
Jadi, yang mana yang ujung yang mana yang pangkal?
Page 168 of 211
Memang, masih selalu ada pertanyaan yang tersisa. (a) Dari mana asal fluktuasi kuantum? Hawking dan rekan-rekan seangkatannya bilang: akibat ketidakpastian Heisenberg. Tapi itu tidak menjawab pertanyaan kita. Soalnya: (b) Dari mana asal ketidakpastian Heisenberg? Gimana kalau aku jawab: akibat fluktuasi kuantum yang selalu terjadi. Jawaban yang nggak bisa disangkal. Atau mungkin jawabannya dicari dengan merujuk ke persamaan Planck. Tapi itu juga nggak menjawab persoalan (c) Dari mana timbul batas kuantum pada persamaan Planck? Tentu, boleh dijawab dengan usil lagi: Dari titik batas ketidakpastian Heisenberg.
Leicester, National Space Centre. Mengamati besarnya semesta kita, sambil merenungi hebatnya mekanisme-mekanisme yang telah disisipkan dalam usia yang sangat muda dalam dimensi yang sangat kecil, yang disusun untuk menyusun segala keindahan ini.
Teori big bang, yaitu salah satu teori yang menjelaskan asal-usul semesta, memulai semesta dari sebuah fluktuasi kuantum. Bagaimana caranya sebuah fluktuasi kuantum (yang terjadi pada ruang berukuran kurang dari 10-35 m) bisa menciptakan alam semesta? Tentu energi yang dicetuskan harus sangat tinggi. Tapi energi yang tinggi akan memiliki imbangan gravitasi yang tinggi juga yang akan meluruhkan segalanya.
Pada waktu semesta berusia 10-35 detik itu, massa-energi yang terbentuk masih universal. Tetapi kemudian tingkat energi turun, dan karena tingkat energi turun, maka simetri pecah, membentuk interaksi nuklir kuat dan paduan elektromagnet – nuklir lemah. Pemisahan ini bisa dibayangkan mirip pengembunan uap energi menjadi energi berbentuk. Seperti juga pengembunan air, proses ini melepaskan energi. Bedanya, energi yang dilepaskan besar sekali, sehingga timbul ledakan yang mengekspansi dimensi. Namun, begitu terjadi ekspansi, tingkat energi akan turun lagi, dan simetri elektro – nuklir lemah pun pecah, dan melepaskan energi yang lebih jauh mengekspansi dimensi. Ekspansi yang terjadi melipatgandakan dimensi semesta setiap 10-35 detik. Jadi dalam usia semesta 10-33 detik, ukuran semesta sudah berlipat 2100 . Ekspansi yang luar biasa. Gravitasi pun tidak mampu lagi meluruhkan ledakan yang sudah terbentuk. Dalam waktu tiga menit saja, ukuran semesta sudah berlipat dari ukuran nol matematik (jauh lebih kecil dari proton) menjadi seukuran bola basket.
Para kosmolog mengambil alih cerita dari para fisikawan sejak saat itu. Partikel-partikel subatom mulai tersusun. Lima ratus ribu tahun kemudian, atom mulai tersusun. Kisah lebih jauh ada di partikel Enam Masa Penciptaan Semesta.
George Gamow berjalan kaki dengan Albert Einstein, suatu hari di tahun 1940. Gamow bercerita, bahwa salah satu rekannya, memakai teori relativitas umum, mengatakan bahwa sebuah bintang bisa diciptakan begitu saja dari kehampaan, karena kalau massanya dianggap sebagai energi positif, maka gaya gravitasi total yang diciptakannya akan menjadi energi negatif yang jumlahnya setara. Tidak ada hukum fisika yang dilanggar. Einstein kaget, lalu diam untuk berpikir. Padahal mereka sedang menyeberang jalan. Jadi mobil-mobil terpaksa ikutan berhenti menunggu Einstein berpikir.

Mungkin agak lucu, kalau kita berpikir bahwa dari ketiadaan langsung muncul sebuah bintang begitu saja. Cling. Tapi di tahun 1970-an, Stephen Hawking memakai pendekatan yang sama untuk menjelaskan kenapa sebuah blackhole bisa memancarkan cahaya.
Ketidakpastian Heisenberg, katanya, memaksa adanya fluktuasi kuantum di mana pun. Ruang hampa tidak boleh kita anggap kosong, karena artinya kita memastikan posisi dan momentum ‘partikel’ di ruang itu. Lucu memang. Tapi karena angka 0 itu angka, maka “tidak ada partikel” itu partikel juga kan? Di ruang hampa, barangkali (artinya: ketidakpastian dijalankan) ada fluktuasi di mana sepasang foton dan antifoton tercipta, kemudian saling meniadakan. Anti foton, kayak yang pernah diulas berbulan-bulan di sini, adalah foton juga. Hawking melanjutkan, kalau fluktuasi ini terjadi di batas pengaruh blackhole, maka satu foton bisa jadi tertarik masuk ke blackhole, sementara foton pasangannya tidak bisa saling meniadakan, dan akhirnya mengembara. Maka blackhole pun seolah memancarkan foton.
Fluktuasi kuantum tidak hanya bisa melibatkan foton. Bisa jadi fluktuasi yang sama menciptakan misalnya pasangan elektron dan positron. Berbeda dengan foton yang tidak memiliki massa dan muatan, baik elektron dan positron memiliki massa dan muatan. Muatan mereka memang berlawanan, jadi total muatan tetap nol. Tapi massa mereka tidak berlawanan, jadi massa semesta bertambah. Nah.
Kembali ke obrolan Einstein dan Gamow, fluktuasi ini memang mungkin terjadi. Massa partikel itu (yang tak lain hanya energi) akan langsung diimbangi oleh gravitasi (yaitu energi negatif) yang tercipta oleh terciptanya massa itu. Dan kalau kurang yakin dengan pernyataan ini, silakan mulai merenung. Tapi jangan di tengah jalan. Ketiadaan tidak selalu terjadi akibat tabrakan dengan anti partikel. Kadang-kadang cukup dengan mobil ngebut. Ini bukan tahun 1940-an.
Kalau abad 19 mengenal nama Maxwell, abad 20 mengenal sama Abdussalam, Weinberg, dan Glashow. Setelah masa keemasan QED, orang mulai menggunakan analogi elektrodinamika untuk energi nuklir lemah. Kalau interaksi benda bermuatan seperti elektron menggunakan foton, maka interaksi nuklir lemah disebut menggunakan boson madya. Tentu, nama boson diambil dari Bose (Catatan 07/03/2001), orang India yang meletakkan prinsip matematika foton, yang membuat foton diakui sebagai dasar fisika yang valid. Tapi berbeda dengan foton, boson madya bisa bermuatan. Maka dikenal tiga boson: W+, W-, dan Z. Z adalah boson tanpa muatan.
Ketiga orang di atas menyusun deskripsi yang menggabungkan boson dan foton ke dalam sebuah teori electroweak. Pada tingkat energi tinggi, tidak ada beda antara boson dan foton. Tapi pada tingkat energi lemah, partikel-energi itu mengambil bentuk yang berbeda-beda. Mirip cairan khayali, yang pada suhu tinggi menjadi uap yang sama, tapi pada suhu rendah menjadi es yang berbeda-beda.
Setelah penyatuan ini, para fisikawan mulai menyusun GUT (grand unified theory), dengan menyatukan electroweak dengan interaksi nuklir kuat. Fisikawan sudah meyakini bahwa semua jenis energi itu sebenarnya satu macam pada level evergi tinggi. Hanya mereka masih sibuk menghitung-hitung cara memadukannya dengan gravitasi.
Tentang Islam, Mahatma Gandhi pernah menyampaikan pendapat: “Orang Eropa di Afrika Selatan cemas oleh kedatangan Islam. Islam memberikan peradaban kepada Spanyol, Islam membawa cahaya obor kepada Maroko dan mengabarkan kepada dunia ajaran-ajaran persaudaraan. Orang-orang Eropa di Afrika Selatan takut atas kedatangan Islam, karena orang-orang Islam menuntut persamaan dengan ras kulit putih. Orang-orang Eropa boleh takut. Ketakutan mereka memang beralasan.“.
Apakah sampai sekarang orang-orang muslim masih berani membawa agamanya menjadi dasar bagi persaudaraan dan persamaan ?
Di Jerman, kebangkitan Eropa sering diacukan pada buku-buku karya Goethe (bukan cuman Faust, biarpun di site ini yang diperbincangkan dari Goethe memang cuman Faust — yang lainnya belum baca sih). Goethe memberikan landasan dan pengaruh bagi para filsuf, sosiolog, dan seniman Jerman dan Eropa, bahkan sampai hari ini.
Tapi suatu hari, Goethe sendiri memperbincangkan sebuah buku yang lain. “Buku ini,” katanya, “memiliki ruang yang melampaui seluruh masa dan mempunyai pengaruh yang kuat.”
Buku itu adalah Al-Qur`an.
Jalan-jalan ke site Fade2Blac. Ini hasil curian dari site itu: puisi dari Sutarji
sejak kapan sungai dipanggil sungai
sejak kapan tanah dipanggil tanah
sejak kapan derai dipanggil derai
sejak kapan resah dipanggil resah
sejak kapan kapan dipanggil kapan
sejak kapan kapan dipanggil lalu
sejak kapan akan dipanggil akan
sejak kapan akan dipanggil rindu
sejak kapan ya dipanggil tak
sejak kapan tak dipanggil mau
sejak kapan tuhan dipanggil tak
sejak kapan tak dipanggil rindu?
