Tag: UK

City of London

Ini kunjungan entah yang keberapa ke London. Tapi kali ini aku stay di sisi lain di kota London, yaitu Hilton London Angel Islington. Tujuannya, biar punya waktu lebih lama menjelajahi kawasan City of London. City of London ini menarik. Luasnya 2,9km², tapi jadi ibukota keuangan dunia. Dan semua diakibatkan serentetan sejarah2 kecil yang menarik.

Waktu orang Romawi menduduki Britannia, mereka mencari titik operasi yang optimal, yaitu punya akses ke laut, atau di sebelah sungai yang masih cukup dalam untuk dilewati kapal; tapi kalau di sungai juga jangan terlalu lebar sehingga bisa dibuatkan jembatan atau penyeberangan lain. Dari kebutuhan logistik ini, dipilihlah titik yang dinamai Londinium, ±50CE. Lokasi ini dipasangi tembok batas, yang sampai hari ini menjadi batas City of London. Sempat kosong setelah Romawi kabur, kota ini dihidupkan Alfred the Great tahun 886, dan jadi titik logistik yang optimal dan terus membesar untuk perdagangan antara Inggris dan negeri-negeri lain melalui lautan.

Saat William the Conqueror menduduki Inggris (1066), alih-alih menindas kota dagang ini, ia justru menerbitkan piagam yang menjamin hukum dan tatacara London tetap berlaku. Ini logis: Raja perlu uang dan dukungan logistik; dan saudagar London punya keduanya. Pola berulang sepanjang sejarah Inggris: setiap kali penguasa perlu sesuatu yang mahal, para saudagar City siap bernegosiasi. Tahun 1189 kota ini punya Lord Mayor sendiri, memerintah dirinya sendiri lewat Aldermen dan Common Council yang dipilih, bukan cuma oleh penduduk, tapi juga oleh badan-badan usaha. Ini cikal bakal keunikan pemerintahan City yang berlaku hingga saat ini. Kita tentu pernah dengan Magna Carta (1215). Kita simak, bahwa pada piagam ini, terdapat klausul khusus yang menjamin utuhnya kebebasan City. Para baron yang menantang monarki absolut Raja John pun perlu dukungan finansial London, dan London memanfaatkan momen itu untuk mengukir hak istimewanya dalam dokumen paling sakral dalam sejarah konstitusi Inggris. Ini lobby bisnis paling sukses dalam sejarah: saudagar London berhasil menyelipkan kepentingan bisnis mereka ke dalam piagam kebebasan yang dirayakan dunia hingga delapan abad kemudian.

Hubungan antara saudagar dan kerajaan ini terutama dibutuhkan saat perang. Perang mahal, pajak saja tidak cukup, jadi dulu raja meminjam ke para bangsawan, baik di dalam maupun luar negeri. Ini bermasalah. Kalau kalah, uang hilang; kalau menang, raja jumawa, susah ditagih, wkwk. Raja Edward III pernah meminjam dari bankir Italia abad ke-14, lalu gagal bayar, dan yang hancur justru dua rumah bankir Florence terbesar saat itu. Nah, di sinilah inovasi London. Sebelum 1688, kredibilitas utang negara memang bergantung pada kata-kata satu orang: raja. Setelah 1688, Parlemen yang mewakili rakyat (yaitu tentu saja para bangsawan dan para saudagar) mengambil alih pengendalian, penerimaan, serta tentu saja perkiraan pajak, bea cukai, dan pendapatan negara lainnya. Mereka mulai mengunci sebagian penerimaan itu secara khusus untuk membayar bunga dan pokok utang. Artinya, kalau pemerintah Inggris berhutang, jaminannya bukan lagi janji lisan raja yang terkenal tak bisa dipegang, tapi aliran pendapatan negara yang bisa dihitung, diaudit, dan dijamin lembaga kolektif yang jauh lebih sulit diingkari sepihak. Inilah yang menjadi komitmen keuangan kredibel, dan inilah sesungguhnya awal keunggulan kompetitif industri keuangan Inggris dibanding rival-rivalnya di benua Eropa yang masih diperintah monarki absolut: Utang Inggris jadi lebih murah dan lebih aman dipinjamkan. Bukan karena Inggris lebih kaya, tapi karena janjinya lebih sulit diingkari.

Dari dasar ini, lahirlah Financial Revolution. Obligasi pemerintah pertama diterbitkan 1693, lalu setahun kemudian saudagar City mendirikan Bank of England, meminjamkan 1.2jt pound ke pemerintah dengan bunga 8%, dan sebagai imbalannya diberi hak menerbitkan uang kertas serta mengelola utang negara. Ini adalah uang kertas pertama yang memiliki jaminan sistem keuangan yang andal. (Swedia pernah menerbitkan uang kertas, tapi keburu bangkrut gara-gara sistemnya tidak andal). Model uang kertas dari Bank of England itulah yang akhirnya jadi template diikuti bank sentral di seluruh dunia.

Obligasi pemerintah Inggris ini kemudian dikenal sebagai gilts, dan ini lahir dari City. Sertifikat obligasi yang diterbitkan Bank of England sejak 1694 ini dicetak di kertas dengan tepi berlapis emas, jadi disebut gilt-edged, meski istilah gilts baru benar-benar digunakan abad ke-19. Dari sinilah lahir tradisi consol, obligasi abadi tanpa jatuh tempo yang sebagian baru benar-benar dilunasi pemerintah Inggris tahun 2015, dua abad kemudian, sampai pasar gilts modern yang dikelola UK Debt Management Office hari ini. Semua bermuara ke satu inovasi konstitusional sederhana: bikin janji negara sulit diingkari, dan orang akan berbondong-bondong meminjamkan uang dengan bunga murah. Biarpun sempat dibikin kacau Liz Truss tahun lalu, hahaha.

Union antara England dan Scotland tahun 1707 juga punya jejak finansial. Scotland saat itu baru saja bangkrut gara-gara Skema Darien, usaha kolonisasi mereka di Panama yang berakhir bencana. Sebagai bagian dari kesepakatan Union, England membayar kompensasi, dikenal sebagai The Equivalent, untuk menutup kerugian investor Scotland itu. Jadi Kerajaan Inggris Raya lahir bukan hanya soal politik, tapi juga sebagai penyelesaian utang yang pragmatis, melalui mesin finansial yang sama yang baru saja dibangun London.

Jadi kemudian setiap perang besar Inggris, mis Perang Napoleon, dibiayai via obligasi yang dijual City dan dikelola Bank of England. Di seberang jalan, sekumpulan saudagar lain yang asik berbincang di kedai kopi Edward Lloyd sejak akhir abad ke-17 juga membangun bisnis lain: menanggung risiko pelayaran. Mereka menuliskan nama pelayaran dan risikonya. Saudagar yang mau ikut menjamin, menuliskan namanya di bawahnya, dan disebut underwriter. Ini istilah yang sekarang dipakai di seluruh industri finansial dunia, jauh melampaui asuransi. Beberapa blok lagi dari kedai Lloyd, ada kedai kopi lain bernama Jonathan’s, tempat para pialang saham yang diusir dari Royal Exchange karena dianggap terlalu berisik akhirnya nongkrong dan berdagang saham secara informal sejak 1680an. Mereka menempel daftar harga saham di dinding. Dari perilaku ini, tahun cikal bakal London Stock Exchange lahir tahun 1698. Jadi, di City of London, ngobrol di kedai kopi saja sudah bisa menghasilkan berbagai institusi yang mengatur arsitektur finansial dunia.

Abad ke-19 adalah puncak keunggulan City of London. Mereka jadi satu-satunya pusat modal global. Sterling jadi mata uang cadangan dunia, terkunci keandalannya oleh cadangan emas. Tapi kemudian dua Perang Dunia mengubah segalanya. Perang memaksa negara turun tangan menanggung risiko yang terlalu besar untuk pasar swasta. Asuransi risiko perang untuk kapal jadi urusan negara. Begitu juga kerusakan properti domestik akibat Blitz di Perang Dunia II. Dan yang lebih penting, Inggris pelan-pelan berubah dari kreditor dunia jadi debitor, bergantung pada program Lend-Lease dari Amerika untuk bertahan. Inilah titik balik sesungguhnya: kekuatan finansial global mulai bergeser dari London ke New York, sebuah proses yang baru benar-benar tuntas setelah 1945.

Tapi City of London punya bakat aneh untuk reinventing. Tahun 1950-60an, saat kekaisaran melenyap dan Sterling kehilangan wibawanya, London justru menemukan panggung baru: pasar Eurodollar, dolar Amerika yang diperdagangkan di luar yurisdiksi Amerika. Ini sebagian gara-gara Uni Soviet takut deposit dolarnya disita kalau disimpan di bank Amerika sendiri, jadi mereka parkir di London. Bank of England yang saat itu cenderung permisif soal urusan bukan-sterling ini, tanpa sengaja membuka jalan bagi London jadi pusat keuangan internasional yang lebih besar dari kekuatan ekonomi domestik Inggris sendiri. Di masa Thatcher (1986) datang Big Bang, yaitu deregulasi besar-besaran pasar modal London, yang makin memperkuat posisi ini.

Hingga kini, paradoks ini masih menarik. Mereka memiliki City of London Corporation, yaitu pemerintah lokal satu-satunya di UK yang punya hak pilih korporasi, punya polisi sendiri (termasuk polisi keuangan), dan punya Lord atau Lady Mayor sebagai walikota yang perannya lebih mirip duta promosi bisnis. Bank of England sudah lama jadi milik negara (UK), diberi independensi kebijakan moneter sejak 1997, diawasi Parlemen tapi bebas dari campur tangan partai politik harian. Lloyd’s masih berdiri, sudah direformasi dari sistem tanggung jawab tak terbatas yang nyaris menghancurkannya di tahun 1990an, jadi pasar asuransi risiko spesialis paling dihormati dunia.

Di City of London, ritual lama tetap dipelihara sampai sekarang: setiap kali Ratu atau Raja Inggris mengunjungi City, ia harus dihentikan di titik yang dulu bernama Temple Bar, batas tradisional antara Westminster dan City. Lord atau Lady Mayor menyambut, menyodorkan gagang Pearl Sword, untuk disentuh sang Raja sebagai simbol penghormatan timbal balik. Seolah-olah Raja Inggris pun perlu izin untuk masuk kota ini. Khas Inggris sekali: mempertahankan teater kekuasaan lama, tapi tetap dijaga rapi. Biar lucu aja.

Dan London sendiri, dalam pemeringkatan pusat finansial global terbaru, masih bertengger di posisi dua dunia, hanya terpaut satu-dua poin dari New York, bukan lagi hegemon tunggal seperti abad ke-19, tapi tetap salah satu dari segelintir kota yang benar-benar layak disebut pusat finansial global sungguhan, bukan sekadar regional. Yang membuatnya bertahan bukan satu faktor tunggal, tapi kombinasi yang sulit ditiru: hukum common law Inggris jadi pilihan default untuk kontrak bisnis internasional di seluruh dunia, zona waktu tepat di antara jam bursa Asia dan Amerika, bahasa Inggris yang telanjur jadi lingua franca keuangan global, dan kesinambungan institusional yang panjang itu.

City of London hidup dalam kota yang temboknya dibangun orang Romawi, piagamnya ditandatangani penakluk Norman, dan mesin finansialnya dirancang saudagar yang dulunya cuma numpang ngobrol di kedai kopi sambil menunggu kapal pulang. Itu keunggulan kompetitif yang tidak bisa dibangun ulang oleh siapa pun dalam semalam, bahkan dengan modal berapa pun besarnya, dan mungkin itulah alasan sesungguhnya kenapa, di tengah dunia yang berubah begitu cepat, tempat setua ini masih keras kepala menolak untuk menjadi tidak relevan.

Oxford

Spring Travelling 2012 lebih banyak diarahkan ke ibukota negeri Eropa Barat dan Tengah. Tapi, agak bosan liaht kota besar seperti London, kami menyempatkan diri kabur ke kota kecil yang tempatnya tak terlalu jauh. Pilihan akhirnya jatuh ke Oxford, karena kota2 lain telah terkunjungi di tahun2 sebelumnya, dan karena posisi Oxford yang cukup dekat London. Perjalanan ke Oxford pun tak terlalu serius: cukup dengan bis tingkat Oxford Tube berwarna merah mirip bis kota, dari Victoria atau Hyde Park, langsung ke Oxford. Harga return ticket £16 per orang. Perjalanan memakan waktu 1 jam. Dan segera kami tiba di kota mungil ini.

Dasar usil; yang pertama kami kunjungi malah pasar tradisional dan flea market. Puas berbincang dengan penjual2 di sana, yang umumnya sudah berumur, plus melakukan keisengan2 lain; kami beranjak dan mengunjungi kawasan yang lebih bersifat klasik akademis dan eaaaa.

Pertama, Museum of the History of Science. Museum ini berada di pusat kota, tak jauh dari Waterstones dan Blackwells Bookshop. Seperti banyak museum di Inggris, museum ini dapat dimasuki gratis. Tapi pengunjung disarankan melempar uang £2 ke kotak donasi. Yang pertama tampak di museum ini adalah papan tulis yang sempat ditulisi Einstein saat memberikan kuliah di Oxford tahun 1930an, yaitu saat Einstein telah meninggalkan Jerman, tetapi belum memperoleh tempat di US. Di papan bersejarah ini, Einstein mengkalkukasi perkiraan umur semesta.

Di bawahnya, dalam urutan yang kurang jelas kategori atau linimasanya, ditampilkan berbagai artifaks keilmuan, peninggalan para ilmuwan terdahulu, di bidang matematika, astronomi, fisika, dan lain-lain. Yang buat aku menarik tentu deretan piranti yang menunjukkan sejarah wireless communications: formula Maxwell, spark gap Righi, receiver Marconi, dan lain-lain. Hal-hal yang membentuk hidup dan karirku. Asli mengharukan, wkwkwk. Ada cognitive radio juga. Eh, nggak dink.

Juga ada koleksi alat2 hitung posisi pengamat pada koordinat bumi, posisi astronomis benda langit, waktu2; yang dirunut balik dari zaman kejayaan budaya Islam. Memang waktu itu umat muslim yang masih gemar menjelajah gemar sekali membuat perangkat rumit untuk menyederhanakan kalkulasi waktu shalat, posisi kiblat, dan waktu ibadah lain. Jauh berbeda dengan film Achmad Dahlan versi seleb sinetron yang menampilkan KH Achmad Dahlan seolah2 masih pakai lukisan peta dua dimensi, wkwkwk. Ah, para pembikin sinetron — sekolah pun mungkin mereka jadi tukang contek.

Keluar museum, kami mulai menjelajahi Universitas Oxford. Sambil jalan kaki keliling kota, kami dipandu seorang guide yang ceria bernama Linda. Universitas Oxford sebenarnya merupakan federasi dari 38 college, katanya. Universitas ini merupakan yang tertua kedua atau ketiga di dunia, setelah Univ Bologna di Italia dan mungkin bersamaan dengan Univ Paris di Sorbonne. Didirikan di abad ke-12, Ia jadi populer setelah Raja Henri II sempat melarang orang2 Inggris berkuliah di Paris. Tadinya setiap wilayah/county memiliki college sendiri di Oxford (yang menjelaskan mengapa ada beberapa nama college yang mirip nama county). Tapi batas ini kemudian baur, dan berdiri college yang tak tergantung wilayah. Akibat clash dengan penduduk, sempat terjadi eksodus kalangan akademis ke Cambride yang kemudian mendirikan Univ Cambridge di abad ke-13.

Setiap college memiliki kemandirian secara akademis. Namun ujian dan hal-hal administratif dikoordinasikan oleh universitas, dan dipimpin seorang Vice Chancellor. Memasuki beberapa college, aku melihat struktur yang kurang lebih sama. Kantor, taman besar di tengah, ruang kuliah dan diskusi, asrama, ruang makan bersama yang mirip ruang makan Harry Potter (minus lilin melayang tanpa benang), dll, dan ornamen2 yang menunjukkan kekhasan setiap college. Konon college2 di Oxford strukturnya meniru Merton College, dan Cambridge meniru Oxford, dan banyak kampus meniru keduanya.

Agak menarik melihat seorang mahasiswi berpakaian sangat rapi, lengkap dengan bunga di dada, melintas kencang bersepeda. Linda menjelaskan bahwa hari itu adalah hari ujian. Para mahasiswa harus mengenakan jubah kampus nan klasik itu untuk mengikuti ujian, dan membawa topinya. Mereka juga harus menyematkan bunga di dada: bunga putih untuk mahasiswa tahun pertama, merah tua untuk tahun terakhir, dan merah muda untuk sisanya. Tak lama, tampak sekelompok mahasiswa dan mahasiswi berjubah mirip wisuda, langkap dengan bunga pink di dada.

Kami juga mengunjungi Bodleian Library dan Radcliffe Camera (foto paling atas). Bodleian adalah perpustakaan induk, yang bukan hanya tempat riset utama di Oxford, tetapi juga merupakan erpustakaan acuan, tempat semua buku yang diterbitkan di Inggris dan Irlandia harus diserahkan untuk disimpan.

Kunjungan ke college2 cukup memakan waktu. Tapi ada waktu tersisa untuk mengamati pasar tradisional, pedestrian di tengah kota tempat warga kota menikmati sore, Oxford University Press (yang buku2 terbitannya cukup menghabiskan ruang di rak buku rumah hijau di Bandung), dan bekas tempat penginapan Rhodes (pengusaha berlian yang namanya sempat diabadikan sebagai nama negara Rhodesia, dan kini lebih dikenal peninggalannya berupa bea siswa Rhodes).

Oxford dan Cambridge adalah dua kota yang tidak turut dihancurkan bom Jerman pada Perang Dunia II. Jerman berharap dapat suatu hari menguasai kedua kota intelek ini dalam keadaan utuh. Namun tentu Jerman tak pernah berhasil menguasai Inggris Raya. Saat situasi berbalik, dan negeri Jerman dijatuhi bom oleh Angkatan Udara Sekutu, kota-kota intelek semacam Heidelberg pun tidak mengalami pengeboman. Ada sedikit nuansa manusia beradab juga dalam Perang Dunia. Sayangnya, dalam plan kali ini, kami tak sempat mengunjungi Heidelberg dan Gottingen.

Greenwich

Dulu, kata buku-buku kuno, tidak ada standar waktu seperti sekarang. Setiap tempat, setiap kota, menentukan waktunya sendiri dengan sinkronisasi terhadap matahari. Pukul 12.00, matahari harus berada di titik tertinggi. Atau mungkin direratakan. Misalnya, saat di Malang sudah pukul 12.00, di Jayakarta barangkali masih pukul 11.35. Namun di tahun 1879, Sir Sandford Fleming (seorang ilmuwan Kanada) mengusulkan perlunya penstandaran. Ini terjadi gara-gara ia ketinggalan kereta di Irlandia akibat selisih waktu yang tercatat pada form keberangkatan kereta denga. Ia mengusulkan bumi agar dibagi menjadi 24 zone waktu, dengan setiap zone berselisih satu jam. Daerah dalam setiap zone harus memiliki waktu yang sama. Usulnya diperhatikan dan diakomodasi dalam bentuk berbeda dalam International Meridian Conference tahun 1884. Untuk menentukan zone waktu, orang harus mengukur posisi bujur di kotanya. Nah, waktu itu, sekitar 2/3 lokasi di dunia diukur jarak bujurnya dari Greenwich, yang merupakan pangkalan maritim Kekaisaran Inggris. Maka konferensi merekomendasikan penggunaan waktu dengan standard GMT — Greenwich Mean Time. Titik ukur standardnya adalah pada Observatorium Kerajaan Inggris di Greenwich. Perancis, yang memiliki standarnya sendiri (baca Da Vinci Code deh), baru menggunakan standar ini tahun 1911. Di tahun 1929, seluruh negara menggunakan standar GMT. GMT dihitung dari rerata waktu di titik ukur di Greenwich (tak menghitung pergeseran waktu musim panas yang ditetapkan tersendiri). Tetapi tentu pengukuran fisik seperti ini menimbulkan selisih-selisih. Banyak iregularitas pada putaran bumi, dan lain-lain. Maka di tahun 1972, ditetapkan standar baru, yaitu UCT (coordinated universal time), yang menggunakan arloji atomik untuk menghitung waktu standar. Namun jika kita tidak menghitung presisi waktu hingga satuan detik, umumnya UCT dianggap selaras dengan GMT.

Setelah Cardiff, Coventry, York, dan Thirsk, kami masih agak gamang harus menjelajahi kota besar seperti London. Apa menariknya kota besar? Haha :). Maka kami memutuskan pergi ke Greenwich. Greenwich sendiri merupakan kawasan di tenggara kota London, di selatan Sungai Thames. Tempat ini dijadikan cagar budaya oleh UNESCO karena banyak peninggalan masa lalu yang memiliki nilai budaya tinggi, dan masih difungsikan dengan baik. Dari kota London, kita bisa menumpang Underground hingga stasiun Bank atau Canary Wharf, lalu berpindah ke kereta ringan DLR ke Cutty Sark atau Greenwich. Dilanjutkan cukup dengan jalan kaki melewati kawasan perkotaan nan tetap asri ini. Di kawasan ini terdapat Greenwich Palace, Maritime Museum, dan lain-lain. Lalu Greenwich Park yang sangat luas, dengan rumput yang asri dan nyaman, dan pohon-pohon yang indah tertata. Di tengah park terdapat bukit. Di taman di sekitar bukit, banyak (banyak!) tupai-tupai jinak yang mau menghampiri kalau kita memanggil mereka dengan cara yang benar (haha). Dan di atas bukit ada Observatorium Kerajaan (Royal Observatory).

[nggallery id=4]

Observatorium ini didirikan tahun 1675 oleh Raja Charles II, mengambil tempat di Greenwich Castle. Arsiteknya adalah arsitek tenar Sir Christopher Wren. Raja juga mengangkat Astronom Kerajaan, yaitu saat itu John Flamsteed. Tugasnya adalah menjadi direktur observatorium dan mengerjakan secara rajin dan cermat segala pergerakan benda angkasa, serta pemosisian benda-benda yang mampu menjadi alat bantu bagi navigasi seluruh dunia. Maka bagian dari observatorium ini disebut juga Flamsteed House. Observatorium ini, sebagai tempat, fungsi, dan organisasi, kemudian mengalami banyak perubahan. Organisasinya sendiri sempat berpindah-pindah ke beberapa tempat, karena soal polusi, keamanan (bom dll), dan keakuratan pengukuran. Sempat di Sussex, dan terakhir di Cambridge, sebelum akhirnya ditutup. Observatorium Greenwich kemudian dijadikan museum dan tempat studi.

Pengunjung di observatorium ini cukup banyak. Kita tak diharuskan membeli tiket, tetapi dianjurkan mengisi kencleng donasi dengan misalnya £5. Di dalamnya ada museum yang berisi peralatan pengamatan perbintangan dan sistem navigasi, juga pusat sains tempat kita bisa mensimulasikan berbagai gejala astronomis. Di layar lebar ditampilkan sejarah bintang, dan bagaimana kita sebenarnya tersusun dari debu-debu bintang — bintang adalah bagian dari diri kita! Dan terdapat juga sebuah planetarium. Sayangnya, di dalam ruangan-ruangan itu, kita tak diperkenankan memotret. Yang juga tentu menarik buat dikunjungi adalah sebuah garis metal panjang di lantai, yang merupakan standard bujur 0º dunia. Kita bisa melompat ringan dari barat ke timur, atau membagi badan kita di barat dan di timur ;).

Selesai menjelajahi bagian barat dan timur bumi, kami menuruni bukit, becanda lagi dengan beberapa tupai, lalu meneruskan perjalanan menjelajahi kawasan unik ini. Tapi tak bisa lama. Kami jadi berminat ke Musium Sains di South Kensington juga :). Dan tentu saja The British Museum.

The Inextinguishable

London Symphony Orchestra, menurut Wikipedia, adalah salah satu orkestra terbaik di dunia. Patron orkestra ini adalah Ratu Inggris sendiri; presidennya Sir Colin Davis; dan konduktor utama adalah Valery Gergiev. Sir Colin Davis pernah menjadi konduktor utama juga pada tahun 1995-2006. Orkestra ini merupakan resident di Barbican Centre. Malam ini di Barbican Centre LSO memperformansikan The Inextinguishable.

The Inextinguishable adalah simfoni keempat dari Carl Nielsen. Walau aku bisa menikmati simfoni Nielsen kelima berulang dan berulang kali, tetapi aku belum cukup akrab dengan simfoni keempatnya. Saat akan menuliskan simfoni ini, Nielsen menulis kepada istrinya: “I have an idea for a new composition, which has no programme but will express what we understand by the spirit of life or manifestations of life, that is: everything that moves, that wants to live … just life and motion, though varied – very varied – yet connected, and as if constantly on the move, in one big movement or stream. I must have a word or a short title to express this; that will be enough. I cannot quite explain what I want, but what I want is good.” Maka The Inextinguishable menceritakan anasir daya kehidupan itu sendiri, yang bergerak lincah membentuk jiwa-jiwa dinamis dan beraneka rupa dan warna.

Performance Simfoni Keempat ini dikonduktori oleh Sir Colin Davis sendiri. Bukan performance biasa, aku pikir. Jadi, hanya beberapa menit setelah menjejakkan kaki di London dari perjalanan dari York, aku memutuskan mereservasi tempat di Barbican Centre. Barbican Centre sendiri terletak di City of London, bagian dari kota London yang kaya dengan pusat-pusat budaya.

Performance LSO dimulai pukul 19.30. Pada sesi pertama, LSO memainkan Simfoni 97 dari Haydn. Seperti simfony Haydn lainnya, musik ini menenangkan dan membersihkan pikiran. Lalu panggung ditata ulang. Piano besar di sudut ditengahkan. Tampillah Mitsuko Uchida; dan Sir Colin Davis kembali memimpin orkestra memainkan konserto piano yang lembut dari Mozart. Sempurna :).

Setelah sesi break, piano telah ditepikan kembali. Namun jumlah pemain ditambah lebih dari dua kali. Kelompok alat tiup mengisi setiap sisi panggung. Dan sepasang timpani mengisi ujung ruang.

Simfoni Keempat ini terdiri atas 4 movement, dan dimainkan tanpa break. Seperti simfoni Nielsen lainnya, movement pertama langsung diisi hentakan yang bergaya atonal. Tapi tak sedrastis Simfoni Kelima. Klarinet terasa mendominasi. Movement kedua, yang biasanya bersifat lebih tenang, masih dipenuhi paduan menarik dari alat-alat tiup. Violin dan dawai-dawai mendominasi movement ketiga, seperti menyiapkan diri ke klimaks movement terakhir. Di movement keempat, kedua timpani disandingkan mengiringi orkestra yang ditutup masih dengan rasa kepenasaranan yang tinggi.

Memang banyak alternatif untuk menggambarkan sang hidup. Bisa dalam bentuk perulangan yang menarik dan dinamik, atau dalam bentuk tanda tanya yang menggelitik, atau pengelanaan misteri panjang dengan keengganan untuk memasuki kedalaman. Atau ribuan variasi lain. Simfoni Keempat menggambarkan sang hidup dari sisi-sisi dinamika dan variasinya yang menarik. Menghentak, mengejar, dan berpadu dengan lincahnya menyeberangi batas dimensi realita dan kemayaan. Mengajukan kesetaraan antara yang mayor dan minor, antara yang mainstream dan yang terpinggirkan. Sungguh simfoni yang menarik untuk jadi bahan perenungan awal untuk memulai penjelajahan di kota London.

Darrowby

Entah mengapa bis itu mendadak terguncang di jalan rata itu. Aku mendapati diriku terjaga di antara bukit-bukit Yorkshire Dales yang nyaris seluruhnya berwarna variasi hijau dari padang rumput yang luas dan pohon-pohon musim semi. Jalan berkelok-kelok di antara ladang dan peternakan dengan kuda, lembu, dan domba. Sinar matahari masih berusaha menembus awan kelabu saat bis memasuki sebuah kota kecil. Tak sampai semenit, bis sudah berhenti di samping menara lonceng kecil (townclock). Lahan luas marketplace berfungsi jadi lahan parkir. Di sampingnya toko-toko berjajar berwarna-warni. Toko koperasi menarik perhatianku dan membuatku tersenyum tak sengaja. Kami menapak turun, dan menjejakkan kaki di Darrowby.

Blog ini amat sering menyebut kota ini: Thirsk, di Yorkshire. Seorang dokter hewan yang juga penulis handal, bernama samaran James Herriot, memperkenalkan kota dalam buku-bukunya ini ke seluruh dunia sebagai Darrowby. Adalah buku perdananya, Seandainya Mereka Bisa Bicara, yang membawaku ke kota ini. Seorang fotografer dari The Northern Echo, Richard, menungguku di bawah lonceng, dan mengambil fotoku bersama buku kenangan itu. Lalu kami menapaktilasi langkah Herriot mendatangi rumah Skeldale House. Richard meninggalkan kami di sana.

Tak seperti Herriot, aku tak perlu menekan bel dan mendengarkan lima ekor anjing menyalak keras. Margaret sudah di depan rumah dan menyambut ramah. Kami becanda dengan renyah dan asyiknya, sebelum akhirnya ia menyuruh kami membeli tiket di rumah sebelah. “Follow me, Luv,” ajaknya. Lalu dengan aksen Yorkshirenya ia menceritakan apa yang terjadi setelah buku2 itu. Anak-anak James masih di Thirsk: Jim jadi dokter hewan dan Rosie jadi dokter. Rumah itu dijadikan museum sejak 1995. Juga Margaret menanyai bagaimana orang dari ujung dunia yang lain ini bisa menemukan Skeldale House. Haha, keajaiban Internet.

Akhirnya aku diperkenankan menekan bel. Rrrrrring. Tetap tak ada anjing menyalak. Kami harus membuka pintu sendiri. Di dalam rumah, ruang-ruang dipelihara seperti aslinya: ruang makan resmi, ruang keluarga, ruang obat2an, ruang operasi, ruang sarapan, dan gang ke ruang-ruang di belakang. Terbayang Tristan mengendarai sepeda di gang kecil itu.

Semuanya tampak seperti mimpi yang mewujud keluar dari buku yang kubaca dan kubaca lagi bertahun-tahun. Tak ada montir tua menunggu di belakang. Tapi aku boleh mengendarai Austin tua milik James, asal tak melebihi kecepatan 0 mph.

Di bagian belakang, sebuah ruangan disiapkan untuk mengenal James lebih pribadi. Ini sering aku blog juga. Nama asli James Herriot adalah James Alfred Wight, dipanggil Alf, lahir di Sunderland tapi tumbuh di Glasgow. Ortunya memilih Glasgow untuk membangun keluarga dan mendidik anak dengan budaya yang baik. Alf menyukai musik klasik dan gemar menulis buku harian. Kagum dan terpukau aku membaca buku harian Alf muda yang diisi setiap hari. Namun seorang profesor datang ke sekolahnya dan membuatnya mendadak ingin mendalami sains dan menjadi dokter hewan. Ia berkuliah di Glasgow, tempat para mahasiswa tak serius berkuliah. Tapi akhirnya ia lulus, sempat bekerja di Inggris Utara, lalu pindah ke Yorkshire, pada seorang dokter hewan bernama Donald Sinclair di kota Thirsk. Yorkshire, lingkungannya, penduduknya, tantangannya, membuat Alf betah di kota ini, hingga menikah dan membesarkan anak2nya. Serial buku Herriot dijamin membuat kita memahami mengapa ia tak ingin pergi dari sini.

Ia menikmati hidupnya. Masih menikmati musik klasik, menulis buku harian, mendidik anak-anaknya. Tapi kerja keras tak selalu menghasilkan uang. Tabungannya hanya £20 saja. Ia jadi punya ide mengemas buku hariannya jadi buku. Joan, istrinya, berkomentar: tak ada orang yang mulai menulis pada umur segini. Tapi ia menulis, dan setelah beberapa tahun ditolak, akhirnya bukunya terbit dan sukses di kedua sisi Atlantik, lalu diterjemahkan ke berbagai bahasa, termasuk Bahasa Indonesia.

Menembus ke ruang sebelah, yang sebenarnya sudah bagian dari rumah tetangga, sebuah pesawat telefon hitam berdering. Serasa mendengar hardikan Donald a.k.a. Siegfried, “Pick up the phone!” aku mengangkat telefon itu. Langsung terdengar suara petani di ujung sana, menyerocos dengan dialek entah apa, mengeluhkan kondisi ternaknya, dan langsung membanting telefonnya. Kuletakkan telefon perlahan. Membeli topi biru, kami berjalan ke sekitar Thirsk. Marketplace dikelilingi toko yang ramai: toko-toko buku, kafe, toko manisan (hey, mungkin ini tempat si kucing Alfred yang harus dioperasi mengeluarkan bulu lebatnya dari dalam lambung itu), bank-bank.

Terus ke luar, sebuah jembatan membentang di atas sungai. Sungai Darrow, kata James di bukunya. Di baliknya: rumah-rumah dari batu bata merah; dan diseberangnya: kembali lembah-lembah dan bukit-bukit dengan hewan-hewan ternak yang dilepas di atas padang rumput luas.

Hidup tak tampak rumit di sini. Sekilas aku jadi membayangkan spiral besar yang sedang kita bangun di Indonesia, menumbuhkan kreasi digital, meningkatkan kebutuhan akan akses digital, menjadikan itu alasan untuk berinvestasi membesarkan dan menganekaragamkan pipa-pipa digital, lalu mengisinya dengan menumbuhkan kreasi digital lagi. Sungguh hidup yang jauh berbeda. Tapi seperti juga James, aku memilih untuk menjalani setiap bentuk dan variasi kehidupan, menikmatinya setiap keunikannya dengan rasa sayang, menjelajahi setiap rasa penasaran kita, dan terus rajin menulis ;). “Jump in,” teriak sopir bus ke arah Liverpool itu. Kami lompat masuk. Kembali ke York.

Le Royaume Uni

Alkisah, Presiden Blogger Indonesia 2009, Iman Brotoseno mendadak menanyai apakah aku berminat terbang ke London. Mungkin keseringan mendengar mars Rule Britannica, aku langsung menjawab dengan SMS satu kata: Deal. Lalu Mas Iman merinci syarat dan ketentuan. Air Asia akan menyediakan tiket penerbangan, dari Jakarta-Kualalumpur, dan Kualalumpur-London, dan arah balik. Tapi hanya itu yang akan disediakan. Pajak, akomodasi, visa, dll, harus ditanggung sendiri. Dan seterusnya. Bagian ini sudah aku ceritakan di blog satunya.

Aku meluangkan hanya beberapa jam untuk membuat rencana perjalanan. Pekerjaan berikutnya adalah mengajukan visa ke UK. Syarat-syarat terdengar berat, tetapi ternyata tak sulit dilalui. Lalu aku mulai memesan tiket kereta api, bis, hingga akomodasi hotel. Konon, terutama untuk kereta api, tiket kereta api jauh lebih mahal jika kita memesan mendadak atau membeli di tempat. Tiket pesawat diperoleh setelah pajak-pajaknya dibayar. Pihak-pihak Air Asia sangat ramah dan cekatan membantu kami mengurus tiket-tiket ini.

Kami berangkat di pertengahan April. Tapi di tanggal yang salah. Tak satu hari lebih cepat atau satu hari lebih lambat dari ditutupnya Stansted dan kemudian seluruh airport di UK dan kemudian seluruh airport di mayoritas negeri di Eropa, akibat abu dari letusan gunung Eyjafjallajökull di Iceland. Kami sempat terdampar di Kualalumpur tanpa informasi yang memadai. Setelah beberapa hari di KL, akhirnya kami kembali ke Indonesia. Setelah abu mereda, perjalanan direncanakan kembali. Tak semudah rencana semula. Semua tiket kereta api dinyatakan hangus, tiket bis akhirnya dinyatakan hangus juga, tetapi akomodasi hotel bisa dijadwalkan kembali. Rescheduling tiket di Air Asia amat sulit. Tapi kami tertolong oleh PIC yang menangani sponsorship perjalanan ini. Namun, karena tiket Jakarta-Kualalumpur telah kami pakai, kami harus membeli kembali tiket baru Jakarta-Kualalumpur.

Rencana final perjalanan ini (Revisi D) adalah seperti ini: Stansted -> Cardiff -> Coventry -> York & Thirsk -> London -> Stansted

Rincian rencana per tanggal:

  1. Stansted – London – Cardiff dengan coach. Menjelajahi kota Cardiff dan menginap di Ibis Cardiff.
  2. Pagi masih di Cardiff. Lalu coach Cardiff – Birmingham. Berjalan-jalan sebentar di Birmingham, lalu naik bis atau kereta lokal ke Coventry. Menginap di Ibis Coventry Centre.
  3. Menikmati hari di Coventry.
  4. Berjalan2 ke luar kota Coventry (Warwick, Leamington, Stratford, atau lainnya). Malam dengan coach pergi ke Leeds lalu ke York. Menginap di Ibis York Centre.
  5. Pagi di York, lalu dengan transport lokal ke Thirsk. Hello Darrowby. Sore balik ke York.
  6. Pagi di York, lalu dengan coach ke London. Menginap di Wisma Siswa Merdeka :).
  7. Ke Greenwich dan berkeliling London.
  8. Pagi meneruskan menjelajah London. Sore ke Stansted, lalu terbang meninggalkan UK.
  9. Sampai di Jakarta.

Ini waktu yang menarik untuk berada di UK. Rakyat di sini tengah menyiapkan diri menghadapi pemilu besok. Diperkirakan akan terjadi peralihan kekuasaan dari Partai Buruh ke Partai Konservatif lagi. Mudah-mudahan ini tak menjadikan Inggris sekaku zaman aku pertama kali menjejakkan kaki di sini. Udara musim semi menarik. Suhu masih dingin menggigilkan. Sinar matahari langsung akan menghangatkan. Tapi selapis awan tipis atau atap penghalang cukup untuk menghilangkan hangatnya radiasi, dan mengembalikan kita ke dinginnya suhu udara. Bunga-bunga sudah bermekaran beraneka warna di setiap kota. Tupai-tupai sudah mulai berlompatan di taman mencari makan (makanan simpanan musim dingin sudah habis atau rusak, sementara biji baru belum banyak tumbuh di pohon). Penduduk dan turis sudah meramaikan kota dengan keceriaan. Waktu sudah disetel ke summertime (UCT +1 atau WIB -6). Pun matahari baru tenggelam di atas pukul 20:00.

Beberapa tweet account yang memberikan info tentang kota atau negeri tujuan jalan-jalan ini:

So, here we are!

Coventry

Coventry menyambut dengan aroma bekunya yang khas dan akrab. Cukup menyentakku, menghadirkan ilusi seolah aku baru meninggalkan kota ini beberapa bulan lalu. Banyak yang nampaknya terbekukan waktu: gedung dengan label yang sama, teks yang sama, aroma yang sama, dan nada yang sama. Mesin jaguar di Q Block, penjaga KFC, hingga matahari yang belum terbenam pukul 20:00.

Tapi sebenarnya banyak yang berubah. Lower precinct yang dulu direnovasi itu, kini sudah jadi mall yang ramah, menyatu dengan upper precinct yang tak berubah itu. Konon inilah pedestrian precinct pertama di Inggris, yang kemudian banyak ditiru kota lainnya. Millenium arc juga sudah selesai, menambah menarik kawasan sekitar Pool Meadow dan Museum Transportasi.

Coventry pernah jadi kota keempat terbesar di Inggris, setelah London, Norwich, dan Bristol. Sempat tumbuh dari industri wool dan tekstil, ia beralih jadi raja industri mekanik: jam tangan, sepeda, hingga mobil. Namun industri persenjataannyalah yang membuat kota ini habis diluluhlantakkan Luftwaffe tahun 1940.

Kota-kota di sekitar Coventry menampilkan kecantikan masa lalu. Warwick dengan tembok megah dan kastil raksasanya; Leamington dengan taman luas dan gedung anggun bernuansa krem; Stratford-upon-Avon dengan beraneka gaya kecentilan abad2 lalu. Tetapi bom-bom dari Jerman membuat Coventry kehilangan banyak dari masa lalu itu. Namun, seperti seekor phoenix, ia bangkit dari abu kehancurannya, membangun diri sebagai kota modern.

Beberapa situs menandai masa-masa dibangunnya Coventry saat itu. Belgrade Theatre dibangun atas sumbangan rakyat Yugoslavia, karena saat itu Coventry masih harus membangun instalasi vital. Patung-patung rekonsiliasi menunjukkan tiadanya minat mengungkit luka dan lebih memilih bekerja akrab meningkatkan harkat. Dan warna multikultural Coventry adalah warna asali yang membentuk kota ini.

Tentu aku mengawali jelajah Coventry dari Coventry University. Kampus berlogo phoenix ini menjadi simbol kota Coventry yang menjadi kuat oleh kemampuan dan kepeloporan teknologi. Lanchester library, technopark, gedung Jaguar (ruang kuliahku dulu), hingga kantor pusat dengan penjaga yang extra ramah. Logo baru (yaitu logo lama yang dicerminkan) kini menghiasi hampir semua gedung di kampus ini.

Herbert Museum, yaitu pusat budaya dan sejarah Coventry, jadi tujuan berikutnya. Kebetulan ada pameran tentang asal usul Coventry di sini; dari masa prasejarah Coventry, pembentukan kota dan kisah Lady Godiva, perang saudara dan revolusi industri, hingga hancur dan lahir kembalinya Coventry.

Barulah kemudian city centre dan kawasan precinct. Dan kemudian kawasan lain di sekitar kota. Dan berakhir dengan kunjungan ke kota-kota di sekitar. Stratford-upon-Avon dengan puluhan angsa putih yang besar namun lincah di sungai Avon, Warwick dengan kastilnya nan megah dan fantastik, dan Leamington dengan tupai-tupai imutnya. Lalu, Coventry kembali harus ditinggalkan.

Coventry menginspirasi untuk bergerak, berinovasi kreatif, berkomitmen pada kejujuran ilmiah, dan terus maju ke depan; bukan untuk terus berada di masa lalu atau melamuni masa kini. Maka kunjungan ke Coventry belum selesai. Kita terus berada di Coventry justru saat kaki kita melompat jauh darinya, dan kekuatan kreatif kita mewarnai dunia-dunia yang terus kita jelajahi.

Aplikasi Visa UK

Aku sedang mempersiapkan kunjungan ketiga ke UK. Untuk kunjungan pertama, tahun 1995 (wow), ada pihak2 yang berbaik hati menguruskan visaku. Dan untuk kunjungan kedua (2000), aku dapat backing dari British Council, jadi bisa dapat visa gratis dan mudah, biarpun tetap harus dicereweti petugas di balik loket kaca di konsulat UK di Jakarta. Untuk kunjungan ketiga ini, aku harus mengurusi sendiri. Tapi aku beruntung :).

Pun tahun 2000 menunjukkan atmosfir yang berbeda dengan tahun 1995. Mudah2an bukan saja karena sejak 1997 Partai Buruh mengambil alih administrasi dari Partai Konservatif, tetapi karena UK merasa perlu menampilkan diri lebih ramah dan empatik ke dunia baru. Gerbang imigrasi yang di tahun 1995 tampak angker, di tahun 2000 berkesan amat ramah. Konsulat yang di tahun 2000 masih tampak angker, kini tak perlu lagi kita kunjungi.

UK menyerahkan administrasi pengurusan visa ke pihak ketiga. Pun dianjurkan (di Indonesia: DIHARUSKAN) untuk mengunjungi website UKVISAS.GOV.UK sebelum mulai mengurus visa. Untuk warga Indonesia yang tinggal di Indonesia, kepengurusan visa harus melalui PT VFS Services Indonesia. Banyak keuntungan pengurusan melalui pihak ketiga ini. Dari sisi warga, kita akan menghadapi customer service sebuah perusahaan swasta, tidak lagi harus menghadapi pegawai sebuah birokrasi. Dari sisi konsulat, mereka bekerja lebih efisien dan aman jika tidak harus banyak menerima tamu secara langsung.

Di Jakarta, untuk mulai mengurus visa ini, kita harus mengunjungi web VFS Services. Kita harus mengisi formulir aplikasi visa secara online. Form kosong memang disediakan, dan bisa diunduh untuk diisi. Tetapi, untuk mengurangi kemungkinan salah baca dll, kita tidak boleh memasukkan form ini. Kita harus mengisi formulir online, lalu mencetaknya, dan menandatanganinya. Formulir ini panjang :). Dan panjangnya bervariasi sesuai kebutuhan kita berkunjung ke UK. Tapi kita dapat mencicilnya dalam waktu hingga 1 minggu. Diisi, disave, diload lain waktu, diteruskan diisi, disave lagi, dst. Agar lebih cepat, aku mengisi form ini di hari libur, tanpa interupsi, sambil mendengarkan mars Rule Britannica dari Wagner. Hey, ini buat motivasi!

Berikutnya adalah dokumen pendamping. Pasfoto berwarna dengan latar kelabu muda atau krem, dan wajah tanpa senyum — haha :). Ukuran 3½ × 4½ cm — ini angka aneh, andaipun dijadikan inci. Dokumen pendamping boleh diisi selengkap mungkin, plus fotokopinya: passport (termasuk passport sebelumnya), slip gaji, rekening bank, deposito, surat tanah, SK atau surat dari perusahaan, kartu keluarga, dll. Ini bukan candaan loh :). Berhubung aku lagi mood mengumpulkan dokumen gituan, aku copy semua ke kertas dengan ukuran seragam A4, trus aku masukkan binder, yang bikin kumpulan dokumen itu jadi mirip buku biografi. Inggris memang bangsa penjajah yang selalu ingin mengubah gaya hidup kita menjadi teratur seperti layaknya bangsa yang harus diatur. Tapi aku menang, aku bisa lebih gila :).

Selesai mengkoleksi dokumen, kita harus kembali ke situs VFS Services untuk membuat appointment untuk menyerahkan dokumen2. VFS berada di Plasa Abda di daerah Sudirman, Jakarta. Kita sebaiknya hadir tepat waktu. Bawa KTP atau SIM asli, untuk diserahkan bulat2 ke resepsionis di Ground Floor, ditukar karcis MRT untuk melaju ke Lt 22, dan di sana antri lagi. Antrinya cukup lama, karena petugas memeriksai dokumen-dokumen cukup seksama — memastikan kelengkapan. Kita tidak boleh menghidupkan notebook atau telefon — jadi tidak ada Twitter dan benda2 menarik lainnya. Membawa buku dalam bentuk kertas amat dianjurkan :). Dan di akhir penantian, petugas dengan akrab memanggil kita lalu dengan ramah mendiskusikan dokumen-dokumen yang kita masukkan.

Seluruh dokumen akan diserahkan ke Konsulat UK, dan hanya passport yang akan dikembalikan. Jadi pastikan tidak ada dokumen penting yang terbawa — selain fotokopian. Setelah dinyatakan lengkap, kita boleh membayar biaya visa. Cukup mahal. Untuk visa turis jangka pendek, kira-kira Rp 1.005.000,- dan untuk visa pelajar Rp 2.600.000,- :). Biaya ini diambil Konsulat UK sebagai biaya processing visa. Andaipun visa ditolak, biaya processing ini tak dikembalikan. VFS sendiri memungut Rp 25.000,- untuk service yang diberikan kepada kita. Tapi VFS berbaik hati untuk menyuruh kita melengkapi dokumen dll jika belum lengkap atau dirasa bisa mengakibatkan visa ditolak. Jadi ini lebih baik daripada saat kita submit langsung ke Konsulat, dan bisa ditolak (plus kehilangan uang) hanya gara2 dokumen tidak lengkap.

Lalu pemeriksaan biometri. Ini cuman berarti kita diambil foto dan sidik jari di ruangan berpemandangan indah. Wow, kita bisa lihat Istora Senayan nyaris dari atas. Tapi gak boleh lama2. Kita langsung didepak pulang oleh petugas, sebelum sempat memasang tenda di ruangan ini.

VFS akan mengirimi kita SMS dan mail. Pertama adalah notifikasi saat visa kita sudah dikirimkan ke Konsulat. Kedua, notifikasi saat passport sudah boleh kita ambil. Aku sendiri cukup beruntung: visa bisa diambil kurang dari 2 hari setelah dokumen diserahkan ke Konsulat.

Tentu kita mengambil passport di VFS lagi di Plasa Abda. Visa versi tahun 2010 ini berbeda dengan visa sebelumnya. Di tahun 1995, visanya kecil berwarna merah. Di tahun 2000, visa berwarna cerah berukuran sehalaman passport. Di tahun 2010 ini, visa berwarna gelap mirip visa Eropa, tapi dilengkapi foto.

Setelah passport selesai, VFS masih mengirimi SMS ketiga, menyatakan bahwa visa sudah diambil. Haha :). Ini barangkali perlu buat yang visanya minta diambilin keponakannya :).

Sementara itu, ada reporter Northern Echo membaca blogku yang dalam bahasa Inggris. Dia langsung melakukan penjajagan untuk interview di Thirsk, sekaligus bikin foto2. Baca situs Northern Echo, aku bener2 merasa hidup di zaman Herriot: sebuah koran lokal yang pemberitaannya sekitar warga lokal yang bermasalah dengan kuda, anjing, dll. Barangkali kedatangan turis blogger dari negara penghasil tweeter paling banyak se-Asia ini dianggap pantas juga jadi berita. Aku harus baca buku Herriot lagi untuk mencoba menjawab pertanyaan sang reporter dengan pelafalan ala Yorkshire :). Reckon it’s allus a piece o’ t’awd nonsense, Sorr.

Plus kali ini mendengarkan satu mars lagi dari Wagner: Kaissermarsch. Ini adalah komposisi yang diperbincangkan James Herriot dan Siegfried Farnon di awal jumpa mereka di Skeldale House, Darrowby (Thirsk).

© 2026 Kuncoro++

Theme by Anders NorenUp ↑