Author: Kuncoro Wastuwibowo (Page 74 of 88)

On Atheism

Dari sekian banyak bukti tentang skenario yang menyusun semesta ini, dari skala terkecil, hingga skala terbesar, kenapa atheism masih jadi mode di kalangan ilmuwan?

Aku nggak mempermasalahkan kalau atheism jadi mode di kalangan para ignoramus, baik yang sok cuek maupun yang sok keren — mereka tetap ignoramus dan induhvidual.

Atheism pada para ilmuwan didorong kenyataan penting bahwa tokoh tuhan tidak bisa dibuktikan dengan sains. Benarkah? Ha-ha :). Aku pikir memang benar. Allah begitu adilnya pada manusia dari berbagai bangsa dan berbagai era: Allah selalu memberikan hanya tanda-tanda yang jelas tapi tidak pernah berupa pemaksaan “ilmiah”, agar manusia dari era manapun selalu sama-sama bisa memilih untuk merasakan atau untuk tidak merasakan kehadiran-Nya, tapi juga sama-sama tidak bisa melihat dengan cara apa pun kehadiran-Nya. Tapi … sambil menyusun keadilan itu sebagai skenario, Allah juga tidak pernah membiarkan manusia percaya diri akan apa yang disebut “kebenaran ilmiah”. Setiap era, selalu ada yang diragukan dari kompilasi metafora yang kita namai sebagai “metode ilmiah” itu. Bahkan ilmu fisika pun belum selesai mendefinisikan diri secara pe-de.

Hmmm, aku tahu Stephen Hawking bilang “memang belum selesai, tapi framenya jelas, dan tinggal perlu sedikit detail lagi”. Tapi kalimat serupa juga abad lalu diucapkan Maxwell, dan di abad sebelumnya diucapkan Newton, dan entah barangkali pernah diucapkan Aristoteles sekalian :). Feynman lebih jujur, dan selalu mengatakan “masih jauh dari solusi tunggal”, dan karena itu bukunya jadi tidak selaris Hawking :), biarpun Hawking belum pernah memperoleh hadiah Nobel.

Tentang tanda-tanda sendiri? Adanya skenario pengaturan semesta akan terbaca kalau kita mau mengamati semua ilmu-ilmu sekaligus tanpa melakukan pra-asumsi atheistik (yang sering mengaibatkan filtering fakta dengan menganggapnya invalid). Trus apa yang mau kita lakukan, btw? Memulai gerakan mnyusun wacaran lengkap untuk membuat orang-orang terbuka untuk mengenali tanda-tanda itu, lalu mengakui kehadiran Tuhan, lalu memeluk agama, dan mulai saling membunuh dengan mengatasnamakan agama? Kayaknya nggak deh. Kalau Allah berkehendak, semua orang di dunia akan beroleh hidayah. Tapi ternyata bukan itu yang dikehendaki-Nya.

Well … rayakanlah kehidupan apa adanya :).

Analyst

Well … akhirnya SK yang nggak diharapkan itu turun juga. Aku harus keluar dari IS department, dan beralih fungsi jadi semacam infocom business analyst. Tadinya sih aku bersuka cita aja dipekerjakan di tempat baru ini, dengan posisi masih di tempat lama — kayak yang dijanjiin salah satu senior yang mencalonkan aku masuk tempat ini. Tapi memang kayaknya kita belum terbiasa menghargai kata-kata kita sendiri.

OK, barangkali itu tugas pertama kita di sini :).

Dan kayaknya aku nggak bakal satu senti pun menjauh dari dunia IT. Business analyst punya tool yang berkait erat dengan customised database di tempat yang databasenya masih raw gini. Aku justru bakal harus sering2 jadi programmer lagi, kayak waktu belum masuk IS. Diambil hikmahnya aja deh, dan kelucuan-kelucuannya.

Jangan-jangan, kapan-kapan aku ketawa mendadak dan lama sekali, waktu akhirnya baru sadar bahwa aku paling nggak produktif nulis program justru waktu aku di IS.

Bantal Amazon

Dan buat kita-kita yang punya kegiatan tambahan waktu nerima paket buku dari Amazon — i.e. main-main bantalan plastik berbagai ukuran yang kayaknya dimaksudkan sebagai bonus — kali ini terjawablah salah satu yang bikin kita penasaran: bantalan-bantalan udara itu bukan dipasang oleh mesin, tapi oleh si ‘mbak yang tugasnya seharian (rada sok tau, biasa) masangin bantal buat pengganjal buku yang bakal dikirim ke seluruh penjuru dunia.

Tau nggak ya si ‘mbak, itu bantal-bantal yang dia pasang udah kita apain aja di sini :).

Para Pionir C++

Website para pioneer dalam (pre- dan) post-standard C++ :

Bjarne Stroustrup: www.stroustrup.com
Nicolai Josuttis: www.josuttis.com
Scott Meyers: www.aristeia.com
Herb Sutter: www.gotw.ca
Andrei Alexandrescu: www.moderncppdesign.com
Daveed Vandevoorde: www.vandevoorde.com/Daveed
Stanley Lippman: staff.develop.com/slip

Ada yang mau ditambahkan? Nama Anda misalnya?

Valentina Tereshkova

Di ruang tunggu, Stasiun Jatinegara; gatel juga liat orang di depan baca Kompas. Kayaknya menarik, sesuatu tentang musik indie dan Bandung style. Trus ada foto2 di Tangkuban Parahu. Pingin minjem … tapi mood lagi nggak komunikatif. Eh, ada artikel penuh foto tentang Menara Kudus pula. Kayak apa ya. Dibalik, nah malah artikel penuh foto tentang Irlandia Utara. Kayaknya layak berat untuk dipinjem.

Tapi waktu akhirnya salah satu halaman menampilkan Valentina Tereshkova, aku merasa koran ini kali ini perlu dibeli.
Execute();

Cool … tumben Kompas punya banyak artikel yang layak baca. Biasanya gitu-gitu aja — basa-basi :). Tapi yang paling menarik hari ini memang tentang Valentina Tereshkova, si kosmonot putri pertama, dan tentang penjelajahan luar angkasa zaman Soviet.

Valya adalah anak yatim dari veteran PDII, menghidupi diri jadi buruh pabrik ban, dan kemudian buruh tekstil, dengan penghasilan ala kadarnya. Tapi sempat ikut program belajar jarak jauh. Ini Soviet — biarpun orang menderita, tapi biaya pendidikan nggak memeras rakyat. Malahan sempat ikut klub penerjun payung. Mana ada di negara kita ada buruh miskin mampu ikut gituan.

Tertarik dengan keberhasilan Sputnik, dan gembar-gembor pemerintah untuk meluncurkan kosmonot, Valya mendaftarkan diri. Ikut pelatihan yang ketat, lama, dan akhirnya terpilih jadi kosmonot putri pertama. Meluncurlah Valya, memakai kode panggilan Chaika, selama tiga hari di dalam Soyuz 6.

Baru 15 tahun kemudian Amerika berhasil meluncurkan astronot putrinya yang pertama: Sally Ride.

Tapi di sini Kompas mulai ngaco lagi. Dia nulis bahwa Sally Ride akhirnya jadi korban musibah meledaknya shuttle Challenger. Padahal kalau kita baca buku Feynman, “What Do You Care What Other People Think”, Sally Ride justru bergabung bersama Neil Armstrong dan Feynman sendiri, dalam komisi penyelidik musibah meledaknya Challenger.

Aku tulis e-mail ke Redaksi Kompas aja ah.

Essential C++

Stanley Lippman, penulis buku C++ Primer, selalu membanggakan buku tulisannya sebagai buku yang bersifat esensial bagi siapa pun yang mau mulai belajar C++. Memang kitab utama bagi programmer C++ masih buku Bjarne Stroustrup The C++ Programming Language. Tapi Stroustrup menulis untuk programmer, bahkan bisa kita bilang untuk programmer C++, bukan untuk novice yang masih meraba-raba pingin tahu kenapa ada tanda plus dua kali di belakang nama besar bahasa C.

Lippman tapi memiliki kelemahan yang sama dengan Stroustrup. Bukunya tebal tak alang kepalang. Tak nyaman buat generasi masa kini yang baca buku di KA dan bis kota sambil ngobrol renyah dengan teman-teman. Dia baru menyadari soal itu di Disney.

Lippman memperoleh proyek di Disney. Animasi sesuatu di film Fantasia 2000. Zaman dulu sih, waktu orang gampang dibikin kagum sama Star Wars, animasi dibuat dalam bahasa C. Sekarang C++ yang keren dan kokoh itu. Maunya. Tapi di proyek di Disney itu, mereka telanjur pakai Perl. Emang bisa sih konversi program Perl ke C++, tapi artinya kerja cukup lama untuk melakukan hal yang udah dilakukan. Jadi mendingan si expert aja, Lippman, yang dipaksa belajar Perl.

Waktunya? Nggak lebih dari satu hari.

Beruntung dia. Ada buku Learning Perl dari Randal Schwartz. Kita ingat, kitab utama Perl bukan buku Schwartz yang ini, tapi buku Programming Perl tulisan Larry Wall, yaitu Stroustrupnya Perl. Untuk yang baru belajar, memang lebih dianjurkan baca buku Schwartz. Dan buku ini tipis, simpel. Buat orang yang niat baca, semalam pun jadi. Jadi lah Lippman programmer Perl.

Tapi Lippman jadi mikir: sial bener ya orang kayak aku yang suatu hari terpaksa harus belajar bahasa C++ dalam waktu singkat. Buku buat pemulanya sama seremnya sama buku babonnya.

Dengan ide itu, dia mulai menulis versi Learning Perl untuk C++. Dan namanya adalah Essential C++, diterbitkan Addison Wesley. Bukan, bukan Additional Weasel. Itu mah Dilbert.

To Stop or Not To Stop

Kayaknya aku udah kehilangan hubungan batin sama catatan ini, dan mungkin juga sama website ini. Nggak ada kebutuhan sama sekali, rasanya, buat nulis di sini. Tapi suka kesel juga liat website nggak terupdate. Jadi … terpaksa dah nulis lagi :).

Aku juga masih suka merasa lucu bahwa aku bisa punya lisensi domain yang kayak gini. Memang nggak orisinil, kalau kita liat bahwa Steven Haryanto (atau barangkali Ronny) pernah punya domain haryan.to. Tapi beda sih. Pertama, aku yakin bahwa haryanto bukanlah nama panggilan dua anak muda kreatif itu. Kedua, nggak ada perimbangan kayak har.yan.to :). Ketiga, Romania sebenernya nggak secara resmi menerbitkan co.ro di bawah TLD .ro — ada orang Jerman iseng yang melakukan kerjasama untuk ini. I’m just lucky.

Hari Pi

Para geek memperingati hari ini sebagai hari π. Nggak ada hubungannya dengan penemuan angka π ini, yang udah diutak-atik manusia bahkan sebelum kitab-kitab suci dituliskan. Sampai akhir abad ke-20, orang sudah bisa menuliskan bilangan π sampai jutaan digit, jauh di luar kebutuhan praktis sehari-hari.

Yang tetap menarik buat aku sih formula cantik dari Euler: e = -1 — sebuah bilangan transendental bisa dihitung secara sederhana, menggunakan bilangan transendental lain yang ditemukan untuk urusan lainnya.

Jadi berapa tuh nilai π ?

ln(-1)/√(-1) ?

Oh ya, kenapa hari ini diperingati sebagai hari π ?

Soalnya di beberapa negara, hari ini dinotasikan sebagai 3,14.

« Older posts Newer posts »

© 2026 Kuncoro++

Theme by Anders NorenUp ↑