Page 90 of 211

Zarathustra

Also Sprach Zarathustra by … bukan Nietzsche, haha :). By Richard Strauss. Lagi nggak sempat baca buku tebel-tebel. Tapi kapan sih kita nggak sempat ngedengerin musik? Zarathustra, secara ide memang diilhami Nietzsche, tapi secara musik diakui diilhami Wagner. Kalau di aku sih, sejarahnya kebalik: aku justru kenal musik Wagner gara-gara penasaran sama jenis musik yang bisa mengilhami komposisi seindah Zarathustra ini.

Coba misalnya kita dengerin Zarathustra bukan dalam kerangka buku Nietzsche, tapi sebagai karya impresionistik yang mendahului Debussy (nah lo). Skip Einleitung yang hingar bingar. Kita masuk ke bagian menjelang matahari terbit. Cahaya mulai mengisi langit, dan kegelapan di bumi mulai bergeser. Pemandangan yang samar. Awan. Kabut. Dan hanya garis-garis di bumi. Tapi lalu matahari beranjak. Satu garis sangat pendek, garis memanjang, garis cahaya yang panjang. Dan garis langit yang panjaaaaang. Dan kabut yang makin menipis. Pohon dan danau yang mulai menampakkan diri. Dan gerak-gerak fauna yang mulai tampak. Tapi matahari terus naik. Kabut menghilang. Embun jadi hiasan kayak permata yang menyemarakkan bumi.

Di bagian-bagian berikutnya fauna berlarian di antara bunga-bunga berwarna. Trus …

Trus kita baca judul setiap bagian yang ditulis Strauss. Setiap bagian diambil dari bab-bab bukunya Nietzsche. Trus kita bisa ketawa sendiri, menertawakan fantasi kita yang ternyata beda dengan yang dipikirin Strauss. Trus untuk membela diri, kita meminjam ujar Derrida. Setiap karya yang ditulis hanya memiliki makna yang tertunda — makna akhir adalah makna yang dihasilkan oleh pembaca, pendengar. Ada tundaan antara yang dimaksud penulis dan makna akhirnya, dan ada selisih interpretasi yang tak mungkin dihindarkan. Dan yang pasti, makna sebuah teks bukan makna seperti yang dibuat penulisnya, tapi makna yang diterima pembaca.

Jadi aku terus menikmati Also Sprach Zarathustra dengan melupakan ide-ide Nietzsche, tapi dengan ide-ide fauna yang berkejaran riang, dan mengingatkan kita untuk mengisi hidup kita sesuai keindahan hari ini yang kita rasakan. Apa artinya übermensch untuk dunia fana ini? Kefanaan di atas kefanaan yang lain lagi?

Ah … mendung.

92770653

Seorang warga Amerika keturunan Arab ikut berdemo di Washington. “BIG LIAR“, gitu tulisan di plakat yang dibawanya. Lalu ia meneriakkan: “Big liar! Civilian slaughter! Election cheater! Evil conspiracy! Nepotist! Shame! Shame! Shame!” begitu berulang-ulang. Tapi FBI tak kalah sigap. Orang itu segera digiring ke kantor. Dibiarkan di ruang pengap beberapa jam. Dan akhirnya diinterogasi.

“Untuk siapa kamu berdemo?”

“Untuk saya. Untuk rakyat Irak. Untuk kemanusiaan.”

“Tahi anjing! Kamu tahu kamu bisa dihukum berat karena bersikap tidak patriotik?”

“Saya percaya pada kebebasan berpendapat.”

“Tapi tidak untuk menghina kepala negara.”

“Kepala negara yang tidak sah dan harus digulingkan. Pembunuh. Mempermainkan hasil Pemilu.”

“Anda tidak akan bisa membuktikan fitnah Anda.”

“Memang tidak bisa. Tapi mana ada pemilu menghasilkan suara nyaris aklamasi untuk memilih dia jadi presiden.”

“What the hell are you talking about?”

“Saddam! The bastard. The murderer.”

“Saddam?”

“Yeah, Saddam. Don’t you know him? What the heck did you think I was talking about?”

92694082

Well, berusahalah untuk duniamu seperti kamu akan meninggalkannya
besok pagi. Dunia macam apa yang kamu tinggalkan? Dunia yang
lebih baik? Wujudkan saat ini juga, dan jangan pikirkan resikonya.
Kan seolah-olah kamu akan meninggalkannya besok pagi. Trus
apa yang bisa jadi resikonya?

Dan kalau pernyataanku bikin sebel lagi, mengganggu hati nurani lagi,
bukankah itu artinya aku udah jadi aku lagi?

Tanpa Harapan

Apa yang tersisa dari hidup kalau kita kehilangan harapan?
Apa yang tersisa kalau kita tidak lagi mengharapkan apa-apa?
Ya tidak perlu ada yang diharapkan tersisa juga sih :).

Sebenarnya tak ada yang salah kalau kita kehilangan harapan. Ada apa kalau kehilangan harapan? Mau berhenti melakukan segalanya? Diam pun  membosankan — kayak masuk neraka sebelum waktunya. Ada atau tanpa harapan, manusia punya kecenderungan untuk terus aktif. Kita boleh kerja demi nilai-nilai kita, dengan penuh kesungguhan, biarpun tanpa harapan bahwa akan ada sesuatu yang bisa diwujudkan.

Dan kalau kita bekerja tanpa mengharapkan apa-apa, bukankah kita bisa jadi lebih jujur dan lugas? Bukankah kita bisa bekerja sepenuhnya demi nilai-nilai kita tanpa khawatir pada apa yang bisa menimpa kita?

Siegfried’s Funeral

Bawa hasil foto x-ray siang ini. Masih cakep juga paru-parunya. Tapi dokternya masih memaksakan istirahat. Sekaligus ngasih valium buat maksain istirahat kalau bener-bener nggak bisa istirahat. Errh, kayaknya aku nggak mau cari masalah baru dah. Dokternya memang canggih, tapi kan manusia juga :).

Masalahnya, memang dokternya bener. Pikiran masih lincah berkeliaran di antara kotak-kotak berwarna bersusun, dan nomor-nomor RFC, plus mainan-mainan lain. Hmmh :). Gimana bisa bobo yang lama dengan pikiran kayak gini?

Heh, trus inget: kayaknya udah lama juga nggak masang serial “Der Ring”.

Kayaknya Siegfried bisa pas buat malam ini.

Coba deh menemani Siegfried merenungi kekuatan besar manusia yang tersimpan rapi dalam kelemahan esensialnya di depan formulasi takdir. Mudah-mudahan cukup buat bikin bobo. Asal ntar nggak berisik angkat-angkat pedan “Notung”-nya aja. Hmmmm :). Jadi ragu nih. Apa langsung pasang Götterdammerung aja ya, biar Siegfriednya cepet mati, trus musik pemakamannya bisa menghantar tidur yang pulas, mengantar seorang manusia dalam kompleksitas kelemahan dan kekuatannya, sekedar menjalankan apa yang harus dijalaninya dalam hidup.

92279311

Bukan cuma TELKOM yang sedang sibuk dengan pensiun dini karyawan-karyawannya. BT juga sedang mempensiunkan Piper, si peniup terompet yang baru 12 tahun bekerja sebagai logo BT. Abad berganti, BT nggak merasa sreg lagi dicitrakan sebagai manusia polos yang harus menggunakan terompet (teknologi suara) untuk berkomunikasi. Komunikasi sekarang lebih beraneka raga, terdiferensiasi dengan cantik, penuh warna, penuh gaya.

TELKOM, yang suka nggak sengaja berkiblat ke BT, kira-kira bakal ganti logo nggak ya.

92216570

Emang kamu nggak pernah nyontek, West?

Ha-ha :). Aku udah lama ngambil resiko dicap jadi makhluk aneh
dan menyebalkan. Aku nggak pernah nyontek di ujian, di kuis,
dan di tempat-tempat legal. Biariiiiinnnnnn!

Fyi: aku nggak pinter-pinter amat, jadi IP-nya nggak
bagus-bagus amat. Aku boleh nyalahin dosen sialan yang nggak
bisa ngajar dan berani-beraninya ngelamar jadi dosen, atau tugas
yang kebanyakan yang dirancang tanpa strategi yang bikin aku nggak
sempat belajar, atau sakit panjang (kayak sekarang) yang mengurangi
waktu dan intensitas belajar, atau sistem penilaian yang nggak adil.
Salahin aja yang memang salah. Tapi nggak ada satu pun yang bisa
jadi pembenaran buat cheating. Kesalahan sistem, kesalahan orang
lain, kesalahan takdir, nggak pernah bisa jadi alasan untuk ikut
melakukan kesalahan.

92203492

Bayangkan kalau kita bukan jadi tipikal pelajar dan mahasiswa Indonesia!

Percayalah, kita akan muak melihat pelajar dan mahasiswa Indonesia
melakukan perbuatan curang dalam ujian: mencontek! Muak sekali, percayalah.
Mereka sebal melihat mahasiswa Amerika melakukan pergaulan bebas, tapi
mahasiswa Amerika dijamin bakal jijik dan mual melihat betapa liberalnya
mahasiswa Indonesia melakukan pencontekan, tanpa rasa dosa sama sekali,
baik dosa transendental maupun dosa sosial.

Menurut Anda mencontek itu dosa kecil? Haha :). Lalu setelah mencontek,
Anda berani melawan para koruptor yang menurut Anda melakukan dosa besar?
Hahaaaaa :). Kalau Anda tipe mahasiswa kayak gitu, Anda benar-benar bikin mual.

Coba lihat, apa yang dipakai berbagai perusahaan untuk menyaring kandidat
karyawan baru dari ribuan pelamar yang lain? IP! IP palsu Anda telah memungkinkan
Anda memperoleh gaji dengan merampas hak orang lain.

Apa yang dipakai project menager untuk memilih rekanan? Kualifikasi pendidikan
para profesionalnya! Dan kualifikasi palsu Anda telah memungkinkan terjadinya
manipulasi nyata bagi proyek miliaran rupiah.

Empati Pada Para Tiran

Sebenernya aku nggak adil juga selalu mencaci maki Saddam Hussein dan George Warcrime Bush. Barangkali aku udah larut dengan pikiran Dogbert yang dengan senang hati menganggap semua makhluk memiliki pengalaman yang sama dengan dirinya, dan artinya memiliki diskursus yang sama, dan artinya kalau ada yang berbeda pendapat selalu ada yang bisa disalahkan. Well, cakep kan?

Coba bayangkan kalau kita jadi Saddam, dari kecil dicekoki dengan kisah kepahlawanan padang pasir, dari sejak peradaban manusia, sampai masa masa kenabian, dan masa-masa kekhalifahan, yang semuanya penuh tragedi dan kehendak untuk menegakkan kekuasaan dan nilai-nilai dengan segala kekuatan.

Seperti diktator ngetop lain, Saddam mulai sebagai pemuda pejuang yang mengorbankan masa muda dan mempertaruhkan nyawa untuk perjuangan. Dan apa artinya kediktatoran Saddam dibandingkan banyak kekejian dalam sejarah peradaban manusia di sepanjang jazirah Arab.

Bayangkan juga kalau kita jadi Bush, yang seperti orang AS lainnya dicekoki kisah patriotisme AS membebaskan dunia dan menyebarkan nilai-nilai Americanism ke seluruh penjuru dunia.

Bush adalah manusia yang berhati lembut, kalau dibandingkan dengan Truman yang melelehkan dua kota besar di Jepang plus jutaan penduduknya dengan bom nuklir cuma untuk mendeaktivasi pusat kesenjataan Jepang, atau dibandingkan serial Kennedy hingga Nixon yang menghabisi jutaan keluarga di Vietnam dengan berbagai senjata pedih yang tak masuk akal digunakan di bumi (senjata kimia, senjata biologi, bom napalm, ranjau darat, racun makanan dan air, dan segalanya).

Trus bayangkan kalau kita jadi supporter Persib. Eh kok …

« Older posts Newer posts »

© 2026 Kuncoro++

Theme by Anders NorenUp ↑