Ketawa Cara Russia

Uni Soviet zaman Stalin:

Seorang lelaki mendadak keluar dari rumahnya di Moskow sambil berteriak, “Hanya satu orang! Dan dia membuat kita semua menderita! Seluruh dunia menderita! Satu orang pendusta!”
Hanya dalam hitungan menit, dia sudah ditangkap, babak belur, dan diinterogasi di kantor KGB.
“Ada apa, kamerad? Anda teriak apa tadi?”
“Satu penipu besar, membuat kita semua menderita!”
“Masa? Lalu siapa satu penipu itu?”
“Siapa? Anda tentu tahu juga! Hitler, tentu saja!”
“Ah tentu. Baiklah, Anda boleh pulang.”
Si lelaki berdiri terhuyung, berjalan ke arah pintu, tapi lalu menoleh balik. “Tunggu. Tadinya Anda kira siapa penipu itu?”

Humor itu memang tak khas Russia zaman Stalin. Ia bisa dipasangkan juga misalnya di Russia zaman Tsar Nikolay.

“Anda tadi yang berteriak-teriak ‘Nikolay penipu besar’ di jalan?”
“Ya. Tapi maaf ada kesalahan. Maksud saya itu Nikolay teman saya, bukan tsar kita.”
“Tidak mungkin. Kalau orang bilang penipu besar tentu Nikolay tsar kita.”

Atau mungkin juga berlaku untuk Soeharto, sasaran joke nasional kita. Tapi yang jelas, versi Soviet jauh lebih terasa lucu daripada versi lainnya (pun versi Russia non Soviet). Tak sulit dipahami. Soviet sendiri adalah sebuah lawakan. Bayangkan: komunisme, sosialisme, demokrasi, sama rata sama rasa, tapi dipadukan dengan diktator (pun berembel proletariat). Sebutlah itu dialektika (secara becanda). Tapi ini jelas kontradiksi terpasang yang memungkinkan humor terjadi setiap saat.

Radio Yerevan menerima pertanyaan: “Benarkah kondisi kamp-kamp kerja kita sudah jauh lebih baik?”
Radio Yerevan menjawab: “Tentu. Orang yang terakhir bertanya seperti Anda telah dipersilakan untuk menjenguk sendiri kamp-kamp itu. Hingga ini penanya itu belum kembali. Diperkirakan ia terlalu betah berada tempat nyaman itu.”

Dan di tempat dimana ketakutan hidup subur ditutupi kemasan kemegahan dan perayaan kasih sayang tak berkesudahan, kitsch tumbuh subur, menciptakan lahan baru untuk ditertawai.

“Sudah dengar bahwa Kamerad Brezhnev harus dioperasi?”
“Ya. Jantung katanya?”
“Bukan. Pembesaran bidang dada, agar bisa menerima medali lebih banyak lagi.”

Atau memaksa orang untuk berkontemplasi tentang asal usul.

Dzherzhinsky: “Malam yang cerah, Kamerad Ilyich?”
Lenin: “Tentu malam yang cerah.”
Dzherzhinsky: “Sebotol vodka, pas kan?”
Lenin: “Tidak lagi, kamerad. Tidak lagi.”
Dzherzhinsky: “Sebotol saja, tak akan jadi masalah kan?”
Lenin: “Terakhir kali kita minum, Anda memang langsung tidur. Tapi aku memanjat tank. Dan lihat hasilnya sekarang!”

Atau me-reka ulang definisi:

“Jadi apa bedanya kerajaan dengan republik?”
“Di kerajaan, kekuasaan diserahkan dari orang tua ke anaknya. Di republik, dari orang tua ke orang tua lain.”
“Dan apa bedanya demokrasi dengan demokrasi sosialis?”
“Tepat sama dengan bedanya kursi dengan kursi listrik.”

Dan tentu, pada dasarnya orang Russia sendiri memang pecinta humor.

“Kamerad Brezhnev, benarkah bangsa Russia tidak suka humor?”
“Justru kami suka mengkoleksi humor-humor.”
“Bagaimana dengan humor yang menertawai pimpinan partai?”
“Justru itu favorit kami.”
“Banyak koleksi Anda?”
“Hampir empat kamp penuh.”

Humor bahkan melejit melampaui masa represi. Di zaman pencerahan Gorbachev pun, humor mengiris masih ada:

+ Kok baksonya persegi sih?
– Perestroika (restrukturisasi)
+ Dan tampak agak mentah?
– Uskoreniye! (akselerasi)
+ Sudah ada bekas gigitan pula?
– Gospriyomka (approval negara)
+ Cuek aja menyampaikan hal seperti ini?
– Glasnost! (keterbukaan)

Dan tentu humor pun berlanjut ke zaman Putin, yang sering disebut sebagai Neo-Stalin :)

Biarpun tidak lagi di zaman komunis, tekad Putin menjaga kedigdayaan negerinya membuat banyak orang menyamakan dirinya dengan Stalin. Maka, di waktu segalanya kusut (inflasi tinggi, perang Chechnya, krisis Georgia, skandal bisnis migas) dll, Putin mengundang arwah Stalin membantunya.
Stalin datang, lalu menasehati: “Mudah saja. Pertama, kumpulkan semua kaum demokrat di lapangan merah, lalu tembak mereka. Kedua, ganti cat Kremlin dengan warna biru.”
Putin tergelitik: “Lho, kenapa warna biru!”
Stalin tertawa. “Putin tersayang, kamu memang pengikutku. Kamu mempertanyakan yang nomor 2, tapi tidak yang nomor 1.”

Buku Mati Ketawa Cara Russia (masa sebelum Gorbachev) sempat diterjemahkan ke Bahasa Indonesia beberapa belas tahun lalu oleh Kelompok Tempo, dan langsung dicetak ulang beberapa kali. Bukan saja pembaca berderai2 tertawa, tetapi bukunya juga berderai2 karena kualitas penjilidan yang tak bagus. Hingga kini, masih terdengar ada yang mencari buku itu di sana sini. Pun setelah humor online macam Mati Ketawa Cara Daripada Soeharto diterbitkan di sekitar masa reformasi.

Huh, harus balik bikin desain-desain lagi. Jadi memori Russia kita stop sebentar, dilanjutkan di bagian comment saja nanti.

Anda sendiri, punya humor Russia kenangan?

76 Comments

  1. fade

    Ini favorit saya:
    Dua orang optimis dan pesimis ngomongin soviet.
    pesimis: “Negara kita sudah sangat buruk sehingga tidak mungkin untuk menjadi lebih buruk lagi”
    optimis: “jangan kuatir, kemungkinan selalu ada”

  2. Mampir…..,
    Mantep juga yach~~~
    Salam kenal!~!~!~!~

  3. neenoy

    wah, bukunya udah lenyap ternyata :(
    btw, gw suka teh dan juga kopi, kok… jadi gak akan ada pertikaian :)

  4. Indonesia terkena dampak euphoria untuk menertawakan orang lain dan diri sendiri yang sebelumnya terbungkam…ayo mulai tertawa dengan ikhlas…dengan semangat lelucon yang ideologis ke Indonesiaan…

  5. saya baca buku ini waktu SD, tapi entah kenapa saya inget buku ini malah inget bagian yang pornonya, yang sosis atau menepuk pantat ceweknya.
    jaman dulu banyak amat orang bikin buku humor yah mengikuti buku mati ketawa cara rusia ini salah satunya humor serdadu karya adang s.

  6. yang mbedain humor kita as indonesian sama humor mancanegara is gaya bahasa dan tingkat kecerdasan dalam menuangkan kalimatnya. kalo humor indonesia dilihat saja udah bikin ketawa. tapi kalo yang russia gini, harus mikir duluan, baru bisa ngakak. hehehhehehehe .. salut buwat mas koen.. kapan ya ada orang indonesia bisa bikin humor secerdas humor russia kayak gini ?? :) :)

  7. lyna

    meski blom pernah baca aku bisa rasain magnet dari humor itu

  8. Atau pesimisme zaman Yeltsin:
    “Duh, sejak Soviet bubar, makin kacau bangsa kita. Sekarang jadi pecah dan lembek kayak melon.”
    “Syukurlah, akhirnya ada makanan.”

  9. Ada porno beneran, ada porno politik. Yang ini politik:

    Menteri perindustrian Inggris minta menghadap Churchill segera. Setelah menghadap, ia melapor, “Gawat Pak. Orang Soviet memesan kondom dari kita.”
    “Lalu?”
    “Ukurannya Pak. Panjang 1m, diameter 10cm.”
    “Buat saja sesuai ukuran.”
    “Siap Pak.”
    “Jangan lupa tulis: Made in UK.”
    “Siap Pak.”
    “Dan: Size = M.”

    Ini juga:

    Di rehat perjanjian SALT, Ford berbincang Brezhnev. Pembicaraan akhirnya jatuh ke soal seni. Dan lukisan. Lalu mereka berjanji saling melukis. Tapi Brezhnev berpesan: “Jangan porno ya.”
    Waktu mereka bertemu lagi, Ford memamerkan lukisannya: gambar Brezhnev hanya pakai celana pendek, dengan dua buah dada besar.
    “Maksudnya apa?” tanya Brezhnev.
    “Itulah Anda,” jawab Ford, “Dengan buah dada satu menyusui Asia, dengan buah dada satunya menyusui Afrika.”
    “Lalu untuk rakyat Soviet?”
    “Kan katanya nggak boleh porno.”

  10. Kayaknya sedikit banyak mirip deh.

    Pulang sekolah, Alfonso menangis. Bertanyalah bapaknya.
    “Ada apa kau menangis?”
    “Dimarahi Bapak Guru. Tadi Bapak Guru tanya ‘Siapa penulis teks proklamasi?’ Lalu saya bilang ‘Bukan saya, Bapak!’ Tapi Bapak Guru marah, lalu saya disuruh pulang.”
    “Sudahlah Alfonso. Kalau berani berbuat harus berani bertanggung jawab. Besok pagi, kau menghadap Bapak Guru, lalu mengaku saja kalau kau yang menulis teks proklamasi.”

    Atau yang lebih seram:

    “Kenapa burung garuda Pancasila menghadap ke kanan?”
    “Musuhnya di kanan.”

  11. SEO itu apa? Singkatan tiga huruf? Hmmmm ….

    Seorang imigran Russia berjalan-jalan di Boston. Mendadak ia sadar sedang diikuti seseorang. Tapi ia pikir … ini kan Amerika … kenapa takut? Jadi ia balik kanan dan langsung mendatangi si penguntit.
    “Kamu KGB?”
    “Bukan.”
    “Atau GRU?”
    “Juga bukan.”
    “CIA? FBI? NSA?”
    “Sama sekali bukan.”
    “Lalu buat apa membuntuti saya?”
    “GAY.”

  12. Ya deh, sekali2 humor suku Indonesia. Mudah2an nggak dituduh SARA.

    Orang Madura dikenal bandel tapi jujur. Nah, alkisah seorang Madura dihentikan polisi di jalan.
    “Ada apa, Pak Polisi?”
    “Bapak tidak melihat lampu merah tadi Pak?”
    “Waduh. Lampunya kelihatan. Bapaknya yang nggak kelihatan tadi.”
    “Ya, itu pelanggaran Pak. Bisa lihat SIM-nya?”
    “O … ada.” (Sambil menyerahkan)
    “Kok fotonya beda?”
    “Punya tetangga saya itu Pak”
    “Wah Pak. Nggak boleh pakai punya tetangga.”
    “Bapak ini gimana? Sama yang punya aja boleh dipakai, kenapa Bapak yang marah-marah?”

  13. Yang ini khas Indonesia, tapi sesuai spec yang diminta :) (ada di http.koen.cc juga):

    “Jadi Anda kerja di mana?”
    “Di BIN.”
    “Jadi apa tugasnya?”
    “Antara lain menginvestigasi orang-orang yang tidak puas dengan kondisi negara.”
    “Berarti yang sudah puas tidak perlu diinvestigasi?”
    “Oh, yang itu tugas KPK.”

  14. Ekstra deh. Kiriman dari anonym.

    Sebuah hotel di Yerevan. Di Lt 5, empat orang menginap di satu kamar. Tak bisa tidur, dua orang mulai bertukar humor politik. Yang ketiga tergelitik ikut. Yang keempat, mencoba tidur, tapi gagal karena terlalu bising. Mencari akal, ia keluar, turun ke resepsionis, lalu pesan 4 gelas teh. “Tapi tolong antar 30 menit lagi ya,” katanya. Ia lalu kembali.
    Pura2 mencoba tidur, setelah hampir 30 menit, ia bangun, mengangkat lampu meja, lalu berkata “Terlalu panas di sini, Kamerad Mayor. Kirim 4 teh donk.” Dan teh langsung diantar ke kamar.
    Suasana jadi hening & tegang. Kawan usil kita jadi bisa tidur lelap. Tapi paginya, ia heran bahwa kamarnya sepi. Turunlah ia ke resepsionis.
    “Ke mana orang2 sekamar saya?”
    “Digerebek agen semalam. Ditangkap semua.”
    “Kok saya nggak ikut ditangkap?”
    “Kamerad Mayor suka humor Anda. Ia tertawa terpingkal2, dan memutuskan tidak menangkap Anda.”

  15. huahahaha…. jadi inget lagi, dulu waktu SD/SMP ketagihan beli buku-buku seri “mati ketawa” ini…. gak apa-lah berderai-derai bukunya, kan hasilnya harga terjangkau kantong anak SD/SMP :D

  16. rini

    bukunya ketawa ala rusia ada yg masiy punya ga??

  17. Oktar Ibrahim

    ktwalah sblom dktawai

  18. m1r4cl3

    arkeolog tidak bisa memberikan info sehubungan ditmukan sebuah mummi,maka dimintalah bantuan KGB.
    KGB:”kami telah mendapatkan informasi penting”
    arkeolog:”bagaimana caranya?”
    KGB:”kami paksa “dia”mengaku

  19. wahahaha…. ini bagus mas..!!

    Biasanya humor kayak gini memang tergantung musim ya…

  20. Tak sangka ya, setahun kemudian KPK jadi issue besar :)

  21. m.iqbal

    mas pengin kenal donk

  22. bang sad

    Tuhan menangis dan berlalu adlh dialog pemimpin rusia dgn tuhan tp yg (15 KM) lagi adlh ‘dialog’ pemimpin rusia dgn komputer tentang berapa lama lagi rusia mencapai komunisme

  23. nadia

    kayaknya buku ini dulu terkenal banget ya…di berbagai referensi tentang humor selalu disebut buku ini.. bagaimana ya untuk dapat atau download buku ini? sepertinya perlu dibaca untuk bahan saya yang sedang melakukan penelitrian mengenai humor Rusia.. ada yang bisa membantu?

  24. tobias

    ada 3 orang mendapat tugas menjadi seorang kosmonot untuk pergi ke bulan
    orang pertama ditanya soal imbalan, dan orang itupun meminta beberapa juta rubel, begitu pula orang ke 2
    lalu orang ke 3 juga ditanya demikian, dan jawabnya “saya tidak mau curang jadi saya pakai saja tarif taksi 150 kopek per kilometer”

    seingat saya begitu
    wkwkwkwk

  25. Ken Aditya

    Mati Ketawa Cara Rusia, baca 20 tahun lalu, masih kangen pengen baca lagi, tapi bukunya sudah hilang di telan kerusakan, berurai – urai halamannya sebelum sirna di telan bumi.

Leave a Reply

%d bloggers like this: