Page 46 of 180

Toledo

Sebuah tulisan di Kompas mengingatkanku pada kota Toledo. Toledo, nyaris sepuluh tahun yang lalu. Hey, sebelum kaum proletar sekali lagi memprotes acara jalan2ku, aku mau cerita dulu bahwa aku ke sana bukan dengan sterling dari dompetku. Impossible lah yaw. Waktu itu aku sedang belajar FITL with SDH, yang waktu itu masih merupakan ilmu rada baru. Training di Madrid, dan ada kunjungan ke pusat industri Alcatel di Toledo.

Tentu saja industrinya menarik. Tapi aku lagi jarang cerita tentang pekerjaan di sini :). So, abis itu, kita bikin acara kunjungan ko kota budaya Toledo. Salah satu kota tertua di Eropa.

Sebelum masuk kota, kita sempatkan diri mengamati kota dari kejauhan. Dari jauh, yang tampak adalah museum sebesar kota kecil, di bawah terik matahari. Trus bus kami masuk Toledo. Sepasang mata indah mengamati kami turun dari bus. Hmm, bahkan sepuluh tahun kemudian, aku masih bisa melihatnya. Mata yang tidak khas Eropa.

Guide kami (orang Alcatel Toledo) bercerita bahwa kota ini dilindungi oleh Unesco. Salah satu kota tertua di Eropa. Dulunya ibukota salah satu kesultanan muslim di Eropa. Tapi sudah tidak ada lagi muslim di sini. Lalu dia menunjuk ke bekas masjid yang telah dialihfungsikan. Kami diajak ke katedral. Terdengar Konserto Brandenburg ke 4. Hey, waktu itu aku masih suka Bach. Si guide bercerita bahwa kalau orang Islam seperti kami berdoa langsung kepada Tuhan, maka mereka berdoa melalui para saint. Maaf kalau ada yang berbeda pendapat — tapi itu kata guide kami. Banyak ceruk-ceruk yang mewakili tempat para saint, dan orang-orang berdoa di setiap ceruk.

Kembali ke udara segar, aku memutuskan berjalan tanpa guide. Berkeliling lorong yang berlandaskan batu-batu kecil. Menonton para pengrajin emas. Menikmati hiburan lokal. Ke pasar tradisional. Mendengarkan orang yang mengumpulkan sumbangan untuk membantu orang-orang Bosnia. Berbaur bersama deretan turis dari berbagai negara. Dan nggak sengaja ketemu guide kami lagi, tepat waktu makan siang. Hey :).

Kunjungan berikutnya adalah ke Benteng Alcazar. Sekarang jadi museum kemiliteran. Aku udah lupa apa isinya. Barangkali hal-hal yang menyangkut perang dan semacamnya nggak bertahan lama singgah di kepalaku. Tapi aku menghabiskan waktu agak lama juga di dalam sana. Trus keliling lagi menikmati arsitektur kota. Aku bukan tipe turis tukang belanja sih :). Jadi menikmati kota itu udah kenikmatan tersendiri.

Dan sore datang terlalu cepat. Sopir sudah tak sabar mau membawa kami kembali ke Madrid. Enggan meninggalkan kota menarik ini. Tapi bis bergerak, lambat tapi tanpa ampun. Dan sepasang mata indah itu kembali menatapku dari luar jendela.

Dan membuatku sadar bahwa yang indah bukan harus melekat.

To The US People

We share your loss and grieve over the disaster in New Orleans.
It is still fresh in our memory what happened earlier in Aceh.
We understand what kind of sadness and sorrow you are going through,
therefore if there is anything we can do to help, please do not
hesitate to let us know.

Pagi Yang Cerah

Seorang makhluk mungil berulang tahun. Sebenernya nggak mungil bener. Tapi aku selalu mengingat dia sebagai makhluk mungil yang selalu cerdas dan ceria. Dia menemani aku zaman bikin skripsi dulu, sambil bercerita tentang bebek dan makhluk-makhluk ajaib lainnya. Dan aku harus terpaksa banyak bercerita dan menjelaskan apa pun yang dia mau tahu. Tentang langit biru misalnya. Tentang pelangi. Tentang Pol Pot.

Dan waktu aku dalam tekanan besar, yang tidak mungkin diceritakan ke makhluk lucu semungil itu; dia meninggalkan majalah Aku Anak Saleh di depanku. Dan di bagian dalam cover itu tercetak QS Ad-Dhuha. Ini yang terbaca hatiku waktu itu:


Demi pagi yang cerah. Dan demi malam yang kelam.
Tuhanmu tidak pernah meninggalkanmu, dan tidak pula membencimu.
Akhir akan lebih baik daripada awal.
Dan Tuhanmu mengaruniaimu sehingga kamu ridha.
Bukankah Aku mendapatimu sebagai yang tak memiliki pegangan, kemudian menuntunmu?
Bukankah Aku menemukanmu kebingungan, kemudian menunjukimu?
Bukankah Aku menemuimu kekurangan, kemudian mencukupimu?
Maka kepada yang tidak memiliki pegangan, janganlah sewenang-wenang.
Kepada yang meminta, janganlah mengusir.
Dan karunia Tuhanmu, sebarkanlah.
(QS Ad-Dhuha 1-11)

Tentu saja ayat-ayat Ad-Dhuha sering dibaca dalam shalat-shalat kita. Namun dia terbaca berbeda saat kita sedang kehilangan jiwa kita. Teringatkan pada saat-saat lalu di mana tekanan-tekanan memberati hidup, dan Kasih Yang Agung itu memegang tangan kita, menuntun dengan kehangatan, membimbing dengan ramah, dan memberikan cinta tanpa syarat.

Bukan berarti sukma ini langsung jernih. Antidepressant itu belum boleh dibuang juga. Tapi terasa ada yang hangat di hati. Bahwa di balik cobaan dari-Nya yang sekeras ini, ia masih dan terus menjanjikan: pada akhirnya segalanya akan lebih baik daripada awalnya.

Berserah Diri?

Dan tiba-tiba dengan acuhnya dia berguman, “Kamu, Koen, kamu lebih dari mampu untuk mengatasi yang cuman kayak gitu aja.”

“Nggak segampang itu.”

Dia tertawa mengejek: “Kamu cuma lupa sesuatu.”

Aku mencoba menjelaskan, “Aku bukannya tidak berserah diri kepada Allah. Tapi cobaan ini datang dari-Nya. Ia memberi manusia kecerdasan dan kemudian menguji kemampuan manusia memecahkan masalah. Ia mengujiku. Aku nggak bisa menyerah dan menunggu keputusan akhir-Nya. Ngerti nggak sih? Cobaan ini, masalah-masalah ini, tekanan ini, semua dari-Nya. Nggak lucu kan kalau aku menyelesaikannya hanya sekedar dengan mengingat-Nya, berharap pada-Nya. Ngerti nggak sih?”

Dia malah ketawa. “Baru sadar sekarang? Makanya aku bilang apa tadi?”

Sebenernya aku belum ngerti sih …

Seterika Wireless

Hey, anak zaman sekarang :), percaya nggak: sebelum ada listrik, udah ada seterikaan. Wireless pula. OK, tentu saja aku bukan psychic. Tapi abis beberapa hari
yang lalu aku ngebahas tentang seterikaan arang (dalam konteks mengatasi ketiadaan listrik), tahu-tahu tiba-tiba mendadak sekonyong-konyong, sebuah seterikaan arang menampakkan diri di tempat yang paling tidak masuk akal: Toko QB di Plasa Semanggi. Bukan miniatur atau semacamnya.

Konteks perbincangannya, kalau nggak salah, tentang upaya memasang infrastruktur informatika di tempat terpencil. Bukan urusan transmisinya aja tentu, tapi juga
power. Waktu KKN di Nganjuk sih, sempat pasang pembangkit listrik mikrohidro. Tapi mungkin yang semacam itu juga tak terlalu applicable di semua tempat. Nah, di IEEE Spectrum beberapa tahun lalu, dipaparkan bahwa di Vietnam, upaya menyebarkan teknologi informasi ke pedalaman dilakukan dengan bantuan pembangkit listrik tenaga manusia. Generator listriknya berupa genset tanpa BBM yang dikayuh dengan pedal sepeda. Serius. Pakai komputer hemat listrik, tentu. Layarnya jangan CRT. Dan tentu perlu stabilizer merangkap UPS. Accu misalnya. Nggak pingin kan, gara2 yang mengayuh pegal trus koneksi mati.

Trus perbincangan ngelantur jadi soal nonton berita, atau bahkan sinetron, sambil mengayuh generator. Bisa 4 jam, kalau yang ditonton Bollywood. Trus kalau kulkas? Mau 24 jam? Kalau seterikaan? Eh, kan ada seterikaan arang. Gitu deh.

Trus ke mana seterikaannya sekarang ? Hmmm, udah pindah ke rumah :). Kali-kali kalau PLN masih ngeyel menggilir listrik, suatu hari seterika wireless ini kepakai juga. Mudah2an nggak bikin baju bolong2 kena loncatan bunga api arang.

ACCU

Sebenernya sih aku udah nggak sering-sering bikin program. Dan barangkali dalam situasi praktis, bergabung dengan ACCU udah nggak memberikan benefit terlalu besar lagi. Tapi lucunya, dari tahun 2003 kemaren aku masih jadi satu-satunya anggota ACCU yang berposisi di Indonesia. Menghentikan keanggotaan di ACCU bakal menghapus bukan saja namaku, tapi juga nama Indonesia dari ACCU :). Not a big deal, memang. Tapi sayang aja.

Jadi, akhirnya dikorbankanlah beberapa poundsterling buat bergabung kembali dengan himpunan penggemar C dan C++ ini.

Tapi sebenernya, kenapa sih orang Indonesia (lainnya) nggak ada yang berminat jadi anggota ACCU? Kemungkinan besar sih karena harus bayar. Boro-boro ACCU yang sangat spesifik di C++. IEEE yang bidangnya cukup luas aja nggak terlalu banyak diminati para engineer Indonesia. Mungkin kalau digratiskan, baru organisasi itu (atau organisasi dan fasilitas mana pun) akan dipenuhi orang Indonesia.

Alasan lain, barangkali, karena organisasi ini rada serius, dan nggak directly applicable ke kegiatan yang menghasilkan doku. Belajar Visual C++ bisa menghasilkan doku. Tapi memainkan Aspect-Oriented Programming, hmmmm.

Alasan yang lain … pakai kaos berbordir ACCU nggak keren. Dikirain gratisan dari pabrik aki.

God Fearing

Aku masih sering baca bahwa takwa diterjemahkan sebagai “God Fearing” — penterjemahan yang nggak masuk akal bahwa takwa identik dengan takut. Memang kita selalu diingatkan bahwa “Jangan takut pada apa pun, selain kepada Allâh.” Tapi ini adalah guidance internal, yang barangkali nggak salah juga kalau ditulis ulang misalnya jadi “Takutlah pada diri sendiri” atau “Takutlah hanya pada hati nuranimu” yang arti implisitnya hanyalah: jangan takut pada faktor di luar sana. Tuhan tidak di luar sana.

Setiap hari, berulang kita menyebut Allâh sebagai Sang Mahakasih Mahasayang. Di antara satu makhluk dengan makhluk lainnya memang ditumbuhkan juga rasa sayang, rasa kedekatan, rasa kasih. Tapi jarang ditemukan (dan sebenarnya, aku bener-bener belum pernah merasakan) adanya unconditional love yang sebenarnya dari manusia atau makhluk yang mana pun. Kita coba sayangi manusia, dan selalu kita harus menghadapi kekecewaan karena yang kita sayangi ternyata memang cuma manusia. Itu manusiawi — jangan mengharap lebih. Unconditional Love yang sesungguhnya hanyalah Rabb yang mengasuh kita, membimbing kita, menghangatkan hati kita, menguatkan kita, dan selalu menyayangi kita; bahkan setelah sebesar apa pun kedurhakaan yang telah kita lakukan. Unconditional — tidak menghilang, bahkan tidak pernah berkurang sedikit pun.

Takwa, lebih tepat diterjemahkan menjadi keberanian hakiki, karena kita bisa merasakan adanya Unconditional Love yang selalu mengisi kita. Kita berani benar, karena Allah menemani kita selalu. Kita berani mengambil resiko melakukan kesalahan dalam menjalani apa yang kita yakini harus dilakukan, karena sayang Allah selalu dilimpahkan pada kita, tanpa kecuali, tanpa syarat.

Rapuh Kaca

Tajam menatap aku pada matanya.
Tak dapat rapuh kaca itu pisahkan hujam mataku pada sukmanya.
Ini?
Yang selalu menggangguku?
Dengan ejekan dan fluktuasi spekulasi logikanya?

Absurd dan Sinting

Baca catatan tadi malam, suka merasa ajaib juga: kenapa sih aku selalu memaksa menyatakan bahwa hidup itu absurd?

Semesta itu fana, dibentuk dari proses fisika biasa, menghasilkan dunia fana yang berjalan dengan proses fisika biasa. Allah maha pencipta, tetapi mengajarkan manusia untuk hidup dengan mengenali dan mengikuti proses. Malam dan siang diciptakan bukan dengan membuat gelap dan terang, tetapi dengan merakit bumi yang bulat dan berputar dekat matahari pada jarak yang tepat. Makhluk hidup yang beraneka diciptakan dengan mekanisme evolusi genetika yang sepenuhnya matematis semata. Kepribadian dan kemasyarakatan disusun dengan meme yang juga hanya replikator yang menggandakan diri secara matematis, tak beda dengan gen. Aku lebih mempercayai para ilmuwan sinting daripada manusia yang mengandalkan kepercayaan buta semata.

Tapi hidup jadi nggak absurd karena hidup adalah ciptaan. Ada Kasih Sayang Agung yang tersenyum di belakang semua proses ajaib itu. Dan betapa keras pun para ilmuwan sinting itu meyakinkan bahwa Kasih Sayang Agung itu tidak ada; aku tidak akan mengkhianati mata dan hatiku yang selalu melihat-Nya setiap saat. (Dan itu menjelaskan kenapa mereka aku namai ilmuwan sinting). Ah, visi juga bagian dari meme, mereka bilang. Tapi apa yang salah? Visi bukan jatuh dari langit, tetapi dibentuk juga dengan proses. Dengan meme, apa salahnya. Hatiku tetap melihat Senyum Yang Agung itu.

Dan keabsurdan jadi keindahan.

Bukan berarti kita bisa selalu ceria. Tetep aja kepala suka pusing. Hati suka resah, menggapai jiwa yang terus mengembara. Memang absurd.

Hidup Itu

Salah satu yang paling menarik kalau lagi membahas hidup, tentulah, Mite Sisifus (The Myth of Sisyphus), yang pernah dikaji oleh Camus. Barangkali pernah aku tulis juga. Males recheck ah.

Sisifus, seperti juga kita, dikutuk para dewa. Dia hidup dengan terus menerus mendorong batu besar ke puncak sebuah gunung, lalu membiarkan batu besar itu menggelinding ke lembah yang dalam, untuk kemudian harus didorongnya lagi ke puncak gunung, terus menerus, tanpa mengenal lelah, dan barangkali juga tanpa bisa mati. Hidup yang absurd, seperti juga kita, di mana kita tak bisa berlepas dari takdir yang mengikat dan memasung keceriaan kemanusiaan kita.

Tapi dalam keabsurdan, kita masih manusia, yang punya kemampuan kemanusiaan untuk mengatasi. Dalam keabsurdan, kepribadian kita tidak harus jatuh. Dalam keabsurdan, kecerdasan kita mengenali nilai-nilai, membentuk hikmah, dan akhirnya mengakui betapa berartinya, betapa indahnya, dan betapa berharganya hidup.

Aku ogah cerita terlalu banyak tentang Sisifus. Edisi Bahasa Indonesianya udah terbit sekitar lima tahun yang lalu, atau mungkin lebih. Tapi Camus menyatakan bahwa kita harus menyimpulkan bahwa Sisifus bisa berbahagia.

Dan kenapa harus menggantungkan diri pada kausalitas absurd dalam semesta fana ini untuk memutuskan untuk menjadi manusia yang bernilai dan berbahagia?

« Older posts Newer posts »

© 2026 Kuncoro++

Theme by Anders NorenUp ↑