Resminya serangkaian acara ini berjudul Kick Off Program-Program Cerdas Bersama Telkom. Berlanjut dari IGTS yang diluncurkan Telkom Divre III tahun 2004, Telkom meneruskan kampanye Internet ke pesantren, ke barak, dst, dan akhirnya dipandang perlu untuk meprogramkan kembali kampanye ini dengan lebih baik, mengerahkan hal terbaik dari produk dan layanan yang dimiliki Telkom. Lalu diluncurkanlah “Cerdas Bersama Telkom” ini. Di setiap daerah, tentu sifat kampanyenya berbeda. Di Kabupaten Banjar misalnya, bentuknya masih pengenalan Internet. Tetapi untuk kota sebesar Bandung, tentunya bentuknya bukan pengenalan lagi. Yang dianggap tepat adalah hal yang diseruserukan sebagai demokrasi informasi oleh golongan kiri, atau Web 2.0 oleh golongan kanan. Dan dimulai dengan blogging.
Kami memutuskan untuk mengundang evangelist blog Indonesia, Sdr Budi Putra, untuk memberi pencerahan tentang blogging kepada para siswa di Gedung Landmark Bandung, 22 Maret 2007, sebagai bagian dari acara kick off. Turut sangat aktif juga Sdr Ikhlasul Amal, evangelist blog yang memiliki semangat yang sama tingginya. Hari pertama, kami membuka dua sesi pelatihan, semuanya untuk siswa. Porsi pelatihan lebih banyak dipegang kedua evangelist itu, sementara pekerja Telkom bekerja sebagai support. Tapi Ikhlas yang selalu ikhlas terus bertanya: kenapa cuma 1 hari? Biasanya orang bingung cari fasilitas saat berminat membuka training. Di depan kita sudah ada fasilitas: kenapa disia2kan? Maka disiapkanlah pelatihan hari ke-2 untuk umum. Hari ke-3, ruangannya akan dipakai untuk diskusi bersama UKM.
Seperti sesi2 Telkom yang normal, tentu kami juga memberikan informasi produk2 Internet Telkom: Speedy, Telkomnet Instan, Telkomnet Flexi, dan Flexi WAP. Tapi, biar unik, kami tetap memberikan kesempatan kepada Ikhlas untuk bercerita — sebagai customer — terntang produk Telkom ini; tanpa tambahan apa pun dari Telkom. Telkom juga mesti belajar berdemokrasi informasi, kan? :)
Beberapa screenshoot (sesuai arah baca tulisan):

- Beberapa siswa siswi sesi pagi
- Ermadi Dahlan (Direktur Konsumer) melakukan kickoff
- Beberapa siswa siswi sesi siang
- Budi Putra memberikan petunjuk blogging dengan WordPress
- Afianto (Mgr Marketing Jabar) memberikan gift kepada blogger tercepat
- Afianto menyusun rencana lanjutan dengan Ikhlasul Amal
- Ikhlasul Amal di sesi untuk umum
- Peserta umum
Yang dibahas tentu bukan cuma soal blogging. Ada banyak dunia di luar blogging :). Tetapi, keluar dari Citiwalk, kami berdua menghadapi ribuan siswa seBandung Raya yang berpawai membawa obor. Braga Lautan Obor? Tentu tidak. Ini adalah cara siswa siswi Bandung menunjukkan bahwa Bandung tak pernah kehilangan semangat asalinya: BANDUNG LAUTAN API.
Buku ini unik. Menyembunyikan kelengkapan dalam kesederhanaan. Lebih mirip kumpulan feature daripada paparan imiah, sehingga enak dicerna dalam waktu senggang sekalipun. Cerita CDMA dimulai dengan Hedy Lamarr, pemegang patent frequency hopping (lengkap dengan gambar skema), sekaligus pemain film bugil pertama (lengkap dengan foto), yang latar belakang patriotiknya mendorongnya mengembangkan ide CDMA ini. Kemudian Claude Shannon yang teorinya dapat digunakan untuk mengembangkan konsep komunikasi spread spectrum. Dan tentu Irwin Jacobs yang mengusung teknologi CDMA melalui Qualcomm. Dan sejarah digulirkan.
Saat mulai bermain dengan relativitas, Einstein mulai berbagi narasi bahwa waktu adalah dimensi yang sama dengan ruang. Dan dengan demikian ia mulai selau menulisnya sebagai besaran dimensi zeit-raum yang tunggal. Meneruskan permainan relativitas dan efek fotolistrik, ia berbagi diskursus yang lebih menarik: materi dan energi adalah entitas yang sama. E=mc2, dengan c sebuah tetapan yang hanya mengkonversi satuan. Tapi kalau ruang dan waktu memang sama, kenapa c harus punya nilai dan satuan. Berikan saja nilai 1. Kalau perlu satuan, c = 1 kaki per nanodetik :). Tapi kalau c tanpa satuan, kita bisa bayangkan bahwa waktu 1 nanodetik setara dengan jarak 1 kaki :) :). Kita teruskan dengan E = m. Kita bisa bercerita tentang massa sekian GeV tanpa harus mengkonversikan dalam hati menjadi kg. Dan, oh, kalau memang massa dan energi memang harus punya satuan (katakan eV), maka baik jarak maupun waktu sebagai dimensi ‘sebenarnya’ dapat dirumuskan sebagai inversi dimensi massa atau energi. Dengan demikian satuannya adalah eV-1. Kemudian … banyak hal2 menarik dari sini :), asal nggak terantuk sama angka 137.
Memang jadi ada waktunya semua itu dilepas: konsep, komitmen, legenda, visi. Dan biarkan pikiran ini mengaliri segala jalan besar hingga celah sempit yang kita temui hari ini, saat ini, detik ini. Biarkan juga ide-ide jadi frame-frame sporadik yang mencuat ke sana kemari dalam permainan warna yang indah berpola seperti permainan lampu di jalan raya, berpadu dengan percikan air di sungai bersemu coklat dan kenangan yang menarik secara hitam putih ke tenggara dan barat daya. Dan biarkan Debussy menyentak jiwa dengan musik yang pernah dinamai impresionistik itu (entah kenapa).
Para pedoyan buku akan paham bahwa buku Blink memotivasi kita untuk mengasah kembali kepekaan nalar halus kita. Ada yang menggerakkan nalar halus kita itu untuk mengambil pilihan paling baik dan paling tepat, dan ini terlihat dari gejala fisik. Tangan kita berpeluh lebih saat kita mengambil keputusan yang salah, kata Blink, sebelum daya analisis kita akhirnya (jika belum terlambat) memahami bahwa keputusan yang diambil itu salah. Think berpikir sebaliknya. Sempitnya waktu dan derasnya beban membuat kapasitas manusia berpikir kritis makin melemah. Manusia mengambil keputusan2 instan hanya berdasar pikiran spontan, sementara jika kita mau meluangkan waktu untuk menganalisis lebih teliti, kita akan dapat menemukan faktor-faktor kritis yang membantu kita mengambil keputusan.
