Ariawest lagi, Ariawest lagi. Mike Towne lagi, Mike Towne lagi. Kayak masih kurang aja “keindahan” yang kalian lakukan buat bangsa Indonesia. http://mediateknologi.com/berita/b37.htm.
Page 200 of 211
Inget Patrick, inget monster Loch Ness.
Keuntungan-keuntungan merokok (kiriman dari temen):
- Perokok awet muda, karena sebelum tua sudah pada mati.
- Perokok rumahnya aman, karena tiap malam batuk melulu.
- Perokok paling dermawan, karena rajin nyumbang ke dokter dan rumah sakit untuk pengobatan paru-paru, jantung, ginjal, dan lain-lain.
- Perokok mengurangi persaingan kerja, karena wanita perokok anaknya pada idiot.
- Perokok tempat mengumpulkan amal bagi orang, karena menyiksa orang dengan asapnya di bis, mikrolet, atau tempat umum lainnya.
- Perokok mempunyai musik seumur hidupnya (suara nafasnya ngik-ngiiik).
- Perokok hidup bebas, nggak pernah baca doa sebelum ngerokok.
- Perokok membuat suasana bioskop lebih rame. Yang tadinya full-ac, jadi full-asep.
Allah menciptakan manusia dengan mekanisme tertentu sehingga membentuk keragaman yang luar biasa. Kemudian Allah berfirman bahwa manusia diciptakan dalam keragaman agar mereka bisa saling mengarifi.
Barangkali itu yang kita perlukan: bukannya memaksakan diri untuk mengerti segalanya dari keanekaragaman manusia, tetapi untuk terus belajar bersikap arif di tengah perbedaan dan keanekaragaman. Dan juga belajar untuk tetap arif di tengah kejutan-kejutan dan konflik yang timbul dari perbedaan-perbedaan itu.
Kita tidak perlu jadi sempurna dan ideal untuk sekedar hidup sebagai manusia. Bahkan kita tidak perlu menjadi ideal dalam standar kita sendiri :). Manusia hanya mengharapkan ridla semata.
Kita suka menghabiskan waktu untuk mencoba mengerti tentang manusia. Tapi barangkali kita lupa memahami “pengertian” kita.
Kayaknya selama ini kata “mengerti” diartikan sebagai memetakan suatu sistem ke dalam platform (diskursus) pikiran kita (dan kemudian barangkali dengan itu platform kita bisa meluas atau berubah juga). Lucunya, di lain pihak, suatu sistem hanya bisa dicerap oleh platform yang kompatibel dengannya. Jadi, misalkan kebetulan ada suatu sistem yang sedang tidak kompatibel dengan platform yang kita jalankan, siapa yang harus menyesuaikan diri lebih dulu? Seharusnya kita sih. Kan kita yang mau mengerti. Tapi soalnya adalah bahwa kita hidup di dunia nyata, menghadapi beraneka sistem. Kita tidak mungkin setiap saat menyesuaikan platform. OK, idealnya sih bisa. Tapi sistem-sistem yang kita hadapi kan tidak selalu saling kompatibel (dan juga sistem yang kita hadapi terus bertambah variasinya setiap saat). Kecuali kalau memang hidup kita cuman berfungsi untuk mengerti, bukan untuk berbuat sesuatu. Jadi, pernahkah kita benar-benar bisa mengerti ?
Soalnya bukan itu. Soalnya adalah bahwa kita sering berpura-pura bisa mengerti banyak hal. Kemudian kita mengecam hal-hal yang berada di luar standar kita (karena kita gagal mengerti). Klaim kita bahwa kita mengerti banyak hal menutupi fakta bahwa kita sedang gagal memahami hal yang sedang kita kecam itu. Kita dibutakan oleh overestimasi (apa tuh bahasa Indonesianya) kita.
Ada undangan buat BHTV malam ini. Tapi tensi belum beres nih. Rada pesimis kalau harus dibawa ke luar kota.
Hari ini jalan keliling Bandung aja. Ke Kantor Imigrasi buat diambil foto sama cap jempol (Hansaplast-nya dilepas dulu –Red), shalat Jumat di Pusdai, kontak 162 buat ganti nomor telepon Papap, lunch di Istiqomah, konfirmasi kartu ATM di Bank Universal, reparasi jam, terus terdampat di Warnet di Kantor Pusat Posindo. Here I am now: Neko the Cruiser, yang lagi nggak punya tempat berlabuh :) :).
Kamis, jalan ke Jakarta, ngintip sistem Telso+ punya UPNR Divre-2. Namanya rada mirip Tensoplast, lucu juga. Aku kagum bener sama orang-orang UPNR yang masih punya spirit dan persaudaraan yang tinggi.
Di KA Argogede, sempat ketemu (lagi) dengan Mas Budi Rahardjo. Chat. Terus sebentar pinjem buku tentang kaum nudist di Silicon Valley, haha.
Alkisah, David Filo, cofounder Yahoo, yang menghasilkan miliaran dollar itu, bekerja penuh di meja kecilnya di kantor. Kalau waktunya tidur, dia tidur di kolong meja. Mejanya sendiri penuh dengan brosur-brosur dan kertas-kertas tanpa pengorganisasian yang baik (setidaknya kita harus cari persamaan dengan orang yang menarik ini). Sekian waktu kemudian, seorang wartawan menemuinya di mejanya. “Masih suka tidur di kolong meja?” “Nggak. Udah nggak bisa. Kolongnya penuh kertas juga sekarang.” Dan dia pakai kaos oblong dengan tulisan Excite. Otaknya yang penuh kesibukan itu nggak sempat lagi mikir bahwa Excite itu saingan Yahoo. Duh, iri berat aku sama orang yang mau bekerja dengan penuh dedikasi.
Pasang beberapa foto dari pojok kota Bandung. Hasil dari jalan-jalan pagi bulan Agustus kemaren.
Launching site FCO-4 Alumni.
