HUT Ziggyt. Call Ziggyt sebentar. Gimana caranya talk tentang banyak hal dalam waktu beberapa menit? Kayaknya … nggak tau yah … aku lagi dalam posisi untuk melupakan semua hal, dan cuma mau berfokus ke masa depan. Kali talk lagi aja sama Ziggyt tentang plan-plan masa depan.
Page 206 of 211
Listening = 6; Writing = 6; Reading = 8. Must practicing hard nih.
Frankly, the name Edwin Suchranudin reminds me to Erwin Schrödinger. There is something funny about this uncle Erwin. Other scientists used to think seriously while working in their labs. But uncle Erwin got his greatest idea when he was … ummm … in the mood. You know what I mean.
Visit the library, and have some interesting books. The first one is Schrödinger’s kitten, which makes me curious about its relation to Schrödinger’s cat mentioned several times in quantum mechanics. The other one is Introduction to Chaos.
Ngedengerin Siegfried Idyll ternyata bener-bener bikin relaks pikiran yang lagi suka kusut. Tapi … lucunya … nggak bisa mengurangi homesick, malah nambah. Apalagi weekend ini aku beneran nggak jadi ke Bandung. Ada acara aqiqahan anaknya Dewi. Namanya Zacgo Akbar Alkautsar a.k.a. si Jack :) :). Mudah-mudahan besok si lembut hati ikut nyusul ke Jakarta. I miss her so much.
Essay … essay … essay. I think I must create another channel, specially for 20 minutes or 40 minutes. This moments I have to train myself writing essays on anything (er … everything). What’s the best title for it?
And actually … we don’t even have to explain that disclaimer.
We need to express what we want to express, without the fear of being labeled anything. Why shouldn’t ordinary people like me wrote about quantum mechanics, about music philosophy, about mismanagement, or about anything. We don’t have to be wise just to express anything.
Aku udah merasa perlu bener sama semacam pengkondisian pikiran, yang kalau di Bandung bisa disusun dengan komposisi-komposisi tertentu. Siang ini aku ngebayangin kalau bisa ngedengerin Petrushka, salah satu komposisi disonan dari Stravinsky. Pas bener sama suasana keseharian Jakarta. Kegalauan kolektif yang didorong paksa menuju dinamika yang berderap; dan keberisikan batin yang barangkali saling meresonansi.
