Teknologi 4G di Yogyakarta
Tak seperti biasanya, kali ini Gunung Merapi tampak detil2 liku2nya lengkap dengan puncak menjulang dan asap tipisnya, bahkan sejak Garuda belum mendarat di Yogyakarta. Udara jernih nyaris tanpa kabut dan awan tipis. Ya, setelah Bandung, kali giliran Yogyakarta menjadi tuan rumah bagi lecturing “Opening The Gates to 4G Mobile Technology” yang diselenggarakan oleh IEEE Communications Society Indonesia Chapter.
Bertempat di Hotel Santika (19 Desember 2009), seminar ini masih menyampaikan materi yang sama dengan Bandung, namun telah diperkaya oleh hasil diskusi di Bandung. Speaker dan materinya meliputi:
- Muhammad Ary Murti: Pengenalan IEEE, societies, Indonesia section, chapters, membership.
- Kuncoro Wastuwibowo: 4G Mobile Technologies, network, service, cognitive radio, context awareness, candidates
- Arif Hamdani Gunawan: Candidate I –> LTE, evolution, features, architecture, OFDMA & SCFDMA, implementation plan
- FX Ari Wibowo: Candidate II –> WiMAX II, comparison of 802.16e vs 802.16m, specifications, features, architecture
Peserta datang dari Bandung, Yogyakarta, dan berbagai kota lainnya. Diskusi cukup tajam, membahas spesifikasi detail, spekulasi mengenai lenyapnya UMB :), hingga pengembangan aplikasi di atas teknologi 4G.

Setelah Yogyakarta, Teknologi 4G akan juga dibawakan ke kota-kota lain, sementara di awal 2010 nanti juga IEEE akan mulai meluncurkan tema-tema yang berbeda untuk lecturingnya. Lecturing ini akan disampaikan melalui beberapa metode sesuai tujuan. Bentuknya bisa kuliah umum di kampus, lecturing intensif seperti saat ini, atau conference yang lebih besar. Namun tentu akan diperlukan dukungan lebih banyak volunteer :). Punya passion di bidang ini?
Bandung Gerbang 4G
Lama tak menjejak Bandung. Dan kota ini menyambutku beku tanpa ampun. Gigil dikepung kabut tipis. Ah, di mana ceriamu yang dulu itu, kota inspirasiku? Beku kau tak peduli semangatku. Tapi negeri menanti.
Seperti yang telah lama direncanakan, Bandung merupakan kota pertama untuk serial seminar “Opening the Gates to 4G” :). Ini seminar yang diluncurkan IEEE Comsoc Indonesia Chapter, dan didukung IEEE Indonesia Section dan Mastel. Seminar ini bertujuan untuk membuka perbincangan yang lebih luas mengenai pengembangan network, service, dan aplikasi di Indonesia memanfaatkan platform 4G.

Seperti kata judulnya, ada lebih dari satu gerbang ke 4G. Di sisi network, setelah tumbangnya UMB, kita memiliki LTE dan WiMAX II. Tapi banyak parameter lain yang menandai 4G. Cognitive radio memungkinkan perangkat2 kita secara cerdas memilih spektrum dan platform telekomunikasinya mengikuti kebutuhan, lokasi, dan parameter lain — a.k.a. konteks. Pun aplikasi tengah mengarah ke aplikasi peduli konteks (context-aware applications). Tentu ini sering diulas di blog ini, maupun beberapa blog tetangga. Tetapi baru sekali ini semuanya berhasil dikemas dalam satu buah seminar.
Aku membuka seminar yang diselenggarakan di Hotel Horison ini dengan menceritakan kebutuhan dan requirement atas 4G. Selain cognitive radio, dibahas skema all-IP network (yang artinya juga dukungan atas IPv6), antena cerdas (MIMO, spatial multiplex), dan OFDMA. Lalu Arief Hamdani melakukan diskusi panjang dan mendalam tentang LTE, lengkap dengan SAE. Untuk pembanding, aku mengulas mengenai WiMAX II yang masih berstatus pre-standard (IEEE 806.16m).

Sebagai penutup, diskusi diakhiri tentang context-aware application dan pervasive computing. Dan langit Bandung sudah mulai gelap lagi. Seminar berikutnya di Yogyakarta, kemudian Denpasar. Medan? :)
Meraup Pendapatan dalam Dollar
Ya, ya. Ini kuno. Scammer zaman sekarang sudah menggunakan kata-kata yang lebih menunjukkan bahwa mereka punya otak juga (biarpun kapasitasnya cuman seperenamnya kita-kita). Eh, tapi masih ada dink yang masih pakai kata-kata mirip di atas.
Di sore berhias mendung itu, aku mendapati 3 amplop dari IEEE Computer Society. Satu menawarkan digital library. Satu memberi tahu bahwa akan datang surat berisi survei pembaca majalah IT Pro. Dan satu lagi survei itu. Surveinya cuma 4 halaman A4. Pakai kertas, huh. Zaman gini masih survei pakai kertas. Disertakan juga amplop yang tidak lagi perlu diperangkoi. Pokoknya tinggal isi, dan kirim, tanpa biaya. Eh, tapi terus ada selembar uang sedolaran di atasnya. Hah?
Tulisannya: uang itu bukan pengganti jerih payah; tetapi sedikit penghargaan karena telah mengirimkan survei dengan cepat. Hihi, ini mah maksa. Kan nggak mungkin kita balikin satu dollar itu tanpa mengirimkan via surat. Dan kalau punya waktu untuk mengirimkan ke kotak pos, kenapa nggak sekalian dikirimkan itu hasil survei?
Kreatif atau jail?
DLP Network Management
Baru seminggu masuk tahun 2009, IEEE Comsoc Indonesia Chapter telah melakukan salah satu kegiatan rutin: menyelenggarakan distinguished lecture. Lecture kali ini mengambil tema Network & Service Management, dengan lecture Prof Mehmet Ulema dari Manhattan College. Ini salah satu seleb IEEE yang tulisannya sering terbaca jauh sebelum zaman bikin tesis. Lecture dilakukan kemarin di ITT Bandung, dan hari ini di Binus Jakarta. Aku ikut yang di Binus hari ini.
Aku sendiri belum berhasil menulis paper tentang network management (di zaman aku masih doyan bikin whitepaper — paper yang materinya dan standar2nya tak tergantung dari vendor itu), karena jangkauannya terlalu luas, dan standarnya terlalu banyak :). Tapi Profesor Ulema mengoverviewkan masalah network management (NM) dengan hutan standardnya itu ringan. Pun sambil mengingatkan bahwa NM lebih merupakan suatu art daripada science. Art yang paling menarik adalah saat kita melakukan integrasi berbagai sistem. NM juga bersifat multidisiplin: dari elektro, komputer, matematika, operational research, ekonomi, dan tentu management. {Dan game theory juga :)}.
Mula2, dipaparkan berbagai dimensi NM, baik dari jenis network, fungsi, stage, dan … uh banyak. Barulah dikaji berbagai standar NM, dari ITU (TMN), IETF (berbagai versi SNMP), ISO OSI (CMIP), dan lain-lain (TMF, OMG, OSF, DMTF, dan yang included dalam standard2 IEEE, 3GPP, hingga (G)MPLS/ASON). Kemudian, tanpa ampun, diperdalamlah berbagai model standard itu; dari TMN dan arsitektur lengkapnya (logika, informasi — SMI dan MIB, fungsi, fisik), pendalaman MIB sendiri, dan MIB II, ke SNMP hingga SNMP v3 dan rencana versi SNMP berikutnya, RMON … hihi, panjang …trus ke arsitektur yang praktis, ke produk yang ada saat ini (komersial dan open source), MPLS (ini singkatan dari mephistopheles), IPv6, 3-play, NGN, dan ditutup dengan trend2 ke depan (autonomic computing etc).
Kuliah ditutup, dan kita masuk ke coffee break. Mahasiswa Bina Nusantara yang tadinya hanya diam malu2 dan ogah tanya2, mendadak melakukan serbuan, dan bertanya langsung. Hihi, kelihatannya mereka lebih suka bertanya informal, bukan tanya di forum sambil dipelototi dosen2 mereka. OK, ini foto Professor Ulema yang sedang asyik menjawab pertanyaan mahasiswa demonstran.
Next, sambil menikmati kopi hitam, gantian Prof Ulema yang mewawancarai aku tentang network development. Aku cerita sambil sesekali (sering kali) minta pendapat beliau tentang cara2 operator2 di Indonesia memanage network. Dualism IMS vs SDP misalnya (banyak SDP yang tidak dirancang untuk jadi IMS-aware). Tapi yang mengejutkan, Prof Ulema mengingatkan bahwa banyak operator internasional yang justru kecewa pada implementasi IMS. Woah, hal baru. Akhirnya kita memperdalam soal itu. Sayangnya, sebelum benar2 selesai, pihak Binus menculik Prof Ulema untuk dipulangkan dengan aman ke negaranya. Via Macau.
Kembali ke Comsoc. Rencana tahun ini adalah meneruskan kuliah2 umum tentang trend teknologi infokom ke kampus2. Tapi kita punya rencana tambahan. Di IET ada kuliah Faraday, dimana para engineer mengajar tentang engineering dengan kemasan menarik ke sekolah2. Ya, Faraday, fisikawan dan engineer yang nggak doyan kalkulus dan tak paham teori Maxwell itu (padahal teori Maxwell adalah formulasi atas garis2 gaya Faraday). Jadi semangatnya mencerahkan tanpa mengkalkulusi. Nah, Comsoc chapter Indonesia berencana melakukan upaya serupa. Nanti kita bahas lagi soal ini deh. Bantu ya.
IEEE ASEAN Sections Meeting
Bersamaan dengan ICTEL yang diselenggarakan oleh ITT di Hotel Preanger (Bandung), dikonduksikan juga IEEE ASEAN Sections Meeting. Aku hadir — selain karena harus — juga karena harus di Bandung untuk mengurus administrasi kepindahan. Hadir para pimpinan sections dan chapters dari Malaysia, Filipina, dan tentu Indonesia. Kita berbagi pengalaman mengelola organisasi profesional yang tumbuh di masyarakat yang kurang lebih serupa ini (biarpun salah satu keserupaannya adalah heterogenitas yang luar biasa). Skema2 kerjasama juga dirumuskan. Tak terlalu lengkap aku menghadirinya. Masih banyak kegiatan yang harus diselesaikan dalam waktu singkat selama di Bandung. Termasuk ke dokter.
Foto sebentar:
Saat ini IEEE diposisikan sebagai organisasi serius, technology-oriented, high value. Tapi coba kita bayangkan, misalnya IEEE direposisi jadi komunitas funky engineers (jangan berpikir tentang Dilbert), dan diskusi teknis dikemas dengan warna kopdar. Gimana, bakal lebih OK nggak?
Meeting berikutnya dilakukan tahun depan di … Cebu ?
IEEE P1900: CR, DSA, Koeksistensi
Salah satu tema dalam IEEE Communications bulan ini adalah standar2 dalam networking. Kumpulan artikel diawali dengan ringkasan standar yang disponsori berbagai society di dalam IEEE. POSIX dan 802 misalnya, disponsori oleh Computer Society, sementara personal communications oleh Communications Society. Lalu update standar2 — 802.3av, 802.11n, 802.20, PLC, serta keluarganya, lalu … hmmm, standar untuk mendukung cognitive radio (CR), dynamic spectrum access (DSA), dan koeksistensi. Kelihatannya yang terakhir pas dengan yang lagi sering kita kaji.
CR sering didefinisikan sebagai software-defined radio (SDR), yaitu saat perangkat radio mampu secara cerdas menentukan kebutuhan dan memilih sumberdaya radionya sesuai konteks. Standar semacam WiFi (802.11), Zigbee (802.15.4), serta WiMAX (802.16) telah memiliki level teknologi CR tertentu. 802.22 akan menjadi standar internasional berbasis CR pertama. CR akan berkait erat dengan akses spectrum yang bersifat dinamis (DSA). Namun yang menarik tentu keterkaitan antara CR dan koeksistensi: pemilihan sumberdaya yang menentukan jenis akses radio sebuah komunikasi.
Sebuah komite, SCC41 dibentuk dengan focus pada DSA. Standar yang tengah dikerjakan adalah serial IEEE P1900. P1900.1 (target Des 2008) menyusun konsep next generation radio systems dan spectrum management. P1900.2 (target Des 2008) merekomendasikan praktek koeksistensi dan interferensi. P1900.3 (target Feb 2011) mengevaluasi sistem radio dengan DSA. P1900.4 (target Des 2007) menyusun arsitektur sistem yang memungkinkan optimasi sumberdaya radio dalam jaringan heterogen.
P1900 (lihat gambar deh) memungkinkan pengelolaan spectrum antara jaringan yang paham CR dan yang tidak.
Network reconfiguration management (NRM) berkomunikasi dengan terminal radio management (TRM) membentuk interoperabilitas antara jaringan2 radio tanpa infrastruktur. Perangkat komplian P1900.4 memungkinkan rekonfigurasi network dan terminal yang berikutnya memungkinkan pemindahan yang seharusnya tak terasa (seamless).
Direncanakan akan ada P1900.5 yang membahas bahasa policy, dan P1900.6 untuk RF sensing. Standar lain yang juga akan sudah mengadopsi soal CR, DSA, dan koeksistensi adalah 802.22 (Sep 2009), 802.19 (Sep 2008), 802.16h (Sep 2008), 802.16m (a.k.a. WiMAX II atau WiMAX next generation, Des 2009), serta 802.11y (Des 2009).
Surabaya: WOCN
Aku masuk Surabaya di sebuah malam berbintik gerimis yang beresok Senin. Duh, bahasanya nggak aku banget :). Itu malam menginap di Hotel Naruto dengan Internet yang padam. Seninnya persiapan WOCN, sementara tutorial di ITS. Siang itu ada city tour dan kunjungan sosial, termasuk ke House of Sampoerna dan ke lokasi Lumpur Bakrie Sidoarjo. Trus pindah ke Hotel Hyatt. Lain kali deh ini diceritakan lebih panjang.
Hari ini, WOCN 2008 (Wireless & Optical Communications Network Conference) dibuka, berlokasi di Hyatt Regency. Mewakili IEEE Comsoc Indonesia Chapter, dan sebagai pihak yang paling tidak sibuk, aku diperankan sebagai pembawa acara sesi pembuka ini, memperkenalkan pembicara, menyampaikan skema & jadwal, dll. Pembukaan oleh Rektor ITS, Prof Priyo Suprobo. Opening remark dari IEEE Communications Society, Dr Guy Omidyar. Keynote speaking oleh Dr Gamantyo Hendrantoro (ITS), Mr Husni Amani (ITT, Rektor), Mrs Koesmarihati Soegondo (BRTI). Materi keynote speaking akan aku pasang di web IEEE Comsoc (Indonesia chapter).

Kemudian conference displit menjadi dua. Track 1 untuk optical communications, dan track 2 untuk wireless & mobile communications. Setiap sesi membahas 4-5 paper. Di sesi 1, aku jadi session chair bersama Dr Achmad Affandi (ITS). Papernya membahas VPN over Satellite, integrasi WLAN dan WiMAX, optimasi protokol MAC pada WLAN, serta konvergensi voice, video, data di WLAN dengan QoS. Tentu dalam bahasa Inggris dialek aneka bangsa. Pusing? Nggak sepusing mereka yang harus mendengarkan pronounciation Inggrisku yang berdialek kutub selatan (yaa, agak2 sedikit mirip pinguin, gitulah). Eh, masa sih semua paper harus ditulis judulnya? Gile kali ye. Ya, pokoknya gitu lah. Ada CD dari IEEE yang katanya berisi proceeding. Tapi jangan harap diupload di web ya. Satu CD gitu loh. Para peminat bisa … ah, nanti kita pikirin.
Break, tentu diisi dengan networking; baik antar institusi maupun antar bangsa. Sorenya ada acara panel sessions. Temanya tentang eksplorasi dunia 4G, serta tentang inovasi2 saat ini. Optical switch misalnya. Haha, agak lama juga nggak lihat yang macam optical switch gini. Perlu nih sesekali menyentuh hal semacam ini lagi.
Malam, semestinya ada banquet dinner. Tapi aku malah kabur :). Ceritanya aku melaporkan kehadiranku di Wilayah Telkom Divisi Regional V ini ke Big Boss of the Division, Mr Mas’ud Khamid (ternyata beliau pernah jadi anggota IEEE juga). Dan alhasil beliau menculikku. Malam ini kami melakukan city tour ke wilayah2 baru & potensial, dengan beliau sebagai personal guide. Lengkap dengan sharing tentang best practice beliau sebagai leader di Divisi tersukses di Telkom ini. Perbincangan diakhiri dengan sesi sea food yang juga menantang.
Besok conference masih berlangsung. Dan sorenya aku akan balik ke Bandung. Seperti biasa, Surabaya memang memperkaya pengalaman profesional. Matur nuwun, Suroboyo.






















