Rak Buku

Dulu rak buku baru bisa dipetakan di LibraryThing. Selama beberapa waktu, site ini memiliki interaktivitas yang tak terlalu kaya; sehingga agak jarang aku kunjungi, kecuali sesekali saat ada buku yang baru dibeli, dan ingat untuk update. Baru kemudian akhir2 ini ada feature2 baru.

librarything.jpg

Biasanya adanya feature baru menunjukkan mulai adanya kompetisi. Memang, layanan sejenis sudah mulai dirilis. Beberapa hari yang lalu, aku berkenalan dengan Shelfari. Shelfari cukup berbaik hati, memperbolehkan kita mengimpor CSV dari LibraryThing, sehingga kita tak harus menambahkan buku satu per satu dari awal.

shelfari.jpg

Eh, malam ini, blog Nita memperkenalkan satu lagi rak buku maya: GoodReads. Boleh impor CSV dari LibraryThing juga. Langsung eksekusi.

goodreads.jpg

Yuk, cari 10 perbedaan :). Hush. Yang perlu dilakukan adalah mencari feature yang menarik dari site2 ini, terutama yang berkait dengan review, dan ide2 baru tentang buku yang menarik untuk dibaca. So, aku menjelajah dulu ya :).

Profesor September

September, karya Noorca Massardi (diterbitkan oleh Tiga Serangkai), dan Terbunuhnya Seorang Profesor Posmo, karya Arthur Asa Berger (terjemahan diterbitkan oleh Marjin Kiri). Dua buku ini dilahap di sebuah weekend pada suasana hati yang sedang asing. Asing bukan karena merasa berada dalam kedalaman yang terpisahkan dengan dunia sekeliling, tetapi justru karena merasa hati hanyut menganjak di dunia yang bergerak bebas lincah sambil menyembunyikan tujuan keterpelantingan kita.

berger.jpgSingkatnya, September mereka ulang peristiwa 1965. Penceritaannya jadi menarik, karena sejarah direka ulang oleh tokoh Darius yang bisa menyusupi jiwa2 pelaku, termasuk Presiden Soekresno Pemimpin Besar Reformasi masa itu. Sayangnya Darius tak hendak menyusupi daripada Mayjen Theo Rhosa si pengkhianat yang licik dan cerdik itu. Sedangkan Profesor bercerita tentang terbunuhnya profesor Gnocchi di meja makan saat sedang bersantap bersama istri dan para koleganya sesama postmodernist. Pelacakan melalui wawancara dengan para tersangka maupun dengan membacai surat2 Gnocchi kepada Lyotard, Baudrillard, Habermas, dan Jameson, serta dengan menonton rekanam kuliah terakhir Gnocchi, memaksa sang Inspektur untuk memahami postmodernism dari berbagai sudut pandang.

Tentu bukan karena tertular posmo maka kedua buku ini direview dalam satu artikel. Tapi — coba lihat kembali — memang gaya kedua buku ini kebetulan sama. Pemfiksian atau penovelan sesuatu, baik itu sebuah sejarah (September) atau sebuah perspektif/filsafat/genre (Profesor), dengan tidak meninggalkan deskripsi utama. Peristiwa 1965 digambarkan seperti aslinya, dengan nama pelaku dianagramkan (hey, I love that) dan tanggal2 digeser, serta teknologi Internet, seluler, jalan tol, dll sudah dimasukkan. Postmodernism diperikan melalui sudut pandang sesungguhnya dari mendiang Foucault, Lyotard, Baudrillard, Habermas, dll; dengan memfiksikan tokoh lain dan hubungan tokoh itu dengan Gnocchi (yang ini fiktif, sefiktif Darius).

Tapi tentu kesastrawanan Massardi belum mampu ditandingi oleh seorang Berger. Buku September mampu membuat aku mengagumi Noorca kembali, setelah sekian tahun nama itu aku lupakan. Sedangkan Berger? Ummm, kalau kita sempat baca Orient Express punya Agatha Christie, kita kelihatannya sudah bisa menebak pembunuhnya dari awal. Bedanya, yang betul2 membunuh memang berbeda. Karena ini bukan buku novel kriminal beneran. Pun penarasiannya rada kedodoran. Biar deh. Enak kok buat menikmati weekend :).

I Am A Strange Loop

Douglas Hofstadter pernah memenangkan Pulitzer untuk buku sebelumnya: Gödel, Escher, Bach: An Eternal Golden Braid, yang bisa2nya mengaitkan teorema esoterik Gödel, lukisan paradox Escher, dan komposisi multilayer ala Bach, dalam satu tema. Ide menarik itu dibawanya ke bukunya yang baru ini: I am a Strange Loop. Strange loop? Apa tuh? Carilah di Wikipedia :).

Strange loop memiliki sifat menarik. Mereka beroperasi serentak pada beberapa level abstraksi. Misalnya, pada versi matematika, strange loop dapat dilihat pada level mikro sebagai permainan angka dan operator; sementara pada level makro dapat dilihat sebagai permainan teorema dan pembuktian2. Untuk komputer, kita bisa bicara tentang relasi elektronik antara transistor, kapasitor, resistor; atau bisa tentang subrutin software yang menginstruksikan CPU mengubah angka pada storage. Pada network? Ah, pasti kita kenal.

Karakteristik lain adalah bahwa pada level abstraksi tertentu, ia bisa dianggap sebagai sistem yang bekerja dengan simbol pada obyek dan konsep. Menariknya, strange loop dengan demikian bisa bekerja mensimbolkan dirinya sendiri. Terjadi mekanisme feedback, yang kemudian membuat tak mungkin lagi dilacak apakah perilaku loop ini mula2 ditentukan pada aktivitas level mikro sebagai penyusun loop ini, atau pada level makro yang bermain pada abstraksi simbolis. Lalu, Hofstadter pun menyatakan bahwa bentuk feedback macam inilah yang menjadi asal muasal adanya kesadaran. Adanya ‘aku’ :).

Sorry, kalau ini tidak menarik buat Anda. Tapi mencari asal-usul rasa ‘aku’ adalah salah satu pencarianku sejak balita. Dan buku ini jadi menarik karena akhirnya membahas soal ini. Tapi kita kembali dulu ke buku ini, yang sekarang kita tahu kenapa judulnya “I am a Stranger Loop.”

Hofstadter beranjak lebih jauh. Setiap sistem yang mampu merepresentasikan simbol dalam jumlah besar akan mengembangkan kesadaran diri, katanya, tak peduli apakah sistem itu dibentuk oleh neuron atau transistor. Namun tak semua komputer, dan tak semua otak, mampu mengelola simbol yang sekaya itu. Nyamuk dianggapnya tidak punya kesadaran. Juga semua komputer masa kini. Juga, kata dia, bayi yang baru lahir sampai usia tertentu.

Tapi kita sedang bermain dengan simbol, jadi cerita berlanjut. Sistem otak kita, lanjutnya, tidak terbatas hanya merumahi satu strange loop saja. Biarpun, normalnya, ‘si aku’ tetap menjadi pribadi dominan. Bisa saja otak ini dalam level yang lebih rendah, merumahi abstraksi, dan dengan kata lain pikiran, dari manusia atau sesuatu yang lain. Manusia yang memiliki kedekatan, ide-ide personal yang terasa lekat, akan membentuk semacam salinan kesadaran di otak kita. Ada semacam ‘you, me, and us’ yang melekatkan relasi manusia.

Jelas, ide2 dalam buku ini sangat menarik. Tak heran, begitu terbit dia langsung menembus ranking di Amazon. Untuk ide yang juga menarik tentang asal usul pikiran manusia, sila baca juga buku Roger Penrose yang judulnya … dicari dulu sebentar. Salah satunya The Large, the Small and the Human Mind. Tapi ada yang lain juga. OK, ini dulu deh.

Kopi Jawa

Kopi lagi? Tentu. Ini tema yang menyegarkan!

Sebelum mulai dengan Java, kita mulai lagi dengan sejarah kopi. Terdapat sebuah versi lain sejarah kopi yang tidak melibatkan domba. Masih dari Ethiopia, kisah ini hanya dimulai dari Ali al-Shadili yang gemar meminum sari biji kopi untuk membuatnya tetap terjaga demi menjalankan shalat malam. Tak lama, kopi menjadi komoditas yang diekspor ke Eropa, terutama dari daerah Kaffa di Ethiopia. Orang Eropa menamainya mocha. Bijinya tidak boleh diekspor, kecuali sudah dalam keadaan terpanggang, dan tak dapat ditanam lagi. Tapi penyelundup selalu ada. Tak lama, penjajah di nusantara sudah mulai membudidayakan tanaman kopi di Jawa.

javaestate.jpgDi Jawa, kopi mula2 ditanam di sekitaran Jayakarta, meluas ke Jawa Barat, dan kemudian lebih diperluas ke Jawa Timur, serta kemudian ke luar Jawa. Varietasnya arabika. Sebuah pameran yang digelar di AS (dengan dana yang cukup besar, ditanggung industri kopi Jawa) membuat publik Amerika mulai mengenal kopi dan menjuluki minuman ini sebagai Java. Nusantara, khususnya Jawa, menjadi pengekspor kopi terbesar dan terbaik di dunia. Malangnya, terjadi wabah di tahun 1880an, yang memusnahkan kopi arabika yang ditanam di bawah ketinggian 1km dpl, dari Shri Lanka hingga Timor. Brasil dan Colombia mengambil alih peran sebagai eksportir kopi arabika terbesar, sampai kini. Sementara itu, varietas kopi di sebagian besar Jawa diganti dengan liberika. Tapi tak lama, wabah yang serupa memusnahkan varietas ini juga, sehingga akhirnya 90% kopi di Jawa diganti dengan varietas robusta, kecuali di tempat yang betul2 tinggi.

Setelah para penjajah didepak, kebun2 kopi dinasionalisasi dan/atau diprivatisasi. Adalah PTPN XII (a state-owned company) yang kini mengelola kopi yang disebut sebagai Java Estate. PTPN XII yang mengelola beberapa perkebunan di pegunungan Ijen (Jawa Timur) hingga kini tetap memelihara varietas arabika dengan kualitas amat tinggi. Kebun2nya terletak di Blawan (2500 Ha), Jampit (1500 Ha), Pancoer (400 Ha), dan Kayumas (400 Ha), dengan ketinggian antara 900 hingga 1600 m dpl. Hasil tahunan mencapai sekitar 4 ribu ton biji kopi hijau. 85% biji diekspor sebelum dipanggang. Kalau kebetulan menjenguk Starbucks di Bandung, dan mengamati ada sekantung kopi berlabel Java Estate, nah itulah kopi Jawa yang berkeliling dunia sebelum kembali ke negerinya.

Di dekat kawasan PTPN XII, terdapat juga perkebunan Kawisari dan Sengon, dengan luas 880 Ha, dan ketinggian lebih rendah dibandingkan kebun2 milik PTPN XII. Kopinya 95% robusta, dan sisanya arabika. Hasilnya banyak digunakan untuk industri kopi di sekitar Jawa Timur. Di Jawa Tengah, di kawasan Losari yang dikelilingi tak kurang dari 8 gunung berapi, terdapat juga perkebunan Losari (d/h Karangredjo). Losari dimiliki Gabriella Teggia, warga Italia yang sudah menetap di Indonesia sejak 1965.

Tahun 2003, Gabriella Teggia inilah yang menulis buku A Cup of Java bersama Mark Hanusz. Buku keren ini bercerita tentang sejarah kopi hingga masuk ke Jawa, tentang sejarah kopi di Jawa (termasuk tentang Multatuli dan Max Havelaar-nya), tentang Java Estate (dan menyinggung juga kopi2 keren lainnya: Mandailing Sumatra, Kalosi Toraja, dll), tentang kopi panggangan Jawa (termasuk Kopi Warung Tinggi Jakarta, Kopi Aroma Bandung, Kopi Kapal Api, dll), serta tentang budaya ngopi di Jawa. Di bagian Appendix, buku ini menampik mitos tentang Kopi Luwak.

Starbucks sempat menelepon minggu lalu, menawarkan dua kopi istimewa untuk edisi khusus bulan ini: satu dari Sulawesi, dan satu dari Papua. Sementara menunggu kopi2 rasa nusantara itu (ingat Kopi Kampung), kita nikmati hari ini dengan Kopi Malang.

Planet Digital

Buku ini berjudul Planet Digital: Manuver CDMA di Indonesia. Terima kasih buat Kawan Budi Putra. Bukan hanya karena berbaik hati memberikan buku ini, tetapi, lebih dari itu, karena telah menulis buku yang menarik ini. Kawan Budi menulisnya sebagai bagian dari triloginya, setelah Planet Selular dan Planet Internet.

planetdigital.jpgBuku ini unik. Menyembunyikan kelengkapan dalam kesederhanaan. Lebih mirip kumpulan feature daripada paparan imiah, sehingga enak dicerna dalam waktu senggang sekalipun. Cerita CDMA dimulai dengan Hedy Lamarr, pemegang patent frequency hopping (lengkap dengan gambar skema), sekaligus pemain film bugil pertama (lengkap dengan foto), yang latar belakang patriotiknya mendorongnya mengembangkan ide CDMA ini. Kemudian Claude Shannon yang teorinya dapat digunakan untuk mengembangkan konsep komunikasi spread spectrum. Dan tentu Irwin Jacobs yang mengusung teknologi CDMA melalui Qualcomm. Dan sejarah digulirkan.

Kemudian buku ini memperdalam ulasan teknologi CDMA diperdalam, termasuk membandingkan dengan teknologi wireless lainnya, serta membandingkan berbagai platform dalam teknologi CDMA sendiri, termasuk CDMA 2000 dan CDMA-One. Setelahnya kita diajak melongok industri CDMA, dari operator telekomunikasi hingga perangkat terminalnya. Lengkap dengan foto2. Fokus kita kemudian dibawa ke Indonesia, dimana satu per satu produk telekomunikasi CDMA diulas: Flexi, Esia, Fren, dan StarOne. Yang dibahas bukan cuma implementasi teknologi, tetapi segmen bisnis dan strategi marketing tiap produk itu. Barulah kemudian semuanya disandingkan dalam kajian strategi kompetisi. Kita dibawa juga ke masa depan pengembangan CDMA dalam jangka dekat, termasuk platform BREW untuk pengembangan content multimedia, serta EVDO sebagai platform broadband di atas CDMA. Niche segment dari CDMA juga tak tertinggal, semisal CDMA 450 untuk kawasan rural, yang sudah cukup mampu membawa teknologi sekelas 3G hingga ke pelosok2.

Budi Putra, kalau barangkali belum mengenal nama ini, adalah seorang jurnalis, dengan spesialisasi pada IT dan telekomunikasi. Pernah memperoleh penghargaan utama dalam berbagai lomba karya tulis jurnalistik yang diselenggarakan oleh Indosat, Excelcomindo, Cisco, HP, Nokia, dan pasti masih menyusul lagi. Lucunya, beliau malah kemudian menseriusi dunia weblog. Ini trend yang aku pikir sehat dan menarik — berlawanan dengan beberapa media yang mulai runtuh kredibilitasnya karena jurnalis2 di dalamnya malah menjadikan media resmi sebagai sarana blogging pribadi tanpa dukungan QA yang memadai.

Th!nk Blink!

Richard Oh membahas tentang Think dan Blink. Ini bukan tentang toko buku QB, gudang kecendekiaan yang mendadak melenyap satu demi satu dari bumi Indonesia. Tulisan di edisi perdana majalah Esquire Indonesia ini membahas perbandingan observasi dan pengambilan keputusan model buku “Blink!??? karangan Malcom Gladwell vs “Th!nk??? karangan Michael LeGault.
esquire-indonesia.jpgPara pedoyan buku akan paham bahwa buku Blink memotivasi kita untuk mengasah kembali kepekaan nalar halus kita. Ada yang menggerakkan nalar halus kita itu untuk mengambil pilihan paling baik dan paling tepat, dan ini terlihat dari gejala fisik. Tangan kita berpeluh lebih saat kita mengambil keputusan yang salah, kata Blink, sebelum daya analisis kita akhirnya (jika belum terlambat) memahami bahwa keputusan yang diambil itu salah. Think berpikir sebaliknya. Sempitnya waktu dan derasnya beban membuat kapasitas manusia berpikir kritis makin melemah. Manusia mengambil keputusan2 instan hanya berdasar pikiran spontan, sementara jika kita mau meluangkan waktu untuk menganalisis lebih teliti, kita akan dapat menemukan faktor-faktor kritis yang membantu kita mengambil keputusan.

Kedua konsep itu, kata Oh, menawarkan hal yang sebenarnya sama: dalam hidup yang berdesakan kita perlu mengambil waktu secukupnya untuk berpikir kritis sehingga daya rasio kita selalu tajam dan siaga untuk menghadapi persoalan yang mendesak. Oh memberi contoh menarik dengan menculik Milan Kundera dan Don Quixote dalam bagian ini. Don Quixote memberi contoh bagaimana manusia kadang perlu beringsut ke alam imajinasi untuk menghadapi realitas brutal.

Seandainya weblog ini berusia beberapa tahun lebih tua, katakan awal tahun 1990an, tentu aku sudah menulis di sini (alih2 di buku kecil yang entah sekarang ada di mana) tentang intuisi versi aku sendiri. Intuisi dalam hal ini bukanlah kilasan batin. Ia dibentuk dari rasio; dari knowledge; dari kumpulan pengetahuan yang terolah membentuk kearifan yang kemudian tersimpan secara rapi di layer yang tidak bersifat verbal lagi. Repeat: ia tadinya dibentuk dari rasio, tetapi tidak lagi bekerja secara verbal. Maka intuisi tetap dibentuk melalui pendidikan, pengasahan kearifan, perenungan, pengalaman, kecerdikan, dan segalanya itu. Intuisi kemudian membimbing kita dari dasar pikiran, di level yang berbeda, dengan cara seolah ia ilham yang datang dari langit. Berlalunya tahun barangkali membuat aku tak lagi sepenuhnya sependapat dengan pikiranku lebih dari 10 tahun lalu :) – setidaknya barangkali aku tak lagi menamainya intuisi :). Tetapi membaca perbandingan Blink dan Think, mau tak mau aku jadi terpaksa ingat catatan purba ini.

Bagaimanapun, seperti Oh tulis, memang akhirnya perlu keseimbangan. Persoalannya bukanlah memilih nalar halus atau pikiran kritis. Ada waktu yang perlu diluangkan untuk merenung dan menganalisis, tapi juga ada waktu untuk mengosongkan pikiran dan mempertajam kepekaan batin; untuk akhirnya mengambil keputusan dengan cara yang sistematis dan accountable. Batin dan rasio akan selaras membantu kita memilih langkah yang paling bijak. Dan kapan memilih tools yang mana? Ada porsi yang tepat untuk setiap masalah.

Tapi sialnya, justru waktu aku kemudian berpikir seperti itu, Oh justru mencuplik Yamamoto Tsunemoto: perlakukan masalah besar bagai masalah kecil; perlakukan masalah kecil bagai masalah besar. Trus? :). Ambillah keputusan :).

Dari Ljubljana, Alenka Zupancic berceloteh: komedi adalah bentuk drama yang lebih realis daripada tragedi. Dan itu menjelaskan kenapa tadinya aku beli Esquire Indonesia. Dari namanya aku membayangkan kemiripan dengan squirrel, ésqurial, atau écureuil. Tupai. Cit cit cit. Hush. OK, kemudian ada IEEE Network yang membahas Evolusi 4G Wireless (huh dari tahun 2001 terus membahas 4G), dan IEEE Wireless yang membahas Protocol Engineering for 802.16. Hmm, yang mana dulu ya?

Tresche

Beberapa pin mawar putih itu masih ada di koleksiku. Itu hasil perjalanan dari Yorkshire beberapa tahun yang lalu. York is a beautiful city :). Tapi ini dulu pernah aku tulis di sini. Aku cuman mau cerita bahwa dulu sebenernya aku berharap bisa dengan satu cara menyusup ke Thirsk, yang udah nggak terlalu jauh lagi dari York. District Hambleton bersebelahan dengan kota York. Tapi sayangnya di musim itu, transportasi ke Thirsk tak terlalu leluasa. Jadi aku belum berhasil. Hmm, biarpun usia manusia tak panjang, mudah2an kapan2 sempat juga aku singgah ke sana.

Thirsk. Kalau orang Viking dulu menamai York sebagai Jorvik, maka Thirsk dulu bernama Tresche, yang juga berasal dari kata Viking “þresk” yang artinya … apa ya.

Buku If Only They Could Talk, yang diterbitkan tahun 1970, dan diterbitkan versi Indonesianya tahun 1976 sebagai Seandainya Mereka Bisa Bicara, ditulis dan banyak bercerita tentang kota ini, biarpun disamarkan dengan nama Darrowby. Oh ya, buku ini juga beberapa kali bercerita tentang Harrogate, yang disamarkan sebagai Brawton. Buku ini, dan deretan sekuelnya, menduniakan nama Yorkshire, dan akhirnya nama kota Thirsk juga. Sang penulis, Alf Wight (James Herriot), selain mendapatkan penghargaan Ordre of British Empire karena prestasinya sebagai penulis, serta diangkat sebagai FRCVS (Fellow of RCVS) dan anggota kehormatan BVA, juga mendapatkan penghargaan karena mengangkat (atau bahkan disebut menciptakan) industri pariwisata di North Yorkshire.

Tetapi, selain faktor Herriot, sebenarnya banyak hal menarik lain dari kota Thirsk. Kota ini masih kecil. Pasarnya tak banyak berubah sifat dari zaman Herriot: dibuka setiap Senin dan Sabtu. Juga desa2 disekitarnya, yang nama2nya masih berbau Viking juga: Thirlby, Boltby, Borrowby. Akhiran -by berarti desa, katanya. Barangkali nama Borrowby yang diculik Wight untuk memberi nama Darrowby. Fakta bahwa Herriot betah di kota renik ini selama puluhan tahun (selain setiap Kamis kabur setengah hari ke Harrogate), serta banyak bercerita tentang bukit dan lembah di sekitarnya dengan cara yang selalu berbeda tapi tetap menakjubkan, menunjukkan bahwa kota ini memang layak dikunjungi.

Ummm … kapan ya …

%d bloggers like this: