Akuntabilitas Babi

Kami sedang berbincang tentang tempat2 menarik di Indonesia, saat seorang intern dengan ringan bertanya, “Tapi sebenernya, kenapa sih babi itu haram?” Aku lupa apakah anak ini masih mahasiswa atau baru lulus. Tapi ini pertanyaan yang sebenernya standard, yang banyak ditanyakan siapa pun dari dalam dan luar budaya Islam, dari berbagai tingkat pemahaman agama. Asal usul pelarangan benda2 ajaib ini: babi, alkohol, riba; masih terus menarik diperbincangkan. Kalau rokok diharamkan, itu lebih mudah dipahami: ia merusak kesehatan orang2 di sekitar si perokok, dan membutakan hati serta otak si perokok sehingga tak akan bisa paham hal sepele semacam ini.

Tapi kembali ke babi. Aku akhirnya cuman memberi ringkasan jawaban dengan style ahli hikmah. Peraturan2 itu dibuat cuman sebagai constraint dalam kehidupan manusia. Kenapa harus babi yang diharamkan? Bisa sih apa pun. Tapi harus ada yang jadi tag untuk masuk ke exception list. Sekarang setiap kali umat manusia mau makan, ia harus bertanya2: “Ini makanan mengandung babi tidak?” Tapi kita tidak makan hasil peternakan kita atau tetangga kita sendiri. Dan asyiknya, sejauh mana pun makanan di piring kita berasal, kita tetap harus bertanya: “Ini makanan mengandung babi tidak?” Masyarakat harus punya kemampuan melacak asal usul makanan kita: dari manapun, disimpan berapa lama pun, diolah dengan cara apa pun, oleh siapa pun, bangsa apa pun. Artinya: semua harus terdokumentasi. Artinya: harus ada accountability.

Makanan tidak boleh berbabi. Minuman tidak boleh beralkohol. Uang tak boleh bercampur hasil riba. Dengan aturan2 macam ini, segala supply bahan pendukung kehidupan manusia, dan segala proses-proses ekonomi pendukungnya jadi harus terlacak, terdokumentasi, dan transparan. Kalau ini terlaksana, maka — sungguh — Islam adalah pelopor akuntabilitas publik yang paling mapan.

Tapi … hmmm … fakta bahwa tingkat kesehatan masyarakat dengan mayoritas muslim justru di bawah rata2, dan proses kerjanya paling buruk dan tak transparan, dan wacana masyarakatnya mudah tertembus pseudoscience, dan semacamnya; terpaksa membuat kita harus mengakui: kita abai dalam menjalankan hukum-hukum yang sudah kita akui bersama. “Halal nih, katanya Pak Haji yang jual. Juga bebas kuman dan bebas virus dan bebas bahan berbahaya dan beracun.” Tidak ada sertifikasi, tidak ada transparansi dalam proses kerja dan pengkomposisian bahan2 kerja. Padahal Rasulullah memarahi orang2 yang bertansaksi keuangan tanpa melakukan pencatatan, serta orang yang bekerja tanpa melakukan perjanjian kerja terlebih dahulu.

“Halah, soal haram kan berlaku untuk anggota MUI sendiri.”
Aku nggak tahu kapan aku boleh menertawai kejujuran orang yang memamerkan kebodohannya. Sambil … tentu saja … apakah MUI juga sudah mengamalkan transparansi? Haha. Hush.

35 Comments

  1. ricky

    Islam gak bisa mengambil kredit soal “akuntabilitas” ini. Kan yahudi lebih dulu daripada islam, dan mereka kan sama cerewetnya soal anything kosher.

    Oops, sorry, gw lupa, islam dan yahudi kan setali tiga uang, dalam banyak aspek, termasuk soal goyim/non-goyim.

    Wow, thanks g_d I don’t believe in semitic mumbo-jumbos.

  2. Ah, loe, spesialis pertamax lama2.

  3. Lalu, mengapa babi haram?

  4. Dengan mengandaikan kita memahami konsekuensi sebuah kata “mengapa” … serta menganggap kausalitas itu boleh dianggap valid … aku belum mengandaikan itu.
    Jadi jawaban isengku udah tertuang di entry blog ini … kalau sempat baca sebelum menulis comment.

  5. ricky

    Mungkin jawabannya sama seperti jawaban pertanyaan

    Q: “Why dogs have flies?”.
    A: “So that they don’t spend their time thinking why they’re dogs.”

    Jadi: biar ada aja yang dipolemikkan, yah hitung-hitung daripada idle.

  6. Menarik pembahasannya mas, kita umat Muslim kadang meremehkan hukum tuhan, menjalankannya dengat mata tertutup tanpa mau duduk sebentar dan merenung lebih dalam tentang makna lain yang terselubung…

    Jadi makna haramnya babi itu bisa jadi koreksi sosial juga ya :D

  7. Kalau nggak dikasih si woofie, ntar pada bikin woofie sendiri2 juga, haha :). Udah telanjur terevolusikan untuk wired dengan cara semacam itu, gimana donk? Dinikmati aja :)

  8. Kalau hukum2 diciptakan bukan untuk improvement bagi pribadi dan masyakarat, aku nggak tahu lagi apa gunanya :). Tapi, tentu ada ribuan jawaban lain. Salah satunya adalah untuk membuka ruang diskusi. Jadi, mari kita teruskan budaya diskusi sehat tentang ‘lifestyle’ kita :)

  9. Saya suka sekai dengan kutipan Anda ini: “ia (rokok) merusak kesehatan orang2 di sekitar si perokok, dan membutakan hati serta otak si perokok sehingga tak akan bisa paham hal sepele semacam ini.”

  10. interesting point of view, mas. kayanya soal constrain itu argumen yg menarik jg utk pertanyaan teman saya kemarin, “kenapa harus berjilbab”

  11. kalau kopi, ada kemungkinan jadi haram gak ya? ;p

  12. Jadi apa jawabnya? (Ditulis di blog aja deh :) )

  13. Mungkin aja. Pertama, kopi curian pastilah haram. Kedua, kopi yang diminum saat negosiasi KKN. Ketiga, kopi yang diminum saat dokter udah melarang konsumsi kafein. Keempat … wah, bisa banyak :)

  14. tepat. seperti itulah…hihihi

  15. masalah klasik nih pak.
    kenapa babi haram? ya, karena Allah mengharamkannya. that’s it. abis perkara. agama adalah penyerahan total kepada Tuhan. kalo Dia udah jelas2 nyuruh sesuatu ato ngelarang sesuatu, ya udah nurut aja. kalo ngga, ntar bakal timbul banyak pertanyaan gak esensial, dan cenderung pada kesesatan. pertanyaan seperti itu seakan2 mengindikasikan keraguan, “sebenarnya Tuhan itu tau nggak sih apa yang Dia lakukan?”

    kenapa Adam dan Hawa dilarang makan buah keabadian di surga? apa buahnya gak baik buat kesehatan? apa ada formalinnya, jadi dinamakan buah keabadian?

    knapa shalat shubuh cuma 2 rakaat? apa kuatir orang2 masih pada ngantuk? harusnya kan 4 rakaat biar sekalian senam pagi.

    knapa alkohol haram? knapa zina dilarang? knapa namanya Islam? dll dll dst dst. gak bakal ada habisnya. makin sesat, iya.

    menuso, menuso. menus menus kakean duso…

  16. Oh, gitu yah?

  17. Aku menghilang… menghilang dari ra.me-ra.me…. loh?

  18. Rasain! Abisan punya domain dibiarin expired. Ntar deh dimasupin lagi (pakai p).

  19. Kalau kopi diharamkan pasti Pak Koen jadi penentang garda depan :-)

  20. Virus

    Kalau nggak makan babi, tapi korupsi-nya berjamaah – kira2x masuk surga nggak yah? Makan babi – toh akhirnya orang juga mati, nggak makan babi – toh juga orang bakalan mati.

    Daripada menghalalkan dan mengharamkan, lebih baik – kalau nggak suka makan ya jangan dimakan. Kalau mau dimakan ya dimakan saja. Gitu aja koq repot.

    Kalau alasan makan babi karena masalah kesehatan – tdk 100% benar juga – spt yg dikatakan – survey mengatakan – golongan yg makan babi kesehatan-nya tdk lebih jelek daripada yg tdk makan babi. Bahkan boleh dikatakan, golongan yang makan babi kesehatan-nya rata2x jauh lebih baik daripada golongan yang tidak makan babi. Soalnya beli daging babi kan mahal … makanya kalau bisa makan babi … berarti standard hidupnya udah lebih baik daripada yang tidak makan … ;)

    Kalau daging babi disubstitusikan dengan daging kambing – nah itu yg malahan bisa bikin stroke lebih cepat lagi … he..he..he..

    – susah – hidup ini cuma bikin statement halal sama haram aja –

    lebih banyak mudarat-nya tuh daripada manfaatnya …

  21. Surga? Apaan tuh?

  22. Karena?

  23. duluuuuu dah pernah nulis sih mas, tapi pas saya baca lagi kok berantakan banget yaks :P

  24. Masalah makanan (teruma yang kemasan), asal udah mendapatkan sertifikasi ISO 9001 dan HACCP maka sudah dijamin layak konsumsi, bisa juga dengan mengandalkan No registrasinya, Kalo sudah ada list registrasi dari badan POM maka sudah layak konsumsi untuk indonesia (untuk indonesia berarti juga sudah ada pencantuman “halal” walau tanpa ke MUI, karena untuk mendapatkan nomor registrasi harus ada tes lap dan pencantuman komposisi bahan baku)

    Untuk indonesia No Reistrasinya dimulai dengan MD, kayak oreo dan produk susu bermelamin kemarin, kan itu bukan yang dari indonesia, jadi No regnya bukan MD, kalau gak salah BG atau apa gitu, lupa

  25. ketinggalan masaah babinya bos…

    Kalo gak salah yah, struktur DNA babi mirip2 dengan DNA manusia loh (mungkin sama2 berwatak rakusnya kali yah wekekek…) jadi penyakitnya babi bakal jadi penyakitnya kita jugah, tapi kalo gak salah ini yah :D

    dan babi joroknya gak nguatin! gilain banget deh, jadi kalo sampai ada yang makan, udah dah tuh orang gak punya jijik, atau saraf pusatnya udah kendor semua heh5x… trus para pemakan babi keringatnya gak enak, ketahuan koq

  26. DNA tentulah semuanya ‘mirip’ :). Semua mamalia, semua hewan, punya DNA yang ‘amat mirip’ — cuman berbeda amat sedikit. Tapi yang amat sedikit itu kan yang justru menentukan perbedaan2 besar.

    Mirip perilaku organisasi. Kita mungkin merasa berhasil membenahi 90% organisasi. Tapi jangan2 justru 10% sisanya itu berperan significant untuk bentuk akhir organisasinya :).

  27. Syukurlah.
    Cuman untuk masyarakat yang “less educated” — quote unquote — mereka nggak menganggap makanan yang nggak lolos sertifikasi itu itu sebagai bermasalah. Beda misalnya kalau makanan dibilang “haram” — langsung terjadi aksi sosial dan pembersihan.
    Yuk mendidik.

  28. ninol

    kalo gak salah denger kata dosen pas kuliah, emang DNA babi mirip ama DNA orang. itu sebabnya kenapa katub jantung buatan dibuat dari katub jantung babi. dan kenapa kita gak boleh makan babi, mungkin itu karena kalo orang yg sering makan babi, bisa ada reaksi penolakan tubuh kalo dia sampe butuh katub jantung itu. dan juga ada bbrp obat jantung yg dibuat dari babi.

  29. @ Koen : Surga? Apaan tuh?
    Jadi pengin nimbrung karena kata-kata itu kecil tapi menyengat kayak nyamuk kebon.
    Anak saya yang kini duduk di kelas 1 SD tiap hari jadi sibuk mikir tentang “urusan” surga dan neraka. Alih-alih yang terjadi penyadaran; Tuhan di mata para anak-anak hasil didikan agama (Islam) ini menjadi sosok menakutkan karena banyak aturan dan TEGA menghukum mereka masuk neraka karena kesalahannya. Pemilihan cara idiom SURGA vs NERAKA menjadi semacam alat pasung kebebasan berpikir dan kecintaan…
    Dan jangan-jangan kita terbukti termasuk korban sistem ini pula :D

  30. Repost abiss nih pertanyaan,,,kalo loe punya agama ya,,, turuti yang diperintahkan oleh Tuhan,,, jauhi apa yang dilarang,,,nggak usah ngeyel,,,bego banget sih loe,, sok pintar,,,

    Kalo suka ya dimakan,,, kalo nggak suka ya nggak usah,,,gitu aja kok repot,,,mulut2 loe,,, duit2 loe,,,perut2 loe,,,abizz perkara,,,kalo nggak kenal surga/neraka,,, mati dulu baru tahu apa namanya surga/neraka,,,

  31. Iszar

    Iya sih itu semua kalau dalam ISO namanya “Mampu Telusur”. Hebat khan?
    Memang Tuhan sengaja ambil babi untuk diharamkan. Lha kalau dinosaurus yg resmi diharamkan…? nggak jadi mampu telusur deh…….:)

    Eh kenapa orang ingatnya kok mayoritas muslim didunia saat ini dibawah rata-2 ya?
    Kok kagak ingat bahwa dulunya masyarakat muslim dunia pernah jadi negara super power kayak amrik sekarang. Roda berputar aja…. Alami khan? Nanti toh bisa balik lagi……he..he…

  32. Hebat ya…adanya babi memaksa kita untuk “mampu telusur” (seperti dalam ISO).
    Coba kalau Tuhan menyatakan dengan resmi bahwa yang haram adalah dinosaurus, wah … kesulitan kita untuk mampu telusurnya…hi..hi…

    By the way, kenapa ya pada umumnya sekarang kita memandang penduduk muslim dunia ketinggalan. Kok nggak ingat bahwa dulu muslim pernah menjadi adidaya dalam kurun waktu yang lama kayak amrik sekarang. Toh suatu saat bisa balik lagi karena itu hanyalah roda yang berputar…!

  33. sasis

    Islam agamaku memang paling guoblog di dunia ini. Agamaku sendiri lho!
    Lha gimana? A cup of wibe everyday keeps doctors away, tapi alkohol diharamkan. Dalam Oprah show, dr Oz menyatakan bahwa wine adalah satu dari rahasia umur panjang,

    Nah dari perspektif saya sendiri, nabiku Muhammad itu juga banyak boongnya. katanya makan ini itu baik, sehat thoyyiban, nyatanya beliau sendiri cuma berusia 63 tahun dan sakit di akhir hidupnya. Gimana nih?

    Iman gue udah merosot jauh deh

Trackbacks/Pingbacks

  1. Kamus Malesbanget Blog » Kuncoro Wastuwibowo: Akuntabilitas Babi - [...] Planet Terasi [...]

Leave a Reply

%d bloggers like this: