Ini kunjungan entah yang keberapa ke London. Tapi kali ini aku stay di sisi lain di kota London, yaitu Hilton London Angel Islington. Tujuannya, biar punya waktu lebih lama menjelajahi kawasan City of London. City of London ini menarik. Luasnya 2,9km², tapi jadi ibukota keuangan dunia. Dan semua diakibatkan serentetan sejarah2 kecil yang menarik.

Waktu orang Romawi menduduki Britannia, mereka mencari titik operasi yang optimal, yaitu punya akses ke laut, atau di sebelah sungai yang masih cukup dalam untuk dilewati kapal; tapi kalau di sungai juga jangan terlalu lebar sehingga bisa dibuatkan jembatan atau penyeberangan lain. Dari kebutuhan logistik ini, dipilihlah titik yang dinamai Londinium, ±50CE. Lokasi ini dipasangi tembok batas, yang sampai hari ini menjadi batas City of London. Sempat kosong setelah Romawi kabur, kota ini dihidupkan Alfred the Great tahun 886, dan jadi titik logistik yang optimal dan terus membesar untuk perdagangan antara Inggris dan negeri-negeri lain melalui lautan.

Saat William the Conqueror menduduki Inggris (1066), alih-alih menindas kota dagang ini, ia justru menerbitkan piagam yang menjamin hukum dan tatacara London tetap berlaku. Ini logis: Raja perlu uang dan dukungan logistik; dan saudagar London punya keduanya. Pola berulang sepanjang sejarah Inggris: setiap kali penguasa perlu sesuatu yang mahal, para saudagar City siap bernegosiasi. Tahun 1189 kota ini punya Lord Mayor sendiri, memerintah dirinya sendiri lewat Aldermen dan Common Council yang dipilih, bukan cuma oleh penduduk, tapi juga oleh badan-badan usaha. Ini cikal bakal keunikan pemerintahan City yang berlaku hingga saat ini. Kita tentu pernah dengan Magna Carta (1215). Kita simak, bahwa pada piagam ini, terdapat klausul khusus yang menjamin utuhnya kebebasan City. Para baron yang menantang monarki absolut Raja John pun perlu dukungan finansial London, dan London memanfaatkan momen itu untuk mengukir hak istimewanya dalam dokumen paling sakral dalam sejarah konstitusi Inggris. Ini lobby bisnis paling sukses dalam sejarah: saudagar London berhasil menyelipkan kepentingan bisnis mereka ke dalam piagam kebebasan yang dirayakan dunia hingga delapan abad kemudian.

Hubungan antara saudagar dan kerajaan ini terutama dibutuhkan saat perang. Perang mahal, pajak saja tidak cukup, jadi dulu raja meminjam ke para bangsawan, baik di dalam maupun luar negeri. Ini bermasalah. Kalau kalah, uang hilang; kalau menang, raja jumawa, susah ditagih, wkwk. Raja Edward III pernah meminjam dari bankir Italia abad ke-14, lalu gagal bayar, dan yang hancur justru dua rumah bankir Florence terbesar saat itu. Nah, di sinilah inovasi London. Sebelum 1688, kredibilitas utang negara memang bergantung pada kata-kata satu orang: raja. Setelah 1688, Parlemen yang mewakili rakyat (yaitu tentu saja para bangsawan dan para saudagar) mengambil alih pengendalian, penerimaan, serta tentu saja perkiraan pajak, bea cukai, dan pendapatan negara lainnya. Mereka mulai mengunci sebagian penerimaan itu secara khusus untuk membayar bunga dan pokok utang. Artinya, kalau pemerintah Inggris berhutang, jaminannya bukan lagi janji lisan raja yang terkenal tak bisa dipegang, tapi aliran pendapatan negara yang bisa dihitung, diaudit, dan dijamin lembaga kolektif yang jauh lebih sulit diingkari sepihak. Inilah yang menjadi komitmen keuangan kredibel, dan inilah sesungguhnya awal keunggulan kompetitif industri keuangan Inggris dibanding rival-rivalnya di benua Eropa yang masih diperintah monarki absolut: Utang Inggris jadi lebih murah dan lebih aman dipinjamkan. Bukan karena Inggris lebih kaya, tapi karena janjinya lebih sulit diingkari.

Dari dasar ini, lahirlah Financial Revolution. Obligasi pemerintah pertama diterbitkan 1693, lalu setahun kemudian saudagar City mendirikan Bank of England, meminjamkan 1.2jt pound ke pemerintah dengan bunga 8%, dan sebagai imbalannya diberi hak menerbitkan uang kertas serta mengelola utang negara. Ini adalah uang kertas pertama yang memiliki jaminan sistem keuangan yang andal. (Swedia pernah menerbitkan uang kertas, tapi keburu bangkrut gara-gara sistemnya tidak andal). Model uang kertas dari Bank of England itulah yang akhirnya jadi template diikuti bank sentral di seluruh dunia.

Obligasi pemerintah Inggris ini kemudian dikenal sebagai gilts, dan ini lahir dari City. Sertifikat obligasi yang diterbitkan Bank of England sejak 1694 ini dicetak di kertas dengan tepi berlapis emas, jadi disebut gilt-edged, meski istilah gilts baru benar-benar digunakan abad ke-19. Dari sinilah lahir tradisi consol, obligasi abadi tanpa jatuh tempo yang sebagian baru benar-benar dilunasi pemerintah Inggris tahun 2015, dua abad kemudian, sampai pasar gilts modern yang dikelola UK Debt Management Office hari ini. Semua bermuara ke satu inovasi konstitusional sederhana: bikin janji negara sulit diingkari, dan orang akan berbondong-bondong meminjamkan uang dengan bunga murah. Biarpun sempat dibikin kacau Liz Truss tahun lalu, hahaha.

Union antara England dan Scotland tahun 1707 juga punya jejak finansial. Scotland saat itu baru saja bangkrut gara-gara Skema Darien, usaha kolonisasi mereka di Panama yang berakhir bencana. Sebagai bagian dari kesepakatan Union, England membayar kompensasi, dikenal sebagai The Equivalent, untuk menutup kerugian investor Scotland itu. Jadi Kerajaan Inggris Raya lahir bukan hanya soal politik, tapi juga sebagai penyelesaian utang yang pragmatis, melalui mesin finansial yang sama yang baru saja dibangun London.

Jadi kemudian setiap perang besar Inggris, mis Perang Napoleon, dibiayai via obligasi yang dijual City dan dikelola Bank of England. Di seberang jalan, sekumpulan saudagar lain yang asik berbincang di kedai kopi Edward Lloyd sejak akhir abad ke-17 juga membangun bisnis lain: menanggung risiko pelayaran. Mereka menuliskan nama pelayaran dan risikonya. Saudagar yang mau ikut menjamin, menuliskan namanya di bawahnya, dan disebut underwriter. Ini istilah yang sekarang dipakai di seluruh industri finansial dunia, jauh melampaui asuransi. Beberapa blok lagi dari kedai Lloyd, ada kedai kopi lain bernama Jonathan’s, tempat para pialang saham yang diusir dari Royal Exchange karena dianggap terlalu berisik akhirnya nongkrong dan berdagang saham secara informal sejak 1680an. Mereka menempel daftar harga saham di dinding. Dari perilaku ini, tahun cikal bakal London Stock Exchange lahir tahun 1698. Jadi, di City of London, ngobrol di kedai kopi saja sudah bisa menghasilkan berbagai institusi yang mengatur arsitektur finansial dunia.

Abad ke-19 adalah puncak keunggulan City of London. Mereka jadi satu-satunya pusat modal global. Sterling jadi mata uang cadangan dunia, terkunci keandalannya oleh cadangan emas. Tapi kemudian dua Perang Dunia mengubah segalanya. Perang memaksa negara turun tangan menanggung risiko yang terlalu besar untuk pasar swasta. Asuransi risiko perang untuk kapal jadi urusan negara. Begitu juga kerusakan properti domestik akibat Blitz di Perang Dunia II. Dan yang lebih penting, Inggris pelan-pelan berubah dari kreditor dunia jadi debitor, bergantung pada program Lend-Lease dari Amerika untuk bertahan. Inilah titik balik sesungguhnya: kekuatan finansial global mulai bergeser dari London ke New York, sebuah proses yang baru benar-benar tuntas setelah 1945.

Tapi City of London punya bakat aneh untuk reinventing. Tahun 1950-60an, saat kekaisaran melenyap dan Sterling kehilangan wibawanya, London justru menemukan panggung baru: pasar Eurodollar, dolar Amerika yang diperdagangkan di luar yurisdiksi Amerika. Ini sebagian gara-gara Uni Soviet takut deposit dolarnya disita kalau disimpan di bank Amerika sendiri, jadi mereka parkir di London. Bank of England yang saat itu cenderung permisif soal urusan bukan-sterling ini, tanpa sengaja membuka jalan bagi London jadi pusat keuangan internasional yang lebih besar dari kekuatan ekonomi domestik Inggris sendiri. Di masa Thatcher (1986) datang Big Bang, yaitu deregulasi besar-besaran pasar modal London, yang makin memperkuat posisi ini.

Hingga kini, paradoks ini masih menarik. Mereka memiliki City of London Corporation, yaitu pemerintah lokal satu-satunya di UK yang punya hak pilih korporasi, punya polisi sendiri (termasuk polisi keuangan), dan punya Lord atau Lady Mayor sebagai walikota yang perannya lebih mirip duta promosi bisnis. Bank of England sudah lama jadi milik negara (UK), diberi independensi kebijakan moneter sejak 1997, diawasi Parlemen tapi bebas dari campur tangan partai politik harian. Lloyd’s masih berdiri, sudah direformasi dari sistem tanggung jawab tak terbatas yang nyaris menghancurkannya di tahun 1990an, jadi pasar asuransi risiko spesialis paling dihormati dunia.

Di City of London, ritual lama tetap dipelihara sampai sekarang: setiap kali Ratu atau Raja Inggris mengunjungi City, ia harus dihentikan di titik yang dulu bernama Temple Bar, batas tradisional antara Westminster dan City. Lord atau Lady Mayor menyambut, menyodorkan gagang Pearl Sword, untuk disentuh sang Raja sebagai simbol penghormatan timbal balik. Seolah-olah Raja Inggris pun perlu izin untuk masuk kota ini. Khas Inggris sekali: mempertahankan teater kekuasaan lama, tapi tetap dijaga rapi. Biar lucu aja.

Dan London sendiri, dalam pemeringkatan pusat finansial global terbaru, masih bertengger di posisi dua dunia, hanya terpaut satu-dua poin dari New York, bukan lagi hegemon tunggal seperti abad ke-19, tapi tetap salah satu dari segelintir kota yang benar-benar layak disebut pusat finansial global sungguhan, bukan sekadar regional. Yang membuatnya bertahan bukan satu faktor tunggal, tapi kombinasi yang sulit ditiru: hukum common law Inggris jadi pilihan default untuk kontrak bisnis internasional di seluruh dunia, zona waktu tepat di antara jam bursa Asia dan Amerika, bahasa Inggris yang telanjur jadi lingua franca keuangan global, dan kesinambungan institusional yang panjang itu.

City of London hidup dalam kota yang temboknya dibangun orang Romawi, piagamnya ditandatangani penakluk Norman, dan mesin finansialnya dirancang saudagar yang dulunya cuma numpang ngobrol di kedai kopi sambil menunggu kapal pulang. Itu keunggulan kompetitif yang tidak bisa dibangun ulang oleh siapa pun dalam semalam, bahkan dengan modal berapa pun besarnya, dan mungkin itulah alasan sesungguhnya kenapa, di tengah dunia yang berubah begitu cepat, tempat setua ini masih keras kepala menolak untuk menjadi tidak relevan.