Buat hati yang lagi perlu penyegaran (kusut melulu — haha), Pesta Buku pasti hal yang menarik. So, hari Sabtu dan Ahad lalu, dua sesi kunjungan dilakukan ke Senayan. Dua sesi! Tanpa lelah. Demam, masih. Tapi daripada demam dirasain, mendingan dipakai menjelajah, kan? :) Hasilnya? Kunjungan dan kunjungan berulang ke semua booth. Dan memboyong 15 buku, 3 bahasa. At least. At least!
Buku apa aja? Bervariasi. Dari buku bekas bertahun 1960-an, sampai buku yang baru terbit bulan ini. Dari yang kovernya cuman dua baris tulisan, sampai yang penuh warna norak. Dari yang tipis sampai yang agak tebal. Dan, sorry, aku nggak mau nulis satu judul buku pun di sini. Sebagian udah masuk ke Librarything. Ada link-nya di samping (kecuali kalau tulisan ini dibaca di agregator). Sebagian besar sih memang buku yang nggak terlalu mahal. Masih set mode bokek on, sebenernya :). Tapi bookworm tak gentar sama ketipisan dompet, as usual :).
Lucunya, persentase buku bekas yang dibeli cukup dominan tahun ini. Aku menghabiskan berjam-jam (literally) di beberapa booth penjual buku langka, buku bekas, dan buku2 unik. Kapan lagi? Buku baru ada di Gunung Agung atau QB dan bisa dilihat kapan saja seusai pesta. Ini pesta, kita harus cari keunikan.
Di luar buku, nggak terlalu banyak acara atau asesori tambahan yang menarik. Ada jumpa penulis dari kelompok penerbit Gagas Media, tapi tidak menimbulkan keinginan untuk melirik. Ada festival band sekolah juga, tapi beberapa menit kemudian minat kembali ke buku. Ada Hitler yang lucu, tapi sungkan mau ngajak foto bareng. Ada beberapa pengemis yang gendong anak kecil sambil bawa map bertuliskan yayasan anu, tapi penipuan kayak gini udah terlalu klise, nggak inspiring lagi. Jadi buat non-bookworm, barangkali pesta ini tak terlalu menarik.
Pulang. Bokek. Tapi bukuku tambah banyak :). Duh, kasihan rak bukuku. Makin nggak indah aja tumpukan buku di dalamnya. Plus pernik2 termasuk sepasang kucing lucu yang asyik ngobrol, tanpa gentar kejatuhan tumpukan buku.




