Berita baik (atau buruk) dari Journal of the American Heart Association via BBC dan WebMD: kafein bukanlah satu-satunya unsur dalam kopi yang bisa meningkatkan tekanan darah. Kopi decaf pun memiliki kemampuan yang sama untuk meningkatkan tekanan darah. Masih banyak bagian dari kopi yang masih misterius, kata jurnal itu.
Aku sih sebenernya malahan happy. Aku kan beralih ke decaf buat menghindari maag. Dan syukur kalau tekanan darah yang terlalu rendah ini masih bisa dibikin naik dengan kopi decaf yang rasanya sama sedapnya sama kopi regular (unfiltered) itu. Cuman kan nggak chic jadi orang egois. Kasihan orang yang cari kopi decaf buat menghindari tekanan darah tinggi.
What next? (1) kopi decaf nggak diproduksi lagi (2) kopi decaf harganya jatuh (3) kopi decaf difilter lagi sehingga unsur misterius yang meningkatkan tekanan darah itu terfilter juga (4) kopi decaf dibuat jadi dua macam: decaf regular dan decaf plus yang lebih mahal lagi.
Author: Kuncoro Wastuwibowo (Page 76 of 88)




Beberes rak buku. Ini adalah perabot pertama yang masuk ke rumah mungil kehijauan ini. Waktu berencana pindah rumah (dari rumah ortu), yang pertama terpikir adalah menyelamatkan buku-buku. Trus jadilah rumah yang masih tanpa tirai itu mirip etalase buku. Tapi jumlah buku terus berlipat, dan raknya nggak cukup lagi. Perlu lemari tambahan di belakang, trus satu lagi di kamar. Trus dilempar ke perpustakaan kantor, dan ke perpustakaan lain.

Dari mana datangnya pisang-molen dan peuyeum-molen?

Untuk segala bentuk informasi tak terarah tentang kopi, kunjungi jurnal kopi di www.aboutcoffee.net. Bersiaplah menghadapi kenyataan bahwa kopi tidaklah sesederhana yang kita pikirkan selama ini.
Demi gerakan sayang perut (yang lagi-lagi kena serangan gastritik kronik), terpaksa kita menghindari kafein. Dan yang terpikir pertama pasti bukan teh atau cokelat, tapi kopi. (Padahal teh memiliki kadar kafein lebih tinggi, tapi ini udah pernah ditulis di sini).
Menghindari kopi? Trus siapa yang nemenin memicu semangat di kubikel? Wagner? Bisa perang kalau Wagner dipasang dari pagi sampai sore. Jadi beberapa hari ini aku berburu kopi dekaf sekeliling Bandung. Nggak segampang kedengerannya. BSM yang arsenal kopinya kayaknya paling banyak pun cuma menyisakan kertas bertulis “habis”.
Tapi akhirnya hari ini ketemu juga sama si dekaf :). Nescafe Decaffeinated Gold. Yummie. Perfect juga yang satu ini: rasanya bener-bener rasa kopi, nggak kayak kopi yang udah dikerjain. Malah rasa asam khas Nescafe yang menyebalkan itu hilang.
Bisa lah nerusin jadi maniak kopi yang masih ramah sama perut.

