Author: Kuncoro Wastuwibowo (Page 72 of 88)

US dan RF

Nazi menginjak2 Paris, dan pemerintah Perancis harus dilarikan ke London. Hanya setelah pasukan sekutu pimpinan US masuk ke Eropa, pasukan Perancis berhasil membebaskan negaranya sendiri. Dan itu yang selalu tercatat dalam sejarah. Bukan pasukan US yang membebaskan Perancis. Pasukan Perancis membebaskan negaranya sendiri, dan turut bersama pasukan sekutu untuk membebaskan Eropa.

Jika kita bekerja sama untuk sesuatu yang saya butuhkan, tidak selalu saya harus mengiyakan semua pikiran Anda. Orang yang membantu kita, bukan berarti kawan kita. Orang yang menjatuhkan kita, bukan berarti lawan kita. Dan kalau terlepas dari masalah, jangan berlarut2 memikirkannya — masa depan masih panjang.

Orang US masih berpegang pada cerita koboi yang diromantiskan (dipalsukan) sebagai kisah kepahlawanan. Dan mereka masih berpegang pada ideologi macam itu. Orang Inggris tahu bahwa orang US cuma pintar membual. Tapi tanpa bantuan Inggris, US tidak pernah memenangkan perang yang serius. Lihat Vietnam misalnya, dimana tentara US harus ngabur terkencing-kencing. Di front lain, Perang Eropa, Perang Asia, Perang Teluk, dsb, Inggris harus ikut meyakinkan kemenangan US.

Orang Perancis tahu bahwa waktu US masuk Eropa, alasannya bukan moral. Ada kepentingan US yang mulai terganggu oleh Hitler, dan Hitler harus dihentikan. Roosevelt sendiri mengkiaskan, “Kalau rumah tetangga kita terbakar, kita meminjami selang air bukan karena baik hati, tapi agar rumah kita tidak turut terbakar. Setelah itu, selangnya kita ambil lagi.”

Tentu orang Perancis tahu — sejarah panjang Eropa penuh dengan rasa sakit berkepanjangan, dan meromantiskan masa lalu adalah kekonyolan. Yang lebih penting adalah memecahkan masalah zaman ini dengan kecerdikan, akal sehat, dan ketulusan hati zaman ini.

Republik Kelima

Mereka menamai negaranya “Republik Kelima” — republik pun tidak harus diabadikan dan dinyatakan final. Selalu, struktur disusun untuk kepentingan masyarakat, dan karena itu namanya republik. Dan struktur turut memperbaiki dirinya bersama masyarakat, karena itu struktur tidak boleh diberhalakan. Menilai kembali nilai-nilai. Selalu mendefinisikan kembali relasi dan struktur.

Dan masih sambil menikmati hidup. Loh … kenapa menikmati hidup? Kan mereka nggak bisa dibilang “sudah unggul dalam segala hal”. Kan mereka secara kuantitatif masih kalah jauh dengan — misalnya — negara imperialis kalap di seberang Atlantik itu.

«On ne peut pas bon en tout.» — jawab mereka.

D Language

Diciptakan di tahun 1999, dan belum juga bergaung sampai tahun 2003: D Language. Mirip C++, dan memang merupakan satu alternatif lagi untuk memperbaiki C dan C++, dalam arti memberikan kekuatan baru atas C, dan memberikan kesederhanaan buat C++. Tapi sengaja nggak dibikin 100% portabel dengan dua bahasa itu. Penciptanya belajar bahwa C++ jadi rumit justru karena pernah mau 100% portabel dengan C, dulunya. Udah rumit, akhirnya nggak portabel juga dengan C99.

Anyway, kerumitan C++ justru mengasyikkan, terutama kalau kita lagi punya waktu. Kalau ada pihak2 yang bener2 merasa C++ itu provoking dan frustrating, feel happy-lah bahwa masih ada alternatif bahasa serupa C++ yang nggak harus lekat dengan VM (kayak C# dan Java) , nggak berasa beginner (kayak Basic dan Java), bukan scripting (kayak Perl atau Ruby), masih punya template (tapi lebih simpel daripada C++).

Gini kalimat pembuka di websitenya: It seems to me that most of the “new” programming languages fall into one of two categories: Those from academia with radical new paradigms and those from large corporations with a focus on RAD and the web. Maybe its time for a new language born out of practical experience implementing compilers.

Contoh program D:

 import std.stdio;

void main(char[][] args)
{
writefln("Hello World, Reloaded");

// auto type inference and built-in foreach
foreach (argc, argv; args)
{
// Object Oriented Programming
CmdLin cl = new CmdLin(argc, argv);
// Improved typesafe printf
writefln(cl.argnum, cl.suffix, " arg: %s", cl.argv);
// Automatic or explicit memory management
delete cl;
}

// Nested structs and classes
struct specs
{
// all members automatically initialized
int count, allocated;
}

// Nested functions can refer to outer
// variables like args
specs argspecs()
{
specs* s = new specs;
// no need for '->'
s.count = args.length;		   // get length of array with .length
s.allocated = typeof(args).sizeof; // built-in native type properties
foreach (argv; args)
s.allocated += argv.length * typeof(argv[0]).sizeof;
return *s;
}

// built-in string and common string operations
writefln("argc = %d, " ~ "allocated = %d",
argspecs().count, argspecs().allocated);
}

class CmdLin
{
private int _argc;
private char[] _argv;

public:
this(int argc, char[] argv)	// constructor
{
_argc = argc;
_argv = argv;
}

int argnum()
{
return _argc + 1;
}

char[] argv()
{
return _argv;
}

char[] suffix()
{
char[] suffix = "th";
switch (_argc)
{
case 0:
suffix = "st";
break;
case 1:
suffix = "nd";
break;
case 2:
suffix = "rd";
break;
default:
break;
}
return suffix;
}
}

“Great, just what I need.. another D in programming.” — Segfault

Kehancuran, Kewajaran

BTW, kalau di dunia ini bintang tidak bisa meledak … tatasurya hanya memiliki unsur yang miskin. Tidak ada yang lebih berat daripada besi. Tidak bisa hidup juga segala macam tumbuhan, dan hewan, dan kita — kaum-kaum yang hanya bisa hidup setelah adanya kehancuran …

… dan menghayati kehancuran sebagai bagian yang wajar dan nyaman dari kehidupan.

RFC 2324

Ada keterkaitan erat antara networker dan kopi. Maka, pada tanggal 1 April 1998, diterbitkanlah RFC 2324, tentang HTCPCP versi 1, dengan kepanjangan Hyper Text Coffee Pot Control Protocol. HTCPCP diturunkan dari HTTP, dengan tambahan beberapa metode baru, field baru pada header, dan return code yang baru.

Server HTCPCP diacu dengan prefiks coffee:. namun karena kopi sudah terdistribusi ke seluruh dunia sebelum standar ini diajukan, maka harus disiapkan internasionalisasi skema, dengan bentuk sebagai berikut:


coffee-url  =  coffee-scheme ":" [ "//" host ]
               ["/" pot-designator ] ["?" additions-list ]
coffee-scheme= ( "koffie"                  ; Afrikaans, Dutch
               | "q%C3%A6hv%C3%A6"          ; Azerbaijani
               | "%D9%82%D9%87%D9%88%D8%A9" ; Arabic
               | "akeita"                   ; Basque
               | "koffee"                   ; Bengali
               | "kahva"                    ; Bosnian
               | "kafe"                     ; Bulgarian, Czech
               | "caf%C3%E8"                ; Catalan, French, Galician
               | "%E5%92%96%E5%95%A1"       ; Chinese
               | "kava"                     ; Croatian
               | "k%C3%A1va                 ; Czech
               | "kaffe"                    ; Danish, Norwegian, Swedish
               | "coffee"                   ; English
               | "kafo"                     ; Esperanto
               | "kohv"                     ; Estonian
               | "kahvi"                    ; Finnish
               | "%4Baffee"                 ; German
               | "%CE%BA%CE%B1%CF%86%CE%AD" ; Greek
               | "%E0%A4%95%E0%A5%8C%E0%A4%AB%E0%A5%80" ; Hindi
               | "%E3%82%B3%E3%83%BC%E3%83%92%E3%83%BC" ; Japanese
               | "%EC%BB%A4%ED%94%BC"       ; Korean
               | "%D0%BA%D0%BE%D1%84%D0%B5" ; Russian
               | "%E0%B8%81%E0%B8%B2%E0%B9%81%E0%B8%9F" ; Thai
               )
   pot-designator = "pot-" integer  ; for machines with multiple pots
   additions-list = #( addition )

Lebih lanjut, silakan tengok spesifikasi HTCPCP di website IETF.

Blog-001

Di Cicadas, aku merasa pernah denger hipotesis kayak gini: Pada saat kita memberi terlalu banyak nilai untuk kehidupan, pada saat itu justru hilanglah nilai dari kehidupan itu.

How true … sampai aku akhirnya sadar bahwa … ternyata ini entry pertama blogger di website ini. Trus … ketawa di jalan belum dilarang kan?

How true!

Resource

Aku mau bikin rumah yang bagus, lengkap, bertingkat, serta fleksibel. Berapa waktu pembangunan minimal yang dimungkinkan?

Paling cepat 3 bulan, dengan kerja penuh, dan tenaga kerja serta resource lain yang cukup.

OK. Tiga bulan. Untuk preview, saya minta dalam waktu 1 minggu ini ruang tamu sudah selesai dan sempurna. Dari situ saya bisa memamerkan ke rekan-rekan saya, bagaimana bentuk rumah saya nantinya.

Ada nggak sih orang seaneh itu. Well, di dunia ada nyaris 6 miliar manusia, dan rasanya justru aneh kalau nggak ada yang seaneh itu. At least, kasusnya barangkali bukan rumah. Website misalnya #!@^#*(!^#(*!@#)!@.

Jadi kalau aku mengawali minggu ini dengan vertigo kecil-kecilan, itu bukan karena kurang olahraga atau salah pola makan. Satu-satunya alasan adalah aku harus bikin semacam ruang tamu dalam waktu 1 minggu.

Kayak apa sih semacam rumahnya?

Jangan tanya!

Einstein Aja Gak Tau

Pada binatang berdarah dingin, metabolisme tubuh harus diatur sesuai dengan suhu lingkungan di sekitarnya. Cengkerik misalnya, mengeluarkan suara kerikan dengan frekuensi sebanding dengan suhu udara di sekitarnya. Ini frekuensi kerikan, bukan frekuensi suara yang dihitung dalam Hertz itu. Kita namai saja kekerapan deh.

Di Amerika Utara, suhu udara bisa diperkirakan dengan mendengarkan kekerapan bunyi cengkerik. Kita ukur berapa kali cengkerik mengkerik dalam 15 detik. Hasilnya kita tambahkan 40, dan kita peroleh perkiraan suhu udara dalam derajat Fahrenheit. Tapi tentu ini suhu udara menurut laporan cengkerik, yang artinya suhu udara pada semak-semak di sekitar rumah kita, bukan suhu di dalam rumah.

Di negara-negara yang lebih beradab, cengkerik menyesuaikan diri dengan satuan metrik. Maka suhu diukur dengan menghitung jumlah kerikan dalam 8 detik, lalu ditambahkan lima, dan hasilnya adalah suhu dalam derajat Celcius. Tambahkan 273, kalau mau mengukur hasil dalam Kelvin.

Cerita ini, dan ratusan hal-hal menarik lainnya, bisa dibaca pada buku terjemahan di samping ini: Einstein Aja Gak Tau. Terjemahannya memang banyak yang lucu, termasuk judulnya yang ngasal bener. Tapi dengan mengabaikan hal-hal kecil macam gini, isi buku ini adalah ratusan mutiara. Dianjurkan buat orang yang suka memikirkan sebab akibat dari hal-hal sehari-hari, dan untuk yang punya anak yang tak henti-henti bertanya tentang hal-hal semacam ini. (Jadi inget Yani).

Paradox Farnon Lagi

Darrowby, setting menjelang PD II.

Si tua Bailey dari T’Council House berjalan tertatih-tatih ke Skeldale House, membawa anjingnya. James Herriot mempersilakannya meletakkan anjingnya di meja praktek, tapi akhirnya James harus mengangkatnya sendiri. Si tua terkena arthritis, dan tidak kuat lagi mengangkat beban. Anjingnya juga sudah tua, terus terbatuk-batuk. “Kena bronkitis,” analisis James, “Dan kelihatannya nggak bisa sembuh. Tapi perlu diberi obat kalau situasi memburuk.”

James menyuntik si anjing dan memberi 20 tablet.

“Bayar berapa?” tanya Pak Tua. Tepat pada saat itu James melihat celana panjang Pak Tua yang sudah berlubang. “Nggak usah bayar,” kata James, “Yang penting berikan obatnya secara teratur.”

Kasus selesai. Tapi Siegfried ada di situ, dan kita ingat dia manusia paling logical yang ada di muka bumi bagian Darrowby. “Kenapa sih, pakai kerja cuma-cuma, katanya.” Dan alasan Siegfried bukan soal kepelitan. Situasi ekonomi masa itu memang kurang baik. Dan harga obat mahal. Kalau terus mengasihani orang, usaha akan ambruk, dan tak seorangpun lagi yang dapat tertolong. Argumen logik yang khas, dan sering terdengar bahkan sampai hari ini di korporate-korporate raksasa sekalipun. James cuma bisa memendam kejengkelan.

Tapi Bailey datang lagi minggu berikutnya, dan James mendapati Siegfried sedang menyuntik anjingnya lagi.
“Pak Herriot benar, Pak Bailey,” gitu terdengar, “Batuknya bisa seumur hidup. Tapi kalau memburuk, Anda harus membawanya ke sini lagi.”
“Terima kasih Pak. Berapa biayanya?”
“Ehm … errrh … iya … biayanya … errr …nggak usah lah.”
“Jangan gratis lagi, Pak Farnon.”
“Sssh, jangan dibahas lagi. Dan bawa tas ini. Ada 100 tablet di dalamnya. Kayaknya anjing itu perlu banyak obat juga.”
Pada saat itu Siegfried kita melihat lutut Pak Tua. “Tunggu,” katanya. Lalu terjadi ritual khas, lengkap dengan suara koin berjatuhan, dan gunting bergesekan dengan termometer, pembuka botol, dan benang-benang, yang selalu terjadi kalau Siegfried berusaha mengambil uang kertas, diakhiri dengan teriakan kemenangan.

“Ambillah.” katanya. Bailey sudah paham sekarang bahwa perlawanan itu mustahil. Jadi diterimanya uang itu. “Sekarang pulanglah,” kata Siegfried. Di pintu, Siegfried baru sadar bahwa Pak Tua itu kena arthritis. Dan di ujung session ini, Siegfried mengeluarkan mobilnya buat mengantar si Pak Tua pulang.

Apa kalau kita punya perasaan, trus segalanya runtuh? Sampai kedua dokter pensiun kemudian meninggal di tahun 1990-an, usaha praktek dokter hewan mereka tidak pernah runtuh. Cuman memang jadi penuh paradox ajaib versi Siegfried Farnon.

« Older posts Newer posts »

© 2026 Kuncoro++

Theme by Anders NorenUp ↑