Page 182 of 211

Karakteristik Muslim

Seorang kawan lagi bingung sama urusan assignment. Boleh minta bantuan nggak, katanya. OK, jadi hari itu dia ikutan ke Faraday 125. Mau kopi, tanya aku. OK. “Hey, sebelum mulai belajar, enaknya kita mandi sore dulu. Ada handuk cadangan buat kamu.” OK. Terus analisis trafik yang rumit dan mendebarkan, sambil dalam hati sempat mikir, kapan aku bikin assignment aku sendiri yah. Dan terkapar kelelahan. “Sekarang kita harus makan malam.” Aku belikan dulu kupon dinner buat dia.

Ruang makan selalu penuh orang, dengan berbagai macam perbincangan. “Kok kamu makan pork? Kamu bukan muslim ya?” tanya teman lain. “Enakan jadi muslim, bisa punya empat istri, hahaha.”

 

Malam jadi larut. Teman aku berkeras mau pulang. Jadi kami menembus malam berjalan beberapa mil mencari perhentian bis. Dia sempat nanya, “Kamu muslim juga kan?” “Oh iya.” “Boleh donk kamu punya empat istri.” Aku lepas dia di perhentian bis. Dan aku menembus malam yang dingin buat balik ke Faraday.

Apa sih karakteristik muslim?

Islam, seperti yang diajarkan Rasulullah, berisi ajaran-ajaran seperti ini: hormatilah sesama kita tanpa memandang agama, juga muliakanlah tetangga, muliakanlah tamu. Waktu kita mengikuti perintah Rasulullah, tidak ada yang peduli bahwa itu adalah nilai-nilai Islam. Orang-orang Islam tertentu sudah lebih dahulu mengambil posisi untuk mendefinisikan Islam: agama yang sibuk mengurusi babi dan empat istri.

Barangkali selama ini memang tidak ada yang merusak citra Islam, selain umat muslim sendiri.

3087765

Seven Habits of Highly Defective People

  1. Mengabaikan tanda ketidaknyamanan orang lain

    Boss: Omong-omong, dari tadi saya terus yang bicara

    Karyawan: {sudah jadi tengkorak}

  2. Melucu untuk mengolok-olok orang di depan umum

    Boss: Anggota tim kita ini mirip dengan bintang film. Tepatnya, Lassie.

  3. Menganggap semua keluhan sebagai kesalahan pengeluh

    Dilbert: Anda tidak pernah memotivasi saya

    Boss: Coba datang ke therapist

  4. Terlambat dan mengajukan usul kontroversial

    Boss (sambil masuk ruang rapat): Saya rasa kita bisa mengambil lisensi ?Barney? untuk maskot kita.

  5. Memberikan nasehat tanpa mengerti masalah

    Boss ke Dilbert: Coba tulis saja beberapa baris kode assembly di sini

  6. Membalik-balik prasangka

    Boss ke Alice: Wow, hasil fotokopi yang bagus. Belum tentu karyawan pria bisa melakukannya lebih baik.

  7. Merasa bahwa tulisan ini bukan tentang Anda

    Boss: Lucu juga rambut orang di kartun itu

Udah lama sebenernya pingin nulis cerita-cerita Dilbert. Cuman keduluan Neng Wio melulu.

Dilbert Treasury

Hah, di mailbox ada “Dilbert Treasury”, hah.

Scott Adams memulai, kira-kira kayak gini. Banyak orang gila di sekitar kita. Mereka tidak merasa gila. Sebaliknya mereka merasa canggih. Itu membuat saya berpikir: jangan-jangan saya juga gila. Jadi saya menyusun daftar keanehan saya. Nomor satu, saya menyusun daftar keanehan saya. Nomor dua, saya menganggap bahwa kata ‘nomor satu’ itu salah, karena jelas bahwa ‘satu’ itu nomor. Nomor tiga (atau tepatnya: tiga), saya terlalu banyak menganalisis. Anda bisa lihat, untuk menyusun daftar kegilaan saja saya sudah bisa menyusun daftar kegilaan sendiri. Terus Scott cerita soal vegetarian dan lain-lain, diakhiri soal bersin akibat sinar matahari. Baru komik pertama Dilbert dimulai.

Tuhanku, aku lelah sekali, dua hari penuh turut berpacu dengan umatmu yang riuh rendah di lorong-lorong bawah tanah kota London. Maafkan aku kalau aku mau mengisi hari ini dengan istirahat panjang sambil menertawai manusia saja.

Liebestod

Tokoh Isolde (Celtic: Iseult, Italia: Isotta) menyanyikan Liebestod di atas kematian Tristan. Bagian ini selalu memaksa kita berhenti dari kegiatan keseharian, dan diam beberapa menit menikmati cara Wagner menggambarkan jenis kedekatan manusiawi yang penuh kegamangan. Pagi ini bentuknya agak beda. Orkestrasi nyaris dihapuskan, dan digantikan dengan permainan piano yang sederhana. Jadi fokusnya lebih pada vokal solo tokoh Isolde. Tapi, really, bagian ini sama indahnya dengan waktu orang memainkan Isolde dengan orkestrasi penuh, tanpa vokal (i.e. versi Liebestod yang aku dengar pertama kali, sekian tahun y.l.).


Oh ya, aku nggak pingin cerita tentang kisah Tristan & Isolde, selain bahwa ini adalah kisah cinta dua manusia, yang tak pernah terselesaikan. Kegamangan dari ujung ke ujung. Nuff.

3014557

Kutipan dari Bondan Winarno:

Ketika membaca koran sambil makan pagi di Bangkok Jumat minggu lalu, saya terkesima melihat foto mobil mewah Ferrari sedang ditonton para peminat pada sebuah pameran di Indonesia. Judul keterangan gambarnya: Life goes on in Indonesia … for the rich.

Saya kehilangan selera makan. Rasanya, semua orang di coffee shop itu sedang melihat ke arah saya. Bubur ayam masih tersisa setengah di mangkuk. Saya lipat surat kabar itu, meninggalkan sekadar uang tips di meja, dan pergi.

Seorang penulis di milis PPI nulis kayak gini: orang kayak Bondan Winarno tidak mensyukuri nikmat yang dianugerahkan pada orang Indonesia, yaitu nikmat kehilangan rasa malu.

3014523

Bahasan di New Scientist Rada nyentrik juga. Cowok single, katanya, jarang dilirik cewek. Tapi begitu punya pasangan, jadi banyak yang mau merebut. Naluri aneh ini bahkan teramati juga pada ikan dan burung. Ini efek ?mate copying?. Efeknya pada cowok konon nggak terlalu besar. Yang ada efek sampingnya: cowok suka niru-niru gaya orang yang diyakini narik banyak cewek. Berjambul waktu jaman Elvis, terus bergondrong ria jaman Jagger, terus sekarang musim nipisin rambut kayak … eh nggak ah, ntar dia ikutan baca.

Terpuruk di Yogya

Yogya 1994, di atas bis kota yang tak terurus. Musik latarnya something dengan “terpuruk” oleh Katon cs. Maunya memang lagi terpuruk juga. Rasanya segalanya berjalan monoton tanpa variasi: pekerjaan yang melelahkan (lagi ada gebyar pembukaan ribuan pelanggan telepon baru, dan harus dibuka satu-satu plus dites satu-satu), dan bis yang panas dan lembab. Emang hidup lagi terasa tanpa arti. Terpuruk ku di sisi … eh di sisinya siapa?

Duduk di sebelah aku, ibu-ibu setengah baya, dengan jualannya, pernik-pernik elektronik semacam senter, kipas angin, dan mainan anak-anak berbaterai. Dia lagi megangin kipas anginnya.Kok tumben makhluk introvert kayak aku tau-tau nanya, “Kenapa, Bu, kipas anginnya?” Rusak, kata dia, nggak bisa dijual. Kami diam. TMP Kusumanegara terlintasi. Boleh liat? Dia berikan kipas angin itu. Pasti coil motornya, pikir aku, benda murahan ini. Gimana ngebukanya? Ambil dulu baterainya. Nggak bawa obeng, aku coba mengalihkan ide. Kali cuman konektor baterai. Geser dikit dan ditekuk dikit pakai balpen. Pasang baterainya. Kipas cuek. Buka lagi, geser-geser aja lagi. Pasang lagi. Kipas berpusing dengan indahnya (bisnya panas abis soalnya). “Cuman sambungan baterainya kok Bu.” Dia senyum ceria. Terima kasih, jadi bisa dijual lagi, katanya. Di luar matahari menyengat tajam, tapi rasanya jadi kayak kehangatan yang ramah. Terima kasih, Tuhanku, buat hidup yang bervariasi dan indah ini. Lempuyangan di depan mata. Aku lompat dari bis, dan bis menderu dengan asap hitamnya.

2993955

Domain Bhawikarsu aku forward ke site Ikabhasu. Ada yang berminat punya alamat @bhawikarsu.org?
Musik latar imaginer: Ku tak pernah lengah akan tugas sbagai pelajar, menjunjung tinggi peradaban bangsa.

« Older posts Newer posts »

© 2026 Kuncoro++

Theme by Anders NorenUp ↑