
Serem mana sama punya kita?

Serem mana sama punya kita?

Serem mana sama punya kita?
Calling Bu Yeyet di TBC, soal invitation dari Rob White, dan juga iseng nanya hasil IELTS.
Hasilnya listening 7, reading 8, speaking 6, writing 7.
Yah, gitu deh. Mudah-mudahan post-ielts syndrome-nya berakhir deh.
Uji coba peluncuran site Anti Rokok. Rencananya site ini tempatnya bukan di sini, tapi di tempatnya MDAMT aja (haha). Tapi waktu cari bahan, aku gatel pingin nyusun dikit-dikit. Sama sekali nggak sempurna sih. Apa yang bisa diharapkan dari kerja beberapa jam?
Tapi di dalemnya ada beberapa artikel serius, ada juga beberapa humor, dan juga plesetan iklan rokok, hasil scanning dari Tempo.
Aku nggak punya ide buat bikin button yang bagus buat link dari site-site lain.
Ariawest lagi, Ariawest lagi. Mike Towne lagi, Mike Towne lagi. Kayak masih kurang aja “keindahan” yang kalian lakukan buat bangsa Indonesia. http://mediateknologi.com/berita/b37.htm.
Inget Patrick, inget monster Loch Ness.
Keuntungan-keuntungan merokok (kiriman dari temen):
Allah menciptakan manusia dengan mekanisme tertentu sehingga membentuk keragaman yang luar biasa. Kemudian Allah berfirman bahwa manusia diciptakan dalam keragaman agar mereka bisa saling mengarifi.
Barangkali itu yang kita perlukan: bukannya memaksakan diri untuk mengerti segalanya dari keanekaragaman manusia, tetapi untuk terus belajar bersikap arif di tengah perbedaan dan keanekaragaman. Dan juga belajar untuk tetap arif di tengah kejutan-kejutan dan konflik yang timbul dari perbedaan-perbedaan itu.
Kita tidak perlu jadi sempurna dan ideal untuk sekedar hidup sebagai manusia. Bahkan kita tidak perlu menjadi ideal dalam standar kita sendiri :). Manusia hanya mengharapkan ridla semata.
Kita suka menghabiskan waktu untuk mencoba mengerti tentang manusia. Tapi barangkali kita lupa memahami “pengertian” kita.
Kayaknya selama ini kata “mengerti” diartikan sebagai memetakan suatu sistem ke dalam platform (diskursus) pikiran kita (dan kemudian barangkali dengan itu platform kita bisa meluas atau berubah juga). Lucunya, di lain pihak, suatu sistem hanya bisa dicerap oleh platform yang kompatibel dengannya. Jadi, misalkan kebetulan ada suatu sistem yang sedang tidak kompatibel dengan platform yang kita jalankan, siapa yang harus menyesuaikan diri lebih dulu? Seharusnya kita sih. Kan kita yang mau mengerti. Tapi soalnya adalah bahwa kita hidup di dunia nyata, menghadapi beraneka sistem. Kita tidak mungkin setiap saat menyesuaikan platform. OK, idealnya sih bisa. Tapi sistem-sistem yang kita hadapi kan tidak selalu saling kompatibel (dan juga sistem yang kita hadapi terus bertambah variasinya setiap saat). Kecuali kalau memang hidup kita cuman berfungsi untuk mengerti, bukan untuk berbuat sesuatu. Jadi, pernahkah kita benar-benar bisa mengerti ?
Soalnya bukan itu. Soalnya adalah bahwa kita sering berpura-pura bisa mengerti banyak hal. Kemudian kita mengecam hal-hal yang berada di luar standar kita (karena kita gagal mengerti). Klaim kita bahwa kita mengerti banyak hal menutupi fakta bahwa kita sedang gagal memahami hal yang sedang kita kecam itu. Kita dibutakan oleh overestimasi (apa tuh bahasa Indonesianya) kita.
Ada undangan buat BHTV malam ini. Tapi tensi belum beres nih. Rada pesimis kalau harus dibawa ke luar kota.
Hari ini jalan keliling Bandung aja. Ke Kantor Imigrasi buat diambil foto sama cap jempol (Hansaplast-nya dilepas dulu –Red), shalat Jumat di Pusdai, kontak 162 buat ganti nomor telepon Papap, lunch di Istiqomah, konfirmasi kartu ATM di Bank Universal, reparasi jam, terus terdampat di Warnet di Kantor Pusat Posindo. Here I am now: Neko the Cruiser, yang lagi nggak punya tempat berlabuh :) :).
© 2026 Kuncoro++
Theme by Anders Noren — Up ↑