Comnetsat dan Cyberneticscom

Ternyata cukup memicu adrenalin, seluruh persiapan konferensi kembar IEEE COMNETSAT dan IEEE CYBERNETICSCOM. Sejak informasi atas konferensi ini disebarluaskan pada Januari, paper-paper baru diterima pada injury time menjelang april. Syukur kami mendapatkan dukungan kuat dari organisasi dan dari para sejawat. IEEE memberikan Letter of Acquisition-nya secara cepat – mungkin terkesan atas kekerenan IEEE Indonesia Section menyelenggarakan IEEE TENCON 2011 tahun lalu. Sebagai speaker, para eks presiden dari IEEE dan IEEE Comsoc memberikan kesediaannya. Track chairs kami undang dari berbagai universitas dan lembaga di seluruh Indonesia. Para track chairs, sebagai penjaga kualitas konferensi, memilih reviewer paper. Akhir Mei, paper telah selesai direview. Hanya sekitar 50% paper yang lolos pada periode ini. Lalu peserta hanya punya waktu singkat untuk memperbaiki paper sesuai masukan reviewer. Kemudian kami mulai menyiapkan event konferensinya sendiri. Waktu yang singkat membuat tak banyak volunteer IEEE yang memberanikan diri ikut terlibat. Dengan adrenalin yang terpicu mengejar kualitas dan waktu, akhirnya kami berangkat ke Denpasar. The show must go on.

COMNETSAT dan CYBERNETICSCOM dibuka secara resmi hari Kamis, 12 Juli 2012. Lokasi di Inna Grand Hotel Bali, di Pantai Sanur. COMNETSAT adalah Konferensi IEEE atas Komunikasi, Network, dan Satelit; sementara CYBERNETICSCOM adalah Konferensi IEEE atas Intelijensi Komputasional dan Sibernetika. Sebagai anggota committee yang paling tidak sibuk (gubrak), aku difungsikan jadi MC Clumsy. General Chair, Dr Ford Lumban Gaol membuka secara formal dan banyak berterima kasih. M Ary Murti, IEEE Indonesia Section Chairman, menyelamatdatangi dan berkisah singkat tentang IEEE dan Indonesia Section. Dan yang kemudian banyak ditunggu adalah keynote speech. Pun sebagai konferensi kembar, setiap konferensi memiliki keynote speech tersendiri.

Keynote speech untuk CYBERNETICSCOM disampaikan oleh Prof Michael Lightner, Presiden IEEE tahun 2006. Berjudul Machine Learning for Assistive Technology, Lightner mengawali dengan keprihatinan bahwa sangat besar jumlah manusia yang sebenarnya mengalami kecacatan pada berbagai level. Riset di bidang assistive technology mengarah ke peningkatan harkat hidup manusia dengan berbagai keterbatasan. Mulanya memang dengan alat2 bantu; namun kemudian juga dengan agen2 yang ditanamkan ke dalam badan manusia. Salah satu materi yang dipaparkan namun belum dapat dibagikan adakah riset yang tengah dilakukan tim beliau untuk melakukan bypass di dalam otak untuk mengatasi masalah akibat gangguan memori jangka pendek.

Keynote speech untuk COMNETSAT disampaikan oleh Prof Byeong Gi Lee, Presiden IEEE Communications Society (Comsoc) tahun 2011. Bertemakan Convergence of Communications towards Smart Era, BG Lee memaparkan bagaimana revolusi pada komunikasi dan informasi digital akan saling berpengaruh pada budaya dan kehidupan sosial manusia. Bagaimana pengolahan konteks menjadi kian penting untuk pengembangan sistem yang akan lebih cerdas memahami dan meningkatkan harkat hidup manusia.

Selesai sidang pembukaan, konferensi dibagi atas sesi-sesi pemaparan paper di beberapa ruang. Pembagian ruang antara CYBERNETICSCOM dan COMNETSAT tak terlalu kaku. Sebuah ruang dapat digunakan bergantian. Namun tentu tidak ada satu sesi yang mencampurkan kedua konferensi yang terpisah itu.

Sebagai anggota merangkap koordinator Technical Program Committee COMNETSAT, aku tentu lebih banyak beraktivitas di COMNETSAT. Jadi session chair, atau setidaknya menunjuk session chair dari para peserta konferensi di setiap sesi, atau sekedar pengamat yang ikut belajar di sesi-sesi.  Dan di antara sesi-sesi, kami melakukan networking, menambah teman seinpirasi dan sehobby, mempergunjingkan masa depan cognitive radio dan berbagai varian 4G, serta berbagi aneka update. Dalam sesi-sesi ini, bukan saja kami yang asyik dan sok sibuk. Prof Lightner dan Prof BG Lee pun aktif masuk dan meramaikan sesi-sesi. Dalam beberapa hal, konferensi ini lebih menakjubkan daripada TENCON :).

Konferensi masih berlangsung hingga besok, Sabtu 14 Juli. Sabtu akan diawali dengan Plenary Speech dari Prof Pramod K Varshney, memaparkan  Cognitive Radio Networks. Topik yang menarik. Kebetulan ini salah satu topik favoritku, dan pernah aku kuliahkan di salah satu sesi Kuliah Umum IEEE di ITTelkom. Kemudian akan menyusul beberapa sesi pemaparan paper lagi.

Sanur masih sekeren yang aku lihat saat TENCON tahun lalu. Pasir putih yang lembut siap mengenyahkan kelelahan dan ketegangan persiapan konferensi. Tupai-tupai di pohon kelapa dan pohon kamboja jadi teman-teman becanda. Tapi pasti masih banyak tempat2 keren di seluruh Indonesia buat CYBERNETICSCOM dan COMNETSAT tahun2 berikutnya.

April Tutorial Series

Aku sibuk. Haha. Tapi itu bukan hal baru. Dan konon memang orang sibuk adalah orang yang mau sibuk. Jadi jangan serahkan pekerjaan ke orang yang tidak sibuk. Dunia melaju kencang, dan ada yang tidak sibuk? Pasti ada yang salah :D.

Tapi masih ada waktu yang harus dipaksaluangkan untuk kegiatan IEEE. IEEE CYBERNETICSCOM dan IEEE COMNETSAT saat ini sudah mulai memasuki tahap paper review, setelah penerimaan paper ditutup tanggal 15 April lalu. Track chair sudah mulai dihubungi, dan mulai menghubungi para reviewer. Dijadwalkan, di awal Mei, paper telah memperoleh status untuk bisa diterima ke dalam kedua konferensi itu. Oh ya, CYBERNETICSCOM dan COMNETSAT ini adalah dua konferensi perdana yang disusun oleh IEEE Indonesia Section. Konferensi sebelumnya, termasuk TENCON 2011 November lalu, adalah konferensi dari IEEE pusat, Society, atau Region yang dituanrumahi Indonesia. Namun kedua konferensi ini telah memperoleh Letter of Acquisition dari IEEE, dan dengan demikian memperoleh status sebagai IEEE Conference.

Minggu lalu (14 April), IEEE Indonesia Section menyelenggarakan Kuliah Umum bertemakan Small Cell. Kuliah ini bertempat di GSD ITTelkom, Dayeuhkolot, Bandung. Speaker utama adalah Arief Hamdani yang menyampaikan pengenalan dan pendalaman atas Small Cell, yang dulu dikenal dengan nama Femtocell. Anto Sihombing melanjutkan dengan memberikan update dari Small Cell Forum yang diikutinya Maret lalu di Taipei. Aku memberikan tambahan sedikit tentang Cognitive Radio, yang somehow akan berkait erat dengan pemanfaatan spektrum bersama dalam kerangka Small Cell.

Slide untuk Cognitive Radio:

Minggu berikutnya dipenuhi urusan dua produk baru dan satu program tahunan, migrasi web CYBERNETICSCOM dan COMNETSAT, plus urusan visa. Hal-hal yang membuat tidur nyaris selalu dimulai di sekitar jam 3:00 pagi selama rata-rata 3 jam saja. Lain hari kita bahas deh tentang dua produk baru yang menarik ini.

Dan Sabtu ini (21 April), IEEE Indonesia Section bekerja sama dengan IEEE Women in Engineering menyusun kegiatan bersama, memperingati Hari Kartini, dalam bentuk IEEE Tutorial Series on Advancing Technology for Humanity, di Auditorium Kampus Anggrek, Universitas Bina Nusantara. Kegiatan dibuka Ibu Nelly sebagai Wakil Rektor II Universitas Bina Nusantara; dan sambutan 5 menit dari aku sebagai Vice Chair dari IEEE Indonesia Section. Namun seluruh materi disampaikan oleh para Engineer Perempuan, dengan style yang menunjukkan kekuatan kaum insinyur perempuan Indonesia:

  • Dr. How Wie Chie, Dekan Fakultas Teknik Binus
  • Hardyana Syintawati, VP MarCom Erickson
  • Erina Tobing, Direktur Teknik TVRI
  • Agnes Irwanti, Multikom Business Development Director

Sore, di tempat yang sama, dilangsungkan IEEE Tutorial Series on Cloud & Ubiquitous Computing. Speaker sesi sore ini:

  • Kuncoro Wastuwibowo — Ubiquitous & Context-Aware Computing
  • Satriyo Dharmanto — Cloud Computing
  • Arief Hamdani Gunawan — Ubiquitous Mobile Computing

Slide untuk Ubiquitous Computing:

Selesai? Belum :). Sore – malam, kita naik ke Lantai 8, dan melangsungkan Officer Meeting pertama di kepengurusan IEEE Indonesia Section periode 2012 ini. Meeting ini dihadiri Advisory Board, Executive Committee, Activity Committee, Chapters (Comsoc, MTT/AP), dan Student Branches (UI, ITTelkom); membahas program kerja 2012, plus rencana untuk melakukan amandemen pada Bylaws yang sudah berusia hampir 25 tahun.

OK, sekarang istirahat dulu. Badan dan hati punya hak diistirahatkan, sebelum Senin datang, dan kita berpacu lagi :). Semangaaat :D

Ketua Baru Comsoc Indonesia

Sebagai salah satu society yang terkuat di IEEE, Communications Society (Comsoc) memiliki tata atur yang bersifat otonom terhadap organisasi induknya (IEEE). Jabatan President di Comsoc misalnya, memiliki masa bakti dua tahun. Ini berbeda dengan IEEE, dimana seorang yang terpilih menjadi presiden akan memangku jabatan President-Elect selama 1 tahun, President selama 1 tahun, dan Past-President selama 1 tahun. Di Indonesia, tengah diupayakan pola yang serupa untuk IEEE Comsoc Indonesia Chapter: chair dipilih setiap 2 tahun. Sayangnya, ini kadang tak berhasil. Misalnya, awal tahun 2011 lalu, Election Committee menyampaikan bahwa aku harus memegang posisi chairman di tahun ketiga, dan dengan demikian menjadi chairman pertama yang memegang posisi ini selama tiga tahun. Tahun ini, aku memastikan bahwa ini tidak akan terjadi lagi. Dan mudah2an di tahun2 berikutnya tidak akan terjadi lagi :).

Tahun ini, Election Committee telah melaksanakan tugasnya di pertengahan Januari, dan memilih ketua baru Comsoc Indonesia sbb:

IEEE Indonesia Section sendiri baru didirikan pertengahan 1980an. Di pertengahan 1990an, didirikan Joint Chapter of Computer & Communications Society, untuk mewadahi spesialisasi dari dua IEEE society yang memiliki anggota terbanyak. Di tahun 2003, diputuskan untuk memisahkan joint chapter ini menjadi IEEE Computer Society Indonesia Chapter dan IEEE Communications Society Indonesia Chapter. Selama 10 tahun ini, Comsoc Chapter mengalami kepemimpinan enam chair.

Kegiatan Comsoc selama beberapa tahun terakhir ini cukup banyak; dan sebagian sudah aku paparkan cukup rinci di blog ini. Section Chair sempat menyebut bahwa Comsoc Chapter adalah chapter teraktif di Indonesia. Jumlah anggota juga meningkat cukup significant di tahun terakhir. Tapi peningkatan ini sangat didukung oleh kebijakan Comsoc (pusat) memberlakukan keanggotaan Comsoc secara gratis di tahun pertama bagi setiap anggota IEEE yang memperpanjang keanggotaannya :).

Secara realistis, walaupun promosi ke masyarakat, baik masyarakat akademik, masyarakat industri, maupun masyarakat umum terus menerus dilakukan dengan berbagai style, namun minat masyarakat Indonesia untuk bergabung dan beraktivitas di organisasi teknis akademis semacam ini belum terlalu besar. Membandingkan dengan Jepang atau UK mungkin terlalu jauh; tapi di negara2 yang masyarakatnya sadar bahwa budaya digital adalah peluang untuk tumbuh sebagai manufacturer dan bukan sebagai konsumen, misalnya India dan Cina, jumlah anggota IEEE meningkat tajam, sehingga Section harus dipecah per wilayah untuk dapat menampung aktivitas anggota.

So, selamat bekerja, New Chairman dan tim yang akan dibentuknya. Tentu kami, para engineer di dunia telekomunikasi Indonesia, akan memberikan dukungan yang maksimal selalu.

Aku sendiri di tahun 2012 ini belum akan off dari kegiatan di IEEE. Aku masih akan bertugas di Technical Committee di COMNETSAT.

Tencon 2011 di Sanur

Minggu2 ini, Indonesia bukan hanya menjadi tuan rumah ASEAN Summit dan SEA Games. Hanya dua hari setelah Barack Obama lepas landas dari Denpasar, IEEE Region 10 (Asia Pasifik) memulai konferensi official tahunan IEEE TENCON di Pantai Sanur, Bali. Proses persiapan konferensi ini memakan waktu beberapa tahun, dimulai dari pengajuan proposal dari IEEE Indonesia ke Region 10, bidding, recording di IEEE, lalu proses2 call for paper, paper review, event planning, dan event organising. Seluruh proses, terutama yang melibatkan paper dan hal2 akademis lainnya, melibatkan para akademisi senior di berbagai penjuru bumi. Organising dilakukan oleh IEEE Indonesia Section dan Universitas Indonesia. Dua chapter yang juga menjadi sponsor teknis adalah Comsoc Chapter dan MTT/AP Joint Chapter. Karena penyelenggaraan di Denpasar, Universitas Udayana mengerahkan pasukan volunteer untuk mendukung pelaksanaan konferensi. Ramai nian.

Aku sendiri melompat dari Jakarta ke Denpasar pada Ahad 20 November. Sisa lelah sepanjang minggu melelapkanku sepanjang penerbangan. Membuka mata, aku melihat lembah gunung Ijen (satu2nya tempat perkebunan Java coffee), Selat Bali, 10 menit pantai barat daya Bali yang cerah, jernih, landai, berpasir putih, berombak lembut, lalu Ngurah Rai airport. Siap mendarat, yess. Tapi gak jadi. Masih ada sisa ASEAN Summit: kami harus berputar mengelilingi Bali tenggara satu putaran sebelum mendarat. Plus satu putaran, satu lagi, dan satu lagi. Lalu perjalanan darat ke Pantai Sanur: Inna Bali Beach Hotel.

Berbeda dengan 2009, di tahun ini tampaknya aku tak bisa maksimal menikmati alam dan budaya Bali. Sebagai tech cosponsor mewakili Comsoc Indonesia, aku harus menyiapkan sesi tutorial dan sedikit membantu eksekusi event. Yang agak menganggu adalah bahwa beberapa speaker terhambat datang ke Bali, termasuk speaker pada sesi tutorial. Jadi banyak pekerjaan tambahan :)

Tutorial dilaksanakan Senin 21 November pk 10:00 tepat. Prof Dadang Gunawan membuka sesi ini, dan kemudian aku ambil alih dengan menyampaikan materi tentang Digital TV dan IPTV. Paparanku berfokus pada arsitektur network, standard, how-it-works, service dan content, hingga issue konvergensi. Cukup banyak, mengingat waktu tutorial yang cukup panjang. Namun lucunya hanya ada satu pertanyaan yang masuk: dari peserta asal New Zealand. Mungkin peserta lain enggan bertanya dalam bahasa Inggris, dan memilih mode telepati tanpa kabel. Sesi tutorial berikutnya diisi Pak Satrio Dharmanto dan Bu Agnes Irwanti, dengan penekanan pada migrasi TV ke DigitalTV.

TENCON 2011 sendiri dibuka resmi pada 22 November. Sebagai organising chair, Dr Wahidin Wahab dengan keceriaan dan semangatnya yang khas membuka konferensi pukul 9:00. Suasana cukup ceria, dengan iringan seekor anak kucing berwarna putih yang riang mengeong sepanjang acara. Plenary session diisi oleh empat keynote speaker, dengan dua dimoderasi Pak Arnold Djiwatampu (juga sebagai general chair), dan dua aku moderasi. Tampaknya aku cukup sukses jadi moderator, sampai satu peserta nekat naik panggung menghampiriku. Sayangnya peserta ini bukan dari kalangan akademis maupun industri, tapi seekor kucing kelabu. Plenary session yang miaow sungguh.

Tema dari para keynote speakers sangat menarik. Prof Nurul Sarkar membahas terobosan dalam strategi pendidikan engineering. Prof Ke Wu mengasyiki Substrate IC (SICs) yang diaplikasikan untuk elektronika dan fotonika masa depan berskala GHz dan THz. Prof Rinaldy Damini merinci skenario energi yang diambil berbagai negara setelah bencana Fukushima. Dan Prof Jong-Hwan Kim memaparkan dan mendemonstrasikan robot berdaya pikir. Lebih dari yang tersirat dari judulnya, setiap presentasi memberikan inspirasi tambahan yang menarik. Prof Ke Wu misalnya, dengan gambar2 menarik menjelaskan sejarah waveguide, dari metal, coax, hingga intrachip waveguide. Sementara Prof Kim yang juga disebut Bapak Sepakbola Robot menjelaskan dari level filosofis, bagaimana pikiran disusun dari info kontekstual, logika fuzzy, dan kecerdasan sosial.

Setelah sesi foto (ini kopdar loh), konferensi berpindah ke tujuh ruang, untuk mendiskusikan materi-materi yang spesifik. Aku stay di Ruang 5, yang mendalami soal arsitektur, trafik, dan aspek lain dari network. Di Ruang 5, puluhan paper dipaparkan dalam beberapa sesi dari hari Selasa hingga Kamis. Setiap presentasi dipaparkan dalam 20 menit, disusul tanya jawab. Materinya tak lagi soal filosofi atau arahanriset, melainkan rincian hasil2 riset. Pemaparnya adalah researcher, engineer, geek, jadi bisa dibayangkan cara berpresentasinya. Gue banget. Bebas dari polusi marketeer, socialita, dll, haha. Bahasanya Inggris dengan dialek Jepang, Korea, Cina, India, hingga New Zealand. Jelek kayak Bahasa Inggrisku deh :p. Syukur gak ada bahasa miaow lagi dalam diskusi.

Ada sesi makan malam, untuk networking, beramah tamah, dan menyaksikan sedikit bagian dari kekayaan budaya Bali. Ada acara jalan2 ke pantai menjelang tengah malam. Tapi sisanya adalah kontrol terus menerus atas kelancaran event.

Blog ini ditulis di satu sesi kopi, saat konferensi belum selesai. Mudah2an event ini sukses berat sampai akhir, menambah reputasi baik bagi Indonesia yang mampu lancar menyelenggarakan event akademis internasional hampir tanpa sponsor, menambah minat akademisi dan engineer Indonesia melakukan riset terfokus secara konsisten, mengubah Indonesia dari sekedar bangsa pencipta aplikasi amatir menjadi pengembang teknologi yang disegani.

BTW, Sanur asli keren :)

Kuliah Hari IEEE

Sejak tahun lalu, IEEE merayakan Hari IEEE. Iseng memang, kayak kekurangan hari :). Hari IEEE diharapkan dirayakan para anggota, tetap dengan gaya IEEE. Boleh melakukan kuliah umum, seminar, pertemuan teknis, atau pertemuan anggota, dan dianjurkan melibatkan publik. Dan soal melibatkan publik, tentu tujuannya bukan untuk membuka mata publik, melainkan justru untuk membuka mata para geek anggota IEEE mengenai pandangan publik.

Tahun ini, Hari IEEE jatuh pada 6 Oktober. Maka dalam beberapa hari, kami merancang dan mempersiapkan sebuah event. Tak perlu lama. Tak perlu perencanaan panjang untuk event kecil, dan tak boleh perencanaan mentah untuk event besar :). Atas usulan rekan-rekan di Indonesia Section, event bertemakan update atas teknologi LTE. Aku memberi judul IEEE Day Lectures on LTE Development. Pendukungnya, Indonesia Section, Indonesia Comsoc Chapter, UI Student Branch, dan ITT Student Branch.

Kami beruntung memperoleh izin melakukan kegiatan di @America. @America adalah ruang publik yang dimiliki Kedutaan Amerika Serikat di Jakarta, bertempat di Pacific Place Lantai 3. Sejak berdirinya, @America sering dan secara rutin melakukan atau mendukung kegiatan sosial dan budaya di ruangnya yang bergaya modern dan kental dengan nuansa hitech. Kegiatan semacam TEDx, Fresh, Akademi Berbagi dll rutin dilakukan di sini. OK juga kalau sesekali para geek IEEE berhimpun juga di sini.

Undangan disebar secara online melalui jejaring sosial, media komunikasi IEEE, dan jaringan kampus-kampus. Mungkin karena agak mendadak, tak banyak rekan dari luar Jakarta yang dapat hadir; termasuk Section Chair :).

Seperti yang sering diulas di blog ini, beberapa tahun terakhir ini Comsoc Chapter telah menyelenggarakan serial kuliah, seminar, dan pertemuan teknis untuk membahas berbagai aspek Jaringan Mobile 4G. Sejak tahun lalu, beberapa penyelenggara network telah menggelar uji kaji jaringan LTE dan WiMAX sebagai pendahulu 4G. Maka kuliah umum Hari IEEE ini ditujukan untuk memberikan update tentang hasil trial, implementasi, dan implikasi rencana 4G, khususnya di Indonesia. Ini juga akan jadi pembuka untuk serial seminar berikutnya yang akan berfokus pada berbagai aspek 4G secara terpisah: cognitive radio, context-aware apps platform, broadcast, dll.

Tanggal 6 sore, cuaca Jakarta cukup cerah. Kami mengisi energi sebentar, bersama tim ITT Student Branch, di resto Ta Wan di Pacific Place Lt 5. Saat langit menggelap, kami turun ke @America, dan menerima briefing sebentar dari Mbak Lulu, yang betul2 meluangkan waktu dan resource lainnya buat mensukseskan kegiatan ini. Pukul 19:00, event dimulai dengan pembukaan oleh Adeline dari @America, lalu acara dikendalikan MC Satrio Dharmanto dari IEEE Indonesia Section.

Speaker dalam kuliah umum ini:

  1. Kuncoro Wastuwibowo, Introduction to IEEE, and 4G Mobile Technology
  2. Anto Sihombing, Digital Video Broadcast over LTE Network
  3. Hazim Ahmadi, Lesson Learnt from LTE Trial in Indonesia
  4. Arief Hamdani Gunawan, Regulatory and Industry Aspects of LTE

Kali ini memang aku tak banyak aktif memberikan kuliah, karena banyak materi yang lebih menarik dapat disampaikan rekan-rekan; terutama Anto dan Hazim yang mulai aktif atau aktif kembali mengisi forum-forum internasional. Aku sekedar membuka mewakili IEEE :). Tapi ada yang membuatku mendadak tercekat. Waktu aku menyebut motto IEEE “Advancing Technology for Humanity” — pengembangan teknologi demi harkat kemanusiaan, mendadak tersergap kesedihan akan meninggalnya Steve Jobs pagi harinya (WIB). Ya, Steve memang tokoh luar biasa, yang secara komprehensif (bisnis, seni, teknologi) telah memparipurnakan hidupnya buat pengembangan teknologi yang meningkatkan nilai hidup manusia. Memang baru masyarakat urban, barangkali. Tapi itu tugas kita untuk terus menerus meningkatkan harkat kemanusiaan secara universal melalui teknologi.

Jumlah peserta kuliah Hari IEEE ini mencapai 50 orang. Peserta berasal dari universitas (UI Jakarta, ITT Bandung, UGM Yogya, dan beberapa kampus lain), operator (Telkom, Telkomsel, dan XL Axiata), pemerintah (Depkominfo), konsultan, dari IEEE sendiri, dan dari kalangan lain yang meminati teknologi mobile. Dari IEEE tampak Pak Arnold Djiwatampu yang juga Past Chair dari Indonesia Section, dan Mr . Arifin Nugroho yang juga chair dari COMNETSAT.

Terima kasih, @America, volunteer IEEE, para mahasiswa, para peserta, dan para speaker, yang membuat Indonesia dapat menyelenggarakan Hari IEEE dengan sukses! Advancing technology for humanity!

Sidang Comsoc Asia Pasifik

Tahun 2011 ini IEEE ICC diselenggarakan di kota Kyoto, Jepang. Seperti tahun-tahun sebelumnya, helat akbar IEEE di bidang infokom ini dibarengi beberapa pertemuan, baik teknis maupun organisasi, di lingkungan IEEE dan IEEE Comsoc. Mewakili IEEE Comsoc Indonesia Chapter, aku diundang hadir di Comsoc AP-RCCC. Undangan diterima bulan April, jadi ada waktu cukup luang untuk mempersiapkan visa Jepang, tiket, hotel, dll. Sayangnya bulan2 ini adalah bulan2 sibuk di Divisi Multimedia Telkom. Jadi aku tak sempat melakukan hal2 menarik, seperti mengingat2 kembali penulisan huruf hiragana, katakana, dan terutama kanji dasar, buat bekal jalan2.

Rute perjalananku cukup jail :). Alih-alih mengambil penerbangan Jakarta-Kansai seharga 7.5jt, aku mengambil jalur Jakarta-Haneda seharga 5jt, ditambah Shinkanzen Tokyo-Kyoto seharga 2.5jt. Jalur ajaib ini mengharuskanku terdampar tengah malam di Haneda Airport sampai pagi, sebelum melaju ke Shinagawa Station dan Kyoto.

Tapi, Shinkanzen cukup kencang, dan pagi itu juga aku sudah sampai di Kyoto, plus sempat beristirahat. Setelah melaporkan kehadiran ke organiser, aku meluangkan waktu dengan menjelajahi pusat2 budaya di Kyoto. Sebenarnya, Kyoto sendiri adalah pusat budaya Jepang klasik. Aku mengunjungi kuil Buddha dan Shinto di Kiyomuzudera, dan kuil Zen di Konnin-ji, dan menghabiskan sore dengan melihat cuplikan teater Jepang klasik di Gion Corner. Tapi akhirnya aku kembali ke hotel dan melakukan finalisasi presentasi.

ICC dan konferensi yang menyertainya diselenggarakan di KICC, sebuah resort di timur laut Kyoto. Tampaknya tempat ini memang disiapkan untuk menjadi ruang diskusi bertaraf internasional. Aku tak mengikuti sesi-sesi ICC secara penuh. Hanya sesi workshop. Tapi aku harus mengikuti sidang AP-RCCC di tempat yang sama.

Jika IEEE Region 10 Meeting di Yogyakarta lalu merupakan pertemuan organisasi dari IEEE di kawasan Asia Pasifik, maka AP-RCCC ini adalah pertemuan dari IEEE Communications Society. Membahas wilayah Asia Pasifik, pertemuan ini dihadiri Presiden Comsoc, para VP dan direktur, Region Amerika Utara, Region Amerika Selatan, serta para ketua chapter Comsoc se-Asia Pasifik. Di dalam IEEE Comsoc, Region Asia Pasifik meliputi kawasan yang membentang dari Pakistan di barat, Jepang di timur laut, hingga New Zealand di tenggara.

Presiden IEEE Comsoc, Byeong Gi Lee, membuka sidang dengan menyampaikan tantangan terkini di bidang telaah komunikasi. Konvergensi telah melalui satu tahap dalam informasi digital, dan saat ini kita masuk ke konvergensi berbagai service. Konvergensi bukan hanya antara bidang komunikasi dan komputasi, tetapi melebar ke elektronika konsumen, media, dan kawasan lainnya. Comsoc mengantisipasi hal ini dari berbagai sisi: pendekatan pendidikan dan content, pendekatan industri, dan pendekatan standardisasi. Perumusan ini diikuti juga dengan restrukturisasi organisasi Comsoc. Berbagai aspek berkaitan dengan konvergensi lebih lanjut ini memicu diskusi yang cukup menarik.

Berikutnya beberapa VP dan direktur menyampaikan laporan dan arahan. Dan setiap chapter menyampaikan laporan, rencana kegiatan, dan hal-hal lain. Indonesia memperoleh giliran pertama untuk memberikan laporan. Aku menyampaikan laporan kegiatan yang saat ini masih dititikberatkan pada kampanye teknis dan organisasi IEEE dan Comsoc, termasuk dukungan dalam pembentukan 4 IEEE student branches pertama di Indonesia, serial roadshow, dan pendekatan lain. Rencana ke depan meliputi penyusunan konferensi yang lebih besar (lebih dari saat ini yang berupa seminar atau lecturing tematis). Untuk ini diperlukan assistance dan support dari Region maupun chapter yang bertetangga. Juga disampaikan persiapan TENCON di Bali bulan November 2011, dan permintaan untuk distinguished lecturer & distinguished speaker atas progress terkini di bidang ilmu Comsoc. Cukup banyak yang menyampaikan dukungan atas kegiatan IEEE Comsoc di Indonesia ini. Perwakilan chapter lain menyusul memberikan laporan.

Selesai konferensi, aku kembali ke pusat Kyoto dengan MRT bersama Prof. Hsiao-Hwa Chen. Ada yang agak lucu sebenarnya. Pertama jumpa (sebelum konferensi), beliau menyebut namanya, lalu aku menyampaikan bahwa tentu aku kenal beliau, baca beberapa papernya, dan bahkan tahun lalu sempat berkorespondensi. Beliau menanggapi antusias. Padahal sebenarnya tahun lalu korespondensi dari beliau bernada marah akibat sebuah kesalahpahaman yang lucu :). Tapi ini tak dibahas. Malah akhirnya kami berbincang panjang dengan pengelolaan chapter, tentang pengelolaan platfrom, tentang sejarah Jepang dan Kyoto, dst.

Jadi esoknya aku menyempatkan diri menelusuri kembali kawasan2 bersejarah di Nara (ibukota Jepang yang pertama, sebagai Jepang yang telah bersatu) dan di Kyoto (ibukota Kekaisaran Jepang selama 1000 tahun), sebelum akhirnya beranjak kembali ke Tokyo (ibukota Jepang sejak Restorasi Meiji).

Cerita lengkap (non IEEE) atas kunjungan ke Jepang ini:

IEEE Region 10 Annual Meeting 2011

Satu tahun setelah Peristiwa Lapu-Lapu, IEEE Region 10 kembali menyelenggarakan annual meeting. Kali ini, Indonesia menjadi tuan rumah, dan pertemuan besar ini dilaksanakan di Sheraton Yogyakarta. Menariknya, minggu2 ini kegiatan di kantor sedang cukup gila, dan rescheduling kegiatan kantor yang sungguh amburadul nyaris membatalkan kehadiranku di Yogyakarta. Tapi syukur aku memilih terbang dengan Garuda Indonesia, jadi semuanya berjalan baik.

Kami sendiri  mengajukan kota Yogyakarta sebagai tuan rumah kegiatan ini dalam kegiatan serupa tahun lalu di Pulau Mactan. Saingan kami a.l. Australia, New Zealand, Bangkok, India, dan Tokyo. Namun kampanye kami efektif, sehingga tahun ini, tanggal 5-6 Maret lalu, R10 bersua di kaki gunung Merapi yang mendadak mengalirkan lahar lagi ini. Dalam annual meeting ini, hadir President-Elect of the IEEE, Gordon Day; Director of Region 10, Lawrence Wong; para pengurus  berbagai divisi, baik di level pusat maupun region; perwakilan section berbagai negara di Asia Pasifik; dan perwakilan chapter dan branch di Indonesia. Tim Indonesia sendiri diwakili chairman Muhammad Ary Murti, yang baru satu bulan ini menggantikan Arnold Ph Djiwatampu sebagai Indonesia Section Chair. Aku tentu hadir mewakili IEEE Comsoc Indonesia Chapter.

Annual meeting diselenggarakan mengikuti Robert’s Rules of Order yang juga banyak digunakan di parlemen-parlemen dunia. Chairman Lawrence Wong mengawali dengan Call to Order, dan diikuti dengan Roll Call, lalu diikuti reports. Menarik bahwa urutan kegiatan ini dapat terlaksana tepat waktu dari menit ke menit. Tanpa peduli jabatan, semua presenter hanya dapat memberikan presentasi 5-10 menit sesuai kesepakatan.

Dalam laporannya, Gordon Day, President-Elect 2011, yang tentu akan jadi President/CEO IEEE 2012, mengingatkan kembali akan transformasi yang masih terus terjadi di IEEE. Meluas dari dunia elektroteknika, IEEE kini mencakup dunia aeronautical, biomedical, electrical, electronic, computer, information technology, mathematics, physics, telecommunication, hingga automotive and biological engineering. Jumlah anggota mencapai 407 ribu. Namun jumlah ini masih kurang dari 10% para engineer di bidang kerja IEEE. Di US, hanya 7.5% engineer pada bidang ini yang menjadi anggota IEEE. Di Indonesia, hanya 0.5%.

Dengan tag advancing technology for humanity, pendekatan yang dilakukan IEEE a.l. memperkuat organisasi untuk dapat melayani generasi baru engineer, terutama di bidang-bidang baru yang akan lebih maju meningkatkan harkat hidup kemanusiaan. IEEE juga diarahkan untuk menjadi lebih global, merangkul para teknologis yang tersebar luas di seluruh dunia; serta meningkatkan peran dan kepemimpinan. Perubahan2 ekonomi, sosial, dan budaya yang terjadi makin cepat dalam waktu-waktu ini dilatarbelakangi secara strategis oleh pemanfaatan teknologi yang makin mendukung peningkatan harkat hidup manusia, secara individu dan sosial. Ini tak berhenti di sini. Dan para engineer harus terus diingatkan bahwa mereka masih memiliki tanggung jawab profesional untuk mendukung tata hidup yang lebih baik di abad-abad berikutnya.

Lawrence Wong menambahkan dengan menunjukkan keunikan wilayah Asia Pasifik: ini adalah region dengan jumlah anggota terbesar di dalam IEEE, dan dengan pertumbuhan tertinggi, terutama di kalangan mahasiswa dan engineer muda. Ini mencerminkan karakteristik kawasan ini yang merupakan kawasan teknologi paling dinamis sedunia. Yang akan dilakukan di region ini adalah meningkatkan sinergi antar wilayah, terutama dengan memanfaatkan sarana Internet.

VP MGA Howard E. Michel mendetilkan bahwa alih-alih mengurusi soal membership, IEEE akan lebih berfokus kepada member: How to Inspire, Enable, Empower and Engage the members of IEEE. Langkahnya panjang dan detail. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan IEEE Center for Leadership Excellence (CLE) untuk membangun kepemimpinan member. VP Educational Activities Tariq Durrani memaparkan beberapa prakarsa untuk mengembangkan pendidikan engineering sejak sebelum masa kuliah, misalnya TISP (program pelatihan dan penyertaan bagi guru), situs TryEngineering dan TryNano, akreditasi, sertifikasi, WIE (women in engineering), dll. Kelihatannya, selepas dari tugas di Comsoc, aku bakal suka mendalami TISP atau program semacam Faraday Lectures (dari IET). Eh. Meeting juga membahas laporan TENCON 2010 di Fukuoka, TENCON 2011 yang akan dilaksanakan tahun ini di Sanur (dipaparkan Chairman TENCON 2011 Dr Wahidin Wahab), dan TENCON 2012 di Cebu. Dan … hmm … banyak juga :).

Para peserta, yang mencapai sekitar 150 orang, juga diajak mengunjungi Candi Prambanan dan Kraton Yogyakarta, untuk mengenal budaya lokal. Dinner juga dihidangkan di kawasan Kraton Yogyakarta. Tapi di samping kunjungan bersama ini, beberapa peserta juga sudah mengincar untuk mengunjungi tempat2 menarik, seperti Candi Borobudur, dan Dalan Maliyoboro ingkang kondang sakjagad kuwi. Tampaknya Yogyakarta menjadi tuan rumah yang sukses untuk helat akbar IEEE Asia Pacific kali ini. Thank you, Yogya :)

%d bloggers like this: