Page 170 of 211

4256412

Abis menjelajahi negeri-negeri khayali, desain network minggu ini berlokasi di perusahaan khayali. Pokoknya dia jualan widgets, kata si profesor. Jadi aku namain aja perusahaannya Bobsadino Ltd. Soalnya siapa lagi yang kemana-mana nawarin widget kalau bukan si Bob yang lucu tapi ganas itu :). Tapi kalau aku kasih nama Bob yang cuman tiga huruf, nama itu bakal tenggelam di tengah keriuhan MPLS-BGP enabled VPN, with CR-LDP. Hilang deh Bob. Trus bakal ada yang nanya, Bob whazzak? Dan khirnya aku harus jawab juga Bob’s a dino. Jadi kenapa nggak dari awal aja aku kasih nama Bobsadino ?

Bobsadino sedang memperlebar networknya dengan menambah site di beberapa kota dan menggabungkan layanan multimedia dengan transaksi data yang ada saat ini. QoS di network diimplementasikan dengan Diffserv, di VPN dengan MPLS, dan komunikasi ke customer dengan IN. OK, sebenernya sih paper-nya belum selesai. Cuman waktunya udah abis. Udah ah, lupain aja.

Sabra-Shatila

Peristiwa Sabra-Shatila ramai dibahas lagi, setelah BBC menampilkan gambar-gambar manusia-manusia Palestina korban pembunuhan pasukan Falangis di kamp pengungsi Sabra-Shatila. BBC memaparkan gambar-gambar yang selama ini disembunyikan: orang-orang tua dan anak-anak dengan tubuh yang hancur di sepanjang jalan, ibarat bangkai yang terhinakan. Semua orang yang bisa membela mereka telah diusir sebelumnya oleh tentara Israel. Dan BBC memaparkan bahwa malam itu Ariel Sharon (astaga, akhirnya nama iblis itu tertulis di sini) sendiri yang memerintahkan pasukan Falangis melakukan “pembersihan”.

Bagi sebagian orang, ini memang cerita klasik. Tapi mereka tidak melihat bahwa si iblis justru dijadikan pimpinan tertinggi di Israel. Mereka juga tidak melihat bahwa cara-cara biadab seperti itu masih dilestarikan oleh para penerus iblis (bahkan sampai minggu lalu, di Ambon).

Schrödinger Multi Arah

Seperti yang diceritakan Feynman, teori Wheeler-Feynman mengenai interaksi foton dua arah waktu, hanya berhasil untuk fisika klasik, tetapi tidak pernah berhasil diterapkan di mekanika kuantum. Feynman kemudian beralih ke QED.

Tahun 1970-an, baru beberapa ilmuwan mulai menemukan jalan memadukan teori itu dengan fisika kuantum: Hoyle dan Narlikar, juga Paul Davies. Tapi seperti juga Feynman, mereka juga hanya memakai gelombang elektromagnetik alias foton.

Pertengahan 1980-an, John Cramer memperluas gagasan ini ke fungsi gelombang Schrödinger, yang lajunya sama dengan foton. Mula-mula memang tidak ada yang memikirkan ide itu, karena selama ini diketahui fungsi Schrödinger hanya memiliki satu arah — yang diasumsikan adalah arah maju. Yang terlupakan adalah bahwa seperti fungsi Maxwell untuk elektromagnetika, fungsi ini bisa dicerminkan untuk menggambarkan aliran energi ke masa lalu.

Sayangnya risalah Cramer tidak begitu bergema. Pertengahan tahun 1990-an, Chu dan beberapa ilmuwan yang mendalami superstring, sekali lagi menemukan hasil yang serupa, tanpa pernah berkomunikasi dengan Cramer. Chu menulis: “Korelasi seketika antara dua partikel terpisah terjadi melalui partikel ketiga, yang berkorelasi dengan partikel pertama melalui interaksi maju, dan dengan partikel kedua melalui interaksi mundur.” Waktu akhirnya Chu tahu bahwa soal interaksi maju mundur ini sudah disepakati para ilmuwan, dia cuman bilang, “Tahu gitu, saya nggak akan terlalu khawatir menggeneralisasikan teori Wheeler-Feynman ke superstring.”

Kira-kira Feynman sendiri bakal bilang apa? Kalau masih hidup sampai tahun 1990-an, barangkali dia lebih suka main drum :). Tapi di tahun 1960-an, dia pernah bilang bahwa tidak ada satu orang pun yang mengerti teori kuantum, dalam arti kenapa interaksi yang terjadi kok seperti itu. Barangkali akhirnya orang tahu, dan itu akibat salah satu teori dia juga, yang tidak dia teruskan, tapi diteruskan orang-orang lain selama setengah abad.

4195387

Alkisah, di negeri Atlantis (fiktif), jumlah penduduk yang terlalu tinggi memaksa negara melarang penduduk memiliki banyak anak. Tapi di Atlantis semua keluarga ingin memiliki anak perempuan. Maka mereka mengubah undang-undang menjadi: semua keluarga tidak boleh memiliki anak lagi jika sudah memiliki satu anak perempuan. Kalau satu anak perempuan lahir, dia tidak boleh punya adik. Kalau anak lelaki lahir, dia boleh punya adik, bahkan boleh terus menerus, sampai anak perempuan lahir.
Seorang pendatang protes: dengan demikian bakal terjadi ketidakseimbangan antara jumlah lelaki dan perempuan. Tapi dia lupa: orang Atlantis mahir dalam matematika. Mereka tahu pasti bahwa secara total perbandingan lelaki:perempuan tetap mendekati 1:1.

Kalkulasi: Ada 1/2 kemungkinan bahwa anak pertama perempuan, jadi tidak ada anak lelaki yang lahir. Ada 1/4 kemungkinan bahwa anak kedua perempuan, jadi satu anak lelaki lahir. Ada 1/8 kemungkinan anak ketiga perempuan, jadi 2 anak lelaki lahir. Dst. Probabilitas anak lelaki lahir adalah 1/2 * 0 + 1/4 * 1 + 1/8 * 2 + ….. = 1/2. Probabilitas anak perempuan lahir adalah 1 – 1/2 = 1/2. qed.

4188309

Setelah PD II, Amerika memiliki produk kabel transmisi yang lebih handal daripada negara-negara Eropa. Mereka mampu membuat kabel yang lebih panjang tanpa terminasi. Waktu itu, untuk membantu perekonomian Jepang yang baru jatuh, mereka membagikan ilmu pembuatan kabel itu ke orang Jepang, tapi tidak ke orang Eropa. Tapi orang Eropa berkeras memakai kabel mereka sendiri yang lebih pendek.
Waktu zaman digitalisasi, orang harus menyusun standar kecepatan sinyal digital (sebenarnya bukan kecepatan, tapi kapasitas antar). Orang Amerika dan Jepang sama-sama menemukan bahwa kapasitas yang aman buat kabel mereka tak lebih dari 1.5 Mb/s. Di atas itu, loss yang terjadi sudah di atas toleransi. Orang Eropa, yang kabelnya lebih pendek, tentu bisa memakai kapasitas yang lebih tinggi dengan standar keamanan yang sama. Maka mereka memakai 2 Mb/s. Efek perbedaan ini tentu meluas ke standar multipleks di atasnya, dan terus terbawa bahkan sampai hari ini.

Oswestry

Di dunia ini, ada kota yang bahkan namanya pun belum pernah aku denger. Oswestry, di batas antara England dan Wales. Di tengah peternakan domba dan sapi, British Telecom menempatkan worldwide network management centre. Katanya, alasannya cuman tanah murah :). Tapi sambil rada somse bahwa di BT network management bisa ditempatkan di mana saja, tidak harus di tempat padat trafik. Di Oswestry bahkan nggak ada sentral selain sebuah remote concentrator (orang Telkom bilang DLU atau RSM).
Site ini (site fisik, bukan site web) bener-bener mengingatkan ke kerjaan Telkom: statistika dan visualisasi performansi, plus penanggulangan alarm dan kongesti. Bahkan istilah kayak ASR, SCH, dan yang lucu-lucu itu juga masih dipakai di sini. Sama-sama mantan BUMN kali ya.
Balik ke Coventry … di jalan aku baru lihat benda mirip gunung. Kayaknya ini gunung pertama yang aku lihat di UK. Kecil amat.

Laure & Nerd

Jadi inget waktu diwawancara Laura dari BC. Dia nanya kegiatan aku selain kuliah. Urusan engineering aja :). Bahkan satu-satunya society yang aku ikutin cuman IEE. Jalan-jalan keliling kota-kota kecil. Sesekali liat orkestra sama teater, tapi harus cari temen (serba salah emang jadi nerd* yang doyan orkestra, tetep nggak bisa bermasyarakat, tapi juga nggak mau terpaku di depan komputer, haha). Ternyata Laura bidangnya musik. Trus cerita tentang Ring cycle yang baru dimainin di B’ham tahun kemaren. Kapan ada lagi? Antara 10-15 tahun lagi, katanya. Duh. Kayaknya aku memang harus maki-maki si Hitler. Tapi dia punya ide, kalau ada orkestra yang bagus, ntar dia ajak klub Chevening di Midlands yang berminat buat berangkat bareng-bareng.

*Aku memang bukan ideal nerd, soalnya aku pernah punya cita-cita berhenti jadi introvert. Selalu mau nyoba hidup bermasyarakat. Tapi memang nggak gampang sih. Aku coba aja terus. Sekian tahun lalu, aku nggak punya bayangan bakal masang tulisan-tulisan kayak di halaman ini di tempat yang bisa diakses publik. Lucunya, kayaknya yang baca juga cuman kaum nerd yang bermasyarakatnya via Internet. Ironik abisss.

« Older posts Newer posts »

© 2026 Kuncoro++

Theme by Anders NorenUp ↑