Salah satu pernik masa perang dingin adalah Katyusha. Ini adalah peluncur roket (dengan kemampuan luncur banyak roket) yang dibangun masa awal Perang Dunia II, dan di tahun 1980an dulu sering digunakan bangsa2 timur tengah, saat Uni Soviet masih mendukung persenjataan mereka, hanya untuk mencegah meluasnya pengaruh Amerika Serikat (bukan saja melalui Israel) di kawasan itu. Di awal 1990an, waktu aku pertama kali punya notebook (dan sekaligus pertama kali punya komputer sendiri), aku menamai sistem itu Katyusha. Dan memang banyak yang diluncurkan dari situ :)

Katyusha berpindah tangan ke Oom Jos (sorry, aku membuat konsensus sama Kukuh untuk saling memanggil Oom, jadi semuanya harus ikut tercemar jadi Oom dan Tante juga, wekk). Dan aku harus beli notebook kedua. Karena ini adalah copy yang sama, aku menamainya Katyusha II. OK, aku harus mengakui, waktu itu aku lagi nggak kreatif cari nama. Tapi dengan Katyusha II ini aku pertama kali in touch dengan Internet. Dan peluncuran-peluncuran masih berlangsung. Katyusha II ini masih menggunakan Windows 3.1, biarpun ia masih hidup mendekati Abad XXI ini. Tapi spec-nya tak menarik lagi untuk dibawa ke Coventry, di mana aku menghabiskan tahun pertama Abad XXI.
Di Coventry, aku tinggal di apartemen Faraday. Aku menamai notebook berikutnya Crescent. Itu dinamai waktu bulan sabit tampak di langit jernih. tapi Crescent tidak stabil. Setelah beberapa kali format ulang, didukung alat bantu yang membuat kerja jadi efisien, sistem itu aku rename jadi Faraday. Memang agak nggak kreatif. Tapi bener2 aku lagi kagum sama Michael Faraday (yang manusia, bukan yang apartemen). Ingat kan? Ilmuwan yang membuat fondasi berbagai hukum elektrik & magnet, tapi tak paham kalkulus, dan cuman geleng2 waktu formulasinya dinotasi ulang secara elegan oleh Maxwell. Faraday lebih suka gambar garis2 gaya daripada rumus medan :). Faraday menolak disodori gelar kebangsawanan oleh pemerintah Inggris. Apa lagi ya? Oh, waktu itu sedang musim kuliah Faraday oleh IEE (sekarang IET) yang mengajarkan ilmu engineering kepada pelajar dan masyarakat awam.

Faraday si notebook berhasil membantuku menyelesaikan tesis. Tesis nyaris tanpa kalkulus. Banyak garis. Itu konfigurasi network, bukan garis gaya :). Bukan berarti kuliah tanpa kalkulus :). Bagian2 berkalkulus sudah diselesaikan dengan Mathcad zaman pakai Crescent.
Trus, setelah Faraday, tentu saja Maxwell. Aku nggak terlalu kreatif :).
Yang pusing harus sering dikasih nama adalah flash drive. Kalau sudah terpasang di komputer, kita pusing kalau cuman baca drive F, G, sampai N segala. Hmm, flash driveku yang mana, SD card yang mana, XD card yang mana? Keterusan dengan Maxwell, aku kasih nama menurut nama ilmuwan lagi. Tapi udah pindah ke Abad XX. So, ada Feynman, Neumann, Weyl, Dirac, Fermi, dll. Dan suatu hari aku iseng mengubah jadi nama pahlawan Afrika: Nyerere, Mandela, Lumumba. Berhenti waktu Pak Agus menyampaikan dengan halus: “Dicek dulu. Tadi Lumumba jatuh terinjak.” Aku jadi berhenti menamai flash drive dengan nama orang lagi. Bayangin kalau aku ngasih nama menurut nama seleb blog, trus flash drivenya terinjak lagi. “Aduh, Maylaffayza terinjak, dan Priyadi kena virus.” Kan kasihan.

So, aku menamai dengan k- diikuti nama bintang. k-Sirius yang pertama. Tapi diembat sama Pak Tris :), dan syukurnya nggak diganti namanya. Trus k-Pollux, yang berisi data pekerjaan yang sedang aku kerjakan. Not necessarily yang paling penting. Dan k-Castor, tempat data yang perlu dipertukarkan. Dan Pak Agus lagi yang harus jadi korban. “Namanya apa sekarang? Castor?” Ya, Castor saudara kembar si Pollux. Castor yang manusiawi, Pollux yang dewawi. Castor mati dalam perang, tapi Pollux minta saudaranya tidak dimatikan, karena masih ingin berjuang bersama. Maka para dewa2 ajaib itu mengangkat keduanya, Pollux dan Castor, ke langit, bercahaya sebagai Gemini si kembar. Lihat web Novi Scorpius kalau mau melihat posisi mereka. Mind you, dalam cerita perdewaan itu, si kembar itu dua2nya cowok, haha. Nggak romantis? Syukurin.
OK, reinstalling harddisk notebook selesai (yang ini ngetiknya pakai Mac Mini yang dinamai MacSquirrel –tambahan). Aku masih pingin berdongeng sih. Tapi, kerja dulu ah. Btw, enaknya aku kasih nama apa nih, sistem yang baru diformat ini?


Yang dibahas tentu bukan cuma soal blogging. Ada banyak dunia di luar blogging :). Tetapi, keluar dari Citiwalk, kami berdua menghadapi ribuan siswa seBandung Raya yang berpawai membawa obor. Braga Lautan Obor? Tentu tidak. Ini adalah cara siswa siswi Bandung menunjukkan bahwa Bandung tak pernah kehilangan semangat asalinya: BANDUNG LAUTAN API.

Srinivasa Aayengar Ramanujan (bukan tokoh fiktif) adalah matematikawan cemerlang dari negeri India. Ia dibawa ke Cambridge oleh G.H. Hardy untuk meneruskan pendidikan di sana. Ramanujan tetap bergaya pertapa Brahmin: memperbanyak merenung, mengasyiki hobi, mengurangi makan dan tidur – di negeri dengan cuaca yang tak ramah. Maka ia jatuh sakit, dan harus dirawat.

