Bandung. Gagal malakin Ziggyt di Jakarta, aku malahan duduk di sebelah saudara-nya Ziggyt di KA Parahyangan Jakarta-Bandung (tempat aku kehilangan kacamata seminggu sebelumnya).
Page 205 of 211
Cerita-cerita Interpretasi Kopenhagen, tapi sama sekali lupa menyebut si pak tua Einstein. Sebetulnya mekanika kuantum dikembangkan setelah pak tua ini ‘menemukan’ foton, waktu dia menjelaskan efek fotolistrik, menggunakan tetapan Planck (dan dia memperoleh hadiah Nobel karena ini).

Tapi Interpretasi Bohr dan Heisenberg atas kuantum ditentang habis-habisan oleh Einstein. Memang ada yang tidak kompatibel antara teori kuantum dengan relativitas. Yang lucu, di tahun 1950-an, David Bohm dll menemukan bahwa efek fotolistrik dapat dijelaskan tanpa harus mengasumsikan cahaya sebagai foton. Dan yang juga lucu, di tahun 1990-an, para ilmuwan menemukan bahwa interpretasi Bohr juga ternyata tidak sepenuhnya benar. Alam semesta memang jauh lebih menarik daripada tafsiran dan mimpi kita yang paling liar sekalipun.
Udah lama nggak ke site Astronomy Picture of the day. Barangkali aku kebanyakan think locally act locally yach.
Masa?
So you speak to me of sadness
and the coming of the winter
Fear that is within you now
it seems to never end
And the dreams that have escaped you
And the hope that you’ve forgotten
You tell me that you need me now
You want to be my friend
And you wonder where we’re going
Where’s the rhyme?
Where’s the rhytms?
It’s you who cannot accept
It is here we must begin
to seek the wisdom of the children
And the graceful way of flowers in the wind
For the children and the flowers
are my sisters and my brothers
Their laughter and their loveliness
would clear a cloudy day
Like the music of the mountains
and the colors of the rainbows
They’re a promise of the future
and a blessing for today
— John Denver’s “Rhymes and Rhytms”
Kekejaman-kekejaman atas manusia di Palestina …
Buat melengkapi Kosmologi Qurani di site ini, perlu dibaca juga Konsep-Konsep Kosmologis dari Prof Achmad Baiquni. Kalau udah ke sana, sekalian intip Konsep-Konsep Antropologis dari Jalaluddin Rakhmat.
Listening = 6; Writing = B+ & A-; Reading = 7. Degrading in performance. But I don’t think so. It’s just about a little part in a great pattern :) :). Errr … and I still have very low confidence in speaking.
Jakarta. However, we must admit that even the most beautiful patterns are composed by disorders. A great number of disorders.
Rhapsodhy in Blue dari Gershwin, memainkan irama yang menggambarkan chaos yang lagi berkeliaran di pikiran, dengan obat-obat keras yang lagi bekerja berkeliling pembuluh darah dan ujung-ujung syaraf. Aku hancur, kacau, lebur, berserakan, tapi nggak bisa diam, nggak mau tenang, dan terus berputar …. menanti sang disorder mewujud pola. Duuuuh … orang flu itu mikir apa aja siiiiih …
Interpretasi Kopenhagen yang asli ditulis Bohr (bukan yang aku tulis di catatan ini beberapa minggu yl) sebenarnya menyatakan bahwa setiap obyek sebenarnya berada dalam semua posisi gelombang probabilitas yang dimungkinan oleh karakteristiknya, namun jika dilakukan observasi pada obyek itu, maka fungsi gelombang runtuh, dan tertinggallah sebuah obyek yang teramati. Maka jika kita mengamati elektron, elektron itu akan tampak; tetapi waktu kita tidak mengamatinya, sebenarnya elektron itu hanya ada dalam bentuk probabilitas. Lalu si pengamat sendiri hanya bisa dibilang ada karena interaksinya dengan pengamat/manusia lain.
Lalu Hawking dkk mempertanyakan: jika demikian, semesta kita ada karena ada sesuatu dari luar semesta ini yang sedang mengobservasi kita.
Begitukah?
