Fulltrek

Nama Fulltrek sendiri kami rancang beberapa saat setelah menempati ruang baru Gugus Tugas Content & Application (GTCA) di Merdeka Selatan 12. Dari sekian pilihan nama, tampak tak ada yang menarik. Aku lupa, nama itu hadir dari Pak Widi atau Pak Komang. Dan aku cuma menambahi: Trek-nya dibuat mirip Star Trek yach. Lalu jadilah.

Di GTCA, aku termasuk yang paling tak memiliki sense atas musik. Kata musik sendiri entah kenapa mengingatkan aku pada Haydn, Debussy, atau malah gamelan. Oh, lagu masuk ke musik ya? Haha :). OK. OK. Clueless kalau teman2 GTCA berbincang asyik masalah musik. Atau game. Tapi waktu produk ini diluncurkan, tentu semua harus ikut andil menyebarluaskan ke komunitas-komunitas. Dan karena aku pastilah useless dipasangkan di komunitas musik (bukan Haydn dan gamelan, maksudnya), maka aku mendapatkan tugas yang berkait tidak dengan komunitas musik.

Tugas pertama adalah Ignite. Ignite baru pertama kali diselenggarakan di Jakarta. Ia mirip Pecha Kucha — Pecha Kucha yang mencontek konsep Ignite, atau sebaliknya. Aku pernah rajin hadir di Pecha Kucha, jadi bisa membayangkan formatnya. Ignite diadakan bulan lalu di Grha Citra Caraka. Ada 20-an speaker, yang memberikan presentasi dalam waktu masing2  lima menit saja. Aku jadi presenter kelima, tepat setelah Pandji Pragiwakarsa. Syukurlah Pandji berpresentasi dengan tema pembajakan, termasuk pembajakan musik. Tepat di akhir wacana Pandji, aku bisa masuk, dan tepat memulai dengan skala pembajakan musik. Tak ingin kehilangan momentum, aku langsung masuk ke tema itu … lupa memperkenalkan diri :). Haha. Gaya ajaibku membuat Aulia yakin bahwa presentasi itu bukan aku yang buat :). Pak Indra Utoyo kemudian sempat hadir, tapi jauh setelah presentasiku.

Tugas kedua adalah DJUS. DJUS adalah offline sharing forum dari MIKTI yang juga rutin diselenggarakan. Aku pernah sekali hadir di DJUS. Kali ini DJUS diselenggarakan di Risti Tower di Bandung, dan bertemakan Digital Music. Speaker adalah Jodi Handoyo dan Grahadea Kusuf. Pengantar dari Ketua MIKTI Indra Utoyo, Kadis Indag Jabar, dan salah satu pelindung MIKTI (Cahyana Ahmadjayadi) yang juga salah satu Indigo Fellow. Aku mengisi sedikit tentang Fulltrek juga.

Fulltrek bukanlah sekedar tempat penjualan musik secara online. Fulltrek dimaksudkan sebagai bagian dari prakarsa Indigo, untuk membentuk ekosistem bisnis musik digital. Distribusi musik secara fisik sudah jatuh — tampak secara visual. Namun karena distribusi digital tak pernah disiapkan, user menggantikan dengan pembajakan. Nilai pembajakan musik di Indonesia tahun lalu diperkirakan berskala 4.5 triliun rupiah (atau 180 gayus — dengan 1 gayus setara dengan loss 25 miliar rupiah). Peningkatan revenue ada, tapi kecil — karena baik pencipta maupun distributor tak termotivasi. Semangatnya hancur oleh pembajakan. Fulltrek dan prakarsa-prakarsa serupa mencoba membangun distribusi musik secara legal dan sehat, sehingga membangkitkan kembali kreativitas dan dinamika musik sehat Indonesia.

Fulltrek membangun ekosistem bisnis musik dari proses kreasi. Dengan Speedytrek, kelompok musik indie di daerah2 diseleksi, dipilih, dan dibantu memproduksi single atau album. Dengan Indigo Unplugged, dibentuk kegiatan komunitas untuk bersentuhan langsung dengan kelompok musik kebanggaannya, dan langsung dibuat produksi live music. Kerjasama produksi dilakukan dengan major label maupun kelompok musik indie dan developer yang mengabungkan musik dengan aplikasi-aplikasi digital. Revenue diperoleh dari sales, advertising, cobranding, events, dan kegiatan2 lain. DRM, security, hingga payment system dikelola dan dikembangkan dengan infrastruktur yang terus diperbaiki. Diharapkan publik akhirnya menemukan cara memperoleh musik secara sehat dan legal, dan menikmati distribusi musik dengan cara yang lebih mudah dan menarik. Diharapkan bahwa seniman musik akan kembali bangkit motivasinya untuk menciptakan yang terbaik buat dinamika musik Indonesia.

Mungkin dengan itu, suatu hari aku akan kembali menikmati musik kontemporer Indonesia. Bukan kembali ke Haydn, atau Stravinsky, atau Wagner. Serem deh :D. OK, sekarang kembali ke Die Walküre Act 2. Tadi Brunnhilde sedang berbincang dengan Siegmund di atas gunung.

13 Comments

  1. Logo yang diminta sudah dibuat, tuh. :P

  2. Kapan menawarkan lagu yg DRM free? :)

  3. Langkah awal sih memberikan rasa aman dan nyaman dulu buat pencipta musik, agar mereka percaya bahwa distribusi digital punya masa depan menarik.

  4. Sekarang, misalnya itu bukan kamu yang buat, dan sekarang kamu yang diangkat jadi juri, kira2 siapa yang kamu pilih jadi pemenang?
    (Hayo, latihan jadi juri, haha)

  5. manta nih pak websitenya,, selain band yang sudah terkenal, band indi yang ingin menitik karier di dunia musik bisa melalui fulltrek,,, hemm…

  6. udien

    Om, nilai 5 Rebu per lagu kayaknya berat juga ya. Trus kalo dipindahin ke media portable (WMA Player) selalu gagal karena diindikasikan masih terkunci. Ada saran ?

  7. Pergerakan Telkom kuat banget yah… setelah plasa sekarang sudah ada fultrek. tunggu hasil dalam setahun dulu ah…

  8. Belum ada saran. Tapi aku sampaikan ke tim-nya ya :).

  9. Pandji Pragiwakarsa atau Pandji Pragiwaksono ya?

  10. Pandji Pragiwaksono.
    Makasih ya :)

  11. Sayang, seperti halnya langitmusik, lagu-lagu Indonesia yang saya butuhkan tidak ada. Mungkin kesalahan ada di saya? :D

  12. @Paman Tyo: Jangan2 yang dicari Paman Tyo adanya di Lokananta ya? Tenang, Paman, kita lagi menjajagi partnership dengan Lokananta juga ;)

  13. betul sekali bisnis musik secara fisik memang sudah saatnya untuk jatuh dimana setiap orang terhubung dengan jaringan, sehingga jika ingin mendengarkan musik baru tidak lagi perlu pergi ke toko untuk mencari dan membeli fisiknya. Sudah saatnya bisnis musik dijalankan secara digital dan online

Trackbacks/Pingbacks

  1. Tweets that mention Kuncoro++ » Fulltrek -- Topsy.com - [...] This post was mentioned on Twitter by labanux, Planet Terasi. Planet Terasi said: Kuncoro Wastuwibowo: Fulltrek: Nama Fulltrek sendiri…

Leave a Reply

%d bloggers like this: