Tapi IITELMIT menunjukkan bahsa industri telekomunikasi Indonesia masih ogah menggeser paradigma (haha). Duet Telkom (termasuk Telkomsel) dan Indosat (termasuk Satelindo) masih mencoba menunjukkan bahwa mereka yang terbesar, dengan tampilan gemebyar, display keren, dan seperangkat alat musik. Yang lain dipasang di pinggir, menampilkan alat-alat. ISP bagi-bagi brosur tentang jasa akses mereka. Dan sekali lagi, cuma perusahaan asing dengan marketer asing yang bisa diajak melakukan kajian atas solusi telekomunikasi dan IT dengan sederhana, to the point, bersahabat. Kapan ya orang-orang Indonesia mau bener-bener melihat infokom sebagai infokom, bukan tipuan gemebyar atau bisnis kacangan?
Author: koen (Page 54 of 123)
Jalan ke pameran telekomunikasi dan IT, IITELMIT, di Senayan. Not too bad, terutama kalau kita sadar bahwa industri telekomunikasi dunia sedang berada di masa kusam tahun-tahun ini. Orang nggak tahu harus pasang GPRS apa nunggu UMTS, jadi industri selular macet di jalan. Orang nggak tahu harus pasang (G)MPLS dan WDM atau meneruskan ATM dan SDH, jadi industri broadband macet. Kemacetan ini justru menguntungkan kita di Indonesia. Jadi nggak tertinggal-tertinggal amat. Dan IITELMIT jadi masih meriah, dan terasa relevan, biarpun teknologinya nggak beda jauh dengan tahun 1998.
Malam sebelum Rangkas, kita ke Plasa Mandiri. Ngobrol dengan sekelompok hacker-businessman. Aku memposisikan diri sebagai interviewer aja. Cukup seru mengorek solusi-solusi terpadu mereka untuk database perusahaan berskala sedang dan besar (in this case, telecommunications operators), termasuk … khususnya … billing (yang memang diciptakan agar jadi rumit, haha). Tapi jadi lega juga ngebayangin bahwa ada orang-orang semacam itu, yang siap mengawal bisnis infokom kita tanpa selalu berpaling ke seberang lautan. Cafe-nya sih berkesan latin dan klasik. Tapi rasanya kayak abis dari cutting-edge technology conference ajah ;).
Rangkasbitung juga adalah kota yang punya jalan dengan nama Kuncoro :)
Syukurlah, akhirnya aku sampai Rangkasbitung. Tadinya, ini satu-satunya Kandatel di Divre 3 yang belum pernah aku kunjungi. Suasana yang berbeda udah kerasa dari pasar Balaraja, wilayah Banten di luar tol. Memang ada nuansa yang beda dengan negeri pasundan.
Kakandatel Rangkasbitung sendiri orangnya kalem bener, tapi terbuka dan kreatif. Di belakang Kandatel, dibangun sebuah masjid. Di situ, rutin ada jamaah Dhuhur dan Ashr, dengan kakandatel yang jadi imam, plus memberikan kuliah beberapa menit setelah shalat (plus adzan juga, kadang-kadang).
Rangkasbitung itu ibukota kabupaten Lebak. Bupati Lebak tinggal di eks rumah Douwes Dekker a.k.a. Multatuli, kolonis Belanda yang mendadak jadi humanis itu. Nggak ada yang khas di bangunan itu, selain klasik dan terpelihara seperti aslinya. Kita talk beberapa saat tentang e-government dan infrastrukturnya. Tapi konsentrasi suka terpecah ke interior klasik di dalam gedung itu.
Buku-buku berjajar panjang di rak panjang, dengan penjaga
yang tampak bosan. Buku-buku turut bosan, menggumamkan
diskursus yang tak juga berubah, betapapun kita berteriak
“reinvent! reinvent!” dan semacamnya.
Aku tanya ke cermin, siapa yang bikin hikin reinvent jadi
kata usang, dan cermin menampakkan wajah yang itu-itu lagi.
Dengan rambut yang rada lucu, memang.
Setidaknya proses reinventing pun bisa punya rambut.
Pikiran Rakyat 27 April 2002, Bandung Raya.
KONDISI jalanan yang rusak, khususnya di kota Bandung, terus menjadi topik pembicaraan. …. Dalam sepekan terakhir ini, topik jalan rusak ini jadi guyonan menarik di beberapa milis. Salah satunya di milis bandung-raya¤yahoogroups·com. … ynugraha¤yahoo·com usul kepada Dinas Pariwisata Kota Bandung untuk bikin “Paket Wisata Off Road Kota Bandung”. Karena prasarananya sudah tersedia.
Sementara itu, kuncoro¤online·fr punya usulan unik lain. Menurutnya, mumpung lagi musim ganti nama jalan, jalan yang paling jelek itu diganti saja namanya dengan Jl. AA Tarmana, Jl. H Nuriana, dsb. Maksudnya, biar pemerintah memberi perhatian serius. Usulan itu kontan ditambahi guyonan lainnya. “Jalan yang bagus namanya Jl. AA Gymnastiar,” komentar made¤telkom·co·id. Sedangkan, “Jalan panjang berliku-liku namanya Jl. AWI (Aria West International, red),” canda djokobs¤divre3·telkom·co·id.
Toh sejak paruh akhir abad 20, para psikolog sudah memandang sifat dasar
manusia yang positif, progresif, dan sosial. Manusia punya kecenderungan dasar untuk mencari kebenaran, untuk menegakkan visi, untuk terus berkembang.
Dan sebenarnya: untuk merengkuh Rabbnya dan Ilahnya. Untuk hidup sesuai dengan diin-nya.
Tiap individu dibekali dengan cara yang berbeda, hidup yang berbeda, dan fungsi yang berbeda, untuk akhirnya bersama-sama menjalani diin-nya, tanpa harus membentuk penyeragaman nilai-nilai. Justru sambil terus menerus memperbaharui nilai-nilai kita.
Duh, yang terakhir kok jadi mirip Nietzsche yah.
Sebuah diin tidak diciptakan untuk manusia. Tapi, diin dan manusia dan
semesta diciptakan dari suatu kesatuan. Jadi memang akan selalu harmonik.
Kaum agamawan konservatif dan liberal sama-sama mengira bahwa kemanusiaan tidak sesuai dengan diin. Kaum konservatif jadi percaya bahwa manusia harus dipaksa, didorong, dikejar-kejar untuk melaksanakan nilai-nilai agama; dan sebaliknya kaum liberal jadi percaya bahwa nilai-nilai agama harud didefinisikan ulang agar nyaman bagi manusia dan pola hidup kontemporernya.
Dua-duanya terjebak ke dalam jebakan yang sama yang menimpa kaum psikolog awal abad 20 yang dipimpin Freud.
Memang gampang sekali cari musuh dengan menyebut soal keanekaragaman diskursus dalam diin. Orang lebih suka membayangkan sebuah diin sebagai satu cara, satu pola, satu hukum. Itu muskil. Manusia dan masyarakat memang diciptakan berbeda. Barangkali, dalam perkembangan diin, kita terlalu banyak menyerap ide-ide dari agama-agama kuno dengan sistem kependetaannya, juga dari konsep nasionalis dan ideologi-ideologi, lengkap dengan struktur-struktur kesatuan ide-nya. Jadi diin dipaksakan untuk dipetakan ke dalam sistem agama atau sistem ideologi lain, bukan sebagai sebuah cara hidup yang manusiawi.
