Aku pernah nulis candaan tentang English. Tokohnya Wakidjan, Tukidjo, dan Nadine. Nama Nadine sendiri sering aku pakai sebenernya, bergantian dengan Valerie. Keduanya diculik dari satu buku pelajaran bahasa Prancis. Nggak lama, tulisan itu pindah dari weblog ke milis2. Tentu tanpa menyebutkan sumbernya. Dan pindah ke weblog2 lagi. Dan kemudian versi modifikasinya. Coba saja cari kata Wakidjan di Google. Versi asli sendiri sudah dihapus dari weblog ini :).
Dan cerita tentang Nadine memang jadi harus nyambung tentang berbahasa Inggris di kala gugup. Waktu baru semingguan di Coventry, aku pernah berpresentasi tentang sistem telekomunikasi di Indonesia. Karena kekuatan ekonominya juga masih perlu didukung, aku bilang: “we need to attack new investors.” Trus aku diam. Rasanya ada yang salah. Temen2 dan si dosen juga diam. Sekitar setengah menitan, baru aku bisa mengkoreksi: “I mean, we need to attract new investors.”
Berkomunikasi dengan gugup memang sering jadi ciri khasnya aku. Aku pikir, waktu diikutkan managerial assesment bulan lalu, soal ini akan dijadikan point “opportunity for improvement” — krama inggil untuk “weakness.” Tapi ternyata nggak. Dalam feedback pagi ini, aku dibilang sangat efektif. Excellent. Hey, thank you. Cuman ada dua point yang harus aku perhatikan. Pertama, aku cenderung menarik diri waktu berhadapan dengan profil dominan. Aku harus meluruskan, sebenernya. Temen2 diskusi di zaman Isnet pasti tahu bahwa aku justri lebih senang mendebat tokoh2 yang dianggap dominan. Yang jadi masalah sebenarnya bukan soal dominan, tapi aku harus menilai efektivitas komunikasi juga kan. Salah satu prinsipku adalah “Never argue with morons” — yang menjelaskan kenapa aku kadang malas mengomentari hal2 yang aku pikir terlalu bodoh untuk dikomentari.
Trus yang kedua …
Maaf, bersambung.
Alf lulus menjelang PD II, saat ekonomi tak terlalu baik, dan dunia peternakan sedang kolaps. Banyak dokter hewan menganggur dan terpaksa menawarkan diri bekerja sekedar bertahan hidup. Tapi ia beruntung. Donald Sinclair, seorang dokter hewan yang eksentrik dari Thirsk, York, secara tergesa menerimanya sebagai asisten, karena beberapa hari kemudian ia ke RAF untuk menjadi penerbang sukarelawan. Donald tak lama di RAF, dipulangkan karena terlalu tua :). Berpraktek berdua, ia merasa memerlukan mobil tambahan, dan membeli mobil bekas di Glasgow. Alf diminta mengambil mobil itu, sekaligus menjemput adik Donald: Brian Sinclair. Brian juga eksentrik, tapi di sisi yang berlawanan dengan Donald. Ia nyaris tak pernah menseriusi apa pun dalam hidupnya. Bertiga, mereka mengarungi ketradisionalan dunia peternakan di Yorkshire, dalam hidup yang sangat berat namun sekaligus sangat indah.





When I was about 6 years old, I have tried to draw simple map of Indonesia. Yeah, this is Indonesia, and we learnt to love our country since childhood :-). Back to drawing, my favourite island is Sulawesi. Its shape is the easiest to remember: like the letter k with horisontal head. I used to love to draw that island. And also its little sibling: Halmahera island, another k, but headless. And I found Kalimantan as the most difficult island to draw.