Page 47 of 180

Merdeka!

Perjalanan ke Malang ternyata punya efek samping lain: membuat aku kembali merasa dekat dengan Semangat Tujuh Belas Agustus. Sepanjang perjalanan dengan KA Gajayana (tanggal 14), ditayangkan film Tjoet Nja’ Dhien (tumben ada film bermutu di KA), memaparkan kisah perjuangan Ra’jat Nanggroe Atjeh zaman Teuku Umar dan Cut Nya Dien, menghadapi ekspansionis Belanda yang liciknya di luar kemanusiaan. Pun tanpa menyebut tokoh semacam Snouck Hurgronje. Tanggal 15, ada kado istimewa bagi Republik ini dengan ditandatanganinya Pakta Damai dengan GAM dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dan hari itu aku bisa dengar aubade, yang directly bikin aku kembali ke zaman SMP waktu aku mengajukan diri ikut aubade, dengan lagu-lagu yang seluruhnya sama dengan yang dinyanyikan hari-hari ini di alun-alun Malang: “Hiduplah Indonesia. Hiduplah pandu nusa yang gagah perwira.”

Jadi, tanpa perlu menohok atau menghinakan bangsa lain, tanpa perlu terpaku pada sejarah, ayo kita rayakan kemerdekaan negara kita, kebersamaan kita, kesatuan kita, dan semangat kita untuk bersama-sama mencapai kejayaan bagi negeri ini.

Merdeka!

Hotel Tugu

Restoran di tengah hotel itu bersuasana tenang. Hawa sejuk Malang memberikan ketenangan dan kesegaran. Tapi … tchuttttt … sesosok makhluk kecil tampak melesat. Hey … tupai lagi! Tupai! Belasan tahun tinggal di Malang dulu, aku belum pernah lihat tupai di alam bebas di Malang. Si tupai melesat ke puncak pohon kelapa di tepi kolam renang. Menambah satu lagi keajaiban di tempat ini.

“Harta karun tersembunyi di Indonesia,” begitu review dunia internasional atas tempat penginapan unik ini: Hotel Tugu Malang. Nggak care sama urusan bintang, tapi membentuk diri sebagai boutique hotel. Nggak care sama kemegahan di luar, tapi menggeber segala bentuk artistika di setiap sudut di ruangan. Setiap ruang pun jadi memiliki keunikan. Kita bisa berwisata bahkan tanpa keluar dari hotel. Konon memang pemilik merangkap pendirinya merupakan kolektor seni yang nggak main-main.

Tapi hotel ajaib ini bukan cuma mengandalkan koleksi artefak budaya. Kalau kita sering keliling hotel di Indonesia, terasa ada yang unik dalam layanan yang kita rasakan.

Pertama, kita dikenal sebagai nama. Dari hari pertama pun, para crew memanggilku bukan cuman “Pak” tapi “Pak Kuncoro” — seolah aku udah beberapa hari atau beberapa minggu di sana.

Kedua, mereka nggak memaksa menunjukkan KTP. Cukup kartu nama. Yang dibutuhkan kan cuman cara pengejaan nama yang benar. Plus alamat, nomor telepon, semacam itu. Aku suka risi kalau orang lihat-lihat KTP-ku. Kenapa orang harus tahu data macam tanggal lahir, agama, dll? Ini bukan rumah sakit atau asuransi :). So, cuman kartu nama. Nggak lebih. Nggak juga kewajiban mengisi form, kayak di film Mr Bean :).

Ketiga, semua peralatan berfungsi. Hey, ini Indonesia. Bahwa semua peralatan berfungsi itu udah jadi keistimewaan yang langka. Nggak ada yang nggak jalan di kamar mandi. AC diset dengan baik dan nggak berisik. TV, fridge, sampai telepon. Mini bar tidak dikenai harga yang gila-gilaan. Harganya normal sekali. Ini juga keajaiban.

Dan coba titipkan kamar untuk keluar sebentar. Waktu kita kembali, kamar dan tempat tidur kita sudah akan tertata rapi. Baju yang nggak sengaja kita geletakkan di kursi pun jadi terlipat rapi. Khusus buat malam hari, selain kamar dan tempat tidur jadi rapi, juga ada pesan selamat tidur di atas selimut.

Dan semuanya dalam kewajaran yang sederhana. Tidak ada yang nampak berlebihan atau dibuat-buat. Kita bisa jadi diri kita sehari-hari. Nyaman, senyaman jadi diri sendiri :).

Trus aku jadi nanya sama salah seorang crew: “Itu tupainya memang dipelihara ya Mas?”
“Tupai yang mana?”
“Itu, yang kadang kelihatan dari restoran. Suka lompat ke pohon-pohon.”
“Oh. Di depan kan banyak pohon besar. Kayaknya tupainya dari sana.”
Bahkan tupainya pun nggak dibuat-buat.

Malang 65111

Setelah satu siklus bintik matahari, inilah dia: Kota Malang. Waktu kaki menjejak turun dari KA Gajayana, barangkali rasanya kayak Herriot waktu tiba di Darrowby: gamang, dihentak justru oleh kesunyian. Stasiun Malang seperti sebuah ejekan: Maaf Mas, kami lupa melakukan perubahan, soalnya Mas juga melupakan kami. Gamang, segamang ketemu keluarga yang bertahun tak bersapa.

Tapi justru di sini aku mau mencari jiwaku.

Ini kota yang membentuk aku, terutama di 65111 (dan kemudian juga di 65145). Meluncurkan aku ke personality yang seperti ini (seasing ini, if you don’t mind); sekaligus menyisakan banyak tanya. Ralat: membangkitkan kembali banyak tanya.

Apakah memang kaitan-kaitan sukmaku dimulai di kota ini? Atau kebetulan saja aku pernah singgah di kota ini, sementara urusan kaitan sukma sesungguhnya tertaut hanya dari sebuah global plan penuh permainan holografis. Aku masih mencari tahu.

Sementara itu, biar artefak-artefak di 65111 menceritakan kisah-kisah mereka sendiri.

Tupai Salabintana

Sukabumi. Adzan subuh pun belum terdengar. Si Pak Haji sudah kerajinan, bagun pagi dan gerak badan. Jadi ikutan bangun, di tengah beku udara Salabintana. Sukabumi beku? Yup, kalau jendela kamar dibuka semalaman kayak aku. Abis subuh, Pak Hajinya bobo, dan aku bingung mau ngapain. Mandi. Bikin review. Matahari enggan terbit. Barangkali karena gunung di sini begitu tinggi. Nggak bawa kopi, dan memang sedang percaya bahwa konsumsi kafein tidak selalu positif.

Tapi akhirnya matahari terbit, dan langsung menyalakan puncak-puncak cemara. Arloji 007 menunjuk pukul 7. Udah boleh ke dining room buat sarapan. Sarapan dengan orang Telkom biasanya disertai perbincangan nggak jauh dari urusan bisnis. Tapi kenapa tidak, banyak hal baru yang harus aku dengarkan dan pahami juga. Kucing-kucing yang bersih terawat mengintai dari bawah meja. Dan chutttt, sekelebat bayangan melesat di balik pohon kapuk. Aku amati dengan mataku yang setajam stupendous man: tupai!

Melesat juga aku ke bawah pohon kapuk. Dua tupai kelabu tengah berlarian secara vertikal ke puntak pohon. Satu melompat ke pohon di sebelahnya. Di sana masih ada dua tupai lagi. Hey, banyak juga. Aku arahkan optical receptorku (d/h mata) ke sekeliling lapangan. Tampak segerombolan tupai dengan lincahnya berlompatan dan berlarian di antara cabang-cabang cemara.

Kamera mengarah. Tapi urung. Olympus ini optical zoomnya cuma 2x. Mau ambil Lumix yang optical zoomnya 12x. Tapi ada rasa sayang meninggalkan dunia tupai biar sekejap. Akhirnya aku nikmati pertunjukan sirkus mereka tanpa ambil gambar.

Tupai di sini nggak jinak. Barangkali karena manusia lebih suka mengganggu tupai daripada membiarkan mereka hidup tenang dan damai.

Konon tupai sebenernya tidak hidup berkelompok. Mereka hidup sendiri-sendiri. Aktif dan lincah, terutama di pagi hari dan sebelum senja. Pasti ada foto tupai di site ini. Tapi itu tupai York, atau barangkali tupai Warwick. Di Inggris, dulu yang banyak adalah tupai merah. Tapi ada pendatang membawa tupai kelabu. Mereka lebih kuat bersaing berebut lingkungan hidup. Tak lama, tupai merah jadi langka. Duh, makhluk imut dan lucu gitu ternyata persaingan hidupnya ketat juga yach.

Udah ah soal tupai. Sekarang …

Blogthings Quizzes

Your Linguistic Profile:

55% General American English
30% Yankee
5% Dixie
5% Midwestern
5% Upper Midwestern
Your Hidden Talent
You’re super sensitive and easily able to understand situations.
You tend to solve complex problems in a flash, without needing a lot of facts.
Decision making is easy for you. You have killer intuition.
The right path is always clear, and you’re a bit of a visionary.
You Are a Frappacino

At your best, you are: fun loving, sweet, and modern

At your worst, you are: childish and over indulgent

You drink coffee when: you’re craving something sweet

Your caffeine addiction level: low

Your Expression Number is 7
Very intelligent, you are usually thinking, introspecting, or analyzing.
You have a good mind, and you are especially good at finding out the truth.
Very little ever escapes your observation and deep understanding.

You tend to obsess over wisdom and hidden truths.
You are likely to become a authority on any subject you undertake.
Operating on a different wavelength, most people don’t know you that well.

Very logical and rational, at times you tend to lack emotion.
So much so, that you often have times coping with emotional situations.
You are not very adaptable – you may tend to be overly critical at times.


You Are A Realistic Romantic

You are more romantic than 70% of the population.


It’s easy for you to get swept away by romance…
But you’ve done a pretty good job keeping perspective.
You’re still taken in by love poems and sunsets
You just don’t fall for every dreamy pick up line!


You Are A Fig Tree

You are very independent and strong minded.

A hard worker when you want to be, you play hard too.

You are honest and loyal. You hate contradiction or arguments.

You love life, and you live for your friends, children, and animals.

A great sense of humor, artistic talent, and intelligence are all gifts you possess.

You are Agonistic

You’re not sure if God exists, and you don’t care.
For you, there’s no true way to figure out the divine.
You rather focus on what you can control – your own life.
And you tend to resent when others “sell” religion to you.

You Are 60% Psychic


You are pretty psychic.
While you aren’t Miss Cleo, you’ve got a little ESP going on.
And although you’re sometimes off on your predictions…
You’re more often right than wrong
So go with your instincts – you know more than you think

How You Life Your Life

You seem to be straight forward, but you keep a lot inside.

You are always tactful and diplomatic. You let people down gently.

You tend to have one best friend you hang with, as opposed to many aquaintences.

Some of your past dreams have disappointed you, but you don’t let it get you down.

Ssst, disclaimer dulu ah, bahwa yang tertulis di sini tidak dijamin validitasnya. Yang bikin kuis juga pada iseng. Geuningan dipasang :). Nggak, cuman iseng ngopi ulahnya Mr GBT.

Kucing Tak Suka Rasa Manis

Kucing dan keluarganya (singa, harimau, macan) memiliki kelainan dibandingkan mamalia lainnya: mereka tidak punya ketertarikan atas rasa manis. Diperkirakan, mereka memang tidak mampu mengenali rasa manis; padahal pengenalan (dan ketertarikan) akan rasa manis digunakan mamalia untuk mendeteksi kalori suatu makanan ;). Xia Li, dari Monell Chemical Senses Center di Philadelphia, meneliti lebih jauh ke genetika keluarga kucing. Nampaknya genetika mereka kekurangan 247 pasang gen yang disebut Tas1r2, yang mengkodekan T1R2, satu dari dua subunit protein yang membuat reseptor rasa manis di sebagian besar mamalia. Li berprasangka bahwa protein itu tadinya berfungsi pada nenek moyang para kucing, tetapi sekarang tidak lagi. Sementara itu, pasangan subunit itu, yaitu T1R3, dapat berfungsi baik.

Dari Monell juga, Joseph Brand mempertanyakan: para kucing itu jadi karnivora karena tak mengenali rasa manis, atau sebaliknya mereka mendisfungsikan gen pengenal rasa manis karena mereka jadi karnivora. Apa pun yang telah terjadi, jangan lagi menamai kucing Anda “Si Manis” — itu bukan pujian yang menarik buat mereka.

Meowwwww.

TAP dan ISOCID [1]

Date: Sat, 23 Jul 2005 15:35:43 +0700
De: Teddy A Purwadhi
Objet: [members-isoc-id] Iuran Keanggotaan ISOC

Rekan,
Sekarang minta komentar dari yang sudah terdaftar di milis ini.

Katagori keanggotaan:

Description# Amount#Effective#Web Enabled:
1: Registered Members # US$75/person/Y#M/D/Y#Y/N
2: Verified Members # US$?/person/Y#M/D/Y/#Y/N
3: Student Members # US$?/person/Y#M/D/Y/#/Y/N
4: Professional Members # US$?/person/Y#M/D/Y#/Y/N
5: Senior Members # US$?/person/Y#M/D/Y#Y/N

Sementara itu dulu, dikasih waktu sampai 31 Juli 2005, ChapAdmin berhak menolak anggota yang tidak memenuhi syarat.

TAP dan ISOCID [2]

Subject: [ISOC-ID] Laporan Meeting di Gedung Cyber
From: Irwan Effendi Sat, Jul 23, 2005 at 12:10 AM

Hari ini, Jumat jam 10:30 pagi, saya menghadiri rapat informal di Gedung Cyber lt. 7, tepatnya lokasi kantor IDC dan ccTLD.

Pembicaraan berkisar tentang bagaimana eks chairman kita, Teddy A P telah memanipulasi publik mengenai sejarah berdirinya ccTLD, yakni dengan mengatakan bahwa rekan Budi Rahardjo diberikan mandat oleh IANA atas rekomendasi APJII, padahal yang dimintai rekomendasi oleh IANA pada saat itu adalah bapak Joseph Luhukay dan bapak Sanjaya dalam kapasitas mereka sebagai pribadi yang pionir kegiatan internet di Indonesia, bukan dalam kapasitas sebagai anggota APJII.

Bagi rekan-rekan yang tidak mengetahui sejarah internet Indonesia, bapak Joseph Luhukay yang sekarang adalah eksekutif Lippo, adalah orang Indonesia pertama yang mengikuti konferensi di internet (silahkan di google untuk detailnya), sedangkan Sanjaya adalah orang yang dikenal aktif di APNIC di awal masuknya internet di Indonesia. ccTLD sendiri dulu awalnya akan dikelola oleh bapak M. Samik Ibrahim yang nota bene adalah mentor bapak Budi Rahardjo, namun mengundurkan diri karena alasan pribadi.

Mengenai tindak tanduk TAP, dulu sewaktu dia non aktif di APJII, ditawari oleh bapak Marcelus untuk mengembangkan Chapter Indonesia di ISOC, yang mana kegiatan awal dan segala informasi teknis diurus oleh Marcelus, sedangkan TAP bertugas mengumpulkan fotocopy KTP untuk charter member. Sebagai catatan, dari 25 orang yang didaftarkan sebagai Charter Member pada saat itu, salah satunya tadi mengatakan sendiri bahwa dia baru sadar bahwa namanya dipakai untuk mendirikan Indonesian chapter sekitar 2 bulan yang lalu.

Selanjutnya, selama dua tahun, TAP sibuk menggunakan nama ISOC untuk mematikan kegiatan-kegiatan APJII dan mempublikasikan bahwa APJII seharusnya tidak mengelola IP, dan bahwa ia ingin mengambil alih pengelolaan IP atas nama ISOC. Saking sibuknya, sehingga tidak mengembangkan organisasi, bahkan tidak membuat mailing list untuk anggota. Mailing list member@isoc-id.org baru dibuat sekitar 4 bulan setelah milis yang ini aktif.

Sekarang, setelah dia kembali di APJII sebagai sekretaris, dia memutarbalikkan semua perkataan dia selagi “ngambek” terhadap APJII dan malah menggunakan nama APJII untuk mengambil alih ccTLD, yang akan disusul dengan mengambil pengelolaan server ENUM (dikatakan sendiri waktu pertemuan terakhir di Tulodong).

« Older posts Newer posts »

© 2026 Kuncoro++

Theme by Anders NorenUp ↑