Page 189 of 211

2369592

Dalam waktu beberapa menit, harus cari judul buat Final Project. Aku juga nggak tau, pa kalau dikasih waktu yang rada panjang, aku bakal bisa berpikir lebih jernih. Kan waktu tidak mengubah level kesesatan (oops). Kayaknya aku coba bikin kajian atas network generasi berikutnya di Indonesia, yang dibangun atas konvergensi ATM dan IP. Tapi arahnya masih bisa aku ubah sih, cuman temanya nggak bakal jauh dari situ.
Nggak jauh-jauh amat dari tema yang dibawa Site Komunikasi.

2346594

Ngeliat daftar assignment berikutnya. Maunya sih menelan ludah dalam kekakuan, tapi ngeliat wajah-wajah pucat temen-temen, aku malah jadi pingin ketawa. Bener nih, kayaknya kita harus mainan mental-frame lagi biar nggak akan tegang selamanya.
BTW, lucu juga liat website-website kita dengan browser-browser kuno. Bisa diintip di Deja Vu.

Beaver

Di sekitar-sekitar sini kira-kira ada berang-berang nggak ya ? Kayaknya enak kalau weekend gini cari danau yang ada berang-berangnya, terus seharian mengamati berang-berang. Ato nggak, berang-berangnya yang mengamati manusia pengangguran yang duduk di danau seharian.

2321590

Propinsi Banten kebanjiran, gunung Merapi meletus. Kalau pulau Jawa itu jadi perahu, bagian tengahnya lagi terbakar, dan anjungannya lagi bocor. Nahkodanya sibuk menyelamatkan kedudukan.

Mematikan Waktu

Abis satu jam penuh di washingroom, termasuk seterika. Diiringi Siegfried Idyll, yang kali ini nggak terasa terlalu istimewa. Romantis, masih. Tapi aku lagi dipaksa jauhan sih, mana bisa menghayati iringan Siegfried dan Brunnhild ini. Babak awal Tristan und Isolde juga nggak terlalu menarik lagi. Aku lagi memiliki muatan unresolved problem yang rada gede, nggak bisa ditambahin muatan Tristan. Satu jam, musik balik lagi ke Parsifal, pas waktu aku keluar washingroom.

Waktu aku matikan, dan aku ikut membeku di tengah jalan yang dikelilingi pohon-pohon mematung, dengan Parsifal yang dahsyat mewarnai langit. Langit ikut tertenung, hanya diam tanpa suara, tanpa warna.

Beku Parsifal

Weekend lagi. Keluar ruang (ke Washington — biasa) ditemenin kaset Wagner aku yang pertama, yang udah pabaliut. Terpasang Parsifal.

Biasanya Parsifal nggak terlalu istimewa. Tapi hari ini ada yang terasa lain. Parsifal terasa pas mengiringi pohon-pohon tanpa daun yang tegak membeku di tepi jalan yang dingin dan senyap. Hanya dingin yang membekukan, tanpa angin, hujan, atau es. hanya kebekuan.

Dengan Parsifal, kebekuan terasa memiliki kekuatan yang merengkuh semesta. Sekali lagi Wagner menunjukkan kekuatannya mewarnai semesta.

2310813

Abis Jumatan, iseng-iseng ke Herbert Art Museum. Lagi ada pameran seni pahat. Biasanya sih, di museum orang nggak boleh pegang-pegang. Tapi yang ini unik. Pahatannya dimasukin kotak. Kalau kita mau mengapresiasi, kita harus ngeluarin dari kotak, terus kita pegang-pegang seluruh permukaanya (potongannya, teksturnya, dan juga beratnya yang beraneka macam) sampai merasakan sensasi yang mentransferkan ide yang mau disampaikan si seniman.
Si seniman (yang tumben aku bisa lupa namanya) berasal dari Afrika Selatan. Aku jadi punya kesan aneh. Kali-kali dia bikin karya seni macam gitu, soalnya dulu di negaranya orang dinilai berdasarkan warna kulit, berdasarkan penglihatan sekilas. Mungkin dia pikir seharusnya orang-orang harus dimasukkan ke kotak, dan untuk mengenalinya diperlukan pendalaman atas karakteristik pribadi per pribadi yang bebas dari prasangka penglihatan.
Kali sih, biarpun mungkin sebenernya maksud dia bukan gitu. Soalnya di atas tiap kotak nggak ada tulisan latin. Yang ada huruf Braille.

2306001

Setiap penemuan yang merupakan revolusi, adalah cetusan dari sekumpulan penemuan yang barangkali tidak langsung berhubungan. Tahun 1940-an, Avery menemukan bahwa DNA berkaitan dengan reproduksi sel, tapi tidak bisa mengkaji lebih jauh. Hampir bersamaan, Shannon menemukan bahwa informasi adalah korelasi atas entropi. Hampir bersamaan juga, Turing menggagas ide bahwa sekumpulan bilangan (informasi) bisa dipakai untuk mengolah bilangan (informasi) lainnya. Ide-ide yang terpisah kemudian membentuk diskursus bersama, dan baru orang menyadari bahwa keteraturan DNA itu membawa informasi genetik, dan informasi di dalam DNA bisa dipakai untuk mereproduksi dirinya sendiri dan organisme yang diinformasikannya.

2296785

Hari ini ngebahas teori Shannon soal informasi dan entropi. Udah lama nggak mainan ginian. Tapi aku jadi inget debat seru dengan JH tahun 1997 kemaren, waktu dia ngebelain NS di list is-lam. JH menggugat istilah propaganda yang dikenakan pengurus Isnet pada NS, dan lebih suka memakai istilah penyampaian informasi. Aku sendiri lupa persisnya aku jawab kayak apa. Di site Catatan Multidimensipun udah nggak ada, soalnya aku hapus bagian-bagian yang bisa bikin orang mengenang pertentangan-pertentangan. Tapi aku inget, aku iseng bikin kamus dadakan. Bahwa nilai informasi itu berkait dengan perubahan. Kalau setiap pagi kita bilang “Hai”, maka kata “Hai” kita nggak punya nilai informasi lagi. Dan itulah yang dilakukan NS: mengirim pesan dari perspektif yang sama setiap hari, tanpa mau mendengar umpan balik. Nilai informasi jadi nol. Itu cuman jadi propaganda.
Kalau Amien Rais mengkritisi Durahman, kalau orang PKB mengeluarkan pernyataan membela Durahman, kalau orang NU menghujat Amien Rais, kalau mahasiswa mengeluarkan kata-kata kasar ke pemerintahan, itu semuanya nilai informasinya nol. Jadi hari-hari ini aku nggak dapet informasi apa pun dari Jakarta.
Entropi di Indonesia udah terlalu tinggi.

2282732

Kenapa Interpretasi Kopenhagen ciptaan Niels Bohr bisa bertahan sampai setengah abad dalam menafsirkan Teori Kuantum? Konon ini karena kesalahan fatal dari John von Neumann. Yup, matematikawan besar itu. Dan orang besar membuat kesalahan besar :). Salah satu pesaing Interpretasi Kopenhagen adalah teori karakteristik tersembunyi, yang menyatakan bahwa bagaimanapun partikel seperti foton maupun elektron punya sifat yang dipegang setiap saat, hanya mereka menunjukkan sifat itu sesuai dengan apa yang bisa dilihat pengamatnya. Salah satunya (lagi) adalah teori punya Louis Victor de Broglie yang mencoba menjelaskan bahwa setiap materi memiliki sifat seperti gelombang. Tapi Neumann memberikan hasil kalkukasi yang menunjukkan bahwa teori karakteristik tersembunyi itu salah. Sejak itu orang tidak lagi punya nyali untuk melawan Interpretasi Kopenhagen.
Baru tahun 1960-an, orang menemukan kesalahan fatal Neumann. Salah satunya, dia mengambil nilai rata-rata dari hasil pengamatan. Dengan tingkat variansi yang besar seperti itu, semestinya orang tidak boleh melakukan pemukulrataan. Justru seharusnya teori kuantum bermain juga di variansi *hihihi*.
Kemudian setelah itu orang-orang baru melongok tandingan Interpretasi Kopenhagen, yang antara lain diajukan David Bohm.

« Older posts Newer posts »

© 2026 Kuncoro++

Theme by Anders NorenUp ↑