Category: IEEE (Page 2 of 7)

Yang 2013

IEEE dan IEEE Indonesia Section

Walau memiliki sejarah membentang sejak masa AIEE 1884, namun nama IEEE baru digunakan sejak AIEE melebur dengan IRE pada tahun 1963, atau 50 tahun lalu. AIEE didirikan para pelopor rekayasa kelistrikan, termasuk Edison dan Tesla sendiri, dan merintis terdistribusinya daya listrik dan komunikasi telegrafi. IRE didirikan pada 1912 oleh engineer yang lebih berfokus pada eektronika, yaitu rekayasa listrik untuk keperluan persinyalan, termasuk komunikasi radio. AIEE berfokus ke Amerika, dan IRE meluas ke mancanegara. AIEE didominasi kaum tua, sementara IRE diasiki engineer muda. Jumlah anggota IRE melampaui AIEE. Demi kemaslahatan profesi, akhirnya disusunlah penggabungan organisasi menjadi IEEE pada 1963; dengan logo yang merupakan gabungan dari layang-layang Franklin dari AIEE dan tangan kanan Ampère dari IRE. IEEE meluas ke seluruh penjuru dunia, dan mendalami teknologi pelopor, termasuk biomedical engineering, information theory, nanotechnology, dan seterusnya.

IEEE Indonesia Section didirikan melalui Maklumat yang diundangkan pada 16 Februari 1988, atau 25 tahun lalu. Anggota saat ini berkisar pada angka 1000, yang sempat mencapai rekor terendah pada puncak krisis ekonomi 1998, dengan jumlah anggota turun mencapai 30 orang saja. Saat ini, Section memiliki 9 Chapter di bawahnya; dan memiliki Student Branches di 6 kampus.

10 tahun lalu, tahun 2003, IEEE Indonesia Communications & Computer Join Chapter memecah diri menjadi IEEE Communications Society Indonesia Chapter dan IEEE Computer Society Indonesia Chapter. Sayap Communications mulai bergerak maju, dan sempat menjadi chapter yang paling aktif di bawah IEEE Indonesia Section. Sayap Computer justru sempat mati; dan dibangkitkan kembali di tahun 2012.

Isaac Newton dan Charles Babbage

Baik Isaac Newton maupun Charles Babbage pernah memegang posisi sebagai Lucasian Professor of Mathematicks di Cambridge University — posisi yang kemudian juga dipegang oleh Paul Dirac dan Stephen Hawking

Isaac Newton, tercatat dilahirkan pada 25 Desember 1642. Namun dalam penanggalan Gregarian (yang baru berlaku di Inggris tahun 1752), tanggal ini setara dengan 4 Januari 1643, atau 370 tahun lalu.

Charles Babbage dilahirkan pada 26 Desember 1791, atau 222 tahun lalu. Babbage merupakan salah satu pemegang posisi . Sejarah teknologi informasi dan komputasi mengingatnya sebagai pencipta dan pengembang Mesin Differensial dan Mesin Analitik.

Le Petit Prince

Buku Le Petit Prince ditulis oleh Antoine de Saint-Exupéry dan diterbitkan di Amerika Serikat pada tahun 1943, atau 70 tahun lalu. Terjemahan Indonesia (Pangeran Kecil) diterbitkan oleh Pustaka Jaya pada tahun 1970-an. Aku sendiri mengenal karya ini pada sebuah pameran di Lembaga Indonesia-Perancis di Sagan, Yogyakarta, saat sedang keracunan existentialism. Reinventer la vie! Buku ini mengevaluasi kembali relasi manusia dengan elemen-elemen semesta, termasuk dengan sesamanya, dan dengan gagasan-gagasannya; yang dimetaforakan dalam bentuk pertemuan sang penulis, sebagai pilot yang pesawatnya kandas di gurun Sahara, dengan seorang Pangeran Kecil yang konon datang dari Asteroid B-612.

Beli buku berbahasa Indonesia (di Palasari), bahasa Perancis, dst; sekarang koleksiku sudah mencakup 45 edisi dari berbagai bahasa, plus artefaks-artefaks lain (DVD, diary, etc).

Richard Wagner dan Giuseppe Verdi

Baik Richard Wagner maupun Giuseppe Verdi dilahirkan pada 1813; dan tahun 2013 ini para fans mereka memperingati 200 tahun kelahiran mereka dalam peringatan-peringatan kecil. Musik Wagner dan Verdi sering disebut sebagai puncak era romantik, yang banyak mempengaruhi musik-musik sesudahnya. Blog ini sudah cukup banyak menceritakan tentang Wagner, termasuk pemberontakan anarkismenya di Dresden, masa pengasingan diri di Zürich, masa kejayaan di Munich dan Bayreuth, hingga meninggal di Venezia.

 

Comnetsat & Cyberneticscom 2013

Tampaknya banyak IEEE conference yang dijadwalkan menjelang akhir tahun 2013. Terlalu banyak, dengan waktu yang saling mendesak. Syukur, executive committee dan para officers di IEEE Indonesia Section punya komitmen tinggi untuk dapat menjaga kegiatan-kegiatan ini. Secara pribadi, aku tidak bisa mengawal semua. Termasuk flag conference IEEE Indonesia Section ini: Comnetsat dan Cyberneticscom.

Comnetsat dan Cyberneticscom tahun ini diselenggarakan di Sheraton Hotel, Yogyakarta, 3-4 Desember. Sebenarnya aku sudah menjadwalkan untuk hadir penuh di konferensi paralel ini, yang sudah dijadwalkan bahkan sejak Januari. Tiket pun sudah terbeli. Tapi HR Telkom membuat undangan mendadak untuk assessment yang sifatnya wajib pada Hari H. Maka aku baru bisa hadir setelah Hari-1 selesai. Pembukaan dilakukan oleh General Chair, Dr Ford Lumban Gaol; dan sambutan IEEE Indonesia Section dilakukan oleh Pak Arnold Djiwatampu, Advisory Board. Keynote Speech yang temanya paling menarik buatku adalah Quantum Communications, yang disampaikan oleh Prof. Rodney van Meter. Tapi sayangnya aku malah gak hadir :(.

Aku baru melandas di Yogya Selasa malam, dan langsung menuju Gala Dinner di Kraton Yogyakarta. Hadir sekitar 80 orang dalam acara ini. Aku meluangkan sekitar 3 menit untuk Welcome Speech dari IEEE Indonesia Section, sekaligus appreciation buat Telkom Indonesia yang menyumbangkan dinner ini. Dinner dipilih dari favorit para Sultan Yogya terdahulu. Menunya unik, sampai aku gak tahu namanya :D.

Comnetsat-01

Aku mengambil posisi meja bersama Prof Van Meter dan Dr Agung Trisetyarso. Mas Agung ini adalah apprentice dari Van Meter, dan pagi sebelumnya jadi session chair dalam sesi keynote speech Van Meter. Talk dengan mereka bahkan lebih menarik lagi daripada dinner-nya sendiri. FYI, riset Van Meter tahun ini dipaparkan di IEEE Communications Magazine dan juga di Communications of the ACM (CACM).

Van-Meter

Balik ke Sheraton, aku terkapar di kursi malas dekat kolam. Kena akumulasi kelelahan beberapa hari / minggu, aku malah pulas di samping kolam. Bangun, balik ke kamar. Dan baru sadar bahwa mungkin ini pertama kali aku boleh tidur pulas di malam konferensi internasional yang kami selenggarakan. Biasanya sok sibuk persiapan presentasi ini itu.

Hari berikutnya masih banyak keynote speech menarik. Prof Benyamin Wah, past chair dari IEEE Computer Society, dan provost  dari Chineses University Hongkong, mengkaji Parallel Decomposition, yang berawal dari perlunya optimisasi dari berbagai aplikasi komputasi natural, termasuk komputasi neural dan evolusioner. Prof Wolfgang Martin Boerner, dari IEEE GRSS Asia Pacific, memaparkan Future Perspectives of Microwave Imaging with Application to Multi-Parameter Fully Polarimetric POLSAR Remote Sensing and Geophysical Stress-Change Monitoring. Dari Telkom Indonesia, Pak Rizkan Chandra diwakili oleh Pak Era Kamali Nasution, mengkaji kasus deployment network dengan konvergensi vertikal dengan pendekatan ekosistem.

Comnetsat-02

Sesi paralel sesudahnya cukup menarik. Peserta bukan saja datang dari kawasan Asia Pasifik seperti yang dibayangkan, tetapi dari negeri-negeri yang cukup tersebar. BTW, Conference Chair untuk Comnetsat adalah Dr Arifin Nugroho, dengan TPC Chair Prof Eko Tjipto rahardjo. Conference Chair untuk Cyberneticscom adalah Dr Wahidin Wahab, dengan TPC Chair Prof Riri Fitri Sari.

Kerjasama Konferensi IEEE

Dari beberapa misi Comnetsat dan Cyberneticscom tahun lalu, yang aku anggap terpenting adalah kemampuannya menyebarluaskan semangat dan komitmen mengangkat konferensi teknis ilmiah dari kampus-kampus dan lembaga penelitian di Indonesia menjadi konferensi internasional dengan standar kualitas IEEE. Di tahun-tahun sebelumnya, baru kampus semacam UI, ITB, dan ITTelkom (sekarang Telkom University) yang secara rutin menyelenggarakan konferensi internasional IEEE. Tahun ini, LIPI, UGM, UMN, telah mencoba menyelenggarakan konferensi serupa.

UGM: ICITEE

Tahun-tahun sebelumnya, UGM telah melaksanakan CITEE. Tahun ini, dipimpin Dr Wayan Mustika, diselenggarakan konferensi paralel CITEE yang bercakupan nasional dan ICITEE yang berjangkau internasional. ICITEE (International Conference on Information Technology and Electrical Engineering) [URL] dikoordinasikan dengan IEEE Indonesia Section dilaksanakan sejak awal tahun, baik secara online maupun via perbincangan di Yogyakarta.

ICITEE digelar di Sahid Rich Yogya Hotel, 7-8 Oktober. Pembukaan oleh Dr Wayan Mustika sebagai general chair. Aku mewakili IEEE memberikan congratulatory speech 7 menit saja. Keynote speeches disampaikan oleh Prof Tadashi Matsumoto (JAIST), Dr Susumu Yoshoda (Kyoto Univ), dan Dr Khiorul Anwar (JAIST).

ICITEE-550

LIPI: IC3INA

IC3INA (The International Conference on Computer, Control, Informatics and its Applications) [URL], mulai direncanakan awal 2013. Koordinasi dengan IEEE Indonesia Section dilaksanakan secara online; tetapi kami sempat melakukan dua kali kunjungan ke Gedung LIPI di Cisitu Lama, Bandung.

Konferensi digelar pada 19-20 November di Gedung LIPI, Gatsu Jakarta. Sesi pembukaan disusun dengan gaya meja-meja bundar di bawah panggung. Keynote speech disampaikan a.l. oleh Prof Md Mahmud Hasan dari Kazakh-British Technical University di Almaty dan Prof Antonio Uras dari ALICE CERN. Prof Uras bukan membahas hasil riset di LHC dan ALICE sendiri, tetapi bagaimana mereka di sana mengolah data dengan skala petabyte untuk mengambil hasil riset secara efektif. Aku didapuk jadi session chair untuk semua sesi keynote, karena semua komite sedang merangkap jadi seksi sibuk.

IC3INA-550

Selesai sesi, sempat ada bincang ringan dengan wartawan Tempo. Sambil berbincang ringan, aku menyebut bahwa kita telah beberapa tahun berusaha membangun inovasi digital. Hasilnya jauh dari menggembirakan. Dari sisi bisnis, tampak bahwa produk digital cuma jadi boom, tidak jadi revenue. Dari sisi social, melejitnya pemakai media social di Indonesia justru dibarengi mandegnya indeks pembangunan manusia (HDI) dan seluruh parameternya. Aku pikir ini a.l. karena inovasi kita lebih sering berasal dari contekan inovasi atau riset dari luar, dan bukan bukan dari riset yang dikembangkan dari Indonesia sendiri, buat kebutuhan Indonesia. Jadi kegiatan IEEE dan ekosistem pendidikan tinggi lebih difokuskan buat mendukung riset-riset nasional, termasuk dengan konferensi yang terkawal kualitasnya, dan peningkatan jurnal nasional. Tapi konon di Tempo dll, tidak ada yang bertugas mengawal kualitas berita :). Maka di Tempo yang ditampilkan adalah bahwa seolah-olah aku menuding riset-riset nasional adalah hasil contekan. Tentu, ini jauh dari pendapatku. Terima kasih, Tempo, untuk menunjukkan bahwa tugas kita memang lebih besar lagi. Bukan hanya di pendidikan nasional, tapi juga media nasional.

Sayangnya aku tidak bisa hadir di sesi paralel. Ada tugas mendadak dari Telkom DES.

UMN: CONMEDIA

Tahun lalu, Universitas Multimedia Nusantara (UMN) menyelenggarakan CONMEDIA (Conference of New Media Studies) [URL] dalam bentuk seminar yang hanya berisikan international speech. Baru tahun ini CONMEDIA menampilkan dan menguji paper-paper. Karena ini adalah pengalaman baru, UMN belum berfokus untuk mempublikasikan hasil konferensi melalu IEEE (Xplore). Namun, aku mencoba tetap menyusun skema kerja seperti halnya konferensi internasional IEEE lainnya; sekaligus sebagai sarana belajar bersama.

CONMEDIA diselenggarakan pada 27-28 November di New Media Tower UMN. Pembukaan oleh Rektor UMN Dr. Ninok Leksono; dilanjutkan dengan sesi keynote speech dari Prof. Tahee Kim (Youngsan University, Korea), Kuncoro Wastuwibowo (IEEE Indonesia Section), Prof. Richardus Eko Indrajit (APTIKOM) dan Prof. John Cokley (Swinburne University, Australia). Paparanku berjudul Converged Digital Ecosystem, dan membahas aspek teknis, desain, aplikasi dari pengembangan layanan-layanan digital. Dikenalkan juga standar baru seri IEEE 1903 yang disebut dengan NGSON. Berikutnya adalah sesi paralel.

Conmedia-550

Ketua penyelenggara, Dr Hira Meidia, sudah berkomitmen untuk meningkatkan CONMEDIA di tahun berikutnya, agar dapat memberanikan diri terpublikasi di IEEE Xplore.

Oh ya, aku juga dapat tanda mata unik menarik dari UMN & CONMEDIA. Mereka edit fotoku (waktu ketemu Dr Alain Chesnais di TALE tahun ini) dalam gaya Weda Style, dan mencetak dalam display yang keren. Here you are:

Conmedia-400

 

Konferensi 2014

Di tahun 2014, telah masuk beberapa proposal kerjasama penyelenggaraan konferensi. ITS, PENS, serta satu kampus di Malang telah mengajukan beberapa proposal juga. Kawasan timur semakin cerah. Tapi tentu target kita bukan jumlah konferensi. Kita tetap berfokus pada peningkatan dinamika dan kualitas riset ilmiah di Indonesia. Dalam konteks IEEE, tentu fokus pada STEM: science, technology, engineering, & math. Dan dalam kerangka IEEE, sifatnya tetap non komersial, not-for-profit. Di web IEEE Indonesia Section, bagian ini telah didetailkan.

NEST UI

Ini kegiatan tahunan dari Mahasiswa Elektro UI: NEST. Kepanjangannya canggung nian: National Electrical Seminar & Technology :). Beberapa minggu lalu, ketua penyelenggara kegiatan ini, Sdr Hegar Mada, dan sekretaris kegiatan, Sdr Isyana Paramitha, bergantian menghubungi IEEE Indonesia Section untuk endorsement kegiatan ini. Tentu, kegiatan akademis dan profesional semacam ini kita dukung. Komunikasi sempat terhenti sepanjang Ramadhan :). Tapi selesai APCC, Hegar berkontak lagi. Dua hari sebelum Hari-H, Hegar datang ke kantor Kebon Sirih. Ia menyampaikan undangan sebagai Keynote Speaker. Penandatangannya Dr Muhamad Asvial, salah satu pendukung kuat kegiatan-kegiatan IEEE di Indonesia. Jadi aku tidak bisa menolak. (Hey, ini H-2)

NEST berlangsung 12-13 September 2013 di Gedung Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia, Depok. Tema NEST adalah “A step foward to the green information and communication technology sustainability.” Keynote speech berlangsung di hari pertama, disusul seminar, workshop, dan pameran.

 (Coffee break bersama Prof. Riri, Prof Mulli, dan Pak Charles)

NEST dibuka Dr Muhamad Asvial, Kepala Departemen Teknik Elektro, Fakultas Teknik UI. Keynote speech pertama dari Prof. Dr-Ing. Kalamullah Ramli, atau akrab dipanggil Pak Mulli, Staf Ahli Menkominfo bidang Teknologi. Pertama kali aku mengenal nama beliau waktu masih di pengajian Isnet beberapa tahun lalu. Syukur sempat ketemu beliau akhirnya :). Keynote kedua dari aku, mewakili IEEE Indonesia Section. Prof Riri Fitri Sari (CIO UI) sempat hadir juga di tengah speech-ku.

Presentasiku berjudul “Green-Aware Networks” :). Sebelumnya aku sempat mengintip daftar program. Workshop dan seminar akan membahas hal-hal semacam smart grid, cloud computing, dan beberapa materi menarik lain. Jadi aku fokuskan presentasi pada hal yang belum dibahas pada workshop dan seminar, yaitu pada cognitive radio yang memiliki awareness pada reservasi energi dan kelestarian alam. Materi cognitive radio ini memang pernah aku presentasikan, namun penekanan pada konteks kehijauan memberikan pesan baru pada diskusi ini.

(Presentasi “Green-Aware Networks”)

Selesai presentasi, ada sesi break dengan kopi dan lemper yang sedap. Aku meluangkan beberapa menit ke lokasi pameran. Wow, robotika! Kebetulan aku sedang mendadak agak sedikit tertarik urusan robotika, sensor, dll. jadi aku menyibukkan diri berbincang-bincang dengan peserta pameran, dari UGM, Unitel, dan lain-lain. Plus dipameri hal-hal menarik.

Kembali ke ruang seminar, Pak Charles sedang memaparkan aspek openness dan security pada ICT projects. Ini hal yang penting untuk green ICT. Reusable engineering (hardware/software) memiliki peran penting buat ICT yang ramah lingkungan.

Jam 12:00 aku pamit balik ke kantor Kebon Sirih. Mitha mengawalku ke luar gedung perpustakaan. Sebenernya sih, mau bikin foto dulu di danau. Tapi aku ditunggu kegiatan lain di kantor sih. Syukur masih sempat foto di pintu perpustakaan.

 (Dikawal Mitha)

NEST UI dikemas sederhana, namun menunjukkan komitmen yang kuat, dari sisi akademis dan profesional, dari para engineer muda di UI dan kampus-kampus lain yang bertekad meningkatkan kekuatan negeri ini melalui teknologi tinggi, tanpa mengabaikan lingkungan, dan justru dengan tekad memperbaiki kembali lingkungan hidup yang hijau. Bravo, Universitas Indonesia. Teruskan dan tingkatkan aktivitas yang keren dan menginspirasi semacam ini.

APCC 2013

Alhamdulillah, akhirnya APCC 2013 terselesaikan. Ini proses panjang yang bikin sempat bergejolak antara semangat dan ketegangan yang sama tingginya. Ini adalah kelanjutan COMNETSAT 2012, saat Prof Byeong Gi Lee menyarankan IEEE Comsoc Indonesia Chapter menjadi tuan rumah APCC; lalu APCC 2012, saat kami memenangkan bidding untuk menjadi tuan rumah APCC 2013; disusul koordinasi kegiatan, baik event organising maupun paper management. Sebagai general chair, sidang IEEE Comsoc Indonesia Chapter memilih Dr Wiseto Agung sebagai General Chair APCC 2013. Langkah strategis lain yang dilakukan adalah menggaet ITTelkom (sekarang Universitas Telkom) sebagai co-organiser kegiatan ini, baik event maupun teknis-akademis. Seperti pada conference lain, kami harus tegang juga karena jumlah paper yang masuk sangat sedikit, hingga hari-hari terakhir. Tapi beberapa hari sebelum deadline, ratusan paper masuk melalui EDAS. Dari seluruh penjuru dunia, sebagian besar umat manusia yang terdidik sekalipun memilih mengirim materi pada detik-detik terakhir. Total terkumpul 309 paper. Technical Program Committee diketuai Dr Arifin Nugroho, dengan beberapa vice. Vice yang paling aktif-dinamis dalam proses pengolahan paper adalah Dr Rina Puji Astuti. Sementara itu konstelasi IEEE di Indonesia sedikit bergeser. Aku memegang posisi Chair di IEEE Indonesia Section, dan harus berbagi resource waktu dengan banyak kegiatan IEEE lain. Comsoc Chapter Chair (Satrio Dharmanto) dan para Past Chairs (Muhammad Ary Murti, Arief Hamdani) meneruskan perjuangan mensukseskan APCC 2013. Dengan seleksi yang ketat, APCC 2013 meluluskan 163 paper (53% dari total paper yang masuk).

APCC

APCC, Asia-Pacific Conference on Communications, adalah konferensi regional yang sangat bergengsi di Asia Pasifik sebagai salah satu kawasan dengan pertumbuhan teknologi IT tertinggi di dunia. Selain disponsori oleh IEEE Comsoc, APCC juga didukung oleh KICS di Korea, IEICE Communications Society di Jepang, dan CIC di Cina. Nama2 anggota ASC juga cukup mendebarkan: tokoh-tokoh besar yang merupakan pionir dunia ICT. APCC diselenggarakan pertama kali tahun 1993 di Taejon, Korea. APCC ke-18 tahun lalu juga diselenggarakan di Korea, tetapi di Jeju Island. Tahun ini, APCC ke-19 diselenggarakan di Bali Dynasty Resort di Pantai Kuta, 29-31 Agustus 2013. Aku memang sudah di Bali sejak 26 Agustus demi TALE 2013. Rekan-rekan dari Universitas Telkom (Bandung) didukung Universitas Udayana (Denpasar) mulai menyiapkan semua proses pada 28 Agustus.

Kamis, 29 Agustus, APCC dibuka. Dengan technical sponsor yang cukup banyak, cukup banyak juga speech yang disampaikan pada acara pembukaan. Tapi masing-masing memakan sekitar 5 menit saja. Opening speech disampaikan Dr Wiseto Agung (GC APCC  2013), Satriyo Dharmanto (Chair, IEEE Indonesia Comsoc Chapter), Dr. Ali Muayyadi (Universitas Telkom), Prof. Zhen Yang (Chair of APCC Steering Committee; Chair of the CIC), Dr. Ishikawa Yoshihiro (Chair, IEICE Communications Society), Prof. You-Ze Cho (Vice Chair, KICS), dan Koen (Chair, IEEE Indonesia Section). Dalam hal ini, IEEE Indonesia Section mewakili IEEE yang merupakan technical endorser kegiatan.

Paparanku cuma menyampaikan bahwa Asia Pasific memiliki arti besar dalam pengembangan ICT. Selain bahwa kawasan ini merupakan pusat industri ICT yang paling kompetitif, penduduk kawasan ini juga termasuk yang paling adaptif pada budaya digital lifestyle yang baru. Kekayaan budaya juag mendukung  pengembangan teknologi komunikasi, yang akan memahami dan mendukung bentuk interaksi yang sangat kontekstual dan sangat manusiawi. Namun masalah sosial kawasan ini juga mengkhawatirkan. Teknologi membuka akses informasi, tapi mendorong konsumerisme, tapi juga memungkinkan pelestarian alam, tapi juga meningkatkan polusi, tapi juga menciptakan lapangan kerja baru, tapi juga mempercepat urbanisasi, dst, dst. Tugas para insinyur adalah merancang dan mengembangkan teknologi yang akan mengatasi berbagai masalah kemanusiaan dan mencerdaskan kehidupan manusia. Pada konteks sosial inilah, kami memilih tema APCC 2013 ini: Smart Communications to Enhance the Quality of Life.

Sesi keynote speech diisi berturut-turut oleh Prof Byeong Gi Lee (Past President, IEEE Communications Society; Past President, KICS), yang tetap bersedia berkunjung ke Indonesia meramaikan APCC; Prof. Adnan Al-Anbuky (Director of Sensor Network and Smart Environment (SeNSe) Research Lab, School of Engineering Auckland University of Technology, Auckland – New Zealand); Mr Indra Utoyo (CISP, Telkom Indonesia; Chairman, MIKTI), dan Ichiro Inoue (Network Systems Planning & Innovation Project, NTT).

Kegiatan berikutnya cukup padat; tapi khas untuk setiap international technical conference. Sesi special speech, sesi tutorial, sesi presentasi paralel, sesi poster, dll. Di sesi tutorial, aku menghindar dari hal mainstream macam mobile network dll; dan memilih jaringan sensor yang merupakan salah satu elemen buat Internet of Things (IoT). Tutornya kebetulan sepasang profesor dari Coventry University. Hey, ini universitas modern (bukan universitas seangkatan universitas klasik) yang tahun ini banyak memperoleh appresiasi dan penghargaan di mana-mana loh. Acara rutin lain adalah Gala Dinner, tempat beramah-tamah dalam suasana semi formal, tapi boleh tertawa keras-keras; termasuk sesi-sesi penyerahan Paper Award dari APCC Steering Committee.

Sesi poster, yang diselenggarakan di hari terakhir, biasanya paling sepi pengunjung. Jadi aku justru menyempatkan diri datang ke sesi poster, dan secara serius menanyai setiap pemapar poster satu-satu. Sambil belajar banyak hal baru, sambil menambah network. Perbincangan di sesi poster bisa lebih dalam dan lebih menarik daripada sesi presentasi yang waktunya sangat terbatas.

Kerja keras yang luar biasa dari para organiser, di sisi teknis, perencanaan, dan pelaksanaan. Di sesi review di Sabtu sore, aku menyampaikan bahwa biarpun para organiser selalu merasa ada banyak kekurangan, namun dari APCC Steering Committee dan para peserta, kita justru secara personal menerima appresiasi dan feedback yang sifatnya positif. Luar biasa! IEEE, Unitel, Unud, dan semua. Luar biasa. Tahun ini akan masih banyak event-event dari IEEE Indonesia Section. Mudah-mudahan semua memberikan dukungan seperti saat ini, dan memberikan hasil yang lebih luar biasa :). Thanks, all.

TALE 2013

TALE, yaitu IEEE International Conference on Teaching, Assessment and Learning for Engineering, adalah salah satu dari tiga konferensi kunci dari IEEE Education Society. Tahun ini TALE diselenggarakan di Bali Dynasty Resort, sebuah resort di tepi Pantai Kuta, Bali, tanggal 26-29 Agustus 2013. Indonesia menjadi tuan rumah TALE atas rekomendasi Prof Michael Lightner (ex IEEE Education Society President), yang merasa IEEE Indonesia Section cukup serius dalam menyelenggarakan IEEE CYBERNETICSCOM 2012, tempat beliau hadir sebagai keynote speaker. Tentu, walau memperoleh rekomendasi, tim Indonesia tetap harus melakukan bidding pada TALE 2012 di Hongkong. Waktu itu konon Indonesia mengalahkan Malaysia pada bidding final.

Bidang teknis konferensi ini dilaksanakan oleh IEEE Education Society. Jadi IEEE Indonesia Section hanya direpoti untuk event organising. Penyelenggaraan dipimpin oleh Dr Ford Lumban Gaol, sebagai General Chair. Beliau juga adalah wakil ketua (vice chair) dari IEEE Indonesia Section. Dukungan datang dari beberapa kampus, terutama Universitas Bina Nusantara, Jakarta. TALE berjalan secara serial (bukan paralel) dengan APCC; jadi kami berbagi perhatian: Pak Ford di TALE dan aku di APCC. Aku cukup datang ke TALE dalam keadaan sudah disiapkan penuh oleh komite :).

Berfoto dengan Prof Castro dan Prof Ken Soetanto

Aku mendarat di Bali Senin siang, 26 Agustus. Bandara Ngurah Rai masih dalam proses renovasi yang intensif. Dari airport ke Bynasty Resort hanya diperlukan waktu sekitar 10 menit. TALE hari pertama ini penuh dengan kegiatan tutorial dan workshop. Sempat menyimak satu sesi workshop, aku menghabiskan sore dengan biking menyusuri Pantai Kuta, sampai matahari tenggelam. Sepedanya dipinjamkan gratis, btw :). Malam, ada acara Welcome Party, berisi pengenalan para VIP dan komite. Hadir dalam event TALE ini, Prof Manuel Castro (IEEE Education Society, President), Dr Alain Chesnais (ACM, Past President), Prof. Sorel Reisman (ex IEEE Computer Society President). Aku menghabiskan banyak waktu berdiskusi dengan rekan-rekan dari Bangalore.

TALE 2013

 (Sesi foto TALE 2013 setelah Acara Pembukaan: All in Batik)

Opening ceremony dilaksanakan 27 Agustus pagi. Opening speech dari Pak Ford sebagai General Chair, Prof. Gerardus Polla (ex Rektor Binus University) mewakili Binus sebagai co-organiser, lalu aku mewakili IEEE Indonesia Section. Seperti concern yang sering aku sampaikan dalam event uang mengkaji soal education, aku mengawali dengan paradoks bahwa walaupun nyaris seluruh kemajuan teknologi ICT diawali dari kalangan pendidikan, namun ICT justru belum banyak merevolusi bidang pendidikan (dibandingkan misalnya bidang komunikasi, transportasi, industri, dll). Infrastruktur ICT untuk ini sebenarnya sudah cukup siap. Namun sekedar mendigitalkan konten dan interaksi akan jauh dari memadai untuk mencapai harapan bentuk mendidikan yang mencerdaskan siapapun, pada umur berapa pun, dari kalangan manapun, di manapun, dengan cara yang tetap manusiawi dan tak memisahkan manusia dengan lingkungan alaminya. Diperlukan paradigma baru atas proses pendidikan manusia yang berkelanjutan, dengan dukungan infrastuktur ICT yang bersifat pervasive. Ini sebenarnya hanya pembukaan buat diskusi :). Konferensi sendiri dibuka Prof Gerard Polla dengan dentuman gong Bali. Bmmm-bmmm-bmmm.

Keynote speech disampaikan oleh Prof. Manuel Castro dari IEEE Education Society, Prof. Ken Kawan Soetanto, dan Prof. Dr. Satryo Soemantri Brodjonegoro dari Binus Advisory Board. Bidang education itu menarik, mendorong, dan memiliki dampak luas. Diskusi pada sesi keynote pun cukup panas, dari berbagai visi. Pro dan kontra pada setiap aspek dari e-learning, digital education, dan lain-lain. Berbeda misalnya dengan sesi serupa dari konferensi bidang telekomunikasi. Tapi justru battle of the titan macam ini yang membuat sebuah konferensi jadi jauh lebih menarik daripada sekedar membaca tumpukan paper :).

image

 (Prof Reisman berbincang dengan Prof Castro dan M Chesnais)

Aku berbagi tugas cukup baik dengan Pak Ford. Jadi selepas acara pembukaan, kerjaku cuma iseng-iseng menjenguk sesi-sesi paralel presentasi paper dan melarikan diri ke pantai-pantai. Ini buat membuktikan tesis Wahyu Sardono alm, bahwa “Katanya pulau Bali dikelilingi pantai.” Tapi tugas ceremonial lain, tetap jalan.

Hari terakhir, 29 Agustus (hari yang sama dengan pembukaan APCC). Bali konsisten dengan cuaca yang segar tapi panas. Para peserta sudah bergaya informal. Konferensi ditutup dengan penyerahan award oleh Alain Chesnais. Aku memberikan sambutan penutup, lalu menutup konferensi. Kali ini tidak ada gong. Jadi konferensi internasional keren ini aku tutup dengan mengetukkan pisau roti pada cawan putih. Tinq-tinq-tinq, TALE 20133 ditutup.

(Foto spesial dengan Alain Chesnais dan Alain Chesnais)

(Foto spesial dengan Alain Chesnais dan Alain Chesnais)

Konferensi IEEE Indonesia 2013

Tahun 2013 ini, akan mulai cukup banyak konferensi yang akan diselenggarakan IEEE Indonesia Section, baik sebagai aktivitas yang dipelopori Section, maupun yang diselenggarakan dengan skema technical sponsorship.

Permintaan technical sponsorship dari luar Indonesia secara umum akan didukung, namun dengan kehatihatian. Ada cukup banyak organiser konferensi dari luar yang hendak sekedar memanfaatkan reputasi IEEE (sebagai penyedia wacana ilmiah dengan tingkat sitiran tertinggi di dunia) untuk kepentingan jangka pendek; dan menganggap negeri-negeri seperti Indonesia sebagai tempat yang tepat untuk maksud semacam itu. Namun jaringan kerja yang sudah dibentuk Section bersama Region dan Society beberapa tahun terakhir sudah cukup kuat, sehingga kita dapat melakukan verifikasi atas organisaser semacam ini.

Sebaliknya, untuk perguruan-perguruan tinggi dan lembaga akademis lain di Indonesia, IEEE Indonesia Section justru memberikan dorongan dan dukungan untuk dapat membentuk atau meningkatkan konferensi-konferensi yang bertaraf internasional, dengan technical sponsorship dari IEEE.

Pada IEEE Region 10 Meeting Maret lalu di Chiang Mai, telah disampaikan bahwa sponsorship, baik dalam aktivitas verifikasi, approval, hingga quality assurance, diserahkan kepada ujung-ujung organisasi, yaitu Society, Region, hingga Section. Unit yang lebih kecil, semisal Chapter dan Affinity Group, dapat melakukan approval atas sponsorship; namun approval ini harus mendapatkan penguatan dari Section.

Maka Section dan Chapter di Indonesia menugaskan diri untuk menjadi pembimbing bagi perguruan-perguruan tinggi dan lembaga akademis dalam penyiapan konferensi, termasuk penyiapan dan verifikasi berbagai persyaratan (requirement), hingga aktivitas untuk menjaminkan kualitas konferensi. Termasuk di dalamnya adalah verifikasi pemilihan reviewer, proses review paper, pemeriksaan plagiasi. Diharapkan, ini akan memudahkan setiap konferensi untuk memperoleh MOU dan LOA dari IEEE HQ, dan proceeding dapat mudah lolos proses assessment untuk dimasukkan ke IEEE Xplore. Ini ternyata tidak mudah :). Section dan Chapter tidak dapat lagi dalam posisi menunggu kelengkapan persyaratan, dll; tetapi justru harus aktif menghubungi organiser, memberikan saran dan advice lain, hingga kadang harus menghubungi administrasi konferensi di HQ.

Di bawah ini beberapa konferensi yang tengah disiapkan untuk 2013.

Juni

Agustus

September

October

November

December

Bagi akademisi dan peneliti Indonesia, banyaknya konferensi ini membuka banyak peluang. Tentu approval atas paper tidak akan lebih mudah, karena proses reviewing akan sama ketatnya dengan konferensi IEEE lain. Namun paper dapat dipresentasikan dengan biaya lebih murah, karena transportasi dan akomodasi lokal, dan karena umumnya ada potongan harga khusus buat warga Indonesia. Konferensi ini juga bersifat internasional, sehingga point kredit akademis akan lebih tinggi dibandingkan konferensi lokal. Hmmm, akademisi pun suka hitung-hitungan yah? Wkwkwk. Yang menarik tentu adalah peluang networking dan kolaborasi dengan para akademisi dan researcher bertaraf internasional, yang akan membanjiri konferensi-konferensi ini. Berdasar experience sebelumnya, justru yang akan banyak hadir adalah para researcher dari mancanegara, khususnya Asia Pasifik, dan hanya sedikit yang dari Indonesia.

Tahun-tahun lalu, tokoh-tokoh IEEE seperti Prof Byeong Gi Lee, Prof Michael Lightner, dll hadir dan aktif dalam konferensi. Alih-alih sekedar memberikan keynote speaking, mereka hadir dalam setiap ruang diskusi, aktif bertanya, dan aktif bernetworking. Tahun ini, akan hadir a.l. President dari IEEE Education Society, President dari IEEE Communication Society, dan Director dari IEEE Region 10 di beberapa konferensi di atas. Tentu Chairman dari IEEE Indonesia Section yang terkenal jail dan badung itu akan hadir juga.

Chiang Mai

IEEE Region 10 Meeting tahun ini diselenggarakan di Chiang Mai. Acara ini bersifat tahunan, dan sebelumnya diselenggarakan di kota Lapu Lapu, Yogyakarta, dan Kolkatta. Selain semua Section Chair di Asia Pacific, dan para Officer dari Region 10, hadir juga beberapa VP dari IEEE HQ. Beberapa wajah sudah cukup kukenal, terutama dari meeting sebelumnya di Lapu Lapu dan Yogya. Kali ini IEEE President tidak hadir. Tak apa. Kan sudah jumpa beliau di Tanjung Benoa minggu lalu.

Pada tahun ini, IEEE Indonesia Section mendapatkan undangan khusus untuk memperoleh Section 25 Years Banner. Saat undangan itu diterima, M Ary Murti yang saat itu masih menjabat Section Chair memutuskan mengajak semua former Section Chairs untuk hadir di Chiang Mai. Dan semua mantan ketua yang masih hidup menyatakan bersedia hadir. Kebetulan kemudian leadership berpindah dari Ary ke aku (tentu via election). Jadi kali ini, aku jadi primary delegation dari Indonesia, dan para mantan ketua jadi secondary delegation.

Penerbangan yang kami gunakan adalah Garuda Indonesia untuk Jakarta – Bangkok, dan Thai Airways untuk Bangkok – Chiang Mai, pada 1 Maret. Kami mendarat di Chiang Mai saat malam telah jatuh, dan langsung ke tempat pertemuan sekaligus tempat menginap: Le Méridien. Region 10 Meeting baru diawali pada Sabtu pagi, 2 Maret 2013.

Pertemuan resmi IEEE menggunakan protokol “Robert’s Roles of Order” yang digunakan di beberapa parlemen di dunia. Ini adalah protokol yang menarik, yang memungkinkan pengambilan keputusan bersama secara efektif. Pada hari pertama, Region 10 mengevaluasi Budget 2012, Strategic Planning, kemudian menampilkan rencana-rencana kerja unit-unit, serta support dari HQ dan Region 10 kepada Section-Section. Ditampilkan pula best practice dari berbagai Section dan unit-unit kerja lainnya. Highlight diberikan khusus untuk aktivitas GOLD, student, dan WiE. Beberapa insentif juga ditawarkan untuk mengaktifkan kegiatan-kegiatan khusus dalam Section. Sore, pertemuan dihentikan.

ChiangMai Region 10 Meeting

Malamnya, diselenggarakan gala dinner. Pada dinner ini, diserahkan berbagai award, kepada Section teraktif, Section kecil teraktif, volunteer terbaik, dan lain-lain. Banner “25 Years Anniversary” juga diserahkan kepada Indonesia Section pada acara ini. Banner diserahkan dari Ralph M Ford (VP MGA) ke aku sebagai Indonesia Section Chair, kemudian diestafetkan ke semua previous chairs dari Indonesia Section. Aku minta tolong Dr Wahidin Wahab untuk memberikan sambutan singkat. Pak Wahidin membahas sedikit tentang sejarah Indonesia Section dan ucapan terima kasih kepada pihak yang banyak membantu pengembangan Indonesia Section.

Hari kedua diawali petisi untuk memberikan penghargaan kepada Prof Marzuki, salah seorang pimpinan di Region 10 yang meninggal tahun lalu karena sakit yang cukup lama. Di tengah sakitnya, beliau tak berhenti melakukan tugas-tugas organisasi, termasuk mendukung banyak kegiatan Indonesia Section. Indonesia Section khusus menyatakan duka buat beliau juga malam sebelumnya. Kemudian dikaji rencana Budget 2013, laporan Tencon 2012, dan rencana Tencon 2013, serta R10 Congress 2013 (Hyderabad).

Talk sebentar dengan Region 10 Director, Prof Toshio Fukuda; mengundang beliau ke IEEE Cyberneticscom di Yogyakarta tahun ini.

Berikutnya, penyampaian informasi dan policy tentang penyelenggaraan Section dan unit-unit di bawahnya. Terdapat beberapa hal baru, dan beberapa pengulangan hal penting. Seperti yang telah dilaksanakan dengan keren tahun ini di Indonesia Section, semua peralihan kepengurusan harus dilakukan dengan election, baik di Section, Chapter, AG, dan SB. Election dilakukan 1 atau 2 tahun sekali, sesuai kesepakatan. Ketua (Section / Chair / AG) tidak dapat diperpanjang lebih dari itu. Pengurus lain tidak boleh pada posisi yang sama lebih dari 6 tahun. Laporan wajib dikirimkan setiap tahun secara online. Seperti di Indonesia, ada juga Chapter yang tidak aktif dan tidak pernah berubah kepengurusannya selama bertahun-tahun. Kami saling belajar.

Acara berakhir setelah tengah hari. Setelah itu, wisata singkat di sekitar Chiang Mai. OK, berhenti blogging dulu. Siap-siap jalan-jalan :D.

IEEE Academic Gathering

Baru lewat sehari dari pengumuman IEEE Indonesia Section Election di tengah Januari lalu, Fanny Su dari IEEE Asia Pacific Office sudah semacam memberi tugas. Akhir Februari, tanggal 24-25, IEEE akan menyelenggarakan IEEE Academic Gathering di Tanjung Benoa, Bali, dengan mengundang 20 universitas terbesar (yang memiliki jurusan/bidang elektro atau IT). Tapi acara ini sudah direncanakan jauh hari, jadi IEEE Indonesia Section tak perlu ikut repot, selain diminta datang dan beramah tamah dengan para undangan.

Acara ini sendiri akan dihadiri Presiden IEEE, Prof Peter Staecker, dan mengundang Mendikbud Muhammad Nuh. IEEE menghubungi Pak Nuh via Prof. Gamantyo. Namun pada minggu terakhir sebelum acara, Prof Gamantyo berada di Kualalumpur. Beliau memintaku meneruskan jadi penghubung ke Sekretariat Kemendikbud. Sebetulnya komunikasi berjalan baik. Namun sayangnya di saat terakhir Mendikbud diminta menghadap Presiden RI pada Hari H. Tapi tak apalah :).

Serah terima kepemimpinan IEEE Indonesia Section sendiri baru sempat berlangsung 23 Februari. Dan tanggal 24, aku sudah terbang ke Bali, menghadiri acara resmi pertama sebagai Section Chair yang baru. Acara bertempat di Conrad Hotel, Benoa.

Conrad Hotel Benoa

Membuang lelah, aku rehat dengan jalan ringan dulu di pantai. Menjelang jam 19, baru aku balik ke hotel, pakai batik, dan bergabung ke Welcome Dinner.

Waktu registrasi, para panitia dari IEEE dan United Technology ternyata cukup kenal namaku. “Am I that famous?” tanyaku. Ternyata Fanny memforward semua korespondensi dari dan ke Sekmendikbud dan IEEE APO ke para panitia, sampai ke Prof Staecker sendiri, yaitu President dan CEO IEEE untuk tahun 2013. Jadi mereka beberapa hari ini sudah baca namaku. Sebelum dinner, aku jadi punya kesempatan berbincang panjang dengan Prof Staecker. Namun, aku meluangkan waktu panjang untuk temu kangen dengan Pak Sholeh, Pak Sutrisno, dan Pak Arief dari Univ Brawijaya; dan masih banyak lagi.

Usai dinner, kami luangkan waktu untuk rapat persiapan APCC 2013, dengan Pak Ali Muayyadi dan Pak Ary Murti. Intinya, karena IEEE Communications Society Indonesia Chapter (OK, kita singkat Comsoc Chapter) memiliki HR yang tak banyak, maka kita meminta ITTelkom dapat melakukan penyelenggarakan conference APCC ini, on behalf of Comsoc Chapter. Pak Ali dalam hal ini mewakili ITTelkom (biarpun beliau juga pernah jadi Vice Chair di Comsoc Chapter), dan Pak Satriyo sebagai Chair Comsoc Chapter akan memeriksa kemudian. Syukur malam itu soal APCC terselesaikan. Tinggal eksekusi :).

Senin pagi, 25 Februari, acara resmi Academic Gathering ini dimulai. Mewakili Mendikbud, Prof. Achmad Jazidie memberikan paparan atas kebijakan pendidikan tinggi di Indonesia. IEEE Senior Director menyampaikan arah IEEE dalam memberikan benefit bagi universitas demi tujuan akhirnya mengangkat harkat kemanusiaan melalui teknologi.

Prof Staecker sendiri memberikan sambutan singkat, kemudian memanggil tim Dongskar Pedongi. Tim ini adalah mahasiswa Teknik Informatika ITB yang tahun lalu memenangkan IEEEXtreme Programming 6.0. Menggunakan bendera IEEE ITB Student Branch, mereka mengalahkan hampir 2000 tim dari seluruh dunia, dan menjadi juara. Sungguh membanggakan. Nama Dongskar Pedongi sendiri cukup lama digunakan oleh tim ini; diambil dari gaya mahasiswa cupu yang suka mengubah “La(h)” menjadi “Dong” :D.

Dongskar Pedongi

Dalam break, Prof Staecker kembali berbincang dengan tim Dongskar Pedongi dan dengan Indonesia Section. Kali ini aku lebih banyak mendengarkan interaksi yang menarik ini :).

Tentu, sesuai pesan Fanny, aku banyak melakukan perbincangan dengan wakil-wakil kampus yang hadir; khususnya memperbincangkan pengelolaan paper, jurnal, conference, dan hal-hal yang berkait dengan transaksi akademis. Kampus-kampus cukup meminati kemungkinan menyiapkan fasilitas untuk publikasi internasional melalui indeks-indeks paper dunia. Hal lain yang dianggap menarik adalah kuliah jarak jauh (semacam MOOCS), dan e-Learning.

Acara ditutup dengan makan siang bersama. Dan foto bersama di bawah matahari terik. Tapi sambil becanda-canda :). Duh, tradisi yang ini :).

20130313-062527.jpg

IEEE Electioneering 2013

Padahal sebenarnya electioneering memiliki arti yang sudah terbakukan, yaitu bergiat dalam kampanye pemilihan. Namun komite pemilihan yang dibentuk oleh IEEE Indonesia Section memiliki definisi tersendiri, yaitu election yang dilakukan oleh pelaku dunia engineering.

Electioneering (dalam kedua arti di atas), sejauh pengamatan aku, baru sekali ini diramaikan di Section. Tapi ini proses yang menarik dan diharapkan bisa jadi menjadi preseden baik buat organisasi. Di masa sebelumnya, selalu ada kesulitan untuk mencari pimpinan baru di IEEE di Indonesia, baik di Section maupun di Chapter-Chapter. Padahal, kita mencoba konsisten untuk menjaga kelangsungan dan dinamika organisasi dengan secara teratur melakukan pergantian kepengurusan. Syukurlah, sejak tahun ini, situasinya telah berubah. Organisasi telah ditumbuhkan oleh para volunteer dan anggota di Section, Chapter, Student Branch, dan Affinity Group, menjadi makin dinamis, makin berkibar, dan makin diminati. Kita memasuki masa dimana leadership dalam organisasi ini mulai dianggap menarik untuk dikompetisikan.

Electioneering adalah proses yang tidak natural :). Para engineer yang sehari-hari menjaga jarak dari riuh politik praktis, bekerja dalam hening dunia sains dan engineering, bekerja ikhlas tanpa mengangkat diri, serta bekerja sama saling memberikan support, mendadak — walau tetap selalu secara canggung —melakukan promosi personal, aktivitas, dan rencana. Pasti tampak lucu dan lugu. Namun sebenarnya ini sehat bagi organisasi, karena setiap leadership akan memiliki program yang jelas dan terkomitmenkan kepada anggota.

Proses election diawali dengan penunjukan Election Committee, yaitu Arnold Ph Djiwatampu, Endra Joelianto, dan Arief Hamdani Gunawan. Komite mencari kandidat awal, dengan masukan dari Advisory Board dan Executive Committee. Mereka mengajukan aku sebagai Kandidat. Kemudian dimaklumatkan kepada para anggota untuk dapat mencari kompetitor bagi kandidat pertama. Alhamdulillah, rekan-rekan dari ITB berkenan mengajukan kandidat kompetitor ini, yaitu Prof Soegijardjo Seoegijoko, dari ITB. Kampanye dilakukan dengan cara para engineer, yaitu via online: web, email, chat group, dan sarana digital lainnya.

Election dilaksanakan dari 18 Desember 2012 hingga 15 Januari 2013. Waktunya cukup panjang, mungkin karena pengalaman tahun-tahun sebelumnya dimana para anggota tak banyak menaruh minat pada pemilihan. Jumlah anggota yang memiliki hak pilih sekitar 600 orang, tak termasuk para mahasiswa.

Saya sampaikan ucapan selamat dan terima kasih kepada Election Committee: Arnold Ph Djiwatampu, Endra Joelianto, Arief Hamdani Gunawan. Mendorong 126 dari hanya sekitar 600 voting member untuk dapat aktif dalam pemilihan, tentu sesuatu yang luar biasa; termasuk mengingat bahwa sebagian besar member kita mungkin masih kurang aktif memanfaatkan web organisasi dan kurang peduli pada operational organisasi. Tentu ini tak lepas juga dari komitmen dan order yang diberikan oleh Section Chair, Muhammad Ary Murti, untuk memastikan terselenggaranya election ini ini secara transparan, fair, dan elegant. Yo da man!

Ucapan selamat, terima kasih, dan salam hormat juga buat Prof Soegijardjo Seoegijoko, partner dalam election ini. Sayangnya saya baru sekali berjumpa dengan beliau: tokoh yang lembut, kebapakan, dan selalu memberikan perhatian tulus kepada berbagai aktivitas engineering. Saya berharap, ke depan ini akan lebih banyak waktu bagi kita untuk berbincang dan berinteraksi memajukan organisasi dan profesi kita.

Jabat erat dan pelukan hangat buat para endorser dan supporter, tokoh-tokoh yang biasanya kalem, namun mendadak bisa menampilkan kehangatan persahabatan dan solidaritas dengan cara yang tak terbayangkan. Pak Ford Lumban Gaol dan Pak Lukas Tanutama (Binus); Pak John Batubara dan Pak Henri Uranus (UPH); Pak Dadang Gunawan, Pak Wahidin Wahab, Bu Fitri Yuli, Bu Riri Fitri sari (UI); Pak Gamantyo Hendrantoro (ITS); Pak Suhono Harso Supangkat dan Pak Budi Rahardjo (ITB); Pak Muhammad Ary Murti dan Pak Arifin Nugroho (ITT); Pak Wiseto Agung dan Pak Anto Sihombing (Telkom); Pak Satriyo Dharmanto dan Bu Agnes Irwanti (Multikom); Pak Jeffrey Samosir (Tritronik); dan masih banyak lagi rekan-rekan dari berbagai kampus dan dunia industri yang memberikan dukungan yang tulus.

OK. Mudah-mudahan pesan ini tak terlalu panjang dan menghabiskan waktu produktif kita. Masih banyak aktivitas yang harus kita lakukan dan target yang kita kejar, memberikan yang terbaik buat profesi, buat negeri ini, dan buat “advancing technology for humanity” :).

« Older posts Newer posts »

© 2026 Kuncoro++

Theme by Anders NorenUp ↑