Cuci Piring

Cukup lama tak menyentuh James Herriot, kali ini aku mencuplik satu cerita yang rada berbeda. Tak melibatkan kedokteran hewan. Dan ini diambil dari buku All Creatures Great and Small. Buku ini adalah versi Amerika, yaitu versi bundling, dari dua buku pertama Herriot: If Only They Could Talk dan It Shouldn’t Happen to a Vet. Seperti buku Seandainya Mereka Bisa Bicara (If Only They Could Talk) yang jadi bersejarah buat aku — dan buat banyak anak2 Indonesia masa itu; buku All Creatures Great and Small ini juga bersejarah. Ini adalah buku yang pertama kali aku beli dari Amazon. Waktu aku sedang menunggu buku ini datang dari gudang Amazon (zaman itu memakan waktu berminggu2), aku dipanggil British Council karena dinyatakan mendapatkan Chevening Award. Tapi, seperti siswa Chevening lainnya, aku harus ikut training Bahasa Inggris dulu, untuk memperbaiki dan terutama mempercepat respons kami memahami bahasa Inggris. Buku ini tiba tepat waktu. Aku baca setiap malam. Bahasa Inggrisnya yang dirusak pengejaan gaya York dan gaya lain (termasuk konon Scottish dan Irish English) membuat aku makin tertantang untuk cepat memahami kalimat2 unik di dalamnya.

Balik ke buku. Halaman 277. Herriot sedang kasmaran, haha. Seorang putri petani, Helen Alderson, terus menghantui pikirannya. Sayangnya ia tak punya cukup alasan untuk menemuinya. Pak Alderson peternak yang cerdas, dan ternaknya jarang sakit. Memang salah satu sapinya pernah harus dijahit kakinya. Tapi perlu menunggu sampai akhir bulan sebelum plester penutup jahitan bisa dilepas. Dan penantian itu kandas saat Pak Alderson menelepon dan menyebut sudah melepas plester itu sendiri — hasil operasinya bagus. Untuk pertama kali James memaki kecerdasan seseorang.

Lalu James bergabung ke Music Society di Darrowby. Helen tampak beberapa kali ikut pertemuan di sana. Namun beberapa minggu, James hanya berani melihat Helen dari kejauhan, dikerumuni sahabat2nya. Termasuk malam itu. Di tengah string kuartet (haruskah kuterjermahkan sebagai dawai berempat?), James hanya melihat punggung Helen. Tapi ketua kelompok dengan riang mengajak semuanya minum teh dulu (dan membayar 3 pence). James langsung menyambar teh, lalu bergerak ke arah Helen.

Helen menatapnya. “Selamat sore, Pak Herriot. Bisa menikmati malam ini?”
“Duh, kenapa panggilnya pakai Pak sih. Panggil saja Jim,” kata James. Tapi cuma dalam hati.
Dan yang dia ucapkan adalah, “Selamat sore, Nona Alderson. Malam yang menyenangkan kan?”
Lalu diam.

Para sahabat Helen berbincang tentang Mozart. Tak ada hal lain yang bisa diperbincangkan lagi. Selesai.

Tapi Pak Ketua datang lagi. “Kayaknya harus ada yang berkorban cuci piring malam ini. Siapa yang mau ambil giliran? Atau dua anak muda ini saja?” — sambil menatap Helen dan James. Tentu saja James punya banyak gagasan yang lebih menarik daripada cuci piring. Tapi tiba2 dia melihat itu sebagai peluang emas. “Oh. Tentu. Kalau Nona Alderson tak keberatan, tentu.”

Lalu mereka berbagi tugas. James mencuci. Helen mengeringkan. Lima menit berlalu. Mereka mulai berbincang. Tapi lagi2 tentang musik. Duh, gak kemana2, pikir James. Dan dengan panik dia melihat cangkirnya tinggal satu. Ia menyerahkan ke Helen. Tapi tak dilepas. Panik menunggu inspirasi yang tak kunjung datang. Sementara perang berebut cangkir terakhir terjadi, James mendengar suara, “Boleh kita ketemu lagi?” — yang ternyata suaranya sendiri.

Helen diam. Wajahnya tak dapat dibaca. Akhirnya ia menjawab pendek. “Boleh.” Lalu James lagi. “Sabtu malam?” Disusul anggukan ringan Helen yang meletakkan cangkir kering, dan pergi. Sementara Haydn dimainkan. Apakah Helen memang berminat untuk ditemui? Atau hanya terpaksa demi kesopanan?

Selesai.

Tapi, btw, untuk kita semua yang mengejar kesempatan apa pun: bisnis, karir, network, travelling, dll — jangan meremehkan hal2 kecil semacam kesempatan untuk mencuci piring. Ingat bahwa Feynman pun memperoleh Hadiah Nobel gara2 dia memanfaatkan waktunya menghitung rotasi piring, saat dia merasa mandeg dengan cita2 yang dirasa terlalu tinggi. Mungkin … cuci piring adalah peluang emas kita :).

Oh ya. Penasarankah dengan akhir cerita? Bisa ke Wikipedia atau lainnya sih :). Tapi aku cuplikkan halaman terakhir buku itu. Halaman 437.

Aku berteriak ke Helen: “Nomor tiga delapan. Tujuh. C!”
“Tiga delapan. Tujuh. C,” istriku mengulang sambil membentangkan bukunya dan mulai menulis.

[Foto diambil dari: Masihkah…?]

5 Comments

  1. OOT: Saya masih terkesan orang masih mau baca buku dan ngeblog, dab dengerin musik, serta ngetweet kayak Kuncoro ini. Salut! Padahal ini zaman orang menghabiskan waktu di media sosial karena gak tahu apa yang harus dilakukan selain saling lontar coletahan :D

  2. But I’m an old-skool nerd, not a Z Gen :). Masih lebih doyan presentasi tentang arsitektur network yang amat garing dibandingkan diskusi yang meriah tentang social media.
    Jadi, kapan kita ngopi?

  3. cerita yang menarik..

  4. mempunyai kesan yg luar biasa

  5. Oh ya, satu bulan setelah entry blog yang ini, berhasillah aku mengunjungi Darrowby: http://kun.co.ro/2010/05/06/darrowby/

Trackbacks/Pingbacks

  1. Tweets that mention Kuncoro++ » Cuci Piring -- Topsy.com - [...] This post was mentioned on Twitter by Edi Indira, Planet Terasi. Planet Terasi said: Kuncoro Wastuwibowo: Cuci Piring: Cukup…

Leave a Reply

%d bloggers like this: