Page 35 of 180

Red Eyes

After-lunch visit to Starbucks.

Lama nggak ke sini — si Neng Barrista menegur. Maaf, nggak ditulis namanya di sini. Belum minta izin yang punya nama. Aku lagi jarang sih memang ke mana2. Habis waktu buat beresin kerjaan yang lucu2 di kantor. Bikinin sesuatu yang menarik donk — aku minta. Sebuah nama ditawarkan: Red Eyes, ditambah 1 shot. Udah lama bobo kupingku memang, tapi nggak salah dengar mudah2an aku. Drosophila melanogaster — bukan! Ini customised coffee of the day :). OK, aku coba 1 mug. Sans sucre, tentu. Une tasse de cafe amer kan, judulnya.

Dan kalau belum biasa kita2 kesetrum cafeine, jangan iseng kita menerima tawaran berbisa ini. Apalagi “ditambah satu shot” itu. Tapi sebelumnya, Si Neng dan rekannya menawarkan kopi menarik. Kopi Kampung, judulnya. Kopi Sulawesi ini sebenernya. Toraja. Tapi beda dengan Kopi Sulawesi lain yang pilihan taste-nya sudah diatur sesuai cita customer terkini, Kopi Kampung ini diset dengan taste kuno seperti kali pertama Starbucks buka cafe dulu — dengan aroma spice. Entah kayak apa :) — dia masih terbungkus rapi sih, dalam kemasan edisi khusus yang exclusive. I mean it. Aku tanya bedanya sama edisi khusus yang lain: Rift Valley, Brasil Ipanema, Bleno, dll. Ceria, Si Neng cerita bahwa edisi ini barangkali hanya akan diterbitkan sekali seumur hidup. Cuman … lucunya … belum boleh dijual edisi ini. Datang baru saja. Price pun belum punya :). Tapi nanti aku dikabarin kalau benda unik ini udah dijual.

Unik. Menarik namanya. Dan pengalaman terakhir ketemu kopi Sulawesi (yaitu Kopi Manado) rasanya cukup mengesankan. I love it. Mudah2an kebagian, Kopi Kampung. Mumpung lagi menipis persediaan kopi.

Balik ke kantor, baru setrum si Red Eyes menyala. Zrrrrrt. Duh, si coffee addict kena overcaffeinated lagi. Badan nggak kompatibel ama minat :). Menyentuh keyboard, tiba2 rasa permusuhan sama tabel2 (Oracle dan Excel) hilang. Mereka jadi obyek yang menarik, dan bisa dicari relasinya dengan beberapa pendekatan. Menarik. Tapi script yang panjang itu dieksekusi terlalu lama sama PC ini. Mestinya dibikin overcaffeinated juga dia. Buka GTalk, icon di samping nama Mas BR menyala dengan warna hijau. Heh-heh-heh. Victim untuk si overcaffeinated.

Buka sesi dengan BR. Talk tentang kopi. Dan tentang Pak Sehat Sutardja yang bikin kita semua bangga. Dan dengan kecepatan tinggi pindah topik ke Telkom ke Speedy ke ZTE ke kemampuan industriawan dan akademisi Indonesia dan ke ITB dan ke. Aku nggak tau ke mana lagi. Jariku udah bisa bergerak sendiri dengan aura dari si Red Eyes. Nggak perlu pengendalian terpusat dari otak :). Maaf ya, Boss :).
Erdos memang bilang, matematikawan itu piranti yang mengubah kopi menjadi formula. Tapi kalau pirantinya bukan matematikawan, kayaknya hasilnya beda deh :).

Koskosan

Tepatnya eks-koskosan :).

Memainkan Google Earth di atas Bandung dan Jakarta, sebuah ide melintas: cari Westwood Heath Road :). Beruntung, Coventry dan sekitarnya termasuk yang tercapture dengan resolusi cukup tinggi, sementara daerah Leamington yang hanya beberapa kilometer di sebelah selatan hanya mendapat resolusi rendah. Jadi, inilah dia:

koskosan.jpg

Di selatan adalah Westwood Heath Road, dan bangunan beratap warna laut itu adalah Divlat serta R&D dari Cable&Wireless. Berjajar di belakang adalah asrama atau apartemen atau flat atau barak, atau apa lah kita menamainya. Faraday ada di ujung kiri atas. Ruanganku dulu di Faraday-125.

Situs Cable&Wireless yang ini dulu ada di pantai Cornwall, di tempat terminasi kabel lintas samudra ke benua Amerika. Setelah dunia berubah, dirasa lebih tepat memindahkan situs ini. Dasar orang telekomunikasi, pikirannya suka rada ganjil. Mereka mencari tempat tepat di tengah2 Inggris (dalam hal ini: England). Jadi di Midlands. Jadi di Coventry. Beberapa kilometer dari sini, di tempat bernama Meriden, ada tugu yang merupakan tanda titik tengah Inggris itu. Dan karena Inggris itu pulau (surprise!), maka salah satu keistimewaan Coventry adalah bahwa ini kota di Inggris yang paling jauh dari pantai. Tapi orang telekomunikasi pikirannya suka rada ganjil. Eh, tadi udah disebut. Jadi udah dikepung daratan gini, mereka malah kangen lautan. Maka arsitektur gedung dibikin bersuasana lautan. Atap dibentuk kayak ombak. Dan tentulah warnanya juga jadi biru laut.

Baru sekarang aku bisa lihat dari atas. Sama kerennya dengan tampak depan :). Kalau kita zoom lebih jauh, tampak di depannya ladang2 yang luas, dan di belakangnya hutan kecil. Asli kecil. Dari Faraday-125, kesannya kita sedang terdampar nun di ujung bumi yang mana, dikelilingi ladang luas dan hutan, dan ditemani ombak. Duh.

Dasar orang telekomunikasi memang …

Pesta Buku Senayan

Buat hati yang lagi perlu penyegaran (kusut melulu — haha), Pesta Buku pasti hal yang menarik. So, hari Sabtu dan Ahad lalu, dua sesi kunjungan dilakukan ke Senayan. Dua sesi! Tanpa lelah. Demam, masih. Tapi daripada demam dirasain, mendingan dipakai menjelajah, kan? :) Hasilnya? Kunjungan dan kunjungan berulang ke semua booth. Dan memboyong 15 buku, 3 bahasa. At least. At least!

Buku apa aja? Bervariasi. Dari buku bekas bertahun 1960-an, sampai buku yang baru terbit bulan ini. Dari yang kovernya cuman dua baris tulisan, sampai yang penuh warna norak. Dari yang tipis sampai yang agak tebal. Dan, sorry, aku nggak mau nulis satu judul buku pun di sini. Sebagian udah masuk ke Librarything. Ada link-nya di samping (kecuali kalau tulisan ini dibaca di agregator). Sebagian besar sih memang buku yang nggak terlalu mahal. Masih set mode bokek on, sebenernya :). Tapi bookworm tak gentar sama ketipisan dompet, as usual :).

Lucunya, persentase buku bekas yang dibeli cukup dominan tahun ini. Aku menghabiskan berjam-jam (literally) di beberapa booth penjual buku langka, buku bekas, dan buku2 unik. Kapan lagi? Buku baru ada di Gunung Agung atau QB dan bisa dilihat kapan saja seusai pesta. Ini pesta, kita harus cari keunikan.

Di luar buku, nggak terlalu banyak acara atau asesori tambahan yang menarik. Ada jumpa penulis dari kelompok penerbit Gagas Media, tapi tidak menimbulkan keinginan untuk melirik. Ada festival band sekolah juga, tapi beberapa menit kemudian minat kembali ke buku. Ada Hitler yang lucu, tapi sungkan mau ngajak foto bareng. Ada beberapa pengemis yang gendong anak kecil sambil bawa map bertuliskan yayasan anu, tapi penipuan kayak gini udah terlalu klise, nggak inspiring lagi. Jadi buat non-bookworm, barangkali pesta ini tak terlalu menarik.

Pulang. Bokek. Tapi bukuku tambah banyak :). Duh, kasihan rak bukuku. Makin nggak indah aja tumpukan buku di dalamnya. Plus pernik2 termasuk sepasang kucing lucu yang asyik ngobrol, tanpa gentar kejatuhan tumpukan buku.

Business Week Lagi

Seperti tahun sebelumnya dan sebelumnya, Telkom masuk lagi ke 100 Besar of Perusahaan IT Dunia versi Business Week. Tahun ini masuk ranking 12. Dan seperti tahun2 sebelumnya, hal2 seperti ini cuman disebut sekilas dalam keseharian kantor. Tak lebih dari 5 email. Dan tak pernah disebut dalam perbincangan lisan. Pada sibuk. Banyak kerjaan. Dan sebenernya nggak perlu aku sebut2 juga di sini. Cuman aku lagi di Puncak, dan hampir waktu Maghrib, dan aku lagi jenuh. Ya udah, gitu aja.

Top-100-IT-Companies.png

Tujuh

1/7 = 0.142857, lalu berulang. Dengan pola yang menarik. 2/7 = 0.285714. Kok bisa? Tentu, soalnya 28 =14 x 2 dan 57 = 28,n x 2. Dan n tentulah 571428 lagi. 3/7? 0.428571. Dan begitulah 6 angka membentuk 6 kemungkinan yang deretnya nggak berubah. Yang ketujuh tentulah 7/7 = 1, tanpa sisa.

Tujuh juga punya keistimewaan lain. Sebuah bilangan vvvwwwxxxyyyzzz adalah kelipatan atau bukan kelipatan 7 jika vvv-www+xxx-yyy+zzz juga kelipatan atau bukan kelipatan 7. Misalnya, apakah 950547276 adalah kelipatan 7? Kita uji dengan menghitung 950-547+276. Hasilnya 679. Dan 679 adalah 700 – 21, jadi kelipatan 7. Artinya 950547276 juga kelipatan 7. Cek deh dengan kalkulator. Ajaib? Nggak juga. Soalnya 1001 itu kelipatan 7, that’s all :).

Apalagi yang menarik dari angka 7? SLI-007? Flexi 7xxx-xxxx? Telkomnet Flexi #777? Flexi Supercombo 777? Pusing 7 keliling? Oh ya, hari ini tanggal 25. Pas 2+5=7. Bulan 6 tahun 2006 (=8). 7,6,8 dirata2 jadi 7. Maksa :).
Tapi kenapa namanya tujuh? Aku lagi nggak ngebahas rumpun bahasa Indo-Eropa, tapi Indonesia :). Orang Jawa bilang pitu, orang Sunda bilang tujuh. Orang Manado bilang pitu, orang Makasar bilang tujuh. Bagian timur Indonesia umumnya menamainya pitu, pito, fito, hito, hitu. Rumpun melayu memilih tujuh, tujoh, tajuh, to’juh, kjuh. Ada juga yang cuman juh aja (barat apa timur tuh).

Halo Bebas

Ke website Telkomsel; selain berita Communicasia 2006, ada juga peluncuran paket baru Halo Bebas Bicara, menambahi tiga paket Halo Bebas lainnya. Ini dia rinciannya:

PaketPaketTelkomsel.png

Aku sendiri masih pakai Halo Bebas Abonemen. Pilihan yang jelas salah, soalnya XPhone ini lebih sering dipakai SMS dan GPRS daripada bertelepon. I hate talking, indeed. Paket Bebas Abonemen ini dipilihkan secara default oleh Telkomsel waktu aku daftar dulu. Dan dulu juga aku daftar hanya gara2 ditawari nomor 0811-xxxxxx yang menurutku masih nomor menarik, dibanding nomor GSM lainnya. I mean, apa gunanya pakai nomor yang belakangnya 0000 kalau di depannya 0XYZ, kan? Termasuk 0812 apalagi 0813. Sorry ;).

Apa tadi? OK, I hate talking, dan Telkomsel membuat kita harus bicara untuk mengubah paket, dan akibatnya paket yang salah ini nggak aku ubah. Mungkin udah waktunya sekarang :). Paket Halo Bebas Bicara ini kayaknya pas buat aku, soalnya SMS dan GPRSnya bertarif normal. Normal mahal, memang. Tapi paket kayak Fren nggak bisa dibawa ke luar Jawa. Flexi sih bisa di 152 kota di seluruh Indonesia, sebentar lagi, kalau paket Supercombo dengan call & SMS forwardingnya udah jalan. Tapi sementara itu, Telkomsel masih pilihan menarik.

Talking of which, iklan XL keren juga ya?

Sabuga

Semalam bikin presentasi bertema Internet Goes To School, buat dipresentasikan hari ini. Tugas kantoranku nggak meliputi yang kayak2 gini sih, sebenernya. Cuman, melarikan diri ke yang kayak2 gini menarik juga.

Yang berpresentasi bukan aku, tapi Mas Sony (a.k.a. SBW). Aku happily jadi asrot di tepi panggung, sambil mejet2 touch pad dan tentu memainkan Pentax. Contoh aplikasi2 Internet yang kita paparkan a.l. weblogging (dan beberapa aspeknya, termasuk agregasi) dan beberapa service seperti Google Earth.

Sebelum kami, yang berpresentasi adalah Mas Khairul Ummah. Ini yang penulis buku Sepia itu, dan suka berkelompok Sharing Vision bersama Dimitri Mahayana. Trus … udah ah … bersambung. Susah bener cari waktu buat nulis weblog sampaoi selesai yach.

Hidupku Gagal Total

Dan itu bukan bencana :).

Aku masih kuat untuk tidak terjajah oleh apa pun, pun oleh diri sendiri.
Aku masih melangkah dengan sinar dari dadaku, bukan mengikuti api pembakar jiwa.
Aku masih tak terjebak mengikuti pacuan manusia yang membuat manusia tak lebih sekedar entitas dengan angka dan nilai dan target dan pencapaian.
Aku masih setia pada cercah sinar yang kujadikan panduan hidupku, dan pada imajinasiku, pada ide-ideku.

Aku tidak lebih pintar. Tidak bisa kaya. Karirku hancur. Citra diriku berantakan. Tak ada satu pun yang bisa dibanggakan.
Hidupku gagal total.
Dan itu bukan bencana.
Itu keberhasilan terbesarku.

Web 2.0

Google menyebut belasan juta hit untuk istilah ini. Factive menunjukkan 1500 kutipan. Technorati bilang ada seratusan ribu weblog yang mengulasnya. Dan satu lagi sekarang. Web 2.0. Banyak yang membahasnya dengan becanda. Kenapa? Definisinya memang tak pernah jelas. Entah karena cakupannya yang terlalu luas untuk disempitkan, atau memang dia tidak  sungguh2 punya arti. Spectrum coba2 mendefinisikannya secara kasar: fase kedua dari evolusi web dimana para pengembang mencipta site yang berlaku mirip program desktop serta mendorong komunikasi dan kolaborasi antar user. Tuh kan, kali ini nggak becanda :). Beberapa keywordnya: tagging, folksonomy, long tail, dan collective intelligence.

Yang mungkin terbayang dengan kata kolaborasi tentulah Wiki, dan berbagai proyeknya. Tapi yang membuat istilah Web 2.0 banyak dipakai justru Gmail dari Google. Juga Flickr yang dibeli Yahoo dan Writely juga dibeli Google. Google juga main spreadsheet sekarang. Belum nyoba. Dilarang dokter untuk sering ketemu spreadsheet, for God’s sake.

Web 2.0 dibasiskan pada web yang secara dinamik memanfaatkan database. Interface ditata dengan AJAX (kaitan asinkron antara Javasript dan XML). Web services banyak dimainkan. Yang menarik tentu adalah menciptakan info atau layanan baru dengan memanfaatkan web services dari beberapa sumber sekaligus.
Orang IT memang suka mengalihkan satu istilah ke istilah lain. Misalnya, dari dulu ada web service dan infoware. Dari dulu ada XML dan Javascript. Trus kenapa ada AJAX sekarang? AJAX memang sekedar Javascript bermain XML :). Tapi ada skemanya. User interface yang standard dengan DHTML dan CSS, dinamisasi interaktivitas dengan document object model, transformasi dan transfer dara dengan XML dan XSLT, komunikasi asinkron dengan XMLHttpRequest, dan JavaScript yang menggabungkan komponen2 itu.

Tapi, repot2, konon sebenernya Web 2.0 itu cuman semangat baru, menyambut kembalinya uang ke Internet. Tuh kan, becanda lagi. UUD pula :).

« Older posts Newer posts »

© 2026 Kuncoro++

Theme by Anders NorenUp ↑