Betul, Parsifal. Akhirnya punya juga excerpt opera Wagner yang ini, sekian belas tahun abis CD Wagnerku yang pertama :). So, ini adalah opera Wagner yang terakhir. Kecuali kalau Wagner punya semacam unfinished opera ;).
Kalau kita membayangkan Wagner identik dengan Der Ring, atau Tristan, kita akan mendapatkan kejutan yang lain. Kesederhanaan. Keseluruhan opera ini terdiri dari beberapa variasi ide saja. Kalau misalnya dalam Der Ring, citra musikal Wotan begitu kontras misalnya dengan Fricka. Dalam Parsifal, citra-citra ini hambur. Kabur. Tak jelas misalnya mana tema Kundry dan mana tema Klingsor. Tokoh2 ini jadi berpadu secara musik, bukan dikontraskan.
Buat yang baru kenal Wagner, fyi: Wagner gemar mengambil sekumpulan nada tertentu dikaitkan dengan tokoh atau ide tertentu, dan dinamakan motif. Nah, dalam Parsifal, motif dimainkan dalam bentuk musik, dan baru kemudian nantinya dalam bentuk vokal. Ide2 yang baru berkembang pun ditampilkan dulu dalam interlude yang di opera ini dinamai transformation music. Bentuk lengkap, atau bentuk panjang, dari sebuah motif diberikan setelah kita disuruh mendengar fragmen-fragmennya dulu sebelumnya.
Versi yang baru dibeli ini dimainkan oleh The Metropolitan Opera Orchestra and Chorus, dipimpin James Levine. Dulu aku nggak mau ambil, soalnya Amrik. Dan Amrik biasanya encer, nggak Wagner banget. Cerita Parsifal, secara umum, adalah potongan dari kisah panjang tentang Holy Grail. Ah, itu lagi :).
When I was about 6 years old, I have tried to draw simple map of Indonesia. Yeah, this is Indonesia, and we learnt to love our country since childhood :-). Back to drawing, my favourite island is Sulawesi. Its shape is the easiest to remember: like the letter k with horisontal head. I used to love to draw that island. And also its little sibling: Halmahera island, another k, but headless. And I found Kalimantan as the most difficult island to draw.




