Apa sih yang lebih adiktif dari kafein?
Eroica!
Apalagi kalau yang main masih Berliner Philharmonik Orchestra.
Apa sih yang lebih adiktif dari kafein?
Eroica!
Apalagi kalau yang main masih Berliner Philharmonik Orchestra.
Happy new year !
Kayaknya tahun ke depan ini bakal beda dengan tahun kemaren, kayak tahun kemaren beda bener dengan tahun sebelumnya. Nggak sedrastis itu kali. Tapi ada batas yang jelas juga, sebenernya. Proyek-proyek yang diasyiki tahun kemaren harus direstrukturisasi — dan sebagian besar dirombak total. Proyek-proyek baru jauh lebih banyak daripada sisa pekerjaan yang tersisa. Hidup yang menarik, sebenernya, terutama buat orang yang nggak suka kejumudan.
Kalau blog ini isinya jadi mengesalkan, itu juga akibat restrukturisasi kerja dan waktu. Nggak banyak waktu yang tersisa untuk main-main di depan komputer. Pekerjaan yang sebagian besar di tahap awal bener-bener rakus sama sumber daya waktu. Dan waktu luang sisanya lebih enak dipakai jauh jauh dari komputer.
Tapi bagaimanapun, aku masih menganggap tempat ini sebagai tempat belajar komunikasi. Aku banyak belajar dari tulisan-tulisanku sendiri, dan juga banyak tertohok oleh sindiran-sindiran yang akhirnya suka menembak diri sendiri itu. Aku bakal masih nulis, biarpun barangkali lebih pendek lagi dan lebih garing lagi. Biar deh.
zipp degh
Rap, musik yang sempat dimusuhi BJ Habibie. Padahal rap kadang kerasa enak. Malahan Rap yang di plug in pada “Another One Bites The Dust” punya Queen sempat bikin aku kecanduan juga.
Kali musik itu soal kebiasaan ya. Orang bisa digeser seleranya dengan melakukan embedding jenis musik lain pada musik yang dia suka. Perpaduan yang bagus, manis, dan menyeret paksa, haha :). Soalnya, kalau rap nggak ditanam di Queen, gimana caranya rap bisa bikin aku kecanduan?
Kayaknya aku sempat stuck di Wagner gara-gara itu. Dari Bach, aku yakin. Terus tergeser ke Beethoven. Terus ke Wagner dan (Richard) Strauss. Akhirnya stuck di Wagner. Abis, dari Wagner mau ke mana? Yang mungkin sih ke Kitaro, haha. Coba aja dengerin Kitaro abis Wagner, kan kerasa ada link-nya.
Kalau abis itu sempat ada Debussy dan Stravinsky, itu adalah kesengajaan, bukan akibat mood. Waktu akhirnya Debussy memenuhi ruang-ruang, aliran mood membawa lagi ke Wagner. Duh, itu orang memang egois bukan kepalang. Semua musik bermuara ke dia, tapi dia nggak ngasih ide buat cari musik jenis lain.
Queen sendiri dari mana sih? Dari kebiasaan aja. Terus ada suasana real art di sana, yang bikin musiknya nggak kalah-kalah amat dengan Debussy misalnya.
Eh, jadi inget Rhoma Irama zaman dulu. Maunya berdakwah dengan dangdut. Akhir ceritanya kayaknya bukan pedangdut jadi santri. Malah para santri yang tadinya soleh jadi doyan dangdut dan suka goyang goyang. Idih, amit-amit.
Heisenberg ngebut. Seorang polisi menghentikannya.
«Anda melanggar batas kecepatan,» kata si polisi.
«Berapa kecepatan saya tadi?» tanya Heisenberg.
«90 km/jam,» kata si polisi.
«Anda yakin?»
«Tentu, saya yakin sekali.»
«Kalau demikian, Anda tidak dapat menuntut saya. Anda tidak akan dapat menunjukkan di mana saya ngebut tadi.»
Ini cerita fiktif sih. Tapi tidak pasti juga.

Congratulations for Amazon, one of the best company on earth.
Emang kelihatannya aku jadi pemalas buat ngurusin web. Web ini, dan terutama web komunikasi.org. Tapi sebenernya aku lagi aktif merenovasi website. Cuman yang ini tempatnya di intranet kantor, dan nggak bisa diakses dari Internet. Tapi bisa dibayangin lah, kira-kira kayak apa hasilnya kalo aku ngedesign webpage. Nggak beda jauh sama site ini. Dan yang jelas kalah jauh sama webdesigner yang profesi utamanya siswa sekolah.
Eh bener loh, beberapa temen aku yang anaknya masih di SD udah bisa bikin website yang desainnya lumayan juga. Cuman pakai FrontPage sih. Tapi desainnya bagus bener. Bisa keren dah masa depan Indonesia di bidang aplikasi informasi. Insya Allah.
Nah, di tengah-tengah renovasi web, ternyata si webserver bermasalah. Khas lah, kalau nekat pakai webserver dengan OS bikinan Microsoft. Servernya nggak bisa diakses secara lokal. Remote aja yang bisa, tapi kan terbatas. Jadi sementara aku backup aja, persiapan reinstalasi webserver. Tapi masih gatel juga, jadi aplikasi-aplikasi baru masih ditambah.
Good news tapi, pagi ini si boss ke meja aku, dan bilang kalau beliau udah punya doku buat beli webserver baru. Ugh, sedappp. Nggak usah reinstalling. Beli baru aja sekalian. Pakai apa ya. Mau pakai Linux, tapi kurang menantang. Ntar virus sama bug lain kan susah masuk. Enaknya pakai Windows lagi ah.
Kita kan suka kerja keras.
Bill Venners, pada bulan Januari 2003, menghadiri KTT “Writing Better Code” yang diorganisir Scott Meyers dan Bruce Eckel. Sambil ber-KTT, dia berkeliling mewawancarai para big shots dalam dunia programming, buat menanyakan: bagaimana sih cara mereka mencari programmer yang baik?
Hasilnya adalah sebuah tulisan di www.artima.com/wbc/interprogP.html, membahas berbagai cara untuk menyeleksi programmer untuk perusahaan atau proyek kita. Para programmer bisa mempelajari essay ini untuk menilai diri sendiri dan melakukan improvement untuk menjadi programmer yang lebih terpercaya.
WANTED DEAD OR ALIVE SCHRÖDINGER’S CAT |
The easiest thing, yet the most difficult: be yourself.
Is there such a thing as “yourself”?
As a psychological entity in reality?
© 2026 Kuncoro++
Theme by Anders Noren — Up ↑