Tapi soal favorit itu kayaknya subyektif sekali. Kaset Ludwig van Beethoven (pakai ?van? bukan ?von?, LVB itu orang Jerman yang kakeknya dari Belanda) aku yang pertama memang deretan konser violin ini. Kasetnya sih udah lama rusak. Kali-kali udah pernah terbiasa yah. Dalam kasus yang sama, komposisi Bach favorit aku masih Konserto Brandenburg no 4. Itu Bach pertama aku juga, sekaligus kaset klasik pertama aku. Tapi nggak selalu sih. Kaset Wagner aku yang pertama kayaknya Die Meistersinger, tapi itu bukan komposisi Wagner favorit aku. Aku juga nggak yakin, mana yang jadi favorit aku. Kali Siegfried Idyll, atau Tristan, tapi dua-duanya juga ada di kaset pertama. Aku nggak bisa yakin sama Wagner. Kadang aku lekat sama Faust, Flying Dutchman, Parsifal. Semua deh. Opera Wagner aku yang pertama itu bagian pertama dari Tristan, tapi favorit aku selalu sekuel Der Ring, empat-empatnya. Tristan ntar, nomor lima.
Tapi, on the other hand, biarpun kaset pertama aku dari madzhab Barok, tapi fave aku dari madzhab Romantik dan sesudahnya (post-romantik, neoklasik, impresionis, dst).
Jadi di luar urusan syaraf, kayaknya aku cukup fleksibel di bidang ideologi. Gitu? Masa?
Page 181 of 211
Seharusnya panik sih, tapi ngedengerin rentetan Romanze fur Violine dan Konzert fur Violine lumayan bisa meredam tekanan. Selera memang kurang standard. Karya Beethoven yang satu ini jarang sekali peminatnya. Biasanya orang mengkoleksi simfoni Beethoven yang selalu penuh semangat, semisal Eroica (simfoni ketiga) yang tadinya dibikin buat Napoleon, tapi urung berhubung Beethoven sebal atas keserakahan Napoleon, atau Ode of Joy (simfoni kesembilan). Tapi buat aku semangat Beethoven cuma setengah-setengah. Mending Wagner sekalian kalau mau yang bergaya Promethean. Yang paling bikin aku betah dari Beethoven kayaknya justru yang nggak terlalu penuh warna.
Deadline buat ?Management of Project Management Project? tinggal seminggu lagi, dan research masih jauh dari harapan. Teorinya sih sekarang holiday. Tapi mana ada libur dengan deadline assignment. Libur palsu.
Akhir abad lalu (1990-an), orang masih sibuk berdebat tentang mekanika kuantum. Pendukung interpretasi Bohr masih berkeras bahwa batas antara fisika klasik dan mekanika kuantum adalah observasi, atau secara luas: kesadaran. Nah, kalau jangkauannya subyektif gini, susah sekali donk. Apa kucing Schrödinger nggak boleh dianggap punya kesadaran? Dan bulan yang seindah itu hanya indah karena kita menikmati keindahannya. Waktu tidak ada pengamat yang mengamati, bulan itu perlahan terurai menjadi probabilitas posisi-momentum saja. Tapi perlu waktu lama untuk menguraikan benda segede bulan. Dan sebelum bulan terurai, sudah bakal ada pengamat yang mengamatinya, dan saat itu bulan kolaps menjadi bentuk real ala fisika klasik. Kedengerannya bener-bener lucu. Tapi beberapa fisikawan akhirnya jadi relijius setelah mereka menurunkan implikasinya bahwa semesta ini ada karena ada pengamat dari luar semesta yang terus mengamatinya. Glek, awal yang benar, akhir yang benar, tapi jalan yang salah?
Roger Penrose mencoba pendekatan lain. Gravitasi, katanya, adalah pemegang kunci pemisahan. Di level foton, tidak ada gravitasi, jadi pada foton efek kuantum ketara sekali. Juga pada satu atau sekelompok elektron, gravitasi itu kecil. Tapi begitu jumlah materi meningkat, gravitasi meningkat, perlahan efek kuantum terabaikan, dan hukum fisika klasik jadi berlaku. David Böhm punya pendapat lain. Kalor, katanya, adalah penyebab ketidakpastian. Di level kuantum, besaran ‘kalor’ (terpaksa pakai tanda petik) ada dalam bentuk lain yang teramati sebagai gejala-gejala kuantum. Perdebatan soal ini akhirnya menyeret teori kuno Einstein lagi. Barangkali, katanya, relativitas khusus Einstein itu salah, dan kita sebaiknya kembali ke transformasi Lorentz yang tidak mengharuskan batas pada kecepatan cahaya.
Err, kalau kita melakukan misinterpretasi pada kedua teori itu, terus selama abad kedua puluh apa yang sudah kita lakukan? Haha, nggak separah itu. Sains boleh bergeser, tapi efeknya, kita jadi ngerti kimia, dan sudah bisa mengaplikasikan energi nuklir, menciptakan tabung hampa sampai transistor dan mikrochip, dan membuat dunia yang agak berbeda dengan abad-abad sebelumnya.
Nggak sia-sia ikutan Kibar, dapet cerita asik lagi ini hari: Oom Kiai dan Ayam.
Suatu pagi, pemimpin preman yang badannya paling gede, tampangnya paling serem, kumisnya paling tebel, dan matanye paling melotot, dateng ke rumah Kiai, membawa sebuah bungkusan. Tiga anak buah yang badannya gede-gede ngikut di belakangnye.
“Ape ni orang mau cari perkare? Bismillaah..” kata Kiai dalam hati.
Tau-tau, si Preman ngasih bungkusan, sambil bilang begini: “Kiai, ini ada hadiah dari aye. Ayam panggang enak.”
“Alhamdulillaah…ade angin ape nih elu baek banget?” kata Kiai, sambil hatinya berpikir ..aah, akhirnya tobat juga die.
“Eit, jangan seneng dulu Kiai!!” kata si Preman dengan suara menggelegar, sambil mengeluarkan goloknye.
“Ini ayam panggang boleh ente makan, tapi inget, apapun yang ente lakukan ke ayam ini, akan ane lakukan pada ente!
Ente potong pahanye, paha ente bakal ane potong!
Ente potong sayapnya, tangan ente bakal ilang!
Ente potong lehernya, leher enter patah!
Hayo MAKAAAN!” gertak si Preman.
Dengan tenang sang Kiai berpikir keras, diputeeer-puter.. tu ayam. Setelah dapat akal, die pegang tu ayam panggang ngebelakangin wajahnya. Lantas, dengan gerakan yang pasti Kiai itu nyium pantat ayam panggang selama 15 menit kagak berhenti-berhenti.
Premannya ampun-ampun. Sejak saat itu dia tobat dan jadi ahli masjid.

Awal tahun 1998, ada yang nelepon dari US. Dengan bahasa Inggris yang ngebut amat, dia bilang mereka udah punya data lengkap aku, dan udah masukin aku ke buku Professional Who’s Who edisi tahun itu. Kalau mau bukunya, kirimkan $499 saja. Dih, mendingan Dilbert, disuruh kirim cuman $75. Jelas nggak mau akunya. Kira-kira beberapa bulan, dia kirim surat ke kantor, mengucapkan selamat bahwa nama aku masuk di Who’s Who, project yang dipimpin Ivanna Trump (kayak aku kenal aja). Kalau perlu sertifikat yang menyatakan bahwa aku masuk buku itu, kirimkan $99.
Hrms, kalau bener esteem need aku segitu gedenya, ngapain aku harus kirim $99. Kenapa bukan surat itu aja aku pigurain terus ditempel di kantor.

While the sun hangs in the sky and the desert has sand
While the waves crash in the sea and meet the land
While there’s a wind and the stars and the rainbow
Till the mountains crumble into the plain
Oh yes we’ll keep on tryin’
Tread that fine line
Oh we’ll keep on tryin yeah
Just passing our time
While we live according to race, colour or creed
While we rule by blind madness and pure greed
Our lives dictated by tradition, superstition, false religion
Through the aeons, and on and on
Oh yes we’ll keep on tryin’
We’ll tread that fine line
Oh oh we’ll keep on tryin’
Till the end of time
Till the end of time
Through the sorrow all through our splendour
Don’t take offence at my innuendo
You can be anything you want to be
Just turn yourself into anything you think that you could ever be
Be free with your tempo be free be free
Surrender your ego be free be free to yourself
Oooh ooh
If there’s a God or any kind of justice under the sky
If there’s a point if there’s a reason to live or die
If there’s an answer to the questions we feel bound to ask
Show yourself – destroy our fears – release your mask
Oh yes we’ll keep on trying
Hey tread that fine line
Yeah we’ll keep on smiling yeah (yeah yeah)
And whatever will be will be
We’ll keep on trying
We’ll just keep on trying
Till the end of time
Till the end of time
Till the end of time

Waktu Szilard dan Fermi lari ke Amerika, Eropa masih punya ilmuwan seperti Hahn, Strassman, dan bahkan Heisenberg. Waktu Bohr menginformasikan ke Szilard bahwa Jerman sudah bisa membuat fisi terkendali, Szilard melobby ilmuwan dan akhirnya ke presiden Roosevelt melalui Einstein. Perlu waktu lama dari lobby sampai terbentuknya proyek Manhattan. Sementara itu, di mana bom atom Jerman?

Menteri Persenjataan dan Produksi Perang Jeman Albert Speer sudah menyediakan lab bawah tanah buat Heisenberg. Tapi Heisenberg menyatakan bahwa pembuatan bom atom belum mungkin. Konon sih Heisenberg punya alasan moral agar Nazi tidak bisa menggunakan bom atom. Sementara itu proyek Manhattan berhasil. Tapi sebelum dipakai, Jerman keburu kalah perang. Heisenberg, Hahn, dll, ditawan di Inggris. Waktu akhirnya bom atom diledakkan di Hiroshima, Heisenberg menunjukkan ketidakpercayaannya. Ia menunjukkan ke Hahn bahwa bom itu harus memiliki jejari kritis setengah meter, jadi volumenya setengah meter kubik, dan massanya seratusan kilogram. Dan U-238 seberat itu bisa diproduksi dalam beberapa tahun, dengan pemurnian dari U-235. Tapi Heisenberg salah hitung. Bom yang dijatuhkan di Hiroshima, massa U-238-nya hanya 1 kg saja. Berat 1 kg itu bisa diproduksi dalam hitungan hari saja di Amerika.
Jadi bom atom Jerman gagal karena kesalahan hitung, bukan karena alasan moral. Tapi, kalau menyangkut nama Heisenberg, tentu harus dipertimbangkan juga unsur ketidakpastian.
