Page 30 of 209

I Am A Strange Loop

Douglas Hofstadter pernah memenangkan Pulitzer untuk buku sebelumnya: Gödel, Escher, Bach: An Eternal Golden Braid, yang bisa2nya mengaitkan teorema esoterik Gödel, lukisan paradox Escher, dan komposisi multilayer ala Bach, dalam satu tema. Ide menarik itu dibawanya ke bukunya yang baru ini: I am a Strange Loop. Strange loop? Apa tuh? Carilah di Wikipedia :).

Strange loop memiliki sifat menarik. Mereka beroperasi serentak pada beberapa level abstraksi. Misalnya, pada versi matematika, strange loop dapat dilihat pada level mikro sebagai permainan angka dan operator; sementara pada level makro dapat dilihat sebagai permainan teorema dan pembuktian2. Untuk komputer, kita bisa bicara tentang relasi elektronik antara transistor, kapasitor, resistor; atau bisa tentang subrutin software yang menginstruksikan CPU mengubah angka pada storage. Pada network? Ah, pasti kita kenal.

Karakteristik lain adalah bahwa pada level abstraksi tertentu, ia bisa dianggap sebagai sistem yang bekerja dengan simbol pada obyek dan konsep. Menariknya, strange loop dengan demikian bisa bekerja mensimbolkan dirinya sendiri. Terjadi mekanisme feedback, yang kemudian membuat tak mungkin lagi dilacak apakah perilaku loop ini mula2 ditentukan pada aktivitas level mikro sebagai penyusun loop ini, atau pada level makro yang bermain pada abstraksi simbolis. Lalu, Hofstadter pun menyatakan bahwa bentuk feedback macam inilah yang menjadi asal muasal adanya kesadaran. Adanya ‘aku’ :).

Sorry, kalau ini tidak menarik buat Anda. Tapi mencari asal-usul rasa ‘aku’ adalah salah satu pencarianku sejak balita. Dan buku ini jadi menarik karena akhirnya membahas soal ini. Tapi kita kembali dulu ke buku ini, yang sekarang kita tahu kenapa judulnya “I am a Stranger Loop.”

Hofstadter beranjak lebih jauh. Setiap sistem yang mampu merepresentasikan simbol dalam jumlah besar akan mengembangkan kesadaran diri, katanya, tak peduli apakah sistem itu dibentuk oleh neuron atau transistor. Namun tak semua komputer, dan tak semua otak, mampu mengelola simbol yang sekaya itu. Nyamuk dianggapnya tidak punya kesadaran. Juga semua komputer masa kini. Juga, kata dia, bayi yang baru lahir sampai usia tertentu.

Tapi kita sedang bermain dengan simbol, jadi cerita berlanjut. Sistem otak kita, lanjutnya, tidak terbatas hanya merumahi satu strange loop saja. Biarpun, normalnya, ‘si aku’ tetap menjadi pribadi dominan. Bisa saja otak ini dalam level yang lebih rendah, merumahi abstraksi, dan dengan kata lain pikiran, dari manusia atau sesuatu yang lain. Manusia yang memiliki kedekatan, ide-ide personal yang terasa lekat, akan membentuk semacam salinan kesadaran di otak kita. Ada semacam ‘you, me, and us’ yang melekatkan relasi manusia.

Jelas, ide2 dalam buku ini sangat menarik. Tak heran, begitu terbit dia langsung menembus ranking di Amazon. Untuk ide yang juga menarik tentang asal usul pikiran manusia, sila baca juga buku Roger Penrose yang judulnya … dicari dulu sebentar. Salah satunya The Large, the Small and the Human Mind. Tapi ada yang lain juga. OK, ini dulu deh.

Font Pemicu Kreativitas Kognitif

Spectrum edisi bulan ini dibawa Pak Pos dengan menembus deras hujan siang tadi. “Bacaan berat,” kata Priyadi, sorenya. “Seberat Pak Pos yang bawanya sambil kehujanan,” kataku. Spectrum tetap lebih ringan dari versi yang sama tahun2 lalu, tetapi memiliki tingkat keterbacaan lebih tinggi. Edisi bulan ini, apalagi. Hampir semua artikelnya menarik. Contohnya, yang selalu jadi perhatianku dari zaman mulai bisa nulis: font.

Sebuah eksperimen: benarkah tipografi yang baik dapat meningkatkan performansi, dan kreativitas kognitif? Sebuah artikel dari The New Yorker ditayangkan dalam dua versi di layar, dan ditunjukkan ke dua kelompok uji. Kelompok pertama menerima tampilan berkualitas tinggi dengan teknologi render ClearType dari Microsoft, termasuk dengan perataan dan tanda baca yang baik. Kelompok kedua menerima tampilan dengan font Courier bitmap, dengan dua spasi antar kata. Ternyata kedua kelompok menyatakan menikmati bacaan mereka. The New Yorker gitu lho.

Namun kemudian eksperimen diteruskan denga uji bernama Tugas Lilin, temuan Karl Duncker tahun 1945. Setiap peserta memperoleh sebuah lilin, korek api, dan sekotak paku payung. Tugasnya adalah menempelkan lilin ke sebuah papan yang dipasang tegak, kemudian menyalakan lilin, tanpa membiarkan lilin menetes ke lantai. Ternyata, sebagian besar anggota kelompok pertama mampu memecahkan ujian ini; jauh melebihi proporsi sukses pada kelompok kedua.

Font yang baik, display yang baik, dianggap pikiran kita sebagai penghargaan yang mampu memicu kreativitas kognitif.

Spintronik Silikon

New Scientist melaporkan bahwa spintronik silikon sudah dimungkinkan. Wow! Di awal blog ini (membahas pertanyaan kenapa engineer menulis blog tentang sains), aku bercerita tentang spintronik: manipulasi logika yang memanfaatkan spin elektron (up atau down), alih2 muatan elektron (positif atau negatif, yang disebut elektronik itu). Spintronik akan memungkinkan komputasi yang lebih cepat, kecil, dan hemat energi.

Nah, kali ini, para periset untuk pertama kali telah mampu meginjeksi elektron yang telah terpolarisasi spin ke dalam silikon, kemudian melakukan manipulasi, dan mengukur hasilnya. Sebelumnya, injeksi semacam ini belum dimungkinkan, karena elektron yang diinjeksikan menjadi kehilangan keadaan (state) spin awalnya.

Yang kemudian dilakukan adalah mengenakan magnetasi. Elektron dengan spin yang berlawanan dengan arah magnet akan melambat dan tersebar, sementara elektron dengan spin yang searah dengan sumbu magnet akan terus melaju. Hasilnya adalah arus terpolarisasi yang terdiri atas elektron dengan arah spin yang lebih banyak pada satu arah. Ini kemudian diidentifikasi dengan melewatkan arus ini pada magnet lainnya.

Periset sebelumnya telah membuat spintronik dari logam, kemudian semikonduktor galium arsenida. Namun pada silikon selalu gagal, karena setiap diikat dengan ferromagnet, selalu terbentuk bahan silisida yang mengacaukan arus yang membawa nada spin. Yang kemudian dilakukan sekarang adalah melewatkan elektron berenergi tinggi ke film feromegnetik setipis 5 nm, yang terpasang di atas wafer silikon setebal 10 ?m. Paduan ini didinginkan hingga 85K. Cara ini mampu membawa elektron masuk ke silikon tanpa kehilangan keadaan spinnya. Spin elektron pada silikon itu kemudian dapat diubah dengan memaparkannya ke medan magnet.

Riset lebih lanjut ditujukan untuk mencoba eksperimen pada suhu yang lebih tinggi, serta menggunakan silikon yang tidak terlalu murni. Kemudian … bersiaplah kita memasuki era spintronik.

Pelangi

Kali ini kita ngobrol soal sains untuk anak.

Sore itu cuaca tak begitu baik. Hujan baru membasahi tempat kita. Di ujung timur Bandung, hujan masih turun. Tetapi di ujung yang lain, matahari telah bersinar. Lalu sebuah keindahan dianugerahkan pada kita: sebuah pelangi. Lengkungan pita berwarna merah kuning hijau biru hingga ungu di di tempat yang berhujan.

Kita sudah mengetahui bahwa sinar matahari yang terang itu bukan terdiri atas satu warna, tetapi merupakan paduan berbagai warna, yang jika digabungkan tampak menjadi putih. Yang kemudian terjadi adalah bahwa tetes2 air hujan di ujung kota itu telah memantulkan dan membiaskan air hujan, sehingga warna2 itu terpisah kembali. Mari kita lihat.

Rata2, titik2 air hujan akan memantulkan kembali sinar dalam bentuk pelangi pada sudut 42 derajat ke mata kita. Jadi pelangi hanya terbentuk jika ada hujan, dan ada sinar matahari yang datang pada sudut 42 derajat dari mata kita ke titik air hujan. Sinar biru dan ungu dibelokkan paling kuat oleh titik air, sehingga setiap titik air memantulkan sinar ungu di atas dan merah di bawah.

Tetapi lalu yang kita lihat adalah warna pelangi dengan warna merah yang di atas. Ini terjadi karena kita jauh dari kumpulan titik air itu. Dari setiap titik air, kita hanya menerima satu warna. Kita menerima sinar merah dari titik air yang lebih atas dan menerima sinar ungu dari titik air yang lebih bawah. Jadi pelanginya tampak dengan warna merah di atas dan warna ungu di bawah.

Cuaca belum bertambah baik. Tapi coba kita lihat lagi. Ternyata di atas pelangi yang terang itu ada pelangi sebuah lagi. Lebih redup, memang, tetapi masih tampak. Dan lucunya, warnanya berkebalikan dengan warna pelangi yang lebih terang. Kali ini, warna ungu ada di atas.

Ini memang lebih jarang terjadi. Tetapi bukan berarti tidak bisa dijelaskan. Ada sebuah pola pantulan kedua yang bisa terjadi pada tetes air. Jika pada pola pertama, sinar matahari hanya dipantulkan sekali di dalam tetes air, maka pada pola kedua, sinar matahari akan dipantulkan dua kali.

Pada pola kedua ini, sudut yang terjadi adalah 50 derajat. Akibatnya, pelangi jenis ini tampak lebih tinggi dibandingkan pelangi pertama tadi. Sinarnya juga lebih redup, karena telah melalui proses pemantulan yang tidak sempurna sebanyak dua kali. Kita lihat bahwa kali ini sinar merah ada di atas; sehingga akan sampai pada mata kita (dengan alasan yang sama dengan pelangi pertama) sebagai pelangi dengan warna ungu ada di atas.

Pelangi memang menarik. Sekarang bayangkan bahwa mata kita adalah sebuah titik. Sinar matahari mendatangi kita dalam bentuk garis-garis lurus ke arah air hujan. Dan air hujan kita bayangkan sebagai sebuah bidang kertas di depan kita. Coba kita bayangkan, bentuk apa yang terjadi kalau kita ingin mengumpulkan semua titik di kertas, di mana garis dari matahari ke kertas dan garis dari kita ke kertas selalu membentuk sudut tepat 42 derajat. Tentu hasilnya adalah sebuah lingkaran. Yang istimewa dari lingkaran itu, tentu saja, bahwa mata kita tepat berada di muka pusat lingkaran. Maka lingkaran selalu tampak sebagai setengah lingkaran yang berpuncak di depan kita.

Setengah lingkaran? Tentu. Kan tidak ada sinar matahari di dalam tanah. Tetapi pada cuaca berkabut, baik siang atau malam, saat titik-titik air memenuhi udara, kita dapat melihat pola semacam pelangi dalam bentuk lingkaran sempurna yang menyelubungi matahari atau bulan. Hanya saja, kita tidak menamainya pelangi, melainkan halo.

Tulisan ini, dan semacamnya, akan mewarnai Blog Pernik Ilmu Untuk Anak, dalam bahasa Indonesia. Ini bagian dari AsiaBlogging.

Status: I’m on Speedy

Acara jemur2 ditunda, waktu kliningan pintu berbunyi. Klining — gitu bunyinya, mudah2an. Hmm, para Tukang Speedy :D. Dia melihat aku, trus: “Loh, Kok Mas …” Hehe :). Ternyata salah satu eks murid, di zaman Telkom masih kekurangan orang yang berani ngajar Speedy, dulu :). Tapi dengan melihat di mana aku tinggal, dia langsung sadar kenapa aku baru bisa pasang Speedy sekarang.
speedy.gifAs simple as click click click, doohickeys berkabel itu mulai dipasang. Dan meluncurlah … wuzzzz … Internet dengan kecepatan yang belum pernah terasakan di … Griya Caraka (hush). Ya, selama ini paling cepat juga via CDMA Flexi atau Fren dengan maksimal 153 kb/s. Kini Speedy meluncur dengan rate sekitar 300 kb/s.
Jadi, maaf kalau posting ini pendek dulu. Aku mau meluangkan waktu untuk surfing. Biarlah mendung di luar mengancam jemuranku. Yang penting Internetku cerah sekali :).

Nominet

Waktu aku launching tumblelog kuncoro.co.uk, Ikhlas sempat protes: memang domain kuncoro semua negara udah diambil ya? Yah, beda atuh. Yang di US aja belum aku ambil, soalnya kuncoro.us lebih mirip nama dinosaurus, atau sebaliknya bisa dibaca kuncorokurus. Yang di Iran, barangkali, biar kayak Insinyur; atau di di Libya, biar kuncoroly bisa diakui sebagai adverb — secara kuncoro.

Tapi tentu UK punya sesuatu yang beda dibanding negara lain. Souvenir, kata orang Perancis, akan keramahan sebuah bangsa yang sering dicap eksklusif, tapi justru terasa sedemikian hangatnya menerima orang asing yang bahkan di kantornya sendiripun di kota kelahirannya, kerap merasa asing :). Kita tidak bisa memesan domain berTLD FR tanpa memiliki residential di sana, kan? Juga banyak yang harus kita pelajari dari cara kerja orang2 UK. Aku cukup banyak mendongeng soal2 ini, termasuk soal kekuatan sebuah tongkat. Dan bahwa OFCOM di sana sungguh bersih dan berwibawa, dibandingkan … udah ah.

Jadi, apa yang dipelajari dari pemesanan domain di suatu negara beradab? Keterpaduan antara kemudahan, kevalidan, dan keamanan. Pertama, ada registrar swasta yang jumlahnya cukup banyak, membuat harga jadi kompetitif. Murah. Kemudian, ada proses validasi semi manual. Kita ditelepon, diinterogasi tentang status dan mengapa kita memerlukan domain dari UK (“For a personal project,” cukup itu jawabanku). Trus disuruh meneruskan proses transaksi. Selesai. Domain bisa kita pakai.

Namun, setelah domain sudah kita pakai itu, registrar masih terus mendaftarkan kepemilikian domain ke Nominet, yaitu lembaga nirlaba pemegang kendali TLD UK. Tak lama (agak lama dink), Nominet akan menghubungi kita sebagai registrant melalui surat (bukan email). Surat ini berisi sebuah kode yang tersembunyi dalam tab stiker. Kode ini harus kita masukkan ke website Nominet. Berikutnya, kita diberi kesempatan membetulkan nama, alamat, dan status kita di web Nominet. Setelah seluruh informasi kita konfirmasikan, Nominet akan memberikan sebuah sertifikat kepemilikan domain kepada kita.

nominet-certificate.png

Menarik kan? Jadi jangan lupa: kalau memesan domain UK, selalu gunakan nomor telepon asli, nama asli, dan alamat asli. Selanjutnya, kalau kita mau terus menggunakan kepribadian palsu, itu sih urusan masing2. Aku masih menikmati suara Freddie Mercury pada lagu The Great Pretender. Dia memang seniman gemilang.

Vaksin Kolesterol

Kalau ditanya kenapa orang sekurus (=langsing =tipis) aku bisa berkolesterol tinggi, aku suka menggambar diagram di bawah ini. Lengkap dengan level kebodohan tertentu dimana obat tertentu justru menggerus fungsi hati, dan dengan demikian makin mengacaukan regulasi kolesterol. Tapi kali ini kita coba berfokus pada hal lain, yaitu kemungkinan vaksinasi melawan kolesterol. Ini dikaji a.l. di Science & Vie edisi Mars 2007.

Pertama, siklusnya dulu. Hati melakukan pendauran kolesterol yang memang dibutuhkan tubuh kita. Kolesterol ini dibawa oleh LDL (lipoprotein berkerapatan rendah) ke seluruh badan, lalu dibawa kembali oleh HDL (lipoprotein berkerapatan tinggi) ke hati. Jika terjadi ketidakseimbangan (orang Indonesia bilang: karena satu dan lain hal), maka terjadi ekses LDL. LDL berlebih ini membentuk LDL oksida yang dapat menginfiltrasi pembuluh darah, menumpuk, menimbulkan peradangan, lalu mengakibatkan disfungsi pembuluh darah, yang tentu paling fatal jika terjadi misalnya di jantung atau otak. Sebenernya agak serem juga membahas proses yang sedang terus terjadi di dalam diri kita, haha :). Oh ya, salah satu bentuk ketidakseimbangan diakibatkan oleh CETP, yaitu protein pembawa ester kolesterol, yang mampu mengubah HDL kembali menjadi LDL.

Para alim ulama (yang arti harfiahnya adalah para pengabdi ilmu, bukan selebriti pengiklan SMS premium) sedang berusaha untuk menggunakan vaksin untuk mencegah, atau mengurangi intensitas, perusakan akibat kolesterol ini. Ada tiga alternatif yang tengah berusaha dimanipulasi:

  1. Memperbaiki regulasi LDL
    Vaksin CETP; diharapkan memancing imunitas tubuh untuk membentuk antibodi perusak CETP.
  2. Merusak LDL oksida
    Vaksin LDL Oksida; diharapkan memansing sistem kekebalan atas infiltrasi LDL oksida.
  3. Mencegah peradangan
    Aktivasi limfosit pengatur untuk menetralisir efek-efek peradangan.

Interworking: 3G & WiMAX

Mengapa, misalnya, operator yang sudah memiliki lisensi 3G/UMTS masih juga punya minat pada WiMAX? Negative thinking, ini untuk menghambat kompetisi dari teknologi yang memang secara konvergensi akan jadi bersaing ini. Positive thinking, para operator memahami bahwa WiMAX merupakan komplemen layanan yang penting bagi 3G/UMTS; khususnya bagi sebagian besar customer yang melakukan akses informasi tidak sambil bergerak. Tetapi, jika 3G/UMTS dan WiMAX dipegang oleh sebuah entitas, atau sekelompok yang berafiliasi, bagaimana cara agar keduanya benar2 menjadi komplemen, seolah2 menjadi sebuah network lengkap, dengan sistem identitas user yang tunggal, dengan layanan yang kontinu bagi user yang harus berpindah network, dan tanpa terlalu banyak sistem yang redundant?

Mengandaikan bahwa standar 3GPP yang digunakan sudah mengadopsi Release 5 (dengan IMS), akan dapat dilakukan interworking pada service layer kedua macam network. Negosiasi akan tetap menggunakan SIP seperti yang digunakan dalam IMS. Pengelolaan user dengan AAA dilakukan pada infrastuktur UMTS. Skemanya dideskripsikan dalam gambar ini:


Garis oranye menunjukkan aliran data (media), dan garis biru persinyalan. HSS (home subscriber server) meyimpan informasi user, termasuk autorisasinya, dan profile. AAA, melakukan fungsi autentikasi, autorisasi, dan accounting (charging). Sekelompok CSCF (call session control function) pada struktur IMS berfungsi mengelola sesi informasi. Persinyalan antara IMS dan WiMAX dilakukan melalui I-CSCF (I=interrogator) ke CSN WiMAX. Pada WiMAX, CSN memainkan urusan QoS, dan ASN memainkan strategi akses.

Harus ada pemetaan antara QoS 3GPP dan WiMAX. UMTS mendefinisikan empat kelas QoS: conversational, streaming, interactive, dan background. WiMAX juga mendefinisikan empat kelas: UGS (unsolicited grant service), rt-PS (realtime polling service), nrt-PS (non-realtime polling service), dan BE (best effort). Tinggal dilakukan pemetaan sesuai sifat aplikasi yang ditargetkan di setiap kelas. Resource QoS dapat diberikan baik melalui prekonfigurasi, ataupun dengan reservasi sesuai trigger dari client.

Tentu masih banyak yang harus dipertimbangkan. AAA antar dua network misalnya, termasuk bagi user yang sedang melakukan roaming, harus dipertimbangkan baik dari sisi bisnis maupun dari security. Soal hand-off juga bisa menjadi bahan yang sangat menarik untuk diperincangkan secara terpisah.

Jarak Dua Titik

Novotel, mendekati tengah malam. Pak Rahman masuk lagi ke ruang berlantai kayu itu. Sisa asap Dji Sam Soe ikut terbawa dari beranda masuk ruangan.
Inget nggak, cara menghitung jarak antara dua koordinat?

Sebuah bola biru maya segera tergambar di dalam ruangan, lengkap dengan garis2 lintang dan bujur. Dua titik oranye tampil pada posisi sekitar Tokyo dan Mekkah. Sebuah garis ditarik dari Tokyo ke Mekkah, tetapi bukan ke arah barat agak selatan, melainkan justru barat agak utara. Hmmm. Jangan tertipu.

Kalau jarak dekat sih bisa dengan Pythagoras. Tetapi kalau jauh, kita harus memperhitungkan ..
Iya, lengkungan buminya harus dihitung,” tukas Pak Rahman.
Bukan saja lengkungan. Tapi kebulatan. Arah titik terdekatnya pun belum tentu arah yang sama dengan peta segiempat.
Ya sudah. Jadi gimana cara hitungnya?

Bola maya di tengah ruangan sudah melenyap entah sejak kapan. Aku nggak punya tools selain MS Office di notebook tanpa Internet, yang sedang dipakai mengamati komposisi content di bisnis mobile. “Coba pakai Excel deh,” kataku ngasal. Berorientasi alat, bukan konsep.
Cobalah.

Tapi nggak lama, Excel harus ditinggalkan. Yang mulai bermain adalah dua pensil dan bloknot kecil yang semuanya berlogo Novotel. Dua pensil, soalnya sekalian aku pakai untuk membuat simulai visual dari dua koordinat. Obviously, yang harus dicari hanyalah sudut yang dibentuk antara dua koordinat itu melalui pusat bumi. Dan karena tidak ada Internet, aku akan mengasumsikan bumi itu bulat sempurna, seolah jarak utara selatan sama dengan jarak barat timur (hah, ada jarak barat-timur?).

Waktu perhitungan dikoreksi dua kali, Pak Rahman memutuskan merenungi hal lain. Masih dengan sweater ciri khasnya, Mr Workaholic ini tertidur. Aku mendapati bahwa perhitungan kali ini menemui titik terang. Tapi perlu verifikasi. Trus, Excel hidup lagi, dan formula dimasukkan. Grafik dibuat. Ah, sesuai dengan simulasi dua pensil tadi. Ini hasilnya:



Kalau tidak ada mode grafis: cos δ =cos λ1⋅cos β1⋅cos λ2⋅cos β2 + cos λ1⋅sin β1⋅cos λ2⋅sin β2 + sin λ1⋅sin λ2, dengan (λ1,β1) dan (λ2,β2) menunjukkan pasangan lintang dan bujur dua titik, dan δ sudut antara dua titik itu. Lintang utara positif, lintang selatan negatif. Bujur timur positif, bujur barat negatif. Jika δ sudah dalam radian, tinggal mengalikan dengan jejari bumi R untuk menghitung jarak antara dua titik.

Tentu kemudian harus disempurnakan dengan memasukkan variasi R terhadap lintang. Dan ketinggian, kalau diperlukan. Dih. Ntar aja kalau ada Internet.

« Older posts Newer posts »

© 2025 Kuncoro++

Theme by Anders NorénUp ↑