Page 57 of 180

Gagah

Mild und leise wie er l?chelt, wie das Auge hold er ?ffnet Seht ihr’s, Freunde? Seht ihr’s nicht? Immer lichter wie er leuchtet, stern-umstrahlet hoch sich hebt? Seht ihr’s nicht? Wie das Herz ihm mutig schwillt, voll und hehr im Busen ihm quillt? Wie den Lippen, wonnig mild, s??er Atem sanft entweht Freunde! Seht!

“Anda bisa lihat, kami sudah berusaha maksimum, tapi kondisi beliau makin turun saja,” kata dokter itu, dingin, lebih dingin dari udara ruang CCU itu. Masih terbayang suara yang sama pagi itu mengingatkan untuk tidak memindahkan Papap ke RSPAD atau ke manapun, dengan alasan bahwa kalau kondisi beliau jadi kritis di jalan, tidak akan ada dukungan medis yang memadai. Tapi di akhirnya di ruang ini pun, dalam kondisi kritis, tidak ada juga dukungan medis yang bisa dia berikan. Dokter hanya manusia, yang juga terkungkung tembok jahat RS Borromeus ini. Shalat malam yang belum selesai kulaksanakan, kuteruskan di ruang CCU ini, dengan wajah yang terus memandangi wajah resah pahlawanku yang masih mencoba terus berjuang. Resah, mendesak, terus berjuang. Tahajjud kuselesaikan. Tanpa ampun layar monitor di atas menampilkan angka-angka yang membuyarkan optimisme. Aku tak perlu optimisme. Aku hanya perlu dzikir: pintu yang membuka batas antara makhluk dan khaliknya, yang menghilangkan batas antara kelemahan manusiawi dan kekuatan tanpa batas dari Rabb-nya, yang mengalirkan kasih sayang ilahiah ke setiap titik ruang waktu di semesta. Dzikir mengalir. Shalawat. Dan doa-doa.

Namun angka-angka itu tidak lagi asimptotik. Mereka mendadak terjun bebas. Aku manusia biasa, lengkap dengan kegentaran juga. Kucoba lihat kembali wajah pahlawanku. Ajaib, tidak ada lagi keresahan. Yang ada hanya ketenangan. Kemantapan. Kucium dahi pahlawanku, masih terasa panas. Kulafadzkan asma ilahi terus menerus. Dan grafik di monitor menampakkan garis lurus. Masih belum putus asma ilahi kulafadzkan. Gagah sekali wajah pahlawanku. Waktu menunjuk pukul 23.17 WIB, 16.17 GMT.

Selanjutnya adalah urusan manusiawi lagi. Bertelefon ke keluarga, SMS ke rekan2 dekat, mail satu kalimat ke Blogger (sempat2nya). Juga urusan administrasi. Pihak RS terang2an tidak mau lama2 lagi dibebani kami. Sambil berurusan dengan administrasi, aku lihat running text di TV: Yasser Arafat meninggal dunia. Ya Allah, Kau panggil juga pahlawanku yang lain. Sempat ngelamun: kira2, apa yang diperbincangkan Papap dengan Yasser Arafat di sana sekarang? Tapi lamunan tak bisa lama. Ambulance segera menjemput kami ke Cimahi.

Udara Cimahi masih beku, waktu keluarga dan tetangga siap memandikan Papap. Aku bersiap, mencoba tabah melihat wajah gagah itu lagi. Aneh, wajah itu sudah berubah. Kali ini beliau bisa tersenyum. Dan terus tersenyum selama dimandikan dengan kebekuan air Cimahi itu. Jadi ingat, aku nggak sengaja menggumamkan “Mild und leise wie er l?chelt” dari Tristan und Isolde terus menerus beberapa hari di RS sambil menunggui. Aku sisiri rambut beliau untuk yang terakhir kali. Cakep, gagah, dan masih dengan senyum. Lalu kafan menutupi wajah bersenyumnya.

Waktu terus mengalir. Tamu-tamu yang simpatik. Shalat, doa, dan shalawat. Upacara dan tembakan salvo. Penghormatan terakhir.

Suatu hari aku akan menyusul, Pap. Bisakah aku juga menyusul dengan kegagahan dan dengan senyuman?

Tamu dari Tutugan

Lama nih nggak in touch dengan Pesantren Duriyat Mulia.

Tahu2, di keramaian di bawah tenda besar di acara Buka Bersama Divre 3, Pak Enjang meneriaki aku (beliau emang suaranya keras sih): Duriyat Mulia diundang juga tuh. Ostosmastis, aku melempar pandangan berkeliling. Dan tampaklah sesuatu yang mirip mu’jizat: Ustadz Nurjaeni sedang senyum lebar, dikelilingi pasukan santri mungil berpedi hijau muda. Subhanallah!

Sambil nggak lepas dari acara, kita jadi terus bisik2 mengupdate info. Inti ceritanya, kayaknya aku harus bikin visit ke pesantren di lereng pegunungan di sekitar Pasirjambu itu lagi deh. Mudah2an bisa punya kesempatan.

Naprevoda

Hari ini rekan2 kita di US akan melakukan Pemilihan Presiden. Blogger menamainya NaPreVoDa :). Kita sambut Pemilu di US dengan menyajikan typical American voters berikut ini. Enjoy!

While looking at a house, my brother asked the real state agent which direction was North because, he explained, he didn’t want the sun waking him up very morning. She asked, “Does the sun rise in the North?” When another person jumped in and explained that the sun rises in the East (and has for some time), she shook her head and said, “Oh, I don’t keep up with that stuff.”
.. And then she voted!


I used to work in technical support for a 24×7 call center. One day I got a call from an individual who asked what hours the call center was open. I told him, “The number you dialed is open 24 hours a day, 7 days a week.” He responded, “Is that Eastern or Pacific time?” Wanting to end the call quickly, I said, “Uh … Pacific.”
.. And then he voted!


So my colleague and I were eating our lunch in our cafeteria, when we overheard one of the admin. assistants talking about the sunburn she got on her weekend drive to the shore. She drove down in a convertible, but “didn’t think she’d get sunburned because the car was moving.”
.. And then she voted!


My sister has a lifesaving tool in her car. It’s designed to cut through a seat belt if she gets trapped. She keeps it in the passenger side door’s map pocket.
.. And then she voted!


I was hanging out with a Liberal friend of mine when we saw a woman walk by us with a nose ring attached to an earring by a chain. My friend said, “Wouldn’t the chain rip out every time she turned her head?” I had to explain to her that a person’s nose and ear remain the same distance apart no matter which way the head is turned!
.. And then she voted!


My girlfriend and I were picking up some sandwiches from the sub place last week and she asked the clerk which one of two sandwiches was better. The clerk didn’t have an opinion but did say that the first sandwich was more expensive. My girlfriend got a quizzical look on her face and asked, “If that’s the case, why are they both listed with the same price on the menu?”
To this, the clerk responded, “I don’t think they tax the turkey.”
.. And then he voted!


I couldn’t find my luggage at the airport baggage area. So I went to the lost luggage office and told the woman there that my bags never showed up. She smiled and told me not to worry because they were trained professionals and I was in good hands.
“Now,” She asked me, “has your plane arrived yet?”
.. And then she voted!

So if these people are going to go vote, you better go vote too!

Awan dan Langit Lagi

Nerusin cerita bulan Juli: koleksi gambar awan dan langit, khususnya di sekitar Griya Caraka.

Cercah cahaya berbentuk garis biru itu sebenernya gampang dijelaskan. Tapi memang yang kayak gitu nggak setiap hari bisa kelihatan. Gambar di atas udah disetel gamma-nya biar lebih kelihatan kontras. Versi lain yang gamma-nya tidak disentuh bisa dilihat di bawah ini:

In Memory: Munir

Baru di beberapa tahun terakhir hidupnya, Munir bisa punya mobil. Sebelumnya kita lihat foto2nya bersama sepeda motor yang nggak baru2 amat. Konon motor itu pernah hilang. Dicuri. Tapi abis malingnya tahu itu motor punya Munir, motor itu dibalikin lagi. Trus ilang lagi. Dicuri lagi. Kali ini nggak balik. Munir cuman berkomentar “Barangkali yang ini malingnya lebih miskin lagi.” Trus cari motor lagi.

Kenapa kalau tokoh macam Derrida meninggal, aku sempat nulis di sini, tapi nggak waktu Munir meninggal? Fiu, ini tahun 2004. Aku kehilangan kemampuan untuk nulis sesuatu yang terlalu personal lagi di sini. Emang pernah aku nulis sesuatu tentang rumah, kantor, my real life, apa pun? Nggak bisa aja. Juga nggak bisa waktu bom meledakkan gedung2 di kawasan Kuningan, Jakarta. Juga nggak bisa waktu aku dapat pindah departemen dua kali tahun ini (di divisi yang sama). Derrida … waktu aku pertama kali baca2 tulisan dia, aku bahkan membayangkan penulisnya udah meninggal :). Ternyata memang trus baca bahwa doi masih hidup. Malah hampir ketemu, kalau kebagian tiket di Loughborough itu (dan memang takdir memihak pilihanku yang pertama, jadi dia stayed invisible sampai meninggal beneran). Tapi Munir?

Munir adalah tokoh yang mengalir pada saat2 paling genting, khususnya di sekitar 1998, waktu kita nggak tau mau jadi apa negara dan orang-orang di dalamnya besok pagi. Munir bukan pakar HAM yang cuman ahli koar-koar. Dia betul-betul membuktikan diri sebagai pahlawan HAM. Konon bukan pahlawan yang langsung jadi pemberani, tapi pahlawan yang setiap detiknya selalu berusaha menaklukkan rasa takutnya. Berisik. Cekatan. Cerdik. Nekat. Membongkari bagian paling busuk republik ini. Memberikan nama harum bangsa ini di seluruh dunia, bahwa bangsa ini tidak semuanya jadi anggota konspirasi busuk.

Dan suatu hari, sebuah SMS membuatku merasa kehilangan. Kehilangan yang terlalu sulit didefinisikan. Trus … aku harus nulis apa?

Apakah Munir bisa digantikan?

« Older posts Newer posts »

© 2026 Kuncoro++

Theme by Anders NorenUp ↑