Kewajiban Penerbitan Paper
Ada hal menarik minggu ini. Weekend lalu, Ditjen Dikti menerbitkan kebijakan yang mengharuskan para mahasiswa tingka S1, S2, dan S3 untuk menerbitkan paper di jurnal (untuk S1), jurnal terakreditasi Dikti (untuk S2), dan jurnal internasional (untuk S3). Penerbitan paper ini menjadi syarat bagi kelulusan di setiap level itu. Kebijakan ini dapat disimak pada Situs Ditjen Dikti. Ada kebijakan lain beberapa minggu sebelumnya, yang menetapkan bahwa jurnal-jurnal yang diakui adalah jurnal yang juga dapat diakses secara online.
Aku sempat menyinggung soal ini, baik di Twitter maupun Facebook. Dan karena ini adalah soal akademis, tanggapan yang masuk pun bernada jernih, dengan kadar pro dan kontra tertentu pada setiap pendapat.
Kebijakan itu sebenarnya bertujuan baik. Saat ini, di luar kampus, kepakaran akademis masyarakat Indonesia tidak menarik sama sekali. Kemampuan berkomunikasi, baik lisan maupun tulisan, sangat rendah — tak mampu mengeksplorasi gagasan yang dalam, kompleks, apalagi melintas bidang. Komunikasi publik di Indonesia memang terkenal ramai. Indonesia jago di Twitter, Facebook, blog. Tapi komunikasinya dangkal, dengan argumen dan gagasan yang tak tergali. Komunikasi publik bersifat instan, tak lebih dalam dari komunikasi transaksi barang dagangan. Surat dari Dikti yang membandingkan kita dengan Malaysia pun valid dan menyentak. Tak perlu dengan UK, Jepang, dll; dengan tetangga pun kita jadi tampak primitif.
Keharusan menulis paper dalam konteks ini jadi relevan. Bukan hanya untuk mengejar terget angka yang bisa dibandingkan dengan negeri jiran, tentu. Somehow kita harus menyelamatkan dan menumbuhkan komunikasi publik dan komunikasi akademis yang lebih cerdas di masa mendatang. Paper, yang direview oleh sejawat seprofesi, adalah pendekatan yang jauh lebih baik daripada kolom atau artikel di media, yang direview sesuai selera editor atau sebaliknya oleh officer yang mungkin memiliki kompetensi berbeda. Paper juga tidak bisa digantikan oleh self-publishing text yang sebagian besar masih tanpa review. Memang tidak ada sesuatu yang sempurna; tetapi paper dengan peer-review masih menjadi pilihan terbaik dalam transaksi ide dan informasi ilmiah.
Yang mengkhawatirkan dari kebijakan ini memang gayanya yang mendadak. BTW, kapan kebijakan ini harus mulai berlaku? Apakah seketika berlaku, atau perlu memperoleh semacam ratifikasi dari kampus? Atau — seperti banyak kebijakan lain — tidak dijalankan sebelum juklak dibuat. Banyak hal tak menarik bisa timbul dari kebijakan yang mendadak diberlakukan. Kesiapan jurnal-jurnal misalnya. Cukupkah jumlah jurnal per bidang studi, dan kapasitas pengolahan paper setiap jurnal itu, menghadapi kebutuhan kelulusan mahasiswa (terutama S1) yang membanjir setiap tahun. Banyak kampus yang selama ini sudah menghalalkan segala cara untuk meluluskan mahasiswanya, agar bisa segera terlepas dari mahasiswa lama dan bisa menerima mahasiswa baru. Pemaksaan ini bisa berakibat terbitnya paper-paper sampah di jurnal-jurnal yang mendadak akan turun kualitasnya juga.
Aku rasa pemerintah harus belajar untuk mengimplementasikan kebijakan yang bijak dengan cara yang bijak juga: mempersiapkan, menumbuhkan, mendukung, dan mengajak serta komunitas akademis. Dengan demikian, tidak akan terjadi penolakan atau implementasi yang kontraproduktif.
Ada pendapat lain mengenai ini?
Sementara itu, khusus masyarakat ICT, IEEE Indonesia Section tahun ini akan menyelenggarakan setidaknya tiga konferensi dan satu simposium, tempat kita bisa memasukkan paper, mempresentasikan, dan menyaksikannya diterbitkan di IEEE Explore nan bergengsi itu. Sila simak:
- IEEE International Conference on Computational Intelligence and Cybernetics (CyberneticsCom) [info] [site]
- IEEE International Conference on Communication, Networks and Satellite (ComNetSat) [info] [site]
- IEEE Conference on Control, Systems & Industrial Informatics (ICCSII) [info] [site]
- IEEE Symposium on Green Technology and Systems (ISGTS) [info] [site]
Tentu masih ada jurnal online Indonesia Internetworking Journal, yang menerima paper dalam Bahasa Inggris (diutamakan) dan Bahasa Indonesia mengenai berbagai aspek ICT dengan penekanan pada implementasi di Indonesia.
Melawan Para Moron
Bully. Atau kepongahan lain. Semuanya bodoh. Dan amat tak masuk akal untuk menyerah pada kebodohan.
Kampusku dulu bukan satu yang paling terkenal se-Indonesia. Tapi para seniorku noraknya bukan main menerima adik2 angkatannya. Padahal aku sudah terbiasa menilai kecerdasan orang a.l. dari gaya berkomunikasinya. Ternyata aku gak salah. Sekian waktu kemudian, aku lihat bahwa para panitia opspek pada masa itu, tanpa kecuali, adalah kumpulan mahasiswa paling bodoh di kampus kami. Dalam encounter satu lawan satu, misalnya di warung makan, beberapa senior malah menunduk kalau aku tatap tajam tanpa berkedip. Ah, mereka cuma pengecut yang hanya berani berkelompok. Kebayang nggak sih: dari zaman itu pun aku sudah termasuk mahasiwa paling kecil mungil di kampus.

Aku pikir para moron itu sudah aku tinggalkan di sejarah kampus. Tapi cukup gila bahwa di tempat kerjaku pun ada beberapa makhluk penindas semacam itu. Waktu aku masuk ke bidang network dulu, sebagian besar perangkat sentral adalah buatan Siemens. Semua sentral di Bandung itu Siemens, kecuali satu sentral baru dari Lucent. Aku merasa agak aneh bahwa beberapa rekan senior tampak berkeberatan masuk ke ruang kontrol Siemens, dengan berbagai alasan. Aku pikir alasannya murni keamanan. Tapi halangan serupa tak tampak di sentral Lucent, yang awaknya lebih acuh. Baru dua tiga tahun berikutnya seorang senior mengakui bahwa dia memang menyuruh teman2nya mengurangi akses aku ke kontrol Siemens, khawatir ada personal opportunity yang bisa aku ambil buat melejit meninggalkan mereka. Konyol. (Si senior ini beberapa tahun kemudian makin gak betah kerja di Telkom; mengambil pensiun dini dengan uang saku sangat besar, dan pindah ke Bakrie). Sementara aku di sentral Lucent melakukan inovasi untuk meniru analisis2 yang dilakukan di Siemens. Sentral Lucent masih jarang dan kecil2. Jadi program2ku diminta rekan2 pengendali sentral Lucent di Batam, Medan, Surabaya, dll. Aku serahkan program lengkap dengan source code. Source code ini dikembangkan bersama-sama jadi sistem analisis yang lebih lengkap. Lumayan juga, aku jadi bisa jalan-jalan keliling Indonesia, ke hampir seluruh tempat yang punya sentral Lucent. Dibandingan program analisis milik Siemens yang besar, lambat, rumit, sulit dimodifikasi, plus mahal; program-program kami lebih ringan, lincah, dan customizable. Langkah berikutnya, menyusun program analisis lengkap seluruh sentral. Kali ini mudah, karena pintu-pintu yang tadinya tertutup terpaksa mulai dibuka. Program-program ini akhirnya memungkinkan aku memperoleh Penghargaan Prestasi dari Menteri Perhubungan. Haha, waktu itu secara teknis Telkom masih diasuh Menhub.
Inti ceritanya, ditindas bukan berarti harus jadi lebay. Jelas kaum penindas hanyalah sekelompok orang bodoh yang memiliki ketakutan pada kita orang2 cerdas. Dan tentu, orang cerdas harus menggunakan cara cerdas untuk menyelesaikan masalah secara elegan.
Evo Morales
Sekali lagi, kita akan berhenti blogging kalau kita hanya menggunakan blog untuk menulis hal2 yang memiliki arti besar :). Alih2, kita bisa mulai memanfaatkan blog seperti twitter: sekedar bercericau tak tuntas. Dan kali ini, kita akan bercerita tentang teori evolusi. Mungkin tentang moralitas. Dan mudah2an tak melantur ke agama.
Mula2, hukum yang sama mungkin akan menampilkan tampilan yang berbeda pada skala yang berbeda. Koin yang dilempar dua kali mungkin akan menghasilkan hasil berbeda dengan koin yang dilempar 2000x. Mekanika kuantum berjalan di mana pun; tetapi efeknya tak lagi nampak pada skala manusia atau skala galaksi (kecuali disalahgunakan marketer kacangan dengan nama quantum blablabla, quantum wekwekwek, dll). Hukum yang mengatur sebuah individu pun mungkin akan tampak berbeda dengan hukum yang mengatur masyarakat.
Dan satu lagi. Evolusi makhluk hidup terjadi pada skala gene, bukan terjadi pada individu2nya sendiri. Jadi saat kita bicara tentang survavibilitas, ini adalah tentang survavibilitas si gene. (Dan konon malah bukan DNA, tetapi RNA, hush).
Kata sembarang orang, teori evolusi mengimplikasikan bahwa kita akan jadi individu yang egois. Atau kelompok yang egois: rasis, chauvisist, primordial, dll; karena menurut teori ini, individu yang bertahan dan berkembang adalah individu yang bisa mempertahankan diri sendiri, mengalahkan yang lain dalam persaingan berebut sumberdaya, dan berebut pasangan.
[Oh, tentang pasangan, kita akan punya teori sendiri. Perlukah ditulis?]
Tapi … tentu saja. Tentu saja itu betul. Hanya individu yang dengan satu atau lain caralah yang mampu memperoleh sumberdaya untuk mempertahankan kehidupannya mencapai usia cukup dewasa untuk meneruskan keturunan. Dan yang dimaksud dengan cara di sini meliputi misalnya kekuatan, kecerdikan, kelicikan, kemampuan meraih simpati, dll. Dengan kata lain, egoisme tercetak dalam gene kita, sebagai penerus mereka yang survive.
Mungkin individu akan memiliki kans bertahan lebih tinggi jika ia bisa bukan sekedar kuat, tetapi juga cerdik. Cerdik mengelola sumber daya. Cerdik melakukan kerjasama, alih-alih selalu bersaing. Cerdik mensinergikan potensi untuk memperoleh sumberdaya lebih besar, dan untuk bertahan lebih kuat melalui kerjasama. Ia menyusun strategi membagi resource, membagi tugas, dan menyusun masyarakat. Strategi dan kebersamaan menjadi efek dari evolusi.
Masyarakat akan lestari jika memiliki individu di dalamnya tak memiliki potensi merusak masyarakat; sambil tetap memiliki kemampuan dasar untuk membela diri. Seperti juga individu, masyarakat terbentuk dari imbangan individu yang kuat untuk bisa bertahan tapi tak cukup mau/mampu memanfaatkan kekuatannya untuk menghancurkan masyarakat — sedikit demi sedikit atau sekaligus. Dan masyarakat akan lestari jika individu di dalamnya memiliki kemauan, kemampuan, minat, instink, dll … untuk kalau perlu mengorbankan diri sendiri demi masyarakat.
Masa?
Saat ada benturan antar masyarakat, atau benturan di dalam masyarakat; masyarakat akan survive jika ada yang mengorbankan diri (dari sisi resource atau dari mungkin mengorbankan nyawa) untuk mempertahankan struktur masyarakat, sehingga bukan seluruh masyarakat yang terkorbankan. Contoh yang mudah mungkin jika ada perang antara dua masyarakat untuk berebut resource. Masyarakat yang memiliki patriot yang mau berkorban akan memiliki kans lebih besar untuk bertahan (dengan asumsi potensi lain yang dimiliki sama) dibandingkan masyarakat yang individu di dalamnya tak mau mengorbankan diri untuk membela masyarakatnya.
Dalam skala lebih luas, masyakarat-masyarakat yang memiliki kearifan akan memiliki kans untuk lebih lestari. Mereka bisa mencegah perang dan menggantinya dengan empati, dengan kebersamaan, dengan kearifan mengatasi perbedaan, dengan kepintaran memecahkan masalah yang makin pelik antar masyarakat. Mereka yang memiliki konsepsi abstrak akan memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk lestari.
Menyebalkan. Kini moralitas cuma menjadi efek sederhana dari evolusi. Hal2 besar seperti simpati, pengorbanan diri, dan kepahlawanan pun … gilanya … cuma dianggap bisa dijelaskan melalui teori evolusi semata. Juga kecerdasan, kearifan. Padahal, di tahap ini, kita belum bermain dengan game theory segala.
Yang tentu menarik adalah bahwa potensi untuk egois (mempertahankan diri) dan gene untuk moralis (kesediaan mengorbankan diri demi nilai-nilai) itu tersimpan dalam individu2 yang sama. Manusia dengan potensi yang amat egois tak akan survive menjaga masyarakatnya (bisa memunahkan seluruh masyarakat). Tapi manusia dengan sifat yang amat moralis mungkin tak akan survive menjaga diri dan keluarganya. Dan mungkin masyarakat yang keseluruhannya memiliki sifat amat moralis tak akan lestari juga. Masyarakat memerlukan penyimpang, untuk mulai belajar menghadapi konflik kecil. Masyarakat yang terbiasa menghadapi konflik kecil, akan memiliki kans lebih kuat untuk memecahkan konflik besar yang bisa menghancurkan (misalnya peperangan yang rumit); daripada masyarakat yang tak terbiasa menghadapi konflik sama sekali.
Wow, kita memerlukan konflik! Kita memerlukan pelangggar! Kita memerlukan penyimpang! Kita memerlukan keanekaragaman! Kita memerlukan pluralisme untuk menjadikan kita lebih cerdik, pandai, dan bijak mengatur hidup kita!
[Pak ustadz tersenyum. Ujarnya: "Allah menciptakan kalian beraneka suku beraneka wangsa agar manusia saling mengarifi."]
Evolusi juga terjadi pada budaya, pada tatacara kita mengatur masyarakat. Kita mengubah perilaku untuk menyesuaikan diri pada lingkungan, pola hidup, konflik, interaksi. Kita membentuk budaya, menginteraksikan budaya, mengevolusikan budaya. Dan genetika yang lestari adalah yang dapat menyesuaikan diri dengan alam, i.e. dengan alam yang telah direkayasa dengan budaya. Maka evolusi bisa terbentuk dari rantai gene -> budaya -> gene -> budaya -> gene. Gene kita, selain berisi sejarah nenek moyang kita, tempat hidup mereka, penyakit yang menghinggapi mereka, juga sudah tercetak dengan adaptasi pada budaya yang telah mengatur nenek moyang kita, dengan gaya hidup mereka, interaksi dan konflik mereka, hingga tata mengatur masyarakat. Terbentuk budaya yang lengkap, dengan berbagai tatacara, adat, agama, hingga negara.
Agama? Huh, tak terlalu menarik memperbincangkan agama dilihat dari sisi evolusi. Tapi misalnya kita asumsikan bahwa kita tadinya tak mengenal Tuhan, kita akan mulai dari masyarakat yang bodoh, tak memahami semesta, tapi melihat keteraturan yang menarik di mana-mana, lalu mengilusikan adanya Sang Pencipta. Ide Sang Pencipta ini tak unik — ia masuk ke berbagai budaya, akibat melihat fenomena alam yang sama. Maka ia jadi ide universal, merasuk ke budaya, merasuk ke tatacara dan adat. Dan apalah adat yang melibatkan narasi ketuhanan, jika bukan agama. Politik membentuk agama formal dan negara. Tapi juga membentuk budaya. Dan budaya menyeleksi masyakarat. Maka tertinggallah kita: makhluk-makhluk yang memiliki Tuhan dan agama, yang hanya merasa damai jika merasakan kedekatan dengan Tuhan, dan merasa hidup memiliki arti saat menjalankan ajaran agama. Ini sudah tertanam dalam gen manusia. Berbagai teori yang dikemukakan di abad 19 – 20 – 21 bahwa hanya seluruh semesta bisa direkonstruksi dengan sains, tanpa melibatkan Tuhan, tak akan terlalu efektif mengubah manusia yang gene-nya, pikirannya, jiwanya (ya, aku menulis jiwa) telah terpola untuk hidup damai di bawah rasa sayang Tuhan-nya.
OK, itu asumsi pertama. Asumsi kedua, buat kita yang memiliki keimanan pada Tuhan. Tuhan mencintai proses. Tuhan sudah memiliki mekanisme, cuma melalui hukum2 matematika dan fisika biasa, yang memungkinkan makhluk hidup berevolusi, jadi manusia, dan masyarakat berbudaya, dan jadi makhluk yang akhirnya mengenali keberadaan-Nya.
Terserah kaulah mau mengambil posisi yang mana. Yang jelas sains tak membuktikan adanya Tuhan. Dan jika sains bisa membuktikan adanya Tuhan, maka Tuhan yang terbuktikan justru tak berharga: Tuhan yang bisa dilihat. Aku sendiri, hatiku selalu merasakan Ia hadir, menemani, mencandai, mengajarkan nilai-nilai-Nya, dan membuat hidup jadi menarik dan berharga. Kalaupun kau menganggapnya tidak real, itu sama tidak realnya dengan pikiranku, dengan persepsiku, dan dengan ikatan2 (cuma) logika yang mengikat molekul2 ini jadi aku. See, aku tak bisa, dan tak ingin berlepas.
Dan tentang judul entry ini … hahaha :)
September
Twitter memang bikin cercah-cercah ide itu terpecah dalam bentuk cericau sebelum bisa tergumpal seukuran blog. Pemecahan dengan miniblog tak terlalu berhasil. Mungkin seharusnya kita mulai menyerah, dan menulis blog dengan bentuk cericau ala twitter :).
September.
Di agendaku, ini berarti IPTV sudah mulai ditulis dengan tinta merah. Semangat, dan sekaligus tanda bahaya. Jika ada yang memiliki ide keren mengenai content IPTV, sila kontak aku. Platform, perangkat, sistem, dll, sudah bukan waktunya lagi — semua sudah didefinisikan. Yang masih diperlukan adalah content.
IEEE. Comsoc. Kegiatan Q3 tak sebanyak Q2 dan Q1. Banyak diskusi kecil untuk mendefinisikan action plan ke depan. Juga ada beberapa peluang kerjasama yang menarik. Tapi Comsoc Indonesia sedang tumbuh menarik, jadi menarik minat para scammer juga. Ah, aku sudah hafal pola kerja para scammer. Lupakan, dan fokus ke kegiatan yang real.
Comsoc Indonesia juga bulan ini ditampilkan di Global Communications Newsletter (GCN). GCN adalah bulletin aktivitas kegiatan Comsoc, yang diterbitkan bulanan. Versi cetaknya dibundel di dalam Communications Magazine, yang merupakan majalah bendera dari Comsoc; dan versi onlinenya memiliki web tersendiri di http://dl.comsoc.org/gcn. GCN bulan ini, yang memuat laporan Comsoc Indonesia, dapat diambil secara bebas pada URL http://tlk.lv/gcn1009. Isi laporan lebih pada aktivitas yang telah dilakukan selama tahun terakhir ini, dan hanya sedikit menyinggung rencana ke depan. Kegiatan2 ini tentu sempat disinggung juga di blog ini, sejauh yang aku ikuti :).

Untuk pengingat, di bulan September ini, IEEE juga sudah memulai proses perpanjangan keanggotaan. Buat para anggota, silakan melakukan perpanjangan di http://ieee.org/renewal. Konon ada hadiah menarik tahun ini. iPad?
Di IEEE, sedang dirayakan juga dua puluh tahun IEEE 802.11. Gugus Tugas IEEE 802.11 (Wireless Local Area Network, WLAN) didirikan pada 13 September 1990 untuk mewujudkan ide-ide mutakhir dalam pengembangan teknologi WLAN dengan kecepatan data 1 Mb/s. Hasil karyanya lebih akrab dengan nama WiFi, yang telah membaur dalam dunia Internet nirkawat beberapa tahun terakhir. Dalam usia dua puluh tahun, standar terakhir yang telah diterbitkan kelompok ini adalah IEEE 802.11n dengan kecepatan 600 Mb/s, dan saat ini tengah disusun standardisasi dengan target baru sebesar 5000 Mb/s. Standard 802.11 juga terus diperkaya dengan peningkatan efisiensi spektrum, keamanan informasi, QoS pada interface, dan feature-feature lain mengikuti kebutuhan user.
Lucunya, tanggal 13 September juga diperingati sebagai ultah kesepuluh Mac OS X. Mac OS X sedikit banyak mengubah hidup juga, membuatku berani beralih ke Mac, tanpa khawatir terputus dengan rekan2 kerja yang masih bergelimang lumpur Windows (hush). Aku mencobai Mac OS X di sebuah Mac Mini, trus ke Macbook, dan sekarang ke Macbook Pro. Si Mac Mini masih hidup, tapi lebih jadi music & DVD player, si MBP menemani kerja, dan si Macbook putih baru disiksa dengan dibootcamp Windows Vista. Masih ada beberapa aplikasi yang hanya hidup di Windows, dan aku pikir itu pas untuk Macbook putih, daripada pensiun. Vista-nya sendiri aku dapat dari Priyadi, di Pesta Blogger 2007 :). Tak terasa lambat dia berjalan di Macbook 2.1 GHz dengan memori 2.5 GB dan HD dialokasikan 80 GB. Kadang masih crash sih.
September juga peralihan Ramadhan ke Syawal. Moga masih sempat melakukan refleksi diri biarpun sudah meninggalkan Ramadhan.
Noli Me Tangere
Di pintu perjalanan yang lain, membalik2 passport, aku baru menyadari satu hal menarik tahun ini: Filipina. Kunjungan ke negara2 lain tahun ini adalah kunjungan ulang. Tapi Filipina adalah kunjungan perdana. Negeri kepulauan di Pasifik Barat Daya ini seolah kembaran Indonesia: alamnya, masyarakatnya, masalah2nya. Aku jadi ingin bercerita tentang tokoh Filipina: José Rizal.
José Rizal lebih dikenal di Indonesia melalui bukunya, Noli Me Tangere (1887), yang diterjemahkan di Indonesia menjadi Jangan Sentuh Aku (1975). José sendiri lahir di Calamba pada 19 Juni 1861, di negeri Filipina yang waktu itu masih dijajah Spanyol. Konon José adalah polymath yang meminati dan mencakapi banyak bidang ilmu, dan mempelajari banyak bahasa. Tapi ia adalah polymath yang merepotkan, karena sikap intelektual kritis yang ditampakkannya semenjak masa pelajar. Buku Noli Me Tangere aku baca di masa sekolah, dan termasuk buku yang tak dapat cepat dibaca. Gaya berceritanya tajam, benar2 tajam menusuk, memaparkan bagaimana pemerintahan yang kuat diatur oleh agama negara itu terlalu mudah diselewengkan oleh para agamawan, bahkan kalaupun itu bertentangan dengan kehendak penguasa administratif dan masyarakat. Berbeda, namun dengan tekanan yang sama dengan buku2 Indonesia masa penjajahan dulu: menggambarkan semangat yang hidup dalam atmosfer yang penuh tekanan.
Perjuangan José sendiri tidak terlalu ditekankan pada soal ras dan kolonialisme; tetapi lebih ke arah penyelenggaraan tata masyarakat yang lebih adil dan beradab. Sebagai anak yang cerdas, José memperoleh prestasi yang baik di sekolah. Namun ia enggan mengambil kuliah kedokteran di Filipina, karena sikap para paderi yang menurutnya tak menarik. Akhirnya ia malah mendamparkan diri ke Madrid dan mengambil kuliah kedokteran di sana, dilanjutkan dengan mengambil doktor di Paris dan Heidelberg. Adalah di negeri2 Eropa ini ia menulis buku Noli Me Tangere: setengah di Spanyol, seperempat di Prancis, dan sisanya di Jerman. Ia tak anti Eropa. Dalam bukunya, ia menggambarkan negeri Filipina sebagai entitas masyarakat yang terpisah dari Spanyol, namun memiliki ikatan patron yang erat. Dan kalau buku itu kemudian menimbulkan kemarahan oleh pemerintah kolonial, itu karena alur dalam buku itu benar2 mendeskripsikan tekanan yang terjadi pada masyarakat Filipina masa itu.
Ketidaksukaan intelektual José pada praktek agama di Filipina membuatnya meninggalkan jamaah katolik. Alih2 yang disebutnya sebagai beragama ala pengelana Spanyol menggunakan api dan pedang, ia memilih menjalani keimanannya melalui pendekatan kejujuran dan akal sehat. Dengan ini ia meneruskan penentangannya pada perbudakan, pembodohan, dan eksploitasi manusia di negeri jajahan.
Bukan hanya oleh pengaruh Rizal bahwa masyarakat Filipina di masa itu memang dalam tahap kebangkitan menyusun identitas diri dan menentang penjajahan; seperti yang juga tengah terjadi di negeri2 terjajah lainnya. Rizal menghindar dari tuduhan terlibat pemberontakan2, dengan berangkat ke Kuba untuk turut memberantas penyakit demam kuning. Namun pemberontakan yang menghebat membuat Pemerintah Spanyol merasa harus bersikap keras, yang ditunjukkan antara lain dengan menangkap José Rizal. Faktanya, memang kaum2 yang memberontak itu memperoleh energi dari pesan2 yang disampaikan José melalui buku2nya.
José dihukum tembak. Jenasahnya dihilangkan, tak dikembalikan ke keluarganya. Sebuah monumen untuk mengenangnya didirikan di tempat ia ditembak. Terdapat tulisan di sana: “I want to show to those who deprive people the right to love of country, that when we know how to sacrifice ourselves for our duties and convictions, death does not matter if one dies for those one loves – for his country and for others dear to him.”
Filipina sendiri kemudian lepas dari penjajahan Spanyol, tetapi kemudian dijajah Amerika Serikat, lalu diduduki Jepang pada masa Perang Dunia II, dan dimerdekakan setelah perang usai. José Rizal menjadi pahlawan dan simbol nasional Filipina. Hari eksekusinya diperingati setiap 30 Desember. Dan wajahnya menghiasi berbagai artefax Filipina. Koin2 misalnya. Dan kata2nya menghiasi idiom2 Filipina. “There can be no tyrants where there are no slaves.“
Coventry
Coventry menyambut dengan aroma bekunya yang khas dan akrab. Cukup menyentakku, menghadirkan ilusi seolah aku baru meninggalkan kota ini beberapa bulan lalu. Banyak yang nampaknya terbekukan waktu: gedung dengan label yang sama, teks yang sama, aroma yang sama, dan nada yang sama. Mesin jaguar di Q Block, penjaga KFC, hingga matahari yang belum terbenam pukul 20:00.

Tapi sebenarnya banyak yang berubah. Lower precinct yang dulu direnovasi itu, kini sudah jadi mall yang ramah, menyatu dengan upper precinct yang tak berubah itu. Konon inilah pedestrian precinct pertama di Inggris, yang kemudian banyak ditiru kota lainnya. Millenium arc juga sudah selesai, menambah menarik kawasan sekitar Pool Meadow dan Museum Transportasi.

Coventry pernah jadi kota keempat terbesar di Inggris, setelah London, Norwich, dan Bristol. Sempat tumbuh dari industri wool dan tekstil, ia beralih jadi raja industri mekanik: jam tangan, sepeda, hingga mobil. Namun industri persenjataannyalah yang membuat kota ini habis diluluhlantakkan Luftwaffe tahun 1940.

Kota-kota di sekitar Coventry menampilkan kecantikan masa lalu. Warwick dengan tembok megah dan kastil raksasanya; Leamington dengan taman luas dan gedung anggun bernuansa krem; Stratford-upon-Avon dengan beraneka gaya kecentilan abad2 lalu. Tetapi bom-bom dari Jerman membuat Coventry kehilangan banyak dari masa lalu itu. Namun, seperti seekor phoenix, ia bangkit dari abu kehancurannya, membangun diri sebagai kota modern.

Beberapa situs menandai masa-masa dibangunnya Coventry saat itu. Belgrade Theatre dibangun atas sumbangan rakyat Yugoslavia, karena saat itu Coventry masih harus membangun instalasi vital. Patung-patung rekonsiliasi menunjukkan tiadanya minat mengungkit luka dan lebih memilih bekerja akrab meningkatkan harkat. Dan warna multikultural Coventry adalah warna asali yang membentuk kota ini.

Tentu aku mengawali jelajah Coventry dari Coventry University. Kampus berlogo phoenix ini menjadi simbol kota Coventry yang menjadi kuat oleh kemampuan dan kepeloporan teknologi. Lanchester library, technopark, gedung Jaguar (ruang kuliahku dulu), hingga kantor pusat dengan penjaga yang extra ramah. Logo baru (yaitu logo lama yang dicerminkan) kini menghiasi hampir semua gedung di kampus ini.

Herbert Museum, yaitu pusat budaya dan sejarah Coventry, jadi tujuan berikutnya. Kebetulan ada pameran tentang asal usul Coventry di sini; dari masa prasejarah Coventry, pembentukan kota dan kisah Lady Godiva, perang saudara dan revolusi industri, hingga hancur dan lahir kembalinya Coventry.

Barulah kemudian city centre dan kawasan precinct. Dan kemudian kawasan lain di sekitar kota. Dan berakhir dengan kunjungan ke kota-kota di sekitar. Stratford-upon-Avon dengan puluhan angsa putih yang besar namun lincah di sungai Avon, Warwick dengan kastilnya nan megah dan fantastik, dan Leamington dengan tupai-tupai imutnya. Lalu, Coventry kembali harus ditinggalkan.

Coventry menginspirasi untuk bergerak, berinovasi kreatif, berkomitmen pada kejujuran ilmiah, dan terus maju ke depan; bukan untuk terus berada di masa lalu atau melamuni masa kini. Maka kunjungan ke Coventry belum selesai. Kita terus berada di Coventry justru saat kaki kita melompat jauh darinya, dan kekuatan kreatif kita mewarnai dunia-dunia yang terus kita jelajahi.
Life Confident
Jadi aku harus menamainya mission atau passion? :), ini digencarkan di entry blog ini beberapa bulan lalu. Tapi program Indigo bukan hanya merupakan platform kerja Telkom: ia juga mendefinisikan Telkom. Strategi dan komitmennya untuk melaju bersama komunitas-komunitas kreatif dan elemen-elemen pembangun ekonomi dan budaya bangsa, ditampilkan dalam visualisasi baru, tagline baru. Sebuah brand positioning pun diperkenalkan: Life Confident.

Logo baru Telkom dan brand positioning ini sendiri baru disoftlaunchkan malam tadi, sebelum diluncurkan secara lebih besar bersamaan dengan penganugerahan Indigo Awards tanggal 23 Oktober mendatang. Aku sedang cukup disibukkan oleh persiapan Indigo Awards, jadi tak sempat menghadiri soft launching :). Tapi sekilas melirik, tampaknya aku langsung jadi fans logo Telkom yang baru ini.
Pesan Life Confident sendiri langsung membangkitkan optimisme. Hidup bukan sesuatu yang mudah bagi siapa pun. Tetapi deretan perjuangan hidup mewarnai jiwa kita dengan nilai-nilai yang membuat tak memiliki alasan untuk tidak menganggap hidup itu indah. Di atas sinisme jenaka kita, kita memiliki optimisme. Di atas beku udara (brrr), ada hati dan jabat tangan hangat yang menemani perjuangan kita. Dan dengan kecerdasan hidup kita, kita bisa mencapai kegemilangan negeri ini.
Ayo, ini dunia kita. Isi dengan warna-warna kita, dengan keyakinan diri dan kelincahan langkah.
Catatan:


















