Author: koen (Page 114 of 123)

1302839

The result of feedback test: 7 for reading, listening, writing #1, and writing #2.
Today, the program is conselling with Lorna. But she said she doesn’t concern too much, as there’s nothing to worry about me. I think she played her role as a psycholog who tries to raise my confidence. But that’s what I really need now: confidence.
And vocabularies, as well.

1291837

Oh ya … net di TBC lagi dimatiin. Ruangannya direnovasi. Aku cuma punya waktu satu jam di sini. Tapi weekend ini bakal ada tes akhir, terus aku bisa ke Bandung lagi.
Sebenernya aku rada ragu sama tes akhirnya. Nilai-nilai aku berfluktuasi dengan liar. Writing bermain dari A- sampai B (7 ke 5), reading dari 8 ke 6, dan listening dari 7 ke 6. Speaking baru dicoba sekali, dan hasilnya antara 6-7.
Well, please wish me luck …

1291657

Afianto kayaknya suka pada ide bahwa orang yang disia-siakan justru bisa jadi bumerang..

Barangkali aku justru lebih suka mengamati bahwa orang yang karakteristiknya berbeda, sama sekali tidak kompatibel, justru bisa saling melengkapi untuk menyelesaikan pekerjaan besar. Fermi itu pemikir yang tekun, bekerja sistematis, dan mengharuskan semua orang bekerja dengan tangan di lab. Szilard sama sekali nggak suka bekerja dengan tangan. Tapi ide-idenya yang melompat-lompat itu memiliki ketepatan tinggi. Fermi, waktu berfokus menciptakan unsur transuranium, mengabaikan proses fisi nuklir yang diciptakannya. Szilard mempatenkan ide fisi terkendali, tapi tidak pernah benar-benar bekerja untuk mewujudkannya. Fermi mengatakan bahwa bom nuklir hanya bisa tercipta 25-50 tahun kemudian. Szilard berani menyurati presiden menyatakan kemungkinan bahwa Nazi Jerman bisa menciptakan bom nuklir lebih dulu.

Kamis kemaren aku ke kantor Ziggyt. Talk sebentar, terus kita terpaksa saling acuh. Aku jadi inget bahwa sejarah persahabatan kami memang kayaknya nggak banyak berbeda: saling diam aja, gara-gara minat dan kapabiliti yang bener-bener nggak kompatibel, kecuali kalau ada sesuatu yang dikerjakan bareng-bareng.

Barangkali keanehan kayak gitu yang bisa bikin persahabatan jadi abadi.

1291636

Weekend ini talk dengan Afianto soal nama anaknya: Enrico dan Fermiro. Lucunya, majalah SciAm juga membahas soal Enrico Fermi dan Leo Szilard, serta bagaimana dua tokoh yang pola pikir dan perilakunya sangat berlawanan itu bisa bekerja sama untuk menciptakan sesuatu yang hebat di zamannya.

Cerita ringkasnya: Tahun 1932 netron ditemukan. Tahun 1933, Fermi menggunakan netron untuk menciptakan elemen transuranium (sambil mengabaikan efek sampingnya berupa fisi nuklir). Tahun 1934, Szilard memaparkan ide tentang fisi terkendali. Kerasnya fasisme Eropa membuat mereka (dan juga Einstein) harus kabur dari Eropa ke AS. Tahun 1939 Bohr ke Amerika membawa khabar bahwa di Jerman Hahn dan Strassman berhasil membuat fisi terkendali.

Szilard merumuskan surat buat Roosevelt, ditandatangani Einstein, mengajukan usulan pembuatan proyek fisi nuklir. Roosevelt menyetujui, dan riset-riset dimulai di laboratorium metalurgi. Akhir cerita, justru para pelarian Eropa itu yang membuat AS memenangkan PD II.

1225807

Barangkali memang ada hal-hal besar yang harus dilakukan untuk mengisi kehidupan. Tapi sebagian besar waktu hanya kita habiskan untuk memecahkan fluktuasi masalah. Sebenernya memang kita tidak boleh memutuskan bahwa suatu hal itu kecil dan boleh diabaikan. Kita tahu, logika semesta tidak sesederhana sistem “pembulatan” (besar/kecil) kita. Tapi kadang aku terlalu lelah … dan memutuskan untuk mengabaikan semua.
God, I’m bloody tired …

1225094

Siegfried, Prelude to Part II. Bukankah deret kegalauan memang disusun sebagai hiasan dari sebuah keberhasilan besar? Atau sebaliknya, justru keberhasilan sebenarnya hanya riak yang berbeda warna dari sistem yang hanya berisi kegalauan?

1215967

Siegfried, Prelude to Part II. Alam semesta yang tersusun seindah ini pun barangkali hanya merupakan hasil dari fluktuasi kuantum. Salah satu dari sekian fluktuasi yang bisa berlangsung cukup lama — cukup untuk melangsungkan evolusi lengkap di dalamnya. Cukup untuk membangkitkan “kehidupan” yang riang di dalamnya. Tapi bagaimanapun, itu cuma riak. Riak yang bisa jadi lebih besar dari yang lain, bisa berwarna lebih menyolok, dan tampil lebih indah.
Tapi kemudian, di atas segalanya, dia cuma riak, cuma fluktuasi, di antara deretan fluktuasi yang lain.
Bukan berarti aku mengabaikan keindahan yang prima ini. Barangkali aku justru sedang memaksa diri mencari keindahan di dalam noise dan bentuk kekacauan lainnya.

Besi Daun Hijau

Meluncur di Jakarta, di bawah awan cirrus. Kapan terakhir kali kita bisa menatap cirrus menaungi kita? Daun-daun jadi tampak hijau cerah penuh kehidupan. Tapi pernahkah kita ingat bahwa untuk menciptakan daun kehijauan itu, setidaknya sebuah bintang harus diledakkan?


Saat hidrogen membentuk bintang, energi yang dihasilkan oleh fisi hidrogen ke helium (yaitu sebesar 0.7% massa) cukup untuk menahan keruntuhan. Namun pada tingkat fisi berikutnya (dari helium ke karbon, sampai akhirnya ke besi), persentase konversi massa ke energi mengecil. Bintang tidak dapat memfisikan besi. Beban massa yang terlalu berat meruntuhkannya menjadi bintang netron.

Tapi kehidupan harus diciptakan. Maka suatu bintang dengan massa yang terlalu besar itu pun diledakkan di dalam keruntuhannya. Tercipta supernova dengan maha cahaya yang indah dan energi tinggi. Energi yang cukup untuk memfisikan atom-atom membentuk atom dengan nomor yang lebih tinggi, mendekati seratus. Di atas reruntuhan supernova, gas-gas membentuk bintang baru, dengan planet-planet, dengan elemen-elemen yang lengkap.

Lalu bangkitlah kehidupan yang indah ini. Dan kecerdasan. Dan juga kelalaian.

« Older posts Newer posts »

© 2026 Kuncoro++

Theme by Anders NorenUp ↑