Candaan Higgs

Piala Eropa UEFA baru usai dini awal Juli ini. Namun, seolah enggan membiarkan mata dunia lepas dari Eropa, CERN mengelar pra-konferensi pada 4 Juli 2012 untuk menyampaikan kesimpulan awal atas ditemukannya partikel baru pada wilayah energi yang bertepatan dengan dugaan nilai energi Boson Higgs. Aku sendiri mengikuti pra-konferensi itu melalui life web-conference yang memang terbuka untuk publik, sambil mengikuti Rakor Divisi Multimedia di Menara Multimedia Lt 3. Telinga kiri mendengarkan CERN, telinga kanan mendengarkan Rakor, dan mata bergantian menatap ke berbagai layar.

Tentang pencarian Boson Higgs, pernah aku tulis di blog ini. Alamatnya: fk.vc/higgs. Yang disampaikan pada 4 Juli adalah bahwa lab ATLAS secara meyakinkan menemukan partikel baru pada energi 126 GeV, sementara secara terpisah lab CMS secara meyakinkan menemukan partikel itu pada energi 125.3 GeV. Mereka memang tak semerta mengakui menemukan Boson Higgs; namun opini dunia langsung terbawa ke kesimpulan bahwa Boson Higgs telah ditemukan. Stephen Hawking, yang sempat melukai hati Peter Higgs karena mempublikasikan keyakinannya (yang tak didukung eksperimen) bahwa Boson Higgs tidak ada — dan dengan demikian Mekanisme Higgs tidak benar, pun akhirnya mengakui kesalahannya. Dalam waktu singkat, ini jadi arus utama berita dunia — termasuk bagi 99.99% warga dunia yang belum juga paham apa itu Mekanisme Higgs. Twitter justru dipenuhi kicauan bahwa penemuan terbesar dalam 50 tahun terakhir ini dipublikasikan ke dunia menggunakan font MS Comic Sans nan tak ada elok2nya itu. Padahal, wkwk, font itu sebenarnya dipilih untuk menunjukkan gaya berdiskusi para fisikawan yang masih suka mencoret2 dengan tulisan tangan yang kasar dan bergaya buruk, tapi diusahakan tetap bisa dibaca.

Sambil menunggu beberapa minggu/bulan/tahun hingga CERN dan pihak-pihak lain dapat memastikan bahwa memang partikel yang ditemukan pada 125-126 GeV itu adalah Boson Higgs; dan aku sudah pernah menulis tentang Higgs dengan gaya agak serius; mungkin aku sedikit bahas candaan masyarakat tentang Boson Higgs sajah.

Salah satu candaan paling awal menceritakan Boson Higgs datang ke Gereja Katolik. Sang pendeta bertanya, “What are you doing here?” dan dijawab Boson Higgs, “You can’t have mass without me.” Mungkin itu salah satu sebab partikel ini disebut2 kaum awam sebagai partikel tuhan.

Tapi versi lain menyebutkan bahwa Boson Higgs disebut sebagai partikel tuhan karena ia diyakini ada tapi tak dapat dilihat atau dibuktikan secara fisika. Namun artinya seharusnya julukan ini tak dapat digunakan lagi saat Boson Higgs dibuktikan ada secara fisika.

Versi lain menyiratkan, saat pembuktian Boson Higgs masih tak dimungkinkan, bahwa partikel ini memang salah satu yang ditabiri tuhan agar manusia tak mungkin melihat momen2 penciptaan. Tabir2 lain adalah Ketidakpastian Heisenberg yang tak memungkinkan manusia mengamati secara presisi interaksi pada skala sangat kecil yang justru amat esensial untuk memahami interaksi materi dan energi; Horison Peristiwa yang tak memungkinkan manusia mengamati apa yang terjadi di dalam Lubang Hitam; dan Waktu Planck yang tak memungkinkan manusia mengamati hukum fisika yang terjadi pada saat semesta baru terbentuk. Tapi, sekali lagi, pengangkatan tabir dari Boson Higgs seharusnya menghapuskan statusnya sebagai partikel tuhan juga.

Versi entah dari mana adalah bahwa seperti tuhan yang selalu menyayangi kaum lemah, maka Boson Higgs hanya berinteraksi dengan mereka yang memiliki kelemahan, i.e. interaksi nuklir lemah. Kita tahu, Mekanisme Higgs bekerja pada Boson W dan Z (Boson Lemah) serta akibatnya pada fermion, yaitu kuark dan lepton. Akibatnya kuark dan lepton memiliki massa, sementara boson seperti foton (cahaya) tidak memiliki massa.

Tapi memang, mudah2an penyebutan Boson Higgs sebagai partikel tuhan atau nama2 sejenis bisa mulai dihentikan. Memang ini partikel misterus, yang penemuannya diharapkan bisa melengkapi dan menjelaskan asal-usul semesta. Tapi ini adalah partikel, titik.

Lalu Boson Higgs mendatangi teman-temannya dengan muram. “Kenapa sih mukamu kusut? Kayak lagi dibebani berat seluruh semesta,” kata rekan-rekannya. “Memang,” kata Boson Higgs.

“Boson Higgs sedang jadi primadona dunia, yang disebut di mana-mana. Padahal dalam metafora, justru ia digambarkan sebagai khalayak yang mengerumuni selebrity (misalnya lepton) dan membuat mereka sulit bergerak, lembam. Itu adalah metafora terbentuknya massa. Ketertarikan khalayak dipengaruhi keterkenalan si selebrity, dan menentukan kelembaman/massa setiap partikel.”

Seorang astrofisikawan menulis ide yang lebih menarik. “Kita sekarang harus mencari partikel Anti-Higgs,” tulisnya, “Buat menurunkan berat badan.”

Comnetsat dan Cyberneticscom

Ternyata cukup memicu adrenalin, seluruh persiapan konferensi kembar IEEE COMNETSAT dan IEEE CYBERNETICSCOM. Sejak informasi atas konferensi ini disebarluaskan pada Januari, paper-paper baru diterima pada injury time menjelang april. Syukur kami mendapatkan dukungan kuat dari organisasi dan dari para sejawat. IEEE memberikan Letter of Acquisition-nya secara cepat – mungkin terkesan atas kekerenan IEEE Indonesia Section menyelenggarakan IEEE TENCON 2011 tahun lalu. Sebagai speaker, para eks presiden dari IEEE dan IEEE Comsoc memberikan kesediaannya. Track chairs kami undang dari berbagai universitas dan lembaga di seluruh Indonesia. Para track chairs, sebagai penjaga kualitas konferensi, memilih reviewer paper. Akhir Mei, paper telah selesai direview. Hanya sekitar 50% paper yang lolos pada periode ini. Lalu peserta hanya punya waktu singkat untuk memperbaiki paper sesuai masukan reviewer. Kemudian kami mulai menyiapkan event konferensinya sendiri. Waktu yang singkat membuat tak banyak volunteer IEEE yang memberanikan diri ikut terlibat. Dengan adrenalin yang terpicu mengejar kualitas dan waktu, akhirnya kami berangkat ke Denpasar. The show must go on.

COMNETSAT dan CYBERNETICSCOM dibuka secara resmi hari Kamis, 12 Juli 2012. Lokasi di Inna Grand Hotel Bali, di Pantai Sanur. COMNETSAT adalah Konferensi IEEE atas Komunikasi, Network, dan Satelit; sementara CYBERNETICSCOM adalah Konferensi IEEE atas Intelijensi Komputasional dan Sibernetika. Sebagai anggota committee yang paling tidak sibuk (gubrak), aku difungsikan jadi MC Clumsy. General Chair, Dr Ford Lumban Gaol membuka secara formal dan banyak berterima kasih. M Ary Murti, IEEE Indonesia Section Chairman, menyelamatdatangi dan berkisah singkat tentang IEEE dan Indonesia Section. Dan yang kemudian banyak ditunggu adalah keynote speech. Pun sebagai konferensi kembar, setiap konferensi memiliki keynote speech tersendiri.

Keynote speech untuk CYBERNETICSCOM disampaikan oleh Prof Michael Lightner, Presiden IEEE tahun 2006. Berjudul Machine Learning for Assistive Technology, Lightner mengawali dengan keprihatinan bahwa sangat besar jumlah manusia yang sebenarnya mengalami kecacatan pada berbagai level. Riset di bidang assistive technology mengarah ke peningkatan harkat hidup manusia dengan berbagai keterbatasan. Mulanya memang dengan alat2 bantu; namun kemudian juga dengan agen2 yang ditanamkan ke dalam badan manusia. Salah satu materi yang dipaparkan namun belum dapat dibagikan adakah riset yang tengah dilakukan tim beliau untuk melakukan bypass di dalam otak untuk mengatasi masalah akibat gangguan memori jangka pendek.

Keynote speech untuk COMNETSAT disampaikan oleh Prof Byeong Gi Lee, Presiden IEEE Communications Society (Comsoc) tahun 2011. Bertemakan Convergence of Communications towards Smart Era, BG Lee memaparkan bagaimana revolusi pada komunikasi dan informasi digital akan saling berpengaruh pada budaya dan kehidupan sosial manusia. Bagaimana pengolahan konteks menjadi kian penting untuk pengembangan sistem yang akan lebih cerdas memahami dan meningkatkan harkat hidup manusia.

Selesai sidang pembukaan, konferensi dibagi atas sesi-sesi pemaparan paper di beberapa ruang. Pembagian ruang antara CYBERNETICSCOM dan COMNETSAT tak terlalu kaku. Sebuah ruang dapat digunakan bergantian. Namun tentu tidak ada satu sesi yang mencampurkan kedua konferensi yang terpisah itu.

Sebagai anggota merangkap koordinator Technical Program Committee COMNETSAT, aku tentu lebih banyak beraktivitas di COMNETSAT. Jadi session chair, atau setidaknya menunjuk session chair dari para peserta konferensi di setiap sesi, atau sekedar pengamat yang ikut belajar di sesi-sesi.  Dan di antara sesi-sesi, kami melakukan networking, menambah teman seinpirasi dan sehobby, mempergunjingkan masa depan cognitive radio dan berbagai varian 4G, serta berbagi aneka update. Dalam sesi-sesi ini, bukan saja kami yang asyik dan sok sibuk. Prof Lightner dan Prof BG Lee pun aktif masuk dan meramaikan sesi-sesi. Dalam beberapa hal, konferensi ini lebih menakjubkan daripada TENCON :).

Konferensi masih berlangsung hingga besok, Sabtu 14 Juli. Sabtu akan diawali dengan Plenary Speech dari Prof Pramod K Varshney, memaparkan  Cognitive Radio Networks. Topik yang menarik. Kebetulan ini salah satu topik favoritku, dan pernah aku kuliahkan di salah satu sesi Kuliah Umum IEEE di ITTelkom. Kemudian akan menyusul beberapa sesi pemaparan paper lagi.

Sanur masih sekeren yang aku lihat saat TENCON tahun lalu. Pasir putih yang lembut siap mengenyahkan kelelahan dan ketegangan persiapan konferensi. Tupai-tupai di pohon kelapa dan pohon kamboja jadi teman-teman becanda. Tapi pasti masih banyak tempat2 keren di seluruh Indonesia buat CYBERNETICSCOM dan COMNETSAT tahun2 berikutnya.

Le Quartier Latin

Le Quartier Latin adalah kawasan di La Rive Gauche (bantaran kiri dari Sungai Seine) di kota Paris. Julukan kawasan ini diberikan masyarakat karena di abad2 pertengahan, penghuni wilayah ini banyak menggunakan Bahasa Latin. Tentu bukan karena mereka memerankan pasukan Romawi di film Astérix; tetapi karena di masa itu Bahasa Latin adalah bahasa komunikasi para ilmuwan antar bangsa. Hingga kini, tempat ini masih jadi kawasan para ilmuwan, ditandai dengan banyaknya universitas, lembaga penelitian, dan hal-hal berkaitan, seperti toko-toko buku, perpustakaan, kafe; dan kelompok2 mahasiswa.

Di akhir Mei, dalam cuaca Paris yang cukup terik, kami menyeberangi Sungai Seine, dan berjalan kaki memasuki Quartier Latin ini melalui Saint-Germain-des-Prés. Saint-Germain sendiri cukup menarik; berisi jalan2 dan gang2 kecil seukuran satu mobil saja, dan berisi toko2 kecil berisi karya2 seni yang tertata anggun dan eksklusif. Di sini, kami berhenti sejenak, beli buah2an untuk menambah energi dan kesegaran, dan meneruskan perjalanan. (Sebelumnya kami jalan cukup jauh, dari Montmartre, melintasi Louvre, baru menyeberangi Seine).

Di kunjungan sekian tahun sebelumnya ke Paris, aku ditanyai: Siapa tokoh yang paling dikenal di Paris? Barangkali aku waktu itu masih bau kampus; jadi jawabanku malah Sartre, Foucault, dan Derrida. Tapi, waktu itu juga, kemudian aku baca Le Point (gratisan). Memang ada masalah di Perancis secara umum. Misalnya, saat itu, Perancis tak terlalu banyak lagi dianggap sebagai pusat kegiatan sains; tak lagi banyak menghasilkan Pemenang Nobel, dll. LHC belum ada sih :). Bahkan sebuah kartun dalam artikel itu menggambarkan pria dan wanita Paris yang ramping & keren, bawa red wine, cuma berkomentar, “On ne peut pas bon en tout.” Filsafat Derrida pun di banyak negeri cuma dianggap kekenesan Perancis dengan anggur merah :). Menggali ingatan lagi, baru ingat banyak nama lain yang mengukir nama besar Paris: Pierre dan Marie Curie serta Becquerel; Poincaré dan De Broglie; Pasteur; Debussy dan Ravel; dan ke abad sebelumnya: Ampere, Lagrange, Descartes, dst. Politisi dan penguasa, memang buat aku tak menarik, selain barangkali jadi polusi sejarah.

Tapi masuk ke Quartier Latin, yang pertama dijumpai malah Montesquieu, yang sedang menghangatkan diri di taman kecil di Saint-Germain; ditemani JJ Rousseau yang berlindung di bawah pohon. Sebuah poster dekat situ mengkampanyekan memilih Darth Vader, wkwk. Dari zaman kesetaraan, ke penghargaan terhadap ‘yang lain’, sampai kecintaan ke nilai-nilai penghancur dari semesta lain, wkwk. René Descartes kami jumpai tak jauh dari sana sebagai sebuah universitas yang tengah direnovasi, satu dari 13 pecahan Université de Paris. Dan beberapa langkah dari sana, sebuah toko buku memamerkan versi berbagai bahasa dari buku Saint-Exupéry: Le Petit Prince! Kami langsung menyerbu masuk, menjelajah dari Basement hingga Lt 5, dan — setelah menahan diri — membawa 3 terjemahan lagi dari Le Petit Prince. Sudah lupa berapa yang tersimpan di Jakarta :).

Menyeberangi jalan di sekitar Saint-Michel, kami sampai ke gedung sejarah Université de Paris atau sering disebut La Sorbonne. Nama terakhir ini diambil dari Robert de Sorbon, pendiri college yang kemudian berkembang menjadi Université de Paris ini. Sorbonne adalah salah satu universitas tertua di Eropa, berkembang dari college2 di sekitar Quartier Latin. Pernah dibubarkan setelah Revolusi Perancis (1793), dia dibentuk lagi seabad kemudian. Gerakan mahasiswa di Paris 1968, yang memprotes struktur pendidikan dan struktur sosial secara umum, membuat Université de Paris benar2 dibubarkan dan dipecah jadi 13 universitas yang mandiri. Walaupun benar2 independent, beberapa universitas eks Université de Paris membentuk kepemimpinan bersama di bawah satu Chancellor yang juga sebagai Rektor dari Académie de Paris. Di luar hal ini, setiap universitas benar2 mandiri dan tak saling berkaitan.

Tak jauh dari Sorbonne: Panthéon! Bangunan ini adalah semacam monumen peringatan, berbentuk agak mirip rumah ibadah dengan kubah besarnya, namun ia tidak bersifat religius dan lebih bersifat ideal dan nasional.

Di dalamnya terpasang kenangan2 akan nilai-nilai yang membentuk Perancis modern: mozaik, lukisan, patung, dan inskripsi yang menggambarkan perjuangan kemanusiaan warga Perancis. Dan di tengah, digantungkan dari atas kubah, adalah Pendulum Foucault.

Masuk ke hall utama Panthéon, aku coba cari jalan ke arah pendulum ini. Tapi ternyata pendulumnya sudah ada di depanku. Pendulum logam keemasan itu menggantung dengan kawat tipis yang tak mudah tampak. Panjang kawat mencapai 67m. Kelembaman membuat bola ini bergerak secara tetap, tak terpengaruh putaran bumi. Namun karena bumi berputar, bola seolah bergerak berlawanan dengan arah putaran bumi. Maka pendulum Foucault menjadi bukti sederhana bahwa bumi memang berputar. Tapi tentu, di tahun 1851, saat Léon Foucault memasang pendulum itu, warga bumi sudah sadar bahwa bumi itu bulat dan berputar :).

Kita yang berpikir sebagai orang Indonesia, atau yang tinggal wilayah katulistiwa lain, tak akan mudah membayangkan cara kerja pendulum ini. Andai Panthéon dipindah ke Indonesia, pendulumnya tak akan berputar, atau setidaknya perputarannya tak akan tampak. Tapi bayangkan kondisi ekstrim andai Panthéon diletakkan tepat di kutub utara. Pedulum bergerak tetap, sementara Panthéon (atau kerangka sang pendulum) berputar mengikuti putaran bumi. Pendulum yang tak menempel bumi tidak harus ikut berputar mengikuti putaran bumi. Maka, dari sisi pengamat (yang tentu saja ikut berputar mengikuti putaran Panthéon), justru sang bola pendulum yang tampak bergerak berputar pelahan: 360 derajat per hari. Di tempat-tempat selain khatulistiwa dan kutub, pendulum akan tetap tampak berputar. Tapi putarannya akan lebih lambat. Dalam sehari ia akan tampak berputar sebesar sin(x) dengan x menunjukkan lintang tempat pendulum diayunkan. Untuk kota Paris, pada lintang 48 derajat (pura2nya 45 lebih dikit deh), maka sin(x) sekitar satu per akar dua lebih dikit (pura2nya 3/4 aja deh), dan pendulum akan seolah berputar 270 derajat per hari. Karena putaran ini stabil, kita dapat menyusun semacam skala waktu di bawah pendulum untuk membaca jam :).

Kubah Panthéon, selain digunakan untuk eksperimen Leon Foucault, juga merupakan tempat eksperimen radio pertama di Paris, menghubungkan pemancar dan penerima di Panthéon dan Eiffel. Memang Panthéon masih tampak jelas dari Eiffel. Berikut foto Panthéon yang diambil dengan iPhone (plus lensa télé) dari puncak Eiffel semalam sebelumnya:

Bagian bawah di Panthéon berfungsi sebagai makam bagi para tokoh-tokoh Perancis, dari filsuf seperti Voltaire dan JJ Rousseau, sastrawan seperti Émile Zola dan Alexandre Dumas, matematikawan seperti Lagrange, fisikawan seperti Carnot, dan tentu pasangan ilmuwan Pierre dan Marie Curie. Juga Braille. Temboknya digunakan untuk mengenang berbagai tokoh, termasuk penulis dan pahlawan perang Saint-Exupéry.

Keluar dari Panthéon, kami mengarah ke selatan. Di sini terdapat Institut Curie, di Rue Pierre & Marie Curie. Lembaga penelitian ini merupakan pengembangan dari tempat penelitian Pierre dan Marie Curie, yang masih digunakan dan dikembangkan hingga kini. Sebenarnya terdapat sebuah museum di dalamnya; tapi sayangnya saat ini tengah direnovasi. Di halaman, masih tampak Pierre dan Marie Curie duduk berdekatan di bawah pohon2 tipis di taman yang sejuk.

Mengikuti jadwal, kami kembali ke Saint-Michel, dan naik bis ke Musee d’Orsay, masih di bantaran kiri. Tapi, hari berikutnya, kami kembali lagi ke Saint-Michel. Kali ini untuk berburu buku.  Aku memang terbiasa menjenguk toko buku di mana pun. Dan biasanya sekalian yang besar, kalau kunjungan ke kota tak terlalu lama. Tapi di Paris, toko buku besar tak mudah terlihat. Mungkin terpisah dari kawasan wisatawan, aku pikir. Jadi aku sengaja naik taksi, dan minta diantar ke grandes librairies. Chauffeur menganggap itu bukan request yang mudah. Ia mengusulkan ke Saint-Michael saja. Di sana banyak toko2 buku yang agak besar, katanya. Ternyata, memang di Perancis ada hukum yang mengatur penjualan buku. Buku diatur agar harganya sama, baik dibeli di toko besar, toko kecil, ataupun online. Maka toko2 buku kecil dan sedang bisa bersaing dan berumur panjang; berbeda dengan di banyak negara, di mana toko2 buku kecil mulai hilang dikalahkan toko besar dan toko online. Kebijakan yang menarik, dan berhasil membawa kami ke Le Quartier Latin lagi :).

Sambil, kali ini, menikmati secangkir kopi.

Praha dan Metamorfosis

Sebenarnya Mei adalah bulan yang tepat untuk mengunjungi Ceska. Peringatan «Musim Semi Praha» konon masih menjadi event yang menarik, baik bagi penduduk Ceska, dan khususnya Praha, serta bagi wisatawan. Namun mungkin bagi warga Ceska masa kini, romantisme perjuangan melawan komunisme tidak lagi perlu sering diungkit. Perjuangan negeri ini lebih panjang daripada pendudukan kejam Tentara Soviet dan Partai Komunis. Dinasti Habsburg semena2 membubarkan Kekaisaran Romawi Katolik dan menjadikan wilayah Bohemia, Moravia, Silesia, dan sekitarnya masuk ke Kekaisaran Austria yang baru. Runtuhnya Kekaisaran Austria dalam PD I membuat Ceska dan Slovenska memperoleh kemandirian sebagai negara Ceskoslovenska. Namun ambisi Jerman yang didukung pengkhianatan politisi Inggris dan Perancis membuat negeri ini diduduki Jerman, dan kemudian juga diserang Hongaria, dan Polandia; sebagai pretext PD II. Setelah PD II, negeri ini dipaksa jadi komunis selama puluhan tahun, bahkan kemudian dikuasai komunis garis keras yang didukung pendudukan militer Uni Soviet di tahun 1968; sebelum akhirnya kembali mandiri setelah runtuhnya komunisme di Eropa Timur. Sayangnya, ia membelah diri kembali jadi Ceska dan Slovenska.

Perjalanan ke Praha sudah aku tulis di blog Travgeek: fk.vc/cz. Berikut cuplikannya yang berkait dengan Kafka.

Di Praha, aku tinggal di Mala Strana, bagian dari kota tua Praha dengan gaya yang masih klasik. Sore pertama di Praha, aku memutuskan menjelajah sepanjang Mala Strana, melintasi Taman Petrin dan Museum Musik (Dvorak), dan berhenti di Jembatan Charles (Karluv most). Jembatan ini menyeberangi Sungai Vltava; dibuat pada masa Raja Charles IV (abad ke-13), raja Bohemia yang diangkat sebagai Kaisar Romawi Katolik sebelum Dinasti Habsburg. Dari jembatan ini, tampak di samping Sungai Vltava, bagian belakang dari Museum Kafka.

Namun bari di hari berikutnya, setelah berkeliling Kota Tua Praha dengan tram, baru kami bisa meluangkan waktu menjenguk Museum Kafka.

Museum Kafka mengambil bangunan dari rumah tempat lahir Franz Kafka. Di dalamnya dipamerkan bagaimana Praha membentuk dan memetamorfosis Kafka dan bagaimana Kafka mengeksplorasi Praha, dunia, dan semestanya untuk membentuk karya2nya yang inspirasional hingga kini. Sayangnya, di dalam museum ini kita dilarang memotret apa pun.

Bagian awal menampilkan Praha yang hitam putih, kabur, menampilkan sudut kota tanpa berprasangka dan tanpa membandingkan dengan nilai-nilai besar. Foto-foto kota Praha masa Kafka ditampilkan hitam putih. Sebuah proyektor menampilkan kota Praha, tetap dalam nuansa hitam putih dan kabur, diiringi musik lembut Ma Vlast dari Bedrich Smetana, sekedar menggantikan nada sungai Vltava yang mengalir malas di luarnya. Serba senyap, rahasia, mempermainkan ruang, membalik kejelasan, mempesona, namun juga mengancam.

Di ruang-ruang berikutnya, catatan harian dan surat Kafka masa remaja tertata rapi, dengan terjemahan pada bagian2 penting, menampilkan konflik kognitif pada hidup anak muda ini. Kafka, dari keluarga keturunan Yahudi yang terpelajar di Praha, menulis  dalam Bahasa Jerman, bukan dalam Bahasa Cestina. Bahkan, dalam buku-bukunya, Kafka nyaris tak pernah secara jelas menyebut kota Praha. Ini berbeda dengan Kundera misalnya, yang cukup real memaparkan peristiwa2 dalam novelnya bukan saja dikaitkan dengan tempat real, namun juga dengan peristiwa historis yang real. Kafka mencerap Praha sebagai deretan peristiwa dan sejarah kemanusiaan yang tak harus memiliki label.

Orang hanya bisa menduga bahwa gereja anonim dalam buku Trial mungkin adalah Katedral St Vitus (Katedrala svatého Víta) di dalam Kastil Praha (Prazsky hrad); atau adegan lain yang menyebut jalan dekat Jembatan Charles, bantaran sungai Vltava, dll. Praha hadir tanpa nama dalam Kafka. Juga kadang tanpa rupa, dan hanya jadi metafora topologi.

Buku pertama dari Kafka yang aku baca adalah Metamorfosis (Die Verwandlung atau Transformasi) yang ditulis hampir seabad lalu. Kafka menulis buku ini secara maraton, konon sambil menikmati insomnia, pada bulan November 1912. Tokoh Gregor Samsa, tanpa sebab apa pun, berubah jadi kutu yang menjijikkan. Gregor (dan kita) bahkan tak harus paham mengapa ia menjadi kutu. Tapi itu membuat Gregor berubah, dari anak muda yang jadi tulang punggung pendapatan keluarga, jadi hama yang menjijikkan dan memalukan. Lingkungan tentu mencoba menerimanya, bahkan mencoba beradaptasi dengan perubahan itu. Namun tak lama, mereka merasa mereka tak mungkin bertahan dengan situasi itu. Maka Gregor dibiarkan mati. Dan kehidupan keluarga berlangsung kembali baik.

Konon nama Samsa, entah sadar atau tidak, memperoleh pengaruh nama Kafka sendiri. Mungkin Kafka memang tengah menceritakan kegalauannya sendiri, akan perannya sebagai anak muda di keluarga. Atau ia, seperti juga Wagner dan Nietzsche, memetaforakan perubahan besar di Eropa dan dunia, atas cara pandang mereka mengenai semesta dan kemanusiaan, serta nilai-nilai di dalamnya. Atau seperti warga Praha lain, ia melihat dunia yang akan secara tak terelakkan berubah cepat di sekitarnya, membawa konsekuensi deretan tragedi panjang yang juga takkan terelakkan. Berapa besar pemusnahan dan penghinaan manusia yang terjadi sejak Metamorfosis ditulis; di Praha, di Ceska, di Eropa, di dunia. Tumbukan peradaban dari manusia yang berubah dinamis, menyeret manusia-manusia yang bahkan belum tahu apa sebab terjadi metamorfosis pada diri dan masyarakatnya.

Satu abad setelah Metamorfosis … kita merasa lega karena tak ada lagi fasisme dan komunisme. Tapi kita selalu lupa bahwa bukan isme-isme itu yang menjadi sumber tragedi manusia. Ada bagian dinamis dari kemanusiaan di dalam semesta yang terus memaksanya berubah, tak sinkron, menggeser dan menumbuk kepentingan manusia sambil menjungkit nilai-nilai setiap saat. Dinamika yang kemajuan (atau ‘kemajuan’) kita tergantung atasnya, tapi juga tragedi kita jadi keniscayaan karenanya. Mampukah kita suatu hari jadi bijak, memahami diri kita sendiri, memandang semesta bukan lagi sebagai ancaman tetapi sebagai amanah? Mampukah mengambil langkah2 cerdas untuk mengembangkan peradaban dan kemanusiaan, tanpa berhasrat ingin menguasai dan memenangkan.

Praha, kota tempat Kafka pernah lahir dan tinggal, kini jadi kota yang damai dan menenangkan. Penduduknya ramah namun dinamis. Ekonomi Eropa sedang menggeliat resah tak pasti. Namun sejarah panjang negeri ini membuat warganya tetap yakin bahwa tidak ada hal yang sesungguhnya membuat manusia harus menyerah. Atau boleh menyerah.

Indonesia … jangan takut berubah. Dan jangan pernah menyerah.

Berliner Philharmoniker

Weekend lalu, sebuah bis bertingkat dua membawa kami dari Bayreuth ke Berlin. Matahari akhir musim semi masih bersinar pukul 19:00, waktu aku masuk ke Hotel Altberlin dengan suasana klasik (bergaya masa antara dua perang dunia) di Potsdamer Platz. Di peta, hotel yang aku pilih itu berada tak jauh dari Berlin Philharmonie. Jadi kuputuskan untuk menikmati waktu sebelum matahari terbenam untuk ke Philharmonie. Tapi ternyata cukup jalan 10 menit saja untuk sampai. Di sana, aku memilah2 program yang bisa ditampilkan, dan memilih orkestra hari berikutnya. Maka acara menunggu matahari terbenam sore itu dilanjutkan di sekitar Potsdamer Platz hingga Branderburg Tor yang sering dianggap landmark Berlin itu.

Hari berikutnya, kami datang lagi. Kali ini naik bis menembus hujan rintik. Malam ini, Berliner Philharmoniker akan dipimpin oleh Herbert Blomstedt memainkan Missa Solemnis dari Beethoven. Sebagai choir adalah Bayerischer Rundfunk.

Mungkin bayangan kita atas Beethoven adalah image dari lukisan potret Beethoven oleh Joseph Karl Stieler. Dalam lukisan itu, Beethoven mengenakan baju putih, syal merah, dan jaket atau jubah hitam; serta sedang menulis komposisi Missa Solemnis. Komposisi ini adalah satu dari beberapa karya yang dianggap karya puncak dari Beethoven. Ia ditulis pada masa yang sama dengan Simfoni Kesembilan. Namun, tak seperti sembilan simfoni Beethoven, karya ini tak terlalu populer di kalangan publik.

Saat menulis karya ini, Beethoven sedang dalam masa krisis. Ketuliannya mengganggu aktivitasnya menyusun komposisi musik, sekaligus membuatnya makin terisolasi dari masyarakat. Pada masa ini, ia menyusun String Quarter terakhir, Simfoni Kesembilan, dan Missa Solemnis.

Missa Solemnis juga terinspirasi karya-karya para pendahulu, seperti fugue dan beberapa gaya Palestrina. Namun tentu warna yang dominan adalah warna klasik khas Beethoven yang mulai mengarah ke gaya romantik. Vokalnya konon masih jadi tantangan bahkan bagi solois dan choir masa kini. Dari segi ide, mungkin memang ada kaitan antara melankoli Beethoven masa itu dengan keinginannya untuk lebih dekat pada Tuhan. Namun yang terdengar justru adalah kedalaman dan variasi yang luar biasa dari pikiran dan perasaan Beethoven sendiri. Strukturnya, tentu berbeda dengan simfoni-simfoni Beethoven. Keterasingan struktur ini (buat aku), justru menambah misteri karya yang menurut penilaian Beethoven sendiri adalah komposisinya yang paling agung. Kata-katanya, hmmm, aku bahkan belum tahu ini bahasa Jerman atau Latin. Belum bisa dua-duanya sih.

Lebih dari 10 tahun sebelumnya memang aku pernah juga menyaksikan performansi Berliner Philharmoniker di Warwick. Namun baru kali ini aku bisa menyaksikan Berliner Philharmoniker di sarangnya, yang dioptimasikannya sendiri buat performa yang maksimal. Cukup memukau, dan membuat tidak bisa bergerak dalam 2 jam performansi tanpa jeda itu. BTW, aku sangat awam dalam musik. Seperti juga sebagian besar masyarakat awam, aku lebih sering memilih sembilan simfoni Beethoven dan beberapa karya yang lebih ringan (piano, konser violin, Wellington, dll). Tapi sua pertama dengan Missa Solemnis dari Berlin Philharmonie ini membuat aku melihat bahwa masih banyak permata indah dari Beethoven yang belum banyak aku jelajahi.

Tapi, sebelum jauh menjelajah, pertama2 … pasang dulu oleh-oleh dari Bayreuth: Lohengrin. Wagner :)

Groovia Lite

Ruang Avatar di STO Jakarta Gambir masih menunjukkan aktivitas luar biasa. Ada kegiatan operasional, pengembangan, dan persiapan penambahan feature untuk produk IPTV Groovia. Tapi juga ada persiapan layanan baru: Groovia Lite.

Idenya, Groovia menjadi konteks untuk menumbuhkan industri multimedia baru, berbasis video berkecepatan dan berkualitas tinggi. Dari konteks ini, dimungkinkan penanaman investasi untuk perbaikan dan peningkatan kualitas network hingga ke lokasi customer. Dimungkinkan juga diciptakan layanan di atas layanan video serta di atas jaringan berkecepatan tinggi.

Namun, mungkin belum semua dari kita memerlukan TV. Aku termasuk salah satunya sih: sudah beberapa tahun gak punya TV lagi. Hidup lincah tak terpaku membuat kita lebih akrab dengan piranti mobile (dari notebook s.d. smartphone) yang kian informatif dan interaktif. Konten TV, andaipun diperlukan, bisa diakses dari gadget kita. Ini yang mendasari Groovia Lite: konten dan aplikasi video dan multimedia lainnya di atas jaringan Internet yang tidak harus istimewa.

Groovia Lite dimaksudkan menjadi versi lite dari Groovia, untuk diakses dari notebook, tablet, smartphone, dan gadget lain. Di dalamnya, dapat diperoleh Live TV, TVOD, VOD, hingga konten-konten tambahan seperti radio, e-book, dan aplikasi untuk gadget kita. Sebuah digital store atau bahkan digital mall berwarna multimedia. Konten gratis, berbayar, berbundling, dll, akan dapat diperoleh di sini. Groovia Lite adalah sebuah model bisnis OTT.

Masih versi beta, Groovia Lite sudah dapat mulai ditengok di situs GrooviaLite.com. On air TV dari beberapa saluran TV nasional, recorded TV, dan beberapa sampel video telah dapat digunakan untuk uji coba.

Aplikasi Android dari Groovia Lite, baik untuk tablet maupun untuk smart phone, tersedia untuk diunduh. Aplikasi iOS sebenarnya telah dapat digunakan. Tapi masih menunggu approval dari Apple.

Aku sudah coba ketiga apps ini: versi iOS di iPhone (Telkomsel Flash), Android smart phone di HTC Evo 3D (Flexi EVDO), dan Android tablet di Kindle Fire (Speedy WiFi). Semuanya versi original (tanpa jailbreak untuk iOS, dan unrooted untuk Android). Ketiganya menunjukkan kualitas yang memadai. Pertama kali memasang konten video, memang gambar akan kabur. Saat itu terjadi proses penentuan kualitas optimal melalui adaptive streaming. Buat pemakai komputer, versi web juga tak kalah baik kualitasnya. Waktu Najwa Shihab dengan cerdik menampilkan kebohongan (atau mungkin inkompetensi) Mendikbud di acara Mata Najwa (soal Ujian Nasional yang menurut beliau sangat bersih tak bernoda), aku menyimak sepanjang acara dengan Groovia Lite ini.

Tapi memang khawatir juga sih. Misalnya, jangan2 jadi sering tergoda nonton pakai Kindle Fire. Bukannya dipakai baca buku.

April Tutorial Series

Aku sibuk. Haha. Tapi itu bukan hal baru. Dan konon memang orang sibuk adalah orang yang mau sibuk. Jadi jangan serahkan pekerjaan ke orang yang tidak sibuk. Dunia melaju kencang, dan ada yang tidak sibuk? Pasti ada yang salah :D.

Tapi masih ada waktu yang harus dipaksaluangkan untuk kegiatan IEEE. IEEE CYBERNETICSCOM dan IEEE COMNETSAT saat ini sudah mulai memasuki tahap paper review, setelah penerimaan paper ditutup tanggal 15 April lalu. Track chair sudah mulai dihubungi, dan mulai menghubungi para reviewer. Dijadwalkan, di awal Mei, paper telah memperoleh status untuk bisa diterima ke dalam kedua konferensi itu. Oh ya, CYBERNETICSCOM dan COMNETSAT ini adalah dua konferensi perdana yang disusun oleh IEEE Indonesia Section. Konferensi sebelumnya, termasuk TENCON 2011 November lalu, adalah konferensi dari IEEE pusat, Society, atau Region yang dituanrumahi Indonesia. Namun kedua konferensi ini telah memperoleh Letter of Acquisition dari IEEE, dan dengan demikian memperoleh status sebagai IEEE Conference.

Minggu lalu (14 April), IEEE Indonesia Section menyelenggarakan Kuliah Umum bertemakan Small Cell. Kuliah ini bertempat di GSD ITTelkom, Dayeuhkolot, Bandung. Speaker utama adalah Arief Hamdani yang menyampaikan pengenalan dan pendalaman atas Small Cell, yang dulu dikenal dengan nama Femtocell. Anto Sihombing melanjutkan dengan memberikan update dari Small Cell Forum yang diikutinya Maret lalu di Taipei. Aku memberikan tambahan sedikit tentang Cognitive Radio, yang somehow akan berkait erat dengan pemanfaatan spektrum bersama dalam kerangka Small Cell.

Slide untuk Cognitive Radio:

Minggu berikutnya dipenuhi urusan dua produk baru dan satu program tahunan, migrasi web CYBERNETICSCOM dan COMNETSAT, plus urusan visa. Hal-hal yang membuat tidur nyaris selalu dimulai di sekitar jam 3:00 pagi selama rata-rata 3 jam saja. Lain hari kita bahas deh tentang dua produk baru yang menarik ini.

Dan Sabtu ini (21 April), IEEE Indonesia Section bekerja sama dengan IEEE Women in Engineering menyusun kegiatan bersama, memperingati Hari Kartini, dalam bentuk IEEE Tutorial Series on Advancing Technology for Humanity, di Auditorium Kampus Anggrek, Universitas Bina Nusantara. Kegiatan dibuka Ibu Nelly sebagai Wakil Rektor II Universitas Bina Nusantara; dan sambutan 5 menit dari aku sebagai Vice Chair dari IEEE Indonesia Section. Namun seluruh materi disampaikan oleh para Engineer Perempuan, dengan style yang menunjukkan kekuatan kaum insinyur perempuan Indonesia:

  • Dr. How Wie Chie, Dekan Fakultas Teknik Binus
  • Hardyana Syintawati, VP MarCom Erickson
  • Erina Tobing, Direktur Teknik TVRI
  • Agnes Irwanti, Multikom Business Development Director

Sore, di tempat yang sama, dilangsungkan IEEE Tutorial Series on Cloud & Ubiquitous Computing. Speaker sesi sore ini:

  • Kuncoro Wastuwibowo — Ubiquitous & Context-Aware Computing
  • Satriyo Dharmanto — Cloud Computing
  • Arief Hamdani Gunawan — Ubiquitous Mobile Computing

Slide untuk Ubiquitous Computing:

Selesai? Belum :). Sore – malam, kita naik ke Lantai 8, dan melangsungkan Officer Meeting pertama di kepengurusan IEEE Indonesia Section periode 2012 ini. Meeting ini dihadiri Advisory Board, Executive Committee, Activity Committee, Chapters (Comsoc, MTT/AP), dan Student Branches (UI, ITTelkom); membahas program kerja 2012, plus rencana untuk melakukan amandemen pada Bylaws yang sudah berusia hampir 25 tahun.

OK, sekarang istirahat dulu. Badan dan hati punya hak diistirahatkan, sebelum Senin datang, dan kita berpacu lagi :). Semangaaat :D

%d bloggers like this: