Alain Aspect mengulang eksperimen Einstein. Eksperimen Einstein itu
sebenernya khayalan, dan rumit. Aspect membawa ke realitas. Dua foton
kembar yang diciptakan dalam sebuah reaksi dilontarkan ke arah yang
berlawanan (mirip amplop berisi foto kucing itu). Kedua foton kemudian
diukur polaritasnya secara bersamaan. Nyarislah. Tapi sedekat apa pun
hasil pengukurannya, kedua detektor menghasilkan kesetujuan. Mengikuti
Bohr, artinya kedua foton itu, waktu diamati, kolaps ke keadaan yang
sama. Mereka berkomunikasi dengan sesuatu yang lebih cepat dari cahaya.
Kemungkinannya (1) ada komunikasi yang lebih cepat dari cahaya atau
(2) kondisi alam semesta tak terpengaruh oleh pengamatan. Alt 1 = Einstein
salah; alt 2 = Bohr salah. Tapi kalau Bohr, salah bukan berarti mekanika
kuantum harus salah. Maka mereka menanyakan, kenapa nggak kembali ke de
Broglie.
Page 152 of 211
Ilmuwan kuantum yang pertama menentang interpretasi Bohr adalah de Broglie.
Padahal, de Broglie juga yang mula-mula mengusulkan formulasi partikel
sebagai gelombang. Tapi waktu Bohr menginterpretasikan bahwa elektron,
misalnya, adalah gelombang yang kolaps menjadi partikel waktu diamati,
de Broglie menolak.
Ide dasar de Broglie adalah bahwa setiap ‘partikel’ adalah partikel :).
Tapi karakteristiknya tergantung dari pilot wave yang menjalankannya.
Ini adalah ide pertama tentang variabel tersembunyi di abad 20.
Ide de Broglie kemudian dijatuhkan oleh persamaan von Neumann. Sayangnya
persamaan von Neumann ini baru terbukti salah sekian puluh tahun
kemudian, oleh John Bell.
Bagaimanapun, soal kucing ini cuman candaan lama. Lama sebelum Feynman bermain dengan foton yang melaju dalam waktu maju mundur, lebih lama sebelum QED, dan jauh lebih lama sebelum teori string dan gravitasi kuantum.
Berlalunya waktu, kata Bob si Dinosaurus, bukan memecahkan masalah, tetapi membuat masalah jadi bukan masalah lagi. Setiap zaman punya masalah tersendiri ;) ;) ;).
Biarpun kesannya Eliot berbasa basi, tapi aku pikir ada bedanya catatan Eliot ini dengan cerita kucing Schrödinger yang asli. Misalnya si setelah sekian detik ada kamera di dalam kotak yang memotret si kucing, dan mencetaknya dua kali, serta memasukkannya ke dalam dua amplop terpisah. Kedua amplop dikeluarkan dari kotak dalam keadaan tertutup. Kotak tidak pernah dibuka lagi. Kedua amplop dikirim ke dua ujung semesta yag berbeda. Kalau perlu ke semesta yang berbeda :). Setelah sekian tahun, kedua amplop dibuka.
Kalau mengikuti Eliot, kedua gambar menunjukkan gambar yang sama, yaitu kucing hidup atau mati. Tapi kisah asli Schrödinger mestinya memungkinkan bahwa satu amplop berisi gambar kucing hidup dan satu lagi bergambar kucing mati, karena kondisi kucing baru kolaps saat amplop dibuka. Tapi apapun hasilnya, kita harus mengasumsikan bahwa kedua gambar menunjukkan gambar yang sama. Kita tidak bisa membuktikan sebaliknya. Kalau ada cara untuk membuktikan, maka waktu satu amplop dibuka, isi amplop kedua (yang entah di mana itu) juga kolaps.
TS Eliot sebenernya agak sirik dengan kisah kucing Schrödinger. “Si kucing itu juga pengamat,” katanya. Tapi lebih lanjut dia meneruskan bahwa maksudnya bukannya si kucing itu dimanusiakan. Pada saat sesuatu punya potensi untuk diamati (di masa depan sekalipun), pada saat itu fungsi gelombangnya kolaps membentuk “realitas”. Jadi bahkan tanpa kucingpun, sebenarnya fungsi gelombang sudah dikolapskan oleh detektor elektron.
Sebenernya bukan lagi membahas mekanika kuantum sih. Duh, udah ketinggalan satu abad. Cuman di masa-masa itu, pembahasannya begitu menarik dan filosofisnya, jadi menarik buat diamati. Bukan mekanikanya, tapi bagaimana manusia-manusia berpikir untuk memecahkan masalah yang tampak muskil itu.
Dan ini selalu applicable di jaman apa pun ;).
Einstein bilang, kalau mekanika kuantum itu benar, berarti dunia ini gila.
Lalu Daniel Greenberger menyimpulkan: Einstein memang benar. Dunia ini gila.
Mekanika kuantum dimulai waktu rentetan eksperimen membingungkan para fisikawan.
Ilmuwan: Apa cahaya itu gelombang ?
Alam: Ya.
Ilmuwan: Jadi cahaya bukan partikel !
Alam: Tidak.
Ilmuwan: Jadi cahaya itu partikel ?
Alam: Ya.
Ilmuwan: Jadi partikel itu gelombang ?
Alam diam.
Ilmuwan: Misalnya elektron. Apa elektron itu partikel ?
Alam: Ya.
Ilmuwan: Apa elektron itu gelombang ?
Alam: Ya.
Ilmuwan: Partikel hanya bisa ada di satu tempat kan ?
Alam: Ya.
Ilmuwan: Gelombang bisa menyebar mengisi ruang kan ?
Alam: Ya.
Ilmuwan: Jadi elektron ada di satu tempat dan di banyak tempat ?
Alam diam.
Ilmuwan: Saya bikin mekanika kuantum aja deh.
Para ilmuwan pun memiliki keterbatasan diskursus. Semesta tidak dapat diamati, selain hanya dengan perbandingan dengan domain-domain
dan relasi-relasi yang ‘dirasa’ telah dipahami ;). Fisikawan John Wheeler mengumpamakan pembentukan logika para ilmuwan, yang didukung
berbagai ujikaji itu, seperti tanya jawab dengan alam semesta, yang hanya dijawab dengan ya dan tidak. Alam tidak pernah memberikan
wacana. Wacana disusun dari filosofi yang dibentuk manusia berdasar pengalamannya, yang berdasar dari pengamatan sebelumnya saja.
Ilmuwan hidup dengan analogi ;).
Trus inget cerita dari William Saroyan tentang masyarakat Armenia.
Tokoh cerita ini, seorang adik, ingin bisa naik kuda. Dan suatu malam si kakak memamerkan kuda putih ke adiknya. “Kamu curi dari mana ?” tanya si adik. “Apa kau tahu aku pernah mencuri?” tanya balik si kakak. Lalu tiap malam mereka berlatih dan bermain dengan kuda putih itu.
Tapi suatu pagi seorang tetangganya melihat mereka bermain kuda putih itu. “Mirip kudaku yang hilang,” katanya. Ia minta izin memeriksa giginya. “Sungguh mirip sekali sampai gigi-giginya.” Tatapannya sedih. Lalu ia mengubah suaranya jadi riang dan melanjutkan, “Tapi aku lebih percaya hatiku daripada mataku. Selamat jalan sahabat muda.” Dan kakak beradik itu melanjutkan permainan dengan kuda putih.
Tapi suatu malam si kakak berkata pada si adik, bahwa tidak ada sesuatupun yang abadi. Termasuk kuda putih itu. Si adik mencoba mengerti. Bagaimanapun banyak yang telah ia dapatkan bersama kuda putih itu. Orang tidak boleh serakah. Maka malam itu si kakak pergi bersama kuda putih dan kembali seorang diri.
Di tengah hingar bingar pagi, si tetangga dengan takjub menceritakan bahwa kudanya yang telah lama hilang, telah kembali ke kandangnya. Finish.
Kita memang bukan kumpulan orang suci, dan nggak bercita-cita jadi orang suci. Tapi kejahatan juga jauuh sekali di luar pikiran kita.
