Buku Awal November

Beberapa bulan kemarin, aku sempat mencuplik Feynman (Feynman dan Feminis). Ini diambil dari salah satu bab buku “What do you care what other people think.” Hm, judulnya gue banget ya? Haha. Tapi topiknya bukan itu. Mizan akhirnya menerbitkan terjemahan buku ini. Judulnya dikomersialkan jadi “Feynman, genius fisika paling cool sedunia.” Mirip yang terjadi pada buku pertama (Surely you’re joking, Mr Feynman), Mizan juga melakukan sensor atas beberapa adegan yang dianggap tidak indonesiawi :).

Buku lain yang bisa bakal jadi kontroversi adalah “Kartun Riwayat Peradaban.” Aku baca versi Inggrisnya abad lalu, pinjam dari Perpustakaan Teh Ranti (heh-heh-heh). Terjemahan Indonesia baru terbit Jilid II-nya, setelah yang Jilid I terbit bulan kemarin. Dasar kartun, hal2 yang biasanya disebut2 sejarawan secara samar dan santun itu malah dibikin konyol dan vulgar. Kita harus bersiap melihat tokoh Moses, David, Socrates, Alexander, Asterix (!), Gautama, Konfuzi, Yeshua, Saulus, dibelejeti. Dan entah kalau Buku Jilid III keluar. Barangkali FPI harus siap2 baris lagi di depan Penerbit KPG. Syukurlah, FPI suka lupa sama 24 nabi yang lain.

gonick-12.jpg

Sebenernya, udah agak lama aku memutuskan nggak beli kartun Gonick, yang rajin diterjemahkan KPG. Pertama, kalau kita doyan baca buku sains (dan juga sejarah), buku Gonick tidak menawarkan hal2 baru atau kelucuan baru. Kedua, aku nggak suka melihat paparan kecongkakan. Lucunya, aku malah beli dua jilid ini. Lupa alasannya. Tapi bahwa seluruh tokoh agama dan filsafat sekaligus ditelanjangi oleh satu serial buku aja, aku pikir itu menarik. Efektif, daripada setiap agama dan filsafat harus saling menyinyiri satu sama lain :). Jadi kalau Anda selama ini telanjur doyan menertawai agama orang lain, beli saja buku Gonick, dan puaskan ketawa sampai agama Anda juga ditertawai. Dan kalau geram pada “ilmuwan dan kartunis yang doyan menertawai nilai2 orang lain,” percayalah bahwa yang mereka lakukan tak lebih dari menertawai kemanusiaan dan menelanjangi diri mereka sendiri. Dan kalau nggak pingin bikin kartunis kaya dengan cara kayak gini, nggak usah beli bukunya :). Tapi kalau alasan untuk nggak beli hanya gara2 nggak suka teori evolusi, mendingan dicoba untuk suka dulu :). Allah menciptakan semesta ini indah :), tanpa harus disesuaikan dengan selera2 kita yang juga beda2 ini.

Ada buku apa lagi yach. Onno W Purbo menulis tentang ADSL dan Speedy. Mizan, selain menerjemahkan Feynman, juga menerjemahkan buku Gleick: Isaac Newton. Aku belum baca versi Inggrisnya, jadi belum tahu apakah ada semacam sensor dari Mizan. Elex menerbitkan beberapa buku dari Jubilee Enterprise tentang teknik2 fotografi. Jadwal membaca weekend ini padat lah :). Buat tambahan, di Amazon, ada buku Lee Smolin yang terbaru, membuka perang baru antara pendukung String/Superstring/M dengan Loop Quantum Gravity. Bookworms are never bored.

6 Comments

  1. Kebetulan baru semalam saya beli buku Feynman itu. Heran juga, bisa nggak sih Mizan menerbitkan terjemahan apa adanya, tanpa perlu disensor? :(. Desain sampulnya rada norak pula, mirip2 teenlit (saya nemunya di Gramedia Bali juga gak sengaja, “tercecer” di antara buku2 remaja).

    Lagi nunggu terjemahan buku ttg Newton bersama tiga buku sains lagi dari Mizan. Mudah2an gak disensor juga. [gara2 urusan sensor ini, saya jadi lebih percaya dengan Gramedia dan KPG ketimbang Mizan].

  2. curiousity

    nanya..
    #1 udah nulis tentang joan of arc belum?
    #2 kalo tentang che guevara?
    tx

  3. tamu

    saya baca buku “Feynman, genius fisika paling cool sedunia”, bab “Semudah Berhitung 1,2,3” pada bagian Feynman melakukan percobaan naik turun tangga sambil berhitung, dan para mahasiswa yg sudah terbiasa melihat Feynman berlaku seperti orang aneh.
    saya jadi membayangkan, kalo anda yg melakukan hal itu, kayaknya orang2 yg kebetulan melihat anda tidak akan heran.

    :-))

  4. ranti

    Tertarik juga untuk melihat versi Indonesia dari komik ini. Jilid III versi Inggris akhirnya keluar 1/2 abad yang lalu. Dedicated to “All the Skeptics Who Have Ever Lived.” :-)

  5. @1: Film “Da Vinci Code” aja disensor subtitle Indonesianya, haha :). Kalau kita yang jadi tukang sensor, kira2 apa yang bakal kita sensor? Da’i yang pura2 ilmiah padahal ngaco?
    @2: Jeanne d’Arc, draft ada, tapi belum selesai2. Guevara, belum berminat. Lain hari, barangkali.
    @3: Karena?
    @4: Jangan minta dikirim yaa :).

  6. tamu

    hey.. what do you care what other people think? :-D

    gini, kang Koen.. (mmm.. kok jadi jelek banget, kayak nama sejenis sayuran gitu)
    seperti seorang seniman yg diperkenankan nyentrik,
    maka orang pinter pun diperkenankan unik.

Leave a Reply

%d bloggers like this: