Tag: London

City of London

Ini kunjungan entah yang keberapa ke London. Tapi kali ini aku stay di sisi lain di kota London, yaitu Hilton London Angel Islington. Tujuannya, biar punya waktu lebih lama menjelajahi kawasan City of London. City of London ini menarik. Luasnya 2,9km², tapi jadi ibukota keuangan dunia. Dan semua diakibatkan serentetan sejarah2 kecil yang menarik.

Waktu orang Romawi menduduki Britannia, mereka mencari titik operasi yang optimal, yaitu punya akses ke laut, atau di sebelah sungai yang masih cukup dalam untuk dilewati kapal; tapi kalau di sungai juga jangan terlalu lebar sehingga bisa dibuatkan jembatan atau penyeberangan lain. Dari kebutuhan logistik ini, dipilihlah titik yang dinamai Londinium, ±50CE. Lokasi ini dipasangi tembok batas, yang sampai hari ini menjadi batas City of London. Sempat kosong setelah Romawi kabur, kota ini dihidupkan Alfred the Great tahun 886, dan jadi titik logistik yang optimal dan terus membesar untuk perdagangan antara Inggris dan negeri-negeri lain melalui lautan.

Saat William the Conqueror menduduki Inggris (1066), alih-alih menindas kota dagang ini, ia justru menerbitkan piagam yang menjamin hukum dan tatacara London tetap berlaku. Ini logis: Raja perlu uang dan dukungan logistik; dan saudagar London punya keduanya. Pola berulang sepanjang sejarah Inggris: setiap kali penguasa perlu sesuatu yang mahal, para saudagar City siap bernegosiasi. Tahun 1189 kota ini punya Lord Mayor sendiri, memerintah dirinya sendiri lewat Aldermen dan Common Council yang dipilih, bukan cuma oleh penduduk, tapi juga oleh badan-badan usaha. Ini cikal bakal keunikan pemerintahan City yang berlaku hingga saat ini. Kita tentu pernah dengan Magna Carta (1215). Kita simak, bahwa pada piagam ini, terdapat klausul khusus yang menjamin utuhnya kebebasan City. Para baron yang menantang monarki absolut Raja John pun perlu dukungan finansial London, dan London memanfaatkan momen itu untuk mengukir hak istimewanya dalam dokumen paling sakral dalam sejarah konstitusi Inggris. Ini lobby bisnis paling sukses dalam sejarah: saudagar London berhasil menyelipkan kepentingan bisnis mereka ke dalam piagam kebebasan yang dirayakan dunia hingga delapan abad kemudian.

Hubungan antara saudagar dan kerajaan ini terutama dibutuhkan saat perang. Perang mahal, pajak saja tidak cukup, jadi dulu raja meminjam ke para bangsawan, baik di dalam maupun luar negeri. Ini bermasalah. Kalau kalah, uang hilang; kalau menang, raja jumawa, susah ditagih, wkwk. Raja Edward III pernah meminjam dari bankir Italia abad ke-14, lalu gagal bayar, dan yang hancur justru dua rumah bankir Florence terbesar saat itu. Nah, di sinilah inovasi London. Sebelum 1688, kredibilitas utang negara memang bergantung pada kata-kata satu orang: raja. Setelah 1688, Parlemen yang mewakili rakyat (yaitu tentu saja para bangsawan dan para saudagar) mengambil alih pengendalian, penerimaan, serta tentu saja perkiraan pajak, bea cukai, dan pendapatan negara lainnya. Mereka mulai mengunci sebagian penerimaan itu secara khusus untuk membayar bunga dan pokok utang. Artinya, kalau pemerintah Inggris berhutang, jaminannya bukan lagi janji lisan raja yang terkenal tak bisa dipegang, tapi aliran pendapatan negara yang bisa dihitung, diaudit, dan dijamin lembaga kolektif yang jauh lebih sulit diingkari sepihak. Inilah yang menjadi komitmen keuangan kredibel, dan inilah sesungguhnya awal keunggulan kompetitif industri keuangan Inggris dibanding rival-rivalnya di benua Eropa yang masih diperintah monarki absolut: Utang Inggris jadi lebih murah dan lebih aman dipinjamkan. Bukan karena Inggris lebih kaya, tapi karena janjinya lebih sulit diingkari.

Dari dasar ini, lahirlah Financial Revolution. Obligasi pemerintah pertama diterbitkan 1693, lalu setahun kemudian saudagar City mendirikan Bank of England, meminjamkan 1.2jt pound ke pemerintah dengan bunga 8%, dan sebagai imbalannya diberi hak menerbitkan uang kertas serta mengelola utang negara. Ini adalah uang kertas pertama yang memiliki jaminan sistem keuangan yang andal. (Swedia pernah menerbitkan uang kertas, tapi keburu bangkrut gara-gara sistemnya tidak andal). Model uang kertas dari Bank of England itulah yang akhirnya jadi template diikuti bank sentral di seluruh dunia.

Obligasi pemerintah Inggris ini kemudian dikenal sebagai gilts, dan ini lahir dari City. Sertifikat obligasi yang diterbitkan Bank of England sejak 1694 ini dicetak di kertas dengan tepi berlapis emas, jadi disebut gilt-edged, meski istilah gilts baru benar-benar digunakan abad ke-19. Dari sinilah lahir tradisi consol, obligasi abadi tanpa jatuh tempo yang sebagian baru benar-benar dilunasi pemerintah Inggris tahun 2015, dua abad kemudian, sampai pasar gilts modern yang dikelola UK Debt Management Office hari ini. Semua bermuara ke satu inovasi konstitusional sederhana: bikin janji negara sulit diingkari, dan orang akan berbondong-bondong meminjamkan uang dengan bunga murah. Biarpun sempat dibikin kacau Liz Truss tahun lalu, hahaha.

Union antara England dan Scotland tahun 1707 juga punya jejak finansial. Scotland saat itu baru saja bangkrut gara-gara Skema Darien, usaha kolonisasi mereka di Panama yang berakhir bencana. Sebagai bagian dari kesepakatan Union, England membayar kompensasi, dikenal sebagai The Equivalent, untuk menutup kerugian investor Scotland itu. Jadi Kerajaan Inggris Raya lahir bukan hanya soal politik, tapi juga sebagai penyelesaian utang yang pragmatis, melalui mesin finansial yang sama yang baru saja dibangun London.

Jadi kemudian setiap perang besar Inggris, mis Perang Napoleon, dibiayai via obligasi yang dijual City dan dikelola Bank of England. Di seberang jalan, sekumpulan saudagar lain yang asik berbincang di kedai kopi Edward Lloyd sejak akhir abad ke-17 juga membangun bisnis lain: menanggung risiko pelayaran. Mereka menuliskan nama pelayaran dan risikonya. Saudagar yang mau ikut menjamin, menuliskan namanya di bawahnya, dan disebut underwriter. Ini istilah yang sekarang dipakai di seluruh industri finansial dunia, jauh melampaui asuransi. Beberapa blok lagi dari kedai Lloyd, ada kedai kopi lain bernama Jonathan’s, tempat para pialang saham yang diusir dari Royal Exchange karena dianggap terlalu berisik akhirnya nongkrong dan berdagang saham secara informal sejak 1680an. Mereka menempel daftar harga saham di dinding. Dari perilaku ini, tahun cikal bakal London Stock Exchange lahir tahun 1698. Jadi, di City of London, ngobrol di kedai kopi saja sudah bisa menghasilkan berbagai institusi yang mengatur arsitektur finansial dunia.

Abad ke-19 adalah puncak keunggulan City of London. Mereka jadi satu-satunya pusat modal global. Sterling jadi mata uang cadangan dunia, terkunci keandalannya oleh cadangan emas. Tapi kemudian dua Perang Dunia mengubah segalanya. Perang memaksa negara turun tangan menanggung risiko yang terlalu besar untuk pasar swasta. Asuransi risiko perang untuk kapal jadi urusan negara. Begitu juga kerusakan properti domestik akibat Blitz di Perang Dunia II. Dan yang lebih penting, Inggris pelan-pelan berubah dari kreditor dunia jadi debitor, bergantung pada program Lend-Lease dari Amerika untuk bertahan. Inilah titik balik sesungguhnya: kekuatan finansial global mulai bergeser dari London ke New York, sebuah proses yang baru benar-benar tuntas setelah 1945.

Tapi City of London punya bakat aneh untuk reinventing. Tahun 1950-60an, saat kekaisaran melenyap dan Sterling kehilangan wibawanya, London justru menemukan panggung baru: pasar Eurodollar, dolar Amerika yang diperdagangkan di luar yurisdiksi Amerika. Ini sebagian gara-gara Uni Soviet takut deposit dolarnya disita kalau disimpan di bank Amerika sendiri, jadi mereka parkir di London. Bank of England yang saat itu cenderung permisif soal urusan bukan-sterling ini, tanpa sengaja membuka jalan bagi London jadi pusat keuangan internasional yang lebih besar dari kekuatan ekonomi domestik Inggris sendiri. Di masa Thatcher (1986) datang Big Bang, yaitu deregulasi besar-besaran pasar modal London, yang makin memperkuat posisi ini.

Hingga kini, paradoks ini masih menarik. Mereka memiliki City of London Corporation, yaitu pemerintah lokal satu-satunya di UK yang punya hak pilih korporasi, punya polisi sendiri (termasuk polisi keuangan), dan punya Lord atau Lady Mayor sebagai walikota yang perannya lebih mirip duta promosi bisnis. Bank of England sudah lama jadi milik negara (UK), diberi independensi kebijakan moneter sejak 1997, diawasi Parlemen tapi bebas dari campur tangan partai politik harian. Lloyd’s masih berdiri, sudah direformasi dari sistem tanggung jawab tak terbatas yang nyaris menghancurkannya di tahun 1990an, jadi pasar asuransi risiko spesialis paling dihormati dunia.

Di City of London, ritual lama tetap dipelihara sampai sekarang: setiap kali Ratu atau Raja Inggris mengunjungi City, ia harus dihentikan di titik yang dulu bernama Temple Bar, batas tradisional antara Westminster dan City. Lord atau Lady Mayor menyambut, menyodorkan gagang Pearl Sword, untuk disentuh sang Raja sebagai simbol penghormatan timbal balik. Seolah-olah Raja Inggris pun perlu izin untuk masuk kota ini. Khas Inggris sekali: mempertahankan teater kekuasaan lama, tapi tetap dijaga rapi. Biar lucu aja.

Dan London sendiri, dalam pemeringkatan pusat finansial global terbaru, masih bertengger di posisi dua dunia, hanya terpaut satu-dua poin dari New York, bukan lagi hegemon tunggal seperti abad ke-19, tapi tetap salah satu dari segelintir kota yang benar-benar layak disebut pusat finansial global sungguhan, bukan sekadar regional. Yang membuatnya bertahan bukan satu faktor tunggal, tapi kombinasi yang sulit ditiru: hukum common law Inggris jadi pilihan default untuk kontrak bisnis internasional di seluruh dunia, zona waktu tepat di antara jam bursa Asia dan Amerika, bahasa Inggris yang telanjur jadi lingua franca keuangan global, dan kesinambungan institusional yang panjang itu.

City of London hidup dalam kota yang temboknya dibangun orang Romawi, piagamnya ditandatangani penakluk Norman, dan mesin finansialnya dirancang saudagar yang dulunya cuma numpang ngobrol di kedai kopi sambil menunggu kapal pulang. Itu keunggulan kompetitif yang tidak bisa dibangun ulang oleh siapa pun dalam semalam, bahkan dengan modal berapa pun besarnya, dan mungkin itulah alasan sesungguhnya kenapa, di tengah dunia yang berubah begitu cepat, tempat setua ini masih keras kepala menolak untuk menjadi tidak relevan.

Greenwich

Dulu, kata buku-buku kuno, tidak ada standar waktu seperti sekarang. Setiap tempat, setiap kota, menentukan waktunya sendiri dengan sinkronisasi terhadap matahari. Pukul 12.00, matahari harus berada di titik tertinggi. Atau mungkin direratakan. Misalnya, saat di Malang sudah pukul 12.00, di Jayakarta barangkali masih pukul 11.35. Namun di tahun 1879, Sir Sandford Fleming (seorang ilmuwan Kanada) mengusulkan perlunya penstandaran. Ini terjadi gara-gara ia ketinggalan kereta di Irlandia akibat selisih waktu yang tercatat pada form keberangkatan kereta denga. Ia mengusulkan bumi agar dibagi menjadi 24 zone waktu, dengan setiap zone berselisih satu jam. Daerah dalam setiap zone harus memiliki waktu yang sama. Usulnya diperhatikan dan diakomodasi dalam bentuk berbeda dalam International Meridian Conference tahun 1884. Untuk menentukan zone waktu, orang harus mengukur posisi bujur di kotanya. Nah, waktu itu, sekitar 2/3 lokasi di dunia diukur jarak bujurnya dari Greenwich, yang merupakan pangkalan maritim Kekaisaran Inggris. Maka konferensi merekomendasikan penggunaan waktu dengan standard GMT — Greenwich Mean Time. Titik ukur standardnya adalah pada Observatorium Kerajaan Inggris di Greenwich. Perancis, yang memiliki standarnya sendiri (baca Da Vinci Code deh), baru menggunakan standar ini tahun 1911. Di tahun 1929, seluruh negara menggunakan standar GMT. GMT dihitung dari rerata waktu di titik ukur di Greenwich (tak menghitung pergeseran waktu musim panas yang ditetapkan tersendiri). Tetapi tentu pengukuran fisik seperti ini menimbulkan selisih-selisih. Banyak iregularitas pada putaran bumi, dan lain-lain. Maka di tahun 1972, ditetapkan standar baru, yaitu UCT (coordinated universal time), yang menggunakan arloji atomik untuk menghitung waktu standar. Namun jika kita tidak menghitung presisi waktu hingga satuan detik, umumnya UCT dianggap selaras dengan GMT.

Setelah Cardiff, Coventry, York, dan Thirsk, kami masih agak gamang harus menjelajahi kota besar seperti London. Apa menariknya kota besar? Haha :). Maka kami memutuskan pergi ke Greenwich. Greenwich sendiri merupakan kawasan di tenggara kota London, di selatan Sungai Thames. Tempat ini dijadikan cagar budaya oleh UNESCO karena banyak peninggalan masa lalu yang memiliki nilai budaya tinggi, dan masih difungsikan dengan baik. Dari kota London, kita bisa menumpang Underground hingga stasiun Bank atau Canary Wharf, lalu berpindah ke kereta ringan DLR ke Cutty Sark atau Greenwich. Dilanjutkan cukup dengan jalan kaki melewati kawasan perkotaan nan tetap asri ini. Di kawasan ini terdapat Greenwich Palace, Maritime Museum, dan lain-lain. Lalu Greenwich Park yang sangat luas, dengan rumput yang asri dan nyaman, dan pohon-pohon yang indah tertata. Di tengah park terdapat bukit. Di taman di sekitar bukit, banyak (banyak!) tupai-tupai jinak yang mau menghampiri kalau kita memanggil mereka dengan cara yang benar (haha). Dan di atas bukit ada Observatorium Kerajaan (Royal Observatory).

[nggallery id=4]

Observatorium ini didirikan tahun 1675 oleh Raja Charles II, mengambil tempat di Greenwich Castle. Arsiteknya adalah arsitek tenar Sir Christopher Wren. Raja juga mengangkat Astronom Kerajaan, yaitu saat itu John Flamsteed. Tugasnya adalah menjadi direktur observatorium dan mengerjakan secara rajin dan cermat segala pergerakan benda angkasa, serta pemosisian benda-benda yang mampu menjadi alat bantu bagi navigasi seluruh dunia. Maka bagian dari observatorium ini disebut juga Flamsteed House. Observatorium ini, sebagai tempat, fungsi, dan organisasi, kemudian mengalami banyak perubahan. Organisasinya sendiri sempat berpindah-pindah ke beberapa tempat, karena soal polusi, keamanan (bom dll), dan keakuratan pengukuran. Sempat di Sussex, dan terakhir di Cambridge, sebelum akhirnya ditutup. Observatorium Greenwich kemudian dijadikan museum dan tempat studi.

Pengunjung di observatorium ini cukup banyak. Kita tak diharuskan membeli tiket, tetapi dianjurkan mengisi kencleng donasi dengan misalnya £5. Di dalamnya ada museum yang berisi peralatan pengamatan perbintangan dan sistem navigasi, juga pusat sains tempat kita bisa mensimulasikan berbagai gejala astronomis. Di layar lebar ditampilkan sejarah bintang, dan bagaimana kita sebenarnya tersusun dari debu-debu bintang — bintang adalah bagian dari diri kita! Dan terdapat juga sebuah planetarium. Sayangnya, di dalam ruangan-ruangan itu, kita tak diperkenankan memotret. Yang juga tentu menarik buat dikunjungi adalah sebuah garis metal panjang di lantai, yang merupakan standard bujur 0º dunia. Kita bisa melompat ringan dari barat ke timur, atau membagi badan kita di barat dan di timur ;).

Selesai menjelajahi bagian barat dan timur bumi, kami menuruni bukit, becanda lagi dengan beberapa tupai, lalu meneruskan perjalanan menjelajahi kawasan unik ini. Tapi tak bisa lama. Kami jadi berminat ke Musium Sains di South Kensington juga :). Dan tentu saja The British Museum.

The Inextinguishable

London Symphony Orchestra, menurut Wikipedia, adalah salah satu orkestra terbaik di dunia. Patron orkestra ini adalah Ratu Inggris sendiri; presidennya Sir Colin Davis; dan konduktor utama adalah Valery Gergiev. Sir Colin Davis pernah menjadi konduktor utama juga pada tahun 1995-2006. Orkestra ini merupakan resident di Barbican Centre. Malam ini di Barbican Centre LSO memperformansikan The Inextinguishable.

The Inextinguishable adalah simfoni keempat dari Carl Nielsen. Walau aku bisa menikmati simfoni Nielsen kelima berulang dan berulang kali, tetapi aku belum cukup akrab dengan simfoni keempatnya. Saat akan menuliskan simfoni ini, Nielsen menulis kepada istrinya: “I have an idea for a new composition, which has no programme but will express what we understand by the spirit of life or manifestations of life, that is: everything that moves, that wants to live … just life and motion, though varied – very varied – yet connected, and as if constantly on the move, in one big movement or stream. I must have a word or a short title to express this; that will be enough. I cannot quite explain what I want, but what I want is good.” Maka The Inextinguishable menceritakan anasir daya kehidupan itu sendiri, yang bergerak lincah membentuk jiwa-jiwa dinamis dan beraneka rupa dan warna.

Performance Simfoni Keempat ini dikonduktori oleh Sir Colin Davis sendiri. Bukan performance biasa, aku pikir. Jadi, hanya beberapa menit setelah menjejakkan kaki di London dari perjalanan dari York, aku memutuskan mereservasi tempat di Barbican Centre. Barbican Centre sendiri terletak di City of London, bagian dari kota London yang kaya dengan pusat-pusat budaya.

Performance LSO dimulai pukul 19.30. Pada sesi pertama, LSO memainkan Simfoni 97 dari Haydn. Seperti simfony Haydn lainnya, musik ini menenangkan dan membersihkan pikiran. Lalu panggung ditata ulang. Piano besar di sudut ditengahkan. Tampillah Mitsuko Uchida; dan Sir Colin Davis kembali memimpin orkestra memainkan konserto piano yang lembut dari Mozart. Sempurna :).

Setelah sesi break, piano telah ditepikan kembali. Namun jumlah pemain ditambah lebih dari dua kali. Kelompok alat tiup mengisi setiap sisi panggung. Dan sepasang timpani mengisi ujung ruang.

Simfoni Keempat ini terdiri atas 4 movement, dan dimainkan tanpa break. Seperti simfoni Nielsen lainnya, movement pertama langsung diisi hentakan yang bergaya atonal. Tapi tak sedrastis Simfoni Kelima. Klarinet terasa mendominasi. Movement kedua, yang biasanya bersifat lebih tenang, masih dipenuhi paduan menarik dari alat-alat tiup. Violin dan dawai-dawai mendominasi movement ketiga, seperti menyiapkan diri ke klimaks movement terakhir. Di movement keempat, kedua timpani disandingkan mengiringi orkestra yang ditutup masih dengan rasa kepenasaranan yang tinggi.

Memang banyak alternatif untuk menggambarkan sang hidup. Bisa dalam bentuk perulangan yang menarik dan dinamik, atau dalam bentuk tanda tanya yang menggelitik, atau pengelanaan misteri panjang dengan keengganan untuk memasuki kedalaman. Atau ribuan variasi lain. Simfoni Keempat menggambarkan sang hidup dari sisi-sisi dinamika dan variasinya yang menarik. Menghentak, mengejar, dan berpadu dengan lincahnya menyeberangi batas dimensi realita dan kemayaan. Mengajukan kesetaraan antara yang mayor dan minor, antara yang mainstream dan yang terpinggirkan. Sungguh simfoni yang menarik untuk jadi bahan perenungan awal untuk memulai penjelajahan di kota London.

Le Royaume Uni

Alkisah, Presiden Blogger Indonesia 2009, Iman Brotoseno mendadak menanyai apakah aku berminat terbang ke London. Mungkin keseringan mendengar mars Rule Britannica, aku langsung menjawab dengan SMS satu kata: Deal. Lalu Mas Iman merinci syarat dan ketentuan. Air Asia akan menyediakan tiket penerbangan, dari Jakarta-Kualalumpur, dan Kualalumpur-London, dan arah balik. Tapi hanya itu yang akan disediakan. Pajak, akomodasi, visa, dll, harus ditanggung sendiri. Dan seterusnya. Bagian ini sudah aku ceritakan di blog satunya.

Aku meluangkan hanya beberapa jam untuk membuat rencana perjalanan. Pekerjaan berikutnya adalah mengajukan visa ke UK. Syarat-syarat terdengar berat, tetapi ternyata tak sulit dilalui. Lalu aku mulai memesan tiket kereta api, bis, hingga akomodasi hotel. Konon, terutama untuk kereta api, tiket kereta api jauh lebih mahal jika kita memesan mendadak atau membeli di tempat. Tiket pesawat diperoleh setelah pajak-pajaknya dibayar. Pihak-pihak Air Asia sangat ramah dan cekatan membantu kami mengurus tiket-tiket ini.

Kami berangkat di pertengahan April. Tapi di tanggal yang salah. Tak satu hari lebih cepat atau satu hari lebih lambat dari ditutupnya Stansted dan kemudian seluruh airport di UK dan kemudian seluruh airport di mayoritas negeri di Eropa, akibat abu dari letusan gunung Eyjafjallajökull di Iceland. Kami sempat terdampar di Kualalumpur tanpa informasi yang memadai. Setelah beberapa hari di KL, akhirnya kami kembali ke Indonesia. Setelah abu mereda, perjalanan direncanakan kembali. Tak semudah rencana semula. Semua tiket kereta api dinyatakan hangus, tiket bis akhirnya dinyatakan hangus juga, tetapi akomodasi hotel bisa dijadwalkan kembali. Rescheduling tiket di Air Asia amat sulit. Tapi kami tertolong oleh PIC yang menangani sponsorship perjalanan ini. Namun, karena tiket Jakarta-Kualalumpur telah kami pakai, kami harus membeli kembali tiket baru Jakarta-Kualalumpur.

Rencana final perjalanan ini (Revisi D) adalah seperti ini: Stansted -> Cardiff -> Coventry -> York & Thirsk -> London -> Stansted

Rincian rencana per tanggal:

  1. Stansted – London – Cardiff dengan coach. Menjelajahi kota Cardiff dan menginap di Ibis Cardiff.
  2. Pagi masih di Cardiff. Lalu coach Cardiff – Birmingham. Berjalan-jalan sebentar di Birmingham, lalu naik bis atau kereta lokal ke Coventry. Menginap di Ibis Coventry Centre.
  3. Menikmati hari di Coventry.
  4. Berjalan2 ke luar kota Coventry (Warwick, Leamington, Stratford, atau lainnya). Malam dengan coach pergi ke Leeds lalu ke York. Menginap di Ibis York Centre.
  5. Pagi di York, lalu dengan transport lokal ke Thirsk. Hello Darrowby. Sore balik ke York.
  6. Pagi di York, lalu dengan coach ke London. Menginap di Wisma Siswa Merdeka :).
  7. Ke Greenwich dan berkeliling London.
  8. Pagi meneruskan menjelajah London. Sore ke Stansted, lalu terbang meninggalkan UK.
  9. Sampai di Jakarta.

Ini waktu yang menarik untuk berada di UK. Rakyat di sini tengah menyiapkan diri menghadapi pemilu besok. Diperkirakan akan terjadi peralihan kekuasaan dari Partai Buruh ke Partai Konservatif lagi. Mudah-mudahan ini tak menjadikan Inggris sekaku zaman aku pertama kali menjejakkan kaki di sini. Udara musim semi menarik. Suhu masih dingin menggigilkan. Sinar matahari langsung akan menghangatkan. Tapi selapis awan tipis atau atap penghalang cukup untuk menghilangkan hangatnya radiasi, dan mengembalikan kita ke dinginnya suhu udara. Bunga-bunga sudah bermekaran beraneka warna di setiap kota. Tupai-tupai sudah mulai berlompatan di taman mencari makan (makanan simpanan musim dingin sudah habis atau rusak, sementara biji baru belum banyak tumbuh di pohon). Penduduk dan turis sudah meramaikan kota dengan keceriaan. Waktu sudah disetel ke summertime (UCT +1 atau WIB -6). Pun matahari baru tenggelam di atas pukul 20:00.

Beberapa tweet account yang memberikan info tentang kota atau negeri tujuan jalan-jalan ini:

So, here we are!

© 2026 Kuncoro++

Theme by Anders NorenUp ↑