Page 42 of 180

Koen Egois

Tentu kadang terlihat bahwa aku terpengaruh Sisyphus-nya Camus atau bahkan Faust-nya Goethe, biarpun aku lebih sering merasa terpengaruh Borges. Tapi jelas bahwa aku terlalu suka meracuni diri dengan Dawkins, Ridley, dll. Buatku, penjelasan tentang hal2 ruhaniah bukannya salah, tapi terlalu mudah dimanipulasi dan dijadikan tameng. Aku lebih suka melihat ketragisan sebagai keniscayaan materialis. Allâh mencipta, memberi bukan cobaan tetapi tantangan, dan kemudian menuntun kita sebagai insan dewasa, bukan kanak2 yang melulu minta disuapi. Allâh berbincang sebagai sahabat yang memahami kita, bukan yang menunggu kita memohon2 dan meramu2 doa.

Rekan2 di mail list teknologia@ sedang memperbincangkan soal disclaimer buat weblog. Buat aku sih, sejak beralih dari kuncoro.citeweb.net ke kun.co.ro, site ini sudah menjadi adult site, yang hanya boleh dibaca dengan kedewasaan. Bukan dari sisi umur, soalnya aku sering melihat orang berumur yang tidak bisa dewasa. OK, kita kembali.

Jadi kita asumsikan, bahwa sebagai pewaris tahta evolusi, manusia dan spesies lain di muka bumi ini memiliki sifat egois, baik secara langsung maupun tak langsung. Sistem sosial yang konon bersifat anti-egoism itu pun sebenarnya merupakan resultan dari game evolusi sosial panjang yang menghasilkan bentuk temporer yang paling pas untuk bertahan dan berkembang secara individual.

Jika kita secara individual mencoba untuk berlepas dari kepentingan pribadi: selamat. Ini ucapan selamat yang tulus, bukan ironi. Jiwa kita, yang juga hasil evolusi ini, ternyata bisa memiliki kemerdekaan. Bisa merayakan kehidupan sambil berlepas dari kepentingan mempertahanan hidup. Jadilah insan bebas, yang tidak harus terikat oleh kepentingan. Jadilah insan yang dapat menjadi pengamat perilaku manusia, tanpa bias oleh kepentingan. Jadilah insan yang menikmati dan merayakan kehidupan apa adanya.
Jangan mau tersiksa oleh penantian akan sentuhan hati manusia. Istilah semacam “balas budi” misalnya, adalah istilah perdagangan, bukan kemanusiaan. Lakukan apa yang kita mau. Biarkan manusia dengan hati masing-masing. Biarkan hatimu sendiri bersenyum.

Lalu ucapkan mantera ini: Give & Give.

Kemastel

“Kapan MMS bisa diadaptasi di CDMA?” gitu tanya seorang rekan, setengah tahun yang lalu.

CDMA di sini bukan mengacu ke metode akses tentu, tapi ke keluarga standar CDMA 2000 yang sekarang dioperasikan dalam merk Flexi, Esia, Fren, dan StarOne. Trus aku pun berceloteh panjang di tengah rapat itu. Buat apa memaksa masuk ke dunia GSM yang mulai ditinggalkan? MMS, dan juga WAP, hanyalah teknologi antara. SMS juga. Sekarang semua HP baru udah bisa melakukan akses web, email. Dan web berarti semuanya. Mail over web. IM over web. MMS over web, malau mau. SMS over web. Tapi kenapa nggak mengadopsi teknologi sederhana, semacam IM, over web?

Email, transfer gambar, transfer data, bisa dilakukan di atas IM. IM over IP, atau IM over web over IP. Dan IP over GPRS, EDGE, PDN (CDMA), WiFi, Wimax, dll. Artinya kita bisa bikin account yang bisa diakses dari mana pun. Dan IM tidak rumit. Plasa.com aja pernah punya, cuman nggak bisa mengembangkan dengan lebih kreatif. Dan account tidak harus mengikut ke nomor HP. Kalau kita punya beberapa nomor HP, orang bakal susah ngirim SMS atau MMS ke kita. Tapi kan kita bisa bikin single account untuk IM, dan orang tinggal mengirimkan apa pun ke account itu, nggak peduli dari mana kita buka. Dan nggak harus dari HP atau PDA.

Bentuk aplikasi over IP ini bisa luas dan terbuka. Chatting, conference, mail, file transfer, online game, kerja kolaborasi, apa pun yang saat ini bisa dilakukan di YM, MSN, dan berbagai web services.

Trus rancangan dilanjutkan sampai requirement kasar. Tentu, ini harus independen dari operator telekomunikasi. Biar nggak bias. Kalau misalnya produk ini dimiliki Telkom (yang bercita-cita punya komitmen ke customer), Indosat (yang bercita-cita punya sinyal kuat) nggak bakal mau pakai.

Trus aku bilang ke Pak Kemas: Namanya Kemastel aja.

Pak Kemas cuman mengangguk, masih mikir.

Aku tambahin: Soalnya kalau namanya Kuntel, nggak bakal ada yang mau pakai.

Pak Kemas langsung ketawa meledak. Dan terpaksa harus lari ke luar ruang, biar nggak ganggu rapat. Diskusi dinyatakan selesai.

Siegfried

Pagi, Bandung Timur bertirai kabut tipis lagi. Das Rheingold diiringkan. Kenapa tidak? Pasti lucu kalau tirai itu diperciki nyanyi peri sungai Rhein. Tapi waktu badan harus dibawa menembus kabut, Rheingold diteruskan di dalam kepala … sampai ke Siegfried. Berhenti dan berulang di Prelude dari Act 2. Udah lama nggak dengar versi asli yang ada di luar kepala :).

Udah waktunya kayaknya untuk becermin dari Prelude itu. Becermin atas kegalauan yang timbul selalu dari hati kita sendiri, dari hati yang bebas, kuat, dan merdeka. Dari sang diri. Disharmoni laksana ombak menyapu hati terus menerus. Melemah perlahan untuk datang lebih kuat. Terus menerus. Tentangan datang terus menerus menjelma badai. Membuat hati makin kuat, makin menjadi.

Dan tatkala ombak menjadi sayup, hati justru tak tentram lagi. Ada apa di balik kesayupan? Hati hanya siap hadapi tantangan. Hanya siap mencercah terang di tengah gelap badai. Hanya siap mencipta teduh di tengah nyaring keriuhan badai.

Hidup dari satu kegalauan ke kegalauan lain. Menghadapi satu tantangan ke tantangan lain. Bahkan sebelum kita sadar siapa kita sesungguhnya. Nilai kemanusiaan justru terletak pada jiwa petualangnya. Bukan sekedar pejuang yang melakukan pembelaan; tapi dalam arti berani memilih tantangan. Saat di atas dada masih terdapat tanda tanya besar.

Takdir, menjadi permainan kalkulus semesta yang menarik. Tapi Kekuatan Tuhan adalah sesuatu yang terintegrasi dalam diri kita. Maka setiap detik, kita memutuskan dan mencipta keajaiban.

Teh dan Ovarium

Kopi lagi? Sesekali teh aja deh :). Nggak adil kan kalau teh cuman disebut sekilas menemani kopi? Google news lagi, ke Reuter lagi, dan katanya: minum dua cangkir teh sehari secara dramatis (bener, Reuter bilang gitu) menurunkan resiko terkena kanker ovarium (indung telur). Kajian dilakukan di Swedia atas 61000 wanita, berusia 40an hingga 70an tahun. Kalau Anda bukan muridnya seorang KRMT (yang tidak bisa membedakan Sinar-X dengan infrared), Anda tentu tidak akan menanyakan: kenapa hanya wanita?

OK deh. Kajian dilakukan sejak 1987; dimana dua per tiga responden mengaku doyan teh. Resiko bagi wanita pedoyan teh itu, yang minum setidaknya 2 cangkir teh sehari, untuk terkena kanker ovarium, lebih rendah 46% dibandingkan yang emoh teh. Setiap tambahan secangkir, mengurangi lagi 18%. Ini berlaku untuk teh hitam dan teh hijau, yang sama2 mengandung antioksidan polifenol yang memperkuat daya tahan terhadap mutasi sel yang merupakan pencetus kanker. Kopi, yang merupakan saudara sepermainan teh, dikaji juga. Tapi tidak ada relevansinya dengan kanker ovarium.

Namun, orang2 Swedia itu mengakui, kajian ini harus diperdalam lagi.

TN&SS

Kopi, Liver

Kopi lagi. Reuters dan 48 site lain yang tercatat di Google News, berkampanye lagi tentang kopi. Dan teh. Konon mereka bisa mengurangi resiko kerusahan hati serius, yang biasanya diakibatkan oleh alkohon, kelebihan berat, atau kebanyakan zat besi; tetapi tidak yang diakibatkan oleh virus. Penelitian ini konon dilakukan oleh “National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases and Social & Scientific Systems, Inc.” (carilah di mana itu), diterbitkan oleh “American Gastroenterological Association journal Gastroenterology,” (cari juga di mana itu), ditokohi oleh Dr Constance Ruhl.

“While it is too soon to encourage patients to increase their coffee and tea intake, the findings of our study potentially offer people at high-risk for developing chronic liver disease a practical way to decrease that risk,” kata Dr. Constance Ruhl. “In addition, we hope the findings will offer guidance to researchers who are studying liver disease progression.”

Penelitian konon dilakukan pada 9849 peserta selama 19 tahun. Para peserta ini minum setidaknya dua cangkir kopi atau teh per hari.

Banyak “konon”-nya. Tapi biar deh. Satu lagi kopi malam ini, trus bobo …

Kopi, Memori, Atensi

Kunjungan ke Google-News membawa ke 67 site dengan berita senada hari ini: kafein dalam kopi, teh, dan cokelat dapat menstimulasi kawasan dalam otak yang mengatur ingatan jangka pendek dan perhatian. Sumber berita ini adalah sebuah penelitiah dari Austria.

Buat pedoyan kopi macam aku sih, ini bukan berita heboh. Udah pada tahu kok :). Buat para anti kopi, ini juga bukan berita menegangkan. Satu penelitian aja kok :). Tapi, ok, kita terusin dulu. Pakai bahasa Reuter aja yah. Males nerjemahin.

Functional magnetic resonance imaging scans performed on the brains of 15 subjects who had just consumed caffeine equal to that found in two cups of coffee showed increased activity in the frontal lobe where the working memory is located and in the anterior cingulum that controls attention.

“We are able to see that caffeine exerts increases in neuronal activity in distinct parts of the brain going along with changes in behavior,” said Austrian researcher Dr. Florian Koppelstatter of the Medical University Innsbruck.

Participants who were subjected to a 12-hour period without caffeine and a four-hour period without nicotine, another recognized stimulant found in cigarettes, were better able to remember a sequence of letters after consuming 100 milligrams of caffeine. Reaction times on short-term memory tests also improved.

Blogthings


Your Blog Should Be Purple


You’re an expressive, offbeat blogger who tends to write about anything and everything.

You tend to set blogging trends, and you’re the most likely to write your own meme or survey.

You are a bit distant though. Your blog is all about you – not what anyone else has to say.


Your Hair Should Be Purple


Intense, thoughtful, and unconventional.

You’re always philosophizing and inspiring others with your insights.


Your Eyes Should Be Brown


Your eyes reflect: Depth and wisdom

What’s hidden behind your eyes: A tender heart


Your Heart Is Pink


In relationships, you like to play innocent – even though you aren’t.

Each time you fall in love, it’s like falling for the first time.

Your flirting style: Coy

Your lucky first date: Picnic in the park

Your dream lover: Is both caring and dominant

What you bring to relationships: Romance


Slow and Steady


Your friends see you as painstaking and fussy.

They see you as very cautious, extremely careful, a slow and steady plodder.

It’d really surprise them if you ever did something impulsively or on the spur of the moment.

They expect you to examine everything carefully from every angle and then usually decide against it.

Sebuah Sore di Bandung

Sore yang ganjil. Mendung menggelapi Bandung dari timur. Nggak membadai kayak kemarin. Hujan pun nggak. Tapi dari pagi mendung tak putus menyelimuti Bandung. Aku masih duduk di meja kerjaku. Kelelahan abis sesi panjang di Gegerkalong membahas penyusunan materi pelatihan untuk Sinergi Telkom dan Telkomsel, yang disusul menulis artikel singkat atas request Tanti. Masih ada beberapa assignment, a.l. untuk menyelesaikan materi Speedy untuk pelatihan minggu depan. Pikiran nggak jernih, entah kenapa. Tapi aku merasa ada sesuatu yang berbeda. Bukan ganjil. Justru sesuatu yang terasa akrab. Sesuatu yang terasa merupakan bagian dari diriku, sedang berusaha kembali. Aku nggak tahu dari mana datangnya. Dari sudut mana. Aku berhenti dulu menatap layar komputer ini. Aku mengalihkan perhatian ke majalah2 yang baru datang siang ini: sebiji Spectrum, sebiji Computer, sebiji IEEE Wireless. Sesuatu itu nggak menghilang, tapi juga nggak mewujud. Aku ingin mengabadikan waktu ini. Waktu yang tidak istimewa sama sekali. Juga pasti bukan waktu yang tercatat dalam sejarah mana pun. Tapi keistimewaan waktu bukanlah pada peristiwa. Setiap waktu itu unik. Setiap waktu itu tak berulang. Dan biarkan aku menikmati waktu ini.

Di luar mulai gelap. Adzan Maghrib sudah bergaung. Aku masih duduk di sini. Di dalam frame waktu ini. Bersenyum. Kepada Tuhanku. Memintanya untuk tidak berlaku sebagai tuhan tetapi sebagai sahabat.

« Older posts Newer posts »

© 2026 Kuncoro++

Theme by Anders NorenUp ↑