Page 76 of 180

The Greeny House

Dulu aku menamai rumah kami the greeny house. Temboknya krem, tapi penuh asesori hijau. Tapi terus cat memudar, dan aku memutuskan memilih warna hijau yang lain untuk asesorinya. Juga untuk genteng dan pintu. Kaget juga lihat hasilnya: hampir semua warna hijau ada di sini: daun pohon mangga, daun pohon palm, pintu, tembok bawah, genteng, rumput, dan tanaman-tanaman kecil — semua menampilkan kehijauan yang berbeda.

Rumah kami punya ciri khas di deretan ini: tempatnya tepat di tengah, tapi jadi satu-satunya rumah yang nggak berpagar. Ada alasan semi-ideologis di situ. Para pencoleng Bandung berhasil memaksa aku pasang teralis di jendela rumah. Mudah2an mereka nggak berhasil memaksa aku pasang pagar.

Anti sosial, memang — kalau ini artinya kita tidak mau hidup menyesuaikan diri dengan pikiran tetangga. Lebih antisosial lagi, aku suka menganggap pikiran sebagian tetanggaku rada-rada primitif.

Rumah tanpa pagar itu menarik. Orang lebih suka datang ke rumah tak berpagar, daripada yang berpagar logam. Abis pintu dibuka, baru tahu kalo penghuninya ternyata anti sosial. Eh.

C++ dari O’Reilly


Serial C++ dari O’Reilly (oh, really?), minus buku pertama yang berjudul Core C++. Practical C++ adalah buku panduan mempelajari C++ dengan sedikit referensi. Nutshell berisi referensi dengan sedikit panduan. Pocket reference berisi referensi sangat singkat dalam kemasan kecil. Inget waktu kirim mail tahun 2001 ke O’Reilly nanyain buku C++, dan keliatannya waktu itu mereka nggak terlalu menseriusi C++. Udah merasa kalah sama serial C++ dari Addison Wesley kali.

The Real James Herriot

Kali-kali aku belum cerita di sini. Sebenernya, James Herriot adalah pemain bola dari Birmingham. Namanya diculik oleh dokter hewan bernama Alf Wight, waktu dia lagi cari-cari nama samaran buat bukunya. Alf, lahir di Sunderland, trus sekolah kedokteran hewan di Glasgow, dan bekerja di kota kecil di Yorkshire bernama Thirsk. Dia jadi asisten
dan kemudian partner seorang dokter hewan nyentrik abis bernama Donald Sinclair. Dia menikah dengan Joan, dan punya anak bernama Jim.

Gitu deh. Memang dia kreatif, dia suka nulis-nulis pengalamannya, tapi diubah sedikit-sedikit. Beberapa didramatisir, dan beberapa dikurangi tingkat keajaibannya. Kata Jim, yang sering dikurangi adalah tingkat keanehan perikalu Donald — kelakuannya yang asli jauh lebih ajaib daripada kelakuan Siegfried yang ditulis di buku.

Nah, RCVS melarang dokter hewan mengiklankan diri. Jadi buku dengan nama asli gitu bisa dianggap iklan. Maka si Alf harus bersusah payah cari nama palsu buat dirinya, keluarganya, partnernya, kota tempat kerjanya, dsb. Kebeneran dia suka bola … jadilah dia menculik nama James Herriot. Dan jadilah Herriot jadi nama yang mendunia, membuat Alf menerima penghargaan dari pemerintah Inggris, plus royalti yang besar (dikurangi pajak 80%).

Nah, kalau Alf pakai nama samaran, darimana kita tahu Alf yang sebenernya? Rumah di Thirsk memang akhirnya dijadikan obyek wisata, jadi banyak yang tahu. Tapi ada hal lain. Abis Alf meninggal (dimakamkan di York), Jim memutuskan menulis biografi bapaknya, dengan judul “The Real James Herriot“. Buku tulisan Jim ini banyak dipuji. Memang bagus sih: dia bukan saja jadi anak Alf, tapi juga jadi partner kerja sebagai dokter hewan di Thirsk.

Seandainya Mereka Bisa

Siapa sih Herriot yang dibahas di bagian awal weblog ini? Ada buku terjemahan dari Gramedia, judulnya «Seandainya Mereka Bisa Bicara» karangan seorang dokter hewan dari Skot dengan nama samaran James Herriot — dia kerja di kota kecil bernama Darrowby.

Cerita Herriot ini inspiring bener, dari waktu ke waktu, sampai buku Herriot rusak — keseringan dibaca. Nah, ada makhluk antik yang masuk ke website ini gara-gara cari tulisan yang membahas Herriot, dalam bahasa Indonesia. Tapi kecewa beliau, soalnya aku nggak punya informasi di mana bisa cari buku itu lagi, dan kapan ada yang mau nerbitin sekuelnya. Setidaknya ada 6 buku serial Herriot ini. Trus dijilid dua-dua jadi 3 buku. Buku pertama dan kedua jadi «All Creatures Great and Small».

Abis «Seandainya Mereka Bisa Bicara» berakhir, separuh bagian «All Creatures Great and Small» membahas bagaimana James kita bisa naksir putri seorang petani. Namanya Helen. Cuman James ini culun asli, jadi kerjanya serba salah melulu, dan bikin malu melulu. Tapi ujug-ujug, dapet juga dia akhirnya. Happy end. Tapi waktu mau nikah, Siegfried bikin ulah — dia ngasih order pemeriksaan TB untuk ternak. The show must go on. Abis pernikahan yang sederhana, pasangan baru itu mengawali hidupnya, berbulan madu di peternakan orang, memeriksa ternak satu-satu, dan Helen setia jadi asisten Harry Sufehmi, eh si James.

Errr … kalau ceritanya salah jangan protes yach. Aku nulisnya nggak sambil pegang bukunya sih.

Yet Another Visit to Books

Yet another visit to Pesta Buku Jakarta.
Yet another visit to Click ‘n’ Drag di Mangga Doea.
Yet another visit to QB-World, kali ini di Plaza Senayan.

Dan pulangnya masih sempat ngintip buku-buku di Amazon.
Sebenernya apa sih yang menarik dari buku. Sebenernya buku-buku itu udah nggak mempesona lagi, selain sebagai sumber informasi intensif (compared to majalah atau Internet yang menyajikan info sepotong-sepotong). Kayaknya kita lagi dikejar-kejar rasa bersalah aja, soalnya kita telanjur mengharuskan diri selalu lebih advanced setiap harinya.

Tiga Tahun Blogging

Ada berapa sih weblog personal punya orang Indonesia yang umurnya mendekati tiga tahun? Dan apa sih yang diceritain di weblog yang bisa bertahan lama gitu?

Tiga tahun, cukup untuk mengubah haluan. Mau bikin jurnal serius, malah jadi catatan harian. Mau bikin catatan harian, malah jadi ajang chatting. Mau bikin catatan ilmiah, malah jadi rubrik humor. Mau nulis rubrik humor, malah keasikan ketawa dan jadi lupa nulis.

Weblog ini, lucunya, fungsinya jadi sama dengan tiga tahun lalu, waktu mulai dibikin (tadinya dalam skrip PHP bikinan sendiri, sebelum dipindah ke Blogger): jadi misc notes.
Sempat sih, di tahun 2001, weblog ini jadi kantor berita buat aku yang males nulis email. Hal-hal yang biasanya didiskusikan rada detil di email jadi pindah ke weblog. Juga cerita-cerita dan foto-foto. Tahun 2002, weblog ini jadi mirror buat Dilbert, soalnya kisah keseharianku memang bikin aku jadi kayak prototype Dilbert. Tahun 2003, jadi … jadi gini lagi :).

Yang juga lucu, di setiap tahun, antara Maret s.d. April, aku selalu terpikir untuk mengakhiri catatan ini. Tapi nggak jadi lagi. Terlalu malas buat menutup catatan.

Yang jelas sih, kayak penulis buku «Surely You’re Joking, Mr Feynman», aku nggak menjadikan catatan ini sebagai semacam autobiografi, juga bukan tempat manifesto.

Aku belum cukup terbuka untuk bener-bener cerita tentang apa yang bener-bener aku pikirin setiap malam, apa yang aku kerjakan setiap hari, apa yang bener-bener pernah terjadi waktu aku kecil, dan apa yang mau aku lakukan di masa depan.

Barangkali … aku juga belum cukup terbuka untuk menceritakannya ke aku sendiri :D.

Essential C++

Stanley Lippman, penulis buku C++ Primer, selalu membanggakan buku tulisannya sebagai buku yang bersifat esensial bagi siapa pun yang mau mulai belajar C++. Memang kitab utama bagi programmer C++ masih buku Bjarne Stroustrup The C++ Programming Language. Tapi Stroustrup menulis untuk programmer, bahkan bisa kita bilang untuk programmer C++, bukan untuk novice yang masih meraba-raba pingin tahu kenapa ada tanda plus dua kali di belakang nama besar bahasa C.

Lippman tapi memiliki kelemahan yang sama dengan Stroustrup. Bukunya tebal tak alang kepalang. Tak nyaman buat generasi masa kini yang baca buku di KA dan bis kota sambil ngobrol renyah dengan teman-teman. Dia baru menyadari soal itu di Disney.

Lippman memperoleh proyek di Disney. Animasi sesuatu di film Fantasia 2000. Zaman dulu sih, waktu orang gampang dibikin kagum sama Star Wars, animasi dibuat dalam bahasa C. Sekarang C++ yang keren dan kokoh itu. Maunya. Tapi di proyek di Disney itu, mereka telanjur pakai Perl. Emang bisa sih konversi program Perl ke C++, tapi artinya kerja cukup lama untuk melakukan hal yang udah dilakukan. Jadi mendingan si expert aja, Lippman, yang dipaksa belajar Perl.

Waktunya? Nggak lebih dari satu hari.

Beruntung dia. Ada buku Learning Perl dari Randal Schwartz. Kita ingat, kitab utama Perl bukan buku Schwartz yang ini, tapi buku Programming Perl tulisan Larry Wall, yaitu Stroustrupnya Perl. Untuk yang baru belajar, memang lebih dianjurkan baca buku Schwartz. Dan buku ini tipis, simpel. Buat orang yang niat baca, semalam pun jadi. Jadi lah Lippman programmer Perl.

Tapi Lippman jadi mikir: sial bener ya orang kayak aku yang suatu hari terpaksa harus belajar bahasa C++ dalam waktu singkat. Buku buat pemulanya sama seremnya sama buku babonnya.

Dengan ide itu, dia mulai menulis versi Learning Perl untuk C++. Dan namanya adalah Essential C++, diterbitkan Addison Wesley. Bukan, bukan Additional Weasel. Itu mah Dilbert.

« Older posts Newer posts »

© 2026 Kuncoro++

Theme by Anders NorenUp ↑