Author: Kuncoro Wastuwibowo (Page 54 of 88)

The Tristan Chord

When Wagner started to be a composer, there were three different models of contemporary opera. Wagner had tried to adopt those types with Die Feen (German, rich-orchestrated style), Das Liebesverbot (Italian, lyrical style), and Rienzi (French style, with its luxuries). He then decided that Italian and French models had been decadent: they had passed their peaks in developments; therefore Wagner went back to explore more in German style, manifested in Die Fliegende Holländer, Tannhäuser, and Lohengrin.

Being ideologically attached with Bakunin the anarchist, Wagner got involved with Dresden putsch. Bakunin got caught and jailed, and Wagner fled to Switzerland. He faced the prospect of seemingly endless exile, with debt, hopeless marriage, and bad health. On this condition, he started composing Der Ring. Also he started reading Schopenhauer.

His reading gave him the idea for a wholly new way of opera composing. In a letter to Liszt, he referred the philosopher as a man who has come like a gift from heaven. He then composed Tristan und Isolde, called it the simplest but most full-blooded music conception. He stopped Siegfried on Act 3, and devoted himself to Tristan. But after several months, it was only music as yet.

Schopenhauer maintained that we are, in the most literal sense, embodiment of the metaphysical will, so that willing, wanting, longing, craving, yearning, are not just things we do: they are what we are. Music is also a manifestation of the metaphysical will. It directly corresponds to what we are in our innermost thing.

For years, Tristan remained ‘only music.’ But even now, its chord remains the most famous single chord in the history of music. It contains not one but two dissonances, thus creating a double desire, agonizing in its intensity, for resolution. The chord then moves, resolving one but not the other, thus providing resolution-yet-not resolution. In every chord-shift, something is resolved but not everything. When a satisfaction is created, so is a new frustration. Until the end. The silence. In Wagner’s words: “Here I sank myself into the depths of the soul’s inner workings. Here life and deaths and the very existence and significance of the external world appear only as manifestations of the inner workings of the soul.”

On another fine day, Wagner performed a nice symphony for his wife’s birthday. Siegfried Idyll. It was performed at home, with a very small number of guests attending. One of them was young Nietzsche, starting his long and historical friendship with Wagner. Indeed, Wagner was the greatest influence on the young man, who would in turn became one of the greatest figures in the entire history of western philosophy. But it is another story.

Ruzky 2

“Aku tak percaya kamu menyampaikan ketakutanmu pada atasanmu.”
“Saya anggap pasukan ini keluarga. Dan Anda ayahnya.”
“Ayah. Ayahku lebih ditakuti daripada disayangi.”
“Saya pernah dengar tentang ayah Anda, Pak. Tapi dalam dua versi. Pertama, dia pahlawan revolusi. Tapi juga saya dengar dia mati di kamp kerja paksa.”
“Dua duanya benar.”

Ruzky 1

“Mereka mengatakan bahwa kita pernah punya kosmonot sebelum Gagarin. Sayangnya dia kurang kuat menahan nafas waktu sistem pendukung kehidupan mendadak berhenti berfungsi. Jadi dia tidak pernah ada. Gagarin beruntung. Semoga kita juga.”

Маленький Принц 

Le Petit Prince, dans quelques langues, préparent pour acheter:

Adapoen, oentoek bahasa jang lainnja, dipersilahkan berbondong-bondong mengoendjoengi sitoes Multilingual Books. Atau tentu saja ke web Pangeran Kecil.

Formula Formula

Kayak apa sih formula relativitas Einstein yang konon sudah menggantikan teori gravitasi Newton itu? Kalau ditulis sih sederhana sebenernya:

Ruas kiri persamaan menyatakan kelengkungan (kurvatur) ruang waktu, yang menunjukkan medan gravitasi. Ruas kanan persamaan menyatakan kerapatan energi dan lain-lain dari materi selain medan gravitasi. Formula yang bagus, selama kita tidak harus jadi fisikawan yang membedah arti dari huruf T dan G dengan indeks mu dan nu itu. Sorry, aku kuliah di elektro, dan nggak kebagian main-main dengan tensor. Skalar, vektor, matriks, stop.

Bukan berarti anak elektro nggak main matematika. Hehe. Abis kalkulus, ada teori medan yang sebenernya lebih mirip cabang kalkulus daripada cabang fisika :). Aku dapat A loh. Tapi waktu kuliah antenna yang sebenernya meneruskan aplikasi teori medan, nilainya jadi C. Doh.

Yang konon paling lucu dari matematika versi teknik elektro adalah kesetiaannya pada bilangan kompleks. Nggak tau dimulai dari mana, tapi di elektro, bilangan imaginer dinotasikan sebagai j, bukan i kayak di matematika. Konon karena i sudah dipakai untuk kuat arus. Tapi lucunya, kenapa bukan notasi kuat arus aja yang diubah.

Balik ke teori medan. Mau nostalgia bentar nih. Di catatan awal tahun 2001, aku nulis cerita tentang Faraday, Maxwell, etc. Maxwell memformulasikan teori yang sudah disusun oleh Coulomb, Ampere, Faraday. Bentuknya, kayak yang ada di buku teori medan untuk mahasiswa elektro, adalah sbb:

Persamaan 1 memaparkan teori Coulomb tentang bagaimana medan litrik dihasilkan dari muatan listrik. Persamaan 2 memaparkan teori Ampere bahwa tidak ada yang disebut muatan magnet, karena magnetisme dibangkitkan oleh arus listrik. Persamaan 3 memaparkan teori Faraday yang menggambarkan perubahan medan listrik akibat perubahan medan magnet. Persamaan 4, kembali ke Ampere, menjelaskan bagaimana arus listrik menghasilkan medan magnet. Setelah disusun seperti itu, Maxwell dapat menyusun prediksi-prediksinya, termasuk tentang gelombang elektromagnetik, tentang spektrumnya yang tersebar, meliputi cahaya; dan membuat Maxwell menjadi salah satu ilmuwan terbesar abad ke-19.

Waktu Maxwell pertama kali menulis persamaan itu, bentuknya tidak sesederhana itu. Rada panjang, nggak pakai tanda del, curl, etc. Kayaknya di buku Hayt ada juga versi panjang ini. Demi kesederhanaan, formulasinya ditulis seperti di atas. Tapi, lebih lanjut, formulasi kayak gitu masih disingkat lagi. Kali ini dengan notasi relativistik mirip persamaan Einstein di atas. Jadinya tinggal dua persamaan:

Persamaan pertama menggabungkan persamaan Maxwell 1 dan 4, sementara persamaan kedua menggabungkan persamaan Maxwell 2 dan 3. Cuman, kayak penyederhaan sebelumnya, semakin sederhana formula ini, semakin dalam orang harus belajar untuk membaca dan menggunakannya. Mau coba? Coba mulai dengan ke http://en.wikipedia.org/wiki/Maxwell’s_equations.

Lagi: Lohengrin Act 1

Robert Horwitz, maintainer site http://www.open-spectrum- international.org, berkirim mail. Mail pertama membahas liberalisasi frekuensi 2.4GHz di Indonesia. Mail kedua menyebut hal yang lebih menarik: Lohengrin. Pembukaan Lohengrin, kata dia, adalah 8 menit terindah dalam musik yang pernah diciptakan. Yang barangkali dia nggak tahu adalah: aku baca mail itu (di Xphone) masih sambil ngedengerin Pembukaan Lohengrin (Act 1). Dan itu bukan kebetulan. Beberapa hari itu, aku memang selalu masang Lohengrin, kadang berderet dengan Tannhauser. Kadang dengan salah satu opera dari Der Ring. Tapi selalu ada Lohengrin tiap hari.

Lohengrin ada di kaset Wagner-ku yang pertama. Sisi B kaset itu berisi Lohengrin, Parsifal, dan Siegfried Idyll. Tapi nggak tau kenapa aku sempat lupa sama nama Lohengrin. Kaset itu aku bawa ke Coventry, tanpa cover. Dan di bulan Februari 2001 aku nulis salah satu kejeniusan Wagner yang bisa memahami sekaligus mewarnai semesta. Aku salah waktu itu, nulis judulnya Parsifal. Padahal justru Pembukaan Act 1 Lohengrin yang waktu itu terasa seperti magic, musik ajaib yang entah diturunkan dari mana ke semesta ini. Aku baru sadar beberapa bulan kemudian, waktu beli CD Lohengrin. Dan waktu sempat nonton Birmingham City Orchestra memainkan Act 1 Lohengrin (Pembukaan dan Elsa’s Dream) di Warwick. Betul-betul musik yang ajaib, biarpun waktu itu yang aku nunggu adalah Tristan und Isolde.

Aku bukan Robert Horvitz yang sudah mendengarkan semua musik yang ads di muka bumi dan bisa menentukan mana yang paling indah. Tapi aku bisa memahami orang yang bisa memiliki pendapat kayak Horvitz. Ini barangkali memang 8 menit terindah dalam sejarah musik.

Bank Niaga Masih Cinta MS

Judul : Re : Sulit Login dengan Desain Baru
Tanggal Kirim : 11-Feb-2005 15:58:05
Pesan :

Yth Bp Kuncoro Wastuwibowo

Terima kasih atas pengggunaan fasilitas layanan kami. Memang untuk tampilan di menu NG@/internet ada perubahan. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan variasi baru, tetapi kalau hal tersebut mengakibatkan kesulitan dalam mengakses untuk sumbang saran dari Bapak akan kami sampaikan ke bagian yang terkait.

Demikian informasi dari kami.

Salam
Niaga Access

— KUNCORO WASTUWIBOWO wrote:

Hai Bank Niaga. Saya lihat ada perubahan pada desain site ini. Tapi saya terus terang lebih suka desain yang lama. Pada desain yang lama, saya dapat login menggunakan browser Firefox. Tapi pada desain baru, login tidak dimungkinkan lagi. Terpaksa saya menggunakan MS Internet Explorer yang kuno dan mudah membawa virus dan spy ini. Mohon dilakukan redesign kembali atas site ini agar akrab dengan browser selain MSIE. Terima kasih atas perhatian dan pengertiannya.

Catatan: Perlu waktu mingguan bagi Bank Niaga untuk memutuskan memforward suatu sumbang saran dari satu bagian ke bagian lain. Tapi jelas masih lebih menarik daripada BCA.

Murtad dari Fisika

Ini dari buku Smolin, halaman 99, tentang Area dan Informasi. Yang pertama kali memaparkan ide bahwa entropi itu berkaitan dengan informasi dan probabilitas bukanlah Shannon, melainkan Ludwig Boltzmann. Boltzmann yang ini mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri pada tahun 1906, sebelum ilmuwan masa itu dapat mengerti tentang idenya. Belum jelas apakah depresi yang melanda Boltzmann itu disebabkan oleh kegagalan para sejawatnya untuk mengakui teorinya.

Yang jelas, lanjut Smolin, peristiwa itu membuat seorang mahasiswa fisika bernama Ludwig juga, yaitu Ludwig Wittgenstein, keluar dari ilmu fisika, dan ngabur ke Inggris untuk mendalami engineering dan filsafat.

Ada juga akhirnya kaitan Wittgenstein yang karya2 versi awalnya banyak mematematikakan dan melogikakan filsafat itu dengan teori informasi (versi awal).

Ya nih, mood lagi lompat2. Kalau lagi positif, baca James Herriot atau buku2 yang menggugah rasa kemanusiaan lainnya. Kalau lagi negatif, baca Richard Dawkins atau semacamnya. Kalau lagi netral, baca Smolin atau semacamnya.

BookWorm ke Bogor

Kayaknya, dalam hal tertentu, aku pantas dinamai pengkhianat bangsa. Hrrrrh. Melarikan diri sejenak dari kegiatan kerja, aku berlabuh di Gramedia. Gramedia Bogor, entah dengan alasan apa, selalu kerasa beda dari Gramedia Bandung. Barangkali sistem distribusi bukunya rada beda. Buku2 yang aku temui di sini selalu jadi banyak yang menarik, yang nggak pernah keliatan di Gramedia2 Bandung. Jangan dibandingan Matraman loh. Apalagi dibandingin QB. Apalagi Waterstones ;). Mungkin bukan soal distribusi, tapi soal suasana hati aja. Aku di Bogor sebagai tourist (daripada ngaku businessman, mendingan ngaku tourist — sama2 nggak valid), dan di Bandung sebagai penghuni. Jadi beda apa yang tercerap, dan dengan demikian jadi beda juga apa yang ditemui (OK, sedikit nyontek Berkeley, but … how true).

Di mana sih sisi pengkhianatnya? Di gerakan “support your local writer”, yang theoretically aku dukung penuh. Dua bukunya Jura Chandra aku lalap dalam waktu dua malam. Semalam satu. Dan sempat didiskusikan juga. Aku pernah menikmati bukunya Adhitya, dan bisa senyum2 sampai nyengir di depan buku itu. Di Gramedia Bogor ini, dengan semangat tinggi, aku ambil buku “Eituze”. Tapi lucu: kata2 kehilangan bobot, dan kurang dari 1 menit buku itu udah balik ke rak. Juga buku “Re:” yang ditempatkan nggak jauh dari situ, tersentuh kurang dari 1 menit. Dan yang akhirnya terbaca agak lama malah “The Life of Pi” — kisah anak yang terapung di tengah lautan bersama harimau, zebra, etc. Tapi terus aku lihat buku “Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran”, dan akhirnya buku ini yang diambil. Dua2nya terjemahan tentu. Dan belum ada gerakan “support your local translator” yang perlu didukung. Buku Insiden itu, selain menawarkan sesuatu yang benar2 fantastik, juga didukung penerjemah yang cekatan, bukan saja mentranslasi kata tapi juga makna dan rasa. Pengarang Mark Haddon. Pemerjemah Hendarto Setiadi.

Next, ada buku yang juga menarik: “Temporary Sanity” yang belum tersentuh local translator. Kayaknya pas buat aku, yang masih bertahan sebagai “One of The Most Insane Person”. Ambil. Dan dengan demikian ini buku terbitan 2005 yang pertama aku beli. Penulisnya Charles Manz.

Oh ya, jangan bilang aku arogan, tidak nasionalis, ngeselin. Nggak usah bilang gitu. Aku udah merasa bersalah. Tapi: nggak — aku nggak bisa beli buku dengan alasan untuk mencegah atau menghilangkan rasa bersalah.

Oh ya, Bentara versi 2004 udah terbit. Aku mau ambil juga. Tapi tebal dan berat. Nanti aja di kunjungan berikutnya di Gramedia Bandung. Mudah2an yang ini dianggap “local writer” juga.

Telkom Group Peduli Aceh

Untuk customer Telkomsel (Kartu Halo, Simpati, Kartu As), dan Telkom Flexi (Flexi Classy dan Flexi Trendy), kirimkan SMS ke nomor 2000, dengan pesan “Peduli Aceh”. Dengan SMS ini, Anda sedang menyumbangkan Rp 2000 untuk korban gempa dan tsunami di Aceh, tanpa harus beranjak dari meja kerja Anda.Untuk mencari kerabat Anda di Aceh, hubungi dan daftar ke Call Centre “Cari & Aman” Telkomsel. Telepon 111 dari Kartu Halo, atau 116 dari Simpati atau Kartu As. Dari Telkom Flexi dan telepon biasa (PSTN), bisa dilakukan juga pangilan ke nomor bebas pulsa: 0800-100-7000.

« Older posts Newer posts »

© 2026 Kuncoro++

Theme by Anders NorenUp ↑