Page 78 of 180

IITELMIT

IITELMIT, Senayan, Jakarta. Tapi ini IITELMIT paling alit, pelit, dan amit-amit yang aku pernah visit. Size ruangannya sekitar sepertiga IITELMIT tahun kemaren, padahal yang tahun kemaren juga cuma sepertiganya tahun 2000. Asli amit-amit, soalnya size sekecil itu isinya bukan semuanya soal infokom. Ada yang pamer majalah komputer, koran, teh (!), dan sederetan booth punya panitia.

Kayak biasa, Telkom dan Indosat bersaing dengan amit-amit di pintu masuk. Di sebelahnya berjajar Siemens dan Ericsson, memamerkan teknologi yang nggak baru-baru amat. Sisanya booth kecil-kecil. Nah lo, di mana Alcatel? Lucent? Huawei? Ini pameran infokom apa pameran boikot? Apa akibat SARS dan Bali Bomber? Mungkin aja — nyaris nggak ada orang non-Indonesia berjaga di booth ini.

Tapi aku udah telanjur dateng. Ya udah deh, ambil aja apa yang ada. Ada NMS dari Alott, ada Schlumberger, ada HP-HP yang bisa dipakai buat TELKOM-Flexi / CDMA, ada pintu keluar, ada pameran Ritech di sebelahnya (nggak seru juga kok).

Nyesel? Nggak. Hari ini ada lima kegiatan lain selain IITELMIT. Nggak buang-buang waktu kok.

Obrolan Buku

Buku memang sering jadi bahan pembuka obrolan yang menarik. Biarpun kadang bikin serba salah juga. Gimana cerita ke pensiunan PLN tentang buku bahasa C? Gimana cerita ke orang Inggris keturunan Kenya tentang C#? Aku kadang nggak gampang menggampangkan sih. Jadi merasa punya kewajiban buat ngejawab sedapat mungkin sesuai audiencenya. Dih.

Yang aman kali bawa buku Dilbert, Calvin, Mutts. Hmmm, jadi inget Margareth, mantan ketua senat di psikologi Maranatha, yang juga ketemu di Parahyangan. Aku masih hutang janji kirim cerita tentang Dilbert via mail.

Aku tulis di mana sih alamat e-mailnya?

Mr H

Wow, dapet temen chat yang menarik lagi di KA. Mr H. Beliau kayaknya doyan baca Internet, jadi mendingan aku nggak tulis namanya di sini.

Masuk Parahyangan, sebenernya aku lagi males berkomunikasi dengan manusia. Abis ketimpa semacam musibah, tapi nggak usah diceritain di sini :).

Jadi deh aku menghabisi waktu dengan cafe-au-lait versi Parahyangan (not recommended), dan beberapa artikel tentang Softswitch. Trus ada panggilan jiwa untuk mojok ke kamar yang paling ujung. Balik lagi, kayaknya posisi artikel kita berubah. Aku baca lagi, tapi si Mr H ngeliatin aja. Trus dia mulai nanya: «Maaf, saya ikut baca sekilas tadi. Itu bacaan elektronik atau arsitektur?»

Aku cerita sekilas tentang softswitch. Dan bagaimana teknologi ini bisa berarti banyak bagi dunia telekomunikasi Indonesia. Layanan yang lebih beragam, terdiferensiasi, dan bisa lebih murah atau lebih mahal sesuai keinginan. Dia sesekali menanggapi dan tanya-tanya.

Trus aku tanya, «Kalau bapak sendiri, bidangnya apa?»

«Saya sebenarnya di chemistry. Anak saya yang sekolah komputer. Sering ngobrol-ngobrol juga soal telekomunikasi, network, dan lain-lain.»

«Anak bapak sekolahnya di luar ya?»

Aku asal nebak aja sebenernya. Yang aku lihat sih: mahasiswa komputer Indonesia masa kini yang diobrolin nggak jauh dari database dan aplikasi- aplikasi yang masih berbau komputer. Kalau ada mahasiswa komputer cerita tentang telekom, network, handphone, dan aplikasi komputer dalam arti luas, kayaknya bukan mahasiswa Indonesia deh. Sorry yach.

«Anak saya di Sheffield. Saya juga dulu ambil chemistry di London dan di Leeds.»

Gitu deh awal ceritanya. Trus jadi cerita ke mana-mana. Cerita kehidupan dia sebagai orang asing di England, cerita kenapa dia nggak ngabur ke luar waktu terjadi tragedi 1998, cerita tentang handphone, cerita pergeseran dan pemaksaan paradigma serta budaya, cerita anak-anaknya, cerita kartun Dilbert. Etc.

Nggak kerasa kereta masuk Jatinegara. Aku turun dari kereta sambil masih ketawa sendirian. Duh, laper padahal …

Krrrr Krrrr

Bening bener malam ini. Sejuk, dan sepi. Nggak sering kayak gini di Griya Caraka. Kayaknya si mas/mbak jangkrik di dekat jendela itu ikutan kesepian, dan jadi ikutan mengiringi sepi malam dengan kerikan panjang pendek. Krrrrr krrrrrr krrrrrr.

Suara jangkrik itu unik. Dia bisa mengisi kesunyian tanpa menghilangkan kesunyian. Mirip dengan Chopin yang selalu pas dipadu dengan hujan deras. Dia sekedar menambahkan bumbu untuk kenikmatan sunyi malam. Krrrrrrr …

Dengan suara Mr/Ms Cricket kayak gini, siapa yang perlu Beethoven malam ini?

Laquo Raquo

Berhasil nggak, misi Click-Day kita?

Perlu rapat yang bertubi-tubi untuk mendebatkan soal ini, termasuk mendefinisikan arti kata misi dan berhasil.

Aku sendiri menyetel visi «menjadi warga negara yang berperan aktif dalam perdamaian dunia» dan misi «mencegah pertumpahan darah dalam acara Click-Day» — misi yang cukup relevan kalau kita melihat persiapan acara yang berbau-bau kopasgat gitu. Dan satu-satunya tujuan aku berlompatan seharian kemaren, bener-bener adalah buat mencegah terjadinya pertumpahan darah. Well, I’ll skip the detail. Pokoknya lucu :). Yang jelas, misi tercapai.

Hari ini kayaknya dunia lebih damai. Jadi aku meluangkan waktu ngabur keliling kota sebentar, trus balik sekedar ikut tepuk tangan dan salam-salaman aja. Siapa ya juaranya tadi?

Telkom Clickday

Dengan mata bulatnya, dia bertanya «Kak, kalau selesai milih jawaban, yang ditekan ‘lanjut’ apa ‘kirim’?»

Seneng juga jadi kakak :), apalagi sama anak yang umurnya kira-kira sepertiganya aku :) :). Klik-klik-klik. Satu-satu pertanyaan dia lahap. Begitu masuk soal matematik, spidol birunya beraksi di kertas buram, cret-cret-cret … klik-klik.

Apa aja sih pertanyaannya? Selain matematika, ada IPA, IPS, sampai hal-hal yang konon berbau infokom: PDA, satelit, parabola, penemu radio, web, dan semacamnya. Dan makhluk-makhluk mungil yang masihpakai rok atau celana merah tua itu melahap sigap tanpa ragu.

Memang itu dunia mereka, kayaknya. Mudah-mudahan. Aku lebih seneng mereka buang-buang uang buat beli segala piranti lucu dengan mikroprosesor berperformansi tinggi, daripada beli bensin buat menambah polusi kota Bandung.

Aku lagi kerja di GOR Pajajaran. Kemarin nemenin anak-anak SD, nanti siang remaja-remaja SLTP, dan besok pemuda-pemudi SMU. Acaranya judulnya TELKOMNet Click Day. Acaranya memang nggak sepenuhnya di depan komputer. Ada juga lomba jingle, basket, lomba mengarang (lisan). Lomba mengarang menarik bener — ngeliat makhluk-makhluk mungil itu dengan spontan harus bikin ulasan tentang satelit, televisi, parabola, mouse, dll.

And thanks untuk Luke sebagai MC, aku boleh mewakili TELKOM memberikan hadiah buat pengarang-pengarang cilik kita.

And congratulations untuk SD Assalaam, yang jadi juara umum hari ini.

Visi dan Misi

Visi dan misi. Apa sih gunanya?

Aku bukan lagi mikirin Scott Adams dan Dilbert yang selalu sinis sama kata-kata yang dipakai dalam visi dan misi perusahaan Amerika dan perusahaan yang menjiplak style perusahaan Amerika. Bukan. Aku lagi mikirin tema lain.

Katakan kita punya perusahaan telekomunikasi, didirikan tahun 1990. Apa kira-kira misi kita? Nggak mungkin cuma pasang telepon. Waktu itu belum musim kata konvergensi dan infokom. Tapi setidaknya kita sudah menyebut “integrasi suara dan data”. Kira-kira kayak gitu lah misinya. Apa teknologi yang siap buat tahun itu? Internet cuman ada di kampus-kampus dan lembaga penelitian. ATM belum dirumuskan. SDH ada. ISDN ada. OK, kayaknya yang dibangun jadi ISDN.

Terus orang menuntut telekomunikasi broadband. ITU-T merumuskan broadband ISDN. Tapi bentuknya sel-sel ATM, bukan TDM kayak ISDN. Itu pun nggak jalan. Broadband network ternyata dibentuk oleh Internet, oleh suite protokol-protokol IP. Dan ongkos upgrade dari POTS ke broadband IP nggak jauh beda dari upgrade ISDN ke broadband IP. Jangan lupa, kita harus membayangkan lingkungan multi operator.

Tapi kesalahan akibat visi nggak cuma menimpa industri. Aku ngebayangin bahwa dulu Einstein punya kesalahan yang sama. Dia yakin bener bahwa seluruh materi dan energi itu adalah satu tipe yang sedang dalam bentuk berbeda. Dia kerja keras mencari bentuk tunggal itu. Akibatnya dia menolak mekanika kuantum, dan sibuk mencari satu hal itu. Sebenernya dia nggak produktif lagi, gara-gara memaksakan diri mencari sesuatu yang belum mungkin ditemukan pada masanya. Baru setelah mekanika kuantum dirumuskan dalam QED, dan baru setelah banyak partikel-partikel subatomik lain ditemukan, orang bisa mulai memetakan bentuk energi tunggal. Dan Abdussalam membuktikannya di tahun 1970-an dengan merumuskan ketunggalan energi nuklir lemah dan elektromagnetik, sekitar 20 tahun setelah Einstein wafat. Tak lama banyak ilmuwan merumuskan ketunggalan energi itu dengan energi nuklir kuat. Tinggal gravitasi yang masih diduga-duga tapi belum selesai dirumuskan.

Visi dan misi yang terumuskan, secara tak langsung bisa mendorong kita mengikuti jalan-jalan pintas yang beracun. Bisa. Bisa tidak memang. Aku nggak melakukan generalisasi.

CDMA Network Planning

Minggu ini jadi penghuni Gegerkalong. Kapan ya terakhir aku nulis nama ini di sini? Gegerkalong, di pojok utara Bandung, adalah tempat yang hawanya masih menyisakan rasa Bandung masa lalu: sejuk, juga di tengah hari.

Di Gerlong yang berhawa segar ini aku lagi ikut training lagi. Cihuy. Abis masa puncak penjajahan Ariawest, kayaknya baru sekali aku beneran dapet training di sini. Judulnya CDMA Network Planning.

Isinya?

Ya … CDMA … network planning …. obviously …

Koala

Kebayangnya, sebentar lagi aku bakal mewarisi semangat koala: bobo 18 jam sehari, dan menghabiskan 6 jam sisanya untuk bergerak lambat. Kalau koala bisa bobo sambil pegangan di pohon, aku kali-kali bisa bobo sambil duduk manis di depan komputer.

Zzzzzzzzzzz.

Buku Koala

Jangan menilai buku dari kovernya. Katanya. Ha-ha :).

Suka-suka kita atuh. Boleh kita beli buku karena isinya, kalau kita sempat baca isinya di toko buku atau di rak buku teman. Boleh juga gara-gara percaya keandalan penulis, penerbit, atau pengulasnya. Boleh juga gara-gara tak kunjung sua buku lain dari tema yang kita cari. Namun tak dilarang pula beli buku gara-gara kovernya.

Belum pernah? Coba deh.

Ada beberapa pocket reference dari O’Reilly di atas meja — dih, aku nggak cukup edan untuk bawa semua pocket reference di dalam pocket. Ada Perl, PHP, Javascript. Trus jalan-jalan ke O’Reilly, liat HTML Pocket Reference. Lah, ngapain beli HTML Pocket Reference coba? Bisa sih bikin alasan: soalnya aku pelupa, dan nggak pernah inget caranya bikin radio button secara manual. Tapi banyak cara lain selain harus beli buku itu.

Akhirnya terpaksa keluar jawaban jujur: soalnya kovernya koala. Lucu aja kalau ada buku bergambar koala di atas meja. Biar dia menemani koleksi badak, burung, dan onta, plus poster berang-berang.

« Older posts Newer posts »

© 2026 Kuncoro++

Theme by Anders NorenUp ↑