Suntuk sama assginment, terus nyoba main-main ke Waterstone’s. Tapi masih tutup. Jadi main ke Waterstone’s Online aja. Wah, kalau tiap suntuk terus belanja buku, serem juga nih. Pelarian kok buku lagi buku lagi.
Page 191 of 211
Demo mahasiswa menyelimuti Jakarta untuk menurunkan presiden Abdurrahman Wahid. Presiden panik, menyusun pertemuan kabinet, tapi membubarkannya beberapa menit kemudian. Massa PKB didatangkan untuk membela presiden.
Aku bener-bener nggak care dengan para politisi Indonesia. Tapi kapan sih rakyat boleh hidup tenang dari gangguan para politisi?
“Sayangnya, bangsa Indonesia ini suka lari ke fisik. Kalau otaknya tidak kerja maka yang kerja okol. Inilah yang merusak ukhuwah itu. Padahal, penyadaran ukhuwah itu penting untuk saling menghormati,” kata ustadz Nurcholish Majid.
Kali-kali bangsa Indonesia bakal dikenang sebagai bangsa okol. Apa-apa pakai adu fisik: dari urusan partai, urusan sepakbola, urusan ras, bahkan urusan agama. Masa sih urusan agama bisa dijalankan dengan kebiadaban?
Kalau Allah menghendaki, disebutkan di Quran, maka semua manusia akan berjalan lurus di jalan yang dikehendaki. Soalnya adalah bahwa Allah memang menyusun semesta dengan kompleksitas yang menarik seperti ini, sehingga manusia tertantang untuk memaksimalkan potensinya untuk memecahkan masalah-masalah.
Tapi manusia Indonesia malas memanfaatkan potensi kecerdasannya. Maunya sih asal tubruk, satu arah, dan akhirnya jadi bangsa okol.
Terusir lagi dari Q122. Dan memang udah suntuk bener di depan komputer. Jadi iseng jalan-jalan sepanjang Far Gosford Road. Di pinggirnya banyak ruko-ruko kecil. Ngintip etalase-etalase, pingin tau apa sih yang biasanya dicari orang Coventry. ATM, toko buku kecil, supermarket kecil, kantor pos kecil, toko komputer kecil. Nggak beda jauh sama Antapani ;). Ada semacam pet shop. Banyak kandang burungnya. Ada kucing belang hitam putih gemuk lagi bobo di atas kandang burung. Keliatannya nyaman, hangat. Jadi pingin balik ke rumah mungilku di Bandung. Rumah yang hangat dan nyaman. Dan ada makhluk manisnya. Duh, masa sih aku iri sama si pus ?

Di Q122 aku punya tempat duduk favorit. Dekat pintu, jadi kalau haus bisa cepat keluar; dan dekat printer, jadi nggak harus capek kalau mau ngeprint. Asiknya, teman-teman aku suka nanya-nanya ke aku kalo punya masalah dengan printer. Kali-kali soalnya aku duduk paling dekat sama printer. Tapi lama-lama mereka konsultasi soal-soal lain, termasuk komputer yang nggak bisa login, cara bikin account email, dan bahkan cara bikin presentasi dengan PowerPoint (kayak aku pernah pakai PowerPoint aja). Dan yang menarik, lama-lama yang nanya-nanya bukan temen aku aja, tapi orang-orang yang nggak aku kenal juga.
Masalahnya adalah bahwa ruang ini nggak pernah ada adminnya. Kali-kali akhirnya aku bisa mendaftarkan diri jadi admin di ruang Q122.
Ngobrol dengan temen dari Libya. Bukan dari program Telekomunikasi sih, cuman ketemu di Q122 aja. Libya ngirim 7 orang untuk engineering management aja. Kayaknya itu negara lagi mau bangun lagi nih. Aku pernah salut sama sistem sosialis ala Libya. Cuman aku nggak suka sistem yang berpusat di satu orang sih. Suka macet di tengah jalan kayak Libya :).
Kena assignment kayak gini, otak kok kayaknya jadi blank yach :). Akhirnya aku jalan-jalan aja ke pusat kota, di bawah gerimis beku. Hey, aku baru liat pasar tradisional Coventry. Lucu bener. Mirip-mirip sama Pasar Besar di Malang. Baunya juga, haha, persis.
Balik, masih pusing, melayapkan diri ke Waterstone’s, toko buku yang lumayan bagus di sini. Masih di pusat kota. Berlama-lama memelototi Feynman. Pingin juga nulis-nulis yang aneh-aneh kayak dulu. Ambil sebiji buku Gribbin, The Case of the Missing Neutrinos. Mudah-mudahan otakku mau bangun.
Gempa di India hari Jumat kemaren ternyata lebih parah dari yang aku kira. Antara 20 sampai 30 orang meninggal, dan 200 ribu orang kehilangan tempat tinggal. Angka-angka hanya bakal jadi statistik (itulah sebabnya aku nggak percaya statistik). Cuman gimana rasanya kehilangan rumah dan kota tanpa punya alternatif tempat tinggal, sambil kehilangan keluarga dan orang-orang dekat kita? Di luar dingin sekali. Air separuh beku menusuki kulit. Dan di dalam, hati jadi dinginnnn sekali.
Dan di Indonesia, orang mempertengkarkan hal-hal yang tidak ada gunanya: visi, agama, ras, kedudukan, presiden, dan hal-hal remeh lainnya. Bangsaku memang dikenal paling tidak bisa bersyukur.
Cuaca cukup ekstrem. Pagi-pagi, masih banyak butiran es dari embun yang beku. Tapi matahari merah langsung menghapus semua bercak putih es. Suhu hangat, kalau kita diam, tapi dingin kalau kita bergerak. Kelinci-kelinci cokelat abu-abu yang gemuk-gemuk mulai berani keluar dan berlarian di taman. Kenapa coba, aku harus bikin assignment. Kayaknya enakan ngejar-ngejar kelinci.
Tapi selera makan masih rendah sekali. Kebayang juga, kenapa tentara Romawi nggak mau berlama-lama di Anglia. Makanannya rasanya … ampunnnnnnnnnnnnnnn. Kalau di Bandung aku paling ogah minum Pepsi, di sini Pepsi jadi minuman favorit. Minuman laen rasanya juga ampunnnnn …
