejaring lintas unit dan institusi, melalui pengembangan konteks, komunikasi dan negosiasi, hingga approach pada regulasi. Dalam praktiknya, kami mengkoordinasikan para BUMN, termasuk via PMO Padi dan via kepemimpinan KBUMN, untuk mengkonversi operasi procurement menjadi demand engine; bernegosiasi dan berkolaborasi di level policy, strategy, hingga event dalam kerangka BBI (Bangga Buatan Indonesia), PBJP (Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah), dan P3DN (Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri) yang saat itu dipimpin Kemkomarves bersama K/L/PD terkait; mengawal koordinasi program ekspor bersama berbagai kementerian untuk mendorong UMKM menembus pasar internasional; membangun dan merawat hubungan dengan komunitas pengembang UMKM, termasuk Pemprov, Pemkab, ormas, dan marketplace, agar suplai UMKM berkualitas terus mengalir; serta menstrukturkan kesepakatan dengan bank dan lembaga keuangan seperti BRI Group (termasuk Pegadaian, PNM, Bank Raya) untuk memastikan UMKM punya akses pembiayaan yang akan memperbesar volume pasar. Ini tidak bisa menggunakan akses komando, melainkan melalui yang dalam istilah CAS disebut interaction architecture: membangun konteks di mana para agent terdorong untuk berkoordinasi secara sukarela demi kepentingan masing-masing.

Karena hal-hal ini merupakan implementasi dari complexity, banyak hal yang tampak kontraintuitif saat dilihat dari perspektif manajemen konvensional. Walau memiliki produk, platform, dan brand Padi UMKM, Telkom tidak mengklaim kepemilikan ekosistem. Padi UMKM diposisikan dalam narasi kepentingan nasional, bukan narasi korporat. Saat pemerintah pusat, dalam forum BBI/P3DN/PBJP meminta Padi UMKM diekspansi ke seluruh K/L/PD, Telkom mengusulkan agar pengadaan K/L/PD tetap dipegang entitas pemerintah, yaitu LKPP, dengan Telkom berlaku sebagai pengembang platform yang merupakan ekspansi dari Padi UMKM. Ini adalah ecological thinking: menjaga keberagaman dan modularitas agar sistem tetap adaptif, tidak terjebak dalam rigidity trap, di mana konektivitas yang terlalu tinggi tanpa keberagaman yang cukup membuat sistem justru menjadi rapuh. Telkom juga membangun path dependence: titik di mana ekosistem dapat tertanam dalam di berbagai lapisan institusional sehingga tak mudah dihentikan, kecuali oleh perubahan struktur yang massive oleh seluruh stakeholder. Ini adalah desain yang matang untuk keberlanjutan sistemik: memanfaatkan mekanisme increasing returns yang Arthur gambarkan, di mana setiap BUMN baru yang bergabung meningkatkan nilai platform bagi UMKM, dan setiap UMKM yang sukses bertransaksi memperkuat legitimasi politik ekosistem secara keseluruhan. Hasilnya terlihat nyata: per akhir 2024, ratusan ribu UMKM B2B terdaftar, 74.000 pembeli B2B, hampir 300.000 transaksi dalam setahun, dan GMV kumulatif melampaui IDR 28 triliun sejak peluncuran.

Dari sisi manajemen strategis, aku coba formulasikan narasi ini dalam paper Ecosystem Stewardship as Organisational Capability (masih ditulis). Hal yang dilaksanakan oleh Subdit Sinergi dalam kerangka Padi UMKM adalah sebuah kapabilitas organisasional yang nyata dan unik. Strategi di level ekosistem belum secara serius masuk ke dokumen strategi para BUMN. Ecosystem stewardship ini bukan platform management, bukan stakeholder management, dan bukan sekedar synergy program; melainkan sebuah kapabilitas untuk mengkatalisasi, mendukung, dan mengadaptasi sistem multi-aktor lintas batas kelembagaan, dimana para agent memiliki interdependensi dalam bentuk otoritas penuh untuk mengarahkan sistem secara sepihak. Tentunya cukup banyak narasi akademis yang mengimplementasikan CAS pada transformasi organisasi, supply chain, kesehatan, dan lain-lain. Namun bahkan belum banyak ditemukan narasi berisi formulasi eksplisit dan kohesif yang menyatukan complexity economics (Arthur), teori CAS (Holland), market ecology, dan kerangka ekosistem digital, lalu menerjemahkannya ke dalam desain dan implementasi kapabilitas organisasional lintas-institusi dalam skala nasional; dan kemudian bukan saja dijadikan kerangka teoretis, melainkan benar diimplementasikan dan menghasilkan dampak ekonomi yang terukur. Dalam pengertian itulah Padi UMKM, dan ecosystem stewardship sebagai kapabilitas yang menopangnya, menjadi inovasi yang layak mendapat perhatian lebih dari sekadar kisah sukses digital.

Ekosistem dalam konteks ini juga tidak selalu merujuk pada hubungan dengan pihak eksternal. Untuk perusahaan dengan grup yang besar, seperti holding, afiliasi, dan anak perusahaan, termasuk seperti Telkom Group, kita meyakini bahwa koordinasi dan kolaborasi yang paling efektif justru lahir ketika kita mengadopsi perspektif kompleksitas dan memperlakukan hubungan dalam grup sebagai ekosistem itu sendiri. Entitas-entitas dalam grup yang berbeda bukan sekadar unit yang perlu disinergikan secara administratif, tetapi dipandang sebagai agen-agen heterogen dengan visi misi, kapabilitas, dan dinamika adaptasi yang beragam. Mengelola mereka dengan prinsip ecosystem stewardship, bukan dengan pendekatan top-down yang mekanistik, adalah cara yang jauh lebih tepat untuk menciptakan nilai bersama. Dalam dunia yang semakin kompleks dan volatile, kemampuan semacam ini bukan kekenesan intelektual, melainkan telah menjadi prasyarat untuk bertahan dan tumbuh.

Navigasi di Edge of Chaos

Dalam profesi keuangan global, CIMA (Chartered Institute of Management Accountants) berperan sebagai penyusun standar kompetensi akuntansi manajemen yang berorientasi pada strategi bisnis. Beraliansi dengan AICPA, CIMA memfasilitasi gelar profesional CGMA (Chartered Global Management Accountant) yang memastikan para praktisi memiliki bahasa bisnis universal dalam mengelola kinerja organisasi. Country manager CIMA di Indonesia adalah Mas Dwi Putra, alumnus Coventry University yang pertama kali mengenaliku sebagai anggota Order of the Phoenix gegara layar Aifon-ku menampilkan logo klasik Coventry University.

Atas undangan CIMA, tanggal 12 Februari 2026 ini di Gedung Cyber 2 aku mengisi sesi CIMA Strategic Leaders Breakfast Talk dengan judul “Leadership in the Age of Disruption — Strategic Leadership for Modern Finance Professionals”. Plan awal, aku jadi pembicara tunggal. Namun kemudian ditambahkan Bapak M Fahmi El Mubarak, CEO BUMN School of Excellent. Wow, a real honour for me untuk sepanggung beliau.

Sesuai briefing dengan CIMA, aku mendetailkan disrupsi dari perspektif kompleksitas. Bahasan diawali dengan dekonstruksi terhadap model ekonomi neoklasik, dan membuka wawasan atas ekonomi kompleksitas. Keseluruhan bisnis ditinjau sebagai Complex Adaptive System (CAS), yaitu sistem yang terdiri atas agen otonom yang saling berinteraksi dan beradaptasi tanpa kontrol terpusat yang kaku. Ekosistem dipandang sebagai interaksi dinamis yang menghasilkan nilai-nilai baru secara non-linier melalui proses emergence.

Dari perspektif ekonomi kompleksitas, disrupsi bukanlah gangguan, melainkan mesin evolusi yang menandai pergeseran rezim ekonomi secara kualitatif. Strategi kini berpindah dari sekadar optimisasi model lama menuju desain ulang arsitektur bisnis yang mengutamakan kecepatan belajar dan co-evolution dengan ekosistem. Keunggulan kompetitif tidak lagi ditentukan oleh skala atau efisiensi statis, melainkan oleh fleksibilitas arsitektural dalam merespons umpan balik internal dan eksternal secara konstan.

Disrupsi juga merupakan titik optimal terjadinya inovasi. Kita menyebutnya the Edge of Chaos, yaitu zona transisi antara keteraturan (order) dan ketidakteraturan (chaos). Pada zona ini, sistem memiliki keseimbangan yang tepat untuk memicu inovasi tanpa terjatuh ke dalam anarki. Keteraturan yang terlalu kaku hanya akan membawa organisasi pada stagnasi, sementara kekacauan total akan berujung pada kegagalan sistemik. Tugas leadership adalah menjaga organisasi tetap berada di ambang ini untuk memastikan keberlanjutan melalui eksperimentasi yang adaptif.

Dalam model ekosistem, peran leadership adalah sebagai ecologist. Pemimpin tidak lagi mendikte output secara mikro, melainkan bertugas memfasilitasi budaya dan ekosistem agar tim bisa mengorganisir diri secara mandiri. Pendekatan ini menggunakan aturan-aturan sederhana (simple rules) untuk memandu pengambilan keputusan otonom, menggantikan SOP yang seringkali terlalu rapuh menghadapi ambiguitas. Pemimpin harus berani melakukan safe-to-fail probing: meluncurkan berbagai eksperimen kecil secara simultan untuk mendeteksi peluang strategis yang mungkin terlewatkan oleh model analisis tradisional.

Kembali ke CIMA yang berfokus ke management accounting (MA). MA memiliki peran krusial dalam mengendalikan perencanaan strategis di era eksponensial ini melalui kerangka SPX dari IEEE. MA harus mampu melakukan Strategic Cost Management untuk memantau horizon masa depan, menggunakan Real Options Analysis untuk menilai investasi sebagai opsi strategis, serta menerapkan Agile Capital Budgeting. Dengan meninggalkan anggaran tahunan yang kaku dan beralih ke Rolling Forecasts serta Throughput Accounting, MA memastikan bahwa alokasi sumber daya didasarkan pada umpan balik real-time dan kecepatan konversi nilai.

Sebagai penutup, disampaikan bahwa disrupsi harus dikelola sebagai katalis untuk mencapai keberlanjutan dan kualitas hidup yang lebih baik. Kita harus berhenti memandang bisnis sebagai mesin yang harus dikontrol secara mekanistis, dan mulai mengelolanya sebagai ekosistem hidup yang memiliki kapasitas untuk terus memperbarui dirinya sendiri. Juga, inovasi terbaik adalah inovasi yang mampu menciptakan pasar baru dan memberikan dampak nyata bagi penguatan ekonomi masyarakat.

Aku dan AI

Dalam buku I Am a Strange Loop, Douglas Hofstadter membangun postulat filosofis bahwa kesadaran bukanlah sesuatu yang bersifat spiritual. Tapi andai kesadaran lahir dari struktur material, seperti apa sih terbentuknya? Hofstadter menggambarkan struktur rekursif yang dinamainya strange loop, yaitu jejaring pengolahan informasi abstraksi yang memiliki lapisan-lapisan dalam bentuk hierarki, dan alur pengolahan abstraksi itu bukan cuma mengarah ke atas dan ke bawah, tetapi secara paradoksal bisa kembali ke lapis awalnya. Pada titik ini, sistem jadi mengamati dirinya sendiri, saling bercermin, dan menghasilkan kesadaran. Seperti saat kita mengkaji topologi jejaring berlapis, atau saat kita mengkaji kompleksitas berlapis, kita akan melihat bentuk pengolahan yang berbeda di setiap lapisan: dari sinyal neurobiologis mentah, naik ke simbol konsep melalui mekanisme chunking (kompresi jutaan detail mikro menjadi unit makna makro), hingga mencapai metakognisi. Di puncak kompleksitas inilah muncul kesadaran identitas, atau si aku, bukan sebagai pilot fisik, melainkan sebagai halusinasi stabil atau pola abstrak yang lahir dari interaksi simbol-simbol tersebut. Lebih jauh lagi, Hofstadter menekankan kekuatan downward causality, di mana pola pikir abstrak ini memiliki otoritas kausal untuk mengendalikan materi fisik otak. Artinya, kesadaran ini dapat menggerakkan materi fisik. Hal ini berbeda dengan banyak pandangan sebelumnya, yang menganggap bahwa hanya materi yang bisa menggerakkan materi lain.

Pola pikir yang diterbitkan pada awal abad ke-21 ini tentunya mendapatkan tanggapan tajam. Di satu sisi, visi Hofstadter tentang diri sebagai konstruksi virtual mendapatkan validasi kuat dari neurosains modern, sejalan dengan teori The Ego Tunnel (Thomas Metzinger) dan Predictive Processing (Karl Friston) yang memandang otak sebagai mesin prediksi bayesian. Namun, di ranah AI, model kerja Symbolic AI yang dipaparkan Hofstadter, yang beroperasi dengan logika transparan, dianggap tidak valid, tergantikan oleh dominasi model machine learning dan deep learning. AI modern seperti LLM tidak bekerja dengan memahami proses fundamental atau memiliki strange loop pada tataran filosofis. AI terkini adalah mesin kalkulasi statistik yang menghasilkan result akurat melalui serangkaian revisi berbasis umpan balik (feedback) masif. Mesin ini tidak merepresentasikan proses berpikir layaknya manusia, melainkan mensimulasikan hasil pemikiran tersebut untuk mencapai ketepatan pragmatis.

Aku sendiri melihat perbedaan arsitektur ini menarik. Ini bisa jadi simbiosis kognitif yang menarik. Proses berpikir manusia, terutama para expert seperti kita, seringkali bersifat non-linear, chaotic, dan melompat-lompat melalui pengenalan pola yang kompleks, seolah seperti pikiran intuitif. Seringkali, manusia mampu mengambil keputusan yang sangat optimal dalam waktu singkat, bahkan ketika data yang tersedia tidak optimal atau bahkan berantakan. Tentu ini merupakan kemampuan inference tingkat tinggi yang sulit dijelaskan secara verbal karena sifatnya yang tacit (tersembunyi). Nah, di sini kita justru dapat memanfaatkan kembali peran AI (LLM), bukan sebagai pengambil keputusan, melainkan sebagai perangkat yang dapat menjelaskan kembali keputusan kita.

Kita memanfaatkan kemampuan kalkulasi AI untuk merasionalisasi dan menarasikan mengapa sebuah keputusan kita ambil dengan pola pikir yang cerdas namun chaotic dan non-linear itu. Wkwk. Ini tentunya kebalikan dari konsep explainable AI (XAI). Mesin justru membantu menjelaskan pikiran manusia, memungkinkan validitas narasi yang terstruktur untuk mengejar kecepatan intuisi yang abstrak. Ini juga dapat dimanfaatkan pada knowledge management untuk konversi dari pengetahuan tacit menjadi pengetahuan eksplisit.

Kita hidup di era saat sirkuit chaos manusia, yang penuh intuisi serta lompatan logika dan arah, membutuhkan sirkuit order dari mesin yang formal, terstruktur, dan rapi untuk validasi dalam komunikasi, negosiasi, bahkan administrasi. Kita, para penyisir gelombang kompleksitas, dapat menganggap simbiosis ini sebagai perangkat evolusi yang menarik. Kekuatan simbolik kita tetap menjadi inti dalam mengarahkan tujuan kepemimpinan kita, dan AI memastikan narasi, komunikasi, detail langkah. Kolaborasi lintas spesies yang aneh, tapi mungkin bisa efektif.

Београд

Hari pertama tahun 2026 ini aku buka di Beograd.

Di bandara Nikola Tesla, baru berapa puluh langkah keluar dari Air Serbia, tiga orang berseragam gelap dengan identitas kepolisian sangat tegap menghalangi jalan. Petugas di tengah meminta passport, lalu bertanya «Why coming to Serbia?» sambil membalik setiap halaman di password dan memeriksanya menerawang cahaya untuk memastikan keaslian setiap halaman. Ini sebelum masuk ke antrian imigrasi. Di loket imigrasi, petugas dengan seragam biru muda dengan identitas kepolisian dan muka kaku yang sama menanyakan hal yang sama «Why visiting Serbia?» sambil menatap tajam. Kutatap tajam balik seperti warga dari dua negara bersahabat yang saling teliti. Setelah membolak balik setiap halaman passport (tanpa diterawang ke cahaya), petugas ini menanyakan satu hal lagi, «Visa?» dan aku jawab tegas «Visa is not required» Ia mengangguk dan memberi cap «Сурчин Београд» dan mempersilakan keluar.

Di luar bandara, suhu serendah -1ºC. Bis merah A1 sudah menunggu. Driver berteriak menyuruh penumpang menaruh sendiri koper di bagasi belakang, baru membayar cash 400 dinar per penumpang. Pintu dibanting, dan minibus yang padat sesak mengantar ke pusat kota Beograd. Aku turun di Stasiun Novi Beograd, dan melanjutkan ke hotelku di kawasan pedestrian Knez Mihailova. Di hotel ini, resepsionis bernama Marija menyambut sangat ramah, hangat, dan memberikan tips bagaimana bertransportasi di Beograd dan Serbia pada umumnya. Ruangannya juga hangat nyaman (tidak panas). Perfect. Kontras sekali keramahan di tengah kota Beograd ini dengan imigrasi dan transportasinya.

Serbia lahir dari sejarah yang tidak pernah linear. Bukan bangsa yang tumbuh dalam satu arah peradaban, melainkan dibentuk di persimpangan Bizantium, Utsmani, dan Eropa Tengah. Prakarsanya dalam membentuk Yugoslavia sebagai upaya penyatuan bangsa-bangsa Slav selatan di abad lalu telah memperbesar paradoks itu. Penyatuan bangsa serumpun yang berbeda agama (di Eropa masa lalu, agama adalah identitas politik), aksara (=komunikasi dan budaya), dan sejarah (=budaya) itu terbukti gagal, memecah Yugoslavia, namun tidak meruntuhkan Serbia. Serbia kembali pada komitmennya menjadi pusat budaya yang mandiri di Eropa Tenggara, tanpa terobsesi menjadi bagian dari Eropa yang sangat berorientasi Barat. Integrasi Eropa diupayakan, namun bersifat pragmatis, tanpa menggantungkan harga diri pada validasi Eropa. Sikap ini lahir dari panjangnya pengalaman hidup di bawah pendudukan Utsmany, pendudukan Axis pada PD I & II, komunisme nasional dan penyatuan Yugoslavia, sanksi internasional akibat kekejaman di Bosnia, dan keterasingan ekonomi.

Kepribadian itu jelas terbaca di Beograd. Kota ini mungkin tidak secantik Praha, Bratislava, Budapest, atau berbagai kota di Eropa Tengah. Kota ini brutal dan kontras. Benteng Romawi berdampingan dengan jejak Utsmany, bangunan Habsburg, blok-blok sosialis beton, dan improvisasi urban pasca-Yugoslavia yang semuanya disusun bertumpuk tanpa disembunyikan. Huruf-huruf sirilik berdampingan dengan huruf-huruf latin dalam bahasa Slav selatan, dan keduanya memiliki keunikan: huruf sirilik yang berbeda dengan Russia, dan huruf latin dengan tambahan diakritik yang unik. Luka sejarah tidak dihapus di sini. Brutalisme bukan menjadi kegagalan estetika, tapi justru menunjukkan kejujuran fungsi dan kekuasaan, dilengkapi dengan vitalitas sosial yang tidak pretensius.

Baik di Beograd dan Novi Sad (kota budaya yang aku kunjungi berikutnya), kita menemui paduan manusia yang sangat ramah dan sangat kaku. Brutal membanting pintu mobil, tapi ramah memberikan informasi apa pun. Sopir taxi di Petrovaradin tanpa ditanya memberi tahu alur kembali dari Novi Sad ke Petrovaradin dengan bis agar lebih murah. Toko buku sangat banyak di pusat kota Beograd dan Novi Sad. Ciri-ciri negeri dengan banyak orang cerdas. Tentu sebagian besar buku dalam bahasa Serbia, bagian Shtokavia dari bahasa Slav Selatan, dan banyak dijual dalam edisi sirilik maupun latin. Uniknya, toko buku pertama yang aku masuki memiliki kasir yang berasal dari Banjaluka, Bosnia.

Selain museum, perpustakaan, taman, dan benteng, pusat-pusat kota juga merupakan pusat kunjungan yang menunjukkan budaya unik Serbia. Negeri ini tetap penting di Eropa Tenggara. Ia memilih menjadi simpul, dan bukan panggung. Keunikan Serbia terletak pada kemampuan hidup dengan kontradiksi: ortodoks tetapi sosial, nasional tetapi tidak romantik, persimpangan timur dan barat tanpa inferioritas, serta dua aksara yang hadir setara tanpa krisis identitas. Warisan Utsmany membentuk ritme sosial dan kecerdikan bertahan, warisan Eropa memberi nilai rasionalitas, dan pengalaman Yugoslavia mengajarkan skeptisisme terhadap proyek besar. Hasilnya adalah negara dan kota yang mungkin tidak akan masuk rank dalam keindahan, tetapi tetap menunjukkan energi yang nyata, kekuatan inspirasi, dan kepribadiannya utuh. Serbia hanya mencoba berpoles sendikit, sambil memilih hadir apa adanya.

Hari terakhir di Beograd, aku kembali ke bandara Nikola Tesla. Tanda penunjuk membawaku langsung ke gerbang imigrasi (sebelum sempat checkin dan baggage drop-in). Kali ini petugasnya seorang perempuan muda dengan wajah agak melankolis. Ia menyambut dengan senyum lucu dan sangat bersahabat. «I am tired,» katanya. «Because of the New Year’s party?» «No, I was working during New Year’s eve,» katanya sambil melihat isi passportku, lalu memberikan cap. «Well, happy New Year and more success for you!» kataku. Ia membalas, «You too.» Bahkan imigrasipun kontras antara pintu masuk dan pintu keluar. Sukses selalu untuk negeri Serbia yang selalu kontroversial.

IEEE Fest & Workshop TEUB

Aku diundang sebagai representatif IEEE Indonesia Section Advisory Board pada IEEE Fest 2025 yang digelar IEEE Brawijaya University Student Branch di Malang, 18 Oktober 2025. Ketuanya Muhammad Asyir Zarkasih, sebagai Chair of IEEE SBUB. Kegiatan ini dibuka Warek UB fidang Kemahasiswaan dan Kewirausahaan, Dr Setiawan Noerdajasakti, serta para pimpinan fakultas dan jurusan. Ini menarik, karena IEEE SBUB benar-benar berekspansi dari jurusan-jurusan yang bersifat STEM, ke bidang seperti manajemen dan hukum.

Welcoming speech pendek dari aku lebih mendorong ditingkatkannya antusiasme, komitman, dan kapabilitas inovasi melalui kolaborasi dengan jalur yang sudah tersedia dan dikembangkan lebih luas lagi melalui berbagai OU dan program di IEEE. Di tengah situasi kompleks, bukan saja tantanagn lebih mungkin diselesaikan bersama; namun seringkali kita memperoleh banyak peluang baru dari sisi inovasi dan bisnis melalui kolaborasi kompleks ini.

Berbincang sebelumnya di holding room dengan Warek, kami membahas penguatan ekosistem kewirausahaan berbasis inovasi yang memanfaatkan platform digital dan konektivitas Telkom Group, serta kolaborasi inovatif yang sangat kuat dari IEEE termasuk IEEE Indonesia Section. Tindak lanjutnya kini disiapkan di tingkat universitas maupun fakultas.

Khusus tahun ini, aku minta dapat dihadirkan generasi pendiri Workshop TEUB juga, yaitu beberapa alumni E88. Workshop TEUB didirikan trio Sigit Shalako Abdurajak, Widiyanto, dan aku sendiri; serta para aktivitas angkatan awal yang aktif pada bidang inovasi dan pelatihan, termasuk yang hadir di kegiatan ini: Saiful Hidayat, Aries Boedi Setiawan, Moch Iszar, dan rekan-rekan lain yang belum bisa hadir.

Workshop ini dulu kami dirikan untuk menghadapi banyak keterbatasan konten akademis serta kapabilitas dan kapasitas almamater kami tahun awal itu; dan kami sendiri malah takjub bahwa para penerus kami terus mengembangkan Workshop ini (sekarang sebagai unit otonom bawah HME) mencapai keunggulan inovasi seperti saat ini. Kepala Workshop saat ini adalah Akmal Mulki Majid.

IEEE Fest 2025 juga menampilkan pameran inovasi mahasiswa dalam bentuk presentasi dan booth dari berbagai unit di bawah HME dan Workshop, serta unit-unit inovasi kampus lainnya. Para mahasiswa memamerkan karya unggulan, termasuk implementasi IoT, platform robotika, hingga integrasi dengan sistem cerdas. Salah satunya adalah Elektro Formula Brawijaya, yaitu inovasi EV yang menjembatani kapabilitas teknologi dan kebutuhan dunia nyata. Pameran ini memperlihatkan bagaimana mahasiswa UB tak sekadar mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga berani melintasi batasnya: merancang solusi konkret, presisi, dan siap diuji dalam konteks industri.

Paralel kegiatan pameran, kami melakukan kunjungan ke Workshop dan laboratorium di Teknik Elektro. Dikawal a.l. oleh Ketua HME, M Iqbal Maulana. Termasuk tentunya ke Lab Elektronika, tempat aku jadi lab assistant bersama Sigit Shalako. Labnya sudah pindah tempat, lebih maju, dengan modul eksperimen presisi tinggi.

Acaranya satu hari, tapi kolaborasi tentu tidak berhenti. Konsultasi teknis, program sociopreneurship, dan rintisan kemitraan strategis akan makin dikembangkan berjalan untuk memperkuat ekosistem inovasi dan mendukung pengembangan talenta nasional secara berkelanjutan.

IEEE R10 HTC 2025

Minggu lalu, IEEE Region 10 menyelenggarakan Humanitarian Technology Conference (IEEE HTC) 2025 di Chiba University of Commerce, Jepang, 28 September hingga 1 Oktober, yang mempertemukan para visioner global dengan tema “Beyond SDGs, A New Humanitarian Era with Intelligent Partners.” Konferensi ini berfokus pada sinergi antara intelektualitas manusia dan sistem cerdas yang berkembang dalam meningkatkan dampak kemanusiaan melalui teknologi.

Pada sesi Pembukaan, Presiden IEEE Humanitarian Technologies Board (HTB) Grayson Randall menyampaikan speech yang menekankan peran istimewa para insinyur dalam meningkatkan kualitas hidup manusia. Pesannya menegaskan bahwa insinyur bukan sekadar pemecah masalah, melainkan arsitek harapan yang mampu menjembatani inovasi dengan tanggung jawab sosial. Ia juga memaparkan berbagai peluang baru dalam program-program HT untuk mendorong proyek yang inklusif dan berdampak luas di kawasan Asia-Pasifik. Pada hari kedua, IEEE President-Elect Mary Ellen Randall menyampaikan keynote speech yang visioner tentang roadmap IEEE dalam memajukan profesi rekayasa selaras dengan tujuan pembangunan manusia global. Ia menjelaskan bagaimana arah strategis IEEE, termasuk etika digital dan inovasi berkelanjutan, berfokus pada satu misi utama, peningkatan kualitas hidup manusia melalui kolaborasi yang cerdas.

Hari ke-3 (1 Oktober), aku berpresentasi dalam Special Program 15 dengan judul “Synergy for Sustainable Impact.” Sesi ini dimoderatori oleh Allya Paramitha, dengan para panelis Hidenobu Harasaki, Husain Mahdi, Agnes Irwanti, Bernard Lim, Chie Sato, Saurabh Soni, dan aku sendiri. Diskusi membahas mekanisme kolaboratif antara teknologi, kebijakan, dan inovasi sosial untuk mempercepat hasil kemanusiaan yang berkelanjutan. Aku hampir selalu memulai presentasi tentang sinergi, ekosistem, dan kolaborasi industri dengan menempatkannya dalam framework teori kompleksitas, yang menunjukkan bagaimana sinergi dapat menghasilkan nilai emergence secara non-linear dalam ekosistem kompleksitas. Fenomena emergensi inilah yang menjadi kunci transformasi menuju pencapaian SDG, khususnya dalam memperkuat inklusivitas, ketahanan, dan keadilan.

Aku mengacu pada visi nasional Indonesia, dengan menjelaskan pengembangan ekosistem komersialisasi UMKM sebagai model penerapan teknologi kemanusiaan. Melalui program-program yang meliputi juga pembiayaan mikro, platform digital, dan pemberdayaan koperasi, kita menunjukkan bagaimana teknologi dapat mengangkat pasar yang sebelumnya belum tergarap menjadi sistem yang produktif dan berkelanjutan. Aku juga memaparkan case dimana IEEE Indonesia SIGHT in Sociopreneurship and Sustainability melaksanakan program pengembangan kapasitas bagi Student Branch IEEE Indonesia, yang masing-masing merancang solusi lokal seperti sistem air tenaga surya, pemantauan berbasis IoT, dan inkubasi sosiopreneurship, sebagaimana sedang dijalankan oleh Universitas Gadjah Mada dan Universitas Udayana. Proyek-proyek ini menunjukkan bagaimana keterlibatan berbasis rekayasa dapat berkembang menjadi sociopreneurship yang digerakkan oleh komunitas, dengan menjamin keberlanjutan melalui kepemilikan, replikasi, dan dampak yang terukur.

Pada Hari ke-0 (28 September), aku juga menceritakan versi ringkas program-program ini ke IEEE President-Elect Mary Ellen Randall dan HTB President Grayson Randall. Diskusi ini menjadi landasan bagi pengembangan lebih lanjut program kemanusiaan IEEE di Indonesia dan kawasan Asia-Pasifik, dengan fokus pada ekosistem digital, sosiopreneurship, dan model inovasi berkelanjutan. Program ini juga aku sampaikan dalam Program Khusus 13 (30 September), “From Innovation to Impact: Advancing IEEE Humanitarian Initiatives”, dalam HTA Forum untuk membahas penyelarasan strategis antara kerangka kemanusiaan IEEE dan pengembangan ekosistem regional.

IEEE R10 HTC 2025 ini bukan hanya diskusi antara gagasan, tetapi lebih sebagai aktivitas dinamis dari sinergi, serta perpaduan antara intelektualitas, empati, dan teknologi. Konferensi ini menegaskan bahwa keinsinyuran bukan sekadar tentang mesin atau sistem, melainkan selalu tentang kemanusiaan. IEEE R10 HTC 2025 menjadi tonggak lain dalam perjalanan kolektif untuk membangun dunia yang lebih adil, tangguh, dan berkelanjutan, digerakkan oleh wawasan manusia dan inovasi cerdas.

Moniac dan 200T

Mesin MONIAC di bawah ini aku foto di Science Museum, Kensington, pada kunjungan tahun 2010. Mesin ini dirancang ekonom Bill Phillips pada 1949 untuk memodelkan perekonomian Inggris. Perangkat ini menggunakan fluida melalui pipa, tangki, dan katup untuk menggambarkan arus ekonomi nasional: pendapatan, konsumsi, tabungan, pajak, investasi, hingga perdagangan luar negeri. Dengan mengatur keran atau katup, kita dapat melihat bagaimana perubahan kebijakan, misalnya menaikkan pajak atau memperluas belanja pemerintah, dapat mempengaruhi keseimbangan ekonomi secara visual. Buat engineer yang baru belajar ekonomi, mesin MONIAC ini menunjukkan penyederhanaan konsep kompleks permintaan dan penawaran agregat, neraca pembayaran, serta kebijakan fiskal-moneter dalam bentuk simulasi fisik yang intuitif.

Aku tertarik membahas ini justru untuk menujukkan bahwa ekonomi itu bukan benda sederhana yang mudah diubah dengan beberapa kebijakan, walaupun nilainya 200T, melainkan akan tetap bergantung pada komitmen dan kapabilitas peningkatan produktivitas, ekonomi, kualitas, dan seterusnya. Tapi kita mulai dari MONIAC dulu, dan dari satu sisinya, misalnya soal permintaan

Permintaan Agregat (Aggregate Demand/AD) adalah total permintaan seluruh sektor ekonomi, yang dirumuskan sebagai AD = C + I + G + (X – M), yaitu mencakup konsumsi (C), investasi (I), belanja pemerintah (G), serta ekspor bersih (ekspor dikurangi impor). AD ini satu pilar utama analisis makroekonomi, karena menunjukkan bagaimana kebijakan moneter, fiskal, maupun guncangan eksternal memengaruhi keseluruhan aktivitas ekonomi.

Beberapa tahun terakhir Indonesia, menjalani kebijakan ekonomi ketat demi stabilitas ekonomi: penghematan belanja, pengetatan likuiditas (uang beredar), dan penggiatan pajak. Hasilnya adalah pelemahan permintaan domestik: konsumsi macet, kredit tertahan, investasi mundur, denyut ekonomi melemah sekali. Gagal melesat. Menkeu yang baru dilantik minggu ini mencoba meningkatkan likuiditas dengan memindahkan 200T uang pemerintah dari BI ke para bank BUMN. Bank jadi harus berpikir untuk mengucurkan dana secara lebih cerdas ke masyarakat lebih luas, bukan hanya ke enterprise besar yang hampir tanpa risiko pengembalian ke bank.

Saat pemerintah menambah uang ke pasar seperti ini, pelonggaran menambah likuiditas dan menurunkan suku bunga riil. Dengan bunga turun, orang lebih memilih belanja daripada menabung; juga orang lebih mudah meminjam untuk belanja konsumsi, tapi juga belanja produksi. Demand belanja naik, produksi naik, bisnis bergairah. Perusahaan menilai proyek dengan hurdle rate lebih rendah, sehingga investasi naik.

Di sisi lain, turunnya bunga membuat orang memindahkan uang ke luar negeri yang bunganya lebih baik. Nilai rupiah akan turun, kecuali kalau issue The Feds akan menurunkan suku bunga benar2 terjadi. Masalahnya, struktur ekonomi kita sangat bergantung pada impor: mesin, komponen, energi, pangan, serta pada modal asing. Depresiasi rupiah seharusnya membuat harga barang Indonesia dalam dollar turun, sehingga meningkatkan ekspor; tetapi naiknya harga impor alat dan bahan produksi membentuk inflasi impor sebelum daya saing ekspor meningkat. Rantai pasok domestik kita buruk dan dangkal, sehingga konsumsi dan investasi yang pulih justru menambah permintaan barang impor. Ketergantungan pada portofolio asing ini juga memperbesar volatilitas rupiah dan memperdalam pelemahan kurs. Hasilnya dapat berupa pemulihan yang tidak dapat dijaminkan, harga yang tidak stabil, dan neraca eksternal yang tidak membaik seperti harapan Menkeu. Melihat gejala semacam ini, para investor belum tentu akan sepenuhnya mempercayakan peningkatan investasi ke Indonesia.

Juga, hal-hal di atas tidak akan berjalan seketika seperti mesin MONIAC. Ada tundaan dari keputusan manajemen di bank dan di industri. Ada tundaan dari adaptasi sektor riil yang tentu perlu waktu. Juga ada experience panjang dari ekonomi Indonesia yang membuat ekspektasi tidak bisa sepenuhnya antusias. Dan ujungnya, keseimbangan baru bukan sepenuhnya bergantung pada antusiasme dari policy baru yang tampak berbeda. Badan yang sakit bukan tidak selalu mudah diatasi dengan mengganti satu vitamin dengan vitamin lain, tapi selalu harus melalui perbaikan struktur.

Kesehatan ekonomi pada akhirnya akan harus melalui jalan-jalan yang rasional semata: peningkatan produktivitas, kapasitas, kualitas, efisiensi, dan akhirnya pada peningkatan daya saing. Soalnya akan kembali ke pekerjaan yang kita coba lakukan dalam tahun-tahun terakhir ini: perbaikan rantai pasok dan logistik agar sangat efisien dari sisi waktu dan biaya, peningkatan kandungan lokal dan jejaring pemasok domestik sebagai substitusi impor, penguatan pasar keuangan domestik melalui termasuk pembiayaan jangka panjang dan pasar lindung nilai agar investasi tidak terlalu bergantung pada arus portofolio. Dan tentu hal yang sampai sekarang diabaikan seluruh manusia Indonesia, yaitu mengangkat kualitas manusia melalui pendidikan berkualitas dan pembelajaran seumur hidup. Serta hal yang selalu diabaikan pemerintah: regulasi dan praktek bisnis pro-persaingan dan pro-kepastian, agar investasi bisa produktif dan fair. Hanya dengan serius memperbaiki fondasi dengan ilmu lama semacam ini, pelonggaran ala Purbaya akan lebih efisien mendorong kapasitas dan nilai tambah domestik, sementara pengetatan ala Sri MUlyani tidak menyeret ekonomi ke kelesuan.

Kebijakan moneter hanya dapat mengarahkan, tetapi laju ekonomi tidak dapat melawan hukum fisika: perlu perbaikan struktur produktif, dan peningkatan kualitas manusia.

Menggerakkan Republik

Pemerintahan gagal bukan karena deretan angka yang tidak mencapai target atau tidak menunjukkan pertumbuhan; tetapi saat penderitaan ekonomi terus meningkat, walaupun terus ditutupi. Legitimasi hancur saat mereka yang melabeli diri sebagai pemimpin lebih memanfaatkan diri sebagai pemangsa. Kekuasaan bukan dipakai untuk menata kepentingan bersama, melainkan merampas untuk kepentingan kelompok. Alam informasi diriuhi hanya dengan propaganda dan pembungkaman suara yang berbeda. Akal sehat telah lama pergi.

Negara gagal bukan karena tanahnya miskin harta, melainkan karena negeri kehilangan keadilan. Rasa aman ditukar dengan tekanan dan ketakutan. Peluang tumbuh yang meraksasa ditebas dengan keberpihakan dan persekongkolan. Lembaga-lembaga runtuh dan membusuk. Korupsi menjadi sistem operasi, dan konstitusi dipermainkan dengan perlindungan bagi para pemain-pemain bodoh.

Garuda menghitam, kehilangan sinar emasnya. Banteng yang dahulu simbol demokrasi, kini menatap kosong, menyaksikan kehendak rakyat diperjualbelikan dengan harga murah. Pohon beringin, lambang persatuan, kini lebih mirip baobab yang meretakkan bumi dan memecah rakyatnya. Padi dan kapas, lambang kemakmuran, kini meranggas dalam cengkeraman monopoli dan kerakusan sistemik. Rantai yang dulu melambangkan solidaritas, kini berkarat menjadi belenggu penindasan. Dan bintang, cahaya penuntun masa lalu, kini meredup dalam kehampaan kemunafikan.

Negara hanya sistem. Pemerintah hanya entitas. Keduanya bisa gagal.
Namun bangsa hanya akan mati jika rakyatnya menyerah.
Garuda dalam gelap bukanlah pertanda akhir: ia adalah pertanda pilihan, antara menerima kehancuran, atau menyalakan pembaruan.
Dan dalam pilihan itulah, nasib republik kita tentukan.

« Older posts

© 2026 Kuncoro++

Theme by Anders NorenUp ↑