Author: Kuncoro Wastuwibowo (Page 53 of 88)

Wolfgang Pauli

“This paper isn’t right. It isn’t even wrong.” Ini kalimat yang cukup terkenal dari fisikawan kuantum, Wolfgang Pauli. Mungkin pernah juga aku buat tulisan tentang Pauli. Tapi biar deh, dobel juga. Pauli bilang, yang nggak boleh dobel itu lepton dalam empat bilangan kuantum yang sama. Dia tak ada sebut apa-apa tentang dua tema kembar dalam sebuah weblog.

OK. Konon, orang boleh bertanya apa pun pada Pauli tanpa khawatir dianggap bodoh; karena bagi Pauli semua pertanyaan itu memang bodoh. Ini terjadi bahkan sejak Pauli jadi mahasiswa. Setelah sebuah kuliah oleh Einstein, Pauli memulai diskusi dengan ucapan, “You know, what Einstein said is not too stupid.” Yup, cuman yang sekelas Einstein yang tidak terlalu bodoh.

Einstein dan Pauli

Aku pernah menulis kesan Feynman tentang Pauli. Dia memberikan ulasan mengapa teori Wheeler-Feynman yang dipaparkan Feynman itu salah, tapi sama sekali tanpa dipahami Feynman sendiri. Pauli sendiri pernah menanggapi seorang fisikawan muda lainnya: “So young and already so unknown.”

Waktu Eugene Gugh — seorang fisikawan lainnya — mencoba mendebat salah satu paparan Pauli, Pauli mendengarkan sebentar, lalu memotong: “Gugh, whatever you know, I know.”

Juga Lev Landau, ilmuwan Soviet yang terkenal keras dan arogan. Landau memaparkan papernya kepada Pauli. Melihat wajah Pauli yang ragu, Landau marah. “Kau pikir ini nonsense kan?” katanya menyerang Pauli. Dan Pauli cuma bisa menjawab, “Nggak. Nggak sama sekali. Idenya terlalu kabur, jadi saya belum tahu ini nonsense atau tidak.”

Setelah PD-2, Pauli sempat bertemu lagi dengan Heisenberg, salah satu tokoh besar teori kuantum lainnya. Sama-sama menyatakan sudah menurunkan semua masalah yang belum terpecahkan dalam teori partikel elementer, mereka berkerja bersama, dan akhirnya menyederhanakan hasilnya dalam satu formula. Hasilnya dipaparkan Pauli di Columbia University, di hadapan tokoh-tokoh fisika, termasuk Niels Bohr (f.y.i., anaknya Bohr ini juga namanya Bohr, juga jadi fisikawan, dan juga memenangkan hadiah nobel, dan berultah pada 19 Juni — tapi ini cerita lain). Setelah Pauli berpaparan, Bohr diminta berkomentar. Jeremy Bernstein menyatakan bahwa diskusi ini adalah diskusi paling tidak umum selama dia jadi fisikawan. Mula-mula Bohr menyatakan bahwa teori Heisenberg-Pauli ini gila, tapi tidak cukup gila. Relativitas dan teori kuantum itu gila, melawan akal sehat yang berlaku. Di lain pihak, teori yang dipaparkan Pauli ini memang ajaib, menarik, tapi tidak cukup gila. Pauli membalas menyatakan bahwa teorinya itu cukup gila. Mereka bicara bergantian. Bohr berkeras bahwa teori Pauli tidak cukup gila, sementara Pauli berkeras bahwa teorinya sangat gila. Ada non fisikawan di sana, seperti Dyson. Tapi dia tidak mau berkomentar menanggapi cara fisikawan papan atas ini berdebat.

Tak lama setelah itu, Pauli sakit dan meninggal. Sebelum meninggal, salah satu yang diucapkannya adalah “Ich weiss viel. Ich weiss zu viel. Ich bin ein Quantengreis.” Dia meninggal di RS, kamar 137 — angka keramat bagi para fisikawan mekanika gelombang.

Born to be Hanged

Tahun 1927, fisikawan Max Born menghadiri kongres fisika internasional di Como. Pada salah satu sesi, ia merasa bosan. Jadi, pada saat ruang digelapkan untuk memasang proyektor, ia memanfaatkan peluang untuk kabur melalui sebuah pintu. Di koridor, ia menengok kiri-kanan, khawatir ketahuan, dan menatap Rutherford di pintu yang lain, sedang menengok kiri-kanan juga. Rutherford tertawa, lalu berkata, “Kabur juga ya? Ke danau aja yuk!” Dan ke sana lah akhirnya mereka menghabiskan waktu berbincang tentang berbagai hal, dan mengawali persahabatan mereka.

Tahun 1933, di tengah gemuruh kebangkitan Nazi, Born didepak dari kursi keprofesorannya di Göttingen. Rutherford menyelamatkannya dengan mengirim undangan ke Cambridge. Born sendiri tidak pernah lupa bahwa keberuntungannya diawali sebuah kebetulan akibat kebadungan di Como. Maka berangkatlah Born ke Cambridge. Namun begitu mendarat, kaget ia bukan kepalang. Di stasiun terpampang poster “Born to be Hanged”. Ia baru tenang waktu ia baca lebih lanjut bahwa poster itu hanya iklan sandiwara di teater lokal.

Di Cambridge, ia menyempatkan diri bertemu JJ Thomson yang sudah tua. Jauh sebelumnya, di tahun 1906, Born pernah ke Cambridge bekerja untuk Thomson. Putra Thomson, juga fisikawan, membawanya ke ayahnya, dan berkata “Pak, ini mahasiswa yang duluuuu pernah belajar di sini.” Thomson tua menyambut dengan: “Apakabar? Lihat nih. Ini adalah spektrum dari …” dan perbincangan langsung ke arah riset, melupakan tahun-tahun yang berlalu dengan perang-demi-perang.

Namun akhirnya Born pindah lagi ke Edinburgh, dan menjadi profesor fisika di sana.

The Laughing Stars

Mais toutes ces étoiles-là se taisent. Toi, tu auras des étoiles comme personne n’en a… Quand tu regarderas le ciel, la nuit, puisque j’habiterai dans l’une d’elles, puisque je rirai dans l’une d’elles, alors ce sera pour toi comme si riaient toutes les étoiles. Tu auras, toi, des étoiles qui savent rire!

No dla vsekh etikh lyudei zvyozdy nemiye. A u tebya budut sovsem osobenniye zvyozdy. Ty posmotrishy nochyu na nyebo — a vedy tam budyet takaya zvezda, gde ya zhivu, gde ya smeyusy — i ty uslyshishy, chto vsye zvyozdy smeyutsya. I tebya budut zvyozdy, kotorye umeyut smeyatysya.

Hae autem omnes silent. Tu contra stellas babebis quales nemo habet…
Cum caelum nocte intueberis, quoniam in aliqua habitabo, quiniam in aliqua ridebo, propterea tibi omnes stellae ridere videbuntur. Tu stellas habebis risu praeditas!

Për shumicën gjithë yjet atje lart janë të heshtur. Kurse ti, vetëm ti, do të kesh yje që nuk i ka asnjë tjetër…
Në një prej atyre yjeve do të jetoj unë. Në një prej tyre unë do të qesh. Dhe kështu kur të soditësh qiellin natën, ty do të duket sikur gjithë yjet qeshin. Ti do të kesh yje që qeshin.

Aber alle diese Sterne schweiden. Du, du wirst Sterne haben, wie sie niemand hat… Wenn du bei Nacht den Himmel anschaust, wird es dir sein, als lachten alle Sterne, weil ich auf einem von ihnen wohne, weil ich auf einem von ihnen lache. Du allein wirst Sterne haben, die lachen können!

But for everyone the stars are silent. Except from now on just for you.
When you look up at the sky at night, since I shall be living on one of them and laughing on one of them, for you it will be as if all the stars were laughing. You and only you will have stars that can laugh.

Pero todas esas estrellas no hablan. Tú tendrás estrellas como nadie las ha tenido. Cuando mires al cielo, por la noche, como yo habitaré en una de ellas, como yo reiré en una de ellas, será para ti como si rieran todas las estrellas. ¡Tú tendrás estrellas que saben réir!

Exupéry: Pangeran Ketjil

The Stars Would All Go Out

If a picture paints a thousand words, Then why can’t I paint you?
The words will never show, The you I’ve come to know.
If a face could launch a thousand ships, Then where am I to go?
There’s no one home but you, You’re all that’s left me to.
And when my love for life is running dry,
You’ll come and pour yourself on me.
If a man could be two places at one time I’d be with you,
Tomorrow and today, Beside you all the way.
If the world should stop revolving, Spinning slowly down to die,
I’d spend the end with you, And when the world was through,
Then one by one, The stars would all go out,
Then you and I, Would simply fly away

Keracunan Obat

It was midnight. You tried to sleep. Badan mulai menggigil, tapi di sekitar tulang belakang terasa hangat. Ada yang terasa terus menerus ditarik dan dikontaksikan secara mikro. Dan kewaspadaan meningkat. Pikiran berputar ke segala penjuru dengan kelincahan luar biasa. If you think it is better to get up and do some creative things, think it again. Badan nggak bisa diangkat. Tekanan darah langsung drop. Dan nyaris nggak ada energi untuk benar-benar menegakkan badan. Ini semua efek sekumpulan obat yang dimaksudkan untuk melawan radang ringan. Mirip bom napalm yang dijatuhkan pemerintah AS untuk melawan para petani Vietnam.

Trus matahari terbit. Aku bangun masih tanpa energi. Dan betul-betul baru bisa berdiri lebih dari 5 menit jam 15.00. Dan aku kehilangan emosiku. Datar. Tanpa kekhawatiran, keceriaan, keinginan. Aku jadi Cyborg. Hidup hanya dengan pikiran.

Tapi apa sih jadinya kalau manusia hidup hanya dengan pikiran? Apa terus jadi mesin ekonomi? Nggak juga sebenernya. Yang sering bisa dipikirkan adalah life improvement dengan breakthrough yang realistik, dengan motivasi pribadi yang lebih bisa ditekan. Dan yang paling menarik adalah, kita menikmati jadi jujur tanpa khawatir. Jeleknya, kita kadang tampak temperamental tanpa bener-bener temperamental.

OK, dan suatu hari si emosi terbit lagi. Dengan otak yang masih mendendam sama mesin ekonomi raksasa, berupa realitas sosial yang dipaksakan, yang kadang bernama negara, hukum, atau agama.

Kenapa, misalnya, kita harus mengalirkan uang. Apa yang terjadi kalau Wagner harus bekerja dari jam 7 pagi sampai jam 7 malam mencacahi pemasaran minyak bakar? Maksudku apa yang terjadi dengan dunia? Bukankah kita semua akan kehilangan salah satu mahakarya musikal terindah, dan terpaksa hidup dengan musik kampungan kayak Peter Pan? Dan apa Wagner harus disalahkan bahwa untuk menyusun mahakarya semacam itu dia harus terus menumpuk hutang untuk membiayai hidup?

Jadi biarlah semua uang di dunia diambil para pengagum uang (sekutu Anne Ahira masih terus membanjiri web ini dengan spam — persetan dengan mereka). Dan biarlah kita sisanya menertawai ketamakan mereka, lalu mengambil hal2 indah yang tersebar di dunia dan di antara hati-hati kita. Anda, para sahabatku, adalah sahabat, bukan prospek, bukan konsumen. Good businessman menjadikan konsumen menjadi sahabat. Evil businessman menjadikan sahabat jadi prospek dan konsumen. Hell to them. Hell juga untuk para rentenir yang mengejari Wagner dan Cosima, dan membuat kemanusiaan agung mereka jadi tercemari sifat antisemit. (Aku nggak punya keantian pada bangsa Yahudi, tapi entah kalau aku jadi Wagner yang tiap hari keluarganya dimaki-maki, dikejar-kejar, dan diteror rentenir yang di masa itu 90%-nya adalah orang Yahudi).

Hey, lucu kan apa yang dipikirkan dari sebuah melankoli yang masih merupakan efek obat yang masih tersisa. Nggak, obatnya nggak aku minum lagi. Mudah2an tulisan macam gini nggak akan kelihatan lagi di web ini.

φ, si Bilangan Emas

Bilangan Fibonacci diambil dari deret 1, 1, 2, 3, 5, 8, 11, dst, di mana suku ke n merupakan jumlah dari n-1 dan n-2. Konon zaman dahulu orang mau mencoba menyusun formula deretnya, yaitu untuk menentukan suku ke n, tanpa harus menghitung ulang dari 1 sampai n. Sampai sekarang konon formulanya belum ditemukan.

Yang menarik dari bilangan Fibonacci adalah bahwa rasio antara bilangan n dan n-1 dapat dihitung. Biarpun bentuknya tidak asimtotik (alih-alih lebih mirip gelombang teredam), dia memiliki nilai akhir yang terus didekati. Dan nilai finalnya tentu adalah sebuah bilangan x, di mana selisihnya dengan 1/x adalah tepat 1. Dengan kata lain, x-1=1/x. Atau x²-x-1=0. Dan dengan x=-b±√ (b²-4ac)/2a, kita peroleh x=½(√ 5+1). Atau 1,6180339887. Ini disebut sebagai bilangan emas, dinotasikan sebagai φ

Tapi kalau aku yang jadi penemunya, aku lebih suka menamai φ sebagai 1/x itu, yaitu 0,6180339887. Jadi angka 61803399 bisa dijual jadi nomor cantik.

φ sering nampak sebagai fenomena yang seolah-olah luar biasa (sebenarnya memang semesta itu luar biasa, tetapi jadi relatif biasa saja kalau dibandingkan dengan apa pun yang ada di dalam semesta sendiri). Banyak bagian dari semesta yang bertumbuh (ataupun meluruh) dengan deret Fibonacci: berkembang dari yang telah ada. Maka dalam jumlah sel yang besar (baik sel hidup maupun ‘sel’ tidak hidup), banyak rasio-rasio di dalamnya yang merupakan rasio dua bilangan Fibonacci serial tinggi, yaitu φ itu. Cangkang kerang bisa dijadikan permulaan. Kemudian telur. Dan bagian-bagian tubuh manusia sendiri.

Di salah satu serial ilmiah BBC, berjudul Face (lagi didiscount gede-gedean di swalayan terdekat), Leonardo Da Vinci palsu memanggil Lisa. “Hai Lisa, kemarilah, biar kulihat wajahmu.” Lalu dia sibuk mengukur lebar mata, hidung, mulut, pipi, dan lain-lain, dan melakukan perhitungan rasio-rasio di selembar papan tulis kecil; dan akhirnya dengan penuh kekaguman ia berseru, “Lisa, ternyata kamu cantik sekali!” sambil terus melihat hasil hitungnya di papan: φ. Lalu jadilah lukisan Mona Lisa.

Dokter bedah wajah (bukan palsu) yang jadi narasumber di situ yakin bahwa kecantikan kuantitatif memang bisa diukur dengan rasio-rasio Da Vinci itu. Dan sifatnya universal. Jadi kalau mau menguji apakah wajah Anda cantik, sila beli CD itu. Tapi perhatikan bahwa yang diukur adalah kecantikan kuantitatif.

Ketidakpastian Heisenberg

18 Desember 1944. Dua puluhan orang mendengarkan presentasi fisikawan Jerman, Werner Heisenberg di Universitas Zurich. Pemenang Nobel Fisika itu memberikan paparan yang mengalir lancar, cepat, sambil mencoret-coret formula nyaris tanpa henti. Hanya dalam beberapa menit, papan tulis sudah penuh dengan formula. Salah satu pendengar, Morris Berg, menjadi gelisah. Dia sudah belajar bermalam-malam untuk mengikuti presentasi ini. Tetapi tetap ada sesuatu yang belum jelas baginya. Ketidakjelasan yang tidak mungkin ditanyakan. Hatinya diliputi ketidakpastian. Tangannya yang berkeringat meraba saku jaketnya, dan merasakan senjata otomatisnya di sana.

Berg adalah anggota OSS (dinas rahasia AS, pendahulu CIA). Tugasnya hari itu adalah menemukan apakah pihak Jerman sudah memiliki teknologi bom atom. Jika itu positif, maka satu-satunya cara menghentikannya adalah dengan menembak Heisenberg di situ juga, tepat di antara kedua mata cemerlangnya.

Misi jorok AS itu bukan semata keputusan para politisi. Ilmuwan sekelas Hans Bethe (yang begitu dikagumi Feynman) turut terlibat dalam upaya ini, dan bahkan mengajukan diri untuk melakukannya.

Lima tahun sebelumnya, tahun 1939, setelah banyak ilmuwan Eropa, termasuk Einstein, Fermi, Szilard, dll, bereksodus ke Inggris, dan kemudian ke AS; Heisenberg melakukan kuliah keliling di AS. Banyak rekan2nya yang mengajaknya pindah ke AS, tetapi Heisenberg menolak. Ia selalu merasa bahwa sebagai ilmuwan terkenal, ia bisa ikut andil meredam keganasan Nazi. Fermi sudah mengingatkan bahwa di Italia ia juga ilmuwan paling terkenal, tetapi fasisme tidak mungkin dilawan akal sehat. Heisenberg tetap kembali.

Kemudian Hahn dan Meitner tak sengaja menemukan teknologi membelah nuklir. Sementara pemerintah AS cuek dengan soal ini, pemerintah Jerman cepat tanggap. Ekspor Uranium dihentikan, impor Radium dilakukan besar2an, dan penyulingan air berat di Norwegia diintensifkan. Baru beberapa tahun kemudian pemerintah AS membentuk proyek Manhattan untuk membangun bom atom.

Heisenberg sempat mamaksa diri ke Kopenhagen untuk bertemu Bohr. Ini langkah yang sangat dicurigai pemerintahnya. Tapi juga dicurigai Bohr yang begitu dikagumi Heisenberg. Yang dilakukan Heisenberg adalah meminta Bohr menjadi mediator, untuk meyakinkan bahwa para ilmuwan sepakat tidak membantu pemerintah masing2 membangun bom atom. Bohr menolak, karena sangat tidak yakin akan niat Heisenberg. Apa jadinya kalau AS berhenti membuat bom atom, misalnya, tapi Jerman terus membuat? Misi pribadi Heisenberg justru dianggap sebagai misi mata-mata untuk menguji apakah pemerintah sekutu benar2 sedang membuat bom atom.

Dan pemerintah sekutu pun memiliki misi tersendiri yang akan dilakukan di Zurich sini. Di sini Berg ragu. Apakah ia sedang menghadapi duta perdamaian, atau antek fasis? Tapi akhirnya ia mengambil sikap di atas ketidakpastian. Ia tidak percaya Heisenberg siap membuat bom atom.

Kebetulan ia benar. Tapi, apakah Berg benar atau salah … hidup memang tidak harus ramah. Dan tentu, hidup memang identik dengan ketidakpastian. Terutama kalau Heisenberg dilibatkan.

La Vie

Dan hidup tak lain dari tantangan-demi-tantangan;
yang tak lain dari hardikan keras atas sikap hidup yang aku ambil;
atas nilai-nilai yang aku definisikan;
Ke mana kaki ini aku bawa berlari;
kalau mataku sendiri yang menatap tajam pada hatiku
kalau jari-jariku sendiri yang merobek topengku;
kalau kata-kataku sendiri yang tajam menghujam nuraniku.
Reinventer?
Atas apa?

My Favorite Things

Raindrops on roses and whiskers on kittens;
Bright copper kettles and warm woolen mittens;
Brown paper packages tied up with strings;
These are a few of my favorite things.
Cream-colored ponies and crisp apple strudels;
Doorbells and sleigh bells and schnitzel with noodles;
Wild geese that fly with the moon on their wings;
These are a few of my favorite things.
Girls in white dresses with blue satin sashes;
Snowflakes that stay on my nose and eyelashes;
Silver-white winters that melt into springs;
These are a few of my favorite things.
When the dog bites,
When the bee stings,
When I’m feeling sad,
I simply remember my favorite things,
And then I don’t feel so bad.

« Older posts Newer posts »

© 2026 Kuncoro++

Theme by Anders NorenUp ↑