Ketika membaca koran sambil makan pagi di Bangkok Jumat minggu lalu, saya terkesima melihat foto mobil mewah Ferrari sedang ditonton para peminat pada sebuah pameran di Indonesia. Judul keterangan gambarnya: Life goes on in Indonesia … for the rich.
Saya kehilangan selera makan. Rasanya, semua orang di coffee shop itu sedang melihat ke arah saya. Bubur ayam masih tersisa setengah di mangkuk. Saya lipat surat kabar itu, meninggalkan sekadar uang tips di meja, dan pergi.
Seorang penulis di milis PPI nulis kayak gini: orang kayak Bondan Winarno tidak mensyukuri nikmat yang dianugerahkan pada orang Indonesia, yaitu nikmat kehilangan rasa malu.
Bahasan di New Scientist Rada nyentrik juga. Cowok single, katanya, jarang dilirik cewek. Tapi begitu punya pasangan, jadi banyak yang mau merebut. Naluri aneh ini bahkan teramati juga pada ikan dan burung. Ini efek ?mate copying?. Efeknya pada cowok konon nggak terlalu besar. Yang ada efek sampingnya: cowok suka niru-niru gaya orang yang diyakini narik banyak cewek. Berjambul waktu jaman Elvis, terus bergondrong ria jaman Jagger, terus sekarang musim nipisin rambut kayak … eh nggak ah, ntar dia ikutan baca.
Yogya 1994, di atas bis kota yang tak terurus. Musik latarnya something dengan “terpuruk” oleh Katon cs. Maunya memang lagi terpuruk juga. Rasanya segalanya berjalan monoton tanpa variasi: pekerjaan yang melelahkan (lagi ada gebyar pembukaan ribuan pelanggan telepon baru, dan harus dibuka satu-satu plus dites satu-satu), dan bis yang panas dan lembab. Emang hidup lagi terasa tanpa arti. Terpuruk ku di sisi … eh di sisinya siapa?
Duduk di sebelah aku, ibu-ibu setengah baya, dengan jualannya, pernik-pernik elektronik semacam senter, kipas angin, dan mainan anak-anak berbaterai. Dia lagi megangin kipas anginnya.Kok tumben makhluk introvert kayak aku tau-tau nanya, “Kenapa, Bu, kipas anginnya?” Rusak, kata dia, nggak bisa dijual. Kami diam. TMP Kusumanegara terlintasi. Boleh liat? Dia berikan kipas angin itu. Pasti coil motornya, pikir aku, benda murahan ini. Gimana ngebukanya? Ambil dulu baterainya. Nggak bawa obeng, aku coba mengalihkan ide. Kali cuman konektor baterai. Geser dikit dan ditekuk dikit pakai balpen. Pasang baterainya. Kipas cuek. Buka lagi, geser-geser aja lagi. Pasang lagi. Kipas berpusing dengan indahnya (bisnya panas abis soalnya). “Cuman sambungan baterainya kok Bu.” Dia senyum ceria. Terima kasih, jadi bisa dijual lagi, katanya. Di luar matahari menyengat tajam, tapi rasanya jadi kayak kehangatan yang ramah. Terima kasih, Tuhanku, buat hidup yang bervariasi dan indah ini. Lempuyangan di depan mata. Aku lompat dari bis, dan bis menderu dengan asap hitamnya.
Domain Bhawikarsu aku forward ke site Ikabhasu. Ada yang berminat punya alamat @bhawikarsu.org?
Musik latar imaginer: Ku tak pernah lengah akan tugas sbagai pelajar, menjunjung tinggi peradaban bangsa.
Haleluya!, dari Tannhauser dari Wagner. Pertama denger dulu aku kaget bener: mulai kapan Wagner jadi punya agama? Tapi agama buat Wagner bisa jadi cuman perlambang tatanan masyarakat lama. Tannhauser ikut berperang buat gereja, merebut Palestina. Lalu ia pulang ke tanah air di Jerman. Ia tertarik oleh seorang putri yang cantik, titisan Venus. Lalu ia mengikutinya selama tujuh tahun. Tapi lalu ia mau bertobat, melakukan perjalanan menghadap paus di Roma (di sini musik pengantarnya indah sekali, salah satu favorit aku). Paus menolak permintaan ampunnya (aku lupa alasannya). Tannhauser, kecewa, kembali ke Jerman. Paus menyesal, lalu mengirim utusan ke Jerman. Tapi Tannhauser sudah menghilang. Konon ia kembali ke Venus.
Kadang agama tidak lagi dijadikan buat pembimbing umat untuk lebih dekat kepada Tuhannya, tetapi justru malah menjauhkan. Lalu, manusia melarikan diri, mengikuti fitrah kemanusiaannya, justru dengan meninggalkan agama mereka. Goethe jadi mempelajari Islam (tapi tidak pernah masuk Islam), Nietzsche jadi atheist aktif. Hidup memang kadang jadi tragedi. Kita akan menghadapi hal yang sama dengan Islam kalau agama selalu dimanfaatkan untuk kepentingan manusia.
Orang-orang suka punya fantasi aneh buat menggambarkan penderitaan. Flying Dutchman, mengisahkan para pelaut yang dikutuk untuk selamanya berada di lautan, tanpa pernah bisa menemui daratan. Kisah ini dioperakan dengan berisik oleh Wagner, di bawah judul Der Fliegende Holländer. Anehnya, KLM malah menjadikan nama kutukan ini buat program frequent flyernya. Dan yang lebih aneh (tapi bisa diduga), aku dikirimin kartu Flying Dutchman itu dari KLM. Demi Wagner deh, asik aja.
Dekrit Presiden: Semendjak masa ini, seloeroeh bangsa Indonesia jang tergolong kepada agama Islam dan berlakoe setia kepada pemerintahan jang sjah dari Repoeblik Indonesia, dilarang oentoek mengoetjapkan kata “Akbar” waktoe mengoetjapkan takbir, dan djoega dilarang menjeboet-njeboet kata “Amien” sesoedahnja membatja Al-Fatihah. Menjeboet kedoea kata terseboet akan digolongkan ke dalam tindakan makar, dan akan dikenakan hoekoeman sesoeai oendang-oendang perlindoengan keamanan negara.
Lucu nggak? Kalau nggak lucu, tolong ada yang bilang ke kiai dan tokoh-tokoh yang mencampuradukkan agama yang agung ini dengan politik kampungan mereka, bahwa tingkah laku mereka lebih nggak lucu lagi.
Orang-orang Italia, kata Goscinni, memang penuh rasa humor. Singkatan SPQR yang dipasang pada tonggak-tonggak tanah jajahan, ditafsir ulang sebagai Sono Pazzi Questi Romani: orang-orang Romawi memang gila !
Komik Astérix memang selalu penuh dengan pelesetan yang kadang seenaknya. Barangkali lucu ya kalau kita iseng-iseng coba koleksi Astérix dalam berbagai bahasa. Amazon Fr bisa bantu memulai barangkali. Aku liat setidaknya ada sepuluh bahasa terkoleksi di sana, termasuk esperanto, alsatian, latin, dan breton (celtic).
Bakal lebih lucu lagi kalo kita iseng kirim surat ke Albert Uderzo, minta izin menerjemahkan Astérix ke bahasa Jawa. “Dimas Ngobeliks, saking pundi panjenengan?” Eh, kangmas apa dimas ya? Konon sih Astérix dan Obelix dilahirkan pada hari yang sama.