Author: koen (Page 96 of 123)

3155281

Akhir abad lalu (1990-an), orang masih sibuk berdebat tentang mekanika kuantum. Pendukung interpretasi Bohr masih berkeras bahwa batas antara fisika klasik dan mekanika kuantum adalah observasi, atau secara luas: kesadaran. Nah, kalau jangkauannya subyektif gini, susah sekali donk. Apa kucing Schrödinger nggak boleh dianggap punya kesadaran? Dan bulan yang seindah itu hanya indah karena kita menikmati keindahannya. Waktu tidak ada pengamat yang mengamati, bulan itu perlahan terurai menjadi probabilitas posisi-momentum saja. Tapi perlu waktu lama untuk menguraikan benda segede bulan. Dan sebelum bulan terurai, sudah bakal ada pengamat yang mengamatinya, dan saat itu bulan kolaps menjadi bentuk real ala fisika klasik. Kedengerannya bener-bener lucu. Tapi beberapa fisikawan akhirnya jadi relijius setelah mereka menurunkan implikasinya bahwa semesta ini ada karena ada pengamat dari luar semesta yang terus mengamatinya. Glek, awal yang benar, akhir yang benar, tapi jalan yang salah?

Roger Penrose mencoba pendekatan lain. Gravitasi, katanya, adalah pemegang kunci pemisahan. Di level foton, tidak ada gravitasi, jadi pada foton efek kuantum ketara sekali. Juga pada satu atau sekelompok elektron, gravitasi itu kecil. Tapi begitu jumlah materi meningkat, gravitasi meningkat, perlahan efek kuantum terabaikan, dan hukum fisika klasik jadi berlaku. David Böhm punya pendapat lain. Kalor, katanya, adalah penyebab ketidakpastian. Di level kuantum, besaran ‘kalor’ (terpaksa pakai tanda petik) ada dalam bentuk lain yang teramati sebagai gejala-gejala kuantum. Perdebatan soal ini akhirnya menyeret teori kuno Einstein lagi. Barangkali, katanya, relativitas khusus Einstein itu salah, dan kita sebaiknya kembali ke transformasi Lorentz yang tidak mengharuskan batas pada kecepatan cahaya.
Err, kalau kita melakukan misinterpretasi pada kedua teori itu, terus selama abad kedua puluh apa yang sudah kita lakukan? Haha, nggak separah itu. Sains boleh bergeser, tapi efeknya, kita jadi ngerti kimia, dan sudah bisa mengaplikasikan energi nuklir, menciptakan tabung hampa sampai transistor dan mikrochip, dan membuat dunia yang agak berbeda dengan abad-abad sebelumnya.

3139567

Nggak sia-sia ikutan Kibar, dapet cerita asik lagi ini hari: Oom Kiai dan Ayam.

3129552

While the sun hangs in the sky and the desert has sand

While the waves crash in the sea and meet the land

While there’s a wind and the stars and the rainbow

Till the mountains crumble into the plain

Oh yes we’ll keep on tryin’

Tread that fine line

Oh we’ll keep on tryin yeah

Just passing our time

While we live according to race, colour or creed

While we rule by blind madness and pure greed

Our lives dictated by tradition, superstition, false religion

Through the aeons, and on and on

Oh yes we’ll keep on tryin’

We’ll tread that fine line

Oh oh we’ll keep on tryin’

Till the end of time

Till the end of time

Through the sorrow all through our splendour

Don’t take offence at my innuendo

You can be anything you want to be

Just turn yourself into anything you think that you could ever be

Be free with your tempo be free be free

Surrender your ego be free be free to yourself

Oooh ooh

If there’s a God or any kind of justice under the sky

If there’s a point if there’s a reason to live or die

If there’s an answer to the questions we feel bound to ask

Show yourself – destroy our fears – release your mask

Oh yes we’ll keep on trying

Hey tread that fine line

Yeah we’ll keep on smiling yeah (yeah yeah)

And whatever will be will be

We’ll keep on trying

We’ll just keep on trying

Till the end of time

Till the end of time

Till the end of time

Queen, Innuendo

Bom Atom Jerman

Waktu Szilard dan Fermi lari ke Amerika, Eropa masih punya ilmuwan seperti Hahn, Strassman, dan bahkan Heisenberg. Waktu Bohr menginformasikan ke Szilard bahwa Jerman sudah bisa membuat fisi terkendali, Szilard melobby ilmuwan dan akhirnya ke presiden Roosevelt melalui Einstein. Perlu waktu lama dari lobby sampai terbentuknya proyek Manhattan. Sementara itu, di mana bom atom Jerman?

Menteri Persenjataan dan Produksi Perang Jeman Albert Speer sudah menyediakan lab bawah tanah buat Heisenberg. Tapi Heisenberg menyatakan bahwa pembuatan bom atom belum mungkin. Konon sih Heisenberg punya alasan moral agar Nazi tidak bisa menggunakan bom atom. Sementara itu proyek Manhattan berhasil. Tapi sebelum dipakai, Jerman keburu kalah perang. Heisenberg, Hahn, dll, ditawan di Inggris. Waktu akhirnya bom atom diledakkan di Hiroshima, Heisenberg menunjukkan ketidakpercayaannya. Ia menunjukkan ke Hahn bahwa bom itu harus memiliki jejari kritis setengah meter, jadi volumenya setengah meter kubik, dan massanya seratusan kilogram. Dan U-238 seberat itu bisa diproduksi dalam beberapa tahun, dengan pemurnian dari U-235. Tapi Heisenberg salah hitung. Bom yang dijatuhkan di Hiroshima, massa U-238-nya hanya 1 kg saja. Berat 1 kg itu bisa diproduksi dalam hitungan hari saja di Amerika.

Jadi bom atom Jerman gagal karena kesalahan hitung, bukan karena alasan moral. Tapi, kalau menyangkut nama Heisenberg, tentu harus dipertimbangkan juga unsur ketidakpastian.

Karakteristik Muslim

Seorang kawan lagi bingung sama urusan assignment. Boleh minta bantuan nggak, katanya. OK, jadi hari itu dia ikutan ke Faraday 125. Mau kopi, tanya aku. OK. “Hey, sebelum mulai belajar, enaknya kita mandi sore dulu. Ada handuk cadangan buat kamu.” OK. Terus analisis trafik yang rumit dan mendebarkan, sambil dalam hati sempat mikir, kapan aku bikin assignment aku sendiri yah. Dan terkapar kelelahan. “Sekarang kita harus makan malam.” Aku belikan dulu kupon dinner buat dia.

Ruang makan selalu penuh orang, dengan berbagai macam perbincangan. “Kok kamu makan pork? Kamu bukan muslim ya?” tanya teman lain. “Enakan jadi muslim, bisa punya empat istri, hahaha.”

 

Malam jadi larut. Teman aku berkeras mau pulang. Jadi kami menembus malam berjalan beberapa mil mencari perhentian bis. Dia sempat nanya, “Kamu muslim juga kan?” “Oh iya.” “Boleh donk kamu punya empat istri.” Aku lepas dia di perhentian bis. Dan aku menembus malam yang dingin buat balik ke Faraday.

Apa sih karakteristik muslim?

Islam, seperti yang diajarkan Rasulullah, berisi ajaran-ajaran seperti ini: hormatilah sesama kita tanpa memandang agama, juga muliakanlah tetangga, muliakanlah tamu. Waktu kita mengikuti perintah Rasulullah, tidak ada yang peduli bahwa itu adalah nilai-nilai Islam. Orang-orang Islam tertentu sudah lebih dahulu mengambil posisi untuk mendefinisikan Islam: agama yang sibuk mengurusi babi dan empat istri.

Barangkali selama ini memang tidak ada yang merusak citra Islam, selain umat muslim sendiri.

3087765

Seven Habits of Highly Defective People

  1. Mengabaikan tanda ketidaknyamanan orang lain

    Boss: Omong-omong, dari tadi saya terus yang bicara

    Karyawan: {sudah jadi tengkorak}

  2. Melucu untuk mengolok-olok orang di depan umum

    Boss: Anggota tim kita ini mirip dengan bintang film. Tepatnya, Lassie.

  3. Menganggap semua keluhan sebagai kesalahan pengeluh

    Dilbert: Anda tidak pernah memotivasi saya

    Boss: Coba datang ke therapist

  4. Terlambat dan mengajukan usul kontroversial

    Boss (sambil masuk ruang rapat): Saya rasa kita bisa mengambil lisensi ?Barney? untuk maskot kita.

  5. Memberikan nasehat tanpa mengerti masalah

    Boss ke Dilbert: Coba tulis saja beberapa baris kode assembly di sini

  6. Membalik-balik prasangka

    Boss ke Alice: Wow, hasil fotokopi yang bagus. Belum tentu karyawan pria bisa melakukannya lebih baik.

  7. Merasa bahwa tulisan ini bukan tentang Anda

    Boss: Lucu juga rambut orang di kartun itu

Udah lama sebenernya pingin nulis cerita-cerita Dilbert. Cuman keduluan Neng Wio melulu.

Dilbert Treasury

Hah, di mailbox ada “Dilbert Treasury”, hah.

Scott Adams memulai, kira-kira kayak gini. Banyak orang gila di sekitar kita. Mereka tidak merasa gila. Sebaliknya mereka merasa canggih. Itu membuat saya berpikir: jangan-jangan saya juga gila. Jadi saya menyusun daftar keanehan saya. Nomor satu, saya menyusun daftar keanehan saya. Nomor dua, saya menganggap bahwa kata ‘nomor satu’ itu salah, karena jelas bahwa ‘satu’ itu nomor. Nomor tiga (atau tepatnya: tiga), saya terlalu banyak menganalisis. Anda bisa lihat, untuk menyusun daftar kegilaan saja saya sudah bisa menyusun daftar kegilaan sendiri. Terus Scott cerita soal vegetarian dan lain-lain, diakhiri soal bersin akibat sinar matahari. Baru komik pertama Dilbert dimulai.

Tuhanku, aku lelah sekali, dua hari penuh turut berpacu dengan umatmu yang riuh rendah di lorong-lorong bawah tanah kota London. Maafkan aku kalau aku mau mengisi hari ini dengan istirahat panjang sambil menertawai manusia saja.

Liebestod

Tokoh Isolde (Celtic: Iseult, Italia: Isotta) menyanyikan Liebestod di atas kematian Tristan. Bagian ini selalu memaksa kita berhenti dari kegiatan keseharian, dan diam beberapa menit menikmati cara Wagner menggambarkan jenis kedekatan manusiawi yang penuh kegamangan. Pagi ini bentuknya agak beda. Orkestrasi nyaris dihapuskan, dan digantikan dengan permainan piano yang sederhana. Jadi fokusnya lebih pada vokal solo tokoh Isolde. Tapi, really, bagian ini sama indahnya dengan waktu orang memainkan Isolde dengan orkestrasi penuh, tanpa vokal (i.e. versi Liebestod yang aku dengar pertama kali, sekian tahun y.l.).


Oh ya, aku nggak pingin cerita tentang kisah Tristan & Isolde, selain bahwa ini adalah kisah cinta dua manusia, yang tak pernah terselesaikan. Kegamangan dari ujung ke ujung. Nuff.

« Older posts Newer posts »

© 2026 Kuncoro++

Theme by Anders NorenUp ↑